Work Text:
Apa coba skenario buruk yang mungkin tercipta antara dua insan yang sudah sejak kecil menjalin hubungan pertemanan dengan begitu akrabnya? Ya, muncul perasaan sayang yang lebih dari sekadar sayang kepada teman.
Skenario buruk satu, checked.
Lalu, ada ‘kah kemungkinan muncul skenario buruk lain yang menyertainya? Ada. Misalnya, kemungkinan kalau rasa sayang yang dipunya tidak berbalas dengan sama besarnya.
Skenario buruk dua, checked.
Selain itu, apakah ada lagi? Ya, it’s the Fear of losing—fear with capital F, Fear.
Skenario buruk tiga, checked.
Maka tiga hal yang telah ter-cheklist itu rasanya sudah lebih dari cukup bagi Keonho untuk sama sekali tidak mengungkap perasaannya kepada siapa pun, terlebih pada sang pemeran utama, si teman sedari kecilnya—Seonghyeon.
Keonho bersumpah. Lebih baik dirinya sembunyikan segala perasaan terhadap Seonghyeon dengan konsekuensi menahan sakit selagi ia biarkan semua perasaan itu terkikis sampai habis, daripada ia harus kehilangan Seonghyeon yang baginya sudah jadi bagian konstan di hampir seluruh masa ia hidup sampai sekarang.
Tapi dasarnya manusia, tentu kemampuannya hanya sebatas pada bisa berencana dan berusaha. Hasilnya? Tetap lah sang penulis garis takdir yang punya kuasa untuk menentukan jalan kisahnya. Sebagaimana yang terjadi pada kasus Keonho sekarang ini; dirinya ketahuan.
Skenario buruk empat, checked.
Fucking hell. Keonho bahkan tidak punya nyali untuk membayangkan skenario selanjutnya akan jadi seburuk apa. Maka ia berusaha, kembali mencoba dengan seluruh sisa tenaga yang ia punya untuk mempertahankan apa yang masih bisa ia selamatkan.
“Maaf.” Entah ini sudah jadi kata penyesalan yang ke berapa kali, Keonho tak punya waktu untuk menghitungnya. Terlebih ketika akhirnya ia pilih untuk menurut pada apa yang jadi keinginan Seonghyeon—memberikan penjelasan yang sejujur-jujurnya. “I’ll stop, kalau kamu ada ngerasa keberatan,” lanjutnya kemudian.
“Sebentar—“ Seonghyeon menegakkan tubuhnya. Seisi ruang kamar Keonho sekarang adalah saksi bisu soal bagaimana Seonghyeon akhirnya buka suara setelah sejak tadi hanya si empunya kamar lah yang terus—secara mati-matian—kasih penjelasan. “—jadi kamu ini beneran suka sama aku? Sayang aku?”
“...iya.”
“Suka dan sayang, as in you like me more than a friend?”
“Iya.”
“Terus semua foto aku yang kamu simpan di folder Dearest Hyeon ini, gak lebihnya cuma kamu yang pengen mengenang setiap momen bahagia kita selama ini?”
So, here it is; the main problem of the day. Ada banyak cara mencintai, dan Keonho memilih jalan untuk mengabadikan setiap momen bahagia yang ia habiskan bersama Seonghyeon melalui jepretan lensa kamera. Lalu menyimpan setiap dari itu dalam satu folder terorganisir yang dikinci dengan judul “Dearest Hyeon” sehingga itu memungkinkan hanya Keonho lah yang dapat mengaksesnya.
Maka ketika semua ini ketahuan, Keonho merasa ia sudah tidak punya pembelaan apa pun dan hanya mampu memberi jawaban yang sama dengan yang sejak tadi selalu ia lontarkan, “Iya.”
“Oh my God—“ Seonghyeon terdengar seperti tak percaya. “—why are you never show any signs or hints about it then? Kenapa justru sikap kamu kayak nunjukin hal yang sebaliknya.”
“Iy—wait. What?!” Keonho pikir, ia harus sudah persiapkan diri untuk menerima skenario terburuk nomor lima. Tapi, apa yang baru saja dia dengarkan? Kenapa Seonghyeon memberikan respon yang di luar dugaan? Kok sepertinya ia terdengar sama sekali tidak keberatan? “Maksud kamu gimana?”
“Keonho, kamu tau gak sih? I almost thought that you never like me, at all.”
“Hah?” Keonho tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. “Ya enggak lah?! Of course I like you. Why wouldn’t I?”
“Because I’m annoying? Manja?” tebak Seonghyeon asal. “Kamu setiap hari ngeledek aku Tuan Putri, kayak di matamu aku ini nyebelin dan bikin repot. Tapi kamu tetap baik karena—I don’t know? Kamu kasihan? Atau gak enak karena orang tua kita deket banget, kamu gak bisa ninggalin aku gitu aja. So you don’t have any other choice but to stay.”
“Enggak, Hyeon. Bukan kayak gitu.”
“But you never said that you love me back,” jujur Seonghyeon yang pada akhirnya ungkapkan satu hal paling mengganjal di hati selama ini. “I told you many times that I appreciate you and I love you. Tapi aku gak ingat kalau kamu pernah bales itu.”
Butuh beberapa detik bagi Keonho untuk mencerna sederetan kalimat yang didengarkannya barusan. Lantas ada helaan nafas berat—sarat akan rasa tak percaya—begitu semua itu berhasil diproses otaknya dengan baik.
“Sini deh,” pinta Keonho seraya ia menepuk ruang kosong di sampingnya, sebab sedari tadi mereka ada dalam posisi dimana Keonho duduk di sisi ranjangnya dan Seonghyeon duduk di gaming chair-nya. “Duduk lebih deketan dulu, biar enak aku ngomongnya.”
Dan Seonghyeon menurut tanpa protes barang sedikit pun. “Udah. Mau ngomong apa lagi emang?”
“I’m sorry,” ungkap Keonho tulus. Satu tangannya terangkat untuk usak gemas puncak kepala Seonghyeon. “Gak pernah punya maksud buat bikin kamu ngerasa begitu. Maaf ya.”
“Terus maksudnya apa?”
“Kan udah jelas jawabannya?”
“Apa? Kamu suka aku?”
“Iya.” Kali ini tangan Keonho bergerak dua-duanya, untuk kemudian menangkup kedua sisi wajah Seonghyeon sehingga ia bisa dengan mudah mengarahkan paras cantik itu untuk menghadap lurus ke arahnya. “Coba lihat sini.”
“Hmmmm...”
”Hyeon,” panggil Keonho serius.
”Apa?”
”Hyeooon,” ulangnya lagi, lebih terdengar merengek. Ia tidak puas dengan respon barusan.
Seonghyeon mengerti. Ia menghela nafas kecil, lalu mejawab, “Apaaa, Konooo?”
Keonho tersenyum puas. Lantas kembali bicara dengan nada seriusnya, “Apa aku kelihatan kayak enggak suka dan sebel sama eksistensi kamu?”
Bohong kalau Seonghyeon jawab iya, maka ia pilih untuk menggelengkan kepala.
“Yaudah?” ucap Keonho berusaha untuk tetap santai. “Lagian kan udah jelas..., how I feel about you....”
“…oke.”
“Oke?” tanya Keonho heran. Satu alisnya terangkat, dan sorot matanya pancarkan penasaran. “Just? Ok?”
Seonghyeon melepas tangan Keonho yang sejak tadi masih menangkup kedua sisinya, kemudian digenggamnya kedua tangan itu. “Iya, oke. Makasih udah sayang sama aku, ya.”
“Ah—ya. Sama-sama.” Sejujurnya Keonho sama sekali tidak menduga hal ini, ia pikir Seonghyeon tidak akan bersikap sesantai ini. “Jadi, kamu gak marah? Gak keberatan?”
“Of course no.” jawab Seonghyeon cepat. “Aku bakal lebih marah kalau kamu terpaksa stay sama aku padahal aslinya enggakk sayang aku.”
“Ah..., oke.” Ada lega yang membasuh damai seluruh ruang di dada. “So we’re good?”
“We’re good,” tegas Seonghyeon sambil mengangguk. “Lagian rasa sayangnya kamu, gimana pun bentuknya, selama ini gak pernah bikin aku risih. So I don’t think it’s a bad thing.”
“Thank you...”
“But—“ Lalu untuk pertama kalinya, Seonghyeon terlihat kebingungan sejak keduanya bertemu hari itu. “—you know I love you too, right? I like being around you. But I think—I think I don’t like you in a way that—“
“—I know,” potong Keonho cepat. Menghadapi situasi dimana cintanya tak berbalas adalah skenario terburuk nomor dua, dan Keonho jelas sudah sejak lama ikhlaskan itu semua. Jadi ini bukan masalah besar untuknya sekarang. Makanya ia tidak perlu menunggu Seonghyeon untuk selesaikan ucapannya, terlebih dia terlihat begitu kesulitan menyusun kalimatnya. Keonho tidak suka melihat Seonghyeon berada dalam kesulitan, apalagi jika itu karena dirinya. “And it’s ok, Hyeon. Aku enggak mau kamu malah jadi terbebani karena ini. Gak usah terlalu dipikirin, ya? Please?”
“I’m sorry...”
Lantas Keonho secara refleks malah menarik Seonghyeon ke dalam peluknya. “Gak perlu, Hyeon. Gak ada hal salah yang sampai harus siapa pun di antara kita untuk dimaafkan karenanya.”
“Iya... oke….” ucap Seonghyeon yang tidak tahu harus merespon apa lagi. Baginya ini terasa konyol, karena sekarang Seonghyeon seperti sedang terima penghiburan ketika posisinya justru Keonho lah yang secara tak langsung telah terima penolakan. “Kono...”
“Hm?”
Apa yang Seonghyeon ungkapkan selanjutnya adalah sungguhan keluar dari segala ketulusan yang ia punya. Ia berani bersumpah. “Makasih banyak ya...”
“Enggak, Hyeon—“ geleng Keonho kecil. Seonghyeon sudah mau menerima dan biarkan dirinya untuk tetap bertahan di sisinya saja sudah jadi sesuatu yang paling ia syukuri sekarang. “—makasih banyak.”
“Hmmm....” Tangan Seonghyeon melingkar di tubuh Keonho untuk akhirnya membalas peluk hangat itu. “Sama-sama.”
Lantas keduanya tersenyum lega, dan hari ini dihabiskan dengan canda tawa sebagaimana mereka selalu habiskan hari-hari lain yang rasanya seperti tidak pernah berubah sejak keduanya masih sama-sama hanya dua orang anak kecil yang belum banyak tahu soal dunia.
Skenario buruk lima, strached.
Keonho tidak kehilangan Seonghyeonnya. Begitu pula dengan Seonghyeon, ia menerima Keonho dan segala bentuk kasih sayangnya.
