Work Text:
“Tin,”
Panggilan dari Seonghyeon berhasil mengalihkan atensi Si Jangkung. Alisnya menukik heran, karena pemandangan dari Seonghyeon yang saat ini berada tepat di hadapannya ... terlihat tidak biasa.
“Lu pernah naksir orang gak, sih?”
Pena terlempar ke arah Seonghyeon. “Pernahlah, Bego!”
“Kayaknya ... gua naksir orang, Tin—” Seonghyeon berucap sembari menampilkan deretan giginya yang rapi. “—tapi kayaknya gak mungkin, sih, buat 'jadi'. I mean, we're live in this world with their rigid norms.”
“Lu naksir siapa, sih, emang? Dramatis amat.”
“... Lu bisa nebak, sih, harusnya?”
—
Di mata Seonghyeon, dunia ini kaku, membosankan, dan monoton. Setiap harinya, manusia berlalu-lalang dengan destinasinya masing-masing, langkahnya yang tergesa-gesa seolah-olah mengejar waktu yang terus berputar, padahal, baginya waktu itu sesuatu yang fana. Hey, pikirkanlah dengan seluruh bagian dari benakmu, apakah waktu benar-benar ada? Bukankah selama ini manusia diciptakan untuk mengejar sesuatu yang bahkan tak tentu eksistensinya? Jadi, mengapa—
Tok! Tok! Tok!
“Hyeon! Buruan dong! Gua udah gak kuat, niiih!”
Pekikan terdengar dengan begitu nyaringnya. Di dalam sana, Seonghyeon menghela napasnya dengan berat, “sabar, elah! Mengganggu pemikiran filsuf gua aja lu, Ho!”
Dengan tergesa-gesa dan terpaksa, Seonghyeon mengakhiri 'agenda'-nya. Tombol Flush ditekan, bulir-bulir air yang mengalir menciptakan suara yang khas. Hal itu mengingatkannya pada Martin, menurutnya, seluruh suara yang ada di dunia adalah representasi dari alunan musik yang indah, termasuk suara dari ... tombol Flush toilet. Ah, entahlah, musisi Martin dengan pemikiran uniknya, Seonghyeon tak ingin tahu dan mengerti begitu jauhnya.
Pfft!
Kenop pintu pun akhirnya terbuka. Tapi, Seonghyeon tak berhasil menahan kekehannya ketika netranya menyapa sang sahabat—Ahn Keonho—dengan wajahnya yang sudah semerah kepiting dengan kedua lengannya yang meremat bagian perutnya dengan kuat. “Siapa yang peduli sama pemikiran filsuf lu! Udah sana, minggir!”
“HAHAHAHA. Ganteng-ganteng bau lu, Ho!”
Pekikan kembali terdengar, “Bacot!”
Kalimat-kalimat yang berputar-putar di benak milik Seonghyeon, sebetulnya hanya bualan semata. Di matanya, dunia tentu tak terlihat sebagaimana yang sebelumnya ia pikirkan. Monoton— bahkan sama sekali tak pernah ia jadikan sebagai kata yang mendeskripsikan bagaimana ia melihat dunia. Oh, tidak hanya karena adanya eksistensi dari PlayStation, bola basket, ataupun bualan yang terdengar sama sekali tidak lucu khas Martin, tetapi karena eksistensi akan sosok yang mula-mulanya tak begitu ia hiraukan, eksistensi dari Ahn Keonho.
Pada awalnya, Seonghyeon memandang Keonho tak jauh berbeda dari bagaimana ia memandang Martin, Juhoon, ataupun Kak James. Ketiganya sudah menemani masa-masa kecil Seonghyeon sejak ia sama sekali tak dapat memantulkan bola ke tanah, hingga menjadi dirinya yang sekarang— salah satu pemain yang diandalkan di tim. Maka, kehadiran Ahn Keonho di perumahan milik mereka membuat Seonghyeon memandangnya tak jauh berbeda— seorang teman, seorang laki-laki berisik dengan cengiran khasnya.
Tapi, lambat laun, Keonho terlihat berbeda.
Keonho perlahan-lahan menjadi satu-satunya yang selalu berada di sisinya. Di saat Martin menyibukkan diri di studio musiknya, Keonho tetap menemani Seonghyeon bermain PlayStation di kamarnya. Di saat Juhoon tak dapat berlatih dengannya karena klub basketnya membutuhkan eksistensinya, Keonho senantiasa menemaninya berlatih dan memberikan air minum padanya. Dan di saat Kak James bermalam dengan tugas-tugas kuliahnya, Keonho akan datang ke rumahnya dengan beralasan bahwa ia bosan di rumah sendirian. Keonho, Keonho, Keonho, tiap-tiap hal yang terjadi di kehidupannya tak pernah lepas dari eksistensi Ahn Keonho.
Seonghyeon bahkan tak dapat mengelak ketika Juhoon berkata bahwa ia telah temukan separuh dari dunianya, karena ia pun tak jauh berbeda. Ketika orangtua Keonho tak dapat hadir dan menyaksikan pertandingan renangnya, Seonghyeon sempatkan dirinya datang meskipun baru saja selesai latihan. Ketika Keonho ditinggalkan sendirian di kediamannya selama berhari-hari, pintu kamar Seonghyeon selalu terbuka lebar untuknya. Seonghyeon sudah menganggap eksistensi Keonho bak bagian dari dirinya sendiri. Hampir seluruh lelah, resah, darah, hingga nama-nama dari perempuan yang sempat Keonho taruh di hatinya, Seonghyeon kenali seluruhnya.
“Hyeon, sampai tua kita barengan terus, ya.”
Di padang rumput yang membentang lebar, Seonghyeon alihkan pandangannya pada sahabatnya. Helaian rambut legamnya terkena sinar dari mentari yang perlahan-lahan mulai tenggelam. “Ho, sebenernya, gua besok rencananya mau musuhin lu, sih—”
“Tega!”
Pukulan dilayangkan di bahunya.
“HAHAHA, bercanda, anjir! Iya, iya, dramatis amat.”
“Soalnya ... Gua gak tau, Hyeon, kalau tanpa lu, hidup gua bakal gimana,” ujarnya. Di saat itu, Seonghyeon sadar bahwa sahabatnya tak main-main dengan ucapannya.
“Pasti, kok, Ho. Gak bakal gua ninggalin lu.”
Tapi, sejatinya Eom Seonghyeon juga manusia.
Keonho memang terlihat berbeda di matanya. Namun, kali ini, Seonghyeon mulai melihat Keonho jauh, jauh, dan jauh berbeda dari sebelumnya. Seonghyeon mulai menyadari betapa rapinya deretan dari gigi milik Keonho. Seonghyeon mulai menyadari bahwa alis dari sahabatnya itu lebih tebal dari miliknya. Seonghyeon mulai menyadari kebiasaan Keonho mencebikkan bibirnya ketika Seonghyeon menolak permintaannya. Seonghyeon, mulai menyadari hal-hal yang tidak ia sadari sebelumnya.
Bahkan, ia tak pernah menyadari bahwa Keonho termasuk seorang laki-laki yang terlihat cantik.
Hari itu, Keonho meminta Seonghyeon untuk menemaninya pergi memotong rambut. Ini adalah pertama kalinya mereka pergi bersama-sama ke sebuah tempat pangkas rambut. Seonghyeon tentu akan menganggukkan kepala atas permintaan dari sahabatnya itu, meskipun rasanya sedikit ... Janggal? Aneh? Entahlah, tetapi rasanya sedikit menggelitik. Selama menunggu Keonho, Seonghyeon menyibukkan dirinya dengan Block Blast di ponselnya. Balok-balok yang disusun itu sedikit membantunya rileks setelah melewati pusingnya materi-materi fisika.
“Hyeon, ayok. Gua udah beres, nih. Ganteng gak?”
Pandangan Seonghyeon teralihkan. Di hadapannya, Keonho terlihat ... berbeda? Rambutnya yang telah dipangkas dengan rapi membuatnya terlihat lebih segar. Tapi, Keonho di hadapannya adalah Keonho dengan versi yang belum pernah ia lihat sama sekali di hidupnya. Gaya potongannya yang berbeda dari sebelumnya membuat ia terlihat manis, pun bibirnya yang terlihat lebih merah dari biasanya.
“Model baru?” tanya Seonghyeon sembari memasukkan ponsel ke dalam sakunya.
“Iya! Lagi trend, nih! Gimana? Bagus 'kan?”
Bagus, Ho. Lu keliatan cantik.
“Bagus, bagus. Yuk, cabut.”
Penampilan baru dari Keonho, entah mengapa membuat Seonghyeon merasakan sesuatu yang aneh. Unik. Perasaan yang tak bisa ia deskripsikan. Jantungnya berdebar tak karuan, pipinya sedikit memunculkan rona merah. Celotehan dari Keonho bahkan tak ia dengarkan dengan baik, kalut akan pikirannya sendiri.
Karena sejak saat itu, Seonghyeon sadari bahwa ia telah jatuh hati.
—
“Naksir Keonho lu, ya?”
Pertanyaan dari Martin membuat ia berdecak.
“Keliatan banget emang?”
Kali ini, Martin yang berdecak. Ia kembali memutarkan dirinya ke arah komputer, “lu remehin gua, Hyeon? Dari masih embrio kita udah saling kenal, jir, gak mungkin gua gak hafal gerak-gerik lu kayak gimana.”
Pernyataan dari Martin berhasil mengundang kekehan ringan dari Seonghyeon. “Mungkin gak, ya, Tin? Maksudnya, dengan kondisi begini, yang ada kalau gua confess ... dia ilfeel gak, sih?”
Martin yang mulai mengotak-atik irama di komputernya, sontak menghentikan gerakannya. “Lu ... kepikiran sampai sejauh itu?”
Tak ada jawaban dari belakang sana.
“Gak mungkin banget, ya, Tin?”
—
Bel sekolah berdering. Di luar pintu kelasnya, Keonho dapat kenali figur dari seseorang yang sudah dikenalinya bertahun-tahun, laki-laki yang selalu menunggunya di depan pintu kelas setiap jam pelajaran sudah selesai.
“Gimana tadi kimianya? Susah?”
Keonho mendengus geli, “Pertanyaan lu kayak orang pacaran, sumpah.”
Mendengar itu, Seonghyeon hanya membalasnya dengan kekehan ringan.
“Hyeon, mampir dulu, yuk. Kita ngopi. Ada sesuatu yang mau gua omongin ke lu.”
“Boleh, di tempat biasa aja, ya.”
Sepanjang perjalanan, Keonho merasa gusar. Jantungnya berdebar dengan begitu kencangnya, sementara Seonghyeon yang sedang mengendarai sepeda motornya juga tak membuka pembicaraan sedari tadi. Satu-satunya suara yang berada di antara mereka hanyalah hiruk-pikuknya lalu lintas kota. Keonho kalut dengan pikirannya, apakah keputusannya sudah tepat? Apakah sudah seharusnya ia membicarakan ini pada Seonghyeon? Terlalu sibuk menenggelamkan diri di benaknya sendiri, Keonho sampai tak sadar bahwa mereka sudah sampai di tujuan.
“Ho? Udah sampe, lu gak mau turun?”
“Eh? Ya, turunlah!”
Seonghyeon hanya tersenyum melihatnya. Sejujurnya, Keonho merasa bahwa Seonghyeon juga sedikit terlihat lebih damai dari biasanya. Menurut Keonho, sahabatnya itu seperti ingin mengutarakan sesuatu juga, tetapi ia sendiri tak tahu dengan pasti apa yang ada di benak milik Seonghyeon.
“Jadi, apa yang mau lu omongin, Ho?”
“Idih, langsung banget, nih? Udah kepo banget lu, ya? Ketebak banget, sih!”
Seonghyeon berdecak. “Elah, Ho. Gak usah basa-basi dululah, kayak ke siapa aja lu.”
“Tapi, abis denger ini, lu tetep temen gua, ya, Hyeon ... Jangan berubah atau gimana gitu ...”
Keonho dapat menyadari perubahan dari sorot wajah sahabatnya itu. “Santai aja, kali. Gua juga ada, kok, yang mau diomongin, lu aja duluan.”
“Hyeon, gua rasa, gua jatuh cinta—” Keonho menarik napasnya, “—tapi kali ini beda.”
“Okay ... cewek kelas mana lagi?”
“No! It's not!”
Dahi milik Seonghyeon berkerut.
“It's ... A guy ...” ujar Keonho, setengah berbisik.
Di seberang sana, Keonho menyadari bahwa Seonghyeon mematung. Netranya melebar. Ya, Keonho sudah sadari bahwa reaksinya tentu akan terkejut. Bahkan, mungkin Seonghyeon lebih dari itu, keterkejutannya yang tak dapat terbendung begitu terlihat. “... siapa?”
“Cowok yang kemarin gua upload di Instastory ...”
Seonghyeon menghela napasnya, “Okay. I won't judge you, Ho. Jujur aja, gua ... kaget, ini bukan sesuatu yang gua kira-kira. Tapi, gua gak ilfeel, kok. Lu tetep sahabat gua. Dan ... kalau gua boleh jujur, gua juga pernah, kok.”
“Serius, Hyeon? Gua takut, ini pertama kalinya.”
“Iya, serius. Gak usah takut, gua selalu ada buat lu, Ho. Tenang aja, ya?” usapan lembut dari Seonghyeon jatuh pada helaian rambutnya.
“Thanks, Hyeon. Oh, iya, lu mau bilang apa tadi?”
Seonghyeon sedikit tersentak, “ah, nggak. Lupain aja. Eh, tapi kayaknya gua gak bisa lama di sini, sih, Ho. Kak James tadi ngabarin dan nyuruh balik. Kita balik aja, yuk? Kalo lu gak ada lagi yang mau diomongin.”
“Oh! Gak ada, sih ... Yaudah, balik sekarang aja.”
Saat itu, Keonho rasa bahwa ia benar-benar dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya. Di sepanjang jalan, Seonghyeon bahkan tak merasa risih untuk mendengarkan celotehannya. Keonho sadar, mereka hidup di dunia dengan norma-normanya yang kaku dan tak dapat diganggu gugat. Tapi, Seonghyeon, sebagai seseorang yang selalu berada di sisinya seakan-akan menepis seluruh ketakutannya, seluruh rasa khawatirnya akan dunia, atau bahkan akan takdir yang akan menyapanya di masa depan. Selama Seonghyeon berada di sisinya, Keonho rasa seluruhnya akan baik-baik saja.
—
Berbulan-bulan telah terlewati. Kali ini, Keonho bahkan sudah tak lagi menyembunyikan perasaannya pada teman-temannya. Martin, Juhoon, bahkan Kak James sekalipun mengetahui hubungannya dengan laki-laki yang ia serahkan seluruh hati miliknya kepadanya. Pada awalnya, mereka tentu terkejut, kabar yang tak disangka-sangka datang dari adik bungsu mereka. Tetapi, Seonghyeon yang berada di sampingnya selalu berusaha untuk menenangkan, membantu Keonho agar ketiga temannya itu berusaha mengerti.
Namun, Keonho sedikit gusar. Pasalnya, sudah hampir satu minggu penuh ia sama sekali tak melihat adanya eksistensi dari Eom Seonghyeon. Ia sudah berusaha untuk menghubungi nomornya, tetapi tak pernah ada jawaban. Keonho juga bertanya pada teman-teman sekelasnya, tetapi Seonghyeon tak hadir di sekolah, itupun tanpa alasan karena sama sekali tidak ada kabar yang diberikan pada teman-temannya. Kemudian, Juhoon dan Martin pun tak tahu-menahu perihal Seonghyeon dan keluarganya. Tapi, mereka sempat bertemu dengan Kak James yang akan merantau untuk mengerjakan penugasan akhirnya, dan mengatakan bahwa sepupunya sedang menjenguk keluarganya yang berada di pulau seberang.
Mendengar itu, Keonho hanya menganggukkan kepala, berusaha untuk mengerti. Tapi, seluruhnya terasa begitu janggal. Apabila hanya menjenguk keluarganya, mengapa ponsel milik Seonghyeon sampai tidak aktif? Sebenarnya, ke mana sahabatnya itu pergi?
Berhari-hari kemudian, Keonho tetap menunggu Seonghyeon kembali. Hari demi hari, minggu demi minggu, hingga akhirnya kalender menunjukkan angka satu di bulan selanjutnya. Namun, Seonghyeon tak kerap menunjukkan batang hidungnya. Keonho semakin kalut dengan pikirannya. Hubungannya kacau. Martin dan Juhoon menyibukkan diri dengan urusannya masing-masing. Orangtuanya pergi ke luar kota untuk dinas. Keonho benar-benar sendirian, di saat-saat seperti ini, seharusnya ada Seonghyeon yang tetap menemaninya. Tetapi, ke mana perginya ia? Seonghyeon menghilang bak ditelan dalam-dalam oleh Bumi.
Hingga pada suatu waktu, Keonho dikejutkan dengan perginya sebuah truk dari kediaman milik Seonghyeon. Netranya berbinar, apakah Seonghyeon sudah kembali? Dengan langkah yang tergesa-gesa, Keonho berlari menuju ke kediaman milik Seonghyeon. Menekan belnya berkali-kali dengan cengiran yang lebar.
Pintu akhirnya terbuka, tetapi cengirannya menghilang.
Di hadapannya, muncul seorang wanita yang tak ia kenali. Tetapi, wajahnya sedikit mengingatkan Keonho pada Kak James. “Maaf, anda siapa?”
Keonho terbuyar dari lamunannya, “Ah, saya Ahn Keonho. Apakah Eom Seonghyeon sudah kembali?”
Wanita itu mengerutkan dahinya, kemudian tersadarkan akan sesuatu. “Oh! Apakah itu nama dari pemilik sebelumnya? Rumah ini dijual pada kerabatnya yang lain, tetapi saya adalah kerabat dekat dari Zhao Yufan.”
“Oh ... Tapi, apakah anda memiliki kontak keluarga Eom?"
“Maaf, tetapi saya tidak punya. Keluarga Eom adalah kerabat jauh dari keluargaku, sehingga kami jarang sekali berkomunikasi. Mereka kini tinggal di pulau seberang, sehingga sedikit sulit juga untuk menghubunginya,” ujarnya.
“Baiklah kalau begitu, terima kasih.”
Pikiran Keonho semakin berkecamuk. Bulir-bulir air mata sudah mulai menunjukkan batang hidungnya, dadanya terasa begitu sesak. Perasaan kecewa memenuhi hatinya, benaknya kalut dengan banyak pertanyaan yang tak dapat ia temukan jawabannya. Tungkainya mulai melangkah menjauh dari kediamannya, tetapi suara dari wanita itu kembali terdengar.
“Eh, tunggu! Saat terakhir bertemu dengan Zhao Yufan, ia menitipkan ini padaku,”
Atensi Keonho kembali teralihkan. Di hadapannya, wanita itu menyodorkan sebuah surat yang dilapisi dengan amplop berwarna cokelat. Di atas amplop itu, terdapat sebuah tulisan kecil 'From: Eom.' Sontak, netra milik Keonho melebar. Namun, kali ini air matanya berderai. Kesedihannya tak dapat ia bendung lagi. Ia menerima surat itu dengan sedikit terisak, “Terima kasih ... Terima kasih.” kemudian melangkahkan tungkainya untuk benar-benar pergi dari sana.
Eom Seonghyeon, should I hate you?
—
Hey, how’s there?
I don’t know if this letter will ever reach you, but I hope Kak James actually gives it to you just like I asked him to. Ho, I think I’ve finally found a place that suits me. The air here is fresher, green trees everywhere, though it’s not as easy to find all the unique foods we usually found in the city.
Ho, if you were here, you probably wouldn’t want to go back to the city. You’d be able to plant all the flowers you love, take care of whatever animals you want, and you wouldn’t have to carry the weight of your life as a swimmer. Ho, I wish you were here with me, but in reality, all of that is now just a dream dancing in my mind.
Ho, really, I’m sorry.
I know you’re probably reading this in a state where I’ve already made it onto the list of people you’ll hate for the rest of your life. I know, and I fully acknowledge, that I made a huge mistake— leaving without a word. Even on my last day in town, I didn’t tell you anything, and I chose to cut off all contact until now.
Ho, I’m truly sorry.
I had to do this for my family. My family here needs my parents’ help, and mine as well. Kak James even had to live apart from us and rent an apartment near to his campus. I’m sorry, Ho. Actually, Martin and Juhoon already knew about my plan. But I didn’t want you to know, and I didn’t want you trying to look for me. Everything you might have thought or felt about my sudden disappearance … I had already planned for that.
Ho, I’m honestly disappointed in myself.
We’ve known each other for 16 years, and those were the years when I was truly happy. I had considered you a part of me, Ho, but everything almost fell apart when I realized I didn’t see you as just a friend or as a twin to me— but as someone I loved far more than that.
I’m sorry. I’m sorry I couldn’t be honest about this. When you told me you liked men, my heart stopped. My mind was filled with one question: “Am I that lucky guy?” But after you said your next words, it felt like my heart decided it didn’t want to beat anymore. Everything inside me felt crushed, like my feelings had been hit by a giant stone. The pain took my breath away. My chest tightened so much that I couldn’t say anything except tell you that we should go home.
But I knew all those feelings were wrong, and shouldn’t have been there.
I saw how happy you were after Martin, Juhoon, and Kak James found out about your sexuality— how you looked at me as if I were a witness to your entire life, as if I were someone who would always stay by your side, even when the world wasn’t on your side. But Keonho … I’m human too. I couldn’t endure that pain for long. So when my parents said we had to move because our family across the island needed us, I agreed without thinking twice.
Keonho, I know we’re still teenagers— a time when decisions are made impulsively. But I think this was the right decision for me. I know I seem selfish, but I hope that wherever you are, you still feel happy, even though I’m no longer by your side.
Keonho, I once hoped you’d stay by my side until the end of my world. But all I can do now is pray for you from afar. I hope you find your happiness. I hope Martin and Juhoon’s presence always brings you comfort. And… I pray for myself as well— that my feelings for you can slowly fade away.
Keonho, thank you for everything you’ve given me these past 16 years. I’ll always remember it fondly. I hope that in the next life, we can meet again.
With all my love,
Eom Seonghyeon.
—
