Work Text:
Selama satu bulan bekerja sebagai pelayan, ada satu hal yang selalu sukses menarik perhatiannya. Di sayap timur, ada satu lorong yang berisi deretan lukisan dari satu orang yang ia duga sebagai orang yang sama, hanya saja dilukis di rentang usia yang berbeda. Ketika melihatnya, dirinya jadi merasa sedang diajak mengikuti alur hidup orang itu. Setiap kali mendapat giliran untuk menyapu atau membersihkan debu di sana, pasti ia akan menyempatkan diri untuk memandangi lukisan-lukisan yang tergantung.
Sebagai seorang gadis yang terlahir dari keluarga sederhana, menebak apa makna filosofis yang terkandung di dalam sebuah lukisan jelas bukanlah keahliannya. Akan tetapi, bahkan gadis biasa yang bekerja sebagai pelayan sepertinya pun bisa mengerti dan mengapresiasi kecantikan. Karena siapa pun tuan yang potretnya diabadikan dalam goresan kuas itu, berhasil tumbuh menjadi sosok yang rupawan, bahkan ketika kerutan mulai menghiasi wajahnya.
Lukisan pertama yang tergantung adalah potret seorang anak laki-laki yang usianya ia perkirakan antara 12-15 tahun. Di dalam gambar diam nan bisu itu, ia duduk dengan wajah penuh ketenangan. Rambut hitam legamnya yang ditata serapi mungkin, tampak kontras dengan kulit seputih susu miliknya. Matanya yang sejernih danau di musim panas itu memancarkan kesan dewasa tersendiri yang menurutnya tidak sewajarnya dimiliki anak seusianya. Meski begitu, pipi bulatnya tidak bisa menyembunyikan seberapa muda usianya.
Di samping lukisan si anak lelaki, adalah potret seorang pria di usia 20 tahunannya. Anak di lukisan sebelumnya, kini telah tumbuh menjadi seorang pria dewasa. Garis rahangnya tegas, bahunya lebar, dan tubuhnya tegap. Di pinggangnya, tergantung sebuah pedang yang menambah kesan gagah padanya. Rambutnya yang ia biarkan tumbuh panjang, diikat menggunakan pita putih. Di lukisan itu, sorot dewasa pada kedua bola matanya sudah tampak sesuai dengan usianya.
Di lukisan terakhir adalah sang tuan yang mulai menunjukkan tanda penuaan. Melompat jauh dari lukisan sebelumnya, ia sudah tampak berusia 40 tahun lebih. Belum ada uban di rambutnya, tapi kerutan tampak jelas mulai terbentuk di area mata dan garis senyumnya. Sebuah bukti konkret ia menghabiskan hidupnya dengan penuh senyuman. Berbeda dengan dua lukisan sebelumnya yang menunjukkan seluruh tubuhnya, lukisan terakhir ini hanya berfokus pada wajahnya dengan hanya sedikit menampilkan bagian dada ke bawah. Seolah sang tuan (atau mungkin senimannya) ingin agar orang-orang melihat jelas seberapa banyak dirinya telah tumbuh dan menua.
Sang pelayan menggelengkan kepalanya. Seperti yang ia katakan sebelumnya, ia tak mengerti seni. Mungkin, ada makna estetika tersendiri dari pemilihan fokusnya. Interpretasi dari pelayan sepertinya sama sekali tidak penting.
Genggamannya pada kemoceng menguat. Ia tak ingat pernah melihat batang hidung sang tuan yang ada di dalam lukisan. Pun tak ada tahun kapan lukisannya dibuat. Jadi, ia terkadang bertanya-tanya apa mungkin beliau sudah lama menutup usia?
Ia tak tahu siapa namanya mau pun apakah ia masih hidup atau tidak. Gadis muda itu hanya tahu ia begitu menikmati menghabiskan waktunya memandangi tiga lukisan itu. Meski ketiganya berada di rentang usia yang berbeda, mereka selalu memiliki tatapan yang sama. Mata biru gelap yang dilukis dengan penuh kehati-hatian itu, selalu dan selalu menatap tajam dengan penuh keyakinan. Dirinya selalu merasa terhipnotis setiap kali memandang lekat-lekat kedua mata itu.
“Kamu menyukai lukisannya?”
Sebuah suara yang terdengar begitu muda, lagi tak jelas milik wanita atau prianya, mengagetkannya. Ketika ia menoleh ke sumber suara, didapatinya seorang anak laki-laki tengah berdiri di ujung anak tangga, memandanginya dengan saksama. Ia baru pertama kali melihat wajahnya, tapi menilai dari pakaiannya yang terlihat mahal, ia pasti anak dari salah satu tuan atau nyonya di rumah besar ini.
“Ah, selamat siang, Tuan Muda.” Dengan gerakan yang terasa canggung lantaran dilakukan terburu-buru, ia sedikit membungkukkan punggungnya.
Anak itu tidak membalas sapaannya. Dalam diam, ia berjalan ke arahnya dan berdiri tepat di sampingnya. Pandangan matanya langsung terpaku pada lukisan pria paruh baya yang sebelumnya juga ia pandangi.
Berada di jarak sedekat ini, sang pelayan jadi menyadari sesuatu. Anak yang tingginya tak lebih dari pundaknya itu, secara menakutkannya luar biasa mirip dengan anak lelaki di dalam lukisan. Mulai dari bentuk wajah, tinggi hidung, ketebalan bibir, sampai ke model potongan rambut. Sorot matanya yang menatap ke arah lukisan di hadapannya pun sama-sama memancarkan kedewasaan yang tidak semestinya dimiliki tuan muda seusianya. Semua itu membuatnya merasa seolah yang berdiri di sampingnya saat ini adalah anak di dalam lukisan itu sendiri.
“Pertanyaanku belum dijawab.” Si anak kembali membuka mulut.
Si pelayan tersentak. “Itu... iya, saya menyukainya,” gagapnya. “Anu, apakah ini lukisan ayah Anda?” Dengan penuh keraguan, ia lontarkan pertanyaan itu. Sebuah pertanyaan yang ia harap jawabannya akan merasionalkan kemiripan mereka.
Untuk sesaat, anak di sampingnya itu menatapnya dengan wajah tertegun. Sebelum akhirnya pandangannya kembali ia arahkan ke lukisan. Dapat matanya tangkap senyum penuh kegetiran terbentuk di wajahnya. “Ayah, ya? Haha.... Ya, anggapan seperti itu boleh juga.”
Sebenarnya, ia sama sekali tidak mengerti maksud jawabannya. Namun ia memilih bungkam. Instingnya berkata ini bukanlah perkara yang bisa seorang pelayan sepertinya cari tahu secara mendalam.
Pada akhirnya, pertanyaannya sama sekali tidak terjawab.
Identitas pria yang diabadikan dalam potret pun tetap menjadi misteri.
Merasa tak nyaman harus lama-lama berdiri bersebelahan dengan tuannya, ia pun memilih untuk pamit kembali ke belakang. Lagi pula, rasanya juga tidak etis tetap “bermalas-malasan” memandangi lukisan padahal sudah tepergok majikannya.
Ketika hendak menuruni tangga, ia mencuri pandang untuk terakhir kalinya. Anak lelaki itu bergeming di posisinya, tidak berpindah satu langkah pun sejak ia pamit pergi. Tangan kecilnya terulur, dan dengan penuh kelembutan mengelus gambar wajah paruh baya di dalam bingkai. Meski dari kejauhan, ia masih dapat menangkap sorot penuh kerinduan di bola matanya.
Tak ingin dibilang tidak sopan, ia pun memilih menutup mata dan bergegas turun. Sungguh anak yang sama penuh misterinya dengan lukisan yang kerap dirinya pandangi. Tampaknya sampai ia pensiun sekali pun, rasa penasarannya akan identitas pria di dalam lukisan mau pun anak lelaki itu tak akan pernah terjawab. Pun apa sebenarnya hubungan mereka berdua.
