Work Text:
Kehidupan hari ini yang akan dijalankan oleh Watanuki Kimihiro seharusnya menjadi sesuatu yang membahagiakan. Tidak perlu untuk mengungkit soal bagaimana Yuuko maupun Mokona menyuruhnya melakukan ini dan itu di pagi hari tanpa ampun, bagi Watanuki, dengan hanya melihat senyuman Kunogi Himawari di ruang kelas telah menjadi matahari baginya yang memadamkan semua rasa kekesalan itu.
“Ah, Watanuki-kun, selamat pagi~”
“Himawari-chan! Pagi!!!” Seperti biasa, dengan gerakan dan senyuman bodoh di wajahnya, Watanuki mendekati Himawari dengan perasaan gembira yang tidak terbendung.
“Seperti biasa Watanuki-kun sangat bersemangat ya,” ujar Himawari sembari tertawa kecil.
Perasaan meletup-letup yang sedari tadi terkurung dalam hati Watanuki kali ini berhasil mengambrukan kotak yang tak nyata tersebut karena tawa kecil yang lepas dari mulut Himawari. Jika saja Watanuki bisa meledak hingga ke angkasa karena hal itu, mungkin itu yang sedang terjadi sekarang. HIMAWARI-CHAN IMUT SEKALI!!!!
“Hehe~ Tentu saja, hari ini aku bawakan sesuatu untukmu,” Watanuki menggaruk tengkuk malu-malu, mengeluarkan sebuah kotak bekal. “Hari ini menunya adalah katsudon, taraaa!”
Kedua mata Himawari berbinar. “Ah, ini terlihat sangat enak! Bagaimana pun, kalau itu buatan Watanuki-kun pasti rasanya enak,” pujinya seperti biasa. Meski begitu, pujian tersebut tidak lelah-lelahnya membuat Watanuki jadi meleleh. Siapa sih yang tidak senang kalau bisa mendengar pujian dari dambaan hatinya seperti itu? Namun hal itu tidak berlangsung lama hingga Watanuki mendengar suara lainnya masuk ke dalam obrolan mereka.
“Jadi hari ini menunya Katsudon, kah?”
Sebuah perempatan muncul pada dahi Watanuki. Mood baik yang sudah tercipta selama Ia berbincang dengan Himawari langung anjlok begitu saja kala suara sombong dengan nada datar itu terdengar. Watanuki menoleh—mendapati sesosok pemuda lainnya berdiri di belakang mereka dengan wajah datar, memperhatikan bekal yang dibawa Watanuki.
“ARGHH SIALAN KENAPA HARUS ADA KAU JUGA, SIH!?” Pemuda itu—tak lain adalah Doumeki, refleks saja menutup telinganya saat Watanuki lagi-lagi protes sambil setengah berteriak pada kupingnya. Ini sudah menjadi hal yang biasa terjadi saat keduanya berdebat, jadi Doumeki sudah tidak ambil pusing lagi.
“Padahal makan Kare rasanya akan sangat enak.”
Alis Watanuki naik. Bisa-bisanya orang ini masih protes meminta makanan lain ketika Ia secara sukarela selalu membuatkan makanan untuk dirinya.
“Yah, mohon maaf, ya!? Aku buat ini untuk Himawari-chan, punyamu itu cuma sisaan, tapi kalau kau tidak mau, ya sudah jangan ambil!?”
Meski begitu, bak masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri, Doumeki segera mengambil bento yang memang sudah disiapkan di bawah milik Himawari. Ia tidak peduli pada Watanuki yang sudah marah-marah itu, tujuannya hanyalah mengambil makanan miliknya.
“SIALAN! DENGERIN ORANG KALAU LAGI BICARA DONG!!!”
“Seperti biasa Watanuki-kun dan Doumeki-kun selalu akur, ya!”
Pattern yang sama terjadi berulang kali di antara ketiganya. Watanuki hanya bisa terjengkang dramatik ketika mendengar Himawari lagi-lagi mengatakan hal yang sama kepada keduanya seperti itu. “A-ahahah… Tidak seperti itu, Himawari-chan….”
Memang sialan. Watanuki tahu dia sangat senang memasak. Sebenarnya meski awal Ia membuatkan bekal untuk Doumeki hanyalah sebuah bentuk balas budi karena dahulu Doumeki pernah menolongnya—tidak, bahkan jika diingat lagi, Doumeki sering sekali menolongnya ketika Ia ada masalah dengan para roh. Namun, Watanuki sangat senang ketika memasak makanan tersebut. Sekali lagi, Ia hanya senang karena memasak, bukan senang karena harus memasakan semua itu untuk Doumeki!
Benar juga, semua itu terjadi karena Doumeki selalu menolongnya. Itu semua bermula karena Doumeki selalu ada bersamanya ketika sesuatu terjadi. Watanuki seharusnya tahu bahwa hal yang penting dilakukannya adalah dengan menghindari Doumeki supaya hutang budi dia tidak tambah banyak.
Meski begitu….
“SIALLL KENAPA AKU HARUS PULANG BERSAMAMU!!!”
Kala itu jalanan sudah sangat gelap. Tidak biasanya mereka berdua pulang di jam segini. Karena ada sesuatu yang harus dilakukan di sekolah, tak sadar mereka baru bisa pulang ketika sudah malam hari. Sebenarnya, Watanuki tidak masalah jika harus pulang sendiri. Meski banyak marabahaya yang bisa terjadi ketika Ia jalan sendirian di waktu malam—terlebih bagi dirinya yang sangat disukai oleh para roh itu, namun Watanuki sudah terbiasa. Jadi seharusnya Doumeki tidak perlu repot-repot ikut jalan bersama.
Tapi pemuda itu sedari tadi berkata padanya, “Malam hari itu bahaya kan, lebih baik kau pulang bersamaku.”
Tidak salah sih, seperti apa yang Yuuko katakan. Keberadaan Doumeki ketika berada di dekat Watanuki adalah sebuah keberuntungan dikarenakan Doumeki secara tidak langsung mengusir para roh jahat yang senang mengincar Watanuki. Seperti sekarang, jika tidak ada Doumeki, Watanuki sudah terbiasa merasakan yang namanya dikejar oleh roh-roh dengan bentuk aneh. Namun, malam ini belum ada sesuatu yang aneh yang muncul untuk mengganggu keduanya.
Watanuki mendecak lagi, belum apa-apa hutang budi dia sudah bertambah. Kemana kepercayaan dirinya yang tadi berkata harus menghindari Doumeki? Pada akhirnya dia juga butuh keberadaan Doumeki di sampingnya, meski Ia benci mengakui hal tersebut.
“Tidak perlu juga tidak apa, sih. Aku juga sudah biasa jalan sendirian malam-malam!” ucap Watanuki yang tidak mau kalah itu.
“Yah, sudah biasa, sudah biasa hampir mati, sudah biasa ketakutan ketika bertemu dengan hantu menyeramkan, sudah biasa—”
“OOOIII!!!!”
Pipi Watanuki memerah. Kenapa pula Doumeki harus mengungkit-ngungkit hal tersebut kepadanya? Semenjak kejadian dendam laba-laba dan pertemuannya dengan Jorougumo tempo waktu, Ia sudah mengerti dan mendapatkan banyak pelajaran. Watanuki tahu betul bahwa Doumeki dan orang-orang di sekitar sangat khawatir kepadanya. Tapi kali ini, Ia menyadari bahwa Doumeki jadi sedikit lebih cerewet dari biasanya.
Tanpa disadarinya, Watanuki menaruh tangan di depan mata kanannya. Bagaimana pun, mata kanan ini juga sesuatu hal yang berharga, terlebih ketika kita membahas soal Doumeki. Melihat Watanuki yang menaruh tangan di depan mata seperti itu, Doumeki menyamakan langkahnya.
“Kenapa? Sesuatu terjadi lagi dengan matamu?” tanya Doumeki datar, meski begitu terlihat Ia sebenarnya sangat khawatir.
“Huh? Tidak!” Watanuki menurunkan tangannya. Tidak ada hal aneh lagi yang terjadi pada mata kanannya, Ia hanya tanpa sadar merenungi kembali perbuatannya di hari itu. Ia tidak berkata apa-apa setelahnya, hanya mendengus pelan.
Namun Doumeki yang sudah kepalang penasaran itu, tanpa persetujuan dari Watanuki langsung saja menaruh tangan di dekat mata kanan Watanuki. “O-Oi!” Watanuki tercengang atas perbuatan temannya itu. Doumeki secara fokus memperhatikan mata kanan Watanuki dengan hati-hati.
Sementara Doumeki tengah fokus seperti itu, Watanuki di sisi lain membeku. Ia tidak tahu apa yang terjadi, namun perilaku yang Doumeki lakukan saat ini sangatlah mengherankan. Watanuki menyadari bahwa jarak antara keduanya saat ini sangatlah kecil dengan dirinya yang bisa melihat keseluruhan wajah serius Doumeki di hadapannya. Hal ini jelas membuat Watanuki menahan nafasnya canggung. Tidak hanya itu, namun sentuhan gentle yang Doumeki beri pada sekitar matanya membuat Watanuki tiba-tiba saja menjadi salah tingkah. Ia seharusnya marah dan mendorong Doumeki, tapi kenapa sekarang Ia membeku dan sesuatu bergejolak dengan amat sangat kencang pada jantungnya.
Tunggu, dilihat dari mana pun ini aneh! Watanuki sepertinya tahu gejolak apa yang tengah Ia rasakan saat ini. Ini hal yang sama yang Ia rasakan ketika berhadapan dengan Himawari. Tapi kali ini, kenapa Ia merasakannya saat sedang bersama Doumeki? Bahkan Watanuki bisa merasakan kedua pipinya jadi panas.
Hal itu tidak berlangsung lama hingga Doumeki menyadari sesuatu dan melepas tangannya.
“Wajahmu kenapa? Kau sakit?” tanya Doumeki setelah melihat sebagian wajah Watanuki memerah.
Mendapat pertanyaan tersebut lantas membuat Watanuki kembali ke kenyataan. Ia refleks langsung menjaga jarak dari Doumeki dengan mundur beberapa langkah. Ia tidak menjawab apa pun, di saat seperti itu bahkan jantungnya masih tak bisa berhenti berdegup dengan kencang. Watanuki menelan ludah canggung. Ini pertama kalinya Ia merasakan perasaan aneh seperti ini ketika sedang berada bersama Doumeki.
Doumeki yang berdiri di hadapannya kebingungan. Belum sempat Ia berbicara sepatah kata, Watanuki telah memotongnya.
“A-aku tidak apa-apa, sepertinya aku harus segera pergi, Yuuko-san pasti menunggu, dah!!!”
Dengan terbata-bata dan menghindari tatapan Doumeki yang terus dilayangkan ke arahnya, Watanuki segera berlari menjauhi tempat tersebut, meninggalkan Doumeki yang masih penuh dengan pertanyaan di dalam dirinya. Namun Doumeki tidak ambil pusing, karena keduanya sudah berpisah, maka Ia pun harus segera pulang ke rumah.
♦♦♦
Sesampainya di toko milik Yuuko, Watanuki hanya bisa berdiri di dekat pintu. Ia masih diam, membeku, berusaha memproses apa yang baru saja terjadi tadi. Jantungnya masih berdegup kencang, namun kali ini sudah berpadu karena Ia harus berlari menuju toko dan sempat dikejar oleh roh kecil yang aneh. Watanuki bergidik, bukan karena Ia teringat roh yang mengejarnya, namun teringat kejadian kecil antara dirinya dengan Doumeki tadi.
“ARGHH SIAL! SIAL! SIAL! AYO LUPAKAN SOAL ITU, WATANUKI!!!!”
Dengan sangat dramatis Ia mencoba untuk menjedotkan dahinya ke dinding di sampingnya. Kerusuhan yang terdengar di depan itu membuat Yuuko yang tadinya entah ada di mana, kini berdiri di hadapan Watanuki seraya berkacak pinggang dengan Mokona yang bertengger di pundaknya.
“Duh, kau ini sudah datangnya telat, pakai acara teriak-teriak segala lagi, seperti cewek puber saja,” protes Yuuko.
“Seperti cewek puber!”
“Watanuki seperti cewek puber!”
Maru dan Moro muncul di belakang Yuuko dengan wajah gembira mereka, lalu menari-nari seperti biasa, secara tidak langsung turut mengejek Watanuki yang tengah dilanda perasaan aneh itu.
“Watanuki—ditulis dengan kanji 1 April, daripada kau teriak-teriak lebih baik buatkan kita makanan!” Seru Mokona, si makhluk buntalan hitam yang kini terbang di sekitar Yuuko mulai menyindir soal makanan, menambah beban Watanuki saja.
“Benar! Benar! Aku sudah hampir mati kelaparan loh menunggumu, bagaimana kalau malam ini kita makan kare~” timpal Yuuko yang entah sejak kapan kini menggenggam botol sake di tangannya.
“Makan kare!”
“Malam ini kare!”
Lagi, Maru dan Moro menimpali kalimat itu dengan riang gembira.
Watanuki kesal bukan main, memangnya mereka tidak lihat dirinya sedang penuh oleh tanda tanya dan rasa kesal? Di saat seperti ini bisa-bisanya mereka malah meminta Watanuki untuk segera masak. Tanya keadaannya saja tidak, bahkan masih sempat mengatainya ‘cewek puber’. Tapi mau bagaimana lagi, Watanuki hanyalah pekerja part time di sini, Ia tidak bisa banyak protes terlebih ketika memiliki bos yang semaunya seperti Yuuko.
Pemuda itu menghela nafas pasrah. “Baik-baik,” ucapnya pelan seraya mulai memasuki toko.
Yuuko hanya memberi senyuman miring ketika Watanuki berjalan masuk dengan langkah kaki lunglai. Seakan menyadari sesuatu, Yuuko lantas memberikan pertanyaan yang membuat Watanuki lagi-lagi salah tingkah.
“Hari ini kau pulang bersama Doumeki-kun, ya?”
“H-huh!?” Watanuki gelagapan. Area pipinya kini memerah lagi. Ketika Ia mendengar nama Doumeki, entah kenapa Ia langsung teringat dengan kejadian yang terjadi sepulang sekolah tadi.
Yuuko tertawa kecil. “Bukan kah bagus, kau harus sering-sering pulang bersamanya, aku merasakan energi yang sangat positif pada dirimu,” ucapnya tenang.
“Apa—” Watanuki menutup mulutnya. Ia tidak percaya, energi positif dari mana!? Yang ada sih energi yang membingungkan. Padahal Watanuki tidak ingin terlalu dekat dengan Doumeki, tapi bisa-bisanya Yuuko malah menyuruhnya untuk menghabiskan waktu lebih banyak dengan Doumeki. Seperti tahu bahwa Watanuki akan protes, wanita dengan rambut hitam legam panjangnya itu segera berjalan masuk melewati Watanuki.
Watanuki berdecak lagi. Hari ini sepertinya bukan hari keberuntungannya. Tapi mau bagaimana lagi, Watanuki hanya ingin segera menyelesaikan pekerjaannya hari ini, kemudian melupakan hal-hal yang telah terjadi antara Ia dengan Doumeki tadi.
Itu bukan perasaan seperti yang kau pikirkan. Lupakan! Lupakan! Lupakan!
