Actions

Work Header

akhirnya aku usai juga

Summary:

rion, aku kira kamu bisa jadi alam semesta. kamu sangat sempurna.

Work Text:

tuhan matinya tragis—dengan hanya hidup di kepala orang sedih. lalu, dia dikafani oleh beribu kemungkinan yang sangat, sangat, bacin baunya; peradaban telah diinjak-injak ketiadaan dari waktu adam kencing di tanah surga, atau, agama bisa jadi segalanya bagi umat manusia yang penuh dosa. mana kemungkinan yang paling dekat dengan kematianmu?

rion akao punya fetish nietzsche di darahnya. habis lewat dua minggu, perempuan itu jadi ingin bersabda seperti ulama—untuk memfatwakan hakikat kematian tuhan dan anak-anak-nya di depan siapa saja—kali ini, di depan ayam kampung yang matok rezeki orang pagi-pagi buta. orang yang lupa kalau mati juga butuh duit. rion akao pernah meninggalkan jantungnya dari satu truk ke truk yang lain, dari toko kelontong yang jual air putih sampai ke toko buku bekas yang jual hati, dari superman is dead sampai ke sukatani.

rion akao telah menjajali punk sampai ke pelir orang suci.

“udah jam segini, berangkat sekarang aja yuk!” seru rion kepada dua orang temannya, sakamoto dan nagumo yang sedang makan angin. mereka kompak bilang bentar sebagai balasan. karenanya, rion berdeham dengan mata yang memicing sinis.

“lama,” keluh rion kemudian. “mau ngelem dulu apa gimana?”

sakamoto berdecak. “ngelem, ngelem, lu tuh overdosis obat!” sungutnya kesal.

“eh, itu kejadian 2 tahun lalu ya anjing?!”

waktu itu petang. ketiganya telah berteman sejak mereka masih di kepala; dari rion yang mengajak sakamoto baca kitab orang gagal, lalu nagumo yang turut percaya bahwa mereka benar-benar lahir dan telanjang di kuburan. maka, mereka hidup tanpa muka—malu di jalanan bersama-sama untuk waktu yang sangat lama. selamanya. membawa skena punk sebagai agama yang ibadahnya melawan penguasa lima waktu. seperti sekarang ini, mereka sepakat bikin zine untuk disebarluaskan perdeo. isinya banyak berupa cerita pendek, puisi, dan esai buatan ketiganya.

menjadi sejatinya manusia.

“ayo dah berangkat,” kata nagumo setelah beberapa saat terdiam. semuanya lantas beranjak.

barat jakarta jadi kota penuh darah yang bau anyir. seperti baru saja mati kemarin. tempat ini menggentayangi rion dengan hantu-hantu ganja yang tampak begitu nyata, begitu anyar, begitu segalanya waktu rion tinggal di kolong jembatan hanya pada saat malam menjelang. rion kira kenangan itu telah lama lenyap dimakan sadarnya, namun, yang namanya mati juga, kan, meninggalkan. membekas. masih ada namanya, rion; dan ia sering kau sebut sebagai kecanduan.

“sialan.”

persetan, persetan, persetan. rion menggeram di tempat. pelan, lama. napasnya tersenggal-senggal. dalam hitungan masa, rion kembali membuka mata. memandang gamang; matanya mendiami sosok sakamoto dan nagumo yang mulai membagikan zine-zine itu kepada siapa saja yang lewat di sepanjang jalan grogol. kebanyakan dari mereka adalah pekerja, beberapa juga mahasiswa yang menyebrangi jalan untuk ke halte. dari yang rion tangkap, banyak yang menolak pemberian kedua temannya dengan tatapan menghakimi yang sangat rendah. seolah-olah mereka ini malaikat pencabut nyawa—atau setan. iblis.

“yaelah....” ketiganya kompak berdecih geli ketika ada yang lewat dan bilang kalau punk adalah aliran sesat, satanist.

“orang cuma melawan!”

lagi pula, untuk apa punya nyawa, ya, kalau tidak bernyawa? kalau tidak ada haknya? sama saja dengan masuk neraka. melarat kita! napas dikit dilindas. tapi, ah, bisa apa juga kita kalau yang ditolak adalah punk, alih-alih puan.

“hai, kak.” suara itu datang dari sebelah kiri rion. laki-laki. rion nyengir kepadanya yang kini melambai dengan satu tangan memegang kamera.

“eh, iya,” jawab rion seadanya. “ambil, ambil zine-nya,” lanjut rion kemudian.

hening. laki-laki itu cuma diam dengan tatapan mati—tidak bergerak, kepada manik kuning cerah milik rion. keduanya bersitatap pada satu waktu.

“ini ada puisi,” kata rion lagi. “bikinan gue, mengenang salim kancil.”

...hening sekali.

“lo mahasiswa?” rion kali ini bertanya serius. laki-laki itu akhirnya buka suara dan bilang:

“iya, kak. mahasiswa,” jawab laki-laki itu singkat. dalam diamnya lagi, rion mendengar jeritan dari air mukanya yang seperti kencing anak kecil, keruh—barangkali takut. barangkali takjub.

“mau apa?” tanya rion. 

“mau nanya, kak,” balas laki-laki itu.

“keperluan tugas kuliah?” kontan saja, laki-laki itu menggeleng. “nggak, kak.”

“terus?” sungut rion tidak sabar.

“keperluan hidup. kakak... percaya tuhan?”

akao rion terkikik, hatinya berseri-seri. barangkali di belakangnya, sakamoto dan nagumo juga ngompol ketika dengar pertanyaan laki-laki itu.

“siapa nama lo?” alih-alih menjawab, rion malah bertanya balik.

“kei uzuki, kak. kei.” rion mengangguk ngerti.

“kei,” panggil rion. “pernah jatuh cinta?” tanyanya. kali ini dengan senyum yang begitu tulus. seperti dulu. seperti ibu.

mendengarnya, kei seketika jadi batu. tenggorokannya tercekat. sakit. “sekali,” cicitnya.

“barangkali begitu,” kata rion. “barangkali begitu gue memercayai tuhan.”

“sekali? ketika apa?”

“ketika... ketemu lo?” rion tertawa saja. “gue rion, salam kenal ye!”

kei bergeming.

“gue nggak tau maksud lo apa nanya gitu ke gue, nggak pingin tau juga sebenernya. tapi, ya, apapun itu gue ngerasanya lo orang baik aja, sih. makanya gue percaya tuhan—cuma untuk hal-hal remeh kayak gini; kehadiran lo. makasih udah nerima zine kita.”

“kak-” “barangkali lo merasa hilang, kei,” sambar rion cepat, menghentikan kei dalam sekali tarikan napas. “artinya lo ditemukan.”


ditemukan olehmu. sebab, dalam rencanaku yang tinggal satu-satunya, aku cuma mau bunuh diri. berdiri di tengah-tengah rel kereta arah duri dan berbisik akhirnya aku usai juga—meludahi putih. tetapi, kamu menjawabnya dengan begitu rapih. ringkih tubuhku barangkali membuatmu miris, makanya alih-alih menjawab tidak, kamu malah bilang sekali, di hari ini; ketika ada aku. rion, di sepanjang jalan pulang, aku banyak berandai-andai, bagaimana jika kamu membuat peradaban yang isinya hanya ada udara dan kamu jadi tuhan. lalu, datang aku sebagai adam yang makan buah dadamu sampai aku terjangkit cinta. kemudian aku mati di rahimmu yang penuh bara. di surgamu—tanah yang berdarah-darah. karena, rion, aku kira kamu bisa jadi alam semesta. kamu sangat sempurna.


“lo mungkin nggak akan ketemu gue lagi. jadi dijaga, ya, zine-nya. nyawanya.”

“kamu biasanya tinggal di mana, kak?”

“nggak pastilah. punk kayak gue itu berkelana kemana-mana kali, kei. besok bisa jadi gue di jawa. atau di akhirat.”


nyawaku telah lebur dimakan waktu. menjadi bilur yang warnanya bukan lagi biru, ungu, atau apa pun. dia nyaris tidak berwujud, kei. melali. aku putus asa sekali. kepalaku penuh. aku bermalam di kolong jembatan lagi, sendirian. barangkali, hidup masih punya abad yang lain. barangkali, kamu masih punya umur satu kali lagi. tetapi, aku, kei, aku menelan semuanya bersama lima bungkus ganja yang aku hidu dengan jantungku sendiri. tuhan sekarang tinggal di kulitku—menjadi siksa kubur yang membakar isi paruku; menggantinya dengan lirih suaramu yang bilang:

“aku mencintaimu, rion.”

namun, cinta adalah yang lebih dulu mati sebelum aku hari ini.

kei-

akhirnya aku usai juga.


1 TAHUN KEMUDIAN.

“permisi, kak.”

“iya, kenapa?”

“izin tanya, kak. kalau nggak salah, kakak itu temannya rion, kan, ya? yang setahun lalu bagi-bagi zine di daerah grogol.”

“oh... rion. iya.”

“rionnya sekarang di mana, ya?”

“ah… rion-dia, dia udah meninggal satu tahun lalu. karena overdosis.”