Actions

Work Header

Payung Teduh

Summary:

Di saat kita pertama kali bertemu, cuaca waktu itu sedang hujan dan kamu yang sedang tersenyum ke arahku menawarkan sebuah payung. Sejak saat itu mataku menuju dirimu terus menerus, aku tidak tahu caranya mendekatimu, tapi pada akhirnya aku menemukan caranya. Pertemanan dan kesabaran, itulah yang dibutuhkan untuk mendekati dirimu.

Notes:

https://open.spotify.com/track/3AAAGS7iM1ekDywqdYMJG2?si=c8ce648f18044a53

Ajiw - Kim Jiwoong
Abel - Sung Hanbin

Rana - Ricky
Gilang - Gyuvin
Genta - Gunwook

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Menuju senja

Notes:

disclaimer: admin gak pernah kuliah (belum) jadi kalo ada scene yang kurang cocok, minta maaf. Tapi pengetahuan tentang dunia perkuliahan lumayan kok, banyak baca bertema kuliah.

Q: Kenapa gak tema highschool aja, kalo belum tau dunia perkuliahan
A: Tema cerita ini cocoknya sama anak kuliahan ^^ lebih make sense.
tapi kalo habis ini selesai, mungkin nanti aku buat tema highschool.

Selamat baca! ^3^

Chapter Text

Abel hanya seorang mahasiswa biasa, tidak ada yang benar-benar spesial di kehidupannya saat ini. Isinya hanya tentang kuliah terus pulang atau mungkin membaca buku di kafe sambil menikmati secangkir caffe latte, ia menggunakan waktunya untuk menikmati kehidupan kuliahnya. Sebelum memasuki semester 6, di mana dirinya akan sibuk dengan proposal dan dilanjutkan oleh skripsi di semester 7.

Mahasiswa kupu-kupu ini juga jago bersosialisasi, walau begitu ia tidak memiliki banyak teman. Kemampuan untuk bergaul dengan orang-orang di jurusannya, hanya untuk sekedar nilai dan sudut pandang orang, karena kesan mereka pada Abel itu penting untuk berteman. Abel juga baru masuk kuliah beberapa bulan lalu, ia agak kesusahan dengan dunia perkuliahan, tapi pada akhirnya Abel dapat menyesuaikan diri dengan teman sebayanya. Orang tuanya pun mendukung dan menyemangati Abel untuk berkuliah.

Saat ini Abel hanya ingin menyelesaikan tugas lalu tidur, ia agak capek karena tugas yang dikerjakan oleh dia terkena tumpahan kopi selagi dirinya ingin mengambil cemilan. Dan deadline nya besok, tentu ia harus mengejar waktu, sekarang sudah pukul 10 malam. Kadang Abel berpikir, apakah hidupnya sudah sempurna seperti ini saja atau dia butuh seseorang, pacaran yah...? Ia tak pernah membayangkan punya pacar atau apapun itu yang berhubungan dengan cinta.

Kehidupannya benar-benar monoton, dari zaman SMP, SMA, sampai dengan kuliah. Yang Abel pikirkan hanya mengerjakan tugas, tidur, sekolah, dan menjadi juara satu. Bahkan pergi keluar bersama teman pun jarang, mungkin jarangnya itu bisa dihitung dengan jari, walau begitu teman-temannya setia dengannya. Teman-teman Abel yaitu, Rana, Gilang, dan Genta, mereka semua sayang sekali pada Abel, teman komplek dan juga teman les belajar, walau mereka lebih muda beberapa tahun dari dirinya.

Dipikir-pikir Abel rindu juga sama teman-temannya, tolong ingatkan Abel bahwa mereka hanya berbeda tempat saja, Abel kuliah di dalam kota, Rana SMA kelas 3 yang sebentar lagi ia akan lulus, Gilang yang berada di kelas 2 SMA, dan Genta yang masih berada di kelas 1 SMK. Setelah ia mengingat kenangan dengan temannya itu, Abel teringat dengan tugasnya dan lanjut mengerjakan tugas sketsanya dengan sedikit terburu-buru, ia bersumpah dalam hati kenapa dirinya sangat ceroboh, jika saja lebih hati-hati mungkin Abel tak perlu mengulang tugasnya itu.

Well, waktu tidak bisa diputar ulang. Akhirnya setelah mengerjakannya selama 2 jam, ia selesai, lalu Abel mengangkat kepalanya dan melihat jam dinding di atasnya. Sekarang pukul dua belas malam lebih sepuluh, ia hanya menatapnya lalu merebahkan dirinya di atas kasur, langsung pergi tertidur saja tanpa merapikan barang-barangnya, 100% akan dimarahi oleh sang ibunda.

Abel masih tinggal bersama orang tuanya, kampus impiannya hanya berjarak 40 menit jika tidak macet, dan akan memakan waktu satu jam setengah jika macet dari tempat tinggalnya. Ia bersyukur, masih bisa tinggal tanpa biaya apapun... ralat, Abel membayarnya dengan hasil nilai yang bagus.

"ABEL! Kok kamar kamu jadi berantakan seperti ini, kamu habis ngapain sih" Sang ibunda yang penasaran dengan kondisi anaknya pun membuka kamar pintu Abel lalu tiba-tiba saja disuguhi pemandangan seperti kapal laut pecah. Teriakan sang ibunda sepertinya membangunkan tuan putri yang sedang tertidur nyenyak.

Abel lalu mengucek matanya dan mengambil ponselnya yang berada tepat di samping dirinya. Ia lalu terperanjat dan segera pergi mengambil handuk dan baju, meninggalkan ibundanya begitu saja yang masih mengomel dengan nada khas ibu-ibu.

Gawat sekali sungguh, Abel bangun pada pukul delapan lewat tujuh. Abel benar-benar kaget dan tergesa, ia ada kelas pagi hari ini, pukul sembilan kelasnya dimulai. Ia langsung mandi bebek, gosok gigi, dan memakai baju seadanya. Meski penampilannya agak kusut, ia datang tepat waktu, pukul sembilan kurang 10 menit. Abel lalu mengambil tempat yang masih kosong, salahnya sendiri ia datang di waktu yang sangat mepet, padahal biasanya ia duduk di tengah-tengah.

Kelas pun dimulai dengan dosen yang membahas materi dan memberikan tugas baru lagi, Abel merutuki dosen seninya itu. Tugas yang tadi malam ia kerjakan baru saja selesai, masa sudah ada tugas baru lagi. Tentu Abel hanya bisa menerima tanpa mengeluh kepada dosennya, ia sudah biasa sebenarnya, cuma tetap saja menyebalkan. Setelah kelas selesai, Abel pun merapikan pensil dan bindernya, memang dia saja yang terlalu rajin. Padahal kalau dilihat-lihat tidak ada yang membawa binder atau buku catat, Abel lagi pengen nulis, jadi ia bersyukur bahwa dirinya kemarin malas membereskan tas.

Abel pun pergi ke kantin untuk makan, ia terburu-buru jadi tidak sempat sarapan. Palingan cuman sepotong roti bekas kemarin dia makan, cukup untuk mengisi perutnya sebelum dosen memulai materinya. Abel pun memesan ayam geprek tanpa sambal, jangan ditanya kenapa seleranya seperti itu. Ia pun duduk di meja yang kosong, masih jam 10, kantin tidak terlalu ramai seperti jam makan siang.

Dia pun mengambil ponselnya dan mengulir sosial media selagi menunggu makanannya selesai, sejujurnya ia tak perlu menunggu lama, ayam geprek itu tinggal digoreng lalu digeprek setelah itu selesai. Setelah namanya dipanggil, ia pun mendatangi ibu kantin dan mengambil pesanannya. Abel pun makan dengan tenang tanpa tergesa takut terselak.

Beberapa menit kemudian, Abel pun habis dengan makanannya. Perutnya sudah kenyang, tujuan selanjutnya adalah perpustakaan, Abel akan baca-baca materi sedikit dan menambah wawasan saja. Setelah itu lanjut kelas berikutnya pukul 2 siang.

⏝̅⏝̅⏝̅ ୨ ☔ ୧ ⏝̅⏝̅⏝̅

Akhirnya sks hari ini selesai juga. Ia melangkah dengan pelan, menikmati angin sejuk siang menuju sore. Tunggu dulu, sejuk?

Abel pun mengangkat kepalanya untuk melihat ke atas langit dan sepertinya benar apa yang dia pikirkan tadi, langitnya mendung. Sore ini akan hujan, Abel tiba-tiba jadi ingat, ia akan pulang sendiri nanti. Sebentar... Oh sial, Abel lupa membawa payung. Kalau beli lagi, ia harus menyeberangi jalan raya. Seharusnya ia melihat prediksi cuaca biar tidak lupa bawa payung.

Sore itu tak secerah pada hari-hari biasa yang Abel lewati, kali ini sang langit lebih memilih untuk menjatuhkan kesedihannya. Udara yang cukup sejuk, lama kelamaan berubah menjadi dingin, membuat Abel kedinginan. Ia hanya pakai kaos dan cardigan tipis, tentu saja akan kedinginan.

Ia pun mendudukan dirinya di kursi depan untuk menunggu hujan reda, tetapi malah tambah deras. Ia paling tidak suka menunggu, maka saat Abel ingin menerobos hujan, sebuah tangan muncul dengan payung di genggamannya.

Abel pun menoleh dan mendapati pria itu tersenyum, lalu mengambil pergelangan tangan Abel dan menaruhnya di telapak tangan miliknya. Abel hanya bisa terdiam, sambil tersipu sedikit.

"Jangan menerobos hujan, nanti sakit Abel" Seru pria itu sambil menatap pemuda imut di depan dirinya, Abel lupa-lupa ingat siapa pria ini. Tak lama kemudian pria itu pun terkekeh.

"Abel gak ingat? Aku Ajiw, kakak pernah mandu kamu pas ospek, masa lupa sih" Ucap Ajiw dengan nada yang dibuat seolah-olah dia sedih karena dilupakan, Abel lalu mencoba ingat sosok kak Ajiw ini. Ah dia ingat, waktu itu kak Ajiw yang menolong dia sebab pergelangan kakinya terkilir karena ia sangat ceroboh tersandung batu yang jelas-jelas ada di depan mata.

"Kak Ajiw... aku ingat, waktu itu kakak yang nolong aku pas kakiku kesandung batu terus terkilir. Makasih ya kak" Abel sambil tersipu mengucapkan serangkain kata itu. Lalu tanpa sadar tangan Ajiw mengelus pucuk kepala Abel.

"Santai aja bel, itu udah 4 bulan atau 5 bulan lalu. Lagipula sudah jadi tugas kakak buat jagain kamu sebagai anak ospek waktu itu" Ajiw tersenyum ramah dan hangat padanya, Abel lalu memalingkan wajahnya menghindari tatapan Ajiw.

"Kak, uhh udah ya. Aku mau pulang, makasih buat payungnya" Abel pun berlari kecil di atas hujan yang sudah mereda, Ajiw hanya membalas lambaian Abel. Kemudian dirinya pergi dari situ dan membuka ponselnya, ia mengetik nama Abel di kontaknya dan ketemu. Sudah lama sekali ia tak berbicara dengan anak itu, lucu sekali.

𖤐⭒๋࣭ ⭑𓍯𓂃⁀➴ Bersambung

Notes:

https://tellonym.me/Ranomansen

Please be nice! :D makasih udah baca jyungbin