Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-12-09
Words:
519
Chapters:
1/1
Kudos:
3
Hits:
162

How to Dance

Work Text:

Langit di musim panas tak pernah diam. Ia bernapas panas, lalu tiba-tiba menangis. Laut di selatan menggelegak, mengangkat uap garam yang menempel di kulit seperti lapisan dosa tipis. Angin dari Hallasan turun membawa bau rumput kering dan bunga jeruk yang terlalu matang, lalu mendadak berbalik arah, membawa awan hitam yang menggantung rendah, seolah langit sendiri sedang menahan sesuatu yang terlalu berat untuk ditelan.

Hujan datang seperti luka yang sudah lama menunggu untuk dibuka.

Tetes pertama jatuh di tengkuk yang masih panas, dinginnya menusuk sampai tulang. Lalu yang kedua, ketiga, dan tiba-tiba seluruh langit runtuh. Air deras mengguyur jalanan batu hitam yang baru saja terbakar matahari, mengeluarkan bau tanah yang tercekat berbulan-bulan. Suhu jatuh seketika, seperti seseorang merobek selimut panas dari tubuh yang sudah terlalu lama terbiasa terbakar.

Seperti padang pasir yang kering kerontang di bawah matahari tak bertepi, ada hari-hari ketika hujan memang harus datang.  
Tak ada jalan lain. Tak ada alasan untuk lari.

Angin menderu, membanting daun-daun jeruk ke tanah, membawa bau laut yang asin bercampur bau tanah yang basah—bau yang terasa seperti air mata bumi sendiri. Kaki terasa berat di atas aspal yang mulai licin, tapi ada sesuatu di dalam dada yang justru menjadi ringan. Seperti akhirnya boleh menangis setelah bertahun-tahun menahan.

Air mengalir di telapak tangan, di pergelangan, di lengan, di leher, di wajah. Baju menempel dingin di kulit, tapi dingin itu terasa seperti pelukan yang sudah terlalu lama dirindukan. Hujan meresap sampai ke tulang, sampai ke tempat yang paling dalam yang selama ini kering dan retak. Dan di sana, di hati yang selalu dingin itu mulai bergetar.

Petir menyambar di kejauhan, bukan mengancam, tapi seperti lampu yang menyala sebentar untuk menerangi wajah yang sudah lama tak dilihat di cermin. Kaki telanjang menginjak genangan, cipratannya naik tinggi, dingin menusuk, tapi setiap cipratan terasa seperti nada yang hilang dari lagu lama. Dada sesak, tapi sesak itu terasa hidup. Air mata akhirnya jatuh, entah sedih, entah senang.

Hujan mulai reda, tapi gerimisnya masih bertahan, seperti isak yang tak mau berhenti. Angin kembali lembut, menyapu rambut basah yang menempel di dahi. Di barat, celah biru kecil mulai terbuka, matahari senja menyelinap masuk, membakar ujung awan menjadi merah darah yang lembut. Genangan di jalan memantulkan langit yang perlahan pulih, dan di dalam pantulan itu, aku melihat sesuatu yang tak pernah kulihat sebelumnya; wajah yang basah kuyup, tapi mata yang hidup kembali.

Angin kembali panas perlahan, tapi panasnya kini terasa berbeda. Ia tak lagi membakar, melainkan memeluk. Seperti hujan tadi, datang tanpa permisi, merobek segalanya, lalu pergi meninggalkan sesuatu yang baru. Kaki masih dingin, rambut masih menetes, baju masih basah menempel di kulit. Tapi di dalam dada, ada irama baru. Irama yang lahir dari tangis, dari dingin, dari hujan yang memaksa kita menari ketika kita sudah lupa bagaimana caranya.

Dan di bawah langit Jeju yang kembali biru, aku berdiri sendirian, basah kuyup sampai ke tulang,  
tapi untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun,  
aku merasa utuh.

Karena aku telah belajar—dengan cara yang paling basah, paling dingin, paling telanjang—  
bahwa cara menari di hujan  
adalah dengan membiarkan hujan menari lebih dulu  
Di dalam luka yang paling dalam yang selama ini kubiarkan kering.