Work Text:
Berdasarkan Sink in Dasein (Patriarch)
***
Terdengar lantunan melodi yang terhubung dengan jiwa ketika aku membuka mata.
Butuh beberapa saat untuk menyadari bahwa aku berada di sebuah aula besar yang seperti aula konser musik. Di panggung, konser piano sedang berlangsung dengan sosok seseorang yang kucari.
Jari-jari yang ramping itu bergerak lincah di atas tuts piano dan serangkaian nada yang indah saling bersahutan. Para pendengarnya tenggelam dalam pesona musikal yang memabukkan.
Aku tidak bisa berhenti menatapnya dan mendengarkan lagu yang dia mainkan. Aku tidak pernah tahu bahwa dia menyukai musik seperti itu.
Sosok yang kukenal adalah seseorang yang memiliki tanggung jawab besar dengan rasa keadilan dan empati yang tinggi. Seseorang yang mengajariku arti kehidupan dan menjaga orang yang mendukungku dalam segala hal.
Aku sangat menghormatinya dan tidak berani melakukan sesuatu yang membuatnya tidak senang. Namun, tampaknya kali ini aku mungkin akan dihukum karena menerobos batasannya.
Pikiranku mengembara sampai konser berakhir dan suara tepuk tangan meriah menyambut si pianis yang piawai.
Sosok berambut hitam dengan mata merah delima itu membungkuk ke penonton, kemudian berjalan keluar dari panggung.
Tatapanku terus mengikutinya sampai aku tidak bisa melihatnya lagi.
Aku merenungkan sejenak apa yang harus kulakukan karena rencana konkret belum tersusun. Tindakanku sekarang adalah hal darurat karena tidak ada yang bisa menduga bahwa sosok hebat itu dalam bahaya.
-”Lakukan apapun untuk membangunkan Patriarch, tetapi jangan biarkan siapapun melukainya atau dia tidak akan bisa bangun.”
Itulah pesan yang ditinggalkan Ricky sebelum dia memintaku memasuki dunia mimpi Patriarch untuk membangunkannya.
Ada campur tangan seseorang dari Empire yang ingin memanfaatkan kelemahan Patriarch untuk melenyapkannya. Kelemahan itu ada dalam dunia mimpi ini dan Patriarch terjebak di dunia ini tanpa mengingat dirinya sendiri.
Tugasku adalah mengingatkannya dan membuatnya menyadari ini adalah dunia mimpi sehingga dia bisa bangun secara alami.
Masalahnya, Ricky memperingatkan bahwa dunia mimpi Patriarch memiliki aturannya sendiri sehingga bahkan penyusup dari Empire tidak akan bisa berbuat banyak secara langsung. Mereka mungkin harus melalui jalan memutar jika ingin menyerang Patriarch di dunia mimpi.
Singkatnya, dunia mimpi ini mematuhi logika sehingga kekuatan luar biasa tidak akan diizinkan di sini.
Jika memaksakannya, penyusup bisa ditendang keluar dari dunia mimpi ini dan diblokir.
Ketika aku melihat sekeliling dan menyadari latar dunia ini, rasa lega menyelimuti hatiku.
Ini latar dunia manusia biasa peradaban modern, seharusnya tidak ada unsur supernatural maupun kekuatan tak masuk akal.
Namun, tetap masih ada bahaya yang mengintai.
Setelah menjernihkan pikiran dan menyiapkan rencana, aku berdiri mengikuti orang-orang yang bergerak menuju tempat pembelian merchandise.
Ada antrian panjang dan bisikan-bisikan antusiasme penggemar. Sepertinya Patriarch akan selalu menjadi sosok yang dikagumi dimanapun dia berada.
Patriarch secara pribadi memberikan tanda tangan pada para penggemar yang membeli merchandise.
Ketika akhirnya giliranku tiba, tatapan kami akhirnya bertemu.
Saat itu, meski aku sudah bersiap, tetapi ada sesuatu yang terasa menyakitkan dalam diriku.
Dia tidak mengenaliku.
Itu bukan tatapannya yang biasa.
Mata merahnya berkedip dan ekspresinya tampak bingung saat melihatku.
Aku lupa mengendalikan ekspresiku sendiri, mungkin sekarang tampak mengerikan.
Dia bertanya padaku, “Siapa namamu?”
Aku membuka dan menutup mulutku beberapa kali sebelum akhirnya menjawabnya, “Arin.”
Patriarch mengangguk, lalu mengambil memo dan menulis sesuatu di sana, kemudian memasukkannya ke kantong yang berisi merchandise yang sudah disiapkan.
Semua merchandise sesuai dengan pesanan para penggemar, jadi menurut logika dunia ini, “aku” di dunia ini sudah membayarnya dan sekarang tinggal mendapatkannya beserta memo ucapan dan tanda tangan Patriarch. Itulah fans servise yang diberikan Patriarch pada penggemarnya.
Aku ingin mengatakan sesuatu, tetapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Ada antrian panjang di belakangku yang menunggu dan Patriarch tampaknya menungguku mengambil merchandise itu dan segera pergi.
Aku harus membiarkannya mengurus urusannya dulu baru menemuinya dan mencoba membangunkannya.
Akan tetapi, bagaimana caraku menghubunginya nanti?
“Bolehkah aku mendapatkan nomor ponselmu?”
Berdasarkan yang kutahu dari latar dunia ini, orang-orang menggunakan ponsel untuk saling mengirimkan pesan.
Namun, aku sepertinya telah mengatakan sesuatu yang salah.
Patriarch menolak permintaanku, “Maaf, aku tidak membagikan nomor ponselku.”
Untungnya, dia tidak terlihat marah seolah permintaan itu hal biasa dari para penggemarnya dan dia sudah menyiapkan jawaban.
Itu pertama kali aku mendengar penolakannya, rasanya aneh karena dia selalu menuruti permintaanku.
Aku berusaha mengendalikan emosi aneh yang kurasakan. Aku mengambil kantong merchandise itu dan berkata, “Terima kasih.” Sebelum buru-buru pergi.
Aku bisa merasakan tatapannya di punggungku saat aku berbalik seperti melarikan diri.
Aku kurang perencanaan saat menghadapinya dan ketenanganku runtuh.
Aku harus mengikuti logika dunia mimpi ini sehingga Patriarch tidak akan menendangku keluar tiba-tiba karena perilakuku.
Apa yang harus kulakukan untuk mendekatinya secara alami?
Identitas “aku” di sini hanya salah satu penggemarnya.
Saat itu, aku melihat layar digital yang menampilkan jadwal konser musik berikutnya.
Gedung untuk konser musik memiliki lobi yang luas dan layar digital yang seperti iklan.
Tiba-tiba, sebuah ide muncul di benakku. Aku mungkin bisa mempelajari musik seperti Patriarch dan nantinya dapat berkenalan dengannya secara alami.
Meski aku tidak yakin apakah aku bisa melakukannya, tetapi aku akan mencobanya dulu.
Otakku tidak bisa merumuskan rencana lain karena kurangnya informasi. Hal-hal terkait keterampilan yang dilakukan manusia di peradaban modern bukan sesuatu yang biasa kutemui.
Empire kurang memiliki jenis hiburan dan sebagian besar waktu hanya ada pertarungan, peperangan, misi, dan mengulang lagi semua itu dengan sedikit hiburan yang tidak bisa disebut hiburan.
Apakah dunia mimpi ini mencerminkan apa yang diinginkan Patriarch?
Dia menyukai musik.
Dia menyukai alat musik yang disebut piano.
Dia menyukai dunia yang damai.
Kalau begitu, aku akan menemaninya di dunia mimpi ini sampai dia ingin bangun sendiri.
…..
Beberapa waktu berlalu, pilihanku untuk mempelajari musik menemui kendala karena aku tidak bisa menciptakan lagu.
Para pencipta lagu tampaknya memiliki jiwa pecinta musik yang murni bukan tipe orang sepertiku yang mempelajari musik karena suatu tujuan yang harus dipenuhi.
Aku bisa mempelajari alat musik, tetapi tidak dengan menciptakan sesuatu seperti lagu dari nol.
Setelah mengumpulkan informasi, aku akhirnya tahu bahwa upaya ini tidak bisa dilanjutkan karena Patriarch sebenarnya menghindari interaksi sosial dengan musisi lainnya, jadi tak ada gunanya aku melanjutkan mempelajari musik ini jika tidak bisa menemuinya.
Suatu hari, ada pengumuman yang dipublish di Gedung Konser itu bahwa Patriarch membutuhkan seseorang untuk mendesain merchandise dan album lagunya.
Desain?
Aku menatap pengumuman itu untuk waktu yang lama dan mempertimbangkan hal baru yang perlu kupelajari.
Kali ini, aku harus mempelajarinya lebih dalam. Jadi, aku pergi ke berbagai Galeri Seni untuk mencari inspirasi, memotret beberapa pemandangan untuk mendapatkan kesan berbagai suasana, lalu menggambar beberapa desain abstrak sebagai permulaan.
Aku sudah mendengarkan hampir semua lagu yang dirilis oleh Patriarch dan membeli semua albumnya sebelumnya. Berdasarkan tone lagu dan desain album sebelumnya, aku bisa menebak seleranya.
Aku tidak tahu kenapa Patriarch tiba-tiba mencari artist baru untuk mendesain albumnya. Tentunya, itu adalah kesempatan untukku.
---
“Ayn, kenapa kau tiba-tiba ingin mengganti artist untuk desain album?” Sebastian bertanya dengan bingung pada pria muda yang duduk di depan piano besar di studio pribadinya.
“Orang itu mengundurkan diri,” jawab Ayn sambil mengerutkan keningnya. “Aku juga tidak tahu alasannya.”
Hal-hal menjadi aneh sejak dia melihat gadis itu di konser terakhir.
Ayn masih ingat ekspresi gadis itu yang tampak seperti ingin menangis. Itu membuatnya terguncang dan bingung.
Dia tidak tahu kenapa rasanya dia ingin menepuk kepala gadis itu dan menenangkannya. Itu pikiran yang absurd karena dia bahkan tidak mengenal gadis itu.
Nama gadis itu sesekali keluar dari mulutnya dan terasa akrab seakan dia sering memanggilnya seperti itu.
Dia mencoba menemukan gadis itu, tetapi sayangnya dia tidak menemukannya hingga sekarang dan itu menghantui pikirannya.
Itu membuatnya tidak bisa tidur nyenyak.
Lalu, entah bagaimana hal-hal yang aneh terjadi yang terasa seperti kebetulan.
Tiba-tiba ada banyak musisi yang mengundangnya bertemu dan mereka mengajaknya berpartisipasi dalam beberapa pesta. Tentu saja, dia menolak semuanya karena dia tidak menyukai acara semacam itu.
Namun, bukankah mereka tahu bahwa dia tidak mau berpartisipasi?
Rasanya seperti dia didorong untuk melakukan interaksi sosial dengan mereka dan entah bagaimana berkenalan dengan seseorang.
Kemudian, sekarang artist yang dia percayai untuk mendesain merchandise dan album lagunya tiba-tiba mengundurkan diri tanpa alasan yang jelas.
Ayn tidak punya pilihan selain membuat pengumuman darurat untuk mendapatkan artist baru melalui seleksi karena konser berikutnya tidak lama lagi.
“Berikan padaku daftar nama yang melamar menjadi artist baru.” Ayn mengulurkan tangan ke Sebastian yang membawa tablet digital yang berisi data para pelamar.
“Aku sudah mengurutkannya dan menyeleksi beberapa yang cocok. Kau bisa memilih artist yang sesuai dengan seleramu untuk desain album.” Sebastian menyerahkan tablet itu.
Ayn menggerakkan layar tablet dan membaca sekilas info artist dan konsep desainnya. Kemudian, layarnya terus beralih ke pelamar berikutnya hingga dia tiba-tiba berhenti seakan membeku.
Matanya menatap nama artist : Arin. Foto wajahnya juga tertera beserta konsep desainnya.
Dia menatap nama itu untuk waktu yang lama sampai akhirnya menyerahkan tablet itu kembali ke Sebastian.
“Undang dia ke sini besok."
Sebastian melihat informasi artist di layar tablet, lalu pada Ayn. “Kau memilihnya? Bukankah kita perlu melakukan wawancara dan semacamnya sebelum mengundangnya ke studio ini?”
Ayn meliriknya tajam dan nadanya terdengar tidak senang, “Tidak perlu.”
Sebastian berkeringat dingin. Leluhur ini memang sulit disenangkan dan dia perlu berhati-hati.
“Baiklah, aku akan langsung menghubunginya.” Sebastian buru-buru berlari keluar untuk menyiapkan beberapa hal yang diperlukan artist baru.
Ayn memainkan beberapa nada di tuts piano sebelum berhenti dan memandang keluar jendela.
“Arin.” Dia memanggil namanya lagi.
Entah mengapa Ayn sangat ingin melihatnya.
….
---
Aku lulus seleksi dan menjadi artist desain merchandise dan album Patriarch.
Akhirnya aku bisa menemuinya dengan cara yang wajar.
Aku diminta untuk datang langsung ke studio pribadi Patriarch untuk membahas konsep desain yang dia inginkan.
Begitu sampai di studio itu, aku melihat dua orang berjas hitam yang seperti pengawal menjaga pintu masuk.
Saat mereka melihatku, mereka memasang sikap waspada dan bertanya, “Apa kau sudah membuat janji temu?”
Aku menjawab, “Aku artist baru yang diterima untuk desain album.”
Mereka segera mengubah sikap dan kewaspadaan mereka berkurang.
“Kalau begitu, silahkan masuk.”
Mereka mempersilakan aku melewati penjagaan menuju ruang rekaman.
Saat mendekati ruangan itu, aku mendengar serangkaian melodi piano yang terasa menusuk ke hati. Entah mengapa, lagu itu membawa kesan seperti seseorang yang kehilangan sesuatu yang berharga.
Aku terdiam di depan ruangan itu sampai lagunya selesai.
“Masuklah.”
Tampaknya Patriarch dapat merasakan bahwa aku berdiri di depan ruangannya.
Aku masuk ke ruangan itu dan melihatnya menatapku.
Aku tidak yakin emosi apa yang kurasakan, tetapi seharusnya itu rasa senang.
Tampaknya aku agak lambat dalam memahami emosi, tidak seperti Patriarch yang sangat peka.
Aku tersenyum dan menyapanya, “Yang Mulia.”
Ups, sepertinya aku melakukan kesalahan lagi.
Alis Patriarch berkedut saat dia menatapku dengan ekspresi tercengang.
“Kenapa kau memanggilku seperti itu?” Patriarch sepertinya tidak menyukai panggilan hormat itu di dunia mimpi ini.
“Kalau begitu, bagaimana aku memanggilmu?”
“Ayn. Itu namaku.”
Bagaimana aku bisa berani memanggil namanya?
Bukankah itu tidak sopan?
Dia mungkin akan menghukumku karena ketidaksopanan saat kembali ke dunia nyata.
“Yang Mulia, kau tidak akan menghukumku karena memanggil namamu, kan?”
Sejauh yang kutahu, Patriarch tidak ingin orang lain memanggil namanya, jadi aku belum pernah memanggil namanya di dunia nyata.
Orang-orang menghormatinya dan memujanya, jadi terasa sangat tidak sopan jika memanggil namanya begitu saja.
Patriarch menatapku dengan sudut mulutnya berkedut. “Apa kau sedang bermain drama kolosal di depanku sekarang?”
Dia tampak terhibur, itu membuatku lega karena dia tidak marah.
Aku menekankan sekali lagi bahwa aku perlu mengikuti logika dunia mimpi ini. Jadi tidak apa-apa jika aku memanggil namanya seperti yang dia inginkan.
“Ayn,” panggilku akhirnya dengan jantung berdebar.
Entah mengapa rasanya seperti aku telah menerobos lapisan penghalang antara diriku dan Patriarch, penghalang yang disebut pemujaan.
…..
Setelah hari itu, aku datang tiga kali seminggu untuk mendiskusikan konsep desain album dan merchandise.
Semakin lama aku melihat Patriarch di dunia mimpi ini, aku semakin menyadari bahwa dia adalah seseorang yang bisa didekati.
Dia menyukai hal-hal kecil seperti coklat, permen, dan aksesoris yang kubuat. Lalu, ekspresinya lebih hidup dan tidak tampak lelah seperti yang biasanya kulihat pada Patriarch.
Dia terasa lebih hidup dan bahagia di dunia mimpi ini. Aku tidak ingin menghancurkan kebahagiannya. Bila perlu, aku bisa terus menemaninya selamanya di dunia mimpi ini. Namun, aku tahu bahwa Patriarch harus bangun dan aku tidak ingin keselamatannya terancam karena keegoisanku.
Perasaan yang tersembunyi jauh di lubuk hatiku mulai muncul ke permukaan. Itu membuatku merasa gugup setiap kali bersamanya karena takut dia menyadarinya.
…..
Ayn hampir mengeluh secara langsung karena gadis itu hanya datang tiga kali seminggu.
Kenapa gadis itu tidak bisa datang setiap hari?
Ayn ingin melihatnya setiap hari dan merindukannya melebihi yang awalnya dia kira.
Rasanya seperti dia selalu ingin melihatnya kapanpun itu.
Dia awalnya tidak ingin mengakuinya, tetapi akhirnya dia mengaku bahwa dia menyukai gadis itu.
Perasaan itu seperti sudah tertanam sejak lama, hanya saja ditekan oleh sesuatu dan akhirnya bisa dilepaskan karena penghalang “sesuatu” itu menghilang.
Ayn tidak yakin apa penghalang itu, tetapi dia menebak bahwa penghalang itu runtuh sejak gadis itu memanggil namanya.
Begitu dia menyadari perasaannya, keinginannya untuk bertemu gadis itu semakin kuat.
Dia sudah menanyakan alamat tempat tinggalnya sebelumnya, tetapi dia takut gadis itu tidak suka jika dia tiba-tiba berkunjung.
Namun, sekarang dia sangat merindukannya.
Hari ini adalah hari ketika gadis itu tidak datang. Jadi Ayn sendirian di ruang rekaman.
Dia memikirkannya sejenak sebelum mengambil keputusan untuk menemuinya.
Dia mengambil jaketnya dan bergegas keluar dari ruang rekaman.
…..
Ayn berkeliling ke lingkungan sekitar tempat tinggal gadis itu.
Ketika dia hendak menuju gedung apartemen sesuai alamat yang dia tahu, pandangannya terpaut ke suatu arah.
Langkahnya terhenti saat dia menatap kosong ke dua orang di balik kaca jendela di sebuah kafe.
Sosok keduanya terlihat jelas di matanya. Terutama gadis itu, Arin.
Mungkin ini pertama kalinya Ayn merasakan rasa sakit tak terlihat yang membuatnya kehilangan akal sehatnya.
Suatu kesadaran mencoba untuk tetap tenang dan terkendali, tetapi kesadaran lainnya berkobar marah dan dipenuhi kecemburuan yang tidak masuk akal.
Siapa pria yang bersama gadis itu?
SIAPA PRIA ITU?!
Ketika emosinya mulai di luar kendali, Ayn merasakan lingkungan sekitarnya bergetar hebat seperti gempa bumi.
Kemarahannya sirna digantikan kekhawatiran.
Dia berlari ke kafe itu dan memanggil namanya, “Arin.”
Getaran gempa yang mengkhawatirkan membuatnya cemas.
Saat dia masuk ke kafe dan mendekati gadis itu, sosok pria di seberangnya tiba-tiba menghilang.
Hah?
Ayn tidak salah lihat.
Dia mengerutkan keningnya dan merasakan gempa mereda.
Lalu, dia melihat gadis itu terkejut melihatnya. Gadis itu tampak pucat dan takut.
Hati Ayn tenggelam.
Apa dia membuat gadis itu takut?
“Arin, kau ….” Ayn tidak tahu harus berkata apa, jadi dia menarik tangan gadis itu dan mengajaknya keluar untuk berbicara.
Mereka berjalan menjauh dari kafe itu sampai ke taman, tak ada percakapan. Gadis itu masih diam seakan takut mengatakan apapun.
Akhirnya, Ayn berhenti dan berbalik.
Dia yakin yang dia lihat bukanlah halusinasi karena pria di kafe itu seperti terhapus secara langsung di depan matanya.
Apakah ini benar-benar dunia nyata yang dia tahu?
Ayn mengulurkan kedua tangannya dan menangkup wajah gadis itu. Ini adalah pertama kalinya dia melakukannya, tetapi dia ingin melihat gadis itu lebih dekat dan memastikan dia nyata.
Sesuatu di alam bawah sadarnya mulai bangkit perlahan.
Ketika tatapan matanya melihat mata gadis itu, sesuatu mulai menjadi jelas.
Ayn tersenyum dan berkata, “Jangan takut. Aku tidak marah padamu.”
Nadanya lembut dan menenangkan, berbeda dari cara bicaranya yang biasa. Itu nada seseorang yang telah hidup untuk waktu yang lama.
Pupil mata gadis itu berkontraksi dan bibirnya gemetar.
“… Y-Yang Mulia?”
Ayn (Patriarch) mengangguk. “Panggil namaku.”
Dia tidak ingin penghalang itu diciptakan lagi.
“Tapi, ….” Gadis itu ragu-ragu untuk waktu yang lama.
Tidak masalah. Ayn (Patriarch) bisa menunggunya selama apapun itu.
Setelah lama berlalu, gadis itu akhirnya memanggil namanya dengan wajah memerah, “Ayn.”
Ayn (Patriarch) tersenyum, lalu memeluknya erat.
Dia tidak perlu bertanya siapa pria yang ditemui gadis itu. Dia sudah tahu.
Pria itu adalah penyusup Empire yang ingin mempengaruhi melalui dunia mimpi. Dia telah menendang penyusup itu keluar dalam kemarahannya.
Ayn (Patriarch) mengingat bagaimana dirinya hampir kehilangan kendali sebelumnya dan terkekeh. “Kau benar-benar membangunkanku dengan cara yang menyakitkan.”
“Maafkan aku.” Gadis itu tergagap.
“Baiklah, mari kembali ke dunia nyata dan hadapi hukumanmu.”
Gadis di pelukannya tampak kaku.
Sudut mulut Ayn (Patriarch) terangkat saat dia menyaksikan keruntuhan dunia mimpi dan membawa gadis itu keluar.
Aku benar-benar tidak mengharapkan hasil ini.
Awalnya, aku menemui penyusup itu dan berpura-pura tidak tahu identitasnya untuk menemukan cara menanganinya perlahan.
Namun, kenapa malah menjadi seperti ini?
Patriarch terbangun dan dia tampak sangat marah.
Itu pertama kali aku melihatnya begitu marah.
Apa dia akan menghukumku dengan berat?
Kenapa dia masih mengizinkanku memanggil namanya?
Saat keluar dari dunia mimpi, aku membuka mataku dan melihat aula yang familiar.
Lalu, sosok yang duduk di tahta di depanku sedang memperhatikanku entah sejak kapan.
“Yang Mulia,” sapaku.
Patriarch menatapku dengan ekspresi tidak senang.
Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?
Tidak, dia mungkin masih marah karena tindakanku dalam mimpi.
Aku menundukkan kepala, bersiap menerima hukuman.
“Angkat kepalamu.”
Aku mengikuti instruksinya dan menatapnya sambil menyembunyikan hatiku yang gelisah.
Patriarch turun dari tahtanya dan mendekatiku.
Dia tiba-tiba menarikku dan memelukku erat seperti di dunia mimpi itu.
“Hukumanmu adalah memanggil namaku mulai sekarang,” bisiknya seraya melanjutkan, “Hubungan kita tidak akan sama seperti sebelumnya.”
Itu….
Apakah itu sungguhan?
Dia tidak marah padaku karena perasaanku yang melanggar batas?
Saat aku memikirkan ini, hatiku terasa panas dan jantungku berdebar kencang.
“… Ayn.”
“Mnm.” Dia meresponku sambil mengelus rambutku.
“Ayn.”
End :) thank you~
