Work Text:
Kembalilah padaku, Little Butterfly.
Rhea terkesiap. Ia berjengit terkejut dengan jantung yang menghantam dada. Matanya membelalak liar, mencari sumber suara yang kerap menggema dalam kepala selama beberapa malam. Hanya ketika ia yakin bahwa tak ada seorang pun yang mengawasi, barulah Rhea menghela napas panjang.
“Kelima kalinya minggu ini.” Ia mengusap wajah kasar, menyeka sisa kantuk yang menggelayut. “Siapa kau sebenarnya?”
Nyaris seminggu sejak ia siuman. Perawat memberitahu bahwa ia adalah korban tunggal kecelakaan mobil. Yang membawanya ke rumah sakit adalah pria bertubuh tinggi dengan mata keunguan yang mengaku sebagai suami. Rhea bersumpah kebingungan memasang ekspresi kala sang perawat berulang kali mengatakan seberapa beruntungnya ia karena pria—yang mengaku sebagai suaminya—selalu menunggu di sisi ranjang seraya menggenggam tangan.
Anehnya, Rhea tidak pernah melihat pria itu sejak ia sadarkan diri. Artikel berita juga siaran televisi tidak pernah menyebut kecelakaan mobil baru-baru ini. Yang paling menggelisahkan adalah … ia tidak bisa mengingat sang suami—kalau pria itu benar-benar suaminya—maupun kecelakaan yang merenggut sebagian memori.
Amnesia sebagian, atau itulah yang dikatakan dokter setelah Rhea mengeluh atas kaburnya ingatan. Benturan keras, penyebabnya. Bersikap selayaknya orang linglung, akibatnya.
Ditambah lagi ….
“Kembalilah padaku, Little Butterfly.” Rhea mengulang kalimat yang sama dengan suara dalam mimpi, menatap selimut seolah sehelai kain itu menyinggung seluruh keluarganya. “Bagaimana aku bisa kembali kalau kau tidak pernah menunjukkan dirimu? Dasar bodoh.”
Aku di sini.
Ia menoleh cepat kala embusan angin melesak, seolah membawa bisikan seseorang di balik jendela yang terbuka. Mungkin karena pengaruh obat. Mungkin juga karena tidurnya yang tidak pernah nyenyak. Namun, Rhea bersumpah seseorang berbicara padanya.
“Siapa di sana?”
Hening. Ia memicingkan mata, memastikan yang bergerak di balik tirai adalah bebungaan. Bukan penyusup.
“Kalau kau memang suamiku, bukankah seharusnya kau menemuiku?” gumam Rhea seorang diri, membiarkan angin malam mengantarkan kata-katanya pada malam. “Aku bersumpah. Saat ingatanku kembali, aku akan memburumu dan memintamu bertanggung jawab, Casanova Sialan!”
Detik selanjutnya, ia mengerjap bingung. Mengapa ia menyebut Casanova?
***
Lucien merapatkan punggung pada dinding, mengatur napas. Lampu di luar kamar yang temaram mengizinkannya untuk menyatu dengan bayangan, luput dari pandangan sang hawa. Yang tadi itu hampir saja. Satu detik lebih lama dan Rhea akan menyadari kehadirannya.
“Aku bersumpah. Saat ingatanku kembali, aku akan memburumu dan memintamu bertanggung jawab, Casanova Sialan!”
Sudut bibirnya tertarik samar. Ada bagian hatinya yang menghangat kala Rhea menyebut ‘Casanova’. Panggilan yang muncul tiap kali wanita itu tersipu. Tampaknya kehilangan ingatan tak meluruhkan kepribadian Rhea yang intens.
“Kalau ingin datang ke mimpiku setidaknya tunjukkan dirimu.” Rhea terus menggerutu sembari membenahi selimut dan bantal. Dari posisinya, Lucien bisa melihat Rhea yang berbaring menghadap jendela seakan mengenali keberadaannya. “Aku butuh melihat wajahmu juga.”
Lucien selalu mengabulkan keinginan sang hawa. Saat Rhea bersikeras untuk makan lebih banyak kue dengan risiko sakit perut. Saat Rhea memeluk lehernya untuk segera kembali ke ranjang dan meninggalkan pekerjaan. Saat Rhea bersikukuh untuk menemaninya. Tidak peduli apa yang terjadi. Namun, untuk kali ini. Untuk pertama kalinya, Lucien tak mampu.
Jangan salah sangka. Desakan menggebu dalam diri untuk meraih jemari sang hawa begitu besar. Dorongan untuk menyeka air mata yang menggenang di sudut mata sang hawa pun tak kalah kuat. Yang paling gila adalah kebutuhannya untuk merengkuh Rhea.
Namun, saat ini ia adalah segala yang berbahaya untuk Rhea. Lantas, bisa apa Lucien selain menjaga jarak?
Potret Rhea yang terbaring di atas genangan darahnya sendiri terus terputar dalam memori selayaknya kaset kusut yang menghantui. Setiap malam. Setiap malam Lucien harus menyusup ke kamar inap Rhea untuk memastikan wanitanya masih hidup. Setiap malam ia dibelenggu oleh kemungkinan Rhea meregang nyawa.
“Tidak.” Tatapan Lucien masih melekat pada sang istri yang perlahan-lahan terbuai mimpi. “Tidak sekarang.”
Membiarkan insting menuntun tindakan, Lucien masuk kembali. Memastikan langkah kakinya tak terdengar untuk mengusik lelap sang wanita. Punggung jemarinya membelai pipi Rhea, membayangi rupa sang istri selayaknya kunang-kunang di atas permukaan danau yang tenang. Ingin meresapi dan mengukir momen ini dalam kenangan. Menjadi pengingatnya untuk segera menyelesaikan urusan dengan pihak organisasi agar mampu mendekap sang kekasih hati.
Sisi logis yang ia banggakan mendebat, meraung untuk memberikan kesempatan pada Rhea untuk melarikan diri. Bukankah saat ini kesempatan yang paling dinanti? Tidak ada air mata. Tidak ada penyesalan. Rhea … tidak mengingatnya.
Pikiran bertarung dengan hati. Raga berperang dengan jiwa.
Rhea mungkin mampu bertahan tanpanya. Namun, bisakah ia bertahan tanpa sang hawa? Tanpa menyentuhnya? Tanpa mengepang rambutnya setiap pagi? Tanpa bisikan penuh kasih sayang yang mengingatkannya bahwa ia juga manusia, bukan alat tempur untuk masa depan yang didambakan oleh segelintir kelompok.
Sanggupkah ia kembali pada kehidupan sebelum ada Rhea sebagai pusat dunianya?
“Mana mungkin.”
“Lu … ci ….”
Napasnya tercekat. Ia tidak berhalusinasi. Rhea berusaha melafalkan namanya. Hati Lucien serasa dihantam kala air mata membasahi jari telunjuknya. Oh astaga. Bahkan saat mengingat apa pun, wanita ini berhasil memporak-porandakan dunianya.
“Aku di sini,” bisiknya lagi. Ia membungkuk, menyematkan kecupan lamat pada kening Rhea. Usaha untuk menyampaikan kasih sayang yang terlampau besar hingga kesulitan diutarakan melalui kata. “Aku selalu di sini.”
Helaian jelaga Rhea bertaut di antara jemarinya. Selama beberapa ketukan, Lucien menyerah. Mengecup lamat rambut sang hawa, menghidu aroma freesia bercampur cokelat yang memudar. Untuk sekarang, hanya ini yang bisa ia lakukan dalam diam. Bukan pengecut. Ia tidak ingin ketidaksabarannya berbuah pahit dan menjadi alasan malapetaka menghampiri wanitanya.
Wanitanya. Sejak awal sudah begitu dan selamanya akan tetap begitu.
Hendak menarik tangan, menyudahi momen rapuhnya, tetapi Rhea tidak sependapat. Lucien menipiskan bibir saat Rhea menggapai tangannya dalam tidur. Sebagaimana wanita itu menginginkan presensinya tiap malam. Bukan yang pertama kali, tetapi pengaruhnya masih sama.
“Aku menyayangimu, Little Butterfly,” sumpahnya lirih. Tak mengizinkan entitas lain mencuri dengar pengakuannya. “Tapi aku tidak bisa memilikimu saat ini.”
Rhea mengerang.
Lucien mendengus kecil. “Masih protes walau sudah hilang ingatan, hm?”
Rhea menghela napas gemetar.
“Aku harus pergi. Jangan tunggu aku, hm?” Genggaman Rhea kian mengerat dan Lucien tak sudi melepaskan. Kecupan lainnya tersemat pada kening, mengusahakan perpisahan. “Aku tidak ke mana-mana, tapi berusahalah untuk menjalani hidupmu sendiri.”
Rhea menggertakkan gigi dengan kening mengerut dalam, memeluk erat jemari mereka yang terjalin.
“Rhea ….”
Untuk kesekian kalinya, Lucien mengizinkan dirinya untuk mencuri satu detik lebih lama. Satu menit lebih panjang dengan istrinya, menggenapi permintaan tak terucap Rhea. Ia menggeser kursi pelan, lalu mendampingi Rhea hingga larut dalam bunga tidurnya.
Konsep waktu menjadi sesuatu yang asing baginya jika seluruh atensinya tertuang pada rupa Rhea. Sisi rapuhnya melebur bersama malam yang bersedia menyimpan rapat rahasianya. Tidak masalah, bukan? Selama mereka tidak tahu.
Ia mengulum senyum, mematri rupa sang istri dalam diam. Bukan karena tak ingat, tetapi karena Lucien butuh jangkar pada realitas di tengah gelombang pasang yang membawanya terombang-ambing antara Lucien dan Ares. Tiap detail yang berhasil dijejaki bagai menyiram air pada api. Bagaimana hidung Rhea mengerut saat sesuatu dalam mimpi mengganggu. Bagaimana damainya sang hawa kala tak berkemelut dengan dunia nyata. Bagaimana … ia bisa kehilangan pemandangan ini akibat kecerobohannya.
Saat jarum panjang nyaris menyentuh angka lima, Lucien tahu waktunya sudah habis. Setidaknya untuk hari ini. Dengan berat hati ia melepaskan tautan jemari mereka walau hatinya penuh damba.
“Aku pergi dulu.” Bibirnya menyentuh punggung jemari Rhea. “Aku menyayangimu. Hanya itu yang tidak akan berubah.”
Dunia mengenal Lucien sebagai Ares. Salah satu orang paling berbahaya yang perlu diawasi. Atau bahkan seseorang yang patut dihukum mati atas kekuatannya. Mendengar namanya mampu membuat mereka bergidik dan mundur.
Namun, Lucien tahu ada satu orang di dunia ini yang akan mengenangnya sebagai seorang suami. Seorang kekasih. Seseorang yang lembut dan penyayang. Karena tidak ada yang pernah menyaksikan seberapa besar kasih yang tertuang untuk Rhea. Perasaan cintanya meluap bersama Rhea hingga tidak tertahankan.
Seumur hidupnya, hal yang paling berat ia lakukan adalah meninggalkan istrinya dalam kebingungan dengan ratusan pertanyaan tanpa jawaban. Namun, Rhea tidak sendirian.
Hati Lucien hancur di setiap langkah yang ia ambil untuk menjaga wanita yang paling ia cintai.
