Work Text:
“Emang kamu nggak capek?” celetukku. Aku melayangkan pandanganku pada tautan tangan kami yang tidak kunjung Putra lepas. Aku tatap lamat-lamat bagaimana Putra mengelus buku-buku jariku. Mengirim sensai geli yang merangkak ke tengkukku. Beberapa saat pertanyaanku tidak dihiraukan oleh Putra. Ia biarkan mengambang di langit-langit kamarnya, sedang kami masih dalam posisi yang sama, tangan tertaut, saling merengkuh.
“Capek apa?” sahutnya setelah sejenak diam. Mengembalikan pertanyaan kepadaku. Aku mencebik kesal. Aku tahu pertanyaanku ambigu, tapi aku juga tahu Putra mengerti apa maksudku. Oke, mungkin ini memang salahku karena tidak bisa tidak berani bertanya dengan gamblang. Mungkin lebih ke arah aku tidak berani mendengar jawaban Putra. Aku tidak siap kalau Putra, memang benar capek. Kalau-kalau Putra memang sudah muak menunggu. Kalau-kalau, aku ternyata memang sepengecut itu.
Aku menggigit bibir bawahku sebelum akhirnya buka suara. “Itu, capek nunggu aku.” Kemudian hening. Deru pendingin ruangan mengisi kekosongan di antara kami. Untung saja usapan Putra di buku jariku tidak berhenti setelah pertanyaanku mengudara. Putra belum terlihat akan menjawab. Dan aku juga… tidak tahu harus berkata apa lagi.
Bisa kurasakan embusan ringan napas Putra di tengkukku, sebelum ia bubuhkan kecupan di sana. Rasa hangatnya kontras dengan suhu kamar Putra. Aneh. Geli. Tapi nyaman dan tidak asing. Aku meremang karena Putra kemudian masih memberikan kecupan kecupan tipis di sepanjang leherku, yang kemudian naik ke telinga dan pucuk kepalaku. Sebelum akhirnya ia tenggelamkan kembali wajahnya di perpotongan leherku.
“Nggak tahu,” ujarnya terus terang, “sebenernya lebih ke arah nggak peduli, sih.” Ia akhiri kalimatnya dengan kekehan ringan. Berkebalikan total dengan perasaan tidak nyaman yang bercokol di perutku. Apa maksudnya nggak peduli? Putra sungguhan jenuh? Tidak mau menungguku lagi? Apa sabarnya itu sudah habis? Kalau benar begitu aku juga tidak bisa menyalahkannya. Semua persoalan ada padaku yang memang pada dasarnya pengecut.
“Please jangan panik begitu,” ucapnya sambil terkekeh-kekeh kecil. Ia cium pipiku seraya mencubit yang satunya lagi. “Kamu emang suka narik kesimpulan sendiri, ya. Nggak pernah berubah.”
“Habisnya…”
“Iya, sorry, wording-nya jelek ya.”
Jelek. Pakai banget. Kalau sekarang masih masa-masa belajar UTBK, kalimat itu bisa diartikan sebagai konotasi negatif. “Please elaborate…” pintaku dengan hati-hati. Fokus pandanganku masih kepada tangan kami yang berkelindan. Pada jari-jari Putra yang tidak kunjung jemu hanya mengusap-usap daerah itu saja. Bisa kurasakan, jari pada tangan kirinya yang sedikit lebih keras, kapalan, sebab terlalu sering menekan senar gitar itu. Atau bagaimana kukunya yang juga lebih pendek jika dibandingkan dengan tangan kanannya—yang sekilas lebih tipis karena terlalu banyak menggenjreng gitar. Detail-detail kecil yang sebetulnya hampir tidak pernah terlintas. Namun, saat ini aku sedang mendistraksi diriku sendiri agar tidak terlalu kentara kalau aku sebetulnya super duper nervous.
Beberapa saat, Putra masih belum menjawab. Ia malah melepaskan tautan tangan kami. Untuk kemudian beralih memegang pipiku, beringsut lebih dekat lagi, sebelum membawa bibir kami bertemu. Aku tidak berusaha mendorong maupun melepaskan diri. Malahan memejamkan mata dan membuka bibirku. Membiarkan lidah pemuda yang lain merangsek dan mengabsen rongga mulutku. Membiarkan lenguhan tipis tergelincir dari pertemuan bibir kami. Buat apa ditahan? Toh, cuma ada kami berdua sekarang.
Aku tidak tahu dari mana Putra bisa jago dalam hal ciuman—padahal katanya dia cuma sayang sama aku. Tapi tidak apa. Soalnya yang bisa menikmati bibir Putra sekarang cuma aku seorang. Putra cuma mau ciuman sama aku seorang. Aku, yang selalu menggantung jawaban yang Putra nanti-nantikan. Aku yang nggak punya keberanian. Aku yang seorang pengecut.
Kupejamkan mataku erat-erat, seraya pasokan udaraku kian menipis. Kurasakan tangannya yang merayap ke tengkukku. Memperdalam tautan bibir kami, meski aku yakin Putra juga sudah di ambang habis napas. Pusing. Aku pening tujuh keliling. Mungkin karena napasku yang dipotong. Atau karena ciuman Putra yang kian hari makin nikmat, memabukkan. Kali pertama kami berciuman memang rasanya sudah membuat kewarasan melayang. Akan tetapi itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan yang sekarang.
Bocah SMA beberapa saat lalu memang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan yang sekarang. Sesapan kecil malu-malu itu sudah tidak ada. Gigitan main-main dan kecupan dangkal itu sekarang sudah tidak ada. Putra sekarang selalu membimbing aku dengan mantap. Mengambil bibir atasku, kemudian mengisapnya dengan nikmat. Disesapi dan diresapi. Sebelum kembali memijat indra perasa milikku, mengabsen gigi dan gusi. Membuat geli rongga atas mulut untuk kemudian menggigit bilah bibir bawahku. Begitu yakin. Begitu lihai. Menuntunku untuk membalas isapannya.
Kewarasanku sudah di ubun-ubun dan pertanyaanku mengenai kami sudah tidak memiliki jejak di kepalaku. Sampai Putra akhirnya melepaskan tautan kami. Aku menarik napas secara rakus. Baru ingat kalau selain ciuman, aku ternyata masih butuh udara. Pandanganku melayang pada bibir putra, pada saliva yang masih menghubungkan bilah bibir kami.
“Aku sayang kamu, Yoga,” ucapnya begitu halus, hampir terdengar sebagai desau. “Sayang. Pakai banget. Aku cinta kamu. Aku nggak terlalu peduli sama label yang ada pada kita.” Ia bubuhkan kecupan lagi pada dahiku. Mengusap pipiku dengan lembut. Cukup lama hingga ia meneruskan kalimatnya kembali.
“Aku sayang kamu. Aku juga tahu—mungkin kamu masih belum bisa ngakuin ini—kalau kamu, juga nggak mau kita berdua selesai gini aja.” Bibirku diberi kecupan ringan lagi. “Jadi, kalau kamu masih butuh jawaban, nggak. Aku nggak capek. Niatku dari awal emang ngehabisin waktuku sama kamu seorang.”
Otakku butuh waktu buat memproses semuanya. Terutama setelah ciuman tadi. Belum genap warasku kembali, kalimat yang Putra ucapkan sudah membuat perasaanku membuncah lagi. Jawaban yang sebetulnya tidak terlalu mengagetkan tetapi tetap membuatku merasakan gelenyar hangat di dadaku. Putra, yang biasanya tidak pernah bisa tenang itu, selalu memiliki kesabaran seluas samudra mengenai hal-hal ini. Hal-hal yang berkaitan dengan kami. Hal-hal yang berkaitan dengan aku.
Putra tertawa saat aku tidak memberikan respon. Mungkin karena tampang dongoku atau karena rupaku yang super berantakan pascaciuman kami. Putra sayang aku. Dan aku, yang kata Putra mungkin masih belum bisa mengakui hal ini, juga sayang pada Putra. Pada kawan SMA-ku yang super jahil ini. Pada gitaris band kami ini. Pada pemuda yang ada di hadapanku saat ini. Pada Putra.
“So, take your time to figure everything out. Jangan keburu-buru. Aku memang maunya menghabiskan waktuku buat kamu.”
Kalimat tambahan dari Putra mengakhiri topik percakapan kami. Begitu pula perasaan cemas yang sudah beberapa saat bersarang di dadaku. Karena Putra sayang aku. Dan aku juga, sayang Putra.
