Actions

Work Header

Rating:
Archive Warnings:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-11-29
Words:
814
Chapters:
1/1
Kudos:
5
Hits:
81

The Subway

Summary:

Aku masih menghitung hari. Bukan lagi hingga perasaan ini hilang, tapi hingga aku bisa berdiri di peron yang ramai, melihat sekilas rambut merah dan senyum manismu, dan benar-benar berpikir, "Kau hanyalah penumpang lain di kereta yang sama."

 

Inspired by "The Subway - Chappell Roan"

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Hari berlalu dan kembali mataku terpaku pada sekelebat rambut merah itu. Ia menaungi separuh dahi yang berhiaskan titik rindu, sebuah nebula kecil yang dulu sering kuhadiahi kecup.

Di antara riuh rendah peron yang sesak, aku melihat pantulan asing—bukan diriku yang sekarang, tapi sebuah hantu dari masa lalu. Manusia yang dengan bodohnya berlayar mencoba menanggalkan layar dan haluanmu, menyesakkan nadimu agar senada dengan denyut nadiku. Aku selalu mencoba mengubah, menyesuaikan iramamu dengan iramaku. 

Mata bulat manis, yang dahulu selalu sembunyikan badai luka. Tampak berseri dengan senyum tampan yang selalu ku puja. Namun, aku tahu, senyum itu telah berlabuh di dermaga yang lain.


Beberapa hari kemudian, aku sengaja membelokkan kompas perjalananku. Memilih jalur rel yang berbeda, menjejak stasiun-stasiun yang tak pernah menjadi saksi bisu kita. Sebuah upaya putus asa untuk menulis babak baru di atas lembaran asing, tanpa bayangmu. Tanpa kita.

Namun, di tengah keriuhan rush hour, saat aku berdiri terapit lautan manusia, sebilah melodi tajam merobek senyap. Lagu favorit yang dulu kita dengar bersama menggunakan earphone kabelmu. Musiknya mengentak, penuh energi yang ironis, sebab justru menorehkan kelumpuhan buatku.


Beberapa minggu kemudian, samar aku mencium aroma parfum-mu. Aroma yang dulu kusebut "terlalu berat, seperti senja seorang kakek tua" kini menjelma rantai dingin, membelenggu pergelangan waktu.

Kutolehkan pandang ke seberang. Di sana, dari pintu gerbong yang baru memuntahkan penumpangnya, aku melihatmu, si rambut merah. Senyum tampan yang sama, dan kali ini, sebuah tawa meledak—tawa yang dulu kupercayai adalah harta warisan yang hanya menjadi milikku.

Di sebelahmu, seseorang dengan iringan aroma menyerupaimu yang baru saja lewatiku. Rambutnya hitam pekat, dengan gaya busana yang menyerupai kanvas keberanian. Dan ya, ia mengenakan parfum yang sama. Aroma yang kubenci, namun kini kurindukan dengan kepedihan.

Bukan hanya aroma itu yang diwarisinya, ia memiliki sorot mata yang sama denganku, sebuah tatapan memuja, seolah kau adalah satu-satunya keajaiban yang terukir di stasiun yang penuh debu ini. Aku menyadari, si manis itu tidak sedang mencoba mengubahmu—ia merayakanmu. Ia adalah cerminan dari aku yang seharusnya.

Hatiku remuk redam, aroma samar itu terasa mencekikku. Ia memaksa kakiku meninggalkan kursi tunggu favorit, singgasana kenangan yang kini dilumuri racun.

 

Aku melangkah cepat menjauhi peron, seolah setiap detak jam membawaku semakin jauh dari kenangan yang beracun. Jantungku berdebar tak karuan, irama panik yang seakan menirukan deru kereta yang menjauh. 

Langkahku terhenti di depan peta jalur. Mataku yang kosong menatap garis-garis silang yang kusut, serupa nasib kita. Namun, pikiranku justru penuh dengan hitungan hari.

 

Empat bulan.

 

Aku ingat janji konyol yang kubuat pada diriku sendiri saat ku melepasmu pergi. Sebuah janji yang kini terasa seperti ultimatum yang menggantung di atas kepalaku, didorong oleh bisik yang kini bergema di kepalaku.

Empat bulan telah berlalu sejak perpisahan kita, dan perasaan ini? Jauh dari kata hilang. Ia baru saja disiram kembali dengan aroma parfum dan tawa manis yang kau bagi dengan orang lain.

Aku menuduhmu sebagai penjahat, karena kau berani melanjutkan kisah. Padahal, akulah penjahat ulung itu—si pemberontak yang menolak perpisahan. Aku masih menghitung hari. Masih berharap, di ruang hatimu yang paling beku, kau masih meyakini kita adalah sebuah takdir.

Aku menjalani rutinitas baru di jalur kereta yang berbeda. Namun, rutinitas itu hanyalah panggung ilusi. Setiap menuruni anak tangga stasiun, mataku masih otomatis mencari bayangan rambut merah di undakan. Setiap membalikkan badan, aku merasa ada bayanganmu, bahkan di bawah cahaya stasiun yang paling benderang.

Aku tahu, aku harus mengubahnya. Aku harus meyakinkan diriku bahwa kau hanyalah "penumpang lain" yang kebetulan berpapasan di peron.

 

Namun kau bukan sekadar "penumpang lain". Kau adalah stasiun tujuanku yang sengaja kuhapus, satu-satunya pemberhentian yang kurindukan.


Malam itu, di apartemen yang dingin, aku mencoba merayakan kenangan, tanpa kehadiranmu. Musik itu kembali kuputar. Melodi yang mengentak penuh semangat, namun kini aku mendengar ratapan keputusasaan di baliknya. Ini hanyalah satu dari sekian banyak hari di mana aku mengenang kisah kita, dan agaknya, ziarah ini belum akan berakhir hingga saatnya.

Kenapa aku membiarkan perasaanku padamu tumbuh menjadi begitu besar? Kenapa bayanganmu begitu melekat, sampai-sampai aku masih takut untuk mengulang janji konyol di depan cermin, —jika dalam empat bulan lagi perasaan ini masih sama... maka, persetan dengan kota ini, akan ku tinggalkan peron dengan kursi tunggu favorit kita berdua itu. Pikirku.

Keputusan itu terasa seberat jangkar, namun menawarkan secercah harap yang pahit. Sebuah tenggat waktu untuk sembuh. Sebuah pelarian drastis.

 

Namun, kemudian aku teringat dia—si rambut hitam, yang memiliki caramu tertawa, yang mewarisi aroma parfummu

Aku yakin, ia berhasil. Ia berhasil memilikimu, dan kau berhasil lolos dari labirin keraguan yang kubangun—karena ia tidak mencoba mengubahmu. Selamat, kau berhasil kabur dari penjara interpretasiku.

Aku menatap pantulan diriku di kaca jendela yang gelap. Sebuah keharusan bagiku 'tuk tentukan jalan keluar. Namun, kurasa jalan keluar itu bukan mengubah kota, tapi mengubah cara pandangku.

 

Aku akan terus menghitung hari. Bukan lagi hingga perasaan ini mati, tapi hingga aku bisa berdiri di peron yang ramai, melihat sekilas rambut merah dan senyum manismu, dan benar-benar berpikir, "Kau hanyalah penumpang lain di kereta yang sama."

Notes:

hai!! ini post pertamaku di AO3 ㅠㅠ
kinda nervous, but here we are~

terimakasih sudah berkunjung 💞
let's interact on my x/twt account @LITERASL 🍊