Actions

Work Header

titik leleh 43°C

Summary:

"Saya harap saya mati mendahului kamu; dan akan saya pastikan sendiri itu yang terjadi."

Ia menyembunyikan perih mendengar kalimat itu diucap Acchan, tapi ini bukan apa-apa. Lagipula ia sendiri pernah meninggalkan Acchan, jadi mungkin ini bentuk balas dendamnya yang harus bisa ia paksa maklumi.

"Saya... tidak akan bilang agar kamu terus di sini saja, tapi—apa boleh kalau membagi sebagian hidup kamu pada saya?"

Ranmaru hampir tersedak ludahnya sendiri.

Kalau yang ini jelas saja apa-apa, kan?!

Notes:

ngasih judul dengan pikiran lelehin cokelat temperaturnya sekitar itu tapi ternyata lilin titik lelehnya 43°C jadi?? ya udah?? (apa) aku suka sekali membawa-bawa ranchan yang (dulunya) adalah api itu sendiri dibuat leleh sama acchan nyahah i can write it over and over and over again >:3c

as per usual complementary art here~

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

"Saya harap saya mati mendahului kamu."

 

Tak ada angin, tak ada hujan, suara yang amat dikenalinya tanpa aba-aba menyapa dengan kalimat yang sama sekali asing.

 

Ranmaru tidak tahu ekspresi apa yang sedang dibuat Acchan. Pula tidak berani mencoba mencari tahu, karena bukankah itu artinya Acchan juga akan tahu selintas perih di matanya saat mendengar harap yang dia ungkap? Maka, tanpa bergerak sedikit pun, dibalasnya Acchan setelah sesaat hening yang menulikan, "Kenapa?"

 

Ia menghitung detik dalam hati demi meredakan antisipasi tidak mengenakkan akan karena yang mungkin dilempar padanya. Pikirnya, selama panjang waktu yang mereka lalui bersama (atau tidak benar-benar bersama, tapi Ranmaru selalu tahu kabar Acchan; bukankah itu cukup?) ia semakin dekat untuk berdiri bersisian dengannya, tapi pernyataan tadi membuatnya ragu. Apa bahkan sekarang pun dirinya hanya sosok yang kebetulan banyak bersilang temu di dunianya yang semakin luas bagi Ashiya Douman?

 

(Sadarkah Acchan akan senelangsa apa Ranmaru di dunia di mana Ashiya Douman benar-benar tinggal nama?)

 

Dirasakannya Acchan menarik napas dalam. Embusan hangat yang kemudian menggelitik lehernya seakan kehilangan magis yang di hari biasa membuat kepalanya ringan.

 

"... Agar kamu tahu rasanya."

 

… Oh.

 

Ini bukan soal ketakutan Ranmaru, jika membaca dari selipan getir dalam gumaman alasan yang ia tangkap.

 

Ini soal Acchan yang melihat ia dilahap api dan begitu saja lenyap dari hadapannya hari itu.

 

Melembut, Ranmaru kembali menyamankan diri dan menarikan jemarinya pada lengan Acchan yang masih memeluknya, sesekali menyelingi dengan ketukan-ketukan kecil tak beraturan dan usapan halus. Dulu, dulu sekali, ia belajar dari para manusia yang dilihatnya, bagaimana mereka menenangkan yang terkasih dengan sentuhan-sentuhan kecil seperti ini; dulu, dulu sekali, ia sering melakukannya pada anak kecil dengan raut tak ramah yang tidak jarang mengambil sajian persembahan untuk menyambung hidup.

 

Ia masih tidak suka ide bahwa akan ada masa tidak ada Ashiya Douman di hidupnya, tapi Ranmaru melanjutkan yang dimulai Acchan. "Memang kata siapa jangka waktu hidup nurarihyon lebih pendek dari karasu tengu?"

 

"Tidak ada. Bukan kata siapa-siapa, karena saya sendiri yang akan memastikan itu yang terjadi. Kamu akan terus hidup sampai waktu itu."

 

Percaya diri sekali. Benar-benar pria berego tinggi. Tapi Ranmaru pun lebih tahu dari sekadar bisik-bisik kabar burung soal apa yang bisa dilakukan onmyouji agung merival Abe no Seimei dan kini salah satu youkai dengan pengaruh bukan main, jadilah ia ikuti ritme itu dan diliriknya Acchan dengan kerling yang juga sarat percaya. "Hmm. Acchan aja sering nggak tau kabarku, gimana bisa mastiin hidup atau enggaknya aku?"

 

Ada suara kain yang bergesekan ketika Acchan melepas dirinya dan bangkit dari futon. Bertanya-tanya, Ranmaru mengikuti dengan mata sampai Acchan hilang di balik pintu dan kembali lagi—kelihatannya tanpa perubahan sesuatu apapun. Tapi dia tidak kembali masuk dalam nyamannya selimut, mengambil duduk di samping futon dengan kedua tangan mengepal di atas paha, jadi Ranmaru ikut bangun dan menirunya melipat kaki. Lampu kamar yang tadi remang sudah diterangkan sepenuhnya.

 

Netra kelabu Acchan berkilat hampir seperti pucat bulan; ia memang masih merasa… rumit, dengan luka yang menyisa di paruh kanan wajahnya, tapi Ranmaru tidak bisa memungkiri kalau ia semakin menyukai sebelah matanya yang kini keabuan seiring berjalannya waktu. Abu yang cantik, jernih, kadangkala begitu jelas memantulkan sirat warna sekitar sampai dikiranya manik itu sungguhan bisa berubah warna dalam sekejap—menurutnya, mencermin Acchan yang perubahan-perubahan kecilnya ia sadari selaras dengan semakin banyak sang nurarihyon menyusuri dunia.

 

Ranmaru juga suka bagaimana cemerlang abu itu kontras dengan warna mata aslinya yang merah pekat. Kalau dipikir-pikir, mengatakannya purnama dan gerhana tidak begitu menyimpang, kan? Gemintang di lukanya, rembulan di matanya, matahari subuh di lembut senyum tulusnya yang tidak sering, bahkan burung api yang mati dan hidup lagi; apa yang Acchan tidak punya di genggamannya?

 

Mungkin 2 detik, mungkin 2 menit, mungkin juga lebih. Ia tidak yakin pastinya seberapa banyak atau sedikit waktu yang terlewati hanya diisi dirinya dan Acchan saling menangkap satu sama lain dalam pandangan, dan meski Ranmaru bisa (dan sejujurnya mau saja) menunggu semalam penuh cuma memandangi bagaimana lentik bulu mata Acchan bergerak saat berkedip, kali ini diputuskannya untuk memenangkan rasa penasaran dibanding sabar dan memecah diam. "Acchan? Kenapa? Ada sesuatu?"

 

Sepasang manik berbeda warna kompak melirik kepalan tangan dan kembali menangkap Ranmaru dalam kesiapan baru. Tegas. Teguh. Entah kenapa ia jadi… sedikit gugup, sebagai titik singular yang dituju tatapan itu.

 

“Apa, sih? Kayak serius banget—”

 

“Soal pertanyaan kamu tadi,”

 

“Tentang gimana mastiin aku hidup?”

 

Acchan mengangguk. Dia menarik napas. "Saya... tidak akan bilang agar kamu terus di sini saja, tapi—" Sebelah kepalan Acchan terbuka menunjukkan sebentuk cincin polos yang berkilap tanpa ragu di bawah lampu. "—apa boleh kalau membagi sebagian hidup kamu pada saya?"

 

Ranmaru hampir tersedak ludahnya sendiri.

 

Bukannya ia punya tebakan apa yang dipikirnya akan dilakukan Acchan, apa yang akan diucap Acchan dengan raut menyurat sungguh dalam tenang begitu, tapi jelas saja apapun yang mungkin tanpa sadar dipikirkannya sama sekali jauh dari ini.

 

Soalnya tadi Acchan baru saja bilang ingin mati lebih dulu darinya, kan? Mau itu didorong pahit yang dilewatinya atau ketakutan dalam diam Ranmaru, tetap saja artinya ada yang ditinggalkan; terus maksud cincin dan membagi sebagian hidup itu apa? Sebenarnya sejauh apa jarak perasaannya dengan Acchan sampai dia sebegitu inginnya membuat dirinya merasakan pedih ditinggal? Mau sekurang ajar apapun Acchan, memangnya ini nggak keterlaluan?! Bahkan bagi Ranmaru yang entah sudah berapa kali keluar-masuk penjara ini jahat sekali! 

 

"Acchan—"

 

"Tadi kamu tanya bagaimana bisa saya memastikan hidup atau tidaknya kamu, kan?"

 

Curang. Gimana Acchan bisa setenang ini? "Iya, sih, tapi apa—"

 

"Cincin ini sudah saya pasangi sihir.” Acchan tidak menyinggung soal keterburu-buruannya meminta penjelasan kalau memang dia menangkapnya (dan Ranmaru yakin begitu adanya), dan melanjutkan seakan ini bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan. “Kalau kamu bersedia... membawanya, saya akan bisa tahu apakah kamu masih hidup—dan benar-benar hanya itu. Lokasi dan dan apa-apa yang kamu lakukan, saya tetap tidak akan tahu begitu saja."

 

Ada jeda yang diambil selagi Acchan memainkan cincin di telapak tangan, mata sesaat melarikan diri sebelum menghanyutkan lagi Ranmaru di kedalamannya; sepasang mata yang jernih, memancar yakin, dan hanya memantulkan Karasuma Ranmaru duduk dengan postur kaku disirami terang lampu ruangan. “Saya akan tanya lagi. Apa boleh saya meminta kamu membagi hidup dengan saya? Sebagai Karasuma Ranmaru, sebagai siapapun kamu dari sekarang dan jauh yang nanti akan datang,”

 

Sesuatu tentang cara dia melihat lurus-lurus padanya dan berbicara tanpa ragu seyakin penuh membuat Ranmaru ingin mengiakan saat itu juga meski ia belum sepenuhnya selesai memproses yang sebenarnya sedang terjadi, tapi— “Tapi Acchan baru aja bilang berharap mati lebih dulu dari aku, kenapa jadi… minta… berbagi hidup…?

 

(Di satu sisi, ia ingin egois menafsirkan permintaan izin Acchan sesuka hatinya, tapi ia juga ingin mengerti. Toh kalau pun rupanya ia hanya terbawa pengharapan, menunggu bukan hal baru baginya.)

 

“Itu—” Mulutnya membuka, lalu menutup, lalu alisnya bertaut sedikit, dan saat itulah ia kemudian paham yang ditangkapnya adalah tepat yang ingin disampaikan. Ah, Acchan, Acchan, dia pikir sudah berapa lama Ranmaru (Suzaku) memperhatikan eksistensi bernama Ashiya Douman? Saat Acchan angkat suara lagi, rautnya sudah kembali seperti ketika menyambung percakapan di bawah terang. Kali ini, tidak seperti sebelumnya, ia temui raut (penuh usaha agar tetap tampil) tenang lawan bicaranya dengan tahu. “Maka dari itu, seperti yang saya bilang; ini hanya untuk memastikan kamu terus hidup sampai waktu saya habis.”

 

Ranmaru menahan untuk tidak tertawa geli. Sengaja disisipkannya nada kecewa yang dibuat-dibuat saat bertanya, "Jadi, ini bukan lamaran?"

 

"La—..." Acchan masih bersikeras dalam usahanya terlihat tenang, tapi cahaya lampu penuh membuat rona merah yang cepat merayapi wajahnya tertangkap jelas oleh Ranmaru. Satu lagi kepal tangannya yang hampir terlupakan akhirnya terbuka, dan melihat apa yang ada di dalamnya membuat Ranmaru tidak bisa lagi menahan senyum. "... Saya juga akan membawa cincin yang sama, kalau kamu berkenan menganggapnya begitu."

 

Sepasang cincin perak polos lembut memantulkan kilap cahaya di telapak tangan Acchan. Lingkaran kembar simpel nan sederhana yang rasanya bisa ditemukan di mana saja. Tapi rona kemerahan masih mewarnai wajahnya dan dia menatap Ranmaru gugup tidak sabar, jadi tentu saja sepasang cincin ini bukan hanya cincin.

 

Ia sudah mengenal Ashiya Douman 1000 tahun lebih sedikit, dan sisi Acchan yang ini (meski dia sudah bisa lebih jujur tentang perasaannya dibanding dulu) masih saja terasa menggemaskan. Kalau bukan malah semakin menggemaskan, dengan persona yang dijaganya sebagai kepala sekolah. Terkadang Ranmaru—

 

—Tunggu, sekarang bukan waktunya memikirkan itu!

 

Ranmaru cepat mengambil satu cincin dan lompat memeluk Acchan hingga keduanya jatuh terbaring di atas tatami. Digenggamnya cincin itu rapat, memastikan kenyataan wujudnya, merasa-rasa beratnya yang tidak seberapa. Ini sungguhan. Ini asli cincin betulan!

 

Tertawa lepas dengan rona sewarna bahagia yang ia yakin dapat dengan mudahnya terbaca dunia, Ranmaru berucap sebelum pria di pelukannya sempat mengaduh protes, "Beneran, ya, Acchan! Pokoknya nggak ada penarikan kembali!"

 

Baru kali ini Ranmaru merasa khawatir dirinya akan lebur sesederhana karena merasakan pelukannya berbalas. Erat. Nyaman. Padahal ia merasa begitu penuh seakan tidak ada lagi ruang untuk menerima apapun, tapi sempat-sempatnya ia serakah terpikir begini 24/7 pun tidak masalah. Acchannya (Acchan-nya!) ikut melepas tawa sebelum sigap membalik posisi dan menempelkan dahi keduanya dengan pasang mata menyala. "Tentu saja. Saya harap kamu juga siap, karena saya tidak berencana cepat-cepat meninggalkan kamu."

 

Segala campur aduk parade rasa di benaknya mereda jadi paduan yang meriah ledakannya lebih menyenangkan—syukurlah rupanya mereka tidak sejauh itu.

 

Kecupan ringan yang kemudian ia dapat di keningnya mungkin salah satu sesuatu paling hangat yang pernah dirasakannya dalam kehidupan panjang Ranmaru, bahkan termasuk menghitung pula seluruh yang dilewatinya sebagai Suzaku—ah, gawat, bagaimana kalau ia meleleh habis saat ini juga?

Notes:

gakutai lamaran is more likely than you think...! not that they're dating or anything

kalau ada yang sadar acchan bilang "membawa" dan bukan "memakai" karena baginya dengan ranmaru menerima aja udah cukup; nggak harus cincinnya dipakai sebagaimana cincin, dengan cincinnya ada di ranmaru pun bikin acchan lebih tenang bisa tahu pasti dia masih hidup c: (ga bakal ngaku)