Actions

Work Header

Cokelat & Ceri

Summary:

Jiwoo terjebak ke dalam permainan Yuha dan tidak ada kata mundur.

Notes:

Read the tags carefully.

Work Text:

Sore itu 30 menit seusai bel pulang sekolah berbunyi Yuha baru melangkahkan kakinya pergi dari kelas. Matanya memantau lorong ruang OSIS yang sepi, dia celingukan di depan pintu coklat itu seolah mencari seseorang. Ketika menangkap bayangan dari jendela dia menemukan target yang dicari. Yuha masuk ke ruangan itu.

“Ada perlu apa, Yuha?” tanya gadis di seberangnya tanpa basa-basi. Namun Yuha mengabaikan pertanyaannya dan duduk di sofa.

Sang ketua OSIS, Choi Jiwoo, melirik Yuha yang duduk di ruangannya sambil merapikan beberapa berkas soal anggaran OSIS atau semacamnya. Yuha sama sekali tidak peduli tentang itu.

Yang dia pedulikan cuma satu yaitu game yang mau dia mainkan.

Yuha melambai-lambaikan sebungkus pocky merah.
“Hei, Bu ketua~ mau main bareng aku? Aku jamin nggak bakal makan waktu lama.”

Jiwoo melirik jajan di tangan Yuha sekilas lalu menatapnya lagi. Wajar kalau dia curiga, apalagi setelah mendengar berbagai rumor tentang Yuha dari anggota OSIS lainnya. Jiwoo sendiri agak heran kenapa dia masih belum mengusir Yuha dari ruangannya.

Mungkin karena Yuha selalu berhasil memancing sisi impulsif Jiwoo keluar.

Jiwoo berjalan melewati Yuha yang memperhatikan tiap gerakannya sambil tersenyum dengan bibir merah mudanya yang tersenyum penuh arti. Alis Jiwoo bertaut curiga, ia menaruh tumpukan kertas di meja bertuliskan “Keuangan”. Di atasnya ada tanda tangan dan sticky note kuning berisi beberapa catatan.

Jiwoo selalu jadi misteri bagi seluruh siswa, auranya hangat tetapi tak mudah di dekati. Jarang sekali terlihat sendirian. Dia selalu ditemani seseorang dari OSIS, terutama wakil ketua Carmen, gadis dari Bali. Atau kalau bukan dia, pasti ada saja junior yang mengikutinya seperti si gadis bayam, atau gadis berambut pirang.

Misterius tapi cantik, kata seorang siswa waktu pertama kali melihat Jiwoo naik panggung sebagai ketua OSIS tahun ini. Yuha langsung setuju.

Dia langsung terpikat oleh tatapan dingin sang ketua. Mata coklat itu tajam dan serius membuat Yuha penasaran seperti apa jadinya kalau mata itu dipenuhi ilusi.

Jiwoo lewat lagi, menuju meja kerjanya di depan ruangan. Papan tulis putih di belakangnya bersih tanpa noda. Dia duduk, menyatukan kedua tangan di meja kayu. Tempat itu terlihat seperti miliknya, memang begitu. Yuha suka perempuan yang tahu tempat dan memanfaatkannya.

“Gimana cara main game ini?” tanya Jiwoo, menatap Yuha.

Yuha berkedip. “Ya ampun, kamu nggak tahu game ini?”

“Kalau aku tahu, aku nggak bakal nanya.”

“Ah iya juga.” jujurnya agak kaget, soalnya orang-orang sudah heboh soal game ini. Tanggal 11 November memang momen favorit buat ngegoda crush atau bermain truth or dare.

“Jadi gini.” Yuha membuka pocky dan mengambil satu batang. “Kita berdua bakal gigit ujung pocky. Terus pelan-pelan kita makan sampai habis. Yang pertama melepas pocky berarti kalah!” jelas Yuha ceria.

Jiwoo menatapnya. Perlahan, dia mulai paham, dan pipinya memerah.

“Kalau nggak ada yang berhenti…”

Yuha terkikik. “Berarti kamu dapet ‘hadiah’.”

Ketua OSIS itu mendengus. Pipinya makin merah sampai ke telinga.
“Hadiah apa? Buat orang kayak kamu yang… punya banyak pengalaman?” nadanya ketus.

Yuha sempat kaget. “Wah wah, Bu ketua rupanya percaya sama gosip-gosip itu, ya?”

“Itu bukan gosip kalau emang benar.”

Yuha memiringkan kepala. “Kamu nggak kenal aku, Bu Ketua~”

“Kamu juga nggak kenal aku,” balas Jiwoo cepat. “Kenapa kamu pikir aku bakal setuju main game… kekanak-kanakan kayak gini?” nadanya dingin.

Yuha justru makin bersemangat.

Dia mendekat, duduk santai di atas meja kerja Jiwoo. Jiwoo jelas tidak suka, tapi diam saja. Tatapannya makin tajam. Dan Yuha suka diperhatikan, entah dalam konteks positif atau negatif.

Berbulan-bulan dia mencoba membuat ketua OSIS yang cuek menatapnya. Sekarang baru berhasil. Dan Yuha tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.

Yuha mendorong kotak pocky ke tengah meja sebagai undangan.

“Aku cuma ngajak, kalau kamu mau,” katanya sambil tersenyum.

Jiwoo menatap kotak itu dengan serius, lalu menatap mata Yuha.

Hening.

Mata coklat itu bekerja, berpikir cepat seperti mesin. Tatapannya tidak berkedip, penuh perhitungan dan perlawanan. Itu membuat dada Yuha berdegup.

“Aku menolak,” jawab Jiwoo.

Tidak mengejutkan, tapi Yuha suka tantangan.

“Tapi kenapa?” Yuha mulai mengolok. “Takut digosipin? Takut yang mulia ketua OSIS disegani semua orang ketahuan terlalu dekat sama si troublemaker sekolah? Kamu percaya gosip-gosip itu atau kamu cuma benci aku?”.

Jiwoo melotot. “Aku nggak percaya gosip. Tapi cerita tentangmu nyata.”

“Dari mana kamu tahu?”

Pertanyaan itu membuat Jiwoo ragu. Dia mengalihkan pandangan sejenak lalu menatap Yuha lagi.

“A-Aku lihat sendiri.”

“Oh?” Yuha tersenyum nakal. “Kamu lihat apa? Aku penasaran.”

“Itu gak penting.”

“Tapi penting buatku.” Yuha pura-pura terkejut. “Atau jangan-jangan kamu… punya pacar? Serius? Aku nggak sempat mikirin itu.”

Pipi Jiwoo merah padam. Tangannya mengepal. Jelas dia tidak punya pacar atau crush saat ini. Tidak ada waktu.

Yuha tertawa kecil, mengibaskan rambut bergelombangnya ke belakang.
“Kalau gitu alasanmu apa? Takut reputasi rusak? Takut gadis teladan kesayangan guru satu sekolah bikin kesalahan lalu tercoreng gara-gara game anak kecil?”

Ucapan itu berhasil memancing Jiwoo. Tangannya menggebrak meja keras, sampai pocky itu jatuh.

“Cukup! jangan asal menebak, Yuha.”

“Kalau gitu ayo main sama aku, Bu ketua.” Suaranya sedikit merengek

Jiwoo mengetuk meja, berpikir. Matanya kini lebih penasaran daripada marah.

Yuha bersandar dekat bahunya, menunggu dengan sabar.

Setelah lama sekali, Jiwoo menghela napas panjang. Dia menatap Yuha dengan wajah pasrah.

“Kalau aku main, kamu janji nggak akan ada orang lain yang tahu?”

Terjebak.

“Aku nggak akan bilang ke siapa pun! Game ini…” Yuha menyapu jarinya di leher Jiwoo, “…cuma rahasia kita berdua.”

Jiwoo menelan ludah. Lalu mengangguk.

Itu cukup.

“Aku senang kamu mau main denganku” Yuha cekikikan.

Dia mengambil satu pocky. “Kamu mau rasa coklat?”

“Yang mana saja.”

“Aku ambil coklatnya! Aku suka yang manis.” Jiwoo jelas tidak peduli.

Yuha menggigit ujung coklat dan mendekat. Jiwoo menatapnya dengan waspada.

“Jangan mundur sekarang, ya~”

Dengan helaan napas, Jiwoo juga maju dan menggigit ujung satunya.

Keduanya tidak bergerak. Napas mereka bertemu.

Fokus Yuha teralih memperhatikan tanda lahir kecil di pipi Jiwoo. Cantik. Bulu matanya panjang dan lentik tanpa maskara. Kulitnya yang seputih salju membuat Yuha iri tapi juga terpikat. Dan mata coklat itu seperti kristal.

Pipi Jiwoo merah seperti kepiting rebus. Sampai telinga. Sampai leher. Yuha penasaran sampai mana blush itu berlanjut.

Jiwoo tiba-tiba menarik dasi Yuha untuk mengembalikan fokusnya.

Jantung Yuha melonjak, tapi dia tetap tenang. Dia menggigit duluan.

Lalu Jiwoo mengikuti.

Satu demi satu, mereka mengambil gigitan kecil. Wajah makin dekat. Sampai hidung mereka bersentuhan.

Jiwoo berhenti.

Yuha bisa melihat butiran keringat di alisnya. Dia penasaran apa yang ketua OSIS itu pikirkan sekarang.

Yuha menyentuh pipi Jiwoo, mengusap area panas itu. Jiwoo sedikit rileks dan menggigit lagi.

Yuha menggigit. Jiwoo mengikuti.

Kepalanya miring sedikit. Jiwoo ikut memiringkan.

Gigitan lagi.

Pocky makin pendek. Napas mereka makin tak teratur.

Sampai tersisa kurang dari satu sentimeter.

Mereka berhenti saling tatap-menatap. Masing-masing penuh rasa lapar.

Seharusnya Yuha yang menggigit terakhir tapi Jiwoo bertindak lain.

Dia menarik dasi Yuha kuat-kuat dan memakan sisa pocky itu.

Ya, akhirnya dia yang mencium Yuha duluan.

Manis pocky bercampur dengan lip gloss ceri membuat kepala Jiwoo berdenyut. Jiwoo menciumnya lebih dalam, merasakan manis coklat dan kelembutan bibir Yuha. Yuha hampir kehilangan nafas tapi dia tidak peduli.

Jiwoo mencium dengan luar biasa. Intens, panas, terampil.

Dan Yuha hancur dibuatnya.

Dia mencengkram bahu Jiwoo kuat-kuat mungkin sampai meninggalkan bekas di kulit putihnya. Tangan satunya memegang lengan Jiwoo erat.

Entah berapa lama mereka berciuman.

Sampai akhirnya Yuha sudah terduduk di meja, paha sedikit terbuka, Jiwoo berada di atasnya, dan tangan Jiwoo yang entah ada di mana.

Yuha benar-benar kalah telak.

Jiwoo akhirnya menjauh, masih memegang pinggul Yuha agar tidak jatuh. Yuha terengah-engah. Bibir Jiwoo terangkat sebelah membentuk sebuah seringai.

“Sudah puas, Yuha?”

Yuha hanya mengangguk. Tercengang.

“Bagus.” Jiwoo merapikan diri, menyibak rambut pendeknya, membetulkan seragam sekolah yang lusuh akibat cengkraman Yuha.

Setelah yakin tampil sempurna, dia menatap Yuha yang masih linglung di atas meja.

“Sebentar lagi aku ada rapat sama ekskul renang. Kamu boleh tetap di sini, tapi pergi sebelum jam 5. Anak-anak OSIS bakal ke sini ambil barang mereka.”

Jiwoo tersenyum. Sulit ditebak. Membuat hati Yuha tambah kacau.

“Itu… game yang menyenangkan,” katanya sambil menyentuh dada Yuha pelan, turun sampai pinggang roknya dan berhenti di sana. Menggodanya.

“Mungkin kita bisa lakukan lagi lain kali” bisiknya.

Yuha menelan ludah, merah padam dan lengket, merasa sangat… kacau dan tak suka perasaan kalah telak ini.

“Kalau gitu...” Jiwoo menepuk pahanya lembut.

Yuha menggigil.

“Sampai nanti, Yuha.”

Dan Yuha pun ditinggalkan. Gelisah. Butuh bantuan. Dan sendirian.

“Aku benci kamu, Choi Jiwoo” gumamnya.

Tapi dia dapat apa yang dia mau. Perhatian penuh dari sang ketua OSIS.

 

***

 

Dalam perjalanan menuju kolam renang, Jiwoo menyadari bibirnya masih tersisa belepotan coklat dan lip gloss merah. Dia buru-buru menghapusnya.

Lalu tanpa sadar, dia menjilat jempolnya.

Rasa coklat dan ceri.

“Hmm. Nggak buruk.”

Dia harus segera ke kolam. Dua menit lagi.

Dia berjalan cepat, sementara rasa Yuha masih menempel di lidahnya.