Actions

Work Header

What else could possibly go wrong?

Summary:

Sieun selalu ingin muntah setiap kali Seongje muncul di dekatnya. Di perpustakaan, di lapangan Quidditch, bahkan di Hogsmeade. Karena di mana ada Seongje, di situ selalu ada kesialan yang mengintainya.

Lima kali Yeon Sieun merasa hidupnya sial dan terkutuk karena rivalnya, Geum Seongje.
Dan satu kali Geum Seongje panik setengah mati karena hampir kehilangan Yeon Sieun.

A classic enemies-to-lovers trope.

5+1 things, a Hogwarts AU

SJSEWEEK2025 DAY-6: Academic rivals

Work Text:


 

1. Advanced Potion-Making

Sore itu, perpustakaan Hogwarts cukup penuh oleh para murid yang mengerjakan tugas. Suara buku yang dibolak-balik dan goresan pena bulu di atas perkamen terdengar di sana-sini. Sesekali terdengar derit langkah kaki Madam Pince mondar-mandir mengintai murid yang kelewat berisik.

Sieun berjinjit di depan rak buku Ramuan, melompat-lompat kecil, berusaha menggapai buku Advanced Potion-Making yang tinggal tersisa satu di rak, dan sialnya terletak di rak paling atas.

Tapi sia-sia.

Tangannya merogoh jubah hendak mengambil tongkat sihir. Namun sebelum sempat merapalkan Accio, tangan panjang terulur dari belakang punggungnya, menarik buku itu dengan mudah.

“Ah, terima kas—”

Kalimatnya terputus. Sieun menoleh dan berhadapan dengan wajah tengil berkacamata, tersenyum miring penuh kemenangan. Emblem hijau-perak Slytherin melekat di jubah.

Seongje membungkuk sedikit, mendekatkan wajahnya ke wajah Sieun. Tangannya menggoyang-goyangkan buku itu di depan hidung Sieun.

“Nyari ini?”

“Geum Seongje…” tangan Sieun menyambar cepat buku itu, tapi Seongje jauh lebih cepat. “Balikin.”

“Ambil sendiri kalau bisa.” Seongje menyeringai sambil mengangkat buku itu tinggi-tinggi.

Sieun berusaha menggapai, tapi tentu saja tak sampai.

“Dasar bajingan.”

Seongje memasang ekspresi pura-pura kaget.

“Eh, mulutnya.” Seongje menggoyangkan telunjuknya. “Tidak boleh berkata kasar ya, Ravenclaw. Masa murid teladan ngomongnya gitu.”

Sieun mengepalkan tangan sampai pena bulu di genggamannya bengkok. Hidungnya sudah kembang kempis menahan kesal, ingin dia teriaki murid brengsek satu ini.

Siluet bertopi tinggi tiba-tiba muncul dari balik rak. “Ribut apa lagi kalian?” omel Madam Pince.

“Dia merebut—”

“Yeon Sieun tadi mau ngerebut buku yang udah kuambil duluan. Bukunya tinggal sisa satu ini.”

Sieun langsung melotot tak percaya.

Madam Pince menatap mereka bergantian, tak terkesan sama sekali. “Ya sudah, kalau begitu Mister Yeon tunggu giliran. Nggak usah bikin ribut. Kalau mau berkelahi di luar saja.” Dia melangkah pergi diikuti suara ketukan sepatunya di lantai.

“Wleee~” Lidah Seongje menjulur penuh ledekan sebelum melenggang dan bersiul santai. “Siapa suruh punya badan pendek begitu.”

Sieun menatap punggung itu pergi dengan penuh amarah. Dasar Seongje sialan. Dan sialan juga karena ini di perpustakaan. Kalau tidak, sudah Sieun ambil buku setebal batu bata di rak, dan dia timpuk kepala Seongje.

Dari belakang terdengar suara langkah kaki mendekat, tapi kali ini bukan Madam Pince.

“Bukunya udah dapet?” Kepala Juntae tiba-tiba menyembul dari balik punggung Sieun.

“Hampir. Tapi direbut si anjing gila itu.”

“Anjing gila?” Juntae mengikuti arah pandangan Sieun, dan mendapati Seongje baru saja duduk santai di dekat jendela, membuka-buka halaman Advanced Potion-Making sambil mengangkat kaki ke kursi sebelahnya.

Juntae hanya bisa menghela napas.

“Kalian… daripada berantem terus tiap hari, kenapa nggak ciuman aja sih?” gumam Juntae malas.

“Juntaee!”

 


 

2. Incarcerous

Profesor Snape masuk ke ruang kelas dengan jubah berkibar, menutup semua tirai jendela sekaligus menyalakan lilin yang berderet di sepanjang dinding dengan ayunan tongkatnya.

“Pertahanan diri…” suara datar Snape membuka kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam pagi itu, “…kadang berarti menahan musuh tanpa melukai. Hari ini, kalian akan mempelajari Incarcerous dan cara melawannya.”

Tatapan datar profesor menyapu seisi kelas, “Ada yang bisa jelaskan.”

Sieun cepat-cepat mengangkat tangan, sudah bersiap membuka mulutnya. Namun Profesor justru memilih siswa di sisi lain ruangan.

“Ya, Mister Geum.”

Nama itu lagi. Darah Sieun rasanya mendidih tiap kali mendengarnya. Sieun menoleh perlahan ke kursi anak Slytherin berkacamata itu.

Seongje melirik Sieun sekilas dengan senyum menyebalkannya. Dia berdehem sebelum berkata, “Sebuah mantra untuk menghasilkan tali dari udara kosong, yang dapat mengikat target sesuai keinginan si penyihir.” Seongje menjelaskan dengan penuh percaya diri.

Penjelasan yang sangat textbook, anak TK juga bisa, cibir Sieun dalam hati.

“Sepuluh poin untuk Slytherin.”

Sieun mendengus. Dia sempat berpikir jangan-jangan profesor memang pilih kasih mentang-mentang itu asrama asuhannya.

Sieun kembali mendapati Seongje yang menoleh ke arahnya sambil menyeringai puas. Lagi-lagi dia berhasil mengalahkan Sieun di kelas PTIH. Sieun berusaha tetap cool dan mengabaikannya, lalu kembali menatap profesor yang kini sibuk menjelaskan.

“Mantra ini cukup rumit karena melibatkan Conjuration. Jadi tidak semua penyihir bisa menguasainya dengan cepat.”

Profesor Snape kali ini menatap Sieun, tak sampai sedetik. “Ada beberapa mantra penangkal…”

Sieun kali ini mengangkat tangan secepat kilat.

“Ya, Mister Yeon.”

“Kita bisa memakai Relashio atau Emancipare untuk melepas ikatannya. Finite Incantatem juga bisa untuk menghilangkan efeknya.”

“Sepuluh poin untuk Ravenclaw.”

Sieun kembali menoleh ke Seongje, mengangkat alisnya. Kini giliran Seongje yang mendengus.

“Demonstrasi,” Snape mengumumkan. “Geum Seongje.”

Seongje segera berdiri dan melangkah penuh percaya diri ke depan kelas, membawa tongkat sihir dalam genggaman.

“Pilih partnermu,” lanjut Snape.

Seongje mengedarkan pandangan ke seluruh kelas. Di kursinya, Sieun mengkerut dan terus meracau, “Jangan aku… jangan aku…” Dia mengalihkan pandangan ke pojok kelas, seolah kalau dia menatap ke sana, seketika tubuhnya jadi tembus pandang.

Seongje menyeringai tipis. “Karena tadi sepertinya ada yang cukup mengerti soal mantra penangkalnya… YEON SIEUN!”

Ah, memang dasar bajingan satu ini. Sieun merutuk dalam hati.

Dengan ogah-ogahan, Sieun melangkah ke depan kelas. Jantungnya berdegup kencang karena firasatnya mengatakan ini tidak akan berakhir baik.

Mereka berdiri berhadapan, mengambil ancang-ancang seakan sedang ingin menampilkan suatu pertunjukan. Seongje mengangkat tongkat sihir, mengarahkannya ke Sieun.

Incarcerous!

Dengan satu ayunan tongkat sihir Seongje, sebuah tali tiba-tiba muncul, mengikat kedua tangan Sieun ke belakang dan menjeratnya. Tongkat sihir dalam genggamannya terlepas dan jatuh ke lantai, Sieun spontan memberontak.

“Bagaimana Mister Yeon? Apa ikatannya kurang kencang?” Seongje terkekeh dengan tongkat masih teracung. Sieun membalasnya dengan tatapan tajam, tapi otaknya terus berpikir bagaimana cara mengambil tongkatnya lagi.

Snape tidak menegur, hanya menjentikkan jarinya. Sebuah kursi meluncur ke belakang Sieun. “Supaya Granger junior ini tidak jatuh menggelinding di lantai,” ucapnya datar.

Gelak tawa terdengar dari beberapa murid. Wajah Sieun mulai memerah, menahan malu dan kesal.

Seongje kembali bermain-main, mengarahkan tongkatnya agar tali itu menarik tubuh Sieun hingga ia jatuh terduduk di kursi.

Murid-murid di kelas itu langsung bersorak. Ada yang menyemangati Sieun, ada yang memuji Seongje. Bahkan ada yang bersiul.

Sieun berusaha keras melepaskan diri, tapi ikatan itu cukup kencang. Seongje menatap lurus padanya dengan alis terangkat tinggi. Jelas sekali dia sedang pamer.

Sieun merasakan ikatan itu makin lama makin kencang. Ia melirik Profesor Snape yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengakhiri ini. Hanya berdiri di sisi meja dengan tatapan datarnya.

“Kalau kau tidak bisa membebaskan diri dari mantra sederhana seperti ini, Mister Yeon…” Snape menatapnya sedingin es, “… mungkin kau tidak pantas berada di kelas ini.”

Tentu saja Sieun tidak terima dipermalukan di depan teman-temannya begitu, terlebih lagi di hadapan Seongje. Matanya bergerak cepat, mencari tongkat sihirnya yang tergeletak di lantai. Dia menarik napas, lalu menjatuhkan tubuhnya ke samping dengan suara berdebum. Tanpa ragu, ia menyeret tubuhnya yang masih terikat di kursi, tak peduli seragamnya jadi lusuh. Murid-murid makin heboh bersorak.

Dengan penuh perjuangan, jari-jarinya berhasil meraih tongkat itu.

Relashio!” serunya.

Tali-tali itu melonggar dan terbuka dalam sekejap. Sieun bangkit, memelototi Seongje yang hanya tersenyum miring sambil bertepuk tangan pelan. Teman-teman sekelas ikut bertepuk tangan.

Snape menatap Sieun sejenak. Kali ini cukup tersirat dari tatapannya bahwa dia mengakui kemampuan Sieun.

“Cukup,” Snape berkata datar. “Sekarang, semua praktik berpasangan.”

Begitu kelas usai, Seongje mendekati meja Sieun dan sengaja menabrak bahunya. Ia sedikit menunduk, “Makanya, lain kali angkat tangan lebih cepet.”

Seongje tertawa kecil lalu pergi begitu saja.

Sieun mengepalkan tangannya. Tatapannya penuh amarah mengikuti punggung Seongje yang berjalan malas meninggalkan kelas.

 


 

3. Apple Pie

Makan malam di Aula Besar terasa ramai dengan obrolan dan candaan para penghuni kastil. Lilin-lilin melayang menghiasi ruangan itu.

Sieun menggeser piringnya ke pinggir meja agar bisa dibersihkan para peri rumah. Dengan senyum tipis, dia menarik satu piring lain yang berisi pie apel kesukaannya, tak ketinggalan satu scoop es krim bertengger di atasnya.

Save the best for the last, begitu pikir Sieun.

Dengan ceria, Sieun mengangkat garpu. Aroma kayu manis bercampur dengan es krim vanila yang mulai meleleh itu membuat air liurnya nyaris menetes.

Namun sebelum sempat menusukkan garpu, pie itu tiba-tiba melayang begitu saja bersama piringnya, meluncur melewati kepala-kepala murid lain. Mata Sieun membelalak mengikuti ke mana pie itu pergi.

Hingga akhirnya mendarat ke tangan Seongje, yang duduk di meja Slytherin di seberang.

Dengan seenaknya, Seongje menancapkan garpu ke pie itu dan memasukkan satu potongan besar ke dalam mulutnya. Ia menatap lurus ke arah Sieun sambil mengunyah pelan.

“Apa lihat-lihat? Mau aku suapin?”

Dia mengangkat garpu berisi pie, pura-pura menyodorkannya ke arah Sieun. “Nih, aaaaa~”

Mata Sieun sudah berkedut dengan mulut mengatup rapat. Juntae juga sudah bersiap menahan Sieun kalau-kalau dia sampai meledak.

Seongje memutar balik garpu itu dan menyuapkan ke mulutnya sendiri. Lalu ia menjilat garpunya dengan perlahan sambil menatap mata Sieun.

Telinga Sieun memerah, barangkali keluar asap juga dari situ.

BRAK!

Tangan kirinya menggebrak meja keras-keras hingga sendok garpu meloncat dan berkelontengan. Beberapa murid di dekatnya menoleh kaget.

Bagaimana tidak kesal, itu potongan pie terakhir di meja Ravenclaw. Dan itu makanan kesukaannya!

“DASAR ANAK SETAN!”

Juntae di sebelahnya hampir tersedak. “Astaga… mulai lagi…”

Tanpa melihat, Juntae juga sudah bisa menebak apa yang terjadi. Setiap hari selalu menyaksikan kelakuan dua orang yang selalu jadi sumber mimpi buruknya tiap malam, dia hanya menghela napas lelah.

“Kenapa ribut lagi sih?” Juntae memijit pelipisnya yang tiba-tiba terasa pening.

“Dia nyolong pie-ku!” Sieun menunjuk ke arah Seongje yang terus mengunyah tanpa rasa bersalah.

Juntae menatap pie apel miliknya yang baru ia cuil sedikit, lalu menggesernya ke depan Sieun. “Ini, makan punyaku aja. Aku juga nggak gitu suka kok.”

Sieun melirik pie itu. Nafsu makannya sudah hilang sama sekali. “Lupakan. Aku udah muak.”

Dengan hentakan kaki yang sengaja dikeraskan, Sieun meninggalkan meja. Tapi sebelum benar-benar pergi, ia berbalik.

Seongje masih santai menyuapkan pie ke mulutnya dengan senyum lebar.

“Hm… enak banget,” suaranya sengaja dikeraskan biar Sieun dengar. Dia lalu mengulurkan garpu lagi, berniat menusuk sisa pie yang masih tertutup es krim.

Namun saat garpunya baru setengah jalan, wuuush! Tongkat sihir Sieun sudah bergerak cepat. Dalam sekejap, potongan pie lengkap dengan es krimnya melayang.

Plek!

Menemplok tepat di wajah Seongje.

Suara tawa meledak dari murid-murid di sekeliling mereka. Seongje terdiam membeku. Potongan pie itu jatuh ke pangkuannya, diikuti es krim putih yang meleleh turun dari pipinya.

Sieun bersedekap, menyeringai penuh kemenangan. “Enak kan? Habisin tuh.” Ia lalu melenggang pergi.

Teman-teman Seongje di meja Slytherin makin cekikikan melihat wajahnya yang belepotan es krim.

 


 

4. Lucky Charm

Sore itu, lapangan Quidditch Hogwarts dipenuhi warna hijau dan biru. Hari itu adalah pertandingan Slytherin melawan Ravenclaw.

Sieun yang biasanya kalem, kali ini ikut berdiri di bangkunya dan berteriak menyemangati Ravenclaw sampai suaranya serak. Kalau lawannya Gryffindor atau Hufflepuff sih dia pasti malas ribut. Tapi ini Slytherin, dan ada si bajingan Seongje di lapangan. Dia merasa perlu berkontribusi—minimal dengan teriakannya—untuk menjatuhkan si anjing gila itu.

Seongje, dengan kacamata kotak dan sapu terbang Nimbus keluaran terbaru itu berkali-kali melesat di depan tribun Ravenclaw. Matanya menyisir dengan tajam, memburu Snitch yang tidak bisa dilihat mata biasa. Meski memakai kacamata, Seongje punya mata elang yang tajam. Bahkan terlalu tajam. Buktinya dia langsung bisa menemukan titik tepat di mana Sieun duduk.

Padahal Snitch bisa muncul di mana saja. Bukankah aneh kalau dia terus mondar-mandir di tempat yang sama?

Sieun mendengus. Jangan-jangan Seongje memang sengaja. Tapi masa iya, di tengah pertandingan begini dia masih sempat-sempatnya berulah? Tapi biasanya, kalau Seongje muncul di dekatnya, pasti akan terjadi sesuatu yang menjengkelkan.

Belum sempat ia menepis prasangka itu, sebuah bayangan tiba-tiba menyambar cepat ke arahnya.

WHUUUSH!!

“WOOOAAAHHH!!” Penonton di tribun Ravenclaw langsung menjerit dan menunduk ketakutan.

GREP!!

Sebuah sarung tangan hitam menyabet secepat angin, menangkap sesuatu di depan hidung Sieun. Jaraknya hanya beberapa senti dari wajahnya.

Snitch berhasil ditangkap.

Lapangan hening. Semua kepala menoleh ke arah Seongje yang melayang di tribun Ravenclaw, sebelum ia berseru, “GOTCHA!!” Suaranya nyaring menggema ke seluruh lapangan.

Dengan Snitch dalam genggaman, Seongje mencondongkan wajahnya ke arah Sieun, tersenyum lebar menyebalkan.

“Makasih udah jadi jimat keberuntunganku.”

Lalu, tanpa memberi kesempatan Sieun untuk membalas, dia memutar sapunya dan mendarat di tengah lapangan. Seongje mengangkat Snitch emas berkilau itu tinggi-tinggi, disambut sorakan yang meledak dari tribun Slytherin.

Beberapa murid Slytherin tertawa sambil menunjuk-nunjuk Sieun yang masih terdiam di kursinya dengan wajah memerah.

“Itu pacarnya Seongje, ya?”
“WOOO… ADA YANG BAKAL PUTUS MALEM INI KAYAKNYA!! HAHAHA!” teriak seorang anak Slytherin sampai tribun bergemuruh.

Brengsek. Seongje bukan cuma berhasil memenangkan timnya, tapi juga berhasil menjadikan dirinya bahan tertawaan satu sekolah.

 


 

5. Double the Trouble Box

Angin dingin Hogsmeade berhembus. Sieun menarik beanie biru tuanya lebih dalam sampai menutupi telinganya yang mulai memerah. Tangannya segera masuk ke saku mantel, tubuhnya sedikit menggigil. Pipi dan ujung hidungnya sama, sudah merah kedinginan.

Semua barang yang ia perlukan sudah ia beli. Pena bulu, tinta, perkamen, kuali baru karena yang lama pecah. Jadi sekarang dia tinggal bersenang-senang dan menikmati jalan-jalan hari itu.

Ia dan Juntae berjalan menyusuri jalanan bersalju, sesekali berhenti untuk mengintip etalase toko, berharap menemukan sesuatu yang menarik.

“Katanya di Toko Zonko lagi ada mainan baru. Mau lihat nggak?” tanya Juntae saat mereka semakin dekat dengan toko itu. Dari jendela, sudah terlihat kerumunan murid-murid yang heboh mengitari sesuatu.

Sieun hanya mendesah malas, “Aku nggak tertarik. Aku mau ke Honeydukes aja.”

Tapi begitu mereka melintas di depan pintu, beberapa murid langsung menoleh dan berbisik-bisik. Lalu seseorang berteriak keras.

“Eh itu Yeon Sieun, kan?!”

Langkah Sieun dan Juntae langsung terhenti. Mereka saling pandang kebingungan. Bingung kenapa semua mata tiba-tiba tertuju pada mereka.

“Ada ap—”

Belum sempat bertanya, seseorang menarik Sieun ke dalam toko. Murid-murid di dalam langsung bersorak.

“Akhirnya datang juga!”
“Kasihan tuh, dia udah nunggu dari tadi hahaha!”

Sieun mengernyit, wajahnya berubah kesal. Apa-apaan ini? Kenapa tiba-tiba dia diseret begini?

Di tengah toko, ada satu kotak besar seukuran lemari pakaian yang dikerumuni puluhan murid. Permukaan kotak itu penuh dengan gambar tanda tanya berukuran besar.

Perut Sieun langsung mual, perasaannya tidak enak. Dan kalau dia sudah merasa seperti ini, biasanya…

Anak yang menariknya tadi mendorongnya ke arah kotak itu. Dan tanpa bisa menghindar, tubuhnya menembus pintu lemari itu seperti menembus portal.

“Kurang ajar banget, dorong-dorong kayak—”

Omelan Sieun mendadak terputus. Apa pintu tadi semacam pintu ke mana saja milik Doraemon?
Karena di dalam kotak itu ada ruangan. Ruangan itu luas, terang, kira-kira seukuran kamar tidur di rumahnya. Di tengah ruangan ada satu kursi kayu, dan seseorang duduk bersilang kaki di atasnya.

Seseorang yang selalu membuatnya naik darah dan ingin melakukan kekerasan.

Seongje.

Sieun otomatis berbalik. Tapi tempat dia masuk tadi sudah berubah menjadi dinding kosong. Ia sibuk meraba-raba dan mendorongnya, tapi tetap tidak terjadi apa-apa. Ia bahkan menggedor-gedor dinding itu.

“Percuma. Nggak usah buang-buang tenaga,” suara Seongje terdengar datar dari belakangnya.

Sieun menoleh dan memelototi Seongje. “Ini apa? Kenapa aku tiba-tiba dimasukin ke sini? Apalagi sama orang brengsek kaya—”

Seongje mengangkat telunjuknya, mengisyaratkan Sieun untuk diam. “Shhh… jaga mulutmu. Mau kita kejebak di sini selamanya?”

“Apaan sih?! Ga jelas!”

“Ini Double the Trouble Box,” terang Seongje malas. “Dua orang yang masuk ke sini harus jalanin misi yang dikasih sama box ini. Kalau misinya selesai baru bisa keluar.”

Kalau kalian tahu five stages of grief, nah, tampaknya Seongje sudah di fase acceptance, sementara Sieun masih di fase denial.

Sieun memutar bola matanya tak peduli. Dia langsung menyusuri dinding, mengecek setiap sudut dengan teliti, berusaha mencari celah atau pintu rahasia lain yang mungkin tersembunyi di suatu tempat. Sama sekali tak menghiraukan keberadaan Seongje.

Seongje bersandar santai ke kursi sambil menatap Sieun. “Udah kubilang percuma. Kamu pikir aku udah berapa jam kejebak di sini gara-gara anak-anak setan itu? Dari tadi aku juga nyari pintu keluar.”

Sieun akhirnya menyerah setelah hampir sepuluh menit menggedor dinding tanpa hasil. Sialnya perkataan Seongje sepertinya benar. Tak ada celah untuk keluar dari sana.

“Ya terus gimana caranya kita keluar?”

“Jalanin misi,” jawab Seongje santai.

“Misi apaan?”

Seongje mendongak dan berteriak, “Wahai Kotak Brengsek! Apa misi kita?!”

Seketika muncul gumpalan asap putih dari lantai, lama kelamaan asap itu naik dan membentuk tulisan di udara.

MISI : Mainkan Cookie Stick Game hingga tersisa 2 cm tanpa menggunakan tangan.
Jika gagal, target selanjutnya akan menjadi setengahnya : 1 cm.

Seongje menyeringai puas. “Oh, Pepero game? Gampang itu mah.”

Sementara itu Sieun justru membeku. Matanya melotot lebar, mulutnya menganga, dan wajahnya penuh aura kebencian saat membaca misi itu.

Pepero game?
Dengan Seongje?

Punya dosa apa sebenarnya dia sampai Merlin terus mengutuk hidupnya seperti ini? Dan Seongje ini sebenarnya iblis jenis apa? Kenapa dia selalu jadi sumber malapetaka dalam hidupnya?

Sieun mengusap wajah, menahan diri untuk tidak berteriak karena frustrasi.

Seongje bangkit dari kursi sambil bersiul riang dengan wajah sumringah, jelas sangat bersemangat karena sebentar lagi dia bisa keluar dari ruangan laknat ini. “Oke, kita mulai sekarang.”

“Tunggu! TUNGGU!!” Sieun langsung mengangkat kedua tangannya panik. “Aku belum siap!”

Seongje mendecak, “Mau kapan siapnya? Aku udah dua jam kejebak di sini, aku cuma mau pipis.” Dia lalu berteriak, “READY!”

Seketika sebatang biskuit berlapis krim muncul dan melayang-layang. Sieun menatapnya horor. Dia bukannya takut karena benda itu melayang sendiri, itu sudah jadi hal biasa di Dunia Sihir. Yang lebih menakutkan adalah wajah Seongje yang sejak tadi menyeringai mesum seperti mau melakukan hal tidak senonoh.

Atau memang wajahnya selalu seperti itu?

“Ayo, tunggu apa lagi,” suara Seongje terdengar makin tidak sabar.

Sieun menelan ludah dan melangkah maju. Langkahnya pelan dan kaku, seperti seorang pesakitan yang harus menghampiri tiang gantungan sebelum dieksekusi.

Mereka menggigit biskuit dari kedua sisi. Tapi baru satu gigitan, mereka berdua langsung mundur menjauh dan hoek-hoek.

“HUWEEEEKKK!!”
“BLEEEAAARRGGH!”

Seongje terbatuk-batuk sambil menjulurkan lidahnya. “INI APAAN BANGSAT?! RASANYA KAYA KOTORAN TELINGA!”

Sieun memegangi lehernya, “BLEEEGH— KAYA MAU MATI! INI RASA MUNTAHAN YA? BRENGSEK!”

Poof!

Biskuit itu menghilang dan berganti tulisan :

MISSION FAILED.
NEXT TARGET : 1 CM

“AAAAARRGGHHH!!” Sieun memekik frustrasi. “INI GARA-GARA KAMU! DASAR SEONGJE GOBLOK!” Ia langsung memukul-mukul bahu Seongje tanpa belas kasihan.

“Aduh, aww!! Enak aja! Kamu tadi kan muntah juga!” Seongje mundur sambil berusaha melindungi kepalanya.

Saat mereka masih sibuk baku hantam, sebatang biskuit kembali muncul dan melayang di antara wajah mereka.

“Udah lah,” kata Seongje sambil menangkis pukulan Sieun. “Daripada kita bunuh-bunuhan, mending cepet selesaiin ini. Aku beneran udah kebelet kencing.”

Sieun menarik napas panjang dengan mata masih memelototi Seongje. Tapi akhirnya dia menggigit ujung biskuit itu juga.

“Cepetan!” omel Sieun.

“I—iya…” suara Seongje mengecil jadi cicitan.

Mereka berdua kembali menggigiti biskuit itu sedikit demi sedikit, hingga jaraknya makin menipis.

Lima senti…
Tiga senti…
Dua senti…

“Ini idih siti sinti bilim sih…” gumam Sieun, masih menggigit biskuit.

“Gik tii…”

Wajah mereka makin mendekat, hingga napas mereka bertemu. Hangat dan tegang. Rasa putus asa mereka makin memuncak karena mereka tidak tahu apakah panjang yang tersisa sudah cukup atau belum. Dan kalau mereka makin mendekat lagi, bibir mereka akan bertemu.

Sieun menutup matanya erat. Tidak. Tidak mau. Dia tidak sudi membuang ciuman pertamanya untuk Seongje si anjing gila brengsek ini.

Sementara itu, Seongje yang dari luar tampak tenang-tenang saja, sebenarnya jantungnya hampir copot. Dia belum pernah melihat wajah Sieun sedekat ini. Dia tahu Sieun berwajah cantik, tapi dari jarak ini, Seongje jadi bisa melihat detail-detail wajahnya lebih jelas.

Bulu matanya yang panjang.
Kelopak matanya yang terlipat cantik.
Hidungnya yang memerah karena udara dingin.
Bibirnya yang sedikit kering tapi terlihat lembut.

Seongje sampai tidak sadar kalau sejak tadi dia hanya sibuk memperhatikan bibir Sieun.

Biskuit itu tinggal sisa seupil.

BRAK!

Pintu lemari terbuka dengan keras. Confetti berhamburan dari langit-langit.

Tulisan besar muncul di atas kepala mereka berdua :

SELAMAT! MISI BERHASIL!

Murid-murid yang menunggu di luar sempat terdiam. Lalu mereka melihat wajah Seongje dan Sieun yang hampir menempel.

“WAAAAAAAA!!!”

Sorakan langsung pecah. Mereka semua mengira Seongje dan Sieun sedang berciuman di dalam.

Keduanya langsung melompat kaget dan menjauh.

“EH! JANGAN SALAH PAHAM!” Seongje panik setengah mati, tangannya melambai-lambai putus asa. “KITA CUMA MAIN PEPERO GAME!”

Ia melirik Sieun di sampingnya. Wajah anak itu sudah sangat memerah, matanya berkaca-kaca seperti ingin menangis.

Lalu tanpa berkata apa-apa, Sieun berlari keluar toko, menabrak lengan beberapa murid.

Juntae langsung mengejarnya. Mereka berjalan cepat di jalanan bersalju meninggalkan keramaian.

“Si—Sieun… kamu nggak apa-apa kan?” tanya Juntae ragu.

Sieun berhenti, bahunya naik-turun menahan rasa kesal. “Udah kubilang kan kalau aku nggak mau masuk ke situ. Dari awal perasaanku udah nggak enak.”

“Maaf… aku beneran nggak tahu mereka bakal narik kamu masuk…” Juntae terlihat merasa sangat bersalah.

“Ini bukan salah kamu, Juntae…” Sieun kembali berjalan sambil mengomel. “Tiap kali ketemu Seongje, pasti ada aja kejadian kaya gini. Lama-lama beneran bakal kutendang kepalanya.”

Juntae menepuk-nepuk punggungnya lembut. “Udah udah, ayo ke Honeydukes. Aku yang traktir buat permintaan maaf.”

“Ini bukan salahmu…”

“Iya, iya… tapi tetep aku traktir.”

 


 

6. Hippogriff

Salju sudah mencair sepenuhnya saat kelas Pemeliharaan Satwa Gaib hari itu dimulai. Di tepi hutan di halaman belakang Hogwarts, Hagrid berseru ceria dari balik jenggot rimbunnya. Di sampingnya, berdiri seekor hewan anggun berbulu putih keabuan, seperti pegasus, namun memiliki cakar dan paruh elang.

“Selamat pagi, anak-anak!! Hari ini kita bakal belajar soal Hippogriff! Jangan takut, dia memang agak sensitif, tapi dia jinak kok…” Hagrid mengedipkan satu matanya, “…asal kalian sopan.”

Barisan murid mulai berbisik-bisik gelisah. Beberapa orang sudah mendengar rumor kalau ada yang pernah terluka karena Hippogriff—ehem Malfoy. Sementara Sieun berdiri di barisan depan, sibuk mencatat penjelasan Hagrid dengan serius.

Sedangkan Seongje bersandar santai di bawah pohon, kedua tangan masuk ke saku jubah. Setelah insiden Pepero game di Hogsmeade tempo hari, ada sedikit rasa bersalah yang terus melekat di ubun-ubunnya, walaupun cuma sekecil biji jagung. Tapi rasa gengsinya jauh lebih besar, jadi dia memutuskan untuk tidak usah merasa bersalah saja.

Tapi hey, itu kan memang bukan salahnya juga? Dia kan juga korban keisengan teman-teman mereka, begitu pikir Seongje. Jadi buat apa minta maaf?

Hagrid menepuk-nepuk badan Hippogriff besar itu. “Namanya Thunderclaw. Siapa yang mau coba memegangnya?”

Tangan Seongje langsung terangkat. “Saya.”

Wajah Hagrid langsung berseri-seri. “Bagus, Mister Geum! Pertama-tama, kamu harus membungkuk dulu.”

Seongje membungkuk. Thunderclaw menatapnya penuh penilaian, sebelum akhirnya membalasnya. Aman.

“Sekarang dekati dia, pelan-pelan…”

Seongje mendekat, lalu mengelus bulu di leher Thunderclaw sampai makhluk itu mendengkur senang.

“Bagus! Bagus!” Hagrid memekik bangga sambil bertepuk tangan, lalu ia lempar seekor ikan pada Thunderclaw sebagai hadiah.

Seongje mundur sambil melirik Sieun, menyunggingkan senyum miring tengilnya. Sieun memutar bola matanya malas.

“Siapa lagi yang mau coba?” tanya Hagrid.

Semua murid serempak mundur. Tersisa Sieun yang masih sibuk mencatat.

“Baik, Mister Yeon!”

Sieun mendongak cengo, lalu menoleh ke kanan-kiri. Dia berdiri paling depan.

Sieun mendesah pasrah dan maju.

“Tenang, cukup membungkuk dulu,” bimbing Hagrid dengan lembut.

Sieun menundukkan tubuhnya. Thunderclaw balas membungkuk.

“Oke, sekarang coba sentuh kepalanya.”

Sieun mengulurkan tangan dengan sedikit tegang, berkali-kali menelan ludah. Thunderclaw sedikit menunduk. Saat tangan Sieun hampir menyentuh paruhnya…

BOOOOOM!!

Terdengar suara dentuman meriam yang mengguncang dari arah lapangan Quidditch.

Thunderclaw terkejut, ia meringkik keras dan mengangkat dua kaki depannya. Kakinya menyabet lengan Sieun cukup keras, membuat tubuhnya terhempas jatuh ke belakang.

“Aaagh!” Sieun meringis kesakitan sambil memegangi lengannya.

Teriakan panik pecah dari rombongan murid, tapi tak ada yang berani mendekat.

“Thunderclaw! Tenang, tenang!” Hagrid buru-buru menenangkan makhluk itu, melempar seekor ikan besar dari ember.

Tanpa pikir panjang, Seongje langsung berlari cepat dan berlutut di samping Sieun. Tanpa menghiraukan erangan kesakitan Sieun, Seongje menggendongnya bridal style dan berlari menuju kastil.

“Aku bawa dia ke Hospital Wing!” teriaknya pada Hagrid.

“Makasih! Nanti aku susul!” balas Hagrid sambil masih menenangkan Thunderclaw. “KELAS BUBAR!!”

Seongje berlari menyusuri koridor kastil, tak mempedulikan tatapan orang-orang.

“Seongje… turunin aku… banyak yang ngelihatin…” gumam Sieun, wajahnya memerah menahan malu dan sakit.

“Biarin. Yang penting lukamu harus cepet dirawat.”

“Aku tuh cuma jatuh! Bukan digigit! Nggak usah lebay!”

“Diem! Yang boleh nentuin parah atau nggaknya cuma Madam Pomfrey!”

Sieun ingin marah. Tapi rasa nyeri di lengannya cukup membuatnya kicep.

Saat Sieun melirik, dia melihat wajah Seongje tampak pucat, napasnya terengah, dan alisnya mengerut begitu dalam.

Untuk pertama kalinya, Sieun melihat Seongje bukan sebagai rival tak berperikemanusiaan.

Dia melihatnya sebagai manusia, yang juga memiliki rasa takut.

Sepanjang jalan menuju Hospital Wing, Sieun hanya bisa membenamkan wajahnya ke bahu Seongje untuk menyembunyikan rasa malunya. Mereka berdua sudah dikenal sebagai rival bebuyutan sejak tahun pertama, mau ditaruh di mana muka Sieun kalau semua menyaksikan Seongje berlari-lari menggendongnya.

“Seongje… please turunin aku, aku beneran malu dilihatin semua orang.”

“Terserah. Aku nggak peduli.”

“Kenapa kamu tiba-tiba jadi sok peduli sama aku?!”

“Aku emang peduli!”

Keduanya sama-sama terdiam.

Lalu Seongje cepat-cepat menambahkan, “Maksudku… peduli sebagai… sesama murid! Itu doang!”

Sieun mendengus tak percaya. Sungguh penjelasan paling payah.

Sesampainya di bangsal, Madam Pomfrey langsung menangani luka Sieun dengan salep dan ramuan obat. Perlahan rasa nyeri itu mulai mereda. Hagrid datang menyusul beberapa menit kemudian dengan napas terengah-engah.

“Lukanya nggak parah kok, cuma memar agak besar. Yang penting jangan banyak gerak dulu,” ucap Madam Pomfrey sambil membereskan botol-botol ramuan. “Tapi malam ini sebaiknya dirawat di sini, besok pagi harusnya sudah bisa ikut kelas lagi.”

Seongje dan Hagrid menghela napas lega.

Hagrid menunduk penuh sesal, “Ternyata tadi ada percobaan meriam buat Turnamen Triwizard. Kalau aku tahu, pasti aku nggak akan ngadain kelas Hippogriff hari ini. Maaf, Sieun.”

Sieun terkekeh kecil, lalu mengangkat lengannya dengan enteng. “Nggak apa-apa, Hagrid. Lagian ini kan cuma—”

“Hei!” Seongje langsung menyela, “Jangan diangkat-angkat dulu! Kamu nggak denger tadi Madam Pomfrey bilang apa?!”

“Bacot banget sih! Yang sakit kan cuma bagian sini!”

Madam Pomfrey muncul lagi dari pintu. “Hagrid! Kamu dipanggil ke ruang Kepala Sekolah!”

Hagrid menghela napas putus asa. “Yah… sudah kuduga. Aku pergi dulu ya.”

Seongje dan Sieun mengangguk bersamaan.

Ruangan bangsal tiba-tiba terasa sunyi setelah Hagrid pergi. Sieun bersandar nyaman ke sandaran tempat tidur, mengusap lengannya yang tertutup perban. Matanya diam-diam memperhatikan Seongje yang duduk di kursi di sampingnya, dia terlihat gelisah. Aneh. Padahal biasanya anak itu selalu kelewat percaya diri.

“Kalau mau pergi ya pergi aja,” kata Sieun akhirnya. “Aku udah nggak papa. Juntae paling bentar lagi ke sini.”

“Kenapa kamu ngusir?!”

Sieun mendelik. “Siapa yang ngusir? Habisnya muka kamu kaya nahan berak gitu. Kalau mau pergi ya sana pergi! Kenapa malah jadi kamu yang marah?!”

“Siapa yang marah?!”

“Kamu marah!”

“Aku nggak—” Seongje menggigit lidahnya sendiri, ini bukan saatnya berdebat dengan Sieun. “Maaf, aku tadi cuma… aku kira kamu…”

Dia tidak melanjutkan kalimatnya.

Rasa heran muncul di wajah Sieun. Baru sekarang dia benar-benar bisa mengamati ekspresi Seongje. Wajah ketakutan itu sama seperti saat menggendongnya tadi.

“Kamu kira aku kenapa?” tanya Sieun, kali ini nada bicaranya sudah lebih lembut.

Seongje menunduk. “Aku kira kamu tadi bakal mati…” suaranya hampir tak terdengar.

Sieun sampai mengerjap. “Hah? Apa? Ulangi.”

Seongje mengangkat wajahnya dan menatap Sieun dengan alis turun. Ketakutan itu masih jelas di sana. “Waktu kamu jatuh… aku kira kamu bakal mati…”

Sieun terbahak sampai perutnya sakit. “Mana mungkin aku mati cuma gara-gara itu.”

Seongje sama sekali tidak tertawa. Dia hanya terdiam menatapnya dengan ekspresi yang masih sama.

Sieun akhirnya mengecilkan tawanya, masih terkekeh, “Lagian peduli apa kamu kalau aku mati? Bukannya kamu malah seneng?”

Seongje masih terdiam, menatap Sieun tanpa berkedip. Saat Sieun baru membuka mulutnya lagi untuk meledek, kedua tangan Seongje tiba-tiba menangkup pipinya. Seongje mendekat, dan dengan agak ceroboh menempelkan bibirnya ke bibir Sieun.

Mata Sieun melebar, belum sepenuhnya sadar apa yang terjadi. Dia tak sempat memberikan reaksi apapun, hanya merasakan bibir hangat Seongje menyentuhnya dalam ciuman singkat yang membuat otaknya ngeblank.

Begitu Seongje menjauh, Sieun masih membelalak.

“A—ap… apa-apaan…” katanya gelagapan, semburat merah mulai naik ke wajahnya.

Seongje bersandar kembali ke kursinya, wajahnya sudah kembali tengil seperti biasa. “Kalau kamu mati, nanti aku harus saingan sama siapa,” ujarnya sambil menjulurkan lidah.

Di balik pintu bangsal, Juntae yang baru tiba langsung berhenti dan memutar badan. Sepertinya momen kedatangannya sedang tidak tepat.

Yah, setidaknya dia akan terbebas dari drama Sieun dan Seongje untuk sementara waktu.