Actions

Work Header

Senyum.

Summary:

Ochako tak sengaja menangkap momen di mana Katsuki tersenyum ketika bermain dengan kucing. Tanpa sadar dirinya ingin melihat senyum itu lebih lama.

Work Text:

Ada satu hal yang terus mengganggu pikiran Ochako. Siang tadi, saat istirahat makan siang, ia tak sengaja melihat Katsuki sedang bermain dengan anak kucing dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Tolong catat, Katsuki tersenyum, bukan senyuman jahat yang biasa lelaki itu perlihatkan, tetapi sebuah senyuman hangat.

Bila ia ceritakan tentang ini ke teman-temannya pasti tidak ada yang mempercayainya. Bahkan dirinya sendiri tidak percaya apa yang ia lihat tadi siang.

Katsuki tersenyum, bayangan itu terus merekat di otaknya hingga malam hari.

Teman-temannya beberapa kali menegurnya karena tidak fokus. Bagaimana bisa fokus kalau di otaknya hanya terbayang senyuman Katsuki?

Ochako menatap Katsuki yang tengah terlibat pertengkaran kecil di depan TV, seperti biasa. Lelaki itu memang selalu terlibat pertengkaran, bahkan seringnya ia sendiri yang memulainya.

Melihat Katsuki yang tengah marah dengan wajahnya yang tak ramah itu membuat Ochako berpikir dua kali apakah yang ia lihat tadi siang itu nyata atau tidak.

“Meong,” suara kucing menginterupsi pertengkaran, kini semuanya fokus kepada kucing kecil yang entah dari mana bisa masuk ke dalam dorm. Katsuki yang tengah marahpun terdiam, ia memilih berjalan ke arah kucing itu.

Anak kucing itu adalah kucing yang ia lihat tadi siang. Kucing yang berhasil membuat Katsuki tersenyum.

Di saat semua siswa melontarkan pertanyaan dan berdebat perihal kucing, Katsuki mengangkat kucing itu ke dekapannya.

“Eh, lo mau buang kucingnya?” tanya Eijiro.

Katsuki mengerutkan kening, “Mau gue bawa.”

“Bawa ke luar?” tanya Denki.

“Ke kamar,” jawab Katsuki acuh tak acuh sembari berjalan pergi.

Mata Ochako terus tertuju ke arah Katsuki hingga lelaki itu melewatinya. Tangan kiri lelaki itu sibuk menopang kucing kecil itu dan yang kanan sesekali mengelus dan menepuk penggung kucing.

Ah, kali ini juga ia tersenyum karena kucing kecil itu. Terlihat sudut bibirnya tertarik ke atas.

Ochako tertegun, yang ia lihat tadi siang ternyata bukan lah ilusi. Ini suatu hal yang baru untuk Ochako melihat lelaki itu tersenyum lembut. Tidak buruk, bahkan jauh lebih baik jika ia dapat melihat lebih lama senyum lembut itu.