Work Text:
Mata yang tadinya sudah terpejam dan membawa Hanbin lebih cepat daripada kereta menuju alam mimpi kembali terbuka. Gurat kesal terbentuk di wajahnya di bawah naungan langit-langit kamar yang gelap. Bunyi ketikan kasar pada keyboard serta teriakan teredam terdengar dari bilik apartemen sebelah sudah cukup untuk membangunkannya dari tidur.
Siapa sih yang main game tengah malam begini? teriak-teriak segala pula.
Ia mendengus, tangannya reflek memukul dinding apartemen yang tipis. Suara teriakan yang tadinya ada seketika lenyap. Tampaknya rasa kesalnya tersalurkan ke tetangganya. Harapan untuk kembali tidur dengan tenang setelah hari yang cukup berat bagi fisik dan psikologisnya terkabul, matanya yang berat kembali terpejam seiring sunyi memenuhi gendang telinganya.
Tapi itu tidak bertahan lama, besok malamnya suara berisik keyboard dan teriakan samar kembali terdengar. Besok lusanya juga sama, hingga sudah empat hari ia tidur disertai suara-suara mengganggu itu. Dan sudah beberapa kali ia memukul dinding kamarnya, namun suara keyboard dan teriakan hanya lenyap untuk beberapa menit, selebihnya tetangganya lupa bahwa ia sudah ditegur untuk ketiga kalinya. Manusia pun ada batas kesabarannya, pulang dari kantor Sung Hanbin berniat untuk melabrak tetangga unit apartemennya yang sudah sejak sebulan ia pindah tidak pernah melihat ataupun bertegur sapa.
Kekesalan bisa orang kecap ketika dirinya mengetuk pintu unit apartemen 212. Hening. Kernyitan muncul di wajahnya, ia kembali mengetuk papan kayu berengsel dengan kesal. Tepat ketika kepalan tangannya hendak mengetuk untuk yang ketiga kalinya, suara berdecit pelan timbul membuat bola maniknya memincing. Pria dengan rambut hitam berantakan dan lepek yang entah belum dicuci berapa hari muncul dari pintu yang terbuka pelan. Tangan pria itu terangkat untuk sedikit menyingkap poni yang menghalangi pandangan, menyingkap kantung mata tebal dibaliknya. Tatapannya lantas jatuh pada Hanbin yang berdiri tegak di depannya, pelaku pengetuk unit apartemennya.
Sung Hanbin bisa melihat manik cokelat jernih yang menatapnya bingung disertai guratan lelah. Yang ia sadari pertama kali adalah, di bawah penampilannya yang kusut dan berantakan ia bisa bilang bahwa tetangganya cukup tampan. Ah, tapi bukan itu yang penting sekarang. Hanbin sedikit menghela napas, ditelisiknya lagi wajah tersangka pengganggu tidurnya akhir-akhir ini.
“Halo maaf mas, tapi bisa gak ya, jangan teriak-teriak kalo malam? Saya cukup keganggu pas lagi tidur.” Senyum ia paksakan muncul di wajahnya, intonasi penekanan ia lantunkan sebagai tanda bahwa ia merasa terganggu. Ia sudah kepalang kesal karena ulah tetangganya, padahal dirinya biasa dibilang orang yang sabar oleh rekan kerjanya. Tapi, soal ketenangan saat tidur ia cukup sulit untuk tidak marah jika ada yang mengganggunya.
“Mas ini siapa, ya?”
Bulu mata lentiknya ikut bergerak begitu ia berkedip. Serius? itu yang dikatakan tetangganya setelah ia mengungkapkan protes kesal padanya?
“Saya penghuni unit sebelah.” Tangannya terangkat sejajar dadanya guna menunjuk pintu bertuliskan ‘211’ di sebelah kiri tepat di sebelah unit apartemen milik tetangganya. Kini gantian pria di depannya yang mengedipkan mata beberapa kali. Ekspresi bingung mencuat di sela wajah lelahnya.
“Loh, sudah ada yang menghuni, toh. Maaf ya mas, saya gak tahu.” Hanbin bisa melihat raut rasa bersalah atas ketidaktahuan dari tetangganya sebelum senyum cerah kontras dengan penampilan miliknya merekah.
“Saya minta maaf ya, mas. Saya Kim Taerae.” Hanbin bergantian melirik antara tangan yang menunggu jabatan darinya dengan si pemilik tangan. Kernyitan jelas tampak, dengan sedikit enggan ia balas menjabat tangan lainnya.
“Saya Sung Hanbin.”
“Oh, Mas Hanbin. Sekali lagi saya minta maaf ya mas. Sebentar,” dilepaskan begitu saja jabatan tangannya bersamaan dengan menghilangnya eksistensi Kim Taerae dari hadapan Hanbin. Menit setelahnya, Tangannya yang semula kosong seketika membawa beban berat plastik berisi satu kotak mika berisi nasi serta lauk yang masih hangat yang diberikan percuma oleh tetangganya itu.
“Eh, ini apa?”
“Err, ini bentuk permintaan maaf saya.” Taerae mengusap belakang lehernya, tersenyum canggung. “Saya kebetulan tadi masak lebih, tolong diterima ya, mas.”
Ia mengangguk, diterimalah hadiah maaf dari tetangganya. Lumayan buat makan, jadi ia tak perlu repot masak dan menghemat bahan untuk besok pagi. “Makasih, ya.”
Taerae tersenyum, “Iya, mas.” Sesaat Hanbin terpana, barisan gigi putih rapi milik Taerae menyihir Hanbin untuk sedetik. Ganteng, batinnya. Lantas ia cepat menggeleng, Taerae yang melihat mengernyit bingung.
“Eh, kenapa mas?”
“Oh, enggak, makasih mas, nanti tolong kecilin suaranya, ya.” Sekali lagi ia mengingatkan, disertai senyuman canggung yang terlukis di wajah begitu berbalik pergi dan berjalan masuk ke unit apartemen miliknya sendiri. Sebelum ia membuka pintu, ia sempat melirik ke samping, melihat Taerae mengangguk mengiyakan. Yah, seharusnya tetangganya itu tak akan mengganggunya lagi malam ini.
Ia sedikit berdecak, dahinya membuat kernyitan samar dikala dirinya mencicipi masakan buatan tetangganya. Kurang asin dan terlalu hambar. Punggungnya ia sandarkan di sandaran kursi, entah apa yang lucu tapi dia terkekeh singkat. Ah, memang harusnya dia masak sendiri saja makanannya untuk makan malam.
Malam ini tenang, tak ada suara nyaring keyboard yang ditekan keras dan teriakan-teriakan kecewa karena kalah. Akhirnya, kedamaian kembali menyelimutinya saat tidur. Hanbin meringkuk nyaman di bawah selimut putih yang baru ia laundry kemarin lusa. Sejenak ia terpikirkan tentang Taerae, ia sempat tidak sengaja mengintip kamar tetangganya itu. Terlampau rapi bisa dibilang. Tidak cocok dengan penampilannya yang ia temui tadi sore. Selain itu, ia masih bisa mencium samar aroma lembut kayu gaharu begitu Taerae membuka pintu. Mungkin ia tetap mengganti baju walau tidak mandi? Atau dia memang malas keramas saja? Atau mungkin sedang ada masalah? Seketika kernyitan tak senang muncul. Tunggu, kenapa ia begitu memikirkan tetangganya? Orang yang mengganggunya tidur beberapa hari terakhir. Hanbin menggeleng cepat, tidak, tidak, ia harus tidur. Masih ada pekerjaan di esok hari yang menunggunya. Ia menghela napas pelan sekali lagi, menyamankan kembali posisinya sebelum akhirnya memejamkan mata dan terlelap menuju lembah mimpi.
Minggu-minggu setelahnya tenang. Bahkan, Hanbin tidak akan mengira kembali mendapatkan ketenangan seperti di awal ia menghuni. Seharusnya ia merasa tenang karena ia bisa tidur nyaman tanpa berbagai suara yang mengganggu, tapi entah mengapa ada rasa yang mengganjal di benaknya. Ia penasaran, apa yang membuat tetangganya diam hampir berminggu-minggu. Apakah ia terlalu keras saat menegurnya saat itu? Perasaan tidak, deh. Hanbin menggaruk pangkal hidungnya yang tidak gatal, yang dihadiahi kernyitan oleh salah satu rekan kerjanya, Zhang Hao. Pria asal Tiongkok itu menatap dengan mengangkat satu alisnya.
“Kenapa lu?” Selesai mengetik beberapa kalimat di komputer, Hao menoleh pada Hanbin. Tangannya bergerak menepuk pundak temannya itu.
Hanbin meringis, “Gapapa sih, bingung aja.” sekali lagi jemarinya menggaruk pangkal hidungnya yang tidak gatal. Salah satu kebiasaanya saat bingung. “Misal nih, lu penasaran sama orang yang bahkan lu baru ketemu hari itu. Itu kenapa?”
“Ngomongin lu, ya.” Hanbin menoleh seketika, menatap temannya dengan dahi berkerut. Gak, tuh? Yang ditatap hanya mengangkat bahu. “Gue cuma tanya?”
“Sparks flew, kali.” Imbuh temannya itu disertai cengiran menyebalkan. Ia berdecak, sejujurnya ia curiga bahwa ucapan iseng milik temannya itu benar. Perkataan Zhang Hao nyatanya membawanya pada kenyataan saat ini. Seusai pulang dari kantor ia memasak seperti biasa, namun tanpa sadar ia membuat dua porsi yang bahkan tak pernah ia pikirkan sebelum-sebelumnya.
Dan di sinilah dia, berdiri kembali di depan unit apartemen 212. Ia menggigit bibir sesaat sebelum tangannya terangkat untuk mengetuk pintu. Tak lama, orang yang mendiami muncul. Aroma kayu gaharu dengan perpaduan citrus menyeruak memenuhi penciumannya begitu pria pemilik nama Kim Taerae muncul. Penampilannya malam ini sangat berbeda. Rambutnya rapi dan bersih, selain itu tidak ada kantung mata tebal seperti yang terakhir kali ia lihat. Senyum sumringah tersungging begitu ia menemukan Hanbin di depan pintu apartemennya.
“Mas Hanbin? ada yang bisa dibantu?” Pria yang lebih pendek bertanya lebih dulu, menyadarkan Hanbin yang sedikit terkesima sesaat.
“Ah, ini.” Hanbin menyerahkan satu kotak berisi makanan yang ia buat pada Taerae. “Saya juga kebetulan masak lebih tadi, Mas Taerae udah makan belum ya?” Hanbin tersenyum manis, sebenarnya sedikit khawatir jika pemberiannya ditolak. Ia baru terpikirkan, barangkali tetangganya itu sudah makan ataupun memesan makanan sendiri.
Yang ditanya terkekeh lembut, “Waduh makasih mas udah repot-repot, kebetulan saya belum makan nih.” Taerae tersenyum lebar menatap Hanbin. Ada rasa hangat yang timbul ketika Hanbin melihat senyum tetangganya. Rasa senang, ataupun bahagia? entahlah. Yang jelas dirinya ikut tersenyum senang.
“Syukur deh, tadi sempet khawatir barangkali Mas Taerae udah makan.” Sung Hanbin menggaruk tengkuknya malu-malu.
Tawa halus timbul sebagai respon, “Mas Hanbin mau nemenin saya makan, gak?”
Wajahnya seketika terangkat, bertemu tatap dengan pria di depannya. Taerae menggaruk kepala, tertawa canggung. “Eh, maaf mas. Cuma, aduh, maaf ya, kadang mulut saya emang suka keduluan dibanding otak saya, haha.”
“Boleh.”
Eh?
Hanbin reflek mengiyakan. Tanpa sadar menyanggupi tawaran tetangga yang baru ia temui untuk kedua kalinya. Hanbin masih tersenyum, dalam hatinya menyesali kespontanan dirinya. Jika Taerae berpikir dia aneh mengajak tetangga yang menegur dirinya untuk menemani makan, maka Hanbin lebih aneh karena menyetujui ajakannya. Taerae di depan pintu berkedip beberapa kali, “Loh, boleh?”
“Iya, boleh.”
Sejenak heran menyelimuti Taerae, tetapi dirinya lantas tersenyum senang. Mempersilakan Hanbin untuk masuk ke unit apartemennya. Hanbin melangkah masuk ke dalam, menggumamkan ‘permisi’ pelan ketika masuk. Cahaya temaram lampu mengisi kamar apartemen kecil seperti miliknya. Matanya menangkap beberapa buku yang tersusun rapi di rak, di bawahnya ada beberapa konsol game yang diatur sedikit berantakan. Di sudut sebelah kiri, meja kerja dengan dua layar monitor berdiri disertai kabel-kabel yang terorganisir di bawahnya. Oh, pantes suaranya kedengeran jelas. Dirinya dipersilakan duduk di kursi meja pantry bersamaan dengan Taerae yang duduk di depannya, membuka kotak nasi yang Hanbin berikan.
Harum masakan menguar begitu tutup kotak di buka. Bola manik milik Taerae berbinar, gumaman rancu timbul begitu satu sendok makanan masuk ke dalam mulut Taerae. Dirinya menatap Hanbin dengan berseri-seri. “Mas Hanbin bisa masak, ya? Ini enak banget lho.”
Yang disanjung tersipu malu, “Makasih, Kebetulan emang suka masak.” Sudut bibirnya terangkat menghasilkan senyum salah tingkah. Telinganya terasa cukup panas walau suhu pendingin ruangan nyatanya cukup membuat menggigil untuk sebagian orang.
“Aduh jadi malu, soalnya saya pernah ngasih makanan buatan saya yang rasanya gak seberapa kalo dibandingin ini ke Mas Hanbin.” Kalimat milik Taerae sudah cukup mampu untuk menimbulkan rasa bersalah dalam hatinya.
“Masih bisa dimakan kok, mas.”
“Berarti emang gak enak ya?” Taerae justru tertawa, kembali menyendok makanannya begitu ia selesai. Masih ada cengiran khas sisa-sisa tawa di wajah sembari ia mengunyah.
Hanbin tertawa canggung. Aduh, Hanbin merasa tidak enak. Masakan milik tetangganya memang tidak terlalu cocok di lidahnya. Tapi yang sebenarnya, ia penasaran. Apa yang membuat tetangganya ini diam beberapa minggu terakhir.
“Mas Taerae gak nge-game lagi?”
Taerae menghentikan aktivitas mengunyahnya, menatap Hanbin. Sejenak ia terlihat berpikir sebelum menelan isi mulutnya dan menjawab, “Masih, kok.”
“Kok saya gak pernah denger ribut-ribut lagi?” Mungkin jika itu bukan Taerae, orang akan mengira kedatangan Hanbin cuma ingin ngajak ribut saja. Taerae terkekeh, tangannya bergerak mengambil gelas berisi air di dekatnya.
Taerae mengecap bibirnya yang sedikit basah setelah minum, maniknya balik menatap milik Hanbin yang sedari tadi mengekori gerakannya. “Maunya sih gitu, biar tetangga sebelah ngelabrak lagi.” Ia terkekeh sebentar, “Kenapa malah nanyain? Katanya, mas keganggu?” Cengiran menyebalkan muncul di wajah Taerae, membuat Hanbin mengernyit.
“Saya kan cuma nanya. Terus apa maksudnya pengin dilabrak lagi?” bibirnya cemberut begitu Taerae kembali terkekeh.
“Emang gak boleh?” Taerae mengangkat bahu, mengistirahatkan punggungnya di sandaran kursi. “Saya sebenernya bukan yang suka berisik kalo main. Tapi, beberapa minggu yang lalu ada banyak masalah, salah satunya kucing saya habis ketabrak. Jadi, tanpa sadar emosi saya kelewatan pas lagi main.”
Mata Hanbin berkedip pelan, “Kucing?”
Taerae mengangguk. Mengeluarkan ponselnya dari saku, kemudian menghadapkan layarnya pada Hanbin. Menampilkan foto Taerae memegang kucing. “Namanya Jono, sebenernya bukan punya saya. Dia kucing liar yang tahun lalu suka main ke apartemen sini, jadi saya putuskan buat pelihara.” Taerae menggeser foto-foto yang memperlihatkan dirinya bersama kucing miliknya.
“Beberapa minggu yang lalu, Jono ketabrak orang yang gak bertanggung jawab. Harusnya saya lebih cepet nemuinnya biar cepet dibawa ke dokter.” Wajah Taerae berubah murung dan Hanbin bisa melihat kesedihan yang terpancar. Matanya kembali melirik foto kucing di layar ponsel. Entah seberapa berarti kucing ini bagi Taerae, tapi ia bisa mengerti karena dia sendiri pernah merasakannya.
“Mas Hanbin suka kucing?” Pertanyaan tiba-tiba yang ditujukan untuk dirinya mengejutkannya sesaat. Wajah murung yang sebelumnya tampak kini digantikan oleh gurat antusiasme di wajah Taerae.
“Eh? Suka, kok. Suka banget malah.” Jawabannya kembali membawa binar di manik pria yang lebih pendek.
“Bagus. Mau temenin saya ke kafe kucing deket sini, gak?”
Hah?
Tunggu, tunggu, maksudnya? Apa artinya tetangganya itu mengajaknya kencan? Pipinya bersemu merah. Pikiran tidak masuk akal apa ini? Dia dan tetangganya baru bertemu dua kali. Selain itu, ini cuma pergi seperti orang pada umumnya kan? Tapi, bukan berarti dia tidak tertarik, sih. Mungkin kemampuan berpikir sebelum bertindak termasuk mengucapkan sesuatu sudah tumpul ketika ia berhadapan dengan tetangganya.
Maniknya menatap balik Taerae, mengangguk pelan. “Boleh,” Hanbin tersenyum.
Taerae terpana. Sudut bibir mungil milik Sung Hanbin yang terangkat menyihirnya, ada rasa gembira yang meluap dalam dirinya. Jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Ia tak terbiasa menyebut seorang pria dengan kata ‘cantik’. Tapi, jika itu tetangga sebelah unit apartemennya yang bahkan bertemu tatap dengannya bisa dihitung dengan jari, ia akan melakukannya.
“Mas Hanbin cantik, ya.” Ucap Taerae tanpa tedeng aling-aling. Kotak berisi makanan yang sudah kosong sedari tadi di antara mereka sudah lama dingin, justru yang kini menghangat adalah pipi milik Sung Hanbin. Atensinya ia alihkan, yang terpenting tidak menatap balik bola manik milik Kim Taerae yang menatapnya seolah ia sangat menawan. Senyum terbentuk di wajah Taerae kala ia menyoroti respon pria yang lebih tinggi darinya. Lucu, kayak kucing.
Ia terkekeh yang disambut lirikan tajam Sung Hanbin. Rasa bersemangat untuk mempertemukan kucing di depannya dengan kucing milik kafe yang akan mereka datangi seketika muncul. Kim Taerae sangat menantikannya.
