Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-12-16
Words:
611
Chapters:
1/1
Kudos:
3
Hits:
66

Unethical.

Summary:

Ternyata pernikahan tak seindah yang orang-orang ceritakan.

Notes:

Title from:
Faouzia - Unethical.

Work Text:

“Dari mana aja?” Tangan bersilang di depan dada, Yeonjun memperhatikan setiap pergerakan Soobin yang baru saja tiba. “Nggak liat sekarang udah jam berapa?”

Sementara itu, Soobin hanya melirik sekilas pada pria yang lebih muda sebelum melepaskan sepatunya. “Saya ada perlu sama temen kantor.”

“Kenapa nggak bilang?”

Soobin menyisir rambut menggunakan jemarinya sembari menghela napas lelah. “Saya tadi nge-chat kamu.” Kemudian, pria itu berdiri tepat di hadapan Yeonjun. Hal tersebut, otomatis, membuat Yeonjun mengambil satu langkah mundur dan menundukkan kepala. Tiba-tiba merasa kecil di hadapan suaminya.

“Tadi pagi sebelum berangkat juga saya udah bilang. Mungkin kamu terlalu sibuk chat sama temen kamu sampai nggak denger saya ngomong,” lanjut Soobin. Datar, tenang. Suaranya begitu monoton. Layaknya berusaha tak menunjukkan emosi sedikit pun.

Yeonjun menggigit bibir dan menengadah untuk mengintip Soobin dari balik rambut yang menutupi dahinya. “Aku udah masak buat kamu. Udah beli kue kesukaan kamu juga di bakery yang biasanya.”

Satu alis mata Soobin terangkat, ia memandang Yeonjun dengan heran. “Buat apa?”

“Hari ini kan kamu ulang tahun,” cicit Yeonjun. Suaranya pelan sekali, seakan berbisik pada angin yang berlalu. Jika Soobin tak mendengarkan dengan seksama, maka ia pasti akan melewatkannya.

“Oh?” Mata Soobin memicing memperhatikan pria di hadapannya. “Sejak kapan kamu peduli?” Lalu, ia mendengus meremehkan. “Last time I remember, kamu bilang kalau ulang tahun itu nggak penting, apalagi ulang tahun saya. Karena, you said and I quote, saya cuma orang asing yang terpaksa kamu nikahi.”

“Bin, nggak gitu. Aku—”

“Terus, tahun lalu kamu biarin saya nunggu sampai tengah malam cuma buat kamu yang katanya mau ngerayain ulang tahun saya. Tapi, akhirnya, kamu nggak datang.” Soobin melonggarkan dahi yang melingkar di leher. Panas, udara di sekitarnya tiba-tiba saja terasa begitu sesak.

Yeonjun hanya bisa kembali menunduk sambil meremat ujung pakaian yang ia kenakan. Dalam diam, pria itu merutuki kebodohannya. 

Pada saat yang sama, rahang Soobin mengeras. Lelaki itu berusaha mengontrol diri sebaik mungkin supaya tak melakukan sesuatu yang akan disesalinya di kemudian hari. 

And in case you forgot, that night you were too busy hanging out with your friends to reply to any of my messages. Terus, besoknya kamu cuma minta maaf lewat chat dan dengan santainya bilang kalau kamu kelupaan.” 

Satu langkah maju untuk Soobin berarti selangkah mundur bagi Yeonjun. Hal tersebut menimbulkan kepanikan pada pria yang lebih muda kala menyadari bahwa dirinya kini terhimpit di antara dinding dan tubuh tinggi suaminya. 

“Jadi, apa yang berubah, Yeonjun?” tanya Soobin. Suaranya terdengar begitu berat di telinga Yeonjun dan membuat bulu kuduk di tubuhnya berdiri seketika.

Is it because now that I’m your husband, you suddenly feel obligated to celebrate my birthday?” Soobin memiringkan kepala, matanya memicing, sementara tubuhnya condong ke arah Yeonjun.

“Bin, aku minta maaf.” Yeonjun menggeleng panik, tubuhnya gemetar, dan pandangannya mulai mengabur. Tanpa sadar, bulir-bulir air mata mulai berjatuhan membasahi pipinya. “Aku salah. Maafin aku.”

Melihat Yeonjun yang seperti itu, membuat Soobin merasa iba. Ia mundur selangkah untuk dapat memperhatikan suaminya dengan lebih jelas.

Saat mendapati Yeonjun yang terlihat begitu menyedihkan, timbul keinginan untuk memeluknya sambil meminta maaf. Namun, rasa marah dan kecewa yang begitu besar membuat Soobin mengurungkan niat tersebut.

Yeonjun berulang kali mengucapkan kata ‘maaf’ layaknya sedang merapalkan mantra. Sementara, di sisi lain, Soobin merasa amarah yang meledak-ledak membuat napasnya memendek dan jantungnya berdegup semakin kencang.

Tangan Soobin mengepal kuat di sisi tubuh, sekuat tenaga menahan emosi yang makin membuncah.

“Basi.”

Mata Yeonjun membulat seketika. Ia tak pernah mendengar Soobin sedingin ini.

“Aku—” suara Yeonjun tertahan di ujung tenggorokannya yang tiba-tiba saja terasa serak. 

Whatever you’re trying to say, don’t. I don’t care, and I don't wanna hear it.

Dan itu adalah hal terakhir yang Yeonjun dengar dari suaminya sebelum Soobin berlalu pergi menuju kamarnya sendiri.