Work Text:
Seokmin: Pukul 20.00 di New Groove? Aku buat reservasinya jika kau setuju.
Entah sudah berapa kali Jihoon membaca pesan itu. Pesan yang sudah ia terima sejak pukul 14.00 siang tadi. Hanya diam bergeming. Tak ada pergerakan apa pun lagi, entah itu dari mulutnya atau jari-jemarinya. Bahkan pupil matanya pun masih menatap hal yang sama di atas layar—rentetan dua buah kata yang sudah sangat Jihoon kenali, New Groove.
New Groove….
Tiba-tiba dunia bergerak dengan cepat. Hiruk pikuk lorong gedung teater berganti menjadi sesuatu yang hangat dan nyaman. Cahaya lampu neon yang terang seketika hilang tenggelam oleh lampu temaram yang bergelantungan pada langit-langit rendah sebuah resto jazz di Midtown Manhattan.
Suara dentingan gelas kaca yang bertemu satu sama lain tercampur mulus dengan suara peralatan makan di atas piring porselen. Harum daging baru masak, potongan kentang yang dipanggang pada lelehan lemak bebek, sofa dan kursi dari kulit asli, serta aroma whiskey yang menguar di udara. Semua begitu jelas di dalam pikiran Jihoon. Bahkan sayup not iringan jazz berdendang menutup kedua saluran pendengarannya ketika ia memutuskan untuk membalas pesan itu.
Jihoon: Oke.
Satu kata singkat. Jihoon tahu apa akibatnya dan ia tahu kalau ia harus bertanggung jawab soal itu nantinya. Begitu bodoh dan naif. Bahkan setelah satu tahun berselang, Jihoon masih tertelan oleh kebodohannya sendiri.
Seokmin: Bagus. Aku jemput 19.00?
Jihoon: Tidak perlu, New Groove dekat tempat kerjaku. Sampai berjumpa di sana, Seokmin.
Tingginya lima kaki sepuluh inci. Sedang melanjutkan studi magister di Law School New York University. Ia memiliki cita-cita untuk melanjutkan kantor pengacara swasta yang sudah didirikan oleh sang kakek sebelum Seokmin lahir.
Orang bilang, siapa pun yang bergelut di bidang hukum hanya akan menjadi dua kemungkinan; orang yang sangat peduli terhadap sesama atau orang yang sangat brengsek yang alasannya menggeluti dunia hukum karena untuk keuntungannya sendiri. Lee Seokmin masuk ke golongan yang pertama. Jihoon berani bersumpah bahwa ia tidak pernah bertemu orang sebaik dan setulus pria itu. Jihoon bahkan sempat skeptis jika apa yang didengarnya sama seperti apa yang dilihat oleh kedua matanya.
“Kau sekolah hukum?”
“Benar.”
Kedua pandang Jihoon memindai tubuh Seokmin dari atas ke bawah dan ke atas lagi. Bomber beludru cokelat dengan celana jeans hitam pas kaki. Topi kupluk di kepala serta sepatu kets trendi yang sering Jihoon lihat di jalanan Kota New York.
“Apa kau yakin?”
Seokmin tertawa geli. Terdengar suara kereta melintasi jalan layang terdekat dari pub bawah tanah tempat mereka mengobrol sekarang. Ada segelas Manhattan pada masing-masing genggaman Jihoon dan Seokmin. Seokmin melakukan sisipan perlahan dan Jihoon menunggu tanpa paksaan.
“Seratus persen yakin.”
Tapi segala keraguan itu segera menghilang ketika intensitas pertemuan Jihoon dan Seokmin semakin bertambah. Segalanya mulai masuk akal pada setiap pembicaraan mereka selanjutnya. Seokmin tidak hanya bermodalkan hati yang besar, tetapi juga pintar. Sangat, sangat, sangat pintar. Pria itu jago bernegosiasi, dengan lembut ataupun dengan tegas. Karismanya menguar setiap kali sosoknya memasuki ruangan. Lontaran tawa terdengar di setiap percakapan yang pria itu singgahi. Lee Seokmin adalah citra manusia yang manusia lain dambakan.
Sayangnya tidak untuk Jihoon. Sudah tiga bulan sejak Jihoon dikenalkan kepada Seokmin lewat salah seorang teman yang sama-sama mereka kenal. Tapi ia masih menganggap Seokmin tidaklah lebih dari seorang kenalan.
Rasa itu. Rasa patah hati itu begitu besar sampai membuat Jihoon sombong. Tenggelam di dalam kehidupannya sendiri, yang sebenarnya pun ogah bersemayam hanya berdua bersama Jihoon. Semua ini bukan tanpa sebab. Hanya satu orang yang bisa membuatnya begini, seseorang yang terasa sangat familiar, sama familiarnya dengan rentetan alunan jazz yang mengisi setiap sudut New Groove malam itu. Mengisi kedua gendang telinganya tanpa ampun dan membawa memori lama tanpa diminta.
“Maaf aku terlambat.”
Suara seorang pria lewat bersamaan dengan bunyi pukulan simbal dan melengkingnya saksofon yang masuk ke dalam pendengaran Jihoon.
“Hujan salju lebat sekali, jarak pandangnya menjadi sangat pendek, a—”
“Tidak apa-apa, Seokmin. Ada salju di atas kepalamu.” Tangan Jihoon lebih cepat menggapai kepala Seokmin sebelum kalimatnya selesai. Hanya dengan dua kibasan dapat mengubah raut penuh bersalah yang tadinya ada di wajah pria itu menjadi sebuah senyuman.
“Terima kasih, apa sudah pesan makanan?”
“Belum. Hanya air. Maaf agak lancang memesan duluan, aku haus sekali.”
Seokmin senyum semakin lebar. “Jangan sungkan. Permisi!”
Seorang pramusaji datang ke arah panggilan pria itu. Seokmin menawarkan beberapa sajian yang ada di menu kepada Jihoon, makanan dan koktail. Jihoon hanya berkata, “apa saja”, “boleh”, “terdengar enak”, dengan nada semenarik yang ia bisa. Bukannya mau bersikap tidak sopan tapi memang begitu adanya.
Pada dasarnya ia buka tipe pemilih untuk urusan makanan, tapi saat ini perutnya sedang bergejolak hebat, hatinya juga. Pandangannya terus berlari liar mengelilingi resto yang tengah ramai itu. Menyelusup ke dalam pramusaji yang membawa baki di tangan, ke dalam perbincangan bisnis beberapa meja dari mejanya, mengelilingi instrumen yang berdendang di atas panggung, dan kembali ke pintu masuk resto ketika bel di atasnya berbunyi.
Ada dua orang yang memasuki ruangan. Pramusaji yang bertugas di depan pintu langsung menyambut mereka dengan hangat. Dua senyum rekah dan dua pandangan mata yang bertemu. Satu orang asing dan satu yang sangat ia kenali.
“Satu meja atas nama Jeon Wonwoo.”
🎷
Isi di dalam gelasnya sudah hampir habis. Biasanya ia tidak menyukai Old Fashioned. Bukan karena rasa pahitnya atau sensasi terbakarnya, tapi karena harganya yang melebihi anggaran dari yang seharusnya ia keluarkan untuk minuman beralkohol. Too fancy. Biasanya Jihoon lebih memilih sebotol vodka atau tequila murah dari supermarket sebagai pelariannya. Khususnya di waktu seperti ini. Masih pertengahan Desember dan uang saku hasil dari kerja sambilannya sudah semakin menipis.
Tapi kali ini berbeda dengan yang lain. Kepalanya kosong entah sejak kapan, ia hanya melaju ke mana pun kakinya ingin pergi begitu shift-nya berakhir, tangannya meraih sesuatu yang bukan ia mau, matanya terbuka tidak sesuai kehendaknya. Jihoon sudah tidak hidup lagi. Jadi biarlah ia begini. Jika memang hari ini adalah hari terakhirnya, setidaknya perutnya terisi oleh alkohol mahal.
“Old Fashioned, huh? Gelas pertama tanda sebuah hasrat, gelas kedua tanda putus asa.”
Seseorang duduk pada bangku bar di sebelahnya. Jihoon sadar akan hal itu, tapi tidak cukup niat untuk peduli siapa yang baru saja bicara. Butuh waktu beberapa menit baginya untuk menoleh kepada si pemilik suara.
Seorang pria, agak kurus, pakaian musim dinginnya tebal, tingginya? Ia tidak tahu. Dilihat dari posisi lututnya yang hampir menyentuh konter bar, pria ini mungkin lebih tinggi dari Jihoon.
“Apa gelas ketiga pertanda hari akhir?”
Pria itu tertawa. “Gelas ketiga pertanda kau mabuk dan karena tidak ada yang bersamamu maka tidak akan ada yang membayar minuman bertotal $120 itu dan sepuluh menit kemudian kau akan diusir dari bar untuk selanjutnya tergeletak di jalanan dingin bulan Desember.”
Rentetan kata yang datang dari mulut pria itu begitu lambat ia proses di kepalanya. Tapi setelah mengerti apa maksud yang ingin disampaikan oleh orang tersebut, Jihoon mendengus tertawa.
“Tolong satu Old Fashioned,” kata si pria kepada bartender.
Karena kondisi bar yang tidak terlalu ramai, si bartender langsung membuatkan minuman pria asing itu. Ia mengucapkan terima kasih ketika minumannya sudah tersaji di atas meja. Satu tangannya membawa gelas mendekat untuk kemudian ia resapi aromanya. Jihoon bisa tebak bagaimana wanginya. Tajam, musky, dan sedikit menyegarkan dari kulit jeruk yang ada di sana. Aroma yang juga membuat Jihoon ketagihan malam ini.
Pria itu kemudian menyesap cairan yang ada di dalam gelas. Kedua bibirnya membuat kecapan kecil setelah alkohol turun melewati kerongkongannya.
Jihoon baru akan memalingkan wajah ketika pria itu tiba-tiba bersuara, “Jeon Wonwoo.”
“Maaf?”
“Bukankah kau ingin mengetahui namaku?”
Wonwoo menoleh kepada Jihoon. Ada ukiran senyum simpul yang menghiasi wajahnya ketika ia mendapat tatapan aneh dari Jihoon.
Jihoon sedikit merasa tidak nyaman ketika Wonwoo tidak berkata apa-apa lagi setelahnya. Benar-benar tidak ada yang keluar dari mulut pria itu, hanya tatapan yang lekat ke arah Jihoon. Tapi setelah beberapa saat ia baru menyadari suatu hal. Wonwoo bukan menatapnya, arah pandangnya lurus kepada sesuatu yang ada di belakang punggung Jihoon. Ia menoleh ke arah apa pun yang Wonwoo lihat.
Panggung musik. Sekelompok musisi sedang bermain di atas sana. Begitu asyik memenuhi atap restoran dengan alunan suara yang keluar dari instrumen yang masing-masing mereka mainkan. Gitar, drum, piano, bass, semua bersatu padu membentuk rentetan musik yang bernama jazz.
Jazz selalu memberikan Jihoon kesan yang tak terduga pada setiap permainannya. Seperti dibentuk oleh dua dunia yang benar-benar berbeda. Kompleks dan kacau, tapi juga bebas dan revolusioner. Satu hal yang ia dapatkan dari mempelajari musik jazz selama kuliah adalah, apakah bisa ia mengimplementasikan sifat genre yang merupakan sebuah terobosan itu menjadi perjalanan hidupnya?
“Rasanya tidak pernah berubah,” kata Wonwoo tiba-tiba. Kedua matanya masih terfokus kepada musisi-musisi jazz di atas panggung sana.
“Bagaimana bisa sebuah rentetan nada mampu membuat segala sesuatu di sekitarnya menjadi begitu hidup?”
Jihoon menoleh kepada Wonwoo. “Kau penggemar jazz?”
“Untuk itulah aku di sini.”
“Agak sedikit kasar.”
Kalimat Wonwoo barusan seakan-akan membuat pertunjukan jazz-lah satu-satunya alasan yang bagus dari tempat ini. Tentu itu tidak benar, selain karena musisi jazz yang selalu tampil keren setiap malam, Jihoon tahu kalau New Groove juga menyajikan hidangan nikmat dan koktail yang enak.
“Old Fashioned ini tidak buruk.”
“Oh, bukan. Maksudku, jazz adalah alasan yang membuatku bertahan.”
Jihoon terdiam. Apa yang ia rasakan saat itu adalah hal yang belum pernah ia rasakan sejak lama. Membuatnya terlihat dan erat. Seperti ada tali yang melingkari mereka berdua dan mencoba untuk mengikat keduanya di depan bar dengan dua buah gelas alkohol.
“Begitukah?”
“Bayangkan jika aku menyerah sekarang.” Wonwoo menyesap sekali lagi minumannya. “Aku tidak akan bisa merasakan semua ini. Hanya hidup ini yang menyajikan jazz dan segelas Old Fashioned secara bersamaan.”
Wonwoo terkekeh setelah itu dan kembali meminum alkohol miliknya. Jihoon hanya terpaku diam, mencoba mencerna apa maksud dari perkataan Wonwoo barusan. Bukan karena ia tidak paham, tapi karena ada yang menampar kesadarannya yang sudah terbutakan sejak lama. Tidak sampai satu jam mereka bertemu dan Wonwoo sudah mengulitinya habis-habisan.
“Lee Jihoon.”
Kali ini Wonwoo yang memasang ekspresi tak mengerti.
“Bukankah kau ingin mengetahui namaku?”
🎷
“Bagaimana harimu?”
Suara obrolan di sana-sini terdengar sayup ketika Seokmin membuka pembicaraan. Senyumnya begitu sumringah. Seokmin selalu begitu bahkan sejak mereka pertama kali bertemu. Wajahnya berseri dan Jihoon selalu penasaran apakah senyum itu pernah turun dari singgasananya.
“Lancar. Tidak ada not yang terlewat kali ini. Tiket pertunjukan juga habis terjual.”
Sebagai musisi pengiring di Broadway, frasa sold out adalah salah satu hal yang paling membuatnya lega. Meskipun ia tidak berada di atas panggung seperti para aktor, tapi apa pun yang bisa mengamankan tagihan bulanan hidupnya agar tetap terbayar lunas akan selalu ia syukuri.
Rasanya sudah tidak perlu lagi ada yang mengingatkan Jihoon betapa sulitnya bertahan di industri ini. Tidak ada yang lebih paham betapa sulitnya menjalani suatu hal daripada orang yang menjalani itu sendiri. Mencari peluang hidup di industri hiburan sudah cukup sulit, tetapi mencari peluang hidup di industri teater jauh lebih sulit lagi.
Eksistensi dunia teater saat ini berada di antara hidup dan mati. Tenaga, waktu, dan usaha yang dikeluarkan oleh pelaku-pelakunya kerap tidak sebanding dengan penghasilan yang mereka dapatkan. Pun produser pertunjukan juga tidak bisa disalahkan dengan tidak memberikan nominal yang lebih besar karena semakin sulitnya menyakinkan orang-orang beruang untuk berinvestasi di industri yang sedang sekarat.
Satu-satunya hal yang mempertahankan panggung Broadway dari keruntuhan adalah para penggemar teater yang sampai saat ini masih memperlakukan pertunjukan teater sebagai pertunjukan pretensius. Sayangnya, pilar itu akan tetap keropos termakan zaman. Mungkin akan hancur lebih cepat dari yang orang-orang kira.
“Turut lega mendengarnya. Semoga bisa menggaet sponsor yang lebih besar lagi.”
Jihoon mengangguk. “Terima kasih. Eum… bagaimana harimu?”
“Tidak buruk, tapi agak sibuk dengan ujian akhir semester. Belum lagi tugas yang Ayah berikan untuk persidangan bulan depan.”
“Masih dengan klien yang…?”
“Ibu dua anak.” Seokmin menjeda kalimatnya dengan helaan napas. “Kekerasan rumah tangga. Ayah tidak sering mendapatkan klien seputar itu, tapi ia bilang kasus ini cukup bagus sebagai latihanku.”
Sekali lagi Jihoon mengangguk.
Apakah ia pernah bilang kalau Seokmin adalah orang baik? Pria itu pernah bercerita kepada Jihoon kalau motivasi terbesarnya menjadi seorang pengacara sebenarnya bukan hanya karena ia tumbuh di tengah keluarga yang mendedikasikan hidupnya kepada hukum. Namun karena, saat Seokmin masih kecil, ia melihat seorang wanita yang mendapat kekerasan di tepi jalan Bronx pada suatu siang.
Melihat adegan itu dengan mata kepalanya sendiri seperti membuka lebar pikiran seorang Seokmin yang kala itu masih berumur sebelas tahun. Seketika dunia menjadi lebih kejam kepada perempuan. Seketika berita kekerasan rumah tangga bermunculan. Seketika Seokmin ingin membela wanita-wanita itu.
“Semoga kalian memenangkan kasusnya.”
Senyum Seokmin kembali muncul, kali ini lebih lebar daripada yang sebelumnya. Jauh lebih cerah daripada langit kota yang kelabu selama beberapa hari ini.
“Terima kasih.”
Tepat setelah itu pramusaji datang. Ia menaruh makanan pesanan mereka di meja sembari menyebutkan nama pesanan-pesanan tersebut. Jihoon bisa melihat bagaimana Seokmin begitu antusias pada setiap makanan yang ada di meja.
Lucunya, ia juga bisa melihat apa yang ada di belakang punggung pria itu. Sebuah siluet laki-laki yang antusiasnya juga tidak kalah tampak dari apa yang Seokmin perlihatkan. Bedanya ada pada penyebab. Ada rasa sesak di dada Jihoon kala menyadari antusias Wonwoo bukan lagi miliknya.
🎷
Jihoon sudah merasakan sendiri dan Jihoon yang paling tahu bagaimana rasanya. Ia paling tahu rasanya dibedakan hanya untuk sama berpijak di muka bumi. Ia tahu bagaimana kemahirannya sulit untuk menghasilkan angka fantastis. Jihoon tidak bodoh, ada yang ia cintai dan ada yang ia kuasai. Ia pandai menggunakan tangannya dan otaknya, sama seperti semua orang lain dengan keahlian mereka masing-masing.
Oh, tapi tentu Jihoon bukan orang lain.
Tidak ada tempat baginya di sini, tidak ada tempat di dunia ini untuk orang seperti Jihoon. Para penantang yang sampai kewarasan terakhirnya tetap menolak untuk mengalah kepada dunia demi satu hal yang sering dianggap konyol; percikan kemanusiaan, kesadaran atas pentingnya untuk kembali, kepedulian, dan sorak bahagia di dalam hati. Jihoon masih belum mau menyerah untuk memperjuangkan itu semua, tapi apakah mungkin ia mewujudkannya jika satu hal yang ia inginkan sekarang hanyalah kematian?
“Hei, Jihoon. Ya ampun, udara dingin sekali tapi aku berhasil membeli makan malam dari restoran Cina kesukaanmu. Bisa tolong siapkan piring? Aku yang akan tata maka—”
Perkataan Wonwoo terputus ketika arah matanya menangkap Jihoon yang hanya bergeming duduk di sofa ruang tamu. Setelah beberapa saat Wonwoo baru menyadari kalau sepetak apartemen ini tidak sehening yang ia kira. Seketika semua terasa sesak dan getir, sunyi berganti dengan rintihan dan pilu yang teredam oleh amarah.
“Jihoon?”
“Aku gagal.” Suara Jihoon begitu parau. Bulat dan teredam. Seperti ada yang mengganjal dada dan tenggorokannya. “Untuk kesekian kalinya.”
“Apa maksud—”
Wonwoo baru bisa melihat rupa Jihoon ketika pria itu berbalik badan menghadapnya. Wajahnya merah, di setiap sudutnya. Matanya, pipinya, bibirnya, bahkan hidungnya. Air mata baru menetes turun ketika Jihoon mencoba menyeka bercak yang lama. Rambutnya berantakan dan napasnya tersekat tak karuan.
🎷
“Jihoon?”
Jihoon bergidik begitu mendengar namanya disebut oleh suara yang begitu familiar. Suara yang, sejujurnya, tidak mau ia dengar lagi.
“Lee Jihoon? Apa itu benar-benar kau?”
Jeon Wonwoo berdiri hanya beberapa langkah dari Jihoon. Pria itu baru keluar dari bilik toilet dan sedang mencuci tangan di wastafel begitu ia menyadari kehadiran Jihoon.
“Hai,” sapa Wonwoo.
“Hai,” balas Jihoon.
Wonwoo tersenyum sumringah. Bagaimana pria ini bisa melakukan itu? Tersenyum di depan wajahnya setelah apa yang terjadi di antara mereka satu tahun yang lalu.
“Apa kabar?” tanya Wonwoo.
Here we go.
“Baik.” Jihoon mengangguk. “Lumayan. Kau… apa kabar?”
“Aku juga baik.”
“Ke sini sendirian?”
“Oh, tidak.” Entah mengapa Wonwoo agak gelagapan. “Tidak, aku… bersama seseorang.”
Ya, Jihoon tahu. Ia melihat dengan kepala matanya sendiri bagaimana Wonwoo memasuki pintu depan New Groove dengan seorang laki-laki yang tidak ia kenal. Tepatnya dua puluh menit yang lalu. Jihoon tidak akan lupa itu. Tapi Jihoon ingin tahu sisi yang lain. Soal siapa yang bersama Wonwoo, bukan sesuatu yang hanya dilabeli sebagai “seseorang”.
“Kau… eum.” Wonwoo seperti memikirkan kalimat selanjutnya. “Bagaimana album-mu?”
Jeon Wonwoo tidak pernah berubah. Pria itu langsung berasumsi kalau Jihoon sudah mencapai mimpinya sebagai solois terkenal yang setidaknya sudah memiliki lima katalog album di Spotify.
“Aku sudah tidak bermimpi menjadi penyanyi lagi, Wonwoo.”
Wonwoo terkejut. Bukan terkejut karena spontanitas, tapi karena takut memasuki topik area pembicaraan mereka sekarang.
Jadi Jihoon buru-buru melanjutkan, “aku menyadari bahwa mendapatkan kontrak dengan label rekaman agak kurang realistis.”
“Begitu, ya….”
“Ya,” jawab Jihoon. “Tapi sekarang aku bekerja di Broadway.”
“Oh?” Senyum mulai merekah di wajah Wonwoo. “Yang benar?”
“Sebagai musisi pengiring latar. Cara yang lebih cepat untuk menghasilkan uang dan bisa kulakukan dalam jangka waktu yang lama.”
Pria di depannya terkesima. Matanya berbinar memantulkan cahaya temaram di dinding. Jihoon tidak akan pernah lupa soal bagaimana cara Wonwoo memancarkan keindahan yang ada di sekeliling pria itu. Dia selalu melakukannya tanpa harus bersusah payah.
“Itu luar biasa.”
Jihoon tersenyum. “Terima kasih.”
“Tidak, serius.” Wonwoo tidak menutupi antusias yang ada pada suaranya. “Aku turut senang, Jihoon.”
Sudah cukup lama mereka tidak saling berhadapan begini, tapi Jihoon masih mengenali ketulusan yang akan selalu menjadi sifat natural Wonwoo.
Mungkin Jeon Wonwoo memang tidak pernah berubah. Wonwoo, di titik kehidupan manapun pria itu berada, akan selalu menjadi kesatria yang memutuskan rantai keputusasaan. Seperti sebuah harapan yang Tuhan berikan kepada manusia terkutuk yang mengendap di dalam jurang.
Jihoon mengerti sekarang, dan ia menyesal pernah membiarkan harapan itu untuk pergi begitu saja.
🎷
“Kontrak dengan label rekaman itu dibatalkan. Mereka bilang, mereka butuh artis yang dapat relevan sepanjang waktu dan bukannya… bukan—” Kalimat Jihoon terpotong dengan isakannya. Ia terus terisak untuk beberapa menit.
Wonwoo tiba-tiba hadir dan berjongkok menghadap Jihoon agar bisa melihat pria itu dengan lebih dekat. Wonwoo sempat ragu, tapi kemudian ia memutuskan untuk meraih kedua tangan Jihoon untuk berhenti menutupi wajahnya. Semua sama seperti apa yang ia lihat dari jauh, wajah merah dengan air mata yang tak berhenti mengalir. Wonwoo mengusap bercak kesedihan itu dengan jari-jarinya.
“Aku manusia gagal, Wonwoo.”
“Kau hanya gagal kali ini, bukan berarti kau akan gagal selamanya. Jihoon, kau hanya perlu untuk terus mencoba. Bagaimana dengan label rekaman kedua? Tawarannya masih berlaku ‘kan?”
Jihoon menggeleng. “Mereka tidak mau menunggu.”
“Oh, Jihoon.” Nada prihatin yang Wonwoo sembunyikan sejak tadi muncul tanpa aba-aba. “Pasti ada sesuatu yang bisa kita lakukan. Kita bisa cari yang lain—”
“Wonwoo.”
Wonwoo sedikit terkejut dengan cara Jihoon menyebutkan namanya. Dingin dan kaku, bahkan terlalu dingin untuk menyaingi salju di luar sana.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
Dahi Wonwoo berkerut, tidak yakin atas apa yang didengarnya barusan.
“Kenapa kau di sini, Wonwoo?”
“Apa?”
Jihoon bangkit dari duduknya. Ia melangkah menjauh dari Wonwoo seperti orang yang memiliki fobia.
“Kau… mengasihaniku?”
Wonwoo tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Jihoon terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri untuk bisa membaca arti ekspresi yang ada di wajah Wonwoo.
“Apa pun yang kau pikirkan tidaklah benar,” ucap Wonwoo pada akhirnya.
Jihoon tertawa miris.
“Benarkah? Apa yang sebenarnya aku pikirkan? Apa yang kau inginkan dariku?”
“Aku hanya menginginkan kau mencapai mimpimu, Jihoon.”
“Apa kau tidak dengar yang aku bilang tadi? Tidak ada label yang mau mengontrakku!”
“Yang artinya bukanlah akhir kehidupanmu!” seru Wonwoo.
“Jalanmu masih panjang. Jalan kita masih panjang. Tidak ada yang tahu bagaimana hidup kita nantinya. Aku tidak tahu bagaimana hidupku nanti, tapi aku tahu aku tidak akan berhenti untuk mencoba. Kau juga seharusnya melakukan hal yang sama.”
Wonwoo mengatur napasnya sebelum melanjutkan, “aku di sini bukan untuk mengasihanimu. Aku hanya mau menemanimu meraih mimpi. Jadi tolong buat aku mengerti.”
“Oh, kau akan mengerti?” seru Jihoon. “Kau, manusia yang impian terbesar hidupnya adalah duduk di depan komputer selama delapan jam setiap hari, akan mengerti bagaimana rasanya menjadi aku? Seorang musisi gagal yang bahkan kesulitan untuk bermain alat musik. Persetan soal kontrak dengan agensi musik, Wonwoo, aku bahkan tidak bisa membuat musik yang lekang oleh waktu!”
“Terlalu kuno.”
“Siapa yang mau mendengarkan penyanyi solo laki-laki berumur 25 tahun di zaman sekarang?”
“Lirik lagumu tidak menginspirasi.”
“Lagu ini bisa ditemukan jika kau memutar playlist tahun 1980-an.”
Telinga Jihoon berdengung oleh setiap perkataan dari label-label itu.
“Aku yakin profesi kerah putih tinggimu itu akan mengerti atas apa yang aku rasakan, bukan?”
Napas Jihoon masih memburu dan air mata memupuk penuh kelopak matanya. Tapi ia bisa melihat Wonwoo hanya bergeming. Menatap Jihoon lurus dengan perasaan kecewa. Sudah berulang kali Jihoon melihat jenis tatapan itu, dari berbagai macam orang. Dari orang tuanya, keluarga besarnya, teman-temannya, orang random di pesta. Di antara semua itu, dia paling benci mendapatkannya dari Wonwoo.
“Aku sarankan kau minta maaf sekarang, Jihoon.”
Di situ.
Jihoon seharusnya berhenti tepat di situ. Seharusnya ia meminta maaf kepada Wonwoo. Seharusnya ia berjalan ke arah pria itu, berlutut di depannya, mencium kakinya, mengatakan seberapa menyesalnya ia, atau apa pun. Seharusnya Jihoon melakukan apa pun.
Tapi egonya terlalu tinggi dan Jihoon ogah untuk turun. Jadi ia berbalik badan, berjalan menjauh dan menghindari segala ketahudirian yang ditawarkan oleh Wonwoo.
“Aku sarankan kau untuk pergi,” gumam Jihoon
Telinganya tidak berhenti berdentum dan kepalanya tidak berhenti berputar. Meskipun sekarang pandangannya lurus kepada salju yang turun bergantian di pinggir beranda, Jihoon tetap bisa merasakan Wonwoo mengambil barang-barangnya dan keluar dari apartemen itu.
Itu adalah kali terakhir mereka berada di satu ruang yang sama.
🎷
Ini buruk, benar-benar buruk. Setelah seluruh usaha Jihoon untuk memperbaiki tata letak hidupnya, keyakinannya, dan prinsipnya selama satu tahun ini, semua goyah hanya dalam kurang dari dua puluh empat jam. Sungguh gila bagaimana seorang Jeon Wonwoo bisa membawa kembali diri Jihoon yang lama itu untuk muncul ke permukaan.
Sekali lagi, Jihoon membasuh wajahnya dengan air yang mengalir dari keran wastafel. Setidaknya dinginnya suhu pada air yang mengalir itu bisa membangunkan saraf-sarafnya. Matanya terbuka lebar meskipun pupilnya masih sedikit bergetar ketika Jihoon menatap cermin. Ia mengambil tisu dari kontainer untuk membasuh setiap air—dan mungkin kegilaannya—yang ada di wajah. Kakinya mengambil langkah keluar dari toilet setelah mengambil helaan napas dalam.
Aliran musik jazz agak sedikit teredam ketika Jihoon melewati lorong yang menghubungkan toilet dengan area makan.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Seokmin dengan nada khawatir yang ketara.
“Iya, aku tidak apa-apa.”
Tapi tepat setelah berkata begitu, kepala dan telinga Jihoon tiba-tiba berdengung yang memaksa matanya untuk menutup mengerut.
Jihoon yakin Seokmin melihat itu karena pria itu kemudian berkata, “aku panggilkan taksi.”
Ia tidak bisa menahan pria itu tidak beranjak dari bangkunya. Kepalanya terasa berputar dan dadanya sesak. Penglihatannya buram dan tangannya gemetar. Jihoon menahan diri untuk tak sadarkan diri.
Tidak. Jangan buat ini semakin buruk untuk Seokmin.
Tapi Jihoon tidak bisa. Tubuhnya menolak untuk mendengarkan perintahnya. Ia tidak bisa membuat kepalanya berhenti berputar. Ia tidak bisa menghentikan keringat dingin yang mengucur di dahinya. Jihoon tidak bisa berbuat apa pun. Ia tidak bisa diandalkan. Ia tidak bisa membuat hidupnya sendiri menjadi lebih baik. Berkali-kali gagal dan akan gagal terus. Jihoon tidak berguna. Jihoon akan mati di sini.
Kau akan baik-baik saja.
Sebuah suara memasuki gendang telinga tanpa permisi. Suara yang begitu dalam dan menenangkan. Jihoon pernah mendengar suara ini sebelumnya. Hampir setiap hari dan setiap malam. Dilingkupi dengan selimut hangat dan pelukan nyaman melawan dinginnya langit Kota New York. Atau di sini, di New Groove satu bulan sekali pada akhir pekan.
Aku yakin kau akan baik-baik saja.
Jihoon mencari suara itu. Asalnya bukan dari atas panggung atau dari counter penghubung dapur dan area makan. Bukan juga dari meja sebelah atau dari orang-orang di bar. Tapi ada di beberapa meja dari tempatnya duduk. Suara itu berada di sana, pada seorang pria yang pernah dengan sukarela mengabdikan hidupnya untuk Jihoon yang banyak kekurangan.
Semua usahamu akan terbayar suatu saat nanti. Percaya padaku bahkan jika kau tidak mempercayai dirimu sendiri.
Bahkan di dalam matinya dunia ini, Wonwoo akan terus hidup. Wonwoo tidak akan mati, di kepalanya atau di hatinya. Setiap nilai yang pria itu berikan kepadanya, setiap warna, dan penyesalan. Semua yang pria itu tanamkan akan berbuah baik dan Jihoon akan mengamini itu.
Satu tetes air mata yang jatuh ke pipi menyadari lamunan Jihoon. Semuanya kembali normal. Tubuhnya masih duduk di salah satu kursi kulit khas New Groove dan Seokmin—
“Hei.” Seokmin tiba-tiba muncul di hadapannya, entah dari mana tapi napasnya tak beraturan. Ada sedikit kemerahan di hidung dan pipinya. “Aku sudah dapat taksi. Ayo kuantar pulang. Bisa berdiri, kan?”
Jihoon mengangguk. Meskipun begitu, Seokmin tetap membantu Jihoon berdiri. Ia banyak berhutang pada Seokmin hari ini, benar-benar memalukan dan membuat semuanya runyam.
Tapi wajah Seokmin tidak menunjukkan tanda keberatan sekali pun. Pria itu masih sempat memberikan tip dengan layak. Masih bisa mengucapkan terima kasih dan tersenyum kepada pramusaji yang membukakan pintu restoran. Masih sempat mendahulukan Jihoon untuk masuk ke dalam taksi. Masih mampu mengucapkan alamat apartemen Jihoon dengan lancar.
Dan Jihoon? Akan selalu menjadi mayat berjalan. Bahkan ketika roda taksi berputar menjauh dari restoran dan mulai membaur dengan jalanan malam Kota New York. Jihoon adalah mayat pada hari ini, hari esok, dan selamanya. Berbau tengik di pojok ruangan New Groove ditemani secangkir sepi dan penyesalan. Menunggu giliran untuk mendapat keajaiban yang hanya ada di dalam khayalnya.
