Work Text:
Jarum jam pendek sudah menunjukkan pukul dua dini hari, harusnya di jam segini itu orang-orang pergi ke alam mimpi dengan kegiatan di kota yang sudah selesai sejak tengah malam tadi. Tapi tidak dengan Seonghyeon yang matanya masih terbuka lebar memandangi langit-langit kamar yang lampunya sudah dimatikan. Di seberang sana, ada kasur Martin yang tidak ditempati, atau lebih tepatnya belum—sepertinya yang lebih tua itu masih bergulat di studionya yang tidak jauh dari asrama. Bersama James dan Juhoon yang juga belum menunjukkan tanda-tanda pulang dari latihan membuat koreografi baru.
Dan untuk yang paling muda sendiri… Seonghyeon mengalihkan pandangannya ke ranjang yang ada di dekat pintu kamar itu. Kosong. Keonho tadi pamit untuk pergi keluar sebentar, membeli sesuatu di minimarket. Tapi sampai sekarang juga Seonghyeon belum mendapati kehadiran yang muda itu.
Sebenarnya agak aneh untuk Seonghyeon memanggil Keonho dengan sebutan yang lebih muda. Mereka itu seumuran, jarak yang terpaut juga hanya sebulan. Ya, memang hanya untuk kepentingan di depan fans semata, tapi tetap saja, aneh sekali. Ah, ya sudah lah, toh nanti Seonghyeon juga terbiasa dengan titel itu sendiri.
Saat si bersurai cokelat hazel itu kembali terhanyut dalam lamunannya, terdengar suara pintu asrama yang terbuka. Ia pikir, mungkin itu Martin yang baru saja pulang, atau James dan Juhoon. Tapi tebakannya salah, setelah pintu utama terbuka, langkah kaki mulai jelas didengar dan perlahan mendekati kamarnya itu. Dalam hitungan satu sampai tiga, pintu kamar pun kini terbuka, memperlihatkan perawakan Keonho dengan senyuman lebar yang terlukis di wajah tampannya.
Seonghyeon terkadang suka berpikir, apa Keonho tidak lelah, ya, menampilkan senyuman menawannya itu? Entah di depan fans atau tidak. Seonghyeon saja kadang merasa keram pada wajah setelah berlama-lama tersenyum. Tetapi Keonho itu… Si bersurai legam itu benar-benar seperti mesin senyum yang akan tersenyum kapan saja tanpa ada rasa letih.
“Udah tidur, ya?” Keonho bertanya dengan nada suaranya yang terdengar lembut itu. Seonghyeon langsung bangkit dari posisi tidurnya untuk melihat Keonho yang bediri di ambang pintu dengan saksama.
Yang tua sebulan itu menggelengkan kepalanya. “Nggak. Belum.”
“Aku beli es krim, kalau kamu mau, ke dapur ya,”
Belum juga Seonghyeon sempat menganggukkan kepala atau berkata iya, Keonho sudah melesat hilang begitu saja dari pandangannya. Memang terkadang Ahn Keonho itu melakukan apapun semaunya saja. Seonghyeon pun dengan sedikit berat hati perlahan melepaskan dirinya dari kasur tersayangnya itu dan berjalan keluar kamar. Kaki jenjangnya ia bawa melangkah masuk ke dapur yang tak jauh dari ruang tamu.
Gak ada sedikit pun lampu yang menyala dari ujung ke ujung. Ada sih satu lampu kecil yang ditaruh di meja dekat ruang tamu, tapi itu pun gak membantu penerangan sama sekali. Seonghyeon selama berjalan ke dapur pun harus sambil memegangi tembok di dekatnya.
Saat sudah mencapai dapur, Seonghyeon bisa mendapati Keonho yang berdiri di dekat kulkas yang terbuka. Membuat cahaya lampu kulkas itu kini menerangi wajahnya yang fokus mengeruk es krim dengan sendok makan. Ia menghampiri Keonho dengan perlahan, berdiri dalam diam tepat di sebelahnya.
Ia memperhatikan bagaimana es krim dengan 3 rasa itu dikeruk oleh Keonho dengan telaten. Kerukan es krim ditaruh di mangkok kecil yang sudah disiapkan juga sebelumnya oleh si pemuda bermarga Ahn itu.
“Kenapa nggak beli yang kayak biasa aja?” Seonghyeon bertanya, memecah keheningan. Yang dimaksud biasa saja oleh itu adalah es krim dengan stik seperti biasa bukan es krim tempatan seperti sekarang ini.
“Pengen nyoba yang baru,” ucap Keonho yang sudah selesai mengeruk setengah dari es krim itu. Ia memasukkan sisanya ke dalam freezer kulkas, menyisakkan untuk kakak-kakaknya yang masih sibuk di studio sana. “Ini yang putih tuh rasa kacang, bukan vanila.”
Seonghyeon mengerutkan keningnya seperti tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Keonho itu. Ia menyambar sendok yang tergeletak di pantry dan mengambil es krim berwarna putih seujung sendok untuk ia coba. Saat es krim itu masuk ke mulutnya, yang bisa Seonghyeon rasakan adalah dingin yang menyeruak di dalam dan rasa kacang yang sepintas terasa pekat di lidahnya.
“Aneh,” Seonghyeon bisa mendengar jelas suara tawa Keonho memenuhi dapur dini hari itu. “Maksudku, anehnya in a good way. Masih bisa aku terima rasanya.”
Keonho mengangguk-anggukkan kepala seolah-olah mengatakan bahwa ia mengerti dengan apa yang dimaksud Seonghyeon. Ia pun ikut mencicipi es krim itu, memberikan reaksi yang sama terhadap rasa yang baru pertama kali ia coba seperti Seonghyeon tadi. Keduanya pun menghabiskan waktu dan es krim mereka di dapur dengan hanya cahaya lampu kulkas yang menerangi.
Mereka berdua tetap berada di situ meski es krim yang disantap sudah habis tidak tersisa. Seonghyeon sambil bersandar pada meja pantry mengamati Keonho yang masih menilik ke dalam isi kulkas, mencari sesuatu untuk ia santap lagi.
Seperti tidak mendapati apa yang ia inginkan, Keonho melengoskan wajahnya. Matanya bertemu dengan iris milik Seonghyeon dan sebuah senyuman terbit begitu saja di bibir. Ia melangkah sedikit ke arah Seonghyeon dengan satu tangannya yang terulur ke depan dan satunya lagi ia taruh di dekat perutnya. Pose ala-ala seperti seorang pangeran yang sedang menyambut tuan putri. Membuat Seonghyeon mengerutkan keningnya lagi, bingung melihat kelakuan si muda ini.
“Ngapain?” Tanya Seonghyeon masih belum bereaksi atau mengubah posisinya yang menyandar pada meja pantry itu.
“Pernah dansa gak?”
“Setiap hari kita latihan dansa,”
Keonho mencebikkan bibirnya. Kesal. “Bukan yang itu. Slow dancing, I mean.”
Tawa renyah lepas begitu saja dari belah bibir Seonghyeon. Bukan jawaban yang diinginkan oleh Keonho, tetapi pemuda itu hanya diam memperhatikan bagaimana tawa itu membuat semu di wajah Seonghyeon. Pipinya terangkat seperti bentuk apel, matanya mengecil dan raut wajahnya terlihat begitu bahagia.
Pemandangan itu membuat Keonho lagi-lagi menerbitkan senyum rupawannya. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Para kakak-kakak tertua masih belum kembali juga dari studio latihan dan kedua anak adam itu kini saling bertukar pandang dengan jejak-jejak asmara yang bertebaran di udara.
Tanpa bertanya dan mengulur-ulur waktu, Keonho langsung menautkan tangannya dengan milik Seonghyeon. Ia menarik si bersurai hazel itu untuk lebih dekat lagi dengannya. Kini, mereka berdiri saling berhadapan, wajah yang hanya berjarak beberapa sentimeter—Seonghyeon bisa merasakan nafas Keonho yang menyapu pipinya. Genggaman tangan dieratkan. Tidak ada suara musik terputar, namun mereka mulai bergerak mengikuti suara detak jarum jam yang menempel di dinding ruang tamu sana.
Keonho dengan penuh hati-hati meletakkan tangannya di pinggang Seonghyeon dan yang bersurai hazel itu sendiri mencoba untuk merapatkan lagi jarak yang ada di antara mereka berdua. Pergerakan mereka tak selaras, tapi siapa yang peduli dengan itu?
Pintu kulkas memang Keonho biarkan terbuka, membiarkan cahaya lampu kulkas memantulkan siluet mereka berdua di lantai dapur yang mulai dingin. Jarum jam terus berbunyi, mengisyaratkan waktu terus berjalan. Seonghyeon bisa merasakan satu kecupan lembut yang diberikan Keonho untuknya di pipi. Rona merah pun tercipta begitu sempurna di wajah hingga telinganya.
Keonho, si tengil itu, terkekeh kecil. “Kamu cantik.”
Tidak ada sanggahan. Hanya Seonghyeon yang perlahan menyandarkan kepala di bahu yang muda sebulan. Di dapur pukul setengah tiga pagi, ada mereka berdua: berdansa, menghabiskan es krim bersama, dan menciptakan kehangatan yang akan mereka rasakan selamanya.
