Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-12-03
Words:
3,643
Chapters:
1/1
Comments:
8
Kudos:
14
Bookmarks:
2
Hits:
83

Five-Spice Diner

Summary:

Umurnya baru lima belas tahun ketika Jiung mendeklarasikan bahwa Chicken 'n Waffles di Five-Spice Diner adalah kelezatan yang sebenarnya. Ia berjanji tidak akan pernah melupakan memori bersejarah itu.

"Ayam gorengnya enak banget!"

Jiung juga akan memastikan untuk selalu menyertai Jungsu di dalam memori yang sama.

Notes:

ini pertama kalinya gue posting crossover fic. like, ever lol.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

“Sendirian?”

Ada suara yang sangat familiar datang dari pintu aula. Dari posisi duduknya di lantai lorong, Jiung hanya bisa melihat kaki si pemilik suara berjalan mendekat. Langkahnya terus mendekat sampai kemudian ia berhenti tepat di depan Jiung untuk kemudian berjongkok.

“Lo kelihatan—”

“Fucked up?”

“—kusut.”

Jiung terkekeh. Jungsu cukup baik menyebut Jiung kusut alih-alih berkata yang sejujurnya. Terakhir kali Jiung melihat dirinya di cermin adalah sekitar satu setengah jam yang lalu, sebelum pesta prom dimulai, tapi Jiung yakin kalau penampilannya sekarang jauh lebih buruk daripada saat itu. Semua berkat berton-ton gula dan kafein yang ia tenggak dari minuman sajian pada pesta ini.

Let’s have fun, they said.

Forget about all the worries, they said.

Well, Jiung did. And what does that make him?

Ia melupakan seluruh beban yang sudah mengendap di kepalanya selama menjalani persiapan ujian masuk perguruan tinggi. Seluruh murid tahun ketiga mengikuti ujian terkutuk itu minggu kemarin, rasanya sudah lebih lega, tetapi Jiung masih sering terbayang ada ujian besar yang harus ia jalani. Baru kemarin Mami menegur ketika Jiung sedang memasang tali sepatu di depan teras, lengkap dengan seragam rapi dan tas ransel di pundak.

“Mau ke mana pagi-pagi gini?”

“Ada ujian masuk universitas, Mi, harus berapa kali Jiung bil—”

Simpul tali sepatunya berhenti di tengah jalan. Ia menoleh ke arah Mami yang sudah menatapnya dengan tatapan yang seakan berkata, kamu mau ujian lagi?

Maka dari itu, dengan senyum lebar yang memenuhi wajahnya—dan setelan jas apik hasil jahitan Mami—sore ini Jiung bertekad akan membayar seluruh jerih payah yang sudah ia keluarkan dan menutup trauma akan ujian mematikan itu pada malam hari ini.

Pertanyaan sesungguhnya, apakah sepadan? Well, mengingat kondisi Jiung sekarang dengan kepala pening dan tubuh yang terlampau lemas, jawabannya tentu tidak.

“It’s almost 10.”

“And what about it?”

“I promised to your mother to take you home at eleven.”

Jiung mengangkat bahunya acuh. “There’s still time.”

Jawaban Jungsu tertahan karena ada gerombolan siswa yang lewat di dekat mereka. 

Jiung bisa mendengar sayup celoteh dari para siswa itu, ada suara familiar, ada yang asing. Ada hawa haru perpisahan dua orang sahabat, juga ada gelak seru endorfin yang harus dihabiskan malam ini. Apa yang ada di antara Jungsu dan Jiung sekarang bukan keduanya.

“Waktunya agak mepet kalo kita mampir ke Kios dulu.”

Kios yang Jungsu maksud adalah nama dari sebuah diner di kota mereka, Five-Spice Diner. Jiung dan Jungsu, sebagai pelanggan tetap, hanya menyebutnya sebagai Kios dengan alasan efektivitas waktu (dan karena tempatnya yang memang seperti kios kecil di deretan ruko dengan lapangan parkir yang luas).

Seperti namanya, menu-menu mereka diisi dengan makanan ala Amerika yang dipadu dengan rempah masakan Tionghoa. Aneka burger, sandwich, wafel, dan milkshake. Tahun lalu, mereka menambahkan bagel sebagai menu sarapan. Semuanya enak, Jiung approved. Tapi satu menu yang selalu dipesan oleh Jiung dan Jungsu adalah Chicken ‘n Waffles lengkap dengan milkshake sebagai minuman pendamping.

“Siapa juga yang mau ke Ki— wait.” Jiung baru menyadari maksud ajakan Jungsu ketika laki-laki itu sudah tertawa renyah. Menertawai Jiung lebih tepatnya. Jungsu bangkit dari posisinya dengan salah satu tangan yang terhampir di depan Jiung.

“Ayo. Kios ga buka sampai kiamat hanya demi lo.”

Jiung sangat meragukan itu. Sangat ada kemungkinan Kios akan tetap buka bahkan di hari kiamat sekali pun, tetapi kemudian tatapannya bergerak melirik uluran tangan Jungsu. Kepalanya kosong dan penuh secara bersamaan. Jiung hanya bergeming untuk beberapa saat. 

Satu hembusan napas.

Satu tangan yang menunggu.

Dua hembusan napas.

Dua tangan yang bertaut.

Jungsu menggenggam dengan sigap begitu Jiung menyambut uluran tangannya. Kakinya agak sempoyongan untuk berdiri, tetapi genggaman tangan Jungsu cukup kuat untuk menumpu mereka berdua. Sedikit lebih erat dari yang Jiung harapkan, tapi hei, cukup efektif untuk membelah kerumunan siswa di lorong temaram sekolah.

Ketika kaki Jiung menginjak undakan tangga paling atas di pelataran lobi sekolah, barulah ia tersadar atas kaitan kedua tangan mereka. Itu pun karena kontras yang dihasilkan dari kekosongan akan hangat yang tangan Jungsu ciptakan.

“Tunggu di sini,” kata laki-laki itu seraya melepas genggaman tangan mereka dan menjauh ditelan gelap halaman parkir sekolah.

Malam ini Jiung bodoh sekali. Ia menurut semua apa kata Jungsu. Tiba-tiba Jungsu mengajaknya ke Kios? Jiung setuju. Jungsu menggenggam tangannya? Jiung tidak protes. Jungsu menyuruhnya menunggu di tangga sekolah sendirian di tengah malam? Jiung tidak apa-apa. Jungsu membuka pintu mobil untuknya? Jiung hanya menurut masuk ke kursi penumpang depan.

Mungkin efek gula, kata kepalanya. Tapi hatinya yakin meskipun jika tubuhnya tidak dalam efek gula, tetap tidak akan ada banyak yang berubah.

 

🧇

 

Kios sudah Jiung dan Jungsu anggap sebagai dapur ketiga mereka. Yang pertama jelas dapur di rumah masing-masing, yang kedua adalah dapur di rumah satu sama lain, dan yang ketiga adalah Kios.

Entah sudah berapa ribu detik yang mereka habiskan di sini. Mulai dari mengisi kejenuhan setelah pulang sekolah, mengerjakan tugas bersama, pulang dari tempat les, bolos dari tempat les, atau hanya sekadar memastikan keduanya masih hidup meskipun baru bertemu satu jam yang lalu. Eksistensi Kios terlalu penting bagi Jiung dan Jungsu.

Kios bukan hanya soal makanan, tetapi juga soal tempat kembali. Tante dan Om yang membuatnya begitu. Sebagai pemilik usaha, Tante dan Om begitu mahir menjadikan tempat makan yang berumur tiga tahun ini menjadi tempat penghubung bagi banyak orang. Semua saling mengenal di Kios, semua saling mengingat di Kios, dan semua bermula di Kios.

Waktu itu adalah hari kedua Kios membuka gerainya. Toko begitu ramai dipenuhi oleh anak-anak remaja dan kuliahan, Jiung—dengan seragam SMA-nya yang masih terlampau baru dan licin—datang sendirian sepulang sekolah. Hanya satu motivasinya untuk mampir ke resto yang sama sekali asing ini, yaitu milkshake gratis.

“Hm….” Sudah hampir sepuluh menit ia duduk di salah satu kursi bar di diner. Semua menu terlihat lezat tetapi juga baru, Jiung bingung sekali harus pilih yang mana. 

Namun karena merasa tidak enak dengan pramusaji yang sudah tiga kali bertanya pesanan Jiung, akhirnya dia berkata, “yang enak yang mana, ya?”

“Ayam gorengnya enak banget!”

Pertanyaan Jiung terjawab, tetapi jelas bukan berasal dari pramusaji yang ada di depannya. Seruan itu datang dari anak laki-laki yang duduk dua bangku dari tempat Jiung berada. Suaranya nyaring dan penuh dengan ayam goreng. Jika diner tidak ramai dengan kicauan pengunjung yang lain, mungkin suara anak laki-laki tersebut yang akan mengisi diner ini.

Jiung segera mencari ayam goreng yang dimaksud oleh si anak laki-laki tadi di dalam menu. Hanya ada dua sajian dengan tulisan “ayam goreng”, yang pertama Chicken Strips (seperti ayam tanpa tulang yang digoreng tepung, mungkin? Kelihatannya, sih, begitu. Mami suka memasak menu tersebut jika tidak ada waktu untuk menyiapkan bekal) dan yang kedua adalah Chicken ‘n Waffles with Maple Syrup.

“‘Maple Syrup’ itu apa?” tanya Jiung kepada pramusaji.

“Sirup dari mapel,” jawab pramusaji. Jiung yakin wajahnya masih menunjukkan kebingungan, jadi si pramusaji melanjutkan, “untuk siraman wafel. Rasanya manis kayak madu. Enak, deh, mau coba?”

Jiung tidak sampai hati untuk membiarkan pramusaji di depannya menunggu lebih lama lagi. “Boleh, Chicken ‘n Waffles-nya satu.”

“Satu Chicken ‘n Waffles,” kata pramusaji sembari menulis pesanan Jiung. “Karena hari ini ada special opening promo, semua pesanan paket wafel apa pun akan dapat milkshake gratis. Mau milkshake rasa apa?”

“Cokelat!” Jawaban Jiung terdengar kelewat terlalu antusias dari yang ia inginkan. Meskipun begitu pramusaji tersenyum lebar.

“Oke, Milkshake Cokelat satu. Mohon tunggu kurang lebih lima belas menit, ya, Jiung.”

Setelah Jiung melihat pramusaji menggantungkan pesanannya bersebelahan dengan deretan pesanan lain di jendela yang memisahkan dapur dengan meja kasir, ia mengalihkan pandangannya kepada seisi resto.

Jiung tidak pernah melihat tempat makan dengan dekorasi seperti ini sebelumnya. Sepertinya ini yang orang Amerika sebut sebagai “diner”. Ia hanya pernah melihatnya di film-film Hollywood, seperti Back to the Future dan Catch Me If You Can —Jiung ingat betul bagaimana ekspresi Tom Hanks yang akhirnya mengetahui identitas Barry Allen, sangat memuaskan—namun rasanya Five-Spice Diner terasa lebih menyenangkan dari apa yang kedua film itu hadirkan di layar televisi.

Seisi ruangan dipenuhi dengan warna terakota dan pirus. Mulai dari cat di tembok, peralatan makan, buku menu, sofa kulit, sampai seragam karyawan di diner ini. Kecuali lantai keramiknya, bermotif belang hitam putih seperti papan catur. 

Aneh bagaimana tempat ini bisa membuat Jiung bisa merasakan hawa Amerika meskipun ia tidak pernah ke negara itu sebelumnya. Hari ini baru hari ketiga Five-Spice Diner dibuka, dan Jiung yakin banyak dari pengunjung di sini yang baru pertama kali merasakan sensasi makan di diner, tetapi rasanya seperti restoran ini sudah dibuka selama puluhan tahun.

Semuanya saling bercengkrama. Para pramusaji mengobrol dengan pengunjung, para pengunjung mengobrol dengan pengunjung yang lain. Semua orang tersenyum sumringah seperti tidak pernah merasakan warna lain selain terakota dan pirus sebelumnya. Dan segala sumbernya berasal dari dalam diner ini, makanannya, keramahtamahannya, wangi tajamnya, dan suara harumnya.

“Jiung datang sendiri?”

Jiung menoleh ke arah sumber suara.

“Ah, iya, Tante.”

Jiung tidak tahu harus menyebut pramusaji yang sejak tadi melayaninya dengan sebutan apa. Biasanya ia menyebut seorang pramusaji dengan sebutan “Mas” atau “Mba”, tetapi pramusaji yang ini memiliki name tag bertuliskan “owner” di dadanya. Jadi Jiung pikir, agaknya kurang pantas untuk menyebut dengan sebutan “Mba”. Lagipula sepertinya Tante tidak keberatan dengan panggilan “Tante”.

“Kenapa ga ajak teman ke sini?”

“Jiung belum punya teman di sekolah, Tante. Hari ini hari pertama masuk sekolah.”

Tante terlihat kebingungan. “Loh, emang Jiung kelas berapa?”

“Kelas satu SMA.”

“Oalah…,” sahut Tante. “Sekolah di SMA 1, ya?”

“Iya, Tante, kok tahu?”

“Tuh, Jungsu satu sekolah sama Jiung.”

Pandangan Jiung mengikuti arah telunjuk Tante. Lebih tepatnya kepada anak laki-laki yang mengagumi ayam goreng tadi. Jiung baru menyadari seragam yang dipakai Jungsu sama dengan seragam sekolahnya.

Entah apa yang merasuki Jiung, ia langsung menggeser posisi duduknya menjadi di sebelah Jungsu.

“Halo, Jungsu.”

Jungsu menoleh dengan mulut yang dipenuhi makanan. “Halo…?”

“Nama gue Jiung. Kata Tante, lo murid di SMA 1, ya?”

Tatapan mata Jungsu seperti memindai seragam Jiung. Melihat dari atas ke bawah dan ke atas lagi sebelum kemudian berkata, “kayaknya lo juga, ya?”

Jiung terkekeh. Rasanya menggelikan, seperti baru saja bertemu dengan seseorang di dalam wahana escape room yang sempat tren itu.

“Ayam gorengnya enak banget?”

Seketika wajah Jungsu bersinar. Anak laki-laki itu terus memuji ayam goreng yang ada di piringnya—dan juga wafel, dan juga sirup mapel—selama sepuluh menit selanjutnya. Jiung tidak bisa tidak setuju, karena semua kedahsyatan akan rasa dari Chicken ‘n Waffles, yang ia ramalkan akan menjadi calon menu andalan Five-Spice Diner, ia buktikan sendiri begitu piring pesanannya datang.

Wanginya… ya, ampun. Jiung tidak pernah mencium aroma senikmat ini sebelumnya. Perpaduan antara wangi manis dan smokey khas sirup mapel dengan mentega dan vanila yang dibawa oleh uap hangat dari wafel. Aroma manis yang seakan memeluk tubuh Jiung dengan erat itu ditemani dengan aroma rempah yang gurih dari ayam goreng montok yang lebih besar dari kepalan tangan Jiung. Lada? Cengkeh? Kayu manis? Jiung akan konfirmasi bumbu-bumbu ini kepada Mami nanti.

Kesimpulannya: Chicken ‘n Waffles begitu sibuk. Penuh huru-hara. Barangkali kekacauan itulah yang memang diharapkan. Satu suapan Sang Bintang dan rasanya Jiung lengkap saat itu juga.

Seketika kota ini menjadi lebih menyenangkan. Berkat Five-Spice Diner sebagai tempat untuk menyembuhkan keabuan dimulai dari saat itu. Berkat keramahan Tante dan tangan lihai Om dalam menciptakan Chicken ‘n Waffles yang sempurna setiap hari. Juga berkat Jungsu yang tidak melupakan nama Jiung ketika berpapasan di koridor sekolah pada hari berikutnya.

 

🧇

 

“Ya, Tuhan….”

Bukan isakan dari Tante yang sebenarnya Jiung harapkan ketika ia dan Jungsu memasuki diner tepat pukul 22.00.

Five-Spice Diner biasanya tutup pukul 21.00, di hari libur buka satu jam lebih lama. Memang Tante dan Om yang biasanya paling terakhir menutup resto. Jadi ketika ia dan Jungsu melihat lampu di dalam resto masih menyala, mereka sudah tidak kaget lagi. Justru Tante dan Om yang kaget melihat mereka berdua berdiri di daun pintu di malam selarut itu, dengan setelan jas dan sedikit tenaga yang tersisa dari pesta prom night.

Jiung tidak paham pada awalnya, tetapi hatinya mencelos begitu Tante menjatuhkan gagang sapu yang sedang ia pegang untuk segera memeluk Jiung dengan sangat erat. Om—yang lebih sering berkomunikasi lewat makanan buatannya—dengan tidak disangka menghampiri mereka. Tangannya mencengkram bahu Jungsu sekilas dengan mata yang berkaca-kaca dan hidung yang sedikit kemerahan.

“Sudah—” Jiung mendengar suara Om sedikit tercekat, seperti tersangkut dengan napasnya sendiri. Setelah berdehem, Om melanjutkan, “kalian sudah makan malam?”

Jungsu dan Jiung saling bertukar pandang.

“Belum, Om,” jawab Jungsu.

Ada sepuluh piring prasmanan dan bergelas-gelas sirup yang menjadi sajian di pesta prom tadi yang tiba-tiba hadir di belakang kepala Jiung, tetapi mungkin jawaban Jungsu adalah yang terbaik untuk sekarang.

“Makan malam di sini, ya? Chicken ‘n Waffles kayak biasa, ‘kan?” Nada yang Om keluarkan tidak seperti tawaran, melainkan pernyataan. Tidak ada jawaban yang bisa Jiung dan Jungsu berikan lagi begitu Om menenggelamkan dirinya di balik pintu dapur.

Tante melepaskan pelukannya di tubuh Jiung tak lama kemudian. Jiung tidak sadar sudah berapa banyak Tante menangis di pundaknya. Wajah Tante memerah dan masih ada buliran air mata yang mengalir di pipinya.

Tante memandang wajah Jungsu dan Jiung dengan tatapan yang sulit diartikan. terlalu banyak emosi sampai Jiung tidak tahu harus menjabarkannya seperti apa. Yang ia tahu, Mami pernah menatap Jiung dengan cara serupa ketika ia memenangkan lomba mewarnai saat  di sekolah dasar dahulu.

Kedua tangan Tante menangkup pipi Jiung dan Jungsu. Dengan senyuman lebar dan air mata yang sekali lagi jatuh ke pipinya, Tante berkata, “kalian ganteng, deh.”

Jiung tidak bisa menahan tawanya. Ia pikir respons yang ia keluarkan itu tidak sopan, tetapi ternyata Jungsu juga melakukan hal yang sama. Layaknya sihir yang sangat kuat, kebahagiaan itu menular dan menghinggap ke wajah Tante.

 

🧇

 

Mereka berbincang malam itu. Om membuatkan Chicken ‘n Waffles kesukaan mereka seperti biasa. Bedanya kali ini ada satu cangkir kecil sirup mapel sebagai ekstra yang bisa dengan bebas Jiung dan Jungsu tambahkan ke atas dua tumpuk wafel serta satu potong ayam goreng berkulit renyah.

Chicken ‘n Waffles buatan Om selalu sama. Manis dan gurih yang berpadu menciptakan kedamaian dalam seketika. Setiap suapannya selalu membawa Jiung ke hari di mana ia mencobanya untuk pertama kali. Di tempat ini, Five-Spice Diner, dengan orang-orang yang sama juga.

“Ingat, ga, pas kalian pertama kali ke sini?” tanya Tante di tengah suapan Jiung.

“Hari kedua grand opening, ‘kan?” balas Jungsu.

Tante mengangguk. “Kalau Tante ga salah, itu kali pertama kalian kenal juga.”

Tante yang sedang membersihkan meja bar tidak melihat Jiung dan Jungsu yang bertukar pandang. 

“Kalian pesan menu yang sama, Chicken ‘n Waffles. Bahkan selalu pesan itu setiap kali ke sini. Coba menu lain hanya kalau Tante bujuk aja.”

Mereka bertiga tertawa.

“Dua tahun sejak saat itu… dan sekarang kalian sudah sebesar ini.”

Suara kucuran air dari keran di dapur seketika berhenti, memberikan hawa hening ke seluruh ruangan. Hanya ada suara detik jam berlampu neon yang menempel di dinding retro diner yang menemani mereka.

“Tumbuh besar itu hal yang bagus, dong, Tante? Lagi pula, Jiung juga ga ke mana-mana, kok. Sepulang kuliah, Jiung masih bisa mampir ke sini.”

Tante mengangguk. “Tapi tetep beda kalau ga ada Jungsu ‘kan, Jiung?”

Jiung terdiam. Matanya mencuri pandang ke arah Jungsu yang—Jiung tidak yakin, tapi sepertinya Jungsu pura-pura tidak mendengar kalimat Tante barusan.

Jungsu akan melanjutkan kuliah di luar negeri. Sudah merencanakannya sejak masih di tahun pertama sekolah. Sudah mempersiapkan sejak saat itu juga. Sudah dinyatakan diterima oleh kampus impian. Sudah mendapatkan tempat tinggal di negara tujuan. Jungsu akan segera berangkat dua minggu sebelum ajaran baru dimulai.

Entah kenapa Jiung dan Jungsu tidak membicarakan ini. Ralat, bukan tidak sama sekali membicarakan soal kepergian Jungsu, tapi mereka hanya tidak membahasnya akhir-akhir ini. Seperti dengan sengaja menghindari segala sesuatu soal “kuliah”, “jurusan impian”, atau “luar negeri”. The biggest elephant in the room.

Jiung tidak ingat kapan mereka berdua menciptakan gajah itu. Yang ia tahu, tiba-tiba Jungsu menghindar setiap kali Jiung membahas apa pun yang berhubungan dengan kepergiannya. Berarti jelas bukan Jiung yang membuat gajahnya. Respons kikuk Jungsu hanya masuk akal untuk sekarang. Dan hanya akan masuk akal kalau Jiung yang mengambil alih percakapan.

“Engga, kok, Tante. Kan tetep masih teme—”

Atau tidak.

“Iya, akan beda kalau ga ada Jiung.”

Jiung menoleh ke arah Jungsu yang ternyata sudah menatapnya. Ia tidak tahu mana yang lebih mengejutkan, fakta bahwa Jungsu tidak bersembunyi lagi atau fakta bahwa kalimat Jungsu barusan lebih sakit dari yang ia harapkan? Apakah lebih baik Jungsu kembali bersembunyi dan berhenti memoles kenyataan di antara mereka berdua? Itukah yang sebenarnya Jiung inginkan?

“Ga apa-apa. Toh, perginya Jungsu juga untuk alasan yang baik,” kata Om yang datang dari dapur.

“Jiung juga akan baik-baik aja, ‘kan, di sini? Kuliah yang benar, berprestasi, jadi orang sukses.”

Jiung mengangguk. “Berprestasi sambil tunggu Jungsu pulang.”

Jiung menggigit bibir bawahnya setelah menyadari kalimat barusan terdengar lebih masam dari apa yang ia harapkan. Ia menoleh kepada Jungsu—dan sekali lagi—menemukan temannya sudah menatapnya lebih dulu. 

Jungsu hanya diam dan tersenyum tipis, tapi rasanya seperti ada banyak hal yang mau dikatakan oleh laki-laki itu. Bagaimana Jiung tahu? Karena ada banyak hal yang mau Jiung katakan kepada Jungsu.

Memang percuma. Mereka hanya membuat Si Gajah semakin besar.

Mereka memutuskan pandangan secara bersamaan. Jiung ikut menimbrung Om dan Tante yang saat ini sedang mengilas balik memori masa kuliah mereka dahulu. Jungsu memilih untuk menghabiskan sisa makanannya, lebih banyak diam, dan memberikan respons seperlunya.

Jarum jam menunjukkan angka sebelas ketika mereka pamit pulang.

Sudah seperti yang Jiung duga, perjalanan pulang kali ini akan menjadi perjalanan paling jauh dan paling lama yang akan mereka lakukan. Tepat setelah roda mobil mulai bergerak, Jiung menyalakan radio. Niat awal karena ia ingin membunuh hawa canggung, tapi percuma kalau orang di radio memilih untuk memutar lagu The Smiths pada tengah malam. Apa pun yang Morrissey katakan soal bersyukur jika ada bus double-decker yang menabrak dirinya dan sang kekasih tidak membantu Jiung sama sekali.

Jadi, langkah kedua adalah membuka jendela di sebelahnya. Jungsu tidak keberatan, karena sekarang laki-laki itu melakukan hal yang sama untuk jendela di sebelahnya. Ia bahkan mematikan AC mobil agar tidak berebut ruang dengan udara malam yang masuk.

Jiung memejamkan matanya. Berusaha membayangkan sesuatu yang menyenangkan. Apa yang membuatnya senang? Musik? Five-Spice Diner? Boleh juga. Ia membayangkan dekorasi Five-Spice Diner. Kesibukan Kios pada setiap malam minggu. Keriuhan yang berasal dari para pelanggan dan musik yang dipasang oleh Tante. Chicken ‘n Waffles! Jiung membayangkan sajian sepiring Chicken ‘n Waffles yang sudah sangat ia hapal. Dua potong wafel yang buttery di sebelah kanan piring dan sepotong ayam goreng krispi bertabur aroma khas lima rempah di sebelahnya. Ada sirup mapel yang melapisi bagian atas ayam goreng dan wafel, menetes di setiap sisinya.

“Enak banget!”

Suara Jungsu masuk memberikan komentar. Seketika semua porsi Chicken ‘n Waffles dan bergelas-gelas milkshake yang Jiung dan Jungsu pesan selama tiga tahun ini bergerayangan masuk satu per satu. Lengkap dengan seluruh canda-tawa mereka. Yeah, this does not help either.

“Empat tahun, huh?” gumam Jiung tiba-tiba.

Ia tidak tahu apakah suaranya bisa melawan suara Morrissey di radio yang saat ini sedang berkolaborasi dengan suara angin yang memasuki jendela mobil mereka.

“Lima tahun, if college turns out to be hard for me.”

Jiung menoleh. “Please don’t say that.”

Jungsu tertawa kecil, tapi Jiung serius. Mari untuk tidak semena-mena memperpanjang waktu perpisahan mereka yang sudah cukup membuatnya putus asa.

“Gue akan nyusul kalau sampai empat tahun lo belum balik juga.”

“Oke.”

“Di mana pun lo berada. Gue susul lo ke sana.”

“Iya.”

“Gue serius, Jungsu.”

“Gue juga, Jiung.”

Jungsu menoleh kepadanya sekilas. “Please come to me wherever I am at that time.”

Itu adalah kalimat terakhir yang mengudara di langit-langit mobil Jungsu pada malam itu. Jiung tidak sanggup untuk melanjutkan percakapan. Tapi mungkin memang tidak ada percakapan apa pun lagi yang bisa dilanjutkan.

Datang kepada Jungsu dan lalu apa? Menyimpan laki-laki itu untuk dirinya sendiri? Meminta Jungsu untuk jangan ke mana-mana lagi? Apakah benar semudah itu? Ketika Jiung tahu seberapa banyak rencana Jungsu untuk membuat karir impiannya menjadi kenyataan. Ketika memang hanya itu yang selama ini selalu Jungsu ceritakan kepadanya. Di Kios, di perpustakaan sekolah, di kamarnya ketika percakapan berubah menjadi serius. Pada akhirnya, selalu ada pertanyaan sialan itu yang muncul di belakang kepala Jiung. Terus berputar membuatnya gila sendirian.

Apakah ada nama Jiung di antara mimpi-mimpi Jungsu?

Rasanya sudah genap tiga tahun Jiung menahan keinginan ini. Keinginan untuk menjadi berani, untuk mempertanyakan, dan untuk memiliki. Pada malam ini semakin diperparah dengan kehadiran satu keinginan baru, untuk meminta.

Tapi Jiung tidak bisa. Tidak akan pernah bisa.

Jadi, ia hanya mengutuk dirinya sendiri selama sisa perjalanan, atau ketika mobil Jungsu berhenti di depan rumahnya, atau ketika Jungsu membukakan sisi pintu mobilnya. Jiung tidak akan berhenti mengutuk.

“Titip salam buat Mami. Maaf ga balikin anaknya sesuai waktu perjanjian,” kata Jungsu begitu mereka berdiri di depan pagar rumah Jiung.

Jiung tertawa kecil, tapi selanjutnya ia mengangguk. Seharusnya sudah selesai. Seharusnya mereka berdua menyudahi malam ini dan mengucapkan perpisahan. Seharusnya Jiung berjalan masuk ke rumah dan Jungsu kembali melanjutkan perjalanannya.

“Jiung.”

Jiung menoleh.

“Eum….” Jungsu terlihat memikirkan kalimat selanjutnya. “Ada yang mau gue bilang—”

“Jangan.”

Jungsu terlihat terkejut. Lucunya, Jiung juga terkejut akan responsnya sendiri.

“Apa pun yang mau lo bilang… jangan,” lanjut Jiung. “Sampaikan ke gue empat tahun lagi. Di sini. Anggap aja pegangan supaya lo bisa lulus kuliah tepat waktu.”

Jungsu tertawa. “Oke.”

Sebagai gantinya, Jiung membawa tubuh Jungsu ke pelukannya. Rasanya tidak hangat atau dingin. Rasanya seperti… mereka. Seperti perkenalan pertama di Kios, seperti malam penuh tugas sekolah, seperti prom night, seperti Jiung dan Jungsu.

Jiung bisa merasakan pelukan Jungsu semakin erat bersamaan dengan wajah yang laki-laki itu benamkan di pundaknya. Jungsu mengambil napas dalam di ceruk leher Jiung.

“Parfum lo apa? Gue mau beli yang sama,” gumam Jungsu.

Jiung tidak bisa menyembunyikan senyum lebarnya. Ia melepaskan pelukan mereka.

“Let's buy it tomorrow. Gue juga mau beli parfum kayak yang lo pake.”

Jungsu berpikir sejenak sebelum kemudian berkata, “see you tomorrow, then?”

Jiung mengangguk. Ia mengingatkan Jungsu untuk mengabarinya jika laki-laki itu sudah sampai rumah dan mengucapkan salam terakhir. Jungsu mengiyakan dan langsung pulang.

Apakah ini yang Jiung mau? Tidak. Tapi apakah ini yang mereka butuhkan? Jelas iya. Jiung dan Jungsu tidak membutuhkan apa pun yang lebih daripada apa yang mereka punya sekarang. Meskipun Jiung mempunyai keinginan yang terdalam, ia bisa menunggu. Mereka bisa menunggu. Perjalanan mereka masih panjang.

 

Notes:

stan xh and p1 yall.