Actions

Work Header

Rating:
Archive Warnings:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-12-13
Completed:
2025-12-13
Words:
3,127
Chapters:
4/4
Kudos:
10
Hits:
169

Palung Senyap (Gema Patah diantara Sunyi)

Summary:

Aku akan pergi, membawa mati rasa yang kurayakan sendiri.

Chapter 1: Amber dan Bintang Pendamping

Chapter Text

Tulisan ini telah diunggah di platform lain (x) dengan link berikut:

https://x.com/LITERASl/status/1980623845473263781?t=3kGdLcAWabdFITjmQIMnNg&s=09

 

 

Tahun-tahun telah menjadi tirai yang memisahkan kini dan masa lalu, sejak pertama kali mataku bersua dengan persona indah itu. Mata dengan semburat warna amber yang hangat, senyum bagai cahaya cerah tak terduga. Kulitnya, putih pualam seolah belum pernah tersentuh cumbuan mentari.

"Hai, Heeseung, kan? Aku Sunoo, kelas tiga!"

Saat itu, tangan mungilnya merangkul sosok lain di samping, seolah memperkenalkan bintang pendamping.

"—dan ini Jay, kelas tiga juga!!"

"Hai!" sapa yang bernama Jay.

Tentu saja kala itu pertama kali ku jumpa dengan mereka. Tatapan tak mampu menyembunyikan heranku yang sunyi.

"Aku tahu nama kamu dari mami Jay, katanya kita punya teman baru."

Anak yang dipanggil Jay mengangguk pelan, "Kata mamiku, kamu sekolah di SLB, ya?"

Amarah tiba-tiba menjalar dingin dalam otakku. Rahasia besar yang setiap hari kubungkus rapat, kini terkuak tanpa permisi. Sunoo, di sampingnya, membelalakkan mata, tanda keterkejutan yang tak terucap.

"Wow!! Pasti kamu pintar!!!"

Aku terhenyak. Mengapa Sunoo menafsirkan keadaanku dengan cara yang begitu sukar?

"Kenapa begitu?" Jay mengernyitkan dahi.

"Kata bundaku, SLB itu singkatan dari Sekolah Luar Biasa. Kalau Heeseung sekolah di sana, pasti dia luar biasa pintar, kan!!" Sunoo mengucapkannya dengan nada penuh bangga, seolah ia baru saja memecahkan teka-teki.

"Wow... Kenapa aku tidak sekolah di sana? Padahal kata mamiku aku pintar."

Sunoo bersungut-sungut lucu, "Berarti kamu kurang pintar, huuu."

Saat itu, aku hanya mampu menyunggingkan senyum kecil, sebuah senyum yang getir. Apakah aku sebegitu luar biasanya, hingga ibu memilih pergi dan tak sudi lagi merawatku?

"Di telinga kamu itu apa? Keren sekali kaya alat komunikasi superhero!" Sunoo berbinar dengan tanya

Nenek tersenyum teduh, menatap mata Sunoo yang berbinar penuh rasa ingin tahu, lalu menunjuk telinga Heeseung.

"Ini namanya alat bantu dengar, Sayang. Bukan mainan superhero, tapi memang membuat Heeseung bisa dengar suara di dunia ini." Nenek lalu mengelus rambut Sunoo.

"Dulu Heeseung tidak bisa dengar suara Nenek memanggil, tapi berkat alat ini, dia bisa mendengar Sunoo tertawa."

Aku hanya menimbang dalam diam yang pekat. Ingin sekali lidahku menjawab semua tanya mereka, namun hanya batinku yang bersuara dalam kebisuan.

"Hai! Aku Heeseung, kelas tiga. Senang bertemu kalian. Benar, beberapa saat lalu aku sekolah di SDLB, dan itu karena aku tunarungu. Tapi rasanya, aku ingin pindah ke sekolah kalian saja."


"Heeseung!! Ayo berangkat!!" Suara Jay memecah pagi, nyaring membelah udara yang masih dingin.

Itulah hari itu, hari pertama yang terasa asing sekaligus mendebarkan. Aku kembali menjadi anak kelas satu, namun kali ini, label "luar biasa" yang selama ini membuntuti namaku telah kutinggalkan di belakang. Setelah rangkaian bujukan yang tak kenal lelah kusampaikan pada nenek, akhirnya beliau merelakan; memindahkanku ke sekolah yang orang anggap lazim, yang diperuntukkan bagi anak-anak yang oleh dunia disebut "normal".

"Jay, jangan berisik!" Sunoo menyahut, sedikit tertahan.

"Wah, Sunoo dan Jay sudah sampai?" Suara nenek yang lembut menyambut dari

dalam.

"Nenek!!"

Sunoo, seperti biasa, tak mampu menahan diri. Beberapa hari ini, kusadari bahwa ia telah menemukan kehangatan tak terbatas dalam pelukan nenekku, menghambur bak air bah menuju dermaga kasih.

"Sebentar ya, Heeseung sedang berkemas," ujar Nenek.

"Eung!"

Sunoo mengangguk riang, helaian lembut di dahinya menari lucu mengikuti gerak kepalanya. Sementara di sisinya, Jay tegak berdiri, membiarkan pikirannya teralih pada kerikil-kerikil kecil yang dimainkan ujung kakinya.

Saat itu, dari teras, aku terhenti. Kuamati interaksi manis itu dengan seulas senyum yang tersimpul di sudut bibir. Nenek berlutut di hadapan mereka, suaranya mengecil, merangkai bisikan-bisikan yang tak terdengar olehku yang masih berjuang mengikat tali sepatu.

Di ambang pintu, dengan sepatu yang terpasang, sebuah harap sunyi merayap dalam dada. Bolehkah aku menadah tangan pada Semesta? Berharap agar Tuhan berbaik hati, merentangkan jalan yang lapang, dan memudahkan tapak kehidupan kami di hari-hari yang akan datang.


Nyatanya, Tuhan masih senang memberiku ujian, seolah mengukur seberapa teguh hatiku saat itu.

Empat tahunku di Sekolah Dasar adalah lembaran yang penuh umpatan. Meskipun Sunoo dan Jay tak pernah lelah menjadi perisai yang gagah, anak-anak nakal itu selalu menemukan celah, jalan tersembunyi untuk buatku lelah.

Dimulai dari hal yang sesederhana menyembunyikan pena dan pensil. Awalnya, kukira itu hanyalah kenakalan ringan dari kawan seumuran karena saat itu, aku pun masih terhitung anak-anak.

Namun, keisengan itu meningkat tajam, menjelma menjadi kekejaman: mengunciku dalam bilik toilet yang dingin, menempelkan permen karet pada rambutku (yang berujung pada keharusanku berkepala pelontos selama dua bulan lebih), sengaja mematahkan bingkai kacamataku, memasukkan katak ke dalam bajuku, dan banyak lagi.

Tentu saja, tragedi-tragedi kecil itu hanya bisa terjadi saat Sunoo dan Jay tak ada di sekelilinglu. Anak-anak nakal itu hanya takut kepada kedua sahabatku.Puncaknya, perlakuan yang telah lama kusadari berubah menjadi bullying itu adalah di kelas enam.

Teringat jelas, dua anak menahan tubuhku, sementara satu lainnya bergerak menutup pintu dengan maksud melukai. Aku menangis tergugu, rasa benci menggerogoti pada keadaan yang membuatku tak mampu melepaskan jeritan permohonan tolong.

Sungguh keberuntungan yang tipis saat Sunoo datang, meskipun jari tanganku sudah memerah akut dan mulai membengkak meradang.

Sunoo berteriak murka, memaki-maki ketiga pelaku dengan kata-kata penuh amarah.

Esoknya, nenek dan orang tua anak-anak itu dipanggil ke sekolah, mengikuti sidang ketertiban akibat laporan Sunoo dan beberapa teman sekelasku yang menjadi saksi bisu kebiadaban mereka.

Aku tahu, sebenarnya teman sekelasku tak sebait pun peduli. Kesaksian mereka hanyalah hasil paksaan dari Jay. Dengan bukti-bukti yang terkumpul, keputusan pun ditetapkan: skorsing selama dua minggu. Kedua sahabatku tentu tak terima dengan keputusan itu, tapi apa daya kami yang tak cukup berada?

Sejak awal, aku sadar betul bahwa aku telah berhutang begitu banyak (sebuah hutang kebaikan yang tak terhitung) kepada pelita bernama Sunoo dan Jay.