Chapter Text
Rabu, 4 Desember 2024
Desember selalu datang dengan cara yang sama di Seoul; angin yang menusuk dari Sungai Han, kabut yang menyelimuti gedung-gedung tinggi di Gangnam, dan langit yang kelabu seolah menahan napas sebelum akhirnya menurunkan salju. Di SMA Hanseong, salah satu sekolah negeri bergengsi di Apgujeong, hari-hari menjelang libur musim dingin terasa lebih berat, bukan karena ujian akhir semester, tapi karena udara dingin yang meresap sampai ke tulang.
Langit Seoul sudah gelap sejak pukul lima sore. Lampu-lampu jalan di Apgujeong mulai menyala kuning, mencerminkan diri di trotoar yang masih basah karena gerimis kecil siang tadi. Angin dari arah Sungai Han menusuk sampai ke tulang.
Yonghoon berjalan sendirian di koridor lantai tiga gedung utama, seragam musim dinginnya yang rapi; kemeja putih, rompi abu-abu tua, dan blazer lengan panjang berwarna navy, tentu saja masih belum cukup melawan angin yang menyelinap lewat celah-celah jendela. Ia baru saja selesai rapat OSIS hingga larut. Sebagai ketua OSIS tahun kedua, ia sudah terbiasa pulang paling akhir. Lampu koridor sudah mulai dimatikan satu per satu oleh petugas kebersihan, hanya menyisakan cahaya kuning pucat dari lampu darurat.
Di ujung tangga menuju lantai dasar, ia berhenti sejenak. Di luar, langit sudah gelap total, tapi ada sisa jingga di ufuk barat yang terperangkap di antara gedung-gedung apartemen mewah. Yonghoon menarik napas panjang. Dadanya terasa sesak—bukan karena dingin, tapi karena beban yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun. Nilai sempurna, piala debat nasional, pidato di depan walikota, semua itu seperti rantai yang semakin lama semakin berat.
Ia melangkah lagi, kali ini lebih lambat.
Di halaman belakang sekolah, dekat lapangan basket yang sudah kosong, Minje masih berdiri sendirian. Ia baru saja menyelesaikan latihan tambahan—sendirian, seperti biasa. Bola basket masih digenggamnya di tangan kanan, sementara tangan kiri memegang botol air yang sudah setengah kosong. Seragamnya yang seharusnya tak diperuntukkan untuk olahraga basah oleh keringat yang mengering diterpa angin dingin, ia tak buru-buru pulang. Ia menunggu.
Ia selalu menunggu.
Dari kejauhan, ia melihat sosok Yonghoon keluar dari pintu samping gedung utama. Langkahnya pelan, bahunya sedikit membungkuk, tanda bahwa hari ini berat baginya. Minje tahu. Ia selalu tahu. Walaupun Yonghoon tak pernah mengeluh, walaupun senyumnya di depan semua orang selalu sempurna, Minje bisa membaca dari cara Yonghoon menggenggam tasnya lebih erat, dari cara ia menunduk saat berjalan sendirian.
Minje meletakkan bola di bangku pinggir lapangan. Ia mengambil syal wol abu-abu yang tergeletak diatas tasnya, di bangku yang sama, syal yang neneknya rajut khusus untuk musim dingin ini.
Yonghoon baru saja melewati gerbang kecil menuju jalan setapak yang menghubungkan sekolah dengan stasiun subway Apgujeong Rodeo. Di sana, lampu jalan sudah menyala, tapi cahayanya kuning dan redup, seperti lilin yang hampir habis. Saat itu lah ia mendengar suara langkah di belakangnya. Yonghoon mengangkat wajahnya.
“Hoon!”
Suara itu datang dari belakang, rendah dan tenang, tapi cukup membuat Yonghoon berhenti melangkah. Ia tak perlu menoleh untuk tahu siapa itu.
Yonghoon hanya memandang, tak mengerti.
Satu langkah. Dua langkah.
Hingga keduanya berdiri sangat dekat, tinggi mereka sama persis, sekitar 180 sentimeter, cukup untuk membuat orang-orang di sekitar selalu membandingkan mereka berdua. Bedanya, Minje lebih berisi, bahunya lebih lebar karena latihan basket bertahun-tahun, sementara Yonghoon ramping dan tegap seperti pohon pinus yang tumbuh di tepi tebing.
Tanpa berkata apa-apa, Minje mengangkat syalnya. Gerakan tangannya pelan, hati-hati, seperti takut merusak sesuatu yang rapuh. Perlahan sekali, seperti takut kain itu akan terlalu berat untuk bahu yang sudah terlalu lama membawa beban sendirian.
Ia melingkarkan syal itu di leher Yonghoon, menutupi kerah mantel yang terbuka. Jari-jarinya yang besar dan sedikit kapalan, bekas latihan dribble dan shooting berjam-jam, menyentuh leher Yonghoon sebentar, hanya untuk memastikan syal itu pas.
Yonghoon tak bergerak sama sekali, ia diam saja, menatap mata Minje yang kini begitu dekat. Ia membiarkan.
Salju turun perlahan dengan lembut, seakan seperti yang pertama kalinya dalam setahun, turun dengan ragu-ragu. Serpihan putih menempel di rambut hitam Yonghoon yang sedikit berantakan karena angin. Satu serpihan lagi jatuh tepat di pipi kanan Yonghoon, Minje mengangkat tangannya lagi, kali ini lebih berani. Telapak tangannya yang hangat menyentuh pipi Yonghoon, mengusap serpihan salju yang meleleh di sana. Gerakannya lambat, penuh perhatian, seperti menyentuh sesuatu yang sangat berharga.
“Jaga dirimu, Hoon.” kata Minje pelan. Suaranya parau karena dingin, tapi tetap lembut. “Jangan biarkan dirimu kedinginan.”
Yonghoon menatapnya. Mata mereka bertemu di bawah cahaya lampu jalan yang kuning. Di mata Minje, tatapan itu lembut, sedikit ragu, bukan hanya kekhawatiran biasa, seperti perkataan yang sudah lama tertahan, sesuatu yang tak pernah diucapkan.
Yonghoon ingin berkata sesuatu. Ingin bertanya, “Kenapa kamu begini?” Ingin bertanya, “Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku?” Tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokan. Ia hanya mengangguk kecil, hampir tak terlihat.
“Terima kasih,” ucapnya, suaranya rendah, tapi jelas. Minje tersenyum, senyum kecil yang tak pernah ia tunjukkan pada orang lain. Senyum yang hanya untuk Yonghoon.
Salju terus turun, menutupi trotoar, menutupi jejak kaki mereka berdua. Di kejauhan, suara klakson mobil dan dering lonceng toko-toko di Rodeo Street terdengar samar, seperti dunia lain.
Mereka berdiri di sana lebih lama dari yang seharusnya. Tak ada yang bergerak. Tak ada yang bicara lagi. Hanya salju pertama yang turun di antara mereka, menyaksikan sesuatu yang baru saja dimulai—atau mungkin, sesuatu yang sudah lama ada, tapi baru sekarang berani menampakkan diri. Dan di dalam dada Minje, ada detak jantung yang terlalu kencang untuk disebut biasa.
