Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-11-28
Words:
2,186
Chapters:
1/1
Kudos:
25
Bookmarks:
1
Hits:
460

Among the Ruins of His Gentle Kingdom

Summary:

Ada satu gerbang yang membuat diriku memiliki segala kekuatan untuk menyembuhkan. Namun, di satu sisi aku harap gerbang itu jangan terlalu sering terbuka. Bukan karena aku tidak suka menjadi penyembuh, namun karena setiap kali gerbang itu terkuak, aku tahu kakak telah runtuh sedikit lebih jauh dari terakhir kali aku menemukannya.

Work Text:

Ada satu gerbang yang membuat diriku memiliki segala kekuatan untuk menyembuhkan. Namun, di satu sisi aku harap gerbang itu jangan terlalu sering terbuka. Bukan karena aku tidak suka menjadi penyembuh, namun karena setiap kali gerbang itu terkuak, aku tahu kakak telah runtuh sedikit lebih jauh dari terakhir kali aku menemukannya.


Badanku sontak membatu ketika bayanganku di kaca menangkap sosok kakak yang sudah membeku di tempat dengan lukisan merah segar masih menuruni kulitnya.

“KAKAK!”

Suara itu meluncur dari tenggorokanku sebelum aku sempat menahannya. Telapak tanganku dingin, keringat menetes. Aku meraih tas dengan gerakan yang hampir refleks, mencari hoodie abu-abu yang selalu kusimpan untuk keadaan seperti ini, jimat kecil bagai jangkar untuk kakak agar dirinya tetap kembali dan berdiri lagi.

Di seberang ruangan, kakak sudah duduk bersila, diam seperti patung yang lupa caranya untuk bernafas. nadi tangannya tergores, darah mengalir tipis, bahunya turun melemah, seakan gravitasi dunia ini mendadak menjadi terlalu kejam baginya. Tatapannya melayang ke arah tempat yang aku tak pernah bisa lihat, seolah separuh jiwanya terbawa masuk ke dunia lain.

Aku berlutut. Jemariku menyingkap helaian rambut yang menutupi wajah mungilnya. Lalu, perlahan, aku merengkuh tubuhnya dan menenggelamkan kepala kakak di dadaku. Hoodie abu-abu itu kuselimuti ke tubuhnya seperti selimut, seolah kain tipis itu bisa menutup segala reruntuhan di dalam dirinya.

Ia mendongak.
Dan tatapan itu muncul. Lagi.

“Kakak.. Sakit..”

Suaranya mengecil, runtuh menjadi serupa rengekan seorang anak kecil yang baru kehilangan pegangan di dunia yang terlalu besar untuk ukuran bola matanya. Jari-jemarinya mencengkeram hoodie erat-erat, seolah itu satu-satunya hal yang membuatnya tidak terjatuh dari tepi dunianya sendiri. Matanya berair, tapi ia menahan, selalu menahan, seperti ia takut jika dirinya menangis, dunia kecilnya akan pecah.

Gerbang itu bukan pintu kayu ataupun portal bercahaya. Tetapi sorot kosong kakak dan bahunya yang merosot pelan, menjadi tanda halus bahwa dunia kecilnya sudah memanggil lagi. Dan setiap kali aku melangkah masuk, aku selalu berharap aku masih cukup kuat untuk menjemputnya pulang.

Aku membelai punggungnya, menunduk mendekat, membiarkan suaraku menurun lembut seperti mantra yang hanya dirinya pahami.

“Wah, adik kembali lagi! Tapi adik terluka ya…” Aku tersenyum kecil,“Waktu itu kan udah pangeran kasih tahu mantra rahasia kalau kesakitan, adik lupa?”

Dalam matanya terpancar binar cahaya terang yang bahkan jarang aku temukan dalam sosok kakak dewasa. Ia berkedip terlalu lambat, tarik nafasnya terdengar lebih tipis, seolah tubuhnya mengingat sesuatu lebih dulu daripada mulutnya.

“Aku mau naik kuda! bawa aku ke kastil pangeran!!”

Seruan itu meluncur dari bibirnya dengan tawa yang retak, tawa yang seharusnya ringan, tapi kini terdengar seperti kaca tipis yang bisa pecah hanya karena aku berbicara terlalu keras. Aku tersenyum, meski tenggorokanku menegang.

“Kuda pangeran ada di sini adik,” gumamku sambil menggeser tubuhku, menunduk sedikit agar dirinya bisa memeluk bahuku. “Adik tinggal naik pelan-pelan ya, jangan jatuh.”

Ia merangkak mendekat, gerakannya goyah, tidak seluwes tubuh lelaki dewasa, tidak pula sepenuhnya seperti anak kecil, tapi seperti sesuatu yang tersesat di antara persimpangan realita. Jari-jarinya yang dingin menggantung di udara seakan mencoba mengingat bagaimana caranya meraih sesuatu.

Ketika akhirnya kakak memelukku dari belakang, aku merasakan tubuhnya mengendur, seperti beban yang perlahan mengalir menyusuri tulangku. Aku mencoba menggendongnya dengan hati-hati, namun dunia dalam dirinya sudah lebih cepat membentuk lanskapnya sendiri.

Dalam ingatan — atau mungkin dalam retakan kakak — kastil yang selalu ia sebut itu memang benar adanya. Ruang kecil di apartemenku perlahan berubah setiap kali diriku menutup jendela dan merengkuh sosok kakak kecil yang sedang bersandar di punggungku. Cahaya kuning lampu tidur memantul seperti kunang-kunang di tembok, dan lantai yang dingin mendadak menjadi padang rumput lembut yang tak bisa kulihat tapi bisa kurasakan dari cara kakak merapat padaku.

“Kakak lihat…” gumamnya sambil menunjuk udara. “Kudanya nunggu…”

Dalam matanya yang mulai berkabut, aku dapat melihat kilau samar: gerbang kastil putihnya, padang bunga berpendar yang hanya muncul ketika ia terjatuh terlalu jauh ke dalam gelembung yang dirinya buat sendiri di kepalanya. Disini ia selalu menjadi adik kecil yang sedang mencari pangerannya. Dan entah sejak kapan, aku — yang ia jadikan sosok itu.

Tapi dunia itu malam ini berbeda. Ada retakan di langitnya, seolah fantasi itu pun ikut terluka bersamanya. Ia membungkus lengannya di leherku, cengkeramannya terlalu erat untuk seorang anak, namun terlalu rapuh untuk seorang dewasa.

“Pegangan ya adik kecil.”

Aku merapatkan pelukanku pada tubuhnya. Kakak mengangguk kecil, lalu tiba-tiba wajahnya berubah merekah. Ada manja yang bukan sekadar manja, ada ketergantungan yang lebih dalam, lebih gelap, lebih butuh dari yang terlihat dari kedua kelopak mata. Ia mengusap leherku pelan, terlalu pelan, seperti mencari sesuatu yang tidak ia sebutkan.

Tidak lama suaranya pecah.

“Daeyoung… jangan tinggalin kakak..”

Nada itu bukan nada kakak kecil. Nada itu adalah kakak yang dewasa. Kakak yang ketakutan. Kakak yang membeku di antara persimpangan dunia yang terbentuk di kepalanya.

Tubuhku menegang.

“Adik kecil mau sama pangeran terus?” tanyaku pelan, mencoba menjaga bagian dari dunianya agar tetap aman.

Ia menelan ludah, kedipannya lambat, matanya mulai memerah. Tubuhnya merapat ke dadaku lebih keras, nafasnya memburu kecil.

“Aku mau Daeyoung…” Ia menggigit bibirnya, “Lebih dekat…”

Aku menghela napas panjang, Mengusap rambutnya, Mengembalikan ritme pada tubuhnya yang genting. Rasanya seperti sedang membawa bongkahan kaca yang bisa pecah walau terkena tiupan angin, seperti merengkuh tubuh yang sudah lama retak dan hanya menunggu waktu untuk dihancurkan.

“Adik, kita ke kastil dulu, ya,” bisikku. “Habis itu pangeran bakal di sini, nggak kemana-mana, nemenin adik disini.”

Ia mengangguk lagi, kali ini lebih kecil, lebih rapuh. Aku tahu itu bukan nyata. Tapi setiap kali aku memeluknya, dunia fantasi yang kakak buat itu seperti menempel di kulitku. Membiarkan sedikit cahaya kakak mengalir ke dalam diriku.

Dalam keadaan seperti ini, aku tahu persis di mata kakak aku bukan lagi sosok Daeyoung biasa. Aku adalah pangeran berkuda, berbalut baju besi yang berkilau, membawa pedang yang mampu menumbangkan setiap monster yang menghalangi jalannya. Di hadapannya, aku menjelma sosok terkuat yang pernah ia percaya; sang ksatria yang bisa merobohkan naga atau makhluk berkepala tiga hanya dengan dua atau tiga tebasan dari bilah logam yang kuselipkan di pinggang.

Become a member

Di bola matanya, bayanganku terpantul selembut awan, awan yang mungkin bisa ia sentuh dengan jari-jemari kecilnya, seolah seluruh dunia mendadak mengecil agar ia tak perlu lagi menjangkau terlalu jauh. Langkahku menjadi langkah yang tak gentar menyusuri jalanan berbunga, setapak dipenuhi harapan yang selalu memandu dirinya menuju terang yang ia cari.

Dan aku menyaksikan betapa sukanya kakak tenggelam di dunia mungilnya itu. Polos seperti cahaya pertama yang menembus kabut pagi, indah dengan cara yang membuat dada terasa penuh sekaligus kosong. Namun di balik senyumannya yang mengembang tanpa beban, aku pun perlahan mengerti sesuatu yang lebih tajam dari luka mana pun: semakin terang kebahagiaan yang ia temukan di sana, semakin jauh sang pangeran harus menempuh jalan pulang yang berliku. Semakin panjang langkah yang harus kutarik dari tanah fantasinya menuju dunia yang dapat memeluknya tanpa menghilangkan dirinya.

“Kak… kudanya udah capek belum?” bisiknya pelan, suaranya bergetar.

“Belum. Pangeran dan kuda pangeran kuat, apalagi untuk adik.”

Ia menggeliat kecil, kepalanya menyandarkan seluruh beratnya pada pundakku.

“Aku takut… kastilnya berubah bentuk… ada bayangan besar tadi… aku nggak tahu itu monster atau… aku.”

Aku menelan ludah saat retakan pertama muncul di dunianya. Fantasinya meredup, tapi bukan berarti ia pulang seutuhnya, justru berubah, bergeser ke arah yang lebih dewasa dalam rasa, namun tetap kanak-kanak dalam cara meminta. Seperti sebuah kerinduan yang belum punya bahasa: ingin digenggam, ingin diyakinkan, ingin diselamatkan. Dan aku bisa merasakannya, tarikan halus yang berteriak antara ingin kembali menjadi kecil dan ingin bersandar lebih dalam padaku, seperti benang tipis yang menjerat nafasku.

“Sini adik,” ucapku pelan, mengusap garis rahang yang menegang. “Adik lihat pangeran?”

“Iya…”

“Kalau pangeran pegang adik seperti ini…” tanganku menyusup ke belakang lehernya, hangat, menstabilkan, “…adik rasanya aman nggak?”

Ia mengangguk lagi, tapi kali ini nafasnya tercekat, seperti ada sesuatu yang ia tahan agar tidak pecah. Di titik ini aku tau, kakak bukan hanya mencari keamanan, tapi juga keberadaan. Deraian nafasnya menghangat di tengkukku. Jemarinya menggenggam baju bagian dadaku terlalu erat. Ada getaran dalam suaranya, sebuah permintaan yang belum ia pahami sendiri namun cukup untuk membuat badanku gemetar seperti dihancurkan dalam satu waktu.

“Daeyoung…” suaranya lebih rendah, lebih dekat dengan dirinya yang dewasa. “Jangan lepasin kakak… meski dunia aku berubah-ubah… jangan dilepas ya…”

Nada itu terlalu dalam, terlalu sadar, terlalu dekat dengan sisi dirinya yang dewasa. Aku merapatkan tubuhnya lebih dekat, cukup dekat sampai aku bisa merasakan hangat dan dinginnya kakak dari balik kain yang menutupi punggungku.

“Pangeran nggak akan pernah lepas genggaman adik.” “Aku di sini. Aku selalu di sini.”

Ketika aku berdiri sambil menggendongnya, tubuhnya bergetar halus. Ada goyangan kecil yang terasa seperti gema dari luka-luka lama yang kembali menuntut ruang. Getaran itu bukan hanya rasa sakit, itu adalah tanda bahwa dunia kecil yang kakak bangun di dalam kepalanya mulai retak, seolah ada monster tak bernama yang sedang menendang dinding-dinding kastil mungilnya. Ia menempel erat di bahuku, napasnya tersangkut di antara rengekan seorang anak dan gemeretak seorang pria dewasa yang kehilangan pijakan.

“Aku… nggak tahu harus jadi siapa…” gumamnya, suaranya tampak ringkih, seolah kata-kata itu sendiri takut pecah.

Nggak harus jadi siapa-siapa, kakak…” jawabku pelan, mencoba menjadi angin yang menenangkan badai di dadanya. “Cukup jadi kakak yang lagi aku pegang sekarang, ya?”

“Aku capek banget… tapi kalau aku istirahat, nanti monster aku keluar…”

Langkahku terhenti. Sekali lagi aku dihadapkan pada pintu tipis itu, garis halus antara dirinya yang dewasa dan dirinya yang perlahan runtuh.

“Pangeran bakal jagain adik,” ucapku perlahan, sengaja menurunkan suaraku menjadi nada dongeng yang selalu berhasil menariknya kembali. “Kalau monsternya datang, biar dia ketemu pangeran duluan.”

Tubuhnya menegang, bukan ketakutan, bukan pula kelegaan yang utuh, melainkan sesuatu yang tinggal di celah sempit antara dua dirinya. Dalam rengkuhanku, ia menjadi dua hal sekaligus: anak kecil yang mencari tempat bersembunyi, dan lelaki letih yang sudah terlalu lama memaksa dirinya terlihat kuat.

Kakak memelukku lebih erat, wajahnya tenggelam dalam lekuk leherku, seakan aroma kulitku sendiri adalah pintu pulang terakhir yang ia punya.

“Pangeran…” panggilnya lirih.

“Iya?” bisikku.

“Apakah adik boleh tinggal di kastil pangeran sebentar?”

Aku memejamkan mata. Pertanyaan itu — setiap suku katanya — adalah tanda bahwa hari ini kakak telah jatuh paling jauh. Sudah terseret arus halus yang memaksa dirinya melarikan diri dari realita yang terlalu tajam. Langkahnya sudah berpijak di atas awan dunia kecilnya, begitu ringan hingga angin pun bisa merobohkannya. Dunia yang indah namun rapuh, dunia yang jika ia salah melangkah sedikit saja, pahitnya kenyataan bisa menebas pergelangan kakinya tanpa ampun.

“Boleh, adik..” jawabku, mengencangkan genggaman tangannya seolah aku bisa menahan seluruh langit agar tidak roboh di atasnya. “Malam ini adik tidur di kastil pangeran, ya.”

Sesampainya di sofa — yang dalam mata kakak selalu menjelma menjadi singgasana kecil yang menunggu pangerannya kembali — aku menurunkannya perlahan. Gerakanku hati-hati, seolah jika aku salah meletakkan ujung jemari saja, dunia kecilnya bisa retak di bawah beratnya nafas.

Di sekelilingku, dunia yang barusan memeluk kakak perlahan menghilang seperti nafas terakhir dunia yang letih. Dari sudut mataku, aku melihat kelopak-kelopak bunga yang tadi menghampar di sepanjang jalan langkahnya mulai gugur satu per satu, berubah menjadi serpih bayangan di lantai apartemenku yang sesungguhnya dingin. Cahaya-cahaya kecil yang tadi menari mengelilingi tubuh mungilnya mulai terangkat, terurai, lalu lenyap seperti bintang yang padam sebelum subuh. Bahkan langit warna-warni yang hanya kakak bisa lihat kini memudar, warnanya ditarik kembali oleh gelap yang diam-diam menunggu.

Aku menarik hoodie abu-abu itu lebih rapat ke bahunya, serasa mengikat realitas agar tidak berlari mendahuluinya. Kakak menatapku dari balik kelopak mata yang berat, bulu matanya bergetar pelan seperti sayap kupu-kupu yang masih canggung menghadapi angin dunia.

“Pangeran,” suaranya pecah kecil, nyaris tidak terdengar, “…kalau adik hilang lagi, tolong cari adik ya…”

Hatiku mengencang. Selalu bagian ini yang membuatku ingin merobek seluruh dunia, baik yang nyata maupun yang ia ciptakan demi memberinya tempat pulang yang tidak perlu ditakuti.

Tangannya yang masih terlukis merah tipis kuusap perlahan sebelum kubungkus dengan kain bersih. Ada dorongan samar di dalam diriku, keinginan untuk mengubur seluruh rasa sakit yang pernah menggores lengan kecilnya dan menggantinya dengan bahagia yang utuh. Ibu jariku menyusuri pipinya, lembut dan hati-hati, memastikan ia benar-benar melihatku meski bayang-bayang dunia kecilnya masih menggantung rapuh di sudut matanya.

“Pangeran bakal selalu cari adik,” bisikku, suaraku menurun selembut mantra yang hanya kami berdua pahami,
“baik di sini, atau di dunia yang betul-betul jadi tempat kaki adik berpijak.”

Dan itu cukup.

Tubuhnya merespons terlebih dulu sebelum pikirannya bekerja. Bahunya meluruh, nafasnya merata, dan ia tenggelam dalam tidur. Aku tahu ini bukan tidur penuh damai, melainkan tidur yang terasa seperti perjanjian senyap bahwa kakak kecil akan kembali lagi suatu saat nanti, asalkan pangerannya tetap menunggu di titik yang sama saat ia membuka matanya lagi.

Aku menunduk, menyatukan keningku dengan keningnya, membiarkan kehangatan nafasnya menyapu tulang pipiku. Di dalam hening itu, aku mengizinkan diriku melepas satu harapan kecil, harapan yang tak berani kusampaikan keras-keras karena bisa membuat gerbangnya terbuka lagi.

“Aku bakal jagain kakak,” gumamku lirih, “meski kastil kakak retak, meski pintu gerbang kakak kebuka terlalu sering, meski dunia kecil kakak muncul dan hilang dan muncul lagi.”

Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kakak menutup gerbang dunianya dengan lembut. Tanpa suara, tanpa badai, tanpa cahaya yang pecah, seolah ia menyerahkan seluruh dirinya ke dalam genggamanku, dan memintaku untuk tinggal tanpa kata. Dan malam itu udara terasa sedikit lebih hangat di ruang apartemenku, menemani seorang kakak yang tertidur di pangkuanku, dan seorang pangeran yang akan selalu kembali untuk menjemputnya.