Actions

Work Header

If I Die on Your Back

Summary:

Bahkan jika memiliki kesempatan di kehidupan selanjutnya, Pond tetap ingin Phuwin menjadi takdirnya.

Notes:

I don't know if this is sad enough or not, but aku saranin sambil dengerin lagunya bruno ft. lady gaga yang Die with a Smile yaa!! Happy reading!!

Work Text:

“Nara, kalo aku ga ada… kamu tetep harus lanjutin hidup ya?”

Kalimat itu terdengar terlalu pelan untuk disebut sebagai pertanyaan, terlalu berat untuk dianggap candaan.

Pond Naravit yang sedang memainkan ibu jarinya di atas punggung tangan Phuwin, tersentak sejenak. Gerakan kecil itu terhenti. Jantungnya berdegup lebih cepat, namun wajahnya tetap ia paksa tenang, seolah barusan bukan apa-apa. Seolah kalimat itu bukan sesuatu yang bisa merobohkan dunia yang susah payah ia bangun selama bertahun-tahun.

Ia menoleh, menatap wajah kekasihnya yang separuh tertutup bayangan senja. Beanie navy yang selalu dipakai Phuwin menutup kepala yang tak lagi ditumbuhi rambut, dan cahaya jingga sore memantul lembut di kulit pucatnya—cantik, terlalu cantik untuk seseorang yang sedang sekarat.

“Kenapa gitu ngomongnya?” Pond tersenyum kecil, meski senyum itu terasa kaku di wajahnya sendiri. Ia mengecup kepala Phuwin dengan lembut. “Aku kan hidup sama kamu, apapun ya sama kamu juga.”

Phuwin terkekeh pelan, suara tawanya rapuh, hampir kalah oleh angin sore yang berembus pelan di taman belakang rumah sakit. Ia menoleh, menatap Pond dengan mata yang masih sama seperti tujuh tahun lalu—mata yang dulu membuat Pond jatuh cinta di sebuah halte bus hujan-hujanan.

“Eyy, jangan gituu~” Phuwin menggeleng pelan. “Kamu harus nikah, punya an—”

“Gak, gak mau—” Pond memotong cepat, hampir refleks. “—kalau ga sama kamu, aku…” suaranya melemah di akhir, bergetar meski ia berusaha keras menahannya. “Aku ga akan sama siapa-siapa.”

Phuwin terdiam. Senyumnya mengendur, bukan hilang, hanya berubah menjadi sesuatu yang lebih sendu. Pandangannya kembali ke danau buatan di hadapan mereka. Airnya tenang, memantulkan warna langit sore, seolah dunia tidak peduli bahwa satu kehidupan sedang berada di ujungnya.

Lima tahun.

Sudah lima tahun Phuwin berjuang melawan kanker otak.

Lima tahun pula Pond Naravit berdiri di sisinya—di ruang kemoterapi yang dingin, di bangsal rumah sakit yang berbau obat, di malam-malam panjang penuh tangisan tertahan. Pond ada saat Phuwin muntah sampai tubuhnya gemetar, ada saat Phuwin marah dan melempar gelas, ada saat Phuwin hanya ingin diam dan dipeluk.

Dan Pond tak pernah pergi.

Bagi Phuwin, itu lebih dari cukup untuk membuatnya merasa sebagai orang paling beruntung di dunia.

“Kamu bentar lagi sembuh, Phuu~” Pond kembali berbicara, suaranya sedikit terlalu cepat, seperti orang yang takut kehabisan waktu. “Aku kan mau lamar kamu di tempat yang kamu suka, trus katanya kamu mau ke Venice, kita juga mau coba ke Bali—”

“Nara…” suara Phuwin pelan, nyaris tenggelam.

“—trus kamu katanya mau nyoba hanbok di Korea, aku belum ngajak kamu snorkeling, kan kita juga mau main ice skating—”

“Nara… please…”

Pond tidak mendengar. Atau mungkin, ia memilih untuk tidak mendengar. Kata-katanya terus mengalir, memuntahkan semua rencana yang selama ini ia simpan rapat-rapat, seperti jimat penangkal kenyataan.

“—kamu juga belum liat aku buka kafe kita kan, abis buka kafe kita ke Paris liat Eiffel dan—”

“Hidup aku ga lama, Nara!!”

Tegas. Jelas. Tidak ada ruang untuk menyangkal.

Pond terdiam. Wajahnya menegang, lalu perlahan berpaling. Pandangannya jatuh entah ke mana—ke danau, ke rerumputan, ke masa depan yang tiba-tiba terasa hampa.

Kalimat itu… kalimat itulah yang paling ia takuti. Kalimat yang selalu menghantui setiap malam saat Phuwin tertidur dengan napas tak beraturan di sampingnya.

Kankernya sudah menyebar. Stadium akhir. Dokter tidak lagi berbicara tentang kesembuhan, hanya tentang kenyamanan. Tubuh Phuwin semakin kurus, tulang-tulangnya semakin jelas. Setiap malam, Pond mendengar rintihan kecil saat Phuwin tidur—rintihan yang sering disertai air mata.

“Aku capek…” Phuwin berbisik. “Sakit, rasanya sakit semua, Nara…”

Pond memejamkan mata. Tenggorokannya tercekat.

“Aku ga bisa… aku lelah, mereka terus masuk ke tubuh aku tapi ga membantu apa-apa…”

‘Mereka.’

Obat. Selang. Kemoterapi. Jarum. Cairan bening yang katanya bisa memperpanjang hidup, tapi nyatanya hanya memperpanjang rasa sakit.

“Kamu ga capek kah?” Phuwin menoleh, menatap Pond. “Hmmm?”

Pond menggeleng keras, air mata jatuh tanpa izin. “Engga. Engga sama sekali. Aku ga pernah capek, Phu…” Ia menggenggam tangan Phuwin lebih erat. “Jadi, tolong bertahan sama aku ya? Please…”

Phuwin menggeleng perlahan. Tangisnya akhirnya luruh. Pond memeluk tubuh ringkih itu, mengusap kepala Phuwin yang licin tanpa rambut. Pertahanannya runtuh. Isaknya pecah, tertahan di bahu Phuwin.

“Kalau dikasih hidup panjang,” Phuwin terisak, “aku cuma jadi beban buat kamu…”

“Gak,” Pond menggeleng, suaranya parau. “Kamu bukan beban. Kamu anugerah paling indah buat aku, Phu…”

Phuwin tersenyum di sela tangisnya. Senyum yang begitu lembut hingga membuat Pond semakin hancur.

“Kamu harus tetap jalanin hidup kamu,” Phuwin berucap pelan. “Menikah, dan lakuin semua yang tertunda selama lima tahun ini karena aku. Jangan jadiin aku alasan kamu nyerah sama mimpi-mimpi kamu.”

Pond hanya bisa menggeleng. Tangisnya semakin menjadi. Dari kejauhan, ibu Phuwin sudah terisak di dalam dekapan suaminya. Ia tahu—ini adalah perpisahan. Dan tak ada satu pun orang tua yang benar-benar siap untuk itu.

“K-kan aku bilang…” Pond terbata, mencium punggung tangan Phuwin berkali-kali. “Aku… ga akan sama yang lain… kalau ga sama kamu…”

Phuwin melepaskan tangannya perlahan, lalu mengusap air mata di pipi Pond dengan ibu jarinya. Gerakan kecil, penuh kasih.

“Terima kasih,” katanya lirih. “Untuk semua yang kamu kasih ke aku. Kasih sayang kamu, cinta kamu, perhatiannya kamu…”

Ia terdiam sejenak, napasnya semakin berat.

“Kumohon, jangan bicara lagi,” Pond panik. “Masuk aja yuk, kita ketemu dokter, kita—”

“Aku benar-benar bahagia,” Phuwin memotong lembut. “Sampai titik ini. Tujuh tahun… tujuh tahun bukan waktu yang sebentar, Nara…”

Napasnya semakin tersengal.

Pond menarik tubuh Phuwin agar bersandar padanya. Phuwin menurut, tersenyum damai, seolah rasa sakitnya mereda di pelukan itu.

“Kamu tahu?” Phuwin terkekeh kecil. “Di kehidupan selanjutnya… aku harap kamu jadi takdirku lagi.”

Pond menangis tanpa suara. Tangannya gemetar.

“Sayang… bisa denger aku?” Pond membimbing. “Tarik napas… buang… tarik… buang…”

Phuwin mengikutinya perlahan. Ia menoleh, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Pond. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mengecup bibir Pond—lembut, lama, penuh perpisahan.

“I love you… Pond Naravit…”

Matanya perlahan tertutup.

Senyum itu tetap ada.

Phuwin pergi dengan tenang, di pelukan orang yang paling ia cintai.

Pond tidak langsung menyadarinya.

Ia masih memeluk, masih mengusap, masih membisikkan nama Phuwin berulang-ulang. Hingga tubuh itu benar-benar tak bergerak. Hingga napas yang ditunggunya tak kunjung datang.

Tangis Pond pecah, namun ia tetap diam, memeluk erat tubuh yang telah kehilangan nyawa. Ia mencium kepala Phuwin berkali-kali, membisikkan cinta yang tak lagi bisa dijawab.

Tim medis berhenti di pintu. Dokter Matt mengangkat tangan, memberi isyarat agar mereka menunggu. Biarkan Pond memiliki waktu terakhirnya.

Ibu Phuwin memeluk suaminya erat. Air matanya jatuh, namun wajahnya ikhlas. Putra semata wayangnya telah bebas dari rasa sakit.

Pond berteriak ke arah danau, suaranya pecah, tangannya tak pernah melepas Phuwin.

Hari itu, senja tetap indah.

Dan Pond Naravit kehilangan seluruh dunianya.

 

 


 

35 Years Later......

 

Sampai usianya tak lagi muda, Pond Naravit benar-benar tidak menikah.

Bukan karena ia tidak pernah memiliki kesempatan—banyak, terlalu banyak bahkan. Perempuan datang silih berganti, ada yang tulus, ada yang sekadar ingin mendekat karena nama besar dan hartanya kini. Namun setiap kali pertanyaan itu muncul, “Kenapa belum menikah?”, Pond hanya tersenyum kecil, lalu mengalihkan pembicaraan.

Tidak ada yang perlu dijelaskan.

Hatinya sudah penuh.

Sepanjang hidupnya, Pond menghabiskan waktu untuk memperluas kafe kecil yang dulu hanya berupa coretan mimpi di buku catatan Phuwin. Dari satu bangunan sederhana, kini menjelma menjadi jaringan bisnis yang tersebar di banyak kota—bahkan beberapa negara. Setiap kafe memiliki ciri khas yang sama: interior hangat, jendela besar, dan satu sudut khusus yang selalu dipenuhi foto seorang pria berwajah lembut dengan senyum teduh.

Phuwin Tangsakyuen.

Orang-orang mungkin mengenalnya sebagai “ikon kafe”, “wajah brand”, atau “kisah cinta tragis di balik bisnis sukses.” Namun bagi Pond, Phuwin tetaplah Phuwin—kekasihnya, rumahnya, satu-satunya.

Orang tua Pond paham.

Mereka melihat bagaimana putra mereka runtuh di usia muda, dan bagaimana ia bangkit bukan untuk mencari pengganti, melainkan untuk bertahan. Mereka tidak pernah menuntut cucu, tidak pernah memaksa pernikahan. Selama Pond masih mau makan, bekerja, dan sesekali tertawa—itu sudah lebih dari cukup.

“Yang penting kamu hidup, Nak,” kata ibunya suatu kali. “Itu saja.”

Dan Pond hidup.

Dengan cara yang ia bisa.

 


 

Hari itu, langit berwarna kelabu pucat, pertanda sore akan segera turun. Pond berdiri di depan sebuah makam sederhana, batu nisan yang warnanya mulai memudar termakan waktu. Nama itu masih jelas terukir, meski hurufnya sudah tak setajam dulu.

Phuwin Tangsakyuen
Beloved. Always.

Wajah Pond kini sudah keriput. Rambutnya memutih, tubuhnya tidak lagi setegap dulu, namun langkahnya masih mantap. Ada ketenangan yang hanya dimiliki orang-orang yang telah berdamai dengan kehilangan.

Ia berlutut perlahan, mencabuti rumput liar dan bunga-bunga kecil yang tumbuh sembarangan di atas makam itu. Tangannya bergerak pelan, penuh kehati-hatian—seolah takut menyakiti sesuatu yang tak lagi bernyawa.

Sudah tiga puluh lima tahun.

Tiga puluh lima tahun sejak kepergian Phuwin.

Nama yang masih sanggup membuatnya berlutut, bukan karena lemah—melainkan karena cinta.

“Hai…” Pond tersenyum tipis. “Lama aku ga ke sini…”

Angin sore berembus pelan, menyapu dedaunan kering di sekitar pemakaman. Suaranya lembut, hampir seperti jawaban. Pond terkekeh kecil, dadanya terasa hangat dan perih di waktu yang bersamaan.

“Kamu selalu gitu,” gumamnya. “Datang tanpa kelihatan.”

Pelupuk matanya menghangat. Rindu yang ia simpan rapi selama bertahun-tahun kembali merekah begitu saja.

“Aku kangen,” katanya pelan. “Kangen banget, Phu…”

Ia berhenti sejenak, menghela napas panjang sebelum meletakkan setangkai bunga di atas makam.

“Hari ini aku bawa dandelion. Lily putih kesukaanmu habis. Aku telat belinya,” Pond tersenyum kecil. “Maaf ya?”

Ia tahu. Ia benar-benar tahu.

Ia sudah lama gila.

Gila rindu.

Gila kerja.

Gila mencintai seseorang yang bahkan tak lagi bisa ia peluk.

Namun kegilaan itu yang membuatnya tetap hidup.

“Kamu tau?” Pond melanjutkan, duduk bersila di depan makam. “Sekarang kafe yang kita rencanain dulu cabangnya udah di mana-mana.”

Nada suaranya bangga, seperti sedang bercerita pada Phuwin yang duduk di sebelahnya.

“Kamu ga marah kan kalau aku pajang semua foto kamu di semua kafe kita?” Ia terkekeh. “Hehe… aku tau kamu bakal malu.”

Di setiap kafe, selalu ada satu dinding khusus. Foto Phuwin saat tersenyum di taman rumah sakit, saat memakai apron kafe pertama mereka, saat tertidur di pundaknya. Tidak ada satu pun foto yang diambil setelah Phuwin sakit parah—Pond ingin orang mengenalnya dalam keadaan paling hidup.

Awal membuka kafe, Pond sempat pesimis. Banyak malam ia habiskan duduk sendirian, menatap kursi kosong sambil bertanya-tanya apakah ia sanggup menjalani semuanya tanpa Phuwin.

Namun tak lama, kafe itu viral.

Bukan karena kopinya.

Melainkan karena kisahnya.

Seorang pria yang membangun mimpi bersama kekasihnya, lalu melanjutkannya sendirian setelah kematian memisahkan mereka. Media datang, wawancara berdatangan. Pond bahkan sempat ditawari untuk menjadikan kisah cintanya dengan Phuwin sebagai film layar lebar.

Ia menolak.

Bukan karena tidak bangga.

Melainkan karena terlalu cinta.

“Cukup aku aja yang inget semuanya,” gumam Pond. “Aku masih posesif, ya? Maaf…”

Angin kembali berembus. Daun dandelion di tangannya bergetar.

Pond terdiam lama.

Ia mengingat malam-malam panjang setelah kepergian Phuwin. Tidur sendirian di ranjang yang terlalu luas. Bangun dengan refleks menoleh ke sisi kosong. Mengulurkan tangan ke udara, berharap menyentuh sesuatu yang sudah tiada.

Ada hari-hari ia hampir menyerah.

Ada hari-hari ia ingin menyusul.

Namun setiap kali pikiran itu datang, kalimat Phuwin selalu muncul.

“Kamu tetep harus lanjutin hidup ya.”

Dan Pond menuruti.

Bukan karena ia ingin.

Melainkan karena ia mencintai.

Ia hidup bukan untuk melupakan Phuwin, tapi untuk membawa namanya berjalan bersama waktu.

“Aku ga nikah, Phu,” ucap Pond pelan. “Bukan karena aku sedih terus. Tapi karena… aku udah cukup.”

Ia tersenyum.

“Aku bahagia, tau.”

Pond berdiri perlahan, lututnya sedikit bergetar. Ia menepuk celananya, lalu menatap makam itu untuk waktu yang lama—sangat lama.

“Aku ga tau nanti di akhir hidup aku gimana,” katanya. “Tapi kalau ada kehidupan selanjutnya…”

Ia berhenti, menelan ludah.

“Aku mau ketemu kamu lagi.”

Langit mulai menggelap. Lampu pemakaman menyala satu per satu. Pond melangkah pergi, namun sebelum benar-benar menjauh, ia menoleh sekali lagi.

“Sampai ketemu lagi, ya.”

Angin sore berembus lembut, seolah mengangguk.

Dan untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, Pond pulang dengan hati yang benar-benar tenang.

Karena ia tahu—
cinta yang ia miliki tidak pernah mati.