Work Text:
Menghabiskan waktu di taman belakang adalah rutinitas Minggu pagi yang sakral di kediaman Xu. Sebegitu pentingnya hingga kalau Lucien berada di luar kota untuk mendatangi seminar atau pekerjaan lain, sang suami akan meluangkan waktu untuk melakukan panggilan video setidaknya lima belas menit sebelum melanjutkan pekerjaan.
Rhea yang mengusung tradisi ini. Ia merasa kalau mereka berdua tetap butuh waktu bersama setelah minggu yang panjang. Terlebih dengan beban pekerjaan Lucien yang menguras waktu dan pikiran, juga ia yang selalu dikejar batas waktu tulisan.
Sayangnya, momen yang seharusnya menenangkan berubah tidak mengenakkan lantaran Rhea baru saja menyelesaikan novel dengan akhir yang menyedihkan. Panggil ia emosional, tetapi bayangan bahwa adegan terakhir akan terjadi padanya dan Lucien—pada akhirnya—menyisipkan sesak.
“Bacaanmu tidak menarik?”
Ia mengembuskan napas panjang, menyandarkan punggung pada dada sang suami. “Aku tidak suka akhirnya.”
Lucien berdeham rendah, menyelipkan helaian jelaga Rhea yang lepas dari ikatan ke belakang telinga. “Tidak berakhir bahagia, kutebak?”
Rhea tidak membalas. Bayang-bayang akhir mengenaskan untuk pemeran utama pria masih melekat dalam ingatan. Mungkin karena ia juga seorang penulis. Mungkin karena ia langsung teringat pada memori lama. Tentang Lucien yang pulang dengan peluru bersarang dalam lengan. Kematian … sesuatu yang bisa terjadi kapan saja tanpa diduga.
Dan ia benci membayangkan hidupnya tanpa keberadaan Lucien.
“Rhea?” Suara teduh Lucien kembali menyapa telinga. Ia mendongak, beradu tatap dengan netra keunguan sang pria. “Keberatan berbagi pikiran denganku?”
“Aku tidak mau menjalani hidup tanpamu.” Ia menelusuri lengan Lucien dengan ujung jemari. Lengan yang sama yang harus dibalut selama beberapa hari setelah peluru berhasil dikeluarkan. Lengan yang mengungkungnya dalam pelukan erat tiap malam. Lengan yang merangkulnya kala berada di titik terendah. “Aku tidak sanggup.”
Lucien mengelus rahang Rhea lembut. “Kenapa tiba-tiba berpikir begitu?”
“Di akhir, pemeran utama prianya meninggal demi menyelamatkan pemeran utama wanita.” Rhea membiarkan Lucien memindahkan buku di pangkuan ke sisi lain tikar. Ia tak memberontak kala sang pria memutar tubuhnya hingga mereka berhadapan. “Aku benci akhir menyedihkan di novel romansa.”
Lucien terkekeh rendah, menjawil hidung Rhea. “Aku tahu. Kau bersumpah tidak akan pernah menulis novel dengan akhir tragedi untuk pasangan utamanya.”
Rhea bungkam. Memilih untuk memainkan kancing kardigan yang dikenakan sang suami seraya menjatuhkan kepala di bahu Lucien.
Embusan angin yang membawa aroma krisan dan dahlia bercampur dengan cemara putih serta wisteria yang menjadi khas Lucien. Hening yang nyaman menyelimuti. Mereka tak pernah benar-benar membutuhkan kata untuk berada dalam jangkauan satu sama lain. Terlampau terbiasa membiarkan presensi menguasai sunyi. Namun, hari ini ketenangan yang seharusnya menghampiri ditepis oleh pikiran menjengkelkan.
Akhir tragis, penyebabnya. Memikirkan kemungkinan terburuk di masa depan, akibatnya.
“Benci kalau aku yang pergi lebih dulu, hm?”
Rhea mendengus kecil. Tak ada yang luput dari pengamatan sang pria. Mengutip ucapan Lucien, ia bagai buku yang terbuka di mata prianya. Sia-sia saja mencoba bungkam.
“Aku ingin pergi duluan,” pintanya setengah mendamba. Ia mencengkeram kardigan Lucien untuk menegaskan permintaan. “Ketika kita tiada, aku ingin pergi duluan.”
Netra keunguan Lucien perlahan menggelap. Pandangan sang pria melekat padanya seolah menyingkap rahasianya yang terdalam. Rhea tahu. Rhea tahu Lucien hendak menyanggah, tahu pasti bahwa Lucien berulang kali berkata ia adalah pusat dunia sang pria.
Berpuluh ketukan berlalu bersama dengan langit yang kian kelabu. Hanya saat Rhea mempertemukan puncak hidungnya dengan milik Lucien, barulah pria itu mengembuskan napas panjang. Seakan gelembung yang melindungi isi pikirannya pecah.
“Oke.” Lucien menangkup rahangnya, lalu mengelus lembut, “kau bisa pergi lebih dulu.”
Rhea tersenyum. Lucien bersedia menanggung duka agar ia tidak perlu merasakannya. Mereka sama-sama berkata aku mencintaimu, dengan cara yang berbeda.
Ia terpejam kala Lucien menyapukan bibir di atas bibirnya. Berdansa lembut seolah membujuk untuk kembali pada realitas, bukan pada masa depan yang kabur. Jarak terpangkas. Tangan saling merengkuh selayaknya mengukuh bahwa mereka masih ada. Bahwa mereka masih berada di pelukan satu sama lain.
Lucien tidak mengizinkannya pergi, menangkup belakang kepala kembali dan bergerak penuh tuntut bagai membutuhkan konfirmasi. Earl Grey yang disesap Lucien turut tercecap saat lidah mereka saling membelit. Oksigen tak lagi menjadi kebutuhan saat ini. Tidak saat dahaga atas mengklaim begitu berapi-api. Tidak saat gelegak yang kian mendesak terus mengacaukan kontrol diri.
Sayangnya, dansa mereka tak mampu berlangsung selamanya. Ketika kepala Rhea mulai ringan, barulah ia menarik diri dengan berat hati.
Rhea mampu melihat refleksinya pada mata Lucien. Napasnya terengah. Pandangannya turut berkabut.
“Merasa lebih baik?” Ibu jari Lucien menyapu bibir bawah Rhea. “Bagaimana kalau membaca bersamaku? Kujamin tidak ada akhir yang tragis dalam novel ini.”
Sudut bibirnya berkedut menahan senyum. “Kau membaca Sherlock Holmes, Lucien.”
Lucien berdeham singkat. “Favoritmu.”
Di momen itu, hanya ada kasih sayang yang terpancar. Setiap Rhea meremas erat jemari Lucien, ia berkata ‘aku mencintaimu sampai tak sanggup menanggung pedih tanpamu. Di tiap kecupan Lucien membalas ‘aku mencintaimu, biar aku yang memikulnya untukmu’.
Untuk sementara mereka masih bersama. Untuk saat ini, mereka masih ada. Untuk sekarang …
***
Menghabiskan waktu di taman belakang adalah rutinitas Minggu pagi yang sakral di kediaman Xu. Sebegitu pentingnya dilaksanakan bahkan setelah Nyonya Kediaman tiada, Lucien masih tetap menjalani tradisi seperti biasa. Earl Grey yang masih mengepulkan asap di termos ditemani dengan roti lapis berselai cokelat. Kesukaan sang istri.
Lucien menepati janji.
Rhea lebih dulu pergi akibat penyakit paru-paru yang terlambat ditangani. Tak peduli seberapa sering Lucien bersikukuh untuk mengobati, istrinya dengan keras kepala menolak. Bukan karena sungkan bersama lebih lama, tapi karena ingin meresapi sisa waktu yang ada. Sekali lagi, terlambat.
“Aku melihatmu di mana-mana,” aku Lucien berbisik, menyandarkan kepala pada batang pohon wisteria. Senyum kecil yang muram terulas di bibir. “Di lab, di rumah, bahkan dalam mimpi kau tetap ada. Tidak ingin aku melupakanmu, hm?”
Bunga wisteria yang menggantung bergoyang kecil seolah merespons pertanyaannya.
“Mana mungkin.” Ia mendengus rendah. Hingga detik ini pun ia masih bisa melihat rupa Rhea dan mendengar tawanya. “Kau benar. Dunia tanpamu sama saja mimpi buruk.”
Lucien menghela napas gemetar. Tiap detik yang berlalu tanpa Rhea di sisinya bagai duri yang menancap kian dalam. Mustahil untuk dikeluarkan. Mustahil untuk disembuhkan. Bagaimana mungkin saat penawar untuk segala lukanya telah dikebumikan lebih dulu?
Namun Lucien bersedia menanggungnya, karena membayangkan Rhea hidup sendirian di tengah miliaran kenangan yang tercipta, ia tahu istrinya takkan mampu bertahan. Terlalu mencinta, pikirnya penuh percaya diri. Bukan berarti kehilangan kepercayaan pada Rhea yang mampu mengarungi hidup seorang diri. Sama sekali bukan. Sayangnya, ia yang paling tahu walaupun Rhea yang pergi terakhir, wanitanya takkan benar-benar bahagia lagi.
“Dan kau masih menyuruhku untuk tidak menyusulmu sesegera mungkin?” Lucien mendongak dan mengamati dansa wisteria di musim semi yang cerah. “Teganya.”
Siapa yang Lucien bohongi? Kenyataannya, Peter berulang kali menyampaikan resah tentang kesehatannya yang menurun. Beberapa mahasiswanya mengungkapkan gelisah tentang ia yang lebih suka menginap di laboratorium.
Dan … Lucien tahu.
“Kuharap kau tidak bosan menunggu.” Lucien meraih novel terakhir yang mereka baca bersama, tidak sudi menyelesaikannya seorang diri. “Aku cukup sibuk belakangan ini.”
Beberapa bulan. Lucien hanya sanggup bertahan beberapa bulan sebelum tubuhnya menyerah. Kehilangan Rhea meninggalkan pukulan telak pada kewarasan dan kesehatannya. Setidaknya ia menggenapi janji untuk tak buru-buru menyusul.
Karena saat Peter berkunjung lantaran khawatir, sang asisten menemukan Profesor Lucien yang mereka banggakan bersandar pada pohon wisteria tepat di samping makam mendiang sang istri. Buku novel dalam genggaman berada di halaman terakhir. Teh yang telah lama mendingin di termos. Senyum tipis di rupa damai Lucien.
Mungkin, Peter pikir, Profesor Lucien bisa memeluk akhir dengan damai karena tahu istrinya akan menyambut di seberang jalan.
