Work Text:
[☽]
Biru. Cerah, melenggang indah. Itu yang pertama Kei tangkap kala ia mengangkat pandangannya dari buku catatan di atas meja. Yang kedua, senyumnya. Bagai penyejuk pikiran Kei dari panasnya matematika yang barusan dipelajarinya.
“Kei!” panggil Rion riang. Dengan langkah yakin seolah mengumumkan pada dunia, Aku ada di sini, Rion memasuki ruang kelas Kei dan menghampirinya. Lambaian tangannya yang kuat tidak kalah mencolok. Berbeda dengan Kei, yang tidak jarang berpikir bahwa semakin sedikit ruang yang didudukinya di dunia ini, maka semakin baik.
Kontras Rion dari Kei selalu membuat Kei takjub kepadanya.
“Ajarin gue grammar, dong! Sekarang! Nanti siang gue ulangan, anjir! Temen-temen gue kayak tai, sumpah! Masa mereka baru ngasih tahu gue tadi pagi?” tanpa memberi jeda untuk Kei merespon, Rion mulai menyerocos tentang bagaimana Sakamoto dan Nagumo tidak mengabarkan Rion tentang jadwal ulangan bahasa Inggris hari ini, meskipun guru mereka telah memberitahukannya minggu lalu—entah bagaimana Rion menjadikan kedua sahabat karibnya yang bersalah dalam kisahnya meskipun Rion yang telah lupa.
Seakan baru sadar bahwa ia memiliki lawan bicara, Rion mendadak menghentikan celotehnya. “Eh, gimana, Kei? Bisa nggak, sekarang? Review-review aja, kok! Kan lo udah banyak ngajarin gue dari kemarin-kemarin.” Senyumnya kembali merekah.
Kei terpaku sesaat, merasa ada yang berdesir di dadanya. Hanya sesaat, lalu: “Bisa, kok. Mau di mana?”
“Perpus aja, kali, ya? Mumpung sepi jam segini pasti lagi pada makan.”
Perpustakaan. Bersama Rion. Berdua. Desiran itu semakin kencang, kini rasanya seperti ada makhluk tak kasat mata yang melompat-lompat di jantungnya. Ini tidak akan menjadi pertama kalinya ia bersama Rion di perpustakaan, toh Kei memang sering mengajari Rion pelajaran bahasa, dan sebaliknya Rion membantu Kei dalam matematika. Namun tetap saja. Segala yang melibatkan Rion, tetap saja.
Kei teringat akan padatnya perpustakaan pada jam istirahat. “Kalau di taman belakang aja, gimana? Perpustakaan jam-jam istirahat gini juga ramai, biasanya.”
“Oh, emang iya, ya?” Rion tertawa kecil. Canti—diam, Kei. “Ya sorry deh gue nggak tahu. Yaudah, yuk!” Saat itu baru Kei sadari, Rion membawa buku catatan dan tempat pensilnya di satu tangan. Kelamaan liatin mukanya, sih, soalnya can—stop. Mengambil buku dan tempat pensilnya sendiri, Kei mengikuti Rion keluar dari ruang kelas, menyusuri koridor menuju taman kecil yang terletak di belakang sekolah.
Melewati kantin yang ramai, mereka berpapasan dengan Gaku, kawan lama Kei yang duduk satu tingkat di bawahnya. Di tangannya ia membawa beberapa camilan.
“Kak Kei, Kak Akao. Mau ke mana?” sapanya santai.
“Oi, Gaku! Dah lama nggak liat lu. Ke mana aja?” Rion terkekeh, menepuk bahu Gaku.
Rion kenal akrab dengan Gaku? Tentu saja. Bahkan, Rion-lah sebab Kei dapat bertemu kembali dengan Gaku, Kumanomi, dan teman-teman lama lainnya dari panti asuhan yang belum pernah Kei temui selama bertahun-tahun sejak ia diadopsi oleh Asaki. Pria yang memutuskan untuk menjadi wali Kei itu memilihnya karena inteligensinya yang mencolok, terutama di bidang ilmu sosial. Dalam misi menjadikan Kei penerusnya sebagai pemimpin bisnisnya, Asaki menetapkan aturan-aturan ketat bagi Kei. Ekspektasinya akan nilai-nilai Kei tinggi; selepas sekolah Kei masih harus mengikuti berbagai les privat dari guru-guru yang didatangkan Asaki ke rumahnya. Ia tidak mengizinkan Kei mengunjungi teman-temannya di panti asuhan. Tak mungkin bagi Kei untuk memberontak, karena sudah begitu banyak yang Asaki berikan untuknya, Kei tidak mungkin dapatkan semua ini jika bukan karenanya, melawan sama saja tak tahu diuntung. Setidaknya, begitu kata Asaki. Kei tidak pernah berbicara dengan orang lain, maka pernyataan-pernyataan itu fakta baginya.
Rion, Rion, kendati kecenderungannya untuk bercerita panjang lebar tanpa mempedulikan lawan bicaranya, kebiasaannya berganti topik pembicaraan secepat angin topan, dan keteledorannya, adalah seorang pengamat. Tentu saja ia sadar akan Kei, kala itu jauh lebih murung dan pendiam, pada tahun pertama mereka di SMA. Tentu saja ia orang pertama yang sungguh-sungguh mengapresiasi keberadaan Kei, terlepas dari prestasi akademisnya.
Kepada Rion-lah Kei pertama kali bercerita tentang keinginannya yang satu, yaitu bertemu kembali dengan kawan-kawannya. Malam itu juga, Kei mendapati Rion di luar jendela kamar tidurnya, mengajak, tidak, memaksa Kei kabur dengannya dan pergi ke panti asuhan. Tentu saja, rencana lemah dua bocah lima belas tahun itu mudah diketahui Asaki, dan keduanya tertangkap sebelum mereka bisa sampai di tujuan. Di dalam mobil sedan hitam Asaki, Rion menggebu-gebu memberi pembelaan baginya dan Kei, sedangkan Kei hanya bisa terpaku menahan tangis, menyesal atas tindakan tidak tahu dirinya kepada Asaki dan merasa bersalah telah melibatkan Rion.
“Kei bukan cuma investasi Bapak. Kei juga manusia! Dan manusia butuh teman!”
Bagai kejatuhan bintang, tidak ada kalimat yang lebih mencengangkan bagi Kei pada saat itu. Kei juga manusia. Kei juga manusia? Sungguhkah? Ia sendiri tidak pernah menganggap dirinya seutuhnya manusia. Ya, Kei hidup, namun hanya cukup untuk melakukan kegiatan dasar manusia, cukup untuk bernafas, belajar, mematuhi perintah Asaki, menyeret diri untuk melanjutkan perjalanan menuju esok. Hidup? Itu hanya diketahuinya dari buku-buku fiksi, dan itu pun dibatasi oleh Asaki—cuma bikin kamu terdistraksi, lebih baik baca buku pelajaranmu atau buku-buku bisnis saya. Kei belum pernah benar-benar hidup, setidaknya sebelum bertemu Rion.
Dan Rion, semudah itu melepaskan tiga kata itu dari bibirnya, Kei-juga-manusia. Layaknya itu hal alami baginya.
Dengan persyaratan bahwa Kei menjaga nilai-nilainya, Asaki akhirnya setuju untuk membiarkan Kei berjumpa kembali dengan teman-temannya seminggu sekali. Setahun kemudian, Gaku pun berhasil diterima di SMA yang sama dengan Kei, memberikan mereka lebih banyak waktu untuk bertemu sebagai kakak-adik kelas.
Kini, sebagai siswi tahun ketiga, Kei memandangi Rion yang asyik mengobrol dengan Gaku tentang gim video terbaru yang sedang populer. Kei tidak tahu-menahu tentang dunia permainan, pun tidak mampu berbicara sebanyak itu dalam satu tarikan napas.
Ya, kontras Rion dari Kei selalu membuatnya takjub. Bukan hanya karena besarnya ruang yang ditempati Rion, bagaimana ia menuntut semesta untuk mengakui keberadaannya, tetapi juga karena banyaknya yang ia kembalikan pada dunia. Kebaikan yang tak terhingga.
Pelan, Kei menyentuh sikut Rion. “Rion, jadi belajar, nggak? Nanti keburu selesai istirahatnya.”
“Hah? Oh, iya! Kan kita mau belajar!” Rion tertawa. “Yaudah, duluan, ya, Gak!” tanpa aba-aba ia kembali berjalan.
“Oh, mau belajar bareng?” ujar Gaku dengan senyum tipis. Sembari melewati Kei ia benturkan bahu mereka pelan. “Cie.” bisiknya.
Wajah Kei menghangat. “Apaan, sih.”
“Kei!” Rion memutar kepalanya ke belakang. “Ayo.”
Lagi-lagi, makhluk tak kasat mata itu. Kei menahan senyum. “Iya, Rion.”
[☽]
“Bentar-bentar-bentar!” Rion mengangkat kedua tangannya. “Gue resapin dulu.”
Kei menjeda pembahasannya tentang jenis-jenis kalimat pengandaian dalam bahasa Inggris. Di atas meja taman, dua buah buku catatan terbuka lebar. Bayang-bayang dedaunan rimbun menghiasi lembar-lembarnya, sinar mentari menyelinap di antaranya. Taman itu sepi lantaran letaknya yang agak tersembunyi di belakang sekolah. Rion tidak tahu adanya tempat ini sebelum Kei mengajaknya kemari tahun lalu, membawa ia masuk ke suaka kesukaannya. Duduk di samping Kei, Rion membandingkan kedua catatan mereka, dengan alis mengkerut seperti biasa ia lakukan ketika sedang mencoba berkonsentrasi. Sebatang puntung rokok tergeletak di dekatnya. Hanya sebatang, lalu Rion berhenti. Kei sadar, akhir-akhir ini Rion sedang berusaha mengurangi nikotin yang ia konsumsi setiap harinya, meskipun Rion tidak mengatakan apa-apa—Kei senang melihatnya. Angin berembus ringan, mengayunkan helai-helai biru Rion yang ikal tidak beraturan. Teduh. Sejuk. Rambutnya berayun sekali lagi. Kalau ditahan pakai jepitan, pasti bagus. Mungkin warna kuning keemasan, biar cocok sama matanya…
Seketika kepala biru itu disandarkan yang empunya pada bahu Kei. “Ah, pusing gue, Kei. Istirahat dulu, ya.”
Napas Kei tersendat. Tenang, Kei. Tenang. Dengan kecepatan melebihi sepeda motor pembalap MotoGP yang rajin ditontoni Gaku, benak Kei melesat mencari topik bicaraan yang paling tidak dapat melambatkan laju detak jantungnya. “Sebentar lagi masuk kelas, Rion. Ayo, ini tinggal sedikit lagi,” ia membalik halaman buku catatannya.
Rion menegakkan badannya. Yah, kok cepet banget—eh, kamu maunya apa, sih, Kei? Dengan sedikit merengut ia menggerutu, “Kok gitu, sih. Nggak asik lu.”
Kei menghadapkan pandangannya pada sang enigma bermahkota langit itu. “Lah, nanti kalau nilai kamu jelek, kamu juga yang nyesel, kan?”
Cemberut Rion semakin dalam. “Jadi lu nggak percaya kalau nilai gue bakal bagus, gitu?” Tangannya meraih bagian belakang kepala Kei. Dengan satu tarikan kuat, ikat rambut Kei terlepas, surai putih panjangnya terurai.
“Rion!” tegur Kei, yang hanya dibalas dengan gelak riang. “Padahal aku lama ngerapihin rambut aku tadi pagi…”
“Ya elah, cuma nguncir doang, kan?” balas Rion dengan tampang tak bersalah. “Sini dah, gue benerin. Balik,” ia menepuk punggung Kei, memandunya untuk membelakangi Rion. Mengikuti arahannya, Kei memutar badan.
Alih-alih merapikannya, Rion justru bermain-main dengan rambut Kei, mengayunkan helai-helai panjangnya ke berbagai sisi. Entah apa yang sebenarnya dilakukannya. Kei menahan napas.
“Hmm…” gumam Rion. “Rambut lu bagus, dah. Sehat. Potongannya juga rapi…” tangannya mengelus lembut rambut Kei dari akar hingga ujung. “Gue pengen deh, Kei, buka salon. Gue sering motongin rambut adek gue,”
Kei hanya bisa terdiam, kikuk. Jantungnya berdegup kencang. Tenang, tenang. Aku mohon. Jemari Rion terus bergerak menyelinap di sela-sela surai Kei, seperti sedang mempelajarinya. Kemudian, dengan suara pelan seolah sedang berbicara sendiri, ia lanjutkan: “Tapi rambut lu udah bagus, Kei. Kalo gue buka salon nanti lu nggak perlu dateng, dong.”
Apa itu kekecewaan yang ia dengar? Kei sungguh berharap telinga tajam Rion tidak dapat menangkap suara debaran jantungnya.
“Aku—ya udah, nanti aku bikin jelek rambutku biar kamu bisa benerin.” Entah dari mana Kei mendapat tekad untuk mengatakan itu, namun seketika penyesalan menghujam dadanya. Bodoh, aneh banget. Who talks like that, Kei?
“Hah? Hahaha!” tawa Rion menggelegar. “Lucu lu, Kei! Masa udah bagus gini mau dibikin jelek?” Kei sedikit lebih tenang dibuatnya, Tak mengapa aneh, setidaknya aku bikin dia tertawa.
Akhirnya Rion berhenti juga menyelidiki rambut Kei. Perlahan ia kumpulkan rambut putihnya di satu tangan, dan dengan tangan yang satu lagi ia usap puncak kepala Kei untuk meratakan gumpalan-gumpalan yang terbentuk. Perlahan dan berkali-kali. Kei mengatur napasnya.
Kei tahu betul bahwa apa yang dirasakannya terhadap Rion bukan hal biasa. Entah sejak kapan bermula, yang Kei tahu hanyalah kini ia ingin Rion terus bersamanya. Ia ingin tangan Rion terus berada di rambutnya, melakukan apapun yang ia mau; ia ingin Rion terus mendatangi kelasnya pada jam istirahat dengan suaranya yang terdengar sampai ke lorong-lorong sekolah, mengajaknya belajar bersama; ia ingin Rion terus tersenyum kepadanya, berceloteh, menggerutu. Egois sekali, bukan? Dua tahun lalu kemauan Kei hanya satu, menjumpai kawan-kawan masa kecilnya; kini, setelah harapan itu terkabul, ia inginkan hal lain lagi. Tidakkah cukup apa yang dimilikinya saat ini? Sebanyak apapun serapah yang Rion cecarkan tentang Asaki, setidaknya Asaki adalah seorang yang jujur: Kei memang tidak tahu diri.
“Eh,” tiba-tiba gerakan tangan Rion terhenti. “Hmm…” ia menggumam lagi. Rambut Kei yang sudah terkumpul ia bagi menjadi dua.
“Kamu ngapain?” tanya Kei, meskipun ia sudah bisa menebaknya.
“Sstt.” sahut Rion, yang mulai mengikat rendah sebagian rambut Kei pada satu sisi.
Kei pasrah saja. Apa lagi yang bisa ia lakukan? Kalaupun ia bisa, ia tidak mau; ia akan biarkan dirinya terbawa arus ombak Rion, ke mana pun itu.
“Tadi apa? Zero conditional?” tanya Rion, mencoba mengingat kembali materi bahasa Inggris yang diajarkan Kei. Sisa rambut Kei ia selipkan pada karet kedua yang entah dari mana didapatkannya.
“Iya. Kalau zero itu untuk hal-hal yang mutlak. Pakai simple present tense,”
Zero conditional digunakan untuk pengandaian fakta dan kebenaran umum. Jika direbus pada suhu 100 derajat, air mendidih. Jika Kei menginginkan lebih, maka ia tak tahu diri. If Kei wants more, she is ungrateful. She is selfish.
Kei menunduk, menatap kedua telapak tangannya yang separuh tertutup lengan jaket putihnya yang panjang. Kei adalah seorang penipu. Penampilan rapi dan bersihnya hanya kostum untuk menutupi wujud aslinya yang begitu kotor. Jika Kei betul-betul menyesali perasaannya, seharusnya ia bisa menjauhkan diri, seharusnya ia bisa tinggalkan Rion. Apa pula yang akan dilakukannya jika Rion tahu tentang perasaannya? Apakah merasakan hal yang sama? Memangnya apa yang bisa disukai dari diri Kei? Lagipula, teman Rion ada banyak sekali. Apakah ia akan merasa kehilangan tanpa Kei?
“Nah, udah jadi. Coba lihat sini,” Rion meletakkan kedua tangannya pada pundak Kei, membalik tubuhnya.
Saat mereka berhadapan, wajah Rion berseri. Tangannya meraih kedua ikatan rambut Kei, menempatkannya pada bahunya dan membiarkannya jatuh mencapai dadanya. Kemudian ia rapikan helai-helai yang tersebar pada kening dan pelipisnya, menyelipkannya di balik telinganya. “Hehe. Lucu, kan? Lu jadi kayak anak kecil.” Rion tersenyum puas dengan hasil karyanya.
Sayang sekali, Kei memang egois. Maaf, Rion, aku akan tetap di sini. Kei pengecut, ia tahu. Suatu saat ia akan berani, antara pergi atau jujur pada Rion tentang perasaannya. Namun hari ini, ketika Rion begitu sudi menghabiskan waktu dengannya dengan sukarela, berbinar kepadanya, siapakah Kei untuk menolaknya?
[☆]
Putih. Murni, sederhana. Rion selalu merasa lebih damai setiap melihat Kei, dan kali ini tiada bedanya, ketika lagi-lagi ia menghampiri ruang kelas Kei tepat setelah bel pelajaran terakhir berbunyi. Sempat didengarnya godaan Sakamoto dan Nagumo saat ia bangkit dari bangkunya, “Buru-buru amat sih, mau jemput ayang,” yang hanya dibalasnya dengan “Bacot!” sebelum ia menggantungkan ranselnya di satu bahu dan bergegas meninggalkan ruang kelas. Tak ia acuhkan pipinya yang memanas.
Terlihat dari luar, Kei sedang merapikan buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas. Rion menunggunya di ambang pintu, ingin mengejutkannya. Sesekali ia sapa teman-teman sekelas Kei yang satu-persatu keluar dari ruangan, lalu matanya kembali diarahkan pada sang empunya surai putih.
Nih orang beres-beres aja lama banget, buset, pikir Rion.
Kuncir duanya masih terpasang rapi di kepalanya, tidak berubah selain dari beberapa helai di pelipisnya yang terlepas dari ikatan. Kecapean belajar kali, ya, batin Rion. Lucu. Dengan telaten, Kei bersihkan segala objek dari atas mejanya, dengan mata yang terfokus tanpa menghiraukan hingar bingar di sekitarnya. Wajahnya tenang. Boleh juga orang lain sebut sayu, atau lemas, namun bagi Rion, wajah Kei adalah simbol ketenteraman.
Saat semua sudah beres, Kei berdiri, menyampirkan tasnya, dan beranjak keluar. Dengan tangkas Rion menyembunyikan diri di balik pintu. Ketika rambut putih mulai terlihat di ambang, Rion entakkan kakinya sambil berseru, “Ba!”
Kei tersentak, mengerjapkan matanya hingga otaknya mencerna sosok di hadapannya. Rion sudah lebih dulu tertawa. “Rion,” ujar Kei. “Gimana tadi ulangannya?”
Antusiasme ikut mengalir bersama darah Rion, karena inilah alasan ia mendatangi Kei. “Gampang! Gue bisa, gara-gara lu!” serunya sambil menyunggingkan senyum lebar.
Wajah Kei sedikit lebih cerah. “Oh… Ya, bag–” tanpa aba-aba Rion mengalungkan satu lengannya pada leher Kei, merangkulnya sambil berjalan. Rona merah muda mulai nampak pada pipi Kei. “...Bagus, kalau gitu,” ucapnya pelan.
Entah mengapa, Rion senang sekali melihat Kei salah tingkah. Rasa-rasanya ia tak perlu lagi menghirup nikotin bila ia dapat menyaksikan pandangan ini setiap hari.
“Makanya, sekarang gue mau hadiahin lu,” ia dekatkan mukanya pada Kei, sambil terus membawa mereka berjalan. Senyum licik menghiasi wajahnya, apalagi setelah melihat Kei semakin memerah.
“Hadiah… apa?”
“Udah, lu liat aja nanti.”
“Kamu nggak perlu ngasih aku hadiah. Kan tadi aku cuma–”
“Ah, diem aja napa sih, Kei. Lu kayak gitu mulu dah kalo dibaikin sama orang. Kan gue yang pengen ngasih lu,”
“Ya udah… Makasih,”
“Dih, kok udah bilang makasih? Kan lu belum tau gue mau ngasih apa,”
Kei terdiam, bimbang. Rion kembali tergelak. “Santai aja napa. Gue becanda, elah,”
“...Oke.”
Perempuan yang minim bicara ini betul-betul pandai melucu tanpa disadari. Rion selalu tertawa dibuatnya. Ia cubit pipi Kei pelan. Kei sedikit merengut, namun kelelahan yang Rion amati pada wajahnya beberapa menit lalu juga mulai terangkat.
Adalah sebuah kepuasan tersendiri bagi Rion, ketika ia bisa meringankan beban Kei, apa pun itu.
Akhirnya mereka sampai di titik yang dituju Rion: lapangan parkir sekolah. Ia lepaskan rangkulannya dari Kei dan arahkan kedua tangannya ke sepeda motor hitam besarnya. “Ini!” serunya.
“Kamu… mau ngasih aku motor kamu?” tanya Kei, terheran.
Tawa Rion kembali pecah. Sengaja ia jahili Kei, demi kembali melihat ekspresi bingungnya yang terlampau menggemaskan itu. “Nggak, anjir. Gue mau ngasih lu… trip gratis keliling kota sama gue!”
Tertegun, Kei hanya bisa berucap, “...Hah?” dengan ekspresi polos.
Tak perlu disebut lagi bahwa itu pun membuat Rion terkikik. Dengan lincah, ia memanjat ke jok motornya. “Iya. Cepet, naik!” Suara mesin yang baru dinyalakan menderu. Kendaraan itu digerakkan mundur, keluar dari barisan kawan-kawannya. Kemudian Rion menatap Kei penuh ekspektasi, menantangnya untuk kabur jika berani.
Tidak diberi pilihan lain, Kei patuh menaiki motor Rion.
Rion menyeringai. “Pegangan!” serunya sebelum ia menekan gagang gas dengan kencang, membawa mereka melaju meninggalkan sekolah.
Kei terentak ke belakang, refleks meletakkan kedua tangannya di pinggang Rion untuk menahan tubuhnya. “Rion! Bilang-bilang dulu!”
“Kan tadi udah!” Rion terbahak geli.
“Kecepetan!”
Apa yang membuat reaksi Kei atas berbagai kejahilan Rion begitu menggelikan baginya? Rion tidak tahu. Yang Rion tahu, ia tak pernah bertemu seseorang sepolos sekaligus setulus Kei. Bagaimana ia mencerna semua perkataan Rion secara amat harfiah, dan begitupun caranya bertutur; dengan jujur dari lubuk hatinya. Tentang keinginannya bertemu teman-teman masa kecilnya, tentang bagaimana ia menganggap segala masalah di dunia bisa diselesaikan dengan damai—berbeda dengan Rion, yang tak jarang mengajak orang lain berdebat, menghardik siapapun yang berani mengganggunya atau orang-orang yang ia sayangi; yang tumbuh dirundung anak-anak lelaki di lingkungan sekitar rumahnya hanya karena bulu matanya yang terlewat panjang; yang paham betul bahwa kau tidak bisa bertahan hidup tanpa melawan—namun tak ia paksakan keyakinan itu pada Kei, karena ia pun suka pandangan naifnya meski ia tahu tak seperti itu dunia bekerja. Tentang bagaimana Kei ingin Rion berhenti merokok, setidaknya perlahan-lahan—yang mulanya direspon Rion dengan defensif, “Suka-suka gue!”, sebelum Kei membalasnya dengan, “Aku cuma mau kamu hidup lebih lama. Jadi kita bisa main bareng terus.”
Adakala kepolosannya membuat Rion gemas, tapi itu pula yang membuatnya begitu terfiksasi padanya. Terkadang Rion ingin membawa Kei ke dalam bahaya, bila hanya agar ia bisa melindunginya.
“Gue mau ngebut. Pegangan yang kenceng!”
“Emangnya ini belum ngebut?” sahut suara cemas di belakangnya. Pegangan Kei semakin dieratkan, lengannya bergerak memeluk tubuh Rion.
Rion tersenyum. Zat adiktif apa yang terbentuk ketika Kei bersandar kepadanya, ketika ia merasa dibutuhkan oleh perempuan ini?
Laju motornya dipercepat. Mentari sore memanggang, namun angin kencang dari laju sepeda motor menyediakan rasa sejuk, dan Kei di punggungnya memberikan rasa nyaman.
[☆]
Rion benar-benar hanya membawa Kei berkeliling, tidak lebih dan tidak kurang. Selama hampir dua jam ia mengendarai motornya mengitari kota mereka yang terik namun sejuk itu, dengan deru mesin di telinganya, nafas Kei di belakang lehernya, lengan Kei pada perutnya. Sesekali ia mengumpat pada pengendara lain yang menyalipnya atau yang mengemudi terlalu lambat: “Goblok!”, “Cepetan, anjing!”, yang disahuti Kei dengan tawa kecil atau helaan napas pasrah. Tak ada peta yang Rion jadikan acuan rencana tamasya mereka. Ia hanya membawa kendaraan kesayangannya mengikuti apa kata benaknya, dan Kei pun tidak protes. Tidak sekali pun mereka berhenti kecuali di akhir perjalanan—sebelum Rion mengantar Kei pulang—ke sebuah kedai kue kecil yang menyediakan koleksi buku bacaan bagi para pelanggan. Mereka beristirahat sejenak di kursi di luar kedai, Rion merokok satu batang, Kei dengan satu buku pilihannya di tangannya, dan dua gelas minuman serta sepiring pastry untuk berdua di atas meja.
Tak mempedulikan orang lain, mereka berada di dalam gelembung sendiri, yang terkadang hanya terisi suara kesibukan masing-masing: halaman buku yang dibalik Kei dan goresan pensil pada buku sketsa Rion (hobi baru yang akhir-akhir ini ditekuninya dan kemungkinan akan ditinggalkannya dalam beberapa minggu), terkadang pula ramai dengan obrolan tentang beragam topik, dari guru-guru paling menyebalkan di sekolah hingga fauna laut yang telah punah. Rion selalu menikmati berbicara dengan Kei; meskipun secara umum ia yang jauh lebih banyak berkata, Kei juga bisa bercerita panjang lebar jika ia mau. Mereka bisa dengan mudah menyepakati suatu pendapat: “Bakso seberang jalan lebih enak daripada bakso kantin sekolah”, namun kadang kala mereka menghabiskan waktu lama bertukar pandangan, tentang keluarga, tentang takdir, tentang sejauh mana kau bisa menyakiti orang lain demi kepentingan pribadi. Kei banyak memberi sudut pandang baru bagi Rion, dan walau tak semuanya ia setujui, setiap obrolan mereka semakin memantapkan keyakinan Rion bahwa Kei adalah sebaik-baiknya manusia.
Ketika langit menjingga mereka bangkit, beranjak pulang. Rion tidak bisa menahan Kei terlalu lama, mengingat ayah angkat Kei yang ketat dengan aturan. Lihat saja, suatu saat, Rion akan mengebom mobilnya yang mahal itu. Saat ia suarakan pikiran impulsif itu, Kei hanya bisa mengernyit khawatir, meski senyum tipis juga terlukis di wajahnya.
Terlalu cepat, kendaraan telah berhenti di depan pagar rumah Kei. Angkasa telah bercat merah muda, tidak jauh berbeda dengan muka Kei setelah ia turun dari motornya, setelah Rion pamit dan berpaling hendak pergi, ketika tiba-tiba Kei meraih pergelangan tangannya. Semburat merah itu semakin mencolok karena rambutnya yang putih, disinari surya yang hampir tenggelam. Kei menatap ke suatu tempat di atas aspal di depannya.
“Kenapa?” tanya Rion.
Seakan tersadar dari lamunan, Kei sontak mengangkat pandangannya, menatap tepat pada mata Rion.
“Rion… Makasih ya, buat hari ini. Kamu selalu bikin aku seneng,” ucapnya dengan lembut dan sungguh-sungguh, seperti tidak ada pedulinya jika Rion tercekat tanpa tahu bagaimana harus menanggapinya.
Kei tersenyum simpul, wajahnya semakin memerah. Rion merasakan sentuhannya yang turun dari pergelangannya, dan kini telapak tangan mereka saling menggenggam. Rambutnya yang masih dikuncir dua bersandar pada bahunya. Cantik, Kei benar-benar cantik.
Bukan berarti apa-apa. Bukan berarti tuduhan Sakamoto dan Nagumo benar, bahwa Rion telah menaruh hati pada siswi pendiam dari kelas IPS.
Sudah sejak lama Rion tahu bahwa kaum lelaki sama sekali tidak menariknya, dan itu bukan masalah baginya. Ia tak peduli, toh, terlepas dari gender, urusan percintaan terlihat merepotkan. Memalukan. Lihat saja Sakamoto, jadi pecundang besar ia lantaran Aoi. Rion tidak perlu semua itu, ia bisa sendiri.
Bukan berarti perempuan yang akhirnya membuatnya luluh adalah Kei.
Tetapi Kei tengah memandangnya dengan amat tulus, senyumnya amat teduh. Siapa pula yang tidak akan pasrah pada sepasang mata biru itu?
Rion ingin waktu membekukan diri pada senja itu, membiarkan dirinya dibasuhi tatapan Kei, mengabadikan jemari mereka yang bertaut, meninggalkan mereka berdua di dalam kedamaian yang tak akan Rion temukan di mana pun. Betapa mengecewakan bahwa jarum jam akan terus berjalan, dan sesuatu di bagian belakang benaknya mengingatkannya pada malam yang hampir sampai sepenuhnya, pada hukuman yang akan Kei terima jika ia pulang terlambat, pada Akira yang pasti sudah menunggunya di rumah. Dengan berat hati ia jernihkan pikirannya.
Bisa saja ia merespon Kei seperti biasa, dengan tawa santai dan kicauan “Apa, sih? Kayak sama siapa aja”, namun sesuatu tentang atmosfer sore itu membuatnya lebih berani. Membuatnya berpikir, Gue gak bisa ninggalin dia gini aja.
Dengan cepat ia menarik napas, maju mendekatkan wajahnya pada Kei—masih menggenggam tangannya—lalu berdoa ini tidak akan menjadikan apa pun itu yang ada di antara mereka berdua aneh, dan mengecup pipi Kei singkat. Sempat didengarnya tarikan napas Kei yang terkesiap, juga dilihatnya wajah Kei yang merahnya melebihi apa pun yang pernah Rion temui, tetapi tidak lama, karena ia sudah tergesa-gesa menunggangi sepeda motornya, dan dengan tuturan “Dadah,” singkat, ia melaju meninggalkan rumah berpagar hitam itu.
Dunia di sekitarnya menggelap kala ia menyusuri jalan menuju rumahnya, namun ada yang semakin ringan dan terang di dadanya. Rion mencoba menahan cengiran, dan gagal.
Apakah salah jika ia begitu menikmati sensasi yang didapat ketika ia bersentuhan dengan Kei? Apakah ini melambangkan sesuatu yang lebih? Mereka sudah berteman selama lebih dari dua tahun, bukankah normal saja untuk menyenangi presensi satu sama lain?
Tetapi, kenapa Rion harus buru-buru pergi tadi? Akira—ah, bahkan Rion tahu kalau itu hanyalah alasan belaka. Lalu kenapa? Namun, jika Rion bertahan lebih lama, apa yang akan dilakukannya? Apa yang akan dikatakannya pada Kei? Apakah segala hal membutuhkan penjelasan?
Apakah tidak bertanggung jawab bahwa Rion telah kabur seperti itu? Mungkin Rion memang pergi karena ia tidak berani menghadapi konsekuensi perbuatannya. Apakah artinya Rion pengecut? Apa kayak gini rasanya hidup jadi Sakamoto? Apa gue udah jatuh ke dalam lubang yang sama?
Tetapi ketika ia berkedip, kelopak matanya menampilkan kembali senyum Kei, parasnya yang ayu. Tangannya pada handgrip motor memutar ulang sensasi genggaman Kei yang dingin secara fisik namun menyiratkan kehangatan, dan Rion berpikir: jika ia harus terus hidup dengan perasaan ini, maka itu sama sekali bukan hal yang buruk.
Rion menghela napas. Untuk saat ini, ia hanya harus percaya bahwa bahwa mereka akan baik-baik saja. Masih banyak waktu bagi mereka. Malam itu, jalan pulangnya disinari cahaya bulan.
