Actions

Work Header

Paket Dicinta, Jodoh pun Tiba

Summary:

Rover merasa Xiangli Yao, tetangga kosnya, jadi lebih sering belanja secara daring dan menggunakan jasa pesan-antar. Rover yang memiliki kamar dengan letak paling dekat dengan gerbang, sering menjadi perantara paket dan pesanan tetangganya. Tapi dia tidak menolak, karena dia jadi memiliki kesempatan untuk bertatap muka dengan tetangga yang diam-diam ditaksirnya ini.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

“Permisi, paket!”

Rover segera membuka pintu kamarnya untuk memastikan bahwa teriakan barusan ditujukan pada kompleks kosnya. Benar saja, seseorang dengan jaket merah khas seragam suatu perusahaan logistik, tengah berdiri di depan pintu gerbang kompleks kosnya dan membawa bungkusan berbalut bubble warp tebal. Ia kemudian menghampiri pintu gerbang kos yang digerendel dari dalam dan membukanya.

“Eh, dek Rover lagi. Yang lain lagi gak ada di kos, dek? Kayaknya kamu terus yang nerima paket.” Kurir paket langganan itu tersenyum sambil basa-basi.

Rover terpaksa memasang tampang senyum ramah untuk membalasnya walaupun enggan.

“Iya, bang Scar. Biasalah, yang lain pada sibuk dan sering pergi. Saya kan cuma mahasiswa kupu-kupu yang udah jarang ke kampus.”

“Oh gitu… Ini ya paketnya. Atas nama Xiangli Yao. Boleh saya minta fotonya buat bukti pengiriman? Oke. Terima kasih, dek Rover~”

 

Dengan cepat sang kurir mengambil foto dirinya yang memegang paket dan kemudian berbalik. Sebelum pergi dengan sempatnya si kurir mengedipkan satu matanya pada Rover sebelum akhirnya pergi dengan sepeda motor jadulnya itu.

“Terima kasih kembali, bang.” Ucap Rover kepada si kurir. Tapi hatinya berkata lain, ew.

Rover bersungut-sungut. Ia selalu merasa tidak nyaman dengan kurir paket bernama Scar itu. Dari senyumnya, cara bicaranya, dan tindak-tanduknya, selalu membuat Rover merasa was-was dan gelisah. Sialnya, area kos yang ia tinggali tampaknya telah menjadi wilayah kerjanya dalam mengirimkan paket. Mau tidak mau Rover akan terus bertemu dengan kurir satu itu.

Ya, sudah. Sabar-sabar aja, lah…

Perhatian Rover kemudian kembali pada paket yang berada di tangannya. Memastikan dengan benar alamat dan nama penerimanya. 

Xiangli Yao, Jl. XXX no. XX, Gang XXXXX, XXXXX, Kota XXXXX, Provinsi XXX XXXX, XXXXXX, Kode Pos XXXXX, (Sebelah Warung Ayam Geprek XXX, gerbang warna putih). 

Tidak salah lagi. Alamatnya sudah tepat. Penerimanya juga orang yang ia kenal sebagai tetangga sebelah kamarnya yang pendiam dan tidak sering ia temui. Sepertinya, akhir-akhir ini penghuni bernama Xiangli Yao ini menjadi lebih banyak menggunakan jasa belanja daring dan pesan-antar.

Kompleks indekosnya ini terdiri dari 6 ruang kamar yang dibagi menjadi dua lantai. Kamar Rover terletak di lantai bawah dan paling dekat dengan pintu gerbang keluar. Lokasi yang ideal untuk mendengar seruan dari petugas kurir yang datang. Jadi, dirinyalah yang paling sering menjadi sukarelawan untuk mengambil, menyimpan, dan kemudian menyerahkan barang atau makanan yang dipesan dan diantarkan. Terlebih sifat tidak enakannya membuat ia seringkali tidak tega membiarkan para pekerja jasa itu berlama-lama di luar, menunggu sang penerima, di bawah teriknya surya atau derasnya badai.

Rover mengintip jendela kamar sebelah, ruangan dimana pemilik nama Xiangli Yao tinggal. Ia mengetuk pelan jendelanya ketika melihat ada cahaya monitor menyala di dalam.

“Permisi, Yao. Ada paket.”

Tak lama kemudian pintu dibuka. Sosok tampan dengan tinggi yang kurang lebih sama dengan Rover, muncul di ambang pintu. Wajahnya yang lembut tersenyum sambil membenarkan kacamata anti radiasi monitornya.

Seperti biasa, cakep banget. Tanpa sadar, pipi Rover bersemu merah.

“Oh, paket saya datang? Maaf, saya sedang ada Zoom dengan klien barusan. Jadi, tidak dengar ada kurir datang.”

Suaranya terdengar ramah dan lembut seperti biasa.

“Tidak apa-apa. Ini paketnya.”

Rover menodongkan barang yang dimaksud kepada pemuda di hadapannya.

“Terima kasih banyak, ya.”

“Sama-sama. Kalau begitu aku masuk duluan.”

Rover buru-buru kembali ke kamarnya. Ia tak mau semburat kemerahan yang muncul di pipinya itu disadari oleh tetangga kamarnya itu. Tentu saja ia bakal malu jika ketahuan diam-diam naksir tetangga kosnya sendiri. Mau ditaruh dimana wajahnya nanti.

 


 

Bisa dibilang, Xiangli Yao ini menjadi orang kedua yang lebih sering diam di kos dibandingkan Rover. Lima penghuni lain selain Rover memang selalu sibuk. Jika diurutkan dengan dari yang paling sibuk hingga yang paling tidak sibuk, mungkin ada mahasiswa kedokteran kekar di kamar nomor 5 yang tengah mengejar sekolah spesialisasinya, dosen muda galak berkacamata di kamar nomor 4 yang lebih sering ikut penelitian dan dinas di luar kota, mahasiswa teater institut seni setempat dengan pakaian nyentrik yang hobi pulang malam di kamar nomor 3, mahasiswa baru yang masih seperti anak sekolah menengah dan tengah kegandrungan ikut kepanitiaan serta volunteer sana-sini di kamar nomor 6, kemudian mahasiswa teknologi informasi yang baru lulus tahun ini dan tengah magang di instansi swasta bergengsi setempat sambil bekerja secara remote di kamar no. 2.

Walaupun memang tidak seluang Rover yang merupakan mahasiswa akhir jarang kelas dari fakultas ilmu sosial dan ilmu politik si penghuni kamar nomor 1 ini, tapi penghuni kamar nomor 2 aka Xiangli Yao menjadi penghuni yang paling sering ditemuinya. 

Rover terpana ketika bertemu dengannya secara langsung dan mendengar tutur katanya yang lembut dan santun dengan gaya formal yang mungkin sudah jarang dipakai kepada teman sebaya. Kalau berdasarkan dengan istilah yang populer dan sering dipakai akhir-akhir ini, Xiangli Yao bisa dibilang merupakan pria yang soft-spoken.

Sebenarnya, Rover tidak jarang-jarang amat menemui orang yang mirip dengan Xiangli Yao dari cara bertutur kata, terutama di fakultasnya. Namun, bagaimana Xiangli Yao berbicara dan berperilaku benar-benar menghipnotisnya. Atau mungkin itu karena wajah rupawan dengan fitur lembut namun alis tebal dan tajam yang kadang muncul tiba-tiba di benak Rover. Entahlah. Yang pasti, Rover tidak berani berlama-lama di depan Xiangli Yao karena takut pipinya akan bersemu mawar tiba-tiba setelah berada di dekat Xiangli Yao setelah periode waktu tertentu, layaknya gadis perawan yang tengah kasmaran.

 


 

“Permisi, kiriman laundry!”

“Iya, pak. Sebentar.” Sekali lagi Rover buru-buru keluar kamar untuk menghampiri kurir di depan gerbang.

“Atas nama Xiangli Yao?” Sang kurir bertanya.

“Oh, saya teman kos yang tinggal di sebelahnya.”

“Oke, kakaknya tadi bilang untuk titipkan ke orang kos saja. Terima kasih, kak.”

“Terima kasih kembali, pak.”

Rover menenteng tas yang penuh dengan pakaian yang sudah bersih dan harum. Ia memutuskan untuk menyimpan cucian bersih dari penatu itu di kamarnya terlebih dahulu. Rover bisa saja meninggalkan tas tersebut di depan pintu kamar pemiliknya. Namun, ia teringat oleh kucing nakal milik tetangga yang sering main ke kompleks kos mereka dan hobi mengacak-ngacak baik barang atau makanan apapun yang menganggur di depan kamar. 

Yah, itu alasan utamanya. Namun , tidak menutup alasan tersembunyi lainnya, yaitu tidak lain dan tidak bukan agar Rover dapat bertatap mata dan bercakap barang sejenak dengan tetangga kamarnya itu nanti.

 


 

Kenyataannya, Rover memang tengah berada dalam fase kasmaran. Ia tidak bisa menyangkalnya. Memang payah betul dirinya ini. Ia dan Xiangli Yao baru bertemu beberapa kali, bahkan setiap pertemuan tak pernah bertahan lebih dari lima menit. Namun, ia membiarkan hatinya ini tercuri begitu saja. 

Rover memang belum terlalu lama mendiami kosnya yang sekarang. Kos lamanya ia lepas tahun lalu karena ia mendapatkan kesempatan magang di luar kota selama beberapa bulan. Setelah selesai dengan magangnya, Rover memutuskan untuk kembali tinggal di dekat kampusnya demi memperlancar urusan tugas akhirnya.

Rover masuk hampir bersamaan dengan mahasiswa baru penghuni kamar nomor 6. Sementara itu, penghuni lainnya telah menghuni kamar mereka masing-masing jauh lebih lama dari mereka. Perlu beberapa minggu bagi Rover untuk akhirnya bertemu semua penghuni kamar akibat kesibukan mereka. Xiangli Yao menjadi penghuni yang paling sering ia temui karena selain kamarnya yang bersebelahan, pemuda berambut cokelat itu memiliki jadwal yang lebih senggang dibandingkan yang lain.

Rover seringkali dibuat terpana oleh pribadi Xiangli Yao yang lembut dan sopan sejak pertama kali bertemu. Terlebih ditambah dengan wajah berspesifikasi idol yang dimilikinya, membuat Rover semakin tergaet hatinya. Awalnya cuma kekaguman, akhirnya naksir beneran. Ya, kapan lagi ketemu dengan manusia sempurna dengan akhlak terpuji lengkap dengan wajah luar biasa rupawan?

 


 

“Permisi, galon!”

Rover lagi-lagi segera keluar untuk membukakan pintu gerbang.

“Mas Xiangli Yao?”

“Oh, bukan. Bentar saya panggilkan.” Rover berbalik menuju kamar nomor 2.

Ia mengetuk pelan dan memanggil sang pemilik kamar. “Yao, ada galon.”

Terdengar suara sahutan dari dalam kamar. Tak lama kemudian pintu terbuka. 

“Galon, ya? Terima kasih.”

Xiangli Yao menghampiri kurir yang menunggu di depan gerbang.

“Sudah disini saja, pak. Nanti saya masukkan sendiri. Jadinya segini, ya. Terima kasih banyak.”

Setelah memberikan uang dan mengucapkan terima kasih kepada pengantar galon, Xiangli Yao berusaha untuk mengangkat dua buah galon berisi air mineral sebanyak 15 liter itu sendirian.

“Sini, aku bantu.” Tanpa diminta, Rover langsung mengambil pegangan salah satu galon yang hendak Xiangli Yao angkat dan membawanya ke kamar nomor 2.

“Terima kasih banyak, Rover.” Pemuda itu berterima kasih sambil tersenyum kepada Rover atas bantuannya.

“Sama-sama.” Rover tersenyum dan membalas ucapan terima kasih Xiangli Yao, namun mata emasnya berusaha menghindari untuk bertatapan dengan mata biru pemuda itu.

 


 

Beberapa bulan lalu, ketika ia baru pindah dan pertama kali bertemu, Rover mengira Xiangli Yao lebih tua dibandingkan dengannya. Hal ini karena status Xiangli Yao yang sudah hampir lulus, sementara progres kuliah Rover berada setahun di belakangnya. Namun, ternyata keduanya sebaya. Mereka lahir di tahun yang sama dan hanya terpaut beberapa bulan, dengan Rover yang lahir lebih awal. Usut punya usut, Xiangli Yao ternyata pernah mengikuti kelas akselerasi di sekolah menengah sebelumnya, sehingga ia lulus dari sekolah menengah dan masuk ke universitas setahun lebih cepat dibandingkan dengan murid-murid lain dalam tahun angkatan yang sama.

Ia juga mendengar tentang orang tua Xiangli Yao yang merupakan dosen dari perguruan tinggi ternama. Atau bagaimana Xiangli Yao berkuliah dengan beasiswa prestasi yang seleksinya teramat ketat. Begitu pula tentang Xiangli Yao yang pernah terpilih sebagai mahasiswa berprestasi kampus dan masuk ke laman Instagram kampus akan prestasinya itu.

Semakin mencari tahu, Rover hanya semakin menemukan hal-hal baik saja dari Xiangli Yao. Hal ini tak membuat dirinya terintimidasi atau iri atau bahkan tidak percaya diri, melainkan semakin menambah rasa kekaguman kepada pemilik rambut cokelat itu. Semakin dipikir, siapa yang tidak semakin naksir?

Xiangli Yao ini merupakan epitome nyata dari Dasa Dharma Pramuka (oke, mungkin terlalu berlebihan jika dibilang pemuda itu memenuhi semua isi pedoman moral gerakan pendidikan nonformal ini. Tapi siapa tahu, kan?). Kepribadian? Baik. Wajah? Rupawan. Kepala? Berisi. Sempurna. Astaga Ya Tuhan, kamu tidak salah takar kah ketika membuat makhluk satu ini?

 


 

“Permisi, kiriman KuyFood!”

Cuaca di luar tengah hujan gerimis. Rover mencari-cari payung, namun tidak bisa menemukannya. Tapi ia tetap berlari keluar untuk membukakan pintu gerbang.

Di luar terlihat kurir makanan membawa beberapa kantong plastik besar berisikan makanan dan minuman. Rover bisa mencium bau yang menggiurkan dari bungkusan plastik-plastik itu.

“Dengan kak Xiangli Yao?”

“Ya, saya!”

Rover mendengar sahutan di belakangnya. Terlihat Xiangli Yao yang keluar dari kamarnya sambil membawa payung untuk mengambil pesanannya.

“Terima kasih banyak, bapak.”

Xiangli Yao kemudian menoleh pada Rover dengan tangan yang penuh membawa kantong plastik dan payung. Sementara masih ada kantung lagi yang dibawa oleh sang kurir.

“Maaf, Rover. Boleh minta tolong bawakan makanan yang tersisa?”

Rover tentu saja mengiyakan permohonannya. Ia mengambil kantong makanan yang masih dibawa kurir, mengucapkan terima kasih, dan menutup pintu gerbang. Ketika berbalik, Rover menyaksikan Xiangli Yao masih menunggu dengan salah satu tangan terulur untuk memayunginya. Rover terkesima.

“Yuk. Ke meja makan.” Ajak Xiangli Yao.

Meja makan yang dimaksud tentu meja makan yang terletak pada dapur bersama. Keduanya berbagi payung di tengah gerimis mungil yang tak seberapa dan jarak antara gerbang ke dapur yang tak terlalu jauh. Meskipun begitu, itu berhasil membuat jantung Rover menjadi tak karuan.

“Kamu mau mengadakan pesta? Beli bakso sama es teh banyak banget.”

Rover berusaha menemukan topik agar tidak canggung.

“Saya beli buat anak-anak sini, kok. Sedang ingin mentraktir saja. Tapi sepertinya yang lain belum pulang, ya?”

“Iya. Bang Mortefi sepertinya ke luar kota lagi. Kak Jiyan, Brant, sama Lingyang baru pulang tengah malam atau dini hari nanti.”

“Sayang sekali. Kalau begitu, saya simpan saja di kulkas nanti. Takutnya basi.”

Rover mengangguk. Kini keduanya telah di dapur. Xiangli Yao mengambil dua mangkuk dan meletakkannya di meja.

“Karena kamu sedang di kos dan sepertinya tidak ada rencana keluar, mau menemani saya makan bakso? Kebetulan juga sedang hujan, pas sekali makan yang hangat-hangat.”

Xiangli Yao menawarkan sebuah tawaran langka. Yang tentu saja diterima oleh Rover.

Ditemani hujan gerimis dengan suara yang lirih. Aroma hujan dan tanah basah menguar berbaur dengan bau sedap dari kaldu kuah bakso panas yang asapnya masih mengepul. Keduanya menikmati santapan hangat mereka sambil berbincang ringan.

“Kamu sudah seminar proposal?” 

Atau tidak. Pertanyaan singkat namun telak menusuk hati mungil setiap mahasiswa akhir.

Rover tersenyum pahit. “Aku sudah ada topik, tapi memang belum aku ajukan. Masih ragu.”

“Tidak apa-apa, kok. Pikirkan dulu matang-matang sebelum kamu ajukan. Kalau perlu bantuan, bilang saja. Nanti sebisa mungkin akan saya bantu.”

“Oke, Yao. Nanti aku bakal minta tolong, deh.”

Rover berpikir bahwa ini mungkin pertama kalinya ia berbincang yang bukan hanya sekedar sapaan atau basa-basi singkat dengan tetangga sebelah kamarnya ini. Rover berharap sepanjang percakapan dan sesi makan bersama ini ia tak membuat ekspresi bodoh di hadapan tetangga cakepnya ini.

“Ngomong-ngomong, Yao, terima kasih banyak baksonya.”

“Sama-sama. Terima kasih juga sudah mau menemani saya.”

Jantung Rover hampir berhenti ketika melihat Xiangli Yao tersenyum cerah kepadanya. Senyum tercerah dan paling menyilaukan yang pernah ia lihat dari tetangganya itu. Siapa yang menaruh bintang Alpha Canis Majoris disini?

Rover kemudian bangkit dari tempat duduknya. Ia membawa mangkoknya yang sudah kosong ke wastafel dan mencucinya. Dirinya saat ini sedang berusaha menenangkan jantung miliknya agar suara debaran yang dihasilkan oleh organ pemompa darah itu tidak terdengar ke telinga sang gebetan.




Rover baru saja menyelesaikan putaran lari rutinnya sambil membeli sarapan, ketika melihat kurir dengan jaket khas mitra layanan aplikasi logistik populer tengah menunggu di depan pintu gerbang kosnya.

“Permisi, bu. Ada kiriman untuk kos sini, kah?” Rover mendekat dan bertanya pada kurir yang ternyata ibu-ibu paruh baya itu.

“Oh, iya dek. Atas nama Xiangli Yao.”

“Itu tetangga kamar saya, bu. Mungkin biar saya saja yang bawa masuk.” Rover menawarkan diri.

“Boleh, dek. Sepertinya masnya yang pesan juga sedang sakit kalau dari chat-nya.”

“Oh, baik bu. Nanti saya cek juga masnya. Terima kasih.” 

Rover terkesiap dan mulai khawatir mendengar perkataan ibu kurir itu. Ia buru-buru menuju ke pintu kamar nomor 2 untuk memastikan.

“Yao? Ada kiriman.”

Pintu tak kunjung dibuka meski Rover telah mengetuk pintu dan memanggil pemilik kamar. Ia memutar knop pintu yang ternyata tidak dikunci dan menemukan pemilik kamar terduduk di lantai di samping tempat tidur.

“Yao?” Rover menghampir tubuh yang terlihat lunglai itu.

Tubuh Xiangli Yao terasa panas. Badannya berkeringat dan pakaiannya berantakan.

“Saya tidak kuat untuk jalan ke pintu. Untungnya pintu kamar tidak saya kunci. Maaf kamu jadi repot.”

Xiangli Yao berbicara dengan terengah-engah. Rover menggeleng, berusaha menyampaikan bahwa ia tidak merasa kerepotan.

“Yao, naik dulu ke tempat tidur, ya.” Rover berusaha memapah tubuh yang berukuran tak jauh beda darinya itu. “Kamu sakit dari semalam?”

“Iya. Saya pikir hanya meriang biasa yang bakal reda setelah dibawa tidur. Ternyata tidak.”

“Kamu sudah sarapan? Kebetulan, aku barusan membeli bubur. Makan, ya? Buat minum obat.” Rover membuka bungkusan bubur ayamnya yang masih hangat.

“Kamu sendiri bagaimana? Kamu beli bubur untuk sarapan, kan?”

“Gampang. Aku bisa beli lagi nanti. Yang pasti sekarang kamu makan dulu, terus minum obat. Yang barusan kamu pesan itu obat-obatan dari apotek, kan?”

Ia membiarkan Xiangli Yao memakan buburnya. Ia juga membawa segelas air untuk diminum bersama obat. Rover menyodorkan bungkus kaplet obat yang telah ia sobek sedikit beserta segelas air yang telah ia siapkan.

“Uhuk-” Xiagli Yao tersedak ketika berusaha menelan obatnya.

“Yao? Tidak apa-apa kan?” Rover mendekatinya dan mengelus punggung belakang pemuda yang tengah sakit itu.

Xiangli Yao mengangguk. Rover membuka kembali kantung plastik berisikan obat-obatan yang dipesan oleh Xiangli Yao tadi.

“Uh, mau kupasangkan cooling patch di dahimu?” Rover bertanya sembari mengacungkan sebuah bungkusan putih yang ia temukan dalam kantong.

Yang ditanya mengangguk pelan. “Boleh.”

Ia tiba-tiba tersadar bahwa kini wajahnya sangat dekat dengan milik Xiangli Yao. Rover langsung bangkit setelah memasangkan cooling patch pada dahi Xiangli Yao. Ia kemudian membantu pemuda yang sakit itu untuk berbaring dan hendak pergi setelahnya.

“Nanti kalau perlu apa-apa chat aja-”

Rover belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika merasakan tangan Xiangli Yao yang menarik lengannya.

“Tolong temani saya sebentar, setidaknya sampai saya tertidur."

Bagaikan sebuah bom yang menunggu di nyalakan, jantung Rover kini serasa ingin meledak. Namun, Rover masih sanggup menguasai dirinya dan mengiyakan permintaan Xiangli Yao. Untuk sementara, Rover melupakan segala urusan hatinya. Ia menerima permintaan Xiangli Yao semata-mata karena peduli. Pasti tidak enak ditinggal sendirian ketika sakit.

“Baiklah. Aku akan menunggu di sini.”

Rover mengambil tempat duduk di lantai berkarpet di sebelah tempat tidur Xiangli Yao. Ia menunggui pria yang terbaring sakit itu sambil sesekali mengajaknya bercakap-cakap ringan. Tak lama kemudian, Rover bisa mendengar suara nafas yang teratur dari ranjang itu. Xiangli Yao tertidur lelap. Rover bangkit perlahan dan berjalan keluar dari kamar nomor 2. Rover akan membiarkan pemuda yang sakit itu tidur nyenyak tanpa ada gangguan. Nanti, ia kan kembali untuk mengecek kondisinya lagi.

 


 

Rover terbangun oleh ketukan di pintu kamarnya.

“Sebentar…” Ia menguap dan bangkit dengan malas.

Rover hampir terkejut ketika membuka pintu dan melihat yang berdiri di depan pintu adalah Xiangli Yao.

“Yao? Ada apa?” Rover tersenyum canggung begitu melihatnya.

“Ada paket untuk kamu.” Xiangli Yao tersenyum sambil mengacungkan sebuah bungkusan berbalut kardus.

“Oh, terima kasih. Aku tadi ketiduran. Jadi tidak dengar kalau ada kurir.”

“Santai saja. Lagipula kamu juga sudah sering mengambilkan paket punya saya dan yang lain.” 

Xiangli Yao berhenti sejenak kemudian kembali membuka suara. Terlihat ada sedikit keraguan pada raut wajahnya. Rover menyadari ekspresi kecil itu. Dan entah mengapa Rover merasakan bahwa sesuatu yang mengubah hubungan mereka akan terjadi.

“Saya beli roti bakar untuk kamu. Terima kasih untuk selumbari, kamu sudah repot-repot menemani saya ketika demam.”

“Aku tidak merasa kerepotan, kok. Aku juga gak mungkin membiarkan kamu sendirian ketika kamu tidak bisa bangun sama sekali kemarin.”

“Tetap saja, saya merasa sangat berterima kasih. Mohon diterima, ya. Tidak seberapa, sih.” Xiangli Yao menyodorkan bungkusan plastik yang mengeluarkan harum khas roti bakar.

“Oke, deh.” Rover mengambil nafas, mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan kalimat selanjutnya, untuk mengambil kesempatan yang sepertinya terbuka lebar. “Kalau begitu, mau makan bareng di dalam?”

 


 

Rover merasa ingin membalikkan waktu ke sepuluh menit lalu, sebelum ia melontarkan ajakan asal bunyinya pada Xiangli Yao. Karena sekarang ia merasakan suasana yang teramat canggung dengan Xiangli Yao di dalam kamarnya.

“Sepertinya baru kali ini saya masuk ke kamar kamu.” Akhirnya salah satu dari mereka buka suara.

Pria berambut cokelat itu memandangi keseluruhan isi kamar Rover. Dari tempat tidurnya yang berbalut sprei polos, meja belajar dengan laptop dan printilan lain yang memenuhinya, rak buku yang berisikan buku-buku cetak keperluan kuliah hingga komik-komik Jepang, lalu tembok kamar yang penuh dengan poster grup idol Korea yang Rover senangi.

“Sedikit berantakan, ya?” Rover terkekeh malu.

“Tidak, kok. Rapi-rapi saja.”

Percakapan keduanya kemudian mengalir lancar. Perlahan hawa canggung yang menyelimuti keduanya mulai hilang. Mereka membahas berbagai hal yang dapat dibahas. Kehidupan perkuliahan, film yang terakhir ditonton, tempat makan yang sering dikunjungi, hingga situasi politik terkini.

Lambat laun Rover terhipnotis pada pria di depannya ini. Ia sudah tak menyimak apa yang dibicarakan. Rover memperhatikan bagaimana Xiangli Yao selalu mengambil roti bakar dengan rasa keju sementara dirinya selalu mengambil potongan rasa coklat. Rover memperhatikan bagaimana alis Xiangli Yao selalu berkerut ketika membahas hal yang serius. Rover melihat adanya bekas tindikan pada kedua cuping telinga Xiangli Yao. Rover menyadari bahwa mata Xiangli Yao terdiri dari dua kombinasi warna, yaitu merah dan biru. Rover mengamati tangan kanan Xiangli Yao yang-

“-ver? Rover!”

Rover tersadar dari lamunannya. Ia bergidik ngeri, menyadari bahwa ia mungkin telah tertangkap basah tengah mengagumi makhluk ciptaan Tuhan di depannya ini secara terang-terangan.

“Maaf, kamu barusan bilang apa Yao?” Rover berusaha menahan rasa malu, memasang muka tebal seakan tidak terjadi apa-apa.

Xiangli Yao hanya terkekeh geli. “Ada selai di dagu kamu.”

“Hah? Dimana?”

Rover meraih dagunya untuk menyeka selai belepotan yang dimaksud. Sebelum tiba-tiba sebuah tangan ikut memegang dagunya.

“Sebentar. Di sini.”

Rover terkesiap. Tangan Xiangli Yao menyentuh dagunya. Ulangi. Tangan Xiangli Yao menyentuh bagian paling bawah dari struktur wajah manusia, yang terbentuk oleh mandibula, dan tidak dimiliki oleh primata lain, atau yang sering disebut sebagai dagu. Miliknya. 

Sirkuit otak Rover berhenti sejenak. Karena posisi ini, kedua wajah mereka terlampau dekat. Rover menenggak ludah. Ia melirik ke depan. Mata Xiangli Yao menatap lurus kepada mata emasnya. Hatinya bertambah gundah, ketika menyadari selai belepotan yang menempel pada dagunya harusnya telah diusap. Namun, tangan Xiangli Yao tak kunjung pergi dari wajahnya.

Rover memberanikan diri menatap wajah di depannya. Ia melihat bagaimana mana Xiangli Yao melihat mata dan bibirnya(?) secara bergantian.

Oh. Mungkinkah…?

Xiangli Yao membuka mulut. “Rover, bolehkah saya…?”

Tanpa menunggu Xiangli Yao menyelesaikan kalimatnya, Rover sudah tau apa yang pria di hadapannya ini maksud. Ia mengangguk dan kemudian menutup mata.

Rasa hangat kemudian menjalar ketika bibir Xiangli Yao menempel pada bibirnya. Hanya sebuah kecupan kecil yang berakhir singkat. Rover dengan takut-takut membuka matanya. Ia melihat bagaimana pemuda yang biasanya tenang di depannya ini, kini memiliki wajah semerah tomat yang seakan mau meledak.

“Yao?”

“Maaf- saya tidak tahan.” Baru pertama kali ini Rover menyaksikan pemuda dengan pembawaan kalem seperti Xiangli Yao berlaku kikuk akibat salah tingkah.

Melihat Xiangli Yao saat ini sangatlah lucu. Pria itu berusaha menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

“Yao. Lihat aku.”

Rover menuntun tangan Xiangli Yao agar tidak menutupi mukanya. Ia kemudian mendekatkan wajahnya dan mencium Xiangli Yao kembali. Rover bisa merasakan lawannya sedikit terkejut sebelum akhirnya membalas dan memperdalam ciuman mereka.

Ciuman keduanya kali ini lebih intens dengan permainan lidah dan gigitan-gigitan kecil. Baik Rover dan Xiangli Yao tidak berpengalaman dalam hal ini. Namun, keduanya tidak mau mengalah dan mencoba mendominasi satu sama lain. Rover mengalungkan tangannya ke leher Xiangli Yao, dan Xiangli Yao membalas dengan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang ramping Rover. Mereka tak tahu kapan harus berhenti. Hingga akhirnya, kebutuhan untuk menarik nafas yang memisahkan tautan bibir mereka.

Rover yang terengah-engah, menarik nafas panjang sebelum membuka suara. “Jadi, Yao suka mencium sembarang orang yang ditemuinya atau menyimpan perasaan spesial untuk aku?”

Rover menuntut jawaban. Bagaimana mungkin ia akan membiarkan dirinya pulang dengan tangan kosong setelah hatinya diporak-porandakan oleh pemuda di depannya.

“Tentu saja yang kedua. Untuk apa saya ingin menempelkan organ intim saya pada orang yang bukan saya anggap istimewa.”

Rover sedikit terhenyak dengan keterusterangan Xiangli Yao.

“Jadi… kamu ingin kita- eh, aku bagaimana?”

Rover meminta kepastian. Ia tidak mau digantung.

“Kalau berkenan, saya ingin menjalin hubungan lebih lanjut dengan Rover.”

Rover sudah sedikit menduga, tapi ia tidak menyangka bahwa ia benar-benar ditembak. Astaga. Barusan dia ditembak. Oleh orang yang diam-diam ia taksir.

“...mau.” Rover menggumam lirih.

“Ya?”

“Aku mau.” 

Rover yakin kini pipinya sudah semerah cabai. Ia melihat Xiangli Yao yang tersenyum sumringah dan kemudian tertawa kecil. Aduh, manis sekali.

“Saya sering lihat wajah kamu memerah tiba-tiba kalau kita bertemu. Saya kira kamu pemalu saja. Tapi saya memperhatikan kalau kamu seperti itu hanya saat bersama saya.”

Rover menunduk malu. “Jadi kelihatan banget, ya?”

“Haha, iya. Karena itu saya jadi penasaran dan lebih sering memperhatikan kamu…”

Xiangli Yao terlihat ragu untuk melanjutkan perkataannya. Rover memandanginya penasaran, menunggunya untuk melanjutkan perkataannya.

“Dan tanpa sadar, saya jadi ingin melihat kamu terus-terusan. Jadi, terkadang saya memperbanyak penggunaan jasa pesan-antar dan membiarkan kamu untuk mengambil apapun kiriman yang ditujukan kepada saya. Dengan begitu, saya jadi memiliki kesempatan untuk berbicara dengan kamu.”

Oke. Rover tidak menyangka semua itu. Ia tidak bisa percaya setiap kata yang keluar dari mulut Xiangli Yao.

“Sebenarnya aku juga merasa aneh tiba-tiba kamu jadi sering belanja online.” Rover berusaha mengingat kiriman paket tempo hari. “Terus laundry. Seingatku kamu lebih sering mencuci pakaian sendiri. Kalaupun Yao memakai laundry, pun, biasanya kamu ambil sendiri sambil pulang kerja.”

“Ya, itu disengaja…” Xiangli Yao menimpali lirih.

“Dan kamu percaya diri kalau aku akan menyimpannya sebelum nantinya aku antarkan, karena kamu yakin aku tidak akan meninggalkannya di depan kamar mengingat insiden paket Lingyang dan Brant yang bungkusnya dirusak oleh Lulu si kucing tetangga?”

Xiangli Yao mengangguk pasrah.

“Lalu, galonnya?” Rover mengingat kiriman galon pesanan Xiangli Yao beberapa hari lalu yang langsung dua buah sekaligus.

“Saya juga sengaja pesan dua…”

Sepertinya Rover mulai paham polanya. “Bakso yang banyak itu? Padahal kos waktu itu sedang sepi karena semuanya pergi?”

“Saya ingin ada alasan untuk makan bersama kamu tanpa terlihat terang-terangan…” 

Astaga. Licik. Benar-benar licik.

Xiangli Yao segera menambahkan. "Tapi ketika saya sakit, itu tidak dibuat-buat. Saya benar-benar demam waktu itu..."

Pria berambut cokelat itu tampak menunduk takut-takut, mengira Rover akan marah terhadap modus terencananya itu. Sebaliknya, Rover malah tertawa geli. Karena selama ini, ia menyangka dirinya lah yang berusaha mencari-cari kesempatan dengan repot-repot mengantarkan semua barang itu. Namun, siapa sangka kesempatan itu memang sudah dibuka sedari awal oleh targetnya.

“Hahaha… Aku ga menyangka aja, sih. Ternyata kamu bisa modus juga rupanya. Tertipu aku dengan wajah kalemmu itu.”

Xiangli Yao meraih tangan Rover dan menciumi punggung tangannya. Memasang wajah memelas.

“Jadi, sekarang kamu ilfeel sama saya?”

Tuhan… Aku bukan prajurit terkuatmu.

Perasaan yang ia kira hanya sepihak, ternyata terbalaskan dengan cara yang tak terduga. Siapa sangka orang yang ia taksir, menyusun semua rencana-rencana itu untuk mendapatkan dirinya. Pernahkah sepanjang 21 tahun hidupnya ia diperjuangkan dan diistimewakan seperti ini, terutama oleh manusia sesempurna Xiangli Yao. Ia mendadak teringat salah satu lirik lagi dari grup idol kesukaannya. You make me feel special~

Rover tidak menjawab sepatah kata, melainkan ia menarik wajah Xiangli Yao agar mendekat padanya untuk kembali menempelkan bibir mereka. Ia biarkan kekasihnya ini menyimpulkan sendiri jawabannya.

 


 

Bonus Story

“Kamu kenal kurir JXE yang sering mengantar paket ke sini? Yang rambut putih merah dan punya bekas luka di wajah.” Xiangli Yao bertanya tiba-tiba.

“Oh, bang Scar? Cuma sekedar kenal aja, sih. Soalnya dia yang sering anter paket ke area sini.”

Rover bisa melihat alis Xiangli Yao yang sedikit berkerut. Keduanya saat ini tengah cuddling di atas ranjang di kamar Rover.

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa. Tadi dia bertanya soal kamu ke aku.”

Rover bangun dari pelukan Xiangli Yao dan memusatkan perhatiannya secara penuh padanya setelah pemuda itu mengucapkan kalimat terakhir.

“Kamu barusan pakai ‘aku’? Bukan ‘saya’?”

Xiangli Yao terlihat malu-malu. “Karena kita sudah menjalin hubungan, saya- maksudnya, aku ingin berbicara dengan lebih santai dengan kamu.”

Ya Tuhan. Pacarku gemes banget. Rover berteriak dalam hati.

“Rover tidak suka?”

“Kata siapa? Suka, kok!” 

Rover menyanggah tuduhan Xiangli Yao. Walaupun berbicara formal sudah menjadi pesona tersendiri Xiangli Yao, salah satu yang menjadikan Rover tertarik dengannya. Tapi tak dapat dipungkiri jika Rover juga ingin berbicara dengan lebih santai dan akrab dengan kekasihnya.

“Kembali ke topik sebelumnya. Jadi, kamu kenal dengan kurir bernama Scar ini atau tidak?” Ekspresi Xiangli Yao berubah serius.

Sebuah kabel mendadak tersambung di kepala Rover. Jangan bilang kalau saat ini kekasih barunya ini tengah cemburu?

“Kamu cemburu?” Rover bertanya memastikan.

“...iya.”

Ya ampun. Menggemaskan sekali. Rover menahan diri untuk tidak tertawa.

“Sudah kubilang, cuma sebatas kenal saja karena dia sering antar paket ke kos ini. Lagipula aku kurang suka sama dia. Entah aku yang kegeeran atau bagaimana, tapi aku merasa dia selalu genit dan tebar pesona. Aku jadi merasa kurang nyaman. Tapi ya aku tidak bisa berbuat apa-apa karena wilayah kerjanya memang di area sini. Toh, selama dia tak berbuat aneh-aneh, aku masih merasa tidak masalah.”

Selepas memberikan penjelasan tentang orang bernama Scar ini, Rover terkejut karena melihat ekspresi baru pada wajah Xiangli Yao. Ia tak pernah melihat pemuda kalem nan lembut itu kesal. Memang tidak terlalu kentara seperti hendak meledak-ledak. Tapi Rover bisa melihat bagaimana alis pemuda bermata biru itu menukik beberapa derajat lebih ke bawah, yang berbeda dibandingkan ekspresinya ketika sedang serius atau ketika tengah berpikir keras.

Rover mengecup kecil pipi kekasihnya, berusaha menenangkan. “Ga usah dipikirkan. Kan, sudah aku bilang. Dia ga melakukan hal yang aneh-aneh.”

“Besok-besok, kalau dia mengantar sesuatu ke sini, biar aku saja yang menerima.”

Rover terkikik geli.

“Posesif amat.”

“Kamu tidak suka?”

Stop. Rover tidak akan mampu jika harus dihadapkan wajah memelas itu secara terus-menerus.

“Hehe, kata siapa?”

Notes:

Halo, terima kasih yang sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita tidak jelas ini. Aku gak tahu apa yang kutulis jujur.

Maaf kalau cringe. Tapi aku memang berniat untuk bikin cerita ini menjadi cringe ala-ala cerita FTV jadul, haha (ngeles doang ini mah).

Enjoy, and happy reading!!!:>