Actions

Work Header

wherever you are

Summary:

(inspired by ONE OK ROCK's Wherever You Are)

Hidup terus berjalan, dengan atau tanpa Yesung. Mungkin, ia juga masih terus mengingat momen kebersamaan kalian, sepertimu.

Notes:

this is my project of restoring my bahasa id skill in writing!! #cintaibahasaindonesia . dan proyek pertama setelah hiatus dari menulis selama 3 tahun. in the middle of final exam. maybe that's why i'm kinda locked in writing this. enjoy ya!

Work Text:

Semburat jingga memancar dari ufuk barat. Kamu berjalan sangat cepat menyusuri trotoar, yang padat akan manusia. Kamu menenteng tasmu yang agak berat, karena kamu sangat terburu-buru ingin pulang. Kamu bergegas pulang dari pekerjaan karena hari ini adalah hari Sabtu, di mana kau sudah muak dengan segala hal yang merongrongmu di sana. Dokumen, printer, dering telepon, ah! Rasanya sudah cukup. Kamu ingin istirahat.

Kamu berjalan sangat cepat menuju halte bus. Di jam-jam seperti ini, pasti banyak sekali orang yang sudah menunggu. Kamu tak mau ketinggalan bus dengan alasan penuh, tidak dapat menampung tubuh ringkih pekerja korporatmu. Bahkan, berjibaku dengan bus juga sebuah perjuangan. Setelah lelah berjalan, bisa jadi kamu masih harus berdiri di dalam sana. Semua ini dilakukan demi mencari sesuatu yang berharga, tak lain dan tak bukan, uang. Hidup sebagai orang dewasa di era ini, rasanya seperti ada yang mencengkeram jiwa dan raga. Tubuhmu bergerak sesuai perintah autopilot. Tak ada pilihan lain.

Sampailah kamu di halte, dengan banyak orang. Sangat, banyak. Kebanyakan dari mereka berbusana hampir sama sepertimu. Baju formal, berkerah, dengan celana panjang atau rok selutut. Ada pula yang berseragam sekolah. Sesekali, kamu mengangkat kepalamu ke atas untuk menangkap udara untuk dihirup, saking ramainya. Mereka semua berdiri bersamamu, kepala mereka terus menoleh ke arah kanan, ingin tahu apakah bus yang mereka tunggu sudah datang.

Waktu menunjukkan pukul 5.45 sore. Hari hampir gelap. Namun, bus yang kau tunggu belum juga datang. Satu per satu bus datang, satu per satu orang mulai masuk ke dalam bus yang datang dari jurusan yang berbeda. Ketika bus yang kau tunggu datang, kamu mencoba masuk bersama orang-orang lain yang telah menunggu. Kamu cemas karena di saat seperti ini pun, masih banyak sekali orang yang ingin naik. Ketika kau sudah dekat dengan pintu bus, sang petugas berkata,

“Duh, maaf, Kak! Udah penuh. Ikut yang di belakang ya?”

Begitu saja. BRUK! Pintu bus pun tertutup dan ia melaju meninggalkanmu.

Tepat setelah itu, kau merasakan ada tetesan air yang jatuh ke atas tanganmu.

“Ah, hujan!” ujarmu dalam hati. Kamu bergegas mengeluarkan payung lipat yang selalu kau bawa di dalam tas. Halte tempatmu menunggu memiliki atap, namun karena masih banyak orang di sana, kamu tidak bisa berteduh dan harus menepi. Syukurlah, hujannya tidak terlalu deras seperti badai dan masih bisa kau nikmati sambil berpayung.

Jam 6 sore. Hari sudah gelap, namun rasanya kau lupa tujuanmu berdiri di halte.

Kau terus menikmati hujan yang turun. Jalanan yang basah, kendaraan lalu lalang, sesekali kau menghirup bau tanah yang menguar. Hujan adalah momen yang sangat kau sukai, sejak kecil hingga sekarang. Ia memegang banyak sekali memori. Mulai dari masa kecil, ketika hujan turun saat kau pulang sekolah dan ayahmu menjemputmu dengan jas hujan kelelawar legendarisnya di atas motor, mandi hujan bersama anak tetanggamu, hingga pertemuanmu dengan seseorang yang sangat indah di kala hujan, momen kebersamaanmu dengannya, serta perpisahanmu dengan dirinya.

“Yesung mah, sekarang udah bisa beli payung. Tapi bukannya murah ya? Kenapa gak dari dulu, sih. Aneh. Kenapa dulu kita lari-lari pakai jas hujan kecil, sih?” ujarmu.

Bosan menunggu di halte, kamu memutuskan untuk berjalan di sekitar halte, mencari tempat untuk makan karena kau merasa lapar. Di dekat halte, ada beberapa toko dan kafe yang masih buka sepanjang jalan. Kau berjalan mencari penjual camilan yang kau suka, sambil menikmati hujan. Mungkin camilan hangat akan cocok untuk suasana seperti ini, sambil mengingat hari-hari yang indah di masa lalu.

“Café Armoire, apa kabarnya sekarang?”


Pertemuanmu dengan Yesung sangat klise, seperti di film-film tontonan anak muda. Di kafe.

Ia hadir di kala masa sulitmu di kampus, semester lima. Momen di mana banyak sekali kewajiban yang harus kamu lakukan, dan kamu butuh tempat yang nyaman untuk mengerjakan tugas-tugasmu. Ketika itu, kamu mendengar ada kafe yang baru buka di dekat kampus. Beberapa kafe yang kau temui tidak sesuai dengan ekspektasi, dan kadang harganya melambung melebihi kapasitas dompetmu. Kala itu, kamu merasa akan tertipu lagi dengan kafe baru itu. Interiornya terlihat bagus, pasti makanannya mahal. Begitu isi pikiranmu.

Kamu mencoba datang ke kafe yang sepi itu, dan yang pertama menyapamu adalah seorang pemuda berambut pendek yang melempar senyum manis.

“Selamat datang di Café Armoire, kak!”

Ia memakai celemek coklat muda dengan nametag kecil di atas dada kirinya, Yesung.

Kafe itu masih sepi. Hanya ada satu-dua orang yang duduk di sana. Kafenya sangat tenang, dengan suara ambient yang sangat nyaman untuk belajar, ngobrol santai, atau me time tanpa interupsi. Kafe vintage dengan aksen bumi. Beberapa seat dirancang untuk 4–5 orang, 2 orang, dan 1 orang. Sangat inklusif untuk ekstrovert maupun introvert. Beberapa pigura foto retro terpajang di tembok kafe. Di atas meja, diletakkan penanda nomor meja dan sebuah vas bunga kecil berisi bunga mawar merah muda imitasi. Wow, gumammu.

“Silakan, kak! Kami baru buka, jadi untuk fresh opening kami punya banyak promo.” kata pemuda itu.

Matamu berbinar bukan kepalang menemukan menu kopi yang murah di sana. Itulah yang kau butuhkan sebagai mahasiswa yang punya banyak tugas. Apapun akan kau lakukan untuk bisa menyelesaikan semuanya tepat waktu dan secepatnya. Jauh lebih murah dari kafe sekitarnya.

“Caffe latte satu, ya kak! Sama pesen cream soup satu.”

Menu pertama yang kau pesan disana.

Makin sering kau ke sana, kamu makin nyaman. Pemuda bernama Yesung itu selalu menyapa dan mencatat pesananmu dengan senyuman yang ramah. Kadang, dia juga yang mengantar pesananmu ke meja. Sejauh yang kau hitung, hanya ada 5 karyawan di sana termasuk Yesung.

Belum ada interaksi apapun di antara kalian, sampai suatu hari ketika kamu makan di sana di sore hari, dan ketika itu hujan turun sangat deras. Kau lupa membawa payung, padahal jam tutup kafe adalah jam 6 sore. Jam 5 sore, beberapa orang sudah keluar dari kafe. Jam 5.30, permintaan pesanan sudah ditutup karena mendekati jam tutup. Kamu juga melihat dua karyawan sudah mulai membersihkan lantai kafe.

PET!

Seisi kafe tiba-tiba menjadi gelap.

“Mati lampu?!” gumammu dalam hati.

Namun, matamu tetap tertuju pada laptop, mengetik proyek ujian tengah semestermu.

Seseorang buru-buru keluar dari ruang khusus karyawan, dan bergegas menuju meja tempatmu duduk.

“Kak, maaf ya mengganggu kenyamanannya, ternyata ini listriknya mati kayaknya dari sananya karena hujan deras… mohon maaf sekali lagi ya, kak.”

Kamu tidak bisa melihat wajah Yesung dengan jelas karena gelap, hanya dengan cahaya remang-remang dari jendela. Namun, kamu hafal dengan suaranya.

“Oh iya kak Yesung gapapa kok, tapi saya di sini agak lama boleh nggak?”

“Eh..”

“Saya lupa gak bawa payung, semoga nanti hujannya udah reda deh pas closing. Jam 6 kan closenya?”

“Oh, iya gapapa kak.”

Hening. Hanya suara ketikan laptopmu yang terdengar. Kopi yang kau pesan masih tersisa seperempat gelas bahkan setelah satu jam. Dari penglihatanmu, Yesung tampak sedang membersihkan meja-meja lain bermodalkan cahaya dari jendela kafe. Kamu merasa suasananya canggung dan sepi sekali. Karena itu, kamu mencoba mencari topik untuk dibicarakan dengan pemuda pelayan kafe itu.

“Kak, kalo boleh tau, di sini kok interiornya bagus banget? Kayak kafe mahal, padahal menunya lumayan murah. Ya, aman lah kalo aku beli disini dua minggu sekali hehe.” ujarmu.

Sialan, pertanyaan apaan itu??? gumammu dalam hati. Kamu pura-pura mengetik di laptopmu lagi untuk meredam rasa malumu.

“Emang kalo deket kampus tuh strateginya gitu, murah tapi estetik. Interiornya ini ide saya sendiri, kak. Saya emang suka desain.” jawab Yesung.

“Oh, ini kafe punya kak Yesung?”

“Bukaaan, ini punya orang tua. Aku yang manage sekaligus kerja di sini. Ya pemula banget sih emang kak. Btw, aku sebenernya perhatiin kamu sering kesini, sih. Hafal muka aja.”

“Ya… emang… aku nyari yang murah kak.”

“Tiap kamu ke sini tuh bayanganku pasti kamu lagi banyak tugas. Bawa laptop mulu.”

“Iya, lagian semester lima banyak banget ini tugasnya..”

“Semester lima?? Jangan-jangan kita seumuran. Aku sih kayaknya 2 tahun lebih tua dari kamu sih kak.”

“Oh????”

Dan dari situ, kamu dan Yesung mengobrol, hingga melebihi jam tutup. Kamu pun berkenalan dengan karyawan kafe lainnya — Jongjin, Ryeowook, Donghae, dan satu karyawati bernama Lina.

*

 

Hari sudah gelap. Kamu duduk di depan sebuah toko roti kecil sambil mengunyah roti yang baru saja kau beli. Roti yang terkenal dengan wangi kopi yang sangat semerbak. Mereka menyediakan beberapa kursi kecil di dekat toko untuk berteduh. Hujan masih turun agak deras.

 

**

Kamu jadi teringat ketika Yesung membelikanmu roti yang sama di hari ketika ia mengungkapkan perasaannya padamu. Ia tiba-tiba memakai jas hujan keluar kafe dan kembali dengan roti itu, sebelum akhirnya mengucapkan sepatah dua patah kata yang mengubah hidupmu selamanya.

Ketika itu, kalian memang sudah lumayan dekat dan beberapa kali mengobrol ketika kafe sudah sepi dan mendekati jam tutup. Setelah mengetahui bahwa usia kalian tak jauh berbeda, kamu merasa lebih nyaman mengobrol dengan Yesung yang amat sangat ramah dan lucu.

Dari obrolan itu, kamu tahu bahwa Yesung putus kuliah karena ia harus menjaga ayahnya yang sakit bersama ibunya. Ruko tempatnya membuka kafe adalah warisan dari ayahnya, yang sayangnya telah pergi meninggalkan Yesung setelah 3 tahun ia menjaganya.

Selama di rumah, Yesung tidak diam saja. Ayahnya memiliki gitar akustik dan piano organ di rumah, namun Yesung tak pernah menyentuhnya. Ia baru mencoba membongkar alat musik ayahnya ketika ia putus kuliah. Kadang, sang ayah, meskipun sudah menggunakan kursi roda, mendengar Yesung mencoba memainkan musik dan beliau mencoba mengajari anaknya. Beliau agak menyesal, kenapa dari dulu beliau tidak mengajari anaknya memainkannya. Di sela-sela waktunya, ia juga mencoba melihat-lihat teknik desain. Dari situ, ia mencoba menggambar kafe impiannya. Mulai dari konsep dan menu. Tak pernah ia sangka bahwa kafe itu akan terwujud, namun sang ayah tidak akan ada di sana untuk melihatnya.

Kalian juga tahu di sana bahwa kalian menyukai grup musik yang sama ; ONE OK ROCK.

“Album kesukaanmu apaan, Yesung?”

“Niche Syndrome.”

“KEREN! Aku suka Zankyo Reference.”

“ITU MAH LEBIH KEREN!!”

 

****

 

Detox Tour…” bisikmu pelan ketika kau menggulir layar ponselmu dan melihat akun Instagram ONE OK ROCK muncul di berandamu. Grup musik rock kesukaanmu (dan Yesung) baru merilis album bertajuk Detox tahun ini, dan sedang menggelar tur dunia. Mereka pun akan mengadakannya di sini sebentar lagi.

“Yesung, kamu udah dengerin Detox? Albumnya baru tahun ini banget, aku suka Tropical Therapy. Kalo menurutku, kamu pasti suka +Matter sama Dystopia.” gumammu.

 

**

Lucu, jika diingat-ingat saat kalian berdua bersama, kalian adalah kaum ‘mendang-mending’. Yesung memang memiliki kafe, namun ketika harga bahan baku naik, beberapa harga kafe ikut naik dan insentif agak menurun. Kadang, ia berhemat agar gaji karyawannya tetap seperti biasa. Pernah suatu ketika, kalian pergi ke toko album musik hanya untuk cuci mata. Kalian hanya melihat-lihat kaset album ONE OK ROCK di sana karena kalian semua dalam mode hemat.

Niche Syndrome tuh, Ye.” katamu sambil melirik kaset di rak depanmu.

“Gak dulu, belum gajian.” bisik Yesung.

“Dih. Sama sih gue juga bokek.”

Jangan tanya pula berapa kali kalian ke mall hanya untuk membakar kalori dan cuci mata. Pada akhirnya, Yesung mengajakmu ke rumahnya dan ia memasak untukmu. Menurutmu, ratusan restoran mahal di mall kalah dengan masakan Yesung yang penuh cinta dan kasih sayang. Seperti rumah yang jauh dari rumahmu yang asli. Rasanya, semua sudah lengkap.

Untukmu, itu adalah masa-masa yang indah. Perantauan terasa agak ringan dengan keberadaan Yesung bersamamu. Canda tawanya, kopi kafe seduhannya, petikan gitarnya yang diiringi suara nyanyian bak malaikat, masakan penuh rasa dan cinta, pelukan hangat, jas hujan kecil yang selalu ia pakai untuk meneduhi kalian berdua ketika hujan, penyuara telinga berkabel yang dia bagi denganmu ketika kalian mendengarkan ONE OK ROCK, semuanya.

****

Kamu merasa masih ada waktu sebelum bus terakhir datang. Kamu melanjutkan perjalananmu di sekitar. Hujan sudah mulai reda. Langkahmu terhenti di depan sebuah toko album musik. Kamu jarang mengeksplor wilayah dekat halte ini karena kau hanya bolak-balik rumah ke kantor, sehingga kamu tidak sadar ada toko tersebut di dekatnya.

“Loh, di dekat sini ternyata ada? Aku kurang merhatiin.”

Toko album itu riuh-rendah. Kamu berjalan menyusuri beberapa rak, sampai menemukan kaset ONE OK ROCK yang dulu pernah kamu lihat bersama Yesung, dan album kesukaannya, Niche Syndrome.

“Ye, kamu sekarang udah bisa beli, kan? Dulu kita masih mode survival.”

Kamu mengambil kaset tersebut dan melihat harganya. Kamu tersenyum bahagia, karena sekarang kamu bisa membelinya dengan uangmu sendiri.

**

Kamu dan Yesung, dulu adalah dua anak muda yang sama-sama berjuang. Kalian adalah anak muda yang mencoba segalanya. Kalian tidak peduli dengan peraturan membayar makan ketika kencan karena untuk seluruh hal yang melibatkan uang, kalian semua masih berusaha. Yesung menghemat gajinya, sementara kamu menghemat uang jajan orangtua. Namun, ada kalanya juga kalian saling memberi ketika kondisi ekonomi dirasa aman. Kamu merasa itu tidak masalah, karena untuk hal emosional, Yesung selalu ada.

Dia ada ketika kamu menangis karena harus mengganti judul skripsi. Kamu ada untuknya ketika ia sedang pusing menghitung cashflow kafenya. Dia ada ketika kamu lagi-lagi lupa membawa payung di kafe, lalu dia muncul dengan jas hujan yang ia ambil dari motor dan mengantarmu pulang ke kos. Kamu ada ketika dia mencoba-coba variasi kopi untuk menu baru kafe. Dia ada ketika kamu selesai seminar proposal dan sidang skripsi. Kamu menjadi pendengar pertama lagu pertama garapannya.

Kalian selalu ada untuk satu sama lain di momen-momen penting hidup kalian.

****

Hujan telah reda. Jam menunjukkan pukul 7 malam. Kamu beranjak kembali ke halte, dengan satu kaset Niche Syndrome di dalam tasmu. Halte sudah agak sepi, sehingga tak butuh waktu lama untukmu menunggu dan langsung masuk ke dalam bus.

**

Setelah kau lulus kuliah, kamu kembali ke kota asalmu dan meninggalkan lingkungan kampus. Artinya, kamu juga berpisah dengan Yesung di sana. Kalian masih sesekali bertemu dengan video call, bertukar pikiran dan cerita setiap malam. Kadang, kalian juga saling berkirim hadiah setiap hari ulang tahun, baik kelahiran maupun hari jadi hubungan kalian. Sampai terbersit di benakmu pada suatu hari, tentang kejelasan hubungan kalian ke depan.

“Ye, kamu ada gambaran gak, kapan kita nikah?”

“Hmm.. pengen sih, tapi kamu gak mau kerja dulu? Aku juga lagi nyari nih, label rekaman yang mau rekrut aku. Siapa tau, kita bisa sort out setelahnya. Udah ada gambaran?”

“Iya sih, habis lulus aku gabut banget. Udah apply tapi belum ketemu.”

“Semoga nyantol satu! Aamiin.”

“Kafe gimana?”

“Aman mah, kayak biasa.”

“Great, deh. Oke, aku udah ngantuk… semoga besok ada e-mail kerjaan masuk deh… see you ya!”

“Loh, udahan? Gak mau sleepcall?”

“Alay banget ah, pusing tau tidur di deket HP.”

“Bercandaaa sayang, tidur sanaa. Love you.”

****

Sesampainya kau di rumah, kamu membersihkan badanmu, mengganti baju dan langsung merebahkan dirimu di kasur. Seharian bekerja membuatmu lelah. Angin sepoi-sepoi menerpa kulitmu dari jendela yang terbuka. Rasanya menyegarkan, karena hujan baru saja reda. Dari sudut tempat tidur, kamu mengambil kaset ONE OK ROCK yang baru saja kau beli. Kau meraba-raba dan merogoh laci di sebelah tempat tidur, mengeluarkan pemutar CD portabel yang masih lengkap dengan penyuara telinga berkabel dari dalamnya.

Kau berbaring, menyilangkan kedua tanganmu di balik kepalamu, dan menatap langit-langit kamar. Lampunya sudah kau matikan, hanya ada lampu tidur remang-remang yang menerangi ruangan.

Kamu menekan tombol pada pemutar CD agar langsung memutar lagu ke-9 dari album tersebut, Wherever You Are.

Lagu yang penuh dengan kenangan. Lagu kesukaan Yesung. Entah kenapa, hari ini kamu merasa agak sentimental setelah beberapa tahun berpisah. Apa ada sesuatu yang berbeda di polusi yang kau hirup hari ini, sehingga kamu mengingat semuanya lebih jelas?

Terbayang kembali di kepalamu, sosok Yesung dengan jaket kulitnya, sepulang bekerja, duduk di kursi ruang keluarganya dengan gitar akustik. Ia mengajakmu pulang ke rumah untuk pamer bahwa ia telah hafal kunci gitar lagu Wherever You Are versi akustik. Kamu duduk di sebelahnya, memandang wajahnya yang tampak sangat bercahaya ketika bernyanyi. Suaranya dengan lembut memasuki telingamu. Petikan gitar terdengar sangat serasi dengan suaranya. Ketika ia menyanyikan chorus lagu, kamu tidak bisa diam. Kamu ikut menyanyi bersamanya.

 

Wherever you are, I’ll always make you smile
Wherever you are, I’m always by your side
Whatever you say, you’re always on my mind
I promise you “forever” right now

**

Tak terasa, kamu mulai merasakan air memenuhi matamu. Perlahan, ia berlinang membasahi pipimu. Semua kenangan ini, terlalu manis. Kamu merindukan suara Yesung.

Kau ingat di hari ketika Yesung mengabarimu lewat panggilan video bahwa ada label rekaman di Korea yang mendengarkan lagu miliknya, setelah 3 tahun lamanya, dan tertarik untuk merekrut Yesung. Kamu juga mengabarinya bahwa kamu telah diterima untuk bekerja di sebuah perusahaan dengan gaji yang lumayan.

Namun, setelah kalian mengabari satu sama lain dan mengucapkan selamat sambil tertawa, kalian berdua terdiam.

Kalian langsung mengerti keadaan masing-masing. Kalian telah memiliki prioritas masing-masing, yang berbeda dan bertolak belakang. Dua garis tanpa titik temu. Dan tak ada yang tahu, kapan kedua garis itu dapat bertemu lagi.

Kamu masih ingat di hari itu, hujan turun dengan derasnya. Kamu menangis di dalam kamarmu karena kata Yesung, dia akan terbang langsung ke Korea. Kamu rasa, itulah yang terbaik agar kau cepat pulih dari rasa sakit.

Namun bel rumah berbunyi, dan tebak siapa yang datang.

Yesung datang dengan satu ransel dan koper besarnya. Ia datang.

Wajahnya sudah merah, pipinya sembab.

Kamu tidak bisa menahan tangismu juga.

Yesung langsung memeluk tubuhmu. Kau menangis di rengkuhannya, kau tidak bisa menahan diri dari memukul dadanya. Kau merasa kesal.

“Maaf….”

I’m so sorry…

Yesung mengusap air matamu, dan kau juga mengusap air mata dan pipi Yesung yang memerah.

“Cepet rilis album, ya! Aku tunggu. I will be your number one fan. I am your first fan, kan?” katamu.

“Of course. Kamu, jangan sampe sakit karena kerjaan. Please. I would be mad.” Yesung, masih sesenggukan karena tangis, mengusap rambutmu perlahan.

“Iya, iya. Nanti aku pasti cepet promosi naik pangkat. Tenang.”

Aku bersyukur bisa ketemu kamu dan satu zaman sama kamu, I have learned a lot from you… ah, gila… I’m so corny… tapi biarin! Aku bener-bener ngerasain gitu, berarti aku gak cringe kan?”

Same, babe… I do. I also learned a lot from you. I am, more more grateful, to have you in my life.”

“Jangan buang barang pemberianku ya. Jangan jadiin seakan aku ngasih kenangan buruk ke kamu..”

“Gak, gak bakal. Kamu juga, ya.”

“Sekali lagi, aku minta maaf. Terima kasih untuk semuanya, ya.”

“Aku juga, Yesung. Hati-hati ya. Terima kasih juga, karena sudah lahir. Aku bahagia bisa ketemu kamu di kehidupan aku saat ini.”

 


 

Lagu Wherever You Are ditulis oleh Taka, vokalis ONE OK ROCK, untuk pernikahan temannya. Tentang janji untuk mencintai tanpa lekang oleh jarak, waktu, dan janji untuk bersama selamanya.

Kamu dan Yesung tidak memenuhi janji kedua, namun kalian tetap memegang janji pertama. Kalian mencintai satu sama lain, namun sayangnya, bukan hanya cinta yang menegakkan tulang punggungmu di dunia. Cinta juga tidak selalu menghubungkan kalian berada di ruang dan waktu yang sama setiap waktu.

Kadang kau merenung bagaimana kamu menginterpretasikan lagu tersebut dengan cara yang berbeda dibanding dahulu. Sekarang, tinggal satu baris dari lagu itu yang mendeskripsikan dirimu dengan Yesung.

For us, the day we should celebrate the most
 Is the one we first met

Perpisahan ini tidak lagi menyakitimu separah dahulu. Kamu juga tahu, Yesung pasti juga sangat berjuang untuk menahan rasa sedihnya. Mau dulu maupun sekarang, kalian berdua sama-sama berjuang. Perjuangan belum selesai. Kehidupan terus berjalan, dengan atau tanpa dirimu, dengan atau tanpa Yesung. Tak ada dendam yang tersimpan, semuanya telah usai.

Namun hari pertama kalian bertemu, tidak akan pernah terlupa. Salah satu hari terindah dalam hidupmu, juga hidup Yesung.

Siapa yang tahu, di sana, Yesung juga sedang mendengarkan album Zankyo Reference sambil memikirkanmu.