Work Text:
Sebagai anak tengah, George merasa nggak punya apa-apa selain dirinya sendiri.
Kayaknya kedengeran lebay. Terlebih ketika dia lahir dan tumbuh besar dengan keluarga yang berkecukupan dan cukup terpandang. Kalau orang lain denger bahwa George merasa seperti itu, George pasti akan dianggap sebagai orang yang nggak tau terima kasih dan anak yang nggak bersyukur.
Tapi George juga enggak minta kok buat dilahirkan, apalagi dilahirkan buat jadi anak kedua. Kalau punya pilihan, George pasti milih buat jadi anak pertama kayak Abang. Bisa diandelin dan diharapkan, tapi yang terpenting di rumah suaranya didengar ketika bikin keputusan.
Kalau bukan jadi Abang, George bakal milih jadi anak bungsu kayak Adik. Adik yang punya banyak prestasi dan enggak apa-apa kalau buat salah. Selalu ditanya maunya apa, enggak perlu nabung dari uang jajan buat beli barang karena selalu ada uang dari Ayah.
George juga kadang mikir, apa better enggak usah dilahirin sekalian ya, kayaknya juga enggak masalah.
Tapi segala perandaian itu, enggak bakal bisa berubah juga. Karena mau bagaimana lagi, George itu terlahir buat jadi anak tengah. Memang enggak banyak ekspektasi, tapi berarti enggak ada harapan juga yang ditujukan buat George. Itu yang bikin dia lupa kapan terakhir berusaha, karena sebaik apapun itu hasilnya, dia tetap enggak akan jadi yang utama di mata keluarga.
Banyak serangkaian kejadian yang George selalu belajar buat ngerti meskipun saat itu buat berhitung aja dia belum bisa hingga perkalian.
George coba ngerti kenapa setiap ambil rapot, Ayah otomatis akan ke sekolah Adik, Ibu akan ke sekolah Abang, tapi Ayah dan Ibu perlu berdebat dulu siapa yang harus ke sekolah George. Dia juga coba buat paham kenapa sering dijemput terakhir setelah Abang dan Adik karena sekolahnya paling jauh. Meskipun akhirnya dijemput oleh om driver karena orang tuanya harus lanjut kerja lagi. George sedih sedikit karena ada teman yang bilang bahwa kedua orang tuanya enggak sayang sama George, tapi George paham kok.
George juga udah mulai paham ketika hasil UAS di kelas satu SMP, nilainya bagus tapi Ayah dan Ibu hanya tersenyum dan bilang bahwa emang wajar George dapat nilai baik. Lihat Adik sampai dikasih sepatu baru karena ranking satu, bikin George jadi malas-malasan buat belajar dan menyebabkan nilainya turun drastis.
George sayang banget dengan Adik. Dia selalu membantu Adik yang kesulitan untuk mengerjakan PR. Dia juga yang sering ngajak main adik dan beli jajan di warung depan karena Adik enggak punya teman di kompleks yang seumuran. George enggak iri, cuma merasa ingin udahan aja belajarnya. Toh pas nilainya jelek, orang tuanya cuma bilang bahwa semester depan diperbaiki lagi ya.
Sampai ketika naik kelas tiga, Abang maksa George buat belajar lagi biar bisa masuk SMA unggulan bareng Abang. George sayang dengan Abang makanya ia belajar dengan keras meskipun Ayah dan Ibu keliatan enggak percaya melihat nilainya yang cuma bagus ketika kelas satu. George lihat Abang marah kepada Ayah dan Ibu, tapi George paham kok.
Ketika George akhirnya bisa masuk SMA unggulan, George ingat gimana hangatnya pelukan abang. Abang keliatan berkaca-kaca, Adik yang saat itu masih SD juga keliatan mau nangis lihat kakak-kakaknya berpelukan. George senyum kepada Ayah dan Ibu yang juga keliatan bangga. Itu adalah momen terbaik yang George rasakan selama 15 tahun hidup, dan enggak akan pernah lupa sampai sekarang.
Meskipun kebahagiaan itu enggak berlangsung lama. Terlebih ketika George lebih kesusahan dalam belajar karena persaingan di sekolah enggak main-main. George merasa seperti kembali ketika dia SMP. Enggak ada pelukan hangat, mata berkaca-kaca, atau kalimat yang bilang kalau keluarga bangga punya George. Keadaan kembali seperti semula, tapi George paham kok.
Sekarang George sudah berada di kelas 11, dunia masih sama bagi George. Tapi bedanya, dia sekarang punya dua teman dekat.
Satu, namanya Lando. Dia tipe yang ramai, suka jadi pusat perhatian, dan kenalannya ada di berbagai angkatan. Jago olahraga tapi kalau di kelas suka ketiduran. Mereka pertama kali ketemu pas kelas 10 ketika Lando enggak sengaja numpahin es jeruk milik George. Reaksi pertama cowok berambut ikal tersebut adalah nangis di kantin dan bikin George jadi kelabakan sendiri buat nenangin sambil bilang bahwa enggak apa-apa. Sejak saat itu Lando nempel George terus hingga sekarang jadi teman sekelas.
Ketika udah dekat, dia baru tau kalau Lando itu anak tunggal dan keluarganya sering keluar kota dalam waktu lama. George jadi merasa kalau dia beruntung karena meskipun keluarganya enggak hangat, setidaknya mereka selalu pulang dan ketemu di rumah.
Dua, namanya Alex. Orangnya supel, suka senyum, dan jadi teman banyak orang. Mereka dulu sebangku di kelas 10 hingga sekarang ketika masuk kelas 11 IPA 2. Dia lucu dan suka bercanda, rumahnya enggak jauh dari sekolah sehingga George sering mampir cuma buat rebahan dan main PS.
George juga dekat dengan keluarga Alex. Enggak tau udah berapa kali dia makan di meja yang sama dengan mereka. George suka lihat keluarga Alex yang dekat satu sama lain, enggak kayak keluarganya. Dia pernah keceplosan ngomong gitu di meja makan dan berakhir dia dipeluk sama mamanya Alex lama banget. Mama Alex enggak ngomong apa-apa, ngelus-ngelus punggung dia aja. Tapi bagi George udah cukup buat bikin dia nangis di kamar ketika udah sampai rumah.
Tapi ada yang aneh dari Alex setelah George cerita tentang alasan kenapa dia ngomong gitu di rumahnya. Sekarang Alex suka ngalihin topik ketika bahas keluarga padahal dulu dia sering nyeritain kejadian-kejadian absurd keluarganya. Ketika mampir di rumah George pun Alex keliatan cuma senyum formalitas aja, enggak ada senyum Alex yang biasanya. Kalau sama Abang dan Adik masih kadang bercanda, tapi enggak pernah lama juga.
Pernah suatu waktu, Alex dan Lando buru-buru pamit padahal baru George buatin minum di dapur. Awalnya George bingung tapi dia iya-iya aja. Baru esoknya Lando cerita bahwa Alex kemarin berdebat tentang George dengan Ayah. Enggak tau tentang apa tapi apapun itu, di dalam hati George senang karena ternyata begini rasanya dibela.
Selain Alex dan Lando, ada satu orang lagi yang baru dekat dengan George. Namanya Max, cowok kelas sebelah yang jadi ketua ekskul Paskib.
Mereka pertama kali ketemu di UKS, beberapa bulan yang lalu. George saat itu sebagai anggota PMR, baru ngobatin luka di lutut anggota Paskib yang enggak sengaja jatuh karena kesandung ketika latihan. Cowok tersebut enggak bisa diam ketika diobatin, dari mulutnya banyak kalimat-kalimat kasar yang bikin George kesel sendiri. Dia ngelirik name tag di seragam cowok ini yang bertuliskan namanya: Max.
Sambil marah-marah, dia curhat ke Lando yang baru ngerjain remedial fisika. Ternyata Max teman riding-nya Lando dan dia bilang hati-hati bisa dari benci jadi cinta. George pura-pura bikin ekspresi mual. Malemnya enggak ada yang tau tapi dia ngabisin waktunya buat stalking info di internet tentang Max sampai jam 1 pagi.
Sejak saat itu, George yang sebelumnya enggak tau ada eksistensi seorang Max, sekarang malah jadi ketemu terus. Depan belakang saat antri di kantin, papasan di lorong, ketemu di parkiran pas ambil motor. Enggak ada rasa kesel lagi dalam hati George, yang ada malah jadi penasaran.
Karena cowok ini tuh di luar kayak api. Menyala terus dan meluap-luap. Tipe orang sombong karena emang bisa, petantang-petenteng karena emang dia jago.
Tapi ketika cuma ada George dan Max, cowok itu bisa jadi enggak rese.
Awalnya hanya saling senyum pas papasan di lorong, nalangin dulu ketika uang George ternyata enggak cukup buat beli soto, ngeluarin motor George hingga sampai depan gerbang sekolah. Setelah itu, Max mulai ngajak makan bareng dengan George yang milih tempatnya, dateng ke warnet bareng karena George bilang pengen main game yang baru rilis, sering fotoin George ketika nemu spot yang bagus, chattingan sampai malam, terus hal-hal seru lain yang bikin George merasa seneng banget karena belum pernah ada yang memperlakukan dia kayak gini.
Pernah sih sama Alex dan Lando, tapi ini tuh beda.
George merasa kalau sama Max, perutnya kayak ada kupu-kupu. Dunia kalau ketemu Max itu seperti cerah banget. Dia sempat browsing di internet buat ngerti apa arti perasaannya. Kalau dia baca sih ini namanya cinta. George senyum-senyum sendiri, jadi ini ya rasanya cinta.
Meskipun kalau di sekolah dan dia bareng temen-temennya, Max seperti enggak kenal sama George. Pernah sekali George nyapa, tapi Max ga noleh langsung pergi gitu aja. George kaget dan bingung. Padahal tadi malam masih telponan hingga malem. Sorenya, Max ngehadang George di parkiran yang udah sepi. Dia minta maaf dan bilang bahwa tadi dia enggak enak karena ada teman-temannya. Bisa enggak kita ngobrol jika udah di luar sekolah aja? George denger itu jadi sedih. Tapi George paham kok.
George cerita ke Alex dan Lando tentang Max. Alex cuma bilang bahwa enggak apa-apa kalau mau seneng-seneng tapi tetap waspada karena track record Max dan gengnya itu enggak oke.
Kalau Lando, malah lebih aneh. Dia kayak di antara mau dukung atau minta George buat berhenti ketemu Max padahal dia dulu yang suka ngeledekin George dengan si ketua Paskib itu. Setelah banyak kalimat tentang pentingnya memilih pasangan dan melihat latar belakangnya, akhirnya Lando bilang bahwa ikuti kata hati aja dan tentu dengan senang hati George ikutin.
Pokoknya, George senang sekali dengan Max. Pesan dari Max sering dia baca-baca ulang dan bikin dia guling-guling di kamar. Abang sampai nanyain, Adik juga sering ngeledekin. George cuma bales dengan nyengir aja.
Hidup baru aja terasa sempurna, ketika tiba-tiba Lando dateng ke rumah dengan pipi yang lebam.
Itu hari Jumat sore, George baru siap-siap karena nanti malem mau pergi dengan Max setelah dia nongkrong dengan teman-temannya. George ngeliat Lando yang rambut dan hoodie-nya udah basah karena kehujanan, tentu minta Lando buat masuk ke rumah. Tapi Lando geleng terus nangis sesegukan di teras.
Lando dari dulu emang paling cengeng di antara mereka bertiga. Biasanya kalau nangis, omongannya enggak nyambung. Jadi ketika Lando bilang bahwa Maxa deketin George karena taruhan aja, George cuma senyum dan enggak percaya karena enggak masuk akal, kan?
Tapi Lando makin terisak pas nyodorin HP-nya. Memperlihatkan chat di grup yang ternyata berisi Max dan teman-teman tongkrongannya. George perlahan scroll isi chat dan menemukan bahwa Max sering memotret George agar bisa laporan ke grup tersebut. Dia melihat banyak yang tertawa, banyak yang bilang bahwa bagaimana bisa cowok seperti George bisa tertipu dengan mudahnya. Max menimpali dengan karena gue mah ganteng :v, lalu ikut tertawa yang membuat dada George rasanya mau meledak saat itu juga.
Lando bersumpah bahwa dia baru tau tentang taruhan itu sesaat sebelum George bercerita tentang kedekatannya dengan Max. Dia enggak bisa ngomong apa-apa karena mereka mengancam tidak akan mau jadi teman Lando lagi kalau dia cepu dan ngomong ke George.
Segala penjelasan itu hanya terasa lewat saja di otak George. Entah kenapa rasanya lebih sakit daripada apa yang sudah dialami selama ini. Baru aja dia merasakan bagaimana diperhatikan, didengarkan, dan disayangi. Ternyata semua yang dilakukan Max cuma taruhan dan enggak nyata. George salah apa ya sampai diperlakukan seperti ini?
Dengan bergetar, ia menelpon Max dengan HP Lando. Ketika tersambung, sebelum Max bilang apa-apa, George udah ngomong duluan, “Kamu boongin aku ya.”
George bisa mendengar suasana yang awalnya diam tiba-tiba jadi ramai di seberang sana. Semua orang kedengeran ketawa, nunjukin kalau semua ini beneran cuma main-main aja. George rasanya udah hancur banget.
“Sorry, George.” Max bilang gitu, lalu nutup telponnya.
Lando udah mulai reda nangisnya, pas George minta dianter ke rumah Alex. George enggak mau nangis di rumah. George enggak mau keluarganya liat.
Lando keliatan mau nolak tapi akhirnya ngangguk. Nyalain motornya dan nunggu George yang baru masuk buat ambil helm.
Di jalan, Lando berkali-kali minta maaf karena harusnya dia enggak diem aja. Harusnya dia ngomong karena George itu temen deketnya juga. Harusnya berani buat enggak ditemenin karena masih punya teman yang yang lebih baik daripada mereka.
Di belakang, George diem-diem nahan nangis karena bahkan di saat kayak gini, George paham kok kenapa Lando kayak gitu. Hal yang enggak dipahami adalah kenapa Max ternyata sejahat itu.
Di belokan kedua arah rumah Alex, akhirnya George nangis buat pertama kalinya.
Enggak apa-apa.
Enggak ada masalah.
George di atas motor kesayangan Lando itu merapal berkali-kali. Kan memang dari dulu seperti ini. Enggak didengerin, enggak diperhatiin. George paham, kok. Emang George kan enggak layak buat disayangi.
