Work Text:

RaiNovember 2025: Freeangst
Espere
Tears of Themis Fanfiction
Luke Pearce x Cecilia Shellingford (OC)
Luke Pearce owned by Hoyoverse
Cecilia Shellingford owned by me
Happy Reading!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
“Jangan menatapku seolah aku akan pergi selamanya. Nanti begitu sampai di ibukota, aku akan menghubungimu.”
Itu kalimat terakhir yang Luke ucapkan sebelum dia berangkat ke universitas ibukota demi mengejar cita-citanya. Awalnya Cecilia akan baik-baik saja karena Luke berjanji akan menghubunginya.
Tapi itu hanyalah janji semu.
Luke, dengan situasinya yang rumit tidak bisa menghubungi Cecilia.
Dan Cecilia, yang setiap hari berharap bahwa Luke akan pulang mengunjunginya atau sekedar mengirim kartu pos untuk tahun baru dan natal namun hanya berakhir bahwa harapannya sia-sia.
Bahkan saat hari ulang tahunnya maupun Luke, Cecilia selalu membeli kue ulang tahun. Berharap lelaki itu akan pulang dan merayakan ulang tahun mereka bersama. Tapi… masih tetap tak ada kabar bahkan sekedar telepon.
Bukan sekali dua kali Cecilia mencoba menghubungi Luke, tapi selalu saja tidak tersambung. Bahkan dia sempat meminta izin kepada orang tuanya untuk menyusul Luke ke ibukota namun dilarang oleh mereka.
“Luke hanya sibuk. Kau tahu dia sangat cerdas dan terlibat dengan penelitian penting di ibukota. Jadi dia tidak bisa menghubungimu atau pulang untuk berkunjung.”
Itu yang dikatakan ibunya saat Cecilia meminta izin pergi ke ibukota.
Hingga akhirnya… Cecilia lelah berharap dan mulai berhenti di tahun kelima setelah kepergian Luke ke ibukota.
Ia menjalani pelatihannya di akademi kepolisian dengan serius dan bisa dibilang cukup ekstrim. Namun berkat hal itu dia mendapat nilai terbaik di angkatannya. Pendidikan Akademi Kepolisian yang biasanya ditempuh orang-orang dalam waktu 4 tahun, hanya ditempuh 3 tahun oleh Cecilia.
Tahun ini adalah tahun keenam dimana Cecilia merayakan hari ulang tahunnya. Seperti sebuah insting, gadis itu akan membeli kue ulang tahun dan menaruhnya di meja ruang tamu.
Ia duduk di sana seolah melamun menatap pintu. Hari ulang tahunnya dan ulang tahun Luke seolah menjadi ritual Cecilia dimana dia akan membeli kue ulang tahun dan duduk diam menatap pintu.
“....Luke….” Gumam Cecilia pelan.
Dan tahun ini, Luke juga belum kembali.
***
Luke, setelah kembali ke Stellis sejak 8 tahun di ibukota tidak langsung menemui Cecilia. Dia memilih untuk berkeliaran di Stellis, menjalankan tugasnya sambil menghindari Cecilia.
Sebenarnya menghindari Cecilia adalah tugas susah-susah gampang.
Gadis itu memiliki insting yang tajam sebagai polisi wanita dan bergerak cepat walau sisi nekatnya masih sama persis dengan yang Luke ingat.
Seperti saat ini, dimana Luke duduk di sebuah cafe sambil melihat ponselnya. Menunggu info yang mungkin bisa berguna untuk penyelidikannya.
Ia menatap keluar jendela dan melihat lalu lalang orang-orang sibuk di Stellis. Kapan terakhir kali dia memperhatikan Stellis? Cuma perasaannya atau memang Stellis tidak seperti dulu?
Tidak, mungkin dulu Luke melihat kota Stellis sebagai anak yang polos dan ingin mengejar cita-citanya. Tapi setelah sekian lama di ibukota, kondisinya saat ini mungkin juga merubah pandangannya terhadap Stellis.
“Cecilia, selamat atas promosimu sebagai sersan.”
“Terima kasih.”
Luke tertegun. Ia menoleh keluar jendela dan mendapati gadis yang hampir asing dalam ingatannya. Dulu gadis itu berpenampilan layaknya laki-laki dengan sikap nekat dan temperamental.
Tapi yang Luke lihat saat ini seorang gadis dengan pakaian kasual tomboy seperti dahulu. Hanya saja, rambut merah menyala yang dulunya pendek dan dipotong ala lelaki. Kini panjang menjutai dan diikat ekor kuda.
Parasnya juga lebih manis namun memiliki wibawa layaknya seorang polisi cantik. Saat itu, Stellis yang Luke tahu dari masa kecilnya seolah kembali seperti yang dia kenal dulu.
Luke buru-buru menarik pandangannya. Ia tahu Cecilia memiliki insting yang bagus, sehingga dia beranjak berdiri dan pergi dari cafe tersebut.
Dia tidak bisa menemui Cecilia sekarang. Tidak dengan situasi rumitnya saat ini. Cecilia yang berjalan melewati cafe tersebut berhenti sejenak dan menoleh ke belakang tepat saat Luke berbelok dan menghilang di tikungan jalan.
“Cecilia? Ada apa?” Salah satu teman Cecilia bertanya penasaran karena ia berhenti tiba-tiba.
“Ah, tidak. Sepertinya tadi aku melihat kenalanku. Tapi kayaknya cuma perasaanku saja.” Cecilia tersenyum lalu melanjutkan perjalanannya.
Bahkan takdir memilih untuk mempermainkan mereka saat mereka seharusnya bertemu kembali.
Luke dengan perasaan bersalah dan tidak percaya dirinya, membuatnya merasa tidak pantas muncul di hadapan Cecilia dan ikut campur dalam hidupnya lagi.
Sedangkan Cecilia, ketika seluruh instingnya mengatakan bahwa Luke ada di dekatnya, memilih mengabaikan insting itu karena sudah lelah berharap.
***
Hari itu, Cecilia pulang setelah menyelesaikan tugasnya. Sejak lulus dari akademi kepolisian, orang tua Cecilia mendapat pekerjaan di luar negeri. Mereka sebenarnya ingin mengajak Cecilia mengingat gadis itu menjadi agak lebih pendiam sejak Luke pergi ke ibukota. Namun Cecilia menolak karena dia ingin mengejar cita-citanya sebagai polisi di Stellis. Sehingga ia menetap di Stellis sendirian dan orang tuanya membeli kamar apartemen untuk Cecilia tinggal.
Meskipun Cecilia bilang bahwa dia ingin menetap di Stellis untuk mengejar cita-citanya sebagai polisi, tapi hati terkecilnya tahu… dia masih berharap Luke akan kembali ke Stellis untuk menemuinya.
Cecilia menyalakan lampu kamar apartemennya dan merebahkan tubuhnya di atas sofa. Samar-samar dia mendengar suara tetesan dari tangannya dan baru sadar bahwa tangannya terluka dan darahnya menetes ke lantai.
Ia bangun dengan malas dan berjalan ke arah kotak P3K yang tersimpan di laci dekat ruang tamu. Dengan tangan terampil dan sudah terbiasa, Cecilia membersihkan lukanya dan memperban lukanya. Tanpa sadar ingatannya kembali saat dia masih kecil.
Dulu saat masih kecil, Cecilia sering bertengkar dengan anak-anak yang menjahili Luke hingga dia sering terluka. Dan Luke yang akan selalu mengobati lukanya dan meminta maaf karena Cecilia jadi terluka karena membelanya.
“Jangan berkata begitu! Aku tidak mau orang yang berharga bagiku diejek orang begitu saja dan aku hanya diam!”
Cecilia terdiam menatap tangannya kini diperban rapi. Apa saat itu… Luke menyadari perasaannya?
Tapi saat itu, ucapannya hanyalah spontanitas karena mereka selalu bersama sejak masih pakai popok. Mungkin bagi Luke, Cecilia juga orang berharga baginya. Tapi…tidak dalam artian yang Cecilia inginkan…
“Luke…”
Air mata Cecilia tiba-tiba menetes dan perlahan isakan pelan menggema di kamar apartemen yang sunyi.
***
Luke mengambil kotak obatnya dengan cepat dan mengambil satu tablet yang menjadi salah satu penopang hidupnya saat ini. Tangannya gemetar hebat dan beberapa kali menjatuhkan tablet itu sebelum akhirnya tangan seseorang mengambil tablet itu lalu membantu Luke meminumnya.
“Aaron…” gumam Luke pelan dan terduduk lemas di kursi kerjanya begitu obatnya mulai bekerja.
Lelaki yang dipanggil Aaron atau lebih tepatnya Aaron Yishmir, dokter yang menangani Luke sekaligus rekan kerjanya hanya menatap Luke khawatir.
“Sudah kubilang kau harus melakukan pemeriksaan rutin minggu ini. Tapi kenapa kau malah absen?” Aaron membantu Luke membereskan meja kerjanya yang berantakan karena banyak dokumen-dokumen yang sebagian besar berisi pekerjaannya.
“Aku masih ada pekerjaan. Jadi belum sempat ke Rumah Sakit.” Jawab Luke sambil memejamkan matanya. Menghela nafas dalam-dalam saat tubuhnya kembali rileks perlahan.
“Kau selalu berkata begitu. Kau sendiri yang tahu keadaan tubuhmu bagaimana, jangan menambah pekerjaanku sebagai dokter untuk mengkhawatirkanmu.”
Luke kembali membuka matanya dan tersenyum lemah.
“Tidak perlu khawatir, jika tugasku selesai, aku akan melakukan pemeriksaan rutin.”
“Lalu? Apa kau sudah menemuinya?”
Pertanyaan Aaron membuat Luke tertegun. Ia tahu siapa yang dimaksud Aaron tapi ia tidak suka membicarakannya. Sudah menjadi rahasia umum bagi orang-orang yang dekat dengan Luke di NSB bahwa… Luke menyukai seorang gadis.
Gadis yang penampilannya seperti lelaki, gadis yang selalu menjadi wallpaper ponselnya, gadis yang membuat Luke bertahan hidup di kondisi terburuknya…
Gadis yang sudah memikat hati Luke sejak lama.
Dan kini mereka punya kesempatan untuk bertemu sekali lagi setelah 8 tahun, namun Luke terlalu pengecut untuk menampakkan dirinya di depan Cecilia.
“Aku berpikir untuk pindah tugas setelah tugas di sini selesai.”
“Hah? Kenapa? Kau mau pergi lagi tanpa mengatakan apapun padanya?” Aaron menatap Luke tidak percaya.
“Aaron, kau tahu kondisiku. Aku tidak punya banyak waktu. Mungkin saat ini dia sudah bahagia dengan kehidupannya. Akan sangat egois bagiku jika aku tiba-tiba muncul di hadapannya sedangkan suatu saat aku…” Luke menggantung ucapannya dan menggigit bibirnya. Berbagai skenario terburuk berputar di otaknya.
“Bagaimana dengannya? Bagaimana jika dia selalu menunggumu selama 8 tahun ini? Bagaimana jika dia sampai membohongi dirinya sendiri hanya demi menunggumu?”
“Hah? Apa maksudmu…”
Aaron melempar sebuah map biru di atas meja Luke.
“Hari ini aku memasukkan beberapa nama pasien untuk konsultasi di Giannovyn Mental Health Research Center dan kau bisa lihat apa yang kutemukan di sana.”
Luke menatap Aaron kebingungan namun mengambil map itu dan membaca daftar pasien di sana.
Matanya membulat begitu melihat nama Cecilia Shellingford berada dalam daftar pasien yang menjalani rehabilitasi di Giannovyn Mental Health Research Center.
“....apa ini?”
“Daftar pasien pribadi Dr Richter. Pemilik Giannovyn Mental Health Research Center.”
Hati Luke mencelos. Kenapa Cecilia sampai butuh rehabilitasi ke psikiater?
“Luke, aku tahu kekhawatiranmu. Tapi gadis itu juga kurasa menderita selama kau tidak ada sampai dia harus berkonsultasi dengan psikiater.”
Tangan Luke mengepal erat. Dirinya sangat berharap bahwa Cecilia bisa menjalani hidupnya dengan normal tanpa mengkhawatirkan dirinya. Tapi melihat ini… Luke tidak tahan lagi.
Ia beranjak berdiri lalu mengambil jaketnya.
“Aaron, aku ingin keluar sebentar. Ada hal yang harus kulakukan.”
Ia harus memastikan sendiri dan menemui Vyn Richter.
Dan detik itu, takdir akan mempertemukan mereka kembali dengan hal yang tak terduga.
***FIN***
