Work Text:
Mendapat julukan “confidence monster” tidak serta merta membuat Riku tidak takut akan segalanya.
Malam itu Riku dan Sion menaiki mobil yang sama menuju dorm. Mereka baru saja kembali dari acara malam natal. Kembang api terlihat cantik dari balik jendela mobil. Namun, pandangan Sion tak bisa berpaling dari Riku yang diam memandangi jalanan penuh salju.
Sion tahu ada yang salah dengan Riku. Ada yang mengganggu Riku, Sion teramat tahu.
Tangannya meraih jemari riku dengan lembut, membungkusnya dengan kehangatan. Ibu jarinya sesekali mengusap beri ketenangan.
Riku yang menyadari hal itu hanya menoleh sekilas. Berusaha menutupi apa yang ia rasakan. Walaupun sekeras apapun Riku menutup diri, Sion dengan mudah membacanya seperti buku terbuka.
Perjalanan menuju dorm hanya diisi christmas carol. Sion masih menggenggam tangan Riku sampai mobil berhenti di basement dorm.
“Riku, udah sampai” ucap Sion lembut.
Hanya anggukan pelan yang Riku berikan.
ㅡ
Sebelum Riku menuju ke dormnya Sion lebih dulu meraih tangan Riku.
“Riku, temenin makan cheesecake, yuk?” ajak Sion, sebenarnya ini hanya alasan karena mereka baru saja makan malam. Namun, Sion sudah kepalang khawatir dengan Riku. Walaupun Riku terlihat sangat lelah, ia tetap mengiyakan ajakan Sion.
Baru mereka berdua yang sampai di dorm, Sion beranjak mengambil cake di kulkas. “makan di kamar kakak, ya?” ajak Sion.
Riku hanya mengangguk sembari berjalan menuju kamar Sion. Kamar dengan tata letak dan suasana sangat familiar bagi Riku.
Riku langsung duduk di tepi ranjang, pandangannya masih terlihat kosong. “Hei, Kamu ga mau?” tanya Sion. Riku hanya tersenyum menanggapi pertanyaan itu.
“Capek banget ya Rik, tahun ini banyak banget yang udah kita lakuin. Sampai malam natal pun kita masih ada jadwal” Sion sisipkan tawa setelah kalimat terakhir ia lontarkan.
Sion mengisyaratkan Riku untuk membuka mulut, menyuapi sesendok cheesecake.
“Riku, kalo kamu capek bilang ya. kita bisa istirahat bareng, kita bakal selalu ada buat kamu. Kakak bakal selalu ada buat kamu.”
Entah mantra apa yang Sion rapalkan, air mata Riku mulai melesak. Tetes demi tetes kian deras menjadi isakan. Punggung Riku bergetar naik turun. Direngkuhnya tubuh kecil Riku, Sion beri usapan menenangkan.
Setiap usapan seakan mengatakan kalau Sion selalu ada di sisi Riku, Riku akan selalu aman bersama Sion. “aku capek” ujar Riku di tengah isakannya. “Rasanya kayak banyak banget yang terjadi, kakak. im so overwhelmed with everything” kata perkata diucapkan dengan susah payah.
“it’s okay sayang, gapapa” tangan Sion mengelus surai gelan Riku. Mengatakan kalau semua akan baik baik saja.
Setelah dnafas Riku mulai teratur Sion meregangkan pelukan mereka. Menangkup wajah Riku yang merah padam. “Jadi ini alasannya dari tadi Riku diem aja?” tanya Sion hati hati.
“aku takut kak, kayak tiba-tiba udah akhir tahun aja padahal aku belum bisa achieve anything. aku takut terlambat”
Sion merapikan rambut Riku, mengusap air mata yang masih tersisa. “i understand your feeling, truly. semua orang punya timeline yang berbeda. gapapa kok kalo sekarang Riku ngerasa belum bisa mencapai apa yang Riku mau. gapapa kok kalo Riku mencapainya besok minggu depan atau tahun depan, gapapa”
“kakak paham apa yang dirasain riku, tapi riku perlu tahu kalau riku udah ngelakuin yang terbaik. riku udah kerja keras selama setahun ini dan kakak sangat berterima kasih akan itu”
“kakak bersyukur banget bisa sama riku lagi tahun ini, tahun lalu rasanya aneh banget nggak ada kamu. kakak minta riku buat jangan lupa apresiasi riku yang udah kerja keras selama ini ya, jangan lupa bilang makasih sama riku yang udah jaga kesehatan, yang udah selalu jadi anak baik”
“mungkin karena waktunya terasa berlalu begitu cepat makanya kamu overwhelmed, but that’s okay. you already did your best and im beyond proud of you”
Riku dengan mata cantiknya menatap Sion, menarik wajah yang lebih tua mendekat. Ia bubuhkan kecupan di hidung Sion.
“princess, ya tuhan. kakak rasanya mau pingsan” bukan Sion namanya kalau tidak gemar menggoda.
“kakak lebay deh” Riku terkejeh pelan.
“kakak tapi serius makasih banyak ya, makasih udah selalu ada buat Riku. Riku bakal selalu ada buat kakak”
Riku bukan tipikal orang yang mudah menceritakan kekhwatirannya. Tapi dengan Sion semua ini mudah. Sion always listen to him attentively. Sion always checks on how Riku’s feeling. Sion make Riku feels at ease. Sion will always be Riku’s safety net.
