Work Text:
“Dan kalau semisal dalam semalam ayah berubah jadi kucing? Atau terlahir kembali sebagai seekor kucing?”
Koran itu masih Bokuto Koutarou bolak-balik halamannya entah untuk yang ke berapa kali. Kopi dalam cangkirnya nyaris tandas dan menyisakan ampas hitam yang apabila ikut masuk ke dalam tenggorokan, berujung membuat kening mengernyit dan lidah menolak kehadiran rasa. Hinata Shoyo duduk di sebelahnya, menikmati kicauan burung tetangga yang bawelnya tiada tara. Ponselnya ia simpan jauh dalam jangkauan guna menikmati waktu bersama sang ayah, sebelum akhirnya tepat tengah hari nanti ia harus pergi kembali jauh dari rumah menjalankan rutinitas sebagai manusia dewasa.
Kepalanya menoleh ke arah Bokuto sepenuhnya, diperhatikan tiap detail wajah sang ayah. Rambutnya memang sudah putih sejak lama, tapi kali ini warnanya semakin tegas dan wujudnya layu beriringan. Matanya tak lagi memandang tajam. Garis wajahnya juga jauh dari kata kencang. Ditambah janggut yang menambah kesan bahwa ia memang tidak lagi muda. Hinata tersenyum hangat, pagi itu biar embunnya yang menjadi saksi betapa ia sangat memuja. Genggaman Bokuto pada lembaran koran belum berubah, meskipun decakan di mulutnya terus keluar tanda mulai lelah. Hinata berpikir sejenak. Mencari jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Bokuto, dengan harapan dialog pada kesempatan kali ini mampu membayar seluruh rasa rindu yang mungkin akan meledak di hari-hari berikutnya, ketika ia sedang tak berada di rumah. “Kenapa dari semua hewan, ayah memilih kucing?”
“Karena kucing menyenangkan dan koran ini tidak.” Bokuto meletakkan korannya di atas meja. Mengabaikan cangkir kopinya yang masih ada di sana, tak peduli bagaimana susunan barang itu ditata.
“Koran itu kan koran lama, udah pernah ayah baca. Cari apa, sih? Hinata carikan koran baru aja,” ujar Hinata, namun Bokuto menggeleng. Helaan napas berat keluar dari bibir sang ayah dan kepalanya mengangguk pelan seolah paham akan sesuatu.
Suara berat dan parau Bokuto kembali terdengar. “Ayah mau jadi kucing, karena kucing punya sembilan nyawa.” Hinata bergeming. Mempersilakan apa saja yang ada menyisakan memori untuk tercipta dalam setiap sudut kepalanya. Maka pada saat itu, ia membangun tekad yang semakin kuat. Ia akan bentuk semua yang ayah anggap sebagai bahagia. Air mata yang jatuh di kemudian hari, sudah bukan lagi suatu halangan membatasi diri. Hinata masih diam, siap mendengarkan lebih banyak pusat dunianya berbicara.
“Kucing punya nyawa sembilan. Banyak situasi nggak menyenangkan terjadi, tapi kucing tetap hidup. Banyak luka yang ada di tubuhnya, tapi kucing tetap hidup. Banyak musuh di sekitarnya, tapi kucing tetap hidup. Banyak cara untuk mati, tapi kucing tetap hidup. Cuma faktanya, ayah ingin berubah jadi kucing bukan karena mereka kuat semata. Jadi, nggak papa kalau ayah berubah jadi kucing?” tanya Bokuto lagi dan Hinata langsung menimpali.
“Dan kalo Hinata berubah jadi tikus, ayah mau apa?”
Bokuto menyandarkan punggungnya ke kursi mencari posisi ternyaman dengan kedua lengan dilipat di dada. “Mungkin kita akan menjadi kucing dan tikus paling rukun di dunia.”
“Ayah kenapa? Ada yang menggangu pikiran ayah?” Nada bicara Hinata turun satu oktaf, menjadi lembut dengan harapan kekhawatirannya tak mengusik Bokuto yang berujung canggung.
Bokuto menggeleng pasti. “Ayah mau jadi kucing. Punya sembilan nyawa itu artinya ayah punya banyak waktu dalam setiap kesempatan untuk melihat kamu tumbuh dan menjadi tua seperti ayah. Melihat kamu membolak-balikan halaman koran sampai jenuh dan melihat kamu kesal tiap kali minum kopi sudah mencapai ampasnya, apapun situasi ayah nantinya.”
“Ayah punya penyesalan dalam hidup?”
“Menjadi ayah Hinata nggak pernah sedikitpun meninggalkan penyesalan. Justru karena ayah terlampau bangga, bangga dipilih menjadi ayahnya Hinata, ayah ingin menjaga dan melindungi lebih sering. Hinata bangga punya ayah seperti Bokuto Koutarou?”
Seutas senyum hadir di wajah Hinata. Sudah sejak lama sekali situasi ini hadir dari terakhir kalinya dan ruang nyaman bak dalam pelukan membalut kembali semua presensi yang terlalu panjang durasinya menjabat sepi. Menyangga pilar kokoh yang perlahan di ujung tanduk esksistensinya mengawali kehancuran, tapi kemudian pijakan keduanya tak kalah keras dari batu manapun yang pernah dikenal, mengukuhkan bahwa ikatan ini takkan pernah usai. Bokuto bertahan, Hinata mendapat jawaban. Bokuto berusaha, Hinata aman karenanya. Bokuto bertanya, kini giliran Hinata yang mengudara. Terbang membawa segala sukacita untuk disebarkan pada Bokuto yang paling dicinta, agar tumbuh selalu di tiap relung hatinya.
“Kalau mau terlahir kembali, lahir sebagai Bokuto Koutarou. Jangan jadi kucing. Kalau mau melihat Hinata menua, lahir sebagai Bokuto Koutarou. Jangan jadi kucing. Kalau ayah bertanya apa Hinata bangga, ayah jangan jadi kucing. Cukup satu nyawa, lalu genggam jiwa dalam raga itu dengan nama Bokuto Koutarou, dan rasa bangga akan tumbuh bermekaran, ayah. Hinata mau jadi anak Bokuto Koutarou selamanya. Selama-lamanya.”
