Work Text:
Kepulan uap panas yang datang dari cup ramen instan datang menyeruak membentuk kabut yang menutup kacamata Wonwoo. Biasanya ia menunggu kuah mendidih itu sampai suhunya sedikit menurun, tapi kali ini tidak seperti biasanya. Kiamat akan segera tiba, sekitar seminggu lagi dari sekarang, tidak ada waktu bagi Wonwoo untuk menunggu kuah ramen mendingin. Makan sekarang atau kelaparan saat bumi meledak menjadi kepingan.
“Ini ramennya,” kata Wonwoo sesampainya di balkon untuk kemudian mengambil posisi untuk duduk di sebelah Seungkwan. Hanya ada mereka berdua di apartemen. Tidak ada orang lain maupun benda mati yang menghasilkan bunyi di sekeliling mereka.
“Hanya dua?”
Wonwoo mengangguk sebagai balasan. “Tinggal ini yang ada di apartemen. Di mana-mana stok sudah habis karena panic buying.”
Mode survival yang diterapkan oleh seluruh manusia di muka bumi ini cukup gila-gilaan. Terutama sejak dikonfirmasi soal kiamat yang akan segera tiba.
Agaknya Seungkwan masih ingat bagaimana berita itu disampaikan. Rutinitas menonton drama di hari Kamis malam tiba-tiba terpotong dengan kemunculan seorang pembaca berita perempuan dengan wajah serius. Cukup tegang bahkan untuk seorang pembaca berita senior yang terkenal profesional. Awalnya Seungkwan pikir ada yang salah dengan televisi di apartemennya, tetapi setelah ia meraih remot dan mengganti saluran lain, semua sama. Semua berita di negera ini—atau mungkin seluruh dunia—menampilkan laporan berita eksklusif. Detik itu juga ia mengerti situasinya.
Jika dilihat lebih saksama, pembaca berita itu cukup pucat. Seperti baru saja mendengar berita kematian kerabat terdekatnya. Tapi apa pun yang dirasakan oleh si pembaca berita saat itu, lama-kelamaan juga bisa Seungkwan rasakan. Semakin menit berlalu, semakin ia paham isi beritanya.
Seorang peneliti menemukan pergerakan aneh dari bulan…
…deretan angka…
…rotasi yang tidak biasa…
…angka lagi…
…dikonfirmasi bulan semakin menjauh dari orbitnya….
…deretan angka lain…
…bulan semakin dekat.
Itu kalimat terakhir yang Seungkwan dengar. Selanjutnya ia hanya mendengar ocehan redam yang datang dari televisi. Pupilnya melebar dan seluruh badannya kaku. Ia tidak tahu harus melakukan apa bahkan ketika alur berita berganti menjadi petunjuk persiapan bencana alam.
Ia pernah mendengar berita duka lebih dari satu kali selama 31 tahun hidupnya di bumi. Tapi berita datangnya hari kiamat terdengar begitu absurd daripada berita duka apa pun yang pernah Seungkwan dengar. Tidak ada tanda kiamat seperti yang terlampir di kitab suci dari hampir semua kepercayaan dalam sejarah umat manusia. Tidak ada tanda kiamat seperti yang dijelaskan secara ilmiah oleh seorang profesor berkepala setengah gundul di layar kaca. Tidak ada gambaran kiamat seperti yang ditunjukkan di film-film Hollywood. Yesus tidak turun, matahari tidak sekarat, lalu mengapa kiamat tetap datang?
Atau mungkin memang sudah sewajarnya otak manusia tidak dibentuk untuk menerima informasi seabsurd ini. Tentu Seungkwan pernah dengar soal Five Stages of Grief. Ia juga sudah lihat sendiri bagaimana perasaan duka bisa datang dengan cara yang sangat aneh pada masing-masing orang selama tiga bulan ini. Berlaku juga untuk dirinya. Setelah mendengar berita di televisi, hanya ada kehampaan yang ia rasa. Kosong tanpa ujung.
Seungkwan bahkan tidak menangis ketika menutup saluran telepon dengan ibunya di Jeju, mengabarkan kalau tidak ada penerbangan atau pelayaran apa pun yang bisa membawanya pulang ke rumah untuk berkumpul bersama keluarga untuk terakhir kali. Ia menatap layar ponselnya lama. Ada wajahnya yang terpatri di sana. Mungkin beginilah akhirnya, menghadapi hari kiamat sendirian di dalam kubus gedung apartemen bertembok bata.
Sampai kemudian bel apartemen berbunyi pada sore di hari yang sama.
“Hyung?”
Mungkin Seungkwan tidak akan mati sendirian.
“Hai.”
Ada Wonwoo di depan pintu apartemen, tersenyum tipis nan kikuk dengan ransel di pundak dan dua tas lain pada tentengan tangan.
Seungkwan tidak langsung membalas sapaan pria itu. Ia hanya bergeming dengan tatapan bingung.
“Apa… yang kau lakukan di sini?”
Senyum Wonwoo semakin lebar, tapi pria itu tidak menjawab pertanyaannya. Wonwoo justru melepaskan alas kaki dan masuk ke ruang tamu.
“Aku dengar kau tidak pulang ke Jeju?”
“Benar. Tiket pesawat dan kapal sudah habis. Hyung, kenapa kau ke ma—”
“Beruntungnya aku masih mendapatkan makanan dari pasar swalayan di dekat rumah. Setidaknya cukup untuk mengisi perut dua orang dewasa selama dua minggu.”
“Jeon Wonwoo.”
Wonwoo menoleh kepada Seungkwan yang masih berdiri di depan lorong pintu masuk apartemen. Raut wajahnya tak terbaca. Hanya melihat Wonwoo dengan pandangan seakan-akan Wonwoo manusia bodoh. Mungkin bahkan terlalu bingung untuk menunjukkan ekspresi seperti apa yang pantas dan seharusnya.
“Apa yang kau lakukan?”
Suara Seungkwan lebih bergetar dari yang ia inginkan. Rasanya begitu berat dan mengganjal. Seorang kakak sekaligus rekan kerja dalam satu grupnya tiba-tiba datang sebelum kiamat tiba. Seharusnya pria itu sedang berada di rumahnya. Menikmati hangatnya kehadiran anggota keluarga di bawah atap rumah masa kecilnya. Seharusnya Wonwoo tidak di sini. Beratus-ratus kilometer jauhnya dari Changwon.
Wonwoo tersenyum. “Bumi akan hancur sekitar tiga bulan dari sekarang…,” lirihnya, “kau pikir aku akan membiarkanmu menghadapi itu sendirian?”
Seungkwan marah bukan main. Ia berteriak kepada Wonwoo, menyebutnya bodoh, mengatainya anak egois, mengutuknya dengan sebutan-sebutan yang jika saja kiamat tidak datang sebentar lagi tidak akan mungkin ia katakan kepada Wonwoo. Air matanya mengalir tak mau berhenti, kepalanya sakit, dan suaranya semakin serak di setiap teriakan yang ia buat, tapi Wonwoo tetap tenang. Tidak terpancing untuk menanggapi dengan cara yang sama. Pria itu menjawab semua pertanyaan Seungkwan dengan lancar seperti sudah ia rencanakan sebelumnya.
Seungkwan menyebut Wonwoo bodoh sekali lagi dan kemudian berbalik dengan langkah kasar menuju kamarnya. Mengunci pintu dan tidak keluar sampai keesokan hari berharap dengan begitu akan membuat Wonwoo berubah pikiran dan akhirnya pulang ke Changwon.
Tidak. Wonwoo tetap di sana. Duduk pada satu sisi sofa di ruang tamu dengan mata fokus ke layar ponsel meski televisi menyala di depan. Seungkwan hampir menyebut Wonwoo bodoh untuk yang ketiga kali tapi urung ketika pria itu menyadari kehadirannya. Kalimat pertama yang terucap adalah ajakan untuk sarapan dan Seungkwan kembali menangis sesegukan.
Kejadian itu terjadi hampir tiga bulan yang lalu. Seungkwan masih menyebut Wonwoo bodoh sesekali, tapi semakin banyak ia sebut, semakin kata itu tidak berarti.
“Apakah kita akan mati bahkan sebelum bulan menabrak bumi?” tanya Seungkwan.
“Mungkin.”
Topik soal kiamat sudah berubah sifatnya menjadi kasual sejak satu setengah bulan yang lalu. Lebih cepat dari bagaimana topik soal kematian tidak menyebabkan reaksi spesifik di tubuh Seungkwan. Sejujurnya memang tidak ada poin lagi untuk menabukan kematian jika kau tau kapan tepatnya hal itu akan terjadi. Tidak ada hal tabu lagi di dunia ini sekarang. Agak ironis jika mengingat bagaimana selama ini manusia bersusah payah untuk menghapus batas norma yang diharapkan dapat membawa mereka kepada keidealan. Ternyata hanya butuh sebuah kiamat untuk mencabut status quo sampai ke akar.
“Tapi,” Wonwoo berkata di sela kunyahan ramennya. “Aku lihat pada siaran berita tadi pagi akan ada tambahan bantuan makanan dan obat-obatan dari pemerintah besok. Jadi mungkin kita tetap akan bisa hidup sampai hari kehancuran tiba.”
Seungkwan sudah berhenti melihat berita sejak seminggu yang lalu, jadi ia hanya mengangguk. Mereka sedikit beruntung karena pemerintah memiliki program memberikan bantuan gratis ketika ekonomi sudah hancur total seperti sekarang. Tidak ada yang mau bekerja di penghujung masa. Waktu begitu singkat dan semua orang berbondong-bondong untuk menikmati masa terakhir kehidupan.
Menikmati. Apakah itu kata yang tepat untuk bisa menggambarkan apa yang dirasakan manusia saat ini? Benang kehidupan seperti berada di titik yang paling aneh. Memang pada dasarnya setiap manusia memiliki gulungan benang masing-masing. Panjang dan pendeknya, bahan dan kualitasnya, bentuk dan polanya, semua berbeda untuk setiap insan. Namun, sekarang rasanya sama. Seungkwan termaktub di dalam gulungan benang yang sama dengan seluruh penghuni di gedung apartemen ini. Ralat, di seluruh dunia ini.
Seketika ia menjauhkan cup ramen di tangannya dengan rasa enggan.
“Bulan semakin besar,” ujar Seungkwan. Cahaya bulan terpantul penuh pada bola matanya.
Diameternya semakin besar dari hari ke hari, salah satu sisi negatif dari jarak bumi dan bulan yang semakin terkikis. Ia dengar, orang-orang di pesisir sudah diungsikan sejak bulan lalu ketika permukaan air laut semakin tinggi. Saat masih kecil, Seungkwan selalu berharap bulan bisa berukuran lebih besar hanya agar ia bisa melihatnya dengan lebih jelas di kala malam. Ia tidak tahu apakah masih mengharapkan itu lagi sekarang.
“Siapa sangka kalau kiamat bisa sepuitis ini.”
Seungkwan menoleh kepada Wonwoo yang ternyata juga sedang memandang objek yang sama.
“Puitis?”
Wonwoo menoleh ke arah Seungkwan. “Pernah tahu bagaimana bulan terbentuk?”
Seungkwan menggeleng.
“Dalam Astronomi, ada teori bernama Teori Planet Theia. Sekitar lima miliar tahun yang lalu, ketika tata surya masih berumur sangat muda, terjadi tabrakan antara dua planet bernama Theia dan Proto. Kemudian… boom! Mereka meledak.”
Wonwoo melanjutkan, “ledakan yang sangat besar itu pada akhirnya menghasilkan dua entitas baru. Selama jutaan tahun, energi magnet yang tersisa dari Theia dan Proto menarik puing-puing sisa ledakan serta material-material baru yang berterbangan di sekitar mereka untuk membentuk apa yang sekarang kita sebut sebagai bumi dan bulan.”
Seungkwan terdiam sejenak. “Kau yakin itu teori Astronomi dan bukan teorimu sendiri?”
Wonwoo tertawa, yang membuat Seungkwan juga ikut tertawa.
“Ada yang bilang kalau material pembentuk Theia bisa ditemukan di inti bumi. Menariknya, material yang sama juga bisa ditemukan di bulan.”
Entah mengapa suasana bertambah hening. Ada angin yang melewati mereka dan bisa Seungkwan dengar hembusannya.
“Yang mau kukatakan adalah, jika Teori Planet Theia itu benar, mungkin… ada alasan mengapa bulan mendekati bumi.”
Wonwoo kembali menatap lurus ke arah bulan. “Dia merindukan intinya.”
“Aku rasa sebaliknya,” balas Seungkwan. “Gravitasi bumi lebih besar. Bumi yang menarik bulan, maka bumi yang merindukan kepingannya.”
Wonwoo terkesima. “Woah, lihat siapa yang bicara.”
“Hei, aku tidak sebodoh itu. Aku tahu sains dasar.”
Mungkin Wonwoo bergurau pada awalnya, tapi Seungkwan sedikit mengerti apa maksud dari puitis yang tadi Wonwoo katakan. Selama ini ia lebih sering menemukan kisah yang diromantisasi antara bulan dan matahari. Bagaimana bulan menyukai matahari yang bersinar tetapi tidak bisa ia rasakan cahayanya. Malam yang tidak pernah bertemu siang. Kekaguman yang dihalangi oleh waktu.
Plot twist. Romantisisme ini bukan milik matahari.
“Jika memang arti dari semua ini adalah untuk menyatukan kembali dua kekasih yang sudah lama saling merindu, aku rasa kiamat tidak begitu buruk,” ucap Wonwoo tiba-tiba.
Seungkwan memandang Wonwoo. Ucapannya gila, tapi hari akhir memang membuat manusia gila.
“...atau untuk memberanikan bulan yang sudah lama menanti akhir bahagia dengan bumi.”
Wonwoo hanya bergeming, tapi Seungkwan tahu, ada rantai pikiran di kepala Wonwoo yang sekarang sedang ia usahakan agar masuk akal.
“Huh?”
Persetan. Seungkwan membawa Wonwoo ke dalam pelukannya. Rasanya terlalu jelas. Semua terlalu jelas. Segila apa pun kiamat memanipulasi pikiran manusia, tidak akan ada yang lebih gila dari jalan pikiran seorang pecinta. Tidak ada alasan lain bagi Wonwoo untuk berada di sini, saat ini, dengan Seungkwan, menunggu akhir.
“Biarkan gravitasi mengikat mereka selamanya.”
Seperti memahami apa maksud Seungkwan, Wonwoo membalas pelukan itu. Mengikat lebih kuat, enggan untuk kembali ke orbitnya.
