Actions

Work Header

Pray for the Manager

Summary:

Cerita tidak jelas tentang aktor kebanggaan negara yang ternyata alay.

Notes:

This is a (belated) birthday gift for Gin and my first attempt to write JayVik. I'm so sorry because this will so OOC and I haven't do any character studies for them. So I'm deeply sorry for all of the OOC-ness and, ofc DLDR.

For Gin: Happy 21st birthday, sorry for not being the first one to say that because school has been so annoying lately. AKU JANJI BAKAL BIKIN JAYVIK LAGI TAPI GAK TAU KAPAN. Congrats for entering the 'real' adulthood, enjoy the crepe cake (?) and don't forget to touch grass again.

Also, if you read this or accidentally clicked this, please wish her a happy birthday too.

Happy reading and I hope you enjoy this one random JayVik.

Work Text:

"Aku gak bisa."

"SUMPAH KELUAR SEKARANG GAK? JANGAN ALAY DEH."

"AKU GAK BISAAA!" 

Jika ada satu pekerjaan yang semua orang inginkan di dunia ini, menjadi manajer Jayce Talis jawabannya.

Namun aktor idaman semua orang yang ternyata alay ini sudah berdiam diri selama tiga jam di kamar mandi lokasi shooting, galau karena akan melakukan adegan di mana ia harus memutuskan sebuah hubungan. Hubungannya sendiri (di series ini) lebih tepatnya.

"Cepetan Jayce nanti shootingnya molor lagi ini semuanya laper nungguin kamu."

"Aku mending liat kalian semua tumbang kelaperan daripada putus sama Kak Vik."

"KAMU PUTUS DI EPISODE INI DOANG ANJIR KELUAR GAK???" 

Sang manajer hendak mendobrak pintu dengan tendangan super sebelum pundaknya diraih dari belakang. 

"Aku aja."

Memang yang Jayce Talis butuhkan saat ini adalah sebuah pawang melihat kelakuannya sudah seperti anjing penjaga rumah. Laki-laki yang lebih tua dari Jayce itu adalah jawaban dari doa panjang sang manajer. Walaupun ia harus begadang berhari-hari untuk mengatur ulang jadwal Jayce karena orang aneh itu dengan seenaknya menambah 'Hari Kosong Harus Ngedate sama Kak Viktor' di jadwalnya, setidaknya perilakunya sedikit lebih baik setelah berpacaran dengan sang pujaan hati.

"Jayce," suara lirih yang bisa mengeluarkan ekor seorang Jayce Talis itu terdengar. "Keluar dulu, jangan bikin make up kamu rusak kita masih ada satu scene lagi."

"Gak." 

YA TUHAN. 

"Satu scene abis itu kamu boleh ngapain aja deh, keluar dulu."

Semua diam. 

Beberapa crew yang melintas ikut diam karena penasaran, sudah hampir 15 menit terbuang karena karakter utama 'ngambek' dan akhirnya situasi ini mendapat secercah harapan baik.

Pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan sang legenda sang karakter utama sang aktor kebanggaan negara, Jayce Talis, dengan rambut teracak dan wajah sendu.

"Serius boleh ngapain aja?"

"Iya, serius."

"...Oke."

Pusing. Semua pusing. Memang hanya bisa dijinakkan oleh Viktor. Dasar aktor aneh.


 

"CUT!!!" 

Jayce Talis sudah berkali-kali membaca script dan sudah mempersiapkan diri untuk satu adegan spesifik ini. Sejak semalam juga Jayce sudah beribu kali berlatih sendiri dan ia pikir sudah siap untuk putus dengan Viktor (di series). 

"Ulang lagi Jayce fokus yok. Ini kan yang nangis harusnya Viktor."

DAN SEMUA ORANG TIDAK PAHAM.

"Jayce," suara Viktor memanggil pelan. "Fokus dulu, astaga ini nanti make-upnya ilang lagi." 

"Aku gak bisa jadi orang jahat, Kak..."

Hih?

Jika ada juara satu orang paling sabar menghadapi orang alay, beri penghargaan itu pada Viktor. 

Ini sudah take entah ke berapa, Viktor sendiri kurang memperhatikan. Alasan utamanya adalah Jayce selalu menangis sebelum mengatakan kalimat yang seharusnya membuat Viktor di series ini menangis.

Dan anehnya, Viktor menemukan hal itu lucu. 

Memang pasangan aneh.

"Satu kali lagi, ya? Abis itu kita pulang."

Sebenarnya bagaimana mereka bisa 'jadian' juga cukup klise. Project series BL yang mereka mainkan sekarang adalah faktor utama awal mula mereka berpacaran.

Singkatnya, cinlok.

Tapi itu juga bukan salah Jayce karena orang waras mana yang tidak jatuh cinta jika dihadapkan dengan Viktor sebagai lawan main dan mereka harus shooting adegan-adegan romantis selama tiga bulan penuh?? Jayce kebetulan masih waras.

"OKE, CUT!! Nice shot semuanya ayo kita beres-beres."

AKHIRNYA. SETELAH SERIBU TAKE. AKHIRNYAA.

Jayce mendekat ke arah sang kasih yang sedang berbicara dengan manajernya, mendiskusikan jadwal entah apa, Jayce tidak peduli. Tangannya melingkar di leher Viktor, menatap tajam ke arah manajernya sendiri tanpa alasan.

"Aku bawa mobil."

"Iya terserah. Nitip dijagain ya, Kak Viktor. Kalo rewel telfon aku aja, tapi gak janji bisa dijemput."

"Manajer gak becus."

"HEH."

 


 

"Duduk sini," Viktor menunjuk ke bawah, "aku keringin rambutnya."

Hehehe, jadi begini rasanya kehidupan domestik bersama pacar.

Jayce duduk di lantai, di antara kaki Viktor, menghadap tuan tumah yang terduduk di kursi dengan hair dryer di tangan. Dengan tegangan sedang, tangan Viktor lihai menelusuri rambut lebat Jayce yang dingin.

"Kamu gak mandi pake air panas?"

"Tadi rusak, gak tau kenapa. Tapi aku mau yang seger-seger sih."

"Rusak?" hair dryer itu mati, menuntun kepala Jayce untuk sedikit mendongak menatapnya. "Kok bisa?" 

Jayce mengangkat bahu, "tapi at least gak rusak pas kakak yang mandi."

"Tapi kamu kedinginan."

"Nanti pas tidur peluk kakak biar anget."

Aduh, andai saja Viktor menarik rambut lebat itu agar ia terjungkang. 

Viktor terkekeh sembari menggeleng, tidak bisa paham dengan pikiran Jayce dan bakatnya untuk menggombal di segala kesempatan. Hair dryer kembali dinyalakan, lanjut mengeringkan rambut Jayce yang terlalu tebal.

"Maaf kalo hari ini aku banyak teriak ke kakak," ujaran itu terdengar lucu sebenarnya, Viktor sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut karena mereka harus profesional mau bagaimana pun. 

"Dimaafin, maaf juga kalo—"

"Dimaafin," yang lebih muda kini mengistirahatkan kepala beratnya di lutut Viktor. "Harusnya aku minta scriptnya diubah aja biar kakak gak nangis gara-gara aku."

"Hayoloh udah bikin aku nangis."

"JANGAN GITU," Jayce kembali menatap Viktor panik dan malah dibalas dengan tawa lepas, kembali mengusak kepala Jayce gemas. "Bercanda. Sama kamu jangan galak-galak ke manajermu lah, kasian capek ngurusin kamu."

"Biarin, aku mau diurus Kak Vik aja."

Dan dengan begitu, pribadi asli aktor tampan kebanggaan satu negara terungkap: alay untuk Viktor. 

Viktor sendiri tidak punya masalah dengan watak asli Jayce walau sedikit kaget melihat ada 'gap moe' yang jelas tidak terduga. Series pertamanya sebagai aktor pendatang baru malah langsung dipasangkan dengan aktor yang sudah cukup lama berkarir. 

Jadi pacarnya pula.

"Dua episode lagi sebelum kita balikan, beneran deh semua orang gak ada yang ngertiin aku," Jayce kembali mengistirahatkan kepalanya di lutut Viktor. 

"Kita go public aja abis seriesnya selesai ditayangin."

Hahahaha...

.....

Mengingat Jayce selalu serius dengan perkataannya, Viktor harap manajer Jayce tidak resign setelah ini.

Tapi untuk hal ini, Jayce tidak mungkin serius...

Kan?