Actions

Work Header

There's Luck in Lilac Class

Summary:

Sebagai mahasiswa tingkat akhir, sudah sepantasnya Jungsu sedikit lebih depresif daripada manusia pada umumnya. Ditambah Kakak tersayang menambah sidequest untuk menjaga sang keponakan, Lee Jooyeon, yang punya rasa penasaran setinggi Gunung Everest.

"Om Jungsu pernah ke bawah tanah?"

Ini semua hanya akan setimpal jika ada orang yang cukup baik yang bisa menemani Jungsu menjaga Jooyeon.

Tenang, ada kok.

Tunggu, apa?

Notes:

i had so much fun writing this.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

Jungsu itu manusia paling sibuk di muka bumi ini. Titel “mahasiswa akhir” yang memaksanya untuk menjadi seperti itu. Menulis skripsi, ambil sampel ke lapangan, tulis lagi, dan… selesai? Tentu tidak. Masih ada revisi, revisi, dan revisi.

Bahkan hal-hal barusan bukanlah urusan paling rumit yang harus dilakukan oleh mahasiswa tingkat akhir. Tapi bimbingan dengan dosen lah yang menjadi sumber stressnya.

Pak Dosen: Saya ada di kampus hanya sampai pukul 12. Yang mau bimbingan silakan temui saya di ruang dosen.

Mahasiswa 1: Baik, Pak.

Mahasiswa 2: Siap, Pak.

Tapi ketika mahasiswa sudah menunggu di tempat dan waktu yang ditentukan?

Jungsu: Pak, apa kami bisa memulai sesi bimbingan skripsi?

Pak Dosen: Oh, mohon maaf. Saat ini saya sedang [isi kegiatan apa pun selain membimbing skripsi]. Lain kali saja, ya.

…Lain kali saja, ya.

Jungsu: 😀🖕

Jelas Jungsu tidak mengirim pesan yang terakhir. But, you get the idea. Bukan sekali dua kali Jungsu harus membatalkan kegiatannya sendiri demi bisa bertemu dengan Pak Dosen. Demi satu patah-dua patah kata dan jika tidak… hampir selalu ada leher yang ingin ia patahkan.

Benar-benar melelahkan. Jungsu hanya mau lulus.

Jadi, ketika kakak perempuan Jungsu satu-satunya berdiri di depan pintu kamar kos sambil menggendong keponakannya, Jooyeon, ia merasa alam semesta memang membencinya.

“Kakak titip dulunya. Semua peralatan Jooyeon ada di tas dan koper ini. Snack, baju ganti, seragam, buku tulis, buku latihan—kamu ada latihan baca-tulis, ya, Nak, jangan main gim terus. Pokoknya kebutuhan Jooyeon lengkap semua di sana. Buat makan, nanti Kakak transfer aja ke rekening kamu. Kalau ada apa-apa cepat kabari, langsung telepon aja kalau Kakak ga balas chat. Terus nanti—”

“Kak,” sahut Jungsu memotong ocehan si Kakak.

“Emang Kakak mau ke mana?”

“Kakak ada dinas kerja ke kantor cabang sampai lusa. Papa Jooyeon juga lagi dinas keluar kota dari hari Senin. Makanya, Kakak mau titip Jooyeon sama kamu.”

“Biasanya titip ke Mami?”

“Mami lagi ga enak badan. Papi ketularan Mami. Kalau Kakak titip Jooyeon di sana, yang ada cuma ngerepotin Mami dan Papi doang.”

Ah, tiba-tiba kepala Jungsu sakit.

“Minimal izin dulu ke aku, Kak.”

“Sudah, kok,” kata Kakak sembari merogoh kantong jaket dan mengeluarkan ponsel miliknya. Layarnya menampilkan ruang percakapan dengan Jungsu.

Jungsu: Oke.

Satu lagi sisi negatif yang diberikan oleh skripsi: pesan melindur yang entah kapan Jungsu baca dan entah kapan pula Jungsu balas. Tapi bukti sudah ditampilkan dan tersangka tidak bisa memberikan pembelaan. Jadi, dengan sangat terpaksa, Jungsu menerima Jooyeon di kamar kosnya yang sempit ini.

Sejujurnya, Jooyeon bukan anak nakal yang setiap jam harus diberikan petuah. Jooyeon hanya… hiperaktif. Hiperaktif kakinya dan mulutnya. Bocah yang tahun ini baru masuk TK itu sedang melewati masa-masa paling penasaran dalam hidupnya. Dunia ini begitu unik, seru, dan asik sekali untuk diulik. Termasuk mengulik kehidupan Jungsu.

“Om Jungsu, ini apa?”

“Jangka sorong.”

Jangkar sorong itu apa?”

“Sejenis penggaris.”

“Buat apa?”

“Alat ukur batu.”

“Batu apa?”

“Batu alam.”

“Dari mana?”

“Dari bawah tanah.”

“Om Jungsu pernah ke bawah tanah?”

“Pernah. Kepikiran untuk pindah ke bawah tanah juga pernah.”

“Jooyeon bisa ikut tinggal di bawah tanah?”

“Ga bisa. Jooyeon—” Jungsu menghela napas. “Kamu bukannya ada latihan baca-tulis?”

Jungsu menoleh ke arah Jooyeon dan menemukan bocah itu masih sibuk memainkan jangka sorong miliknya di atas kasur.

“Ada, tapi Jooyeon ga bisa kerjain sendiri.”

Jungsu kembali menghembuskan napas kasar. “Ya Tuhan, tolonglah hamba.”

Satu jam selanjutnya, Jungsu membantu Jooyeon berlatih baca-tulis. Lima belas menit setelah itu Jungsu makan malam bersama Jooyeon. Tiga puluh menit kemudian Jungsu bermain gim dengan Jooyeon. Sepuluh menit lainnya Jungsu meninabobokan Jooyeon.

Tepat ketika Jungsu hendak melanjutkan mengerjakan revisi, ada pesan masuk ke ponsel.

Pak Dosen: Besok saya di kampus.

Jungsu sudah cukup berpengalaman melewati fase mengerjakan skripsi ini sampai bisa mengukur keseriusan niat Pak Dosen untuk membimbing mahasiswanya dan pesan di atas adalah level paling serius. Artinya, besok Pak Dosen memang benar-benar membuka sesi bimbingan.

Ia melirik jam yang tertera di layar ponsel. Pukul 22.00.

“Ah, fuck!”

 


 

Jungsu tidak tidur. Semalaman. Untuk mengerjakan revisi dan mempersiapkan pertanyaan yang akan ia sampaikan kepada Pak Dosen saat sesi bimbingan nanti.

“Ayo, Jooyeon, nanti Om terlambat.”

Jangan lupakan Jooyeon. Jungsu sudah susah payah membangunkan bocah itu, memandikannya, memakaikan seragam, memakaikan sepatu, melepaskan sepatunya lagi, memakaikan kaos kaki terlebih dahulu untuk kemudian mengulang memakaikan sepatu, dan menyuapi Jooyeon sarapan sembari mempersiapkan segala kebutuhan bimbingan skripsinya. Jungsu sudah susah payah untuk menjadi paman yang baik, jadi jangan pernah lupakan Jooyeon.

“Kenapa pagi banget, sih?” tanya Jooyeon sembari mengerjapkan mata yang masih mengantuk.

“Om ada urusan di kampus. Jadi, Om harus antar Jooyeon ke sekolah lebih pagi dari biasanya.”

“Jooyeon ga suka tinggal sama Om, berangkat ke sekolahnya pagi banget.”

“Sama, dong. Kalau gitu bilang ke Mama, jangan minta tolong titip kamu ke Om lagi,” bisik Jungsu kepada dirinya sendiri.

Setelah memastikan Jooyeon duduk aman di kursi penumpang belakang lengkap dengan sabuk pengamannya, Jungsu langsung menyalakan mobil dan bersiap mengantar Jooyeon ke sekolah.

Ia pernah ke sekolah keponakannya sebelumnya. Waktu itu Kakak meminta tolong untuk menjemput Jooyeon dan mengantar bocah itu ke rumah Mami karena Kakak dan Kakak Ipar yang sedang sibuk bersamaan. Jungsu bersedia karena kebetulan ia memang berencana untuk pulang ke rumah.

Untungnya, sekolah Jooyeon tidak jauh dari rumah keluarga Kakak. Yang mana artinya tidak jauh dari kosan Jungsu. Yang artinya lagi, tidak jauh dari kampus. Satu keberuntungan kecil untuk Jungsu.

Ia langsung memarkirkan mobil di parkiran sekolah yang masih sepi. Menggandeng Jooyeon untuk turun dari mobil dan tidak lupa mengunci mobil. Kelas Jooyeon bernama Kelas Lilac. Jungsu mempercayai Jooyeon untuk menunjukkan kelasnya dan bocah itu mengiyakan.

Kepercayaan itu hanya bertahan lima menit karena ini sudah belokan ke lima yang mereka ambil dan mereka malah kembali ke parkiran mobil.

“Jooyeon, ini kita ke parkiran lagi. Kamu ingat kelas kamu di mana, ‘kan?”

“Ingat, Om. Jooyeon cuma ga mau ke kelas dulu karena pasti masih sepi.”

Jungsu mengambil napas dalam, tapi kali ini ada niatan untuk tidak ia hembuskan lagi selamanya. Setelah menenangkan diri, segeralah ia gendong keponakannya.

Mungkin ada satu lagi keberuntungan kecil untuk Jungsu pada hari itu karena ia melihat seseorang—yang kelihatannya adalah seorang guru—berjalan di lorong dekat dari tempatnya berdiri. Firasatnya tepat, tanpa menunggu apa pun, Jungsu meminta tolong kepada Bu Guru untuk menunjukkan jalan ke Kelas Lilac.

Kelas dengan corak kuning serta ungu itu ternyata berada di lantai dua.

“Ini Kelas Lilac. Jooyeon bisa dijemput jam 11.00. Tapi sebelum itu, boleh tau siapa nama kakaknya?”

Bu Guru bertanya kepada Jungsu, tapi Jungsu sedang memperhatikan seorang laki-laki—yang sepertinya seumuran dengan Jungsu—sedang bermain dengan beberapa anak lain yang juga sudah hadir. Apakah laki-laki itu guru? Sepertinya tidak, masih terlalu muda. Lagipula dia tidak menggunakan seragam seperti Bu Guru, hanya kemeja dengan warna senada. Apakah guru magang? Mungkin–

“Om.”

Tamparan di pipi.

“Aw!”

Jungsu menoleh ke arah Jooyeon yang masih ia gendong. Mata Jooyeon melirik ke Bu Guru.

“Ah, maaf, Bu. Nama saya Jungsu. Saya Om-nya Jooyeon.”

Bu Guru mengulangi lagi informasi jam kepulangan Jooyeon yang kali ini diiyakan oleh Jungsu. Setelah memastikan semua informasi ia dapatkan, Jungsu menurunkan Jooyeon dari gendongannya dan membiarkan Bu Guru mengambil alih.

Tapi pandangan Jungsu kembali kepada laki-laki dewasa di dalam Kelas Lilac yang kali ini dikerumuni oleh lima bocah lain. Parahnya, kali ini laki-laki itu menyadari tatapan Jungsu dan pandangan mereka bertemu. Hidung yang ramping, dagu yang tajam, mata yang foxy. Oh, shit.

 


 

Well, that was easy. Jungsu sembilan puluh persen yakin kalau revisi kali ini adalah revisi terakhir. Pak Dosen sudah memberikan lampu hijau kepada Jungsu untuk segera mendaftar sidang. Jika Jungsu bisa segera menyelesaikan revisi, ia bisa meminta tanda tangan Pak Dosen untuk segala keperluan administrasi pendaftaran sidang skripsi di minggu ini juga. Pulang ke kosan, istirahat, lalu kerjakan revisi nanti malam.

Jemput Jooyeon, kata suara di kepalanya.

Ah… benar. Jangan lupakan Jooyeon.

Untungnya, Jungsu tidak terlalu terlambat. Jam tangannya menunjukkan pukul 11.15 sesampainya ia di sekolah Jooyeon. Begitu mobil terparkir, langkahnya langsung menuju Kelas Lilac.

Jungsu berdiri di depan Kelas Lilac begitu ia melihat sosok itu lagi. Laki-laki berambut pendek yang ia lihat tadi pagi. Masih dengan kemejanya, tapi kali ini dengan bagian pergelangan tangan yang digulung sampai ke siku. Ia sedang merapikan balok kayu yang berserakan di lantai, dibantu oleh beberapa anak lain.

“Om Jungsu!” seru Jooyeon datang dari tengah kelas.

Seruan Jooyeon cukup membuat laki-laki di dalam kelas itu menoleh ke arah Jungsu. Ia memasukan balok kayu yang ada di tangannya ke dalam boks untuk kemudian berjalan mendekatinya.

“Om-nya Jooyeon?”

Jungsu tersenyum kikuk. “Iya.”

Laki-laki itu tidak berkata apa-apa lagi yang membuat Jungsu semakin salah tingkah. Jadi tatapannya ia alihkan kepada Jooyeon dan kemudian menyadari sesuatu.

“Tas kamu mana?”

Jooyeon menoleh ke belakang punggungnya. “Oh, iya!”

Bocah itu berlari lagi ke dalam kelas meninggalkan Jungsu dengan guru bernama…

Oh Seungmin.

“Oh… namanya Seungmin.”

“Maaf?”

Jungsu menyadari Seungmin yang melihat ke arahnya. Ia menunjuk pin nama yang menempel di dada Seungmin. “Nama Bapak Seungmin?”

Seungmin memberikan raut wajah lucu. “Jangan panggil Bapak. Saya masih muda, cuma guru magang di sini.”

Jungsu mengangguk. “Seumuran?”

“Huh?”

“Seumuran sama saya?”

“Iya.”

Jungsu mengangguk lagi. Eh, tunggu—

“Emang tau umur saya berapa?” tanya Jungsu.

“Tau. 22 tahun, ‘kan? Kata Jooyeon, sih, gitu.”

Kata Jooyeon, sih, gitu. Apa Seungmin baru saja mengakui kalau dia mencari tahu tentang Jungsu lewat keponakannya?

Iya, Seungmin akui itu dan pria itu tidak malu sama sekali. Malahan rasanya seperti Seungmin mau kalau Jungsu tahu. Terbukti dari tatapannya dan senyuman jahilnya.

“Om, ayo pulang,” seru Jooyeon tiba-tiba.

Jungsu hampir saja menyuruh Jooyeon untuk kembali masuk ke kelas agar dirinya bisa lebih lama mengobrol dengan guru magang-tampan yang saat ini sedang terang-terangan flirting dengan Jungsu jika saja ia tidak ingat revisian yang menunggu. Maka, Jungsu menggendong Jooyeon dan kemudian meminta bocah itu untuk berpamitan kepada gurunya.

“Hati-hati, Jooyeon. Jangan lupa kerjakan latihan yang Kak Seungmin kasih, ya.”

Jooyeon membuat gerakan siap di dahi.

“Kak Seungmin sudah makan siang?”

Seungmin menoleh kepada Jungsu.

Jooyeon menoleh kepada Jungsu.

Jungsu ingin mengubur dirinya sendiri.

“Gimana, Om?”

Tidak ada langkah mundur mulai dari sekarang. Jungsu hanya bisa untuk terus maju.

“Kak Seungmin….” Jungsu mengatur napasnya. “Sudah makan siang?”

Seungmin tidak langsung menjawab pertanyaan Jungsu. Pria itu menahan tawanya yang hanya semakin membunuh Jungsu secara perlahan.

“Saya sudah makan siang, Om.”

Ah…

“Gitu, ya—”

“Tapi saya suka dessert.”

“Kakak suka dessert?”

“Iya, saya suka dessert,” ulang Seungmin. “Saya sudah makan siang, tapi belum dengan dessert-nya.”

Tiba-tiba seperti ada lampu yang menyala di kepala Jungsu. Ia kemudian berkata, “Kak Seungmin suka dessert apa?”

“Hm….” Seungmin terlihat berpikir. “Jooyeon suka kue apa?”

“Stroberi! Cokelat! Cokelat dan stroberi!”

“Kak Seungmin tahu kafe enak yang jual kue cokelat dan stroberi. Jooyeon mau ke sana?”

Jooyeon mengangguk antusias.

“Oke. Jooyeon tunggu sama Om di mobil, ya. Sepuluh menit lagi Kak Seungmin menyusul.”

Jooyeon mengangguk lagi.

Jungsu anggap itu sebagai tanda untuk dirinya juga. Jadi, setelah Seungmin kembali masuk ke dalam kelas, ia berjalan menuju parkiran.

Apa yang baru saja terjadi? Kenapa hari ini tiba-tiba begitu… beruntung? Ini keberuntungan yang keempat pada hari ini dan Jungsu curiga kalau barusan adalah stok terakhir keberuntungannya dalam hidup. Kepalanya blank, tidak ada kepulan kata seperti yang biasa terjadi setelah melakukan sesi bimbingan skripsi. Apakah itu pertanda baik? Apakah pertanda buruk?

Otaknya masih memproses apa yang terjadi bahkan sesampainya ia di dalam mobil dan menaruh Jooyeon di bangku penumpang belakang. Ia duduk di belakang kemudi dan melihat ke bangku penumpang di sampingnya yang sebentar lagi akan diisi oleh… Seungmin?! This is insane.

Jungsu menoleh kepada Jooyeon yang sudah sibuk dengan gimnya. Bocah itu juga tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Saat ini kepalanya mungkin hanya berisi kue cokelat dan stroberi yang dijanjikan Seungmin. Tunggu… atau malah semua ini terjadi karena bocah itu? Apa selama ini Kakaknya menyembunyikan kemampuan Jooyeon yang bisa membawa keberuntungan?

Jungsu punya ide gila yang mungkin akan ia sesali nantinya, tapi biarlah. Sekali lagi, tidak ada jalan mundur sekarang. Jungsu hanya bisa untuk terus maju.

“Jooyeon.”

Jooyeon menoleh.

“Gimana kalau mulai dari sekarang, Om yang jemput Jooyeon pulang sekolah?”

Jooyeon tidak mau, tapi kepalanya penuh kue cokelat dan stroberi. Kalau Om yang jemput, nanti Kak Seungmin juga ikut. Jooyeon bisa makan kue cokelat dan stroberi. Jadi Jooyeon mengangguk setuju.

 

Notes:

kinda find it funny that you dont need to made up a kindergarten class/school name in this fandom.