Actions

Work Header

Kok Gini?

Summary:

Midori terbangun dari tidurnya dalam keadaan menjadi seorang perempuan??? Waduh kok bisa?

Notes:

Aku menyebut trio ship ini dengan sebutan NoriCitrus

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Awal Mula

Chapter Text

Harusnya ini hari yang normal, setidaknya untuk ukuran penghuni asrama Seisokan. Bangun tidur, ganti baju, sarapan, lalu pergi entah ke sekolah atau ke Ensemble Square. Harusnya begitu... 

Kira-kira itu isi kepala dari seorang idol naungan agensi New Dimension yang bernama Aoba Tsumugi ketika dia sedang menjalani rutinitas paginya sebelum berangkat ke kantor agensinya dan melihat gerakan dari balik selimut milik Takamine Midori, pertanda penghuni kasur tersebut telah terbangun. Namun bukannya cowok cakep tinggi jangkung yang harusnya keluar dari selimut tersebut, malah sesosok wanita berambut coklat kehijauan ikal panjang dengan mata masih setengah tertutup seperti sedang mengumpulkan nyawa yang muncul membuat Tsumugi sukses menjatuhkan cangkir kopi yang berada di tangannya. Mulutnya terbuka lebar tidak percaya dengan apa yang ia lihat karena... Ayolah! Seisokan itu asrama laki-laki, KENAPA ADA PEREMPUAN DI DALAM SINI????? (setidaknya cangkirnya masih kosong dan tidak pecah, jadi Tsumugi selamat dari kerjaan tambahan)

Perempuan yang sepertinya masih setengah bermimpi itu cuma menguap, tidak menyadari suara berisik yang dibuat Tsumugi lalu ia membuka matanya. Tsumugi yang akhirnya berhasil sembuh dari konsletnya langsung menghampiri perempuan itu untuk memastikan sesuatu.

"Ta... Takamine...-kun?"

Seperti dipanggil, perempuan itu menoleh kearah Tsumugi lalu memiringkan kepalanya "Aoba-senpai? Selamat pagi" sapanya pelan sebelum dia mengerutkan dahinya merasa aneh. Perempuan itu perlahan meraba rambut panjangnya, lalu tenggorokannya yang tiba-tiba terhenti karena lengannya tertahan sesuatu yang empuk, kenyal dan besar dari dadanya, refleks perempuan itu menundukkan kepalanya dan tentu saja dia langsung melihat payudaranya sendiri.

"KENAPA AKU BERUBAH JADI PEREMPUAN?!?!" jerit perempuan atau lebih tepatnya Midori histeris karena yah... dia kan laki-laki, setidaknya semalam sebelum tidur dia yakin dia adalah seorang laki-laki. Semalam penisnya juga masih ada dan sekarang hanya tersisa perasaan hampa di selangkangannya "Aoba-senpai! Ini pasti mimpi kan? Iya kan???" Midori yang terlonjak dari kasurnya, kini menggoyang-goyangkan bahu Tsumugi dengan kuat.

"Aduh... Aduh Takamine-kun, ini bukan mimpi. Dan aku juga tidak tahu kenapa kamu berubah jadi perempuan. Tenanglah dahulu" Tsumugi yang pusing digoyangin Midori berusaha menenangkan si Ryusei Green yang hampir menangis tidak menerima takdir itu.

"Anu, Takamine-kun... Mau aku panggilkan Chiaki-kun?" tawar Tsumugi ketika Midori sudah berhenti mengguncang bahunya dan memilih untuk meringkuk di lantai meratapi nasib. Karena masalah Midori saat ini jelas akan mengganggu pekerjaan Ryuseitai, Tsumugi berpikir setidaknya salah satu leader nya harus mengetahui situasi dan kondisi anggota unitnya. Toh kamarnya Chiaki juga ada disebelah.

Midori tidak menjawab, hanya gumaman tidak jelas dari mulutnya, jadi Tsumugi berinisiatif untuk kesebelah untuk mencari Chiaki di kamar sebelah yang sayangnya ketika pintu kamar sebelah terbuka yang muncul bukanlah Sang Hati Membara, tapi Yuuki Makoto.

"Aoba-senpai? Ada apa"

"Yuuki-kun, sesuatu yang aneh terjadi pada Takamine-kun. Dimana Chiaki-kun?" Tsumugi bingung ingin menjelaskan situasi Midori ke Makoto bagaimana. Tidak mungkin kan dia bilang kalau Midori tiba-tiba menjadi perempuan? Bisa-bisa Makoto akan mengiranya sudah sinting.

"Morisawa-senpai tadi keluar setelah dihubungi Shinobu-kun. Aku ngga begitu jelas dengar masalahnya, tapi entah kenapa terdengar tidak masuk akal seperti Shinobu-kun tiba-tiba berubah menjadi perempuan?"

"Sengoku-kun berubah juga?!?!"

"Iya! Apa? 'JUGA'?!"


Rasanya Midori ingin pergi dari kamarnya, lompat keluar, kabur entah kemana. Yang penting tidak ada netra merah kecoklatan yang menatapnya intens. Tapi kalau dia kabur lompat orang luar bakal ngeliat dia! Ah, tidak tidak... Lebih baik Midori mengubur dirinya saja. Setidaknya dia tidak sendirian sih, karena disebelahnya ada gadis mungil berambut ungu dengan sedikit cuat kuning yang sama terlihat tidak nyaman seperti dirinya. Setelah Chiaki mendengar masalah yang dialami Midori, ia pun pergi turun ke kamarnya Midori bersama Shinobu karena mereka mengalami masalah yang sama. Daripada bolak-balik kan mending disatuin aja.

"Selain Sengoku, Takamine juga berubah ya... Untung Ryuseitai sedang tidak ada pekerjaan besar dalam waktu dekat jadi kurasa kalian akan libur dulu untuk sementara sampai solusinya ketemu" Chiaki menggaruk kepalanya.

"Chiaki-kun, kalau sampai lebih dari satu orang begini, gimana kalau ternyata Nagumo-kun juga berubah menjadi perempuan?"

"NA?! Waduh!!! NAGUMO!!!" karena menyadari kemungkinan yang dibilang Tsumugi bisa terjadi setelah kedua anak juniornya sudah berganti kelamin, Chiaki yang panik langsung berlari keluar mencoba mencari anak juniornya yang lain sebelum dihentikan oleh Midori.

"Jangan main pergi aja woi! Telpon kan bisa"

"Oh iya"

Chiaki mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Tetora. Baru juga tersambung sedetik, Chiaki langsung memberondong Tetora yang ada di seberang sambungan dengan pertanyaan.

"NAGUMO?! KAMU DIMANA?! ADA YANG ANEH GA?!?! KAMU BAIK-BAIK SAJA?!?!"

"Morisawa-senpai? Aku... Lagi di kamarnya Hiiro-kun. Ada sedikit masalah-ssu"

"Hah?! Hero ada masalah?"

"Bukan Hiiro-kun sih, tapi Hinata-kun... Aku bingung jelasinnya..."

Meski samar, selain suara Tetora yang terdengar ling-lung, Chiaki juga mendengar suara lain yang seperti sedang mengoceh panik. Seperti suara perempuan.

"Nagumo, kenapa kayak ada suara cewek disana?"

"Hah? Ehem!" suara diujung terdengar gugup "Apapun itu, aku, Hiiro-kun sama aniki tidak nyelundupin cewek kok!! Cuma-"

"Hinata-kun berubah menjadi cewek juga?"

"Iya, meski kedengarannya aneh- bentar, kenapa Morisawa-senpai tau? Dan... 'juga'?"


Sekarang Midori semakin yakin sebaiknya dia mengubur dirinya saja dan menjadi nutrisi untuk terong-terong yang akan meneror Chiaki suatu hari nanti. Kamarnya yang semula cuma ada dirinya, Shinobu, Tsumugi dan Chiaki kini bertambah menjadi Tetora, Hinata dan Yuuta. Tsumugi telah pamit keluar karena dia ada pekerjaan pagi dan dia mengatakan akan memberitahu Ibara dan Mitsuru (karena mereka teman sekamar) soal situasi ini, jadi sekarang tiga perempuan jadi-jadian ini sedang disidang oleh tiga lelaki yang sedang kebingungan melihat fenomena ghoib ini.

"Uhh... Udah rame-ramean Ryuseitai sama 2wink ngumpul disini, kenapa ga sekalian manggil Shinkai-senpai?" Hinata berusaha mencairkan suasana canggung diantara mereka berenam.

"Kanata ada kerjaan di AOUMI, jadi dia sudah pergi sejak pagi, setidaknya dia akan kuberitahu nanti" Chiaki memijat keningnya "Jadi kalian bertiga kemarin melakukan apa sampai kompak jadi cewek begini?"

"Kalau kami tau alasannya ya ngga bakal pusing begini sih"

"Bukannya kalian bertiga kemarin pulang sekolah bareng ya?" kali ini Yuuta yang bersuara, nadanya terdengar sedikit sarkastik seakan-akan dia tidak suka dengan fakta itu.

"Yuuta-kun, kamu masih kesal aku pulang bareng Shinobu-kun? Ayolah! Kau kan kemarin ada kerjaan solo, dan Shinobu-kun sendiri yang mengajakku bareng Midori-kun" mendengar pembelaan dari kakak kembarnya, Yuuta hanya mendenguskan hidungnya sambil melipat kedua tangannya.

"Lagipula kemarin kita cuma pulang, ngga mampir kemana-mana. Ngga mungkin gitu doang bisa ngerubah jenis kelamin" tambah Midori suram. Jujur saja, dia risih dengan payudara barunya yang menggantung, terlalu besar dan menonjol. Apa payudara cewek itu seberat ini? Lagipula kenapa hanya dia yang mendapat ukuran sebesar itu sedangkan Hinata dan Shinobu ukurannya tidak besar-besar amat. Hidup memang tidak adil.

"Hmm... Sampai asrama sih kita masih ngobrol sebentar, karena udaranya panas jadi kita sempat minum jus yang ada di kulkas ruang bersama" kali ini Shinobu yang bersuara.

"Jus apa?"

"Eh? Cuma jus botolan tanpa label... Aku kira..." perlahan muka Shinobu mulai memucat seperti menyadari sesuatu. Sesuatu yang tidak beres dari jus itu.

"Haahh... Aku akan melaporkan hal ini ke Hasumi nanti, setidaknya kalian bertiga harus tetap di kamar agar tidak membuat keributan yang lebih parah. Nagumo, Yuuta-kun, kalian bisa jagain mereka untuk sementara?"

"Bisa kok, Morisawa-senpai. Ya kan Tetora-kun?" Yuuta mengacungkan jempol sambil merangkul Tetora "Whoaa! Aku ngga masalah sih, senpai. Toh hari ini juga tidak ada kerjaan"

Chiaki pun akhirnya menghela nafas lega karena satu masalah sudah selesai, meski masih ada masalah yang lain. Ia lalu menatap Midori yang masih meringkuk seakan-akan dia sedang berusaha menyembunyikan sesuatu.

"Takamine, mau kupanggilkan Akehoshi sekalian?"

Mendengar nama itu, bulu kuduk Midori merinding. Dia langsung berdiri dan mencengkeram kedua bahu Chiaki tanpa sadar sembari memelototinya.

"Apapun yang terjadi... Orang itu... Ngga boleh tau soal ini" ancam Midori meski wajahnya sendiri terlihat ketakutan.

"Ehh? Kenapa aku ga boleh tau, Takamin?" 

Sebuah suara menginterupsi Midori dan Chiaki. Midori yang tentu saja mengenali suara itu dengan patah-patah menengokkan kepala kearah sumber suara yang berada di depan pintu kamar yang kini terbuka, menampakkan sosok berambut oranye acak-acakan yang memasang tampang tanpa dosa.

"Waow Akehoshi-senpai kok bisa ada disini?" kali ini Yuuta yang bersuara, menyapa Subaru 

"Aku meneror Ukki untuk menceritakan masalahnya~ Aku kan pacarnya Takamin, masak ga boleh tau sih?" belum juga diberi izin, Subaru memasuki kamar sedangkan Midori yang panik berusaha berlari kearah jendela untuk lompat dari sana- yang tentu saja ditahan Tetora dan Chiaki. "Chi-chan senpai tenang aja, Takamin akan kujaga baik-baik kok~ Ya kan Takamin?" kali ini Subaru merangkul pinggang Midori, mencegahnya untuk kabur dari kamar itu. Midori yang sudah pasrah akhirnya menjatuhkan bahunya dalam dekapan Subaru.

"Oh! Baguslah, aku serahkan ke kalian kalau begitu. Kalian jangan macam-macam ya!" ujar Chiaki sebelum keluar dari kamar, meninggalkan enam orang itu.

'Ngga janji sih!' 

Itu adalah isi hati dari manusia berkepala jeruk.

Notes:

Aku masih ga yakin soal ratingnya hmm... Dan kenapa aku membuat fanfic baru, bukannya menyelesaikan yang belum selesai?