Actions

Work Header

Stop

Summary:

Stop messing with him if you fucking care about him.—Makomo

*) This is written in Bahasa Indonesia, but you should be able to understand the gist by using translator as it is written in the formal tone kind of style

Work Text:

Apa ekspektasimu ketika ada seorang teman yang sudah lama tidak bertemu, mengajak bertemu lagi?

Senang? Tentu.

Excited untuk membagi kisah hidup? Pastinya.

Namun semua itu pupus ketika jarum jam terus berjalan dan kedatangan teman lama yang kamu nanti-nantikan itu baru muncul di empat puluh menit kemudian dari janji temu awal.

Aku hanya bisa menghela nafas lelah melihat Sabito yang berjalan cepat menghampiri. Padahal dia sendiri yang bilang jangan telat di chat, tapi sendirinya malah ingkar janji. Memang, perkataan laki-laki tidak ada yang bisa dipercaya.

Sabito masih sama seperti yang terakhir kali aku lihat. Toh, kita juga baru bertemu kemarin di kantor untuk membahas janji temu hari ini. Kalau dasar patokannya diubah menjadi ke Sabito di masa empat tahun lalu sebelum dia pergi ke Amerika, ya … tidak juga ada perubahan yang signifikan. Rambutnya masih panjang seperti dulu, dan senyuman karismatik itu tetaplah sama. Secara keseluruhan, Sabito yang sekarang masih lah Sabito yang dulu. Satu hal mencolok yang aku bisa nilai berbeda darinya adalah cara berpakaiannya pada hari ini. 

Sabito adalah tipe orang yang sangat memperhatikan penampilan dirinya sendiri. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, pasti akan ditata sedemikian rapi mungkin agar terlihat presentable, tapi kali ini tidak. Sebab kemeja berwarna biru muda dengan lengan yang digulung sesiku itu terlihat sangat tidak cocok dengan Sabito. Garis lipatan di kemeja itu terlihat sangat jelas yang menandakan bahwa baju itu telah disimpan sedemikian lama di dalam lemari namun baru dipakai. Mengingat Sabito yang perfeksionis, agaknya tidak mungkin kalau dia lupa menyetrika baju itu lagi saat hendak dipakai. Lengan panjang itu juga agaknya sedikit salah kostum mengingat siang hari ini cuacanya cerah sekali, dan mengingat kepribadian Sabito, aku yakin dia pasti akan lebih memilih untuk mengenakan baju berlengan pendek. Dan lagi, kaus dalamannya terlihat lusuh yang sedikit longgar, tanda bahwa kaos itu sebenarnya bukan dalaman, melainkan baju rumahan yang sering dipakai. 

Melihat lehernya yang juga dibubuhi sedikit bercak kemerahan, membuat kepalaku langsung pening seketika saat juga bertanya, “Kamu langsung berangkat dari rumah Giyuu?”

“Iya, mabuk semalam.”

Melihat senyum dan juga tawa malu-malu itu meluncur dari Sabito, aku langsung tidak bisa berkata apa-apa dan hanya menyodorkan pouch make up yang kuambil dari dalam tas.

“Pake foundation, Bit. Have some decency,” kataku sambil menunjuk lehernya.

“Sorry, tadi buru-buru. Makasih, Mo.”

Aku juga menyodorkan cermin yang langsung diterima dengan senyum lebar. 

Haah, mereka masih berhubungan seperti itu, rupanya? Kalau iya, maka aku membutuhkan asupan karbohidrat dan gula dua kali lipat untuk hari ini sebab ada beberapa hal baru dari Giyuu yang harus Sabito ketahui. Setelah Sabito selesai mengaplikasikan foundation, aku langsung saja memesan dua main course sambil berkata, “Hari ini kamu yang bayar.”

“Iya.”

Setelah pelayan pergi untuk memproses pesananku dan Sabito, baru aku kembali bertanya, “Giyuunya ke mana? Ga ikut?”

“Engga, katanya udah ada janji.”

Atas jawaban itu, aku langsung saja mengeluarkan ponsel dan membuka salah satu media sosial, mencari sesuatu diantara banyaknya status yang diunggah, dan berhasil menemukan satu akun yang baru saja memposting status baru, tujuh belas menit yang lalu dengan caption queuing

“Siapa?” Tanya Sabito saat aku juga ikut memperlihatkan unggahan itu padanya, langsung saja membuat mulutku menganga tak percaya karena bisa-bisanya dia tidak mengenali siluet seseorang yang ada di foto itu. 

“Giyuu, Bit.”

Sabito langsung mengambil ponsel milikku dan memperhatikannya dengan seksama—kali ini. Kedua alisnya bertaut tanda bertanya sebelum satu pernyataan yang membuatku tertawa pahit itu meluncur juga. 

“Tapi ini bukan akunnya Giyuu, Mo. Siapa?”

“Sanemi, temen kantor kita juga.”

“Siapa?”

Sabito tetap tidak tahu. 

“Rambut putih. Seruangan bareng Giyuu dan punya bekas luka juga di wajahnya. Hell, aku yakin Giyuu pasti punya scar fetish.”

Sabito mengabaikan pernyataanku yang terakhir karena lebih fokus pada hal lain. 

“Dia ada hubungan sama Giyuu?”

“Musuh pas awal kenal. Rival pas udah kenal. Dan aku yakin Giyuu lagi PDKT sama dia sekarang.”

“Good for him.”

Atas kalimat dengan nada sambil lalu itu, aku kemudian memicing. “Good for… what?”

“Good for him. Giyuu, maksudku. Akhirnya bisa deket sama orang lain juga.”

“Sanemi is an Omega, Bit. The most fine one at that. He's capable at his job and he can make the most delicious food.”

“Wah, aku jadi iri.”

Oh, wow. Jadi Sabito masih merasa bahwa dirinya hanya sebatas sahabat baik Giyuu walaupun dengan semua hickey itu. Tidak bisa dipercaya. 

“Kalau kamu peduli sama Giyuu, then fucking stop messing with him, Bit.”

“Woah! Mo, language please.”

Sabito menaruh tangannya di meja, dengan posisi terbuka dan gesture untuk menyuruhku tenang. 

“Look, I'm happy for him, alright? I miss him and I know Giyuu missed me too, tapi kalau pada akhirnya Giyuu udah punya hubungan sama orang lain dan mutusin untuk ga berhubungan lebih sama aku, gapapa. I'm totally fine with that.”

“The hell you fine with that, disaat Giyuu aja kamu jadiin sebagai pelampiasan stress, Bit. Giyuu ga akan nolak kamu, kamu tahu itu, dan kamu manfaatin kebaikan dia yang satu itu.”

Bersamaan dengan itu, pelayan datang membawakan pesanan kami yang menjadi akhir dari topik itu. 

 

Series this work belongs to: