Work Text:
Hari ini adalah hari libur untuk para kelima pemuda itu; James, Martin, Juhoon, Seonghyeon dan Keonho. Setelah berhari-hari mereka terus-menerus mendatangi banyak acara, lalu juga berlatih di sela-sela waktu yang ada, akhirnya mereka bisa mendapatkan dua hari libur meskipun hanya sementara. Hari ini juga adalah hari yang di mana katanya salju pertama akan turun dan memenuhi jalanan dengan putih. Maka, para yang tertua punya rencana masing-masing.
James sudah punya rencana sendiri bahwa ia akan pergi untuk menonton film di bisokop yang sudah sangat ia tunggu-tunggu sampai malam nanti. Sedangkan Martin dan Juhoon, mereka berencana untuk pergi berdua ke suatu tempat. Tak ada yang bertanya kemana, biarlah itu jadi rahasia keduanya. Mungkin hari ini juga adalah hari yang ditunggu-tunggu untuk mereka. Maka yang tertinggal hanya dua termuda; Ahn Keonho dan Eom Seonghyeon.
Manager dan para kakak tertua sudah bertanya kepada mereka, apakah mereka ingin pergi ke suatu tempat untuk menghabiskan libur singkat ini. Tetapi keduanya hanya saling bertukar pandang dan senyuman, dan setelah itu, kata “Tidak.” keluar dengan penuh semangat. Hal tersebut membuat manager sedikit menaruh curiga pada dua insan itu, tetapi manager hanya menghela napas dan berkata, “Baiklah.” dan pamit pergi juga untuk bisa menggunakan hari liburnya itu dengan baik.
Maka, di sinilah keduanya itu sekarang, Keonho dan Seonghyeon yang mencoba untuk menikmati waktu kosong mereka itu di ruang tamu yang di mana merangkap juga menjadi ruang bersama—ruangan yang biasanya mereka peruntukan menonton televisi bersama-sama. Keduanya duduk bersandar pada sofa. Keonho dengan satu tangannya yang melingkar dengan nyaman di pundak yang terkasih dan Seonghyeon yang meletakkan kepalanya pada pundak si muda. Tangan Keonho satu lagi sibuk memegang remote televisi, sedang mencari-cari tontonan yang cocok untuknya dan Seonghyeon.
Setelah menghabiskan sekitar lima menit berdebat dan mencari terus apa yang harus ditonton, akhirnya mereka memilih salah satu film animasi yang sedang trending di khalayak internet sana. Hening pun mulai menyapa, membiarkan suara dari televisi yang menemani mereka berdua. Keonho, dalam sunyinya, menautkan jemari tangan satunya dengan milik Eom Seonghyeon. Merasakan lembut dan hangat dari si bersurai hazel.
“Tangan kamu kecil banget,” tiba-tiba si muda itu menyuarakan pernyataan yang membuat Seonghyeon meliriknya sinis.
“Kamu yang kegedean, tahu.”
Suara tawa Keonho memenuhi kekosongan ruang itu beberapa saat sebelum akhirnya kembali fokus pada layar di depan. Senyumnya tak henti-henti luntur dari wajah dan ia terus mengusap-usap dengan perlahan jari-jari lentik milik Seonghyeon itu.
Entah sudah berapa menit lamanya mereka habiskan hanya untuk menonton dalam keheningan, Keonho melihat Seonghyeon yang sudah gusar, sepertinya bosan. Tetapi ia biarkan saja, menunggu sampai si bermarga Eom itu benar-benar sudah muak dengan kejenuhannya. Tak berapa lama, Seonghyeon berpindah posisi, kini kepalanya bersandar dengan nyaman di bidang dada Keonho. Lalu ia melemparkan satu pertanyaan yang seharusnya Keonho pura-pura tidak dengar atau tidak peduli saja.
“Menurut kamu, kita bakalan berdua terus gak di semesta lainnya?”
Sungguh. Itu pertanyaan asal saja karena tiba-tiba terlintas dipikiran Seonghyeon yang matanya masih berfokus pada layar televisi. Keonho yang mendengar itu mendegus tawa, tangan yang tadi berada di pundak si Eom berpindah pada pinggangnya.
“Menurutku aku… Di semesta pertama, kita nggak jadi pasangan,” itu adalah jawaban yang tidak sesuai dengan ekspetasi Seonghyeon, membuatnya langsung menatap Keonho dengan kening berkerut.
Seonghyeon pikir Keonho akan menjawab dengan penuh semangat, “Iya pasti! Soalnya aku cinta kamu pakai banget di setiap semesta!” tapi, sepertinya otak Keonho yang unik itu juga sudah merangkai jawaban yang terdengar tidak kalah unik juga. Jadi, Seonghyeon hanya diam, memandangi si pemuda itu untuk melanjutkan kalimatnya.
“Soalnya di semesta itu aku jadi anjing dan kamu jadi beruang.”
Satu pukulan pelan dan penuh canda mendarat dengan sempurna di wajah Keonho, membuatnya tertawa renyah. Benar-benar bukan jawaban yang Seonghyeon harapkan.
“Kenapa aku jadi beruang, sih?” protes Seonghyeon dengan alis dan keningnya masih mengerut lucu.
“Soalnya kamu kayak beruang; galak tapi gemesin,”
Jam di dinding, televisi yang menyala penuh warna, pun juga Keonho dari ekor matanya, bisa melihat dengan jelas bagaimana warna merah semu memenuhi wajah indah Seonghyeon di ruang minim cahaya itu. Curse you, Ahn Keonho, for making me falling even more. Seonghyeon merutuk dalam hati, mencoba pura-pura tak mendengar jawaban dari kasihnya tadi. Kesunyian lagi-lagi menyeruak bersamaan dengan hawa dingin yang tak ada hentinya, mata mereka kembali memperhatikan film animasi yang sepertinya sudah mau mencapai akhir.
Setelah film betul-betul berakhir, mereka tak sedikit pun beranjak dari posisi. Seonghyeon masih dengan penuh kenyamanan itu bersandar dalam diam pada Keonho, dan Keonho sendiri masih terus-menerus memainkan jari-jemari Seonghyeon sambil menggumamkan suatu lagu seperti pengantar tidur.
“Keonho,” Seonghyeon bersua, memanggil nama si muda dengan suara madunya. Si pemilik nama hanya berdehem sebagai jawaban. Menanti apa yang mau ia katakan. “Gimana semisalnya kalau di semesta lain itu gak ada tempat untuk kita berdua?”
Elusan lembut pada jemari Seonghyeon terhenti. Keonho terdiam sejenak, mulai berpikir dengan wajah yang cukup serius. Tapi di mata Seonghyeon, itu adalah ekspresi yang lucu. Seonghyeon suka ekspresi Keonho itu. Seonghyeon suka Keonho.
“If there’s no place for us, then I will build one,” katanya dengan nada yang juga terdengar sangat serius. Ia kembali mengusap-usap dan memainkan jari Seonghyeon sambil terus menjawab. “Aku bakalan bikin tempat yang lebih, lebih bagus buat kita. Tempat yang memang khusus ada kita berdua aja. Aku dan kamu. So, you don’t have to worry about that,”
Seonghyeon tertawa. Jangan tanya kenapa ia tertawa. Seonghyeon sendiri pun tidak tahu. Mungkin dia tertawa karena senang. Seonghyeon senang karena Keonho sama menginginkannya seperti bagaimana Senghyeon menginginkan Keonho. Seonghyeon senang karena Keonho mau terus ada bersamanya. Seonghyeon senang mereka bisa berdua. Si bersurai hazel itu terus tertawa diikuti suara Keonho yang mengecup buku-buku jarinya. Di sini, mereka aman dengan perasaan yang sama dan akan selalu sama di antara dinginnya dunia.
