Work Text:
Kurona tidak sedang merendahkan wajah seperti saat mencuri dengar perkataan buruk mengenai dirinya yang dibeberkan oleh teman kelompoknya dari belakang pintu kelas. Tidak juga menyembunyikan wajah di balik lipatan tangan ketika mencuri waktu tidur saat jam pelajaran berlangsung.
Membiarkan diri tenggelam dalam lamunan tanpa memperhatikan kalimat pada buku acak yang diambilnya dari rak baca perpustakaan dekat rumah, Kurona berusaha terlihat memfokuskan waktu untuk belajar sembari menunggu orang-orang di rumahnya pergi untuk berbagai urusan yang tidak ingin diketahuinya.
Tidak ada suara dalam perpustakaan selain samar-samar kertas yang di balik atau pendingin ruangan di pengujung sore. Ia merasa nyaman, menjadi enggan untuk kembali ke rumah. Mungkin Kurona akan memilih duduk di sini dan menunggu penjaga perpustakaan mengusirnya keluar pada saat jam anak-anak telah selesai, dia masih di bawah umur untuk berkeliaran hingga larut.
“Oh, Kurona Ranze! Halo!”
Pandangan Kurona beralih, kini terangkat datar menuju arah datang suara yang memanggilnya sedikit kencang. Beberapa pengunjung perpustakaan melempar tatapan untuk menegur pemuda berambut gelap yang melempar senyum akrab pada Kurona.
Hiu kecil itu tidak mengenal wajah pemuda yang telah mendudukan diri di hadapannya. Pupil Kurona bergulir, menatap ke arah papan nama yang tersampir rapi pada dada, ‘Isagi Yoichi.’
“Apakah aku mengenalmu?” Ada nada canggung pada suara Kurona ketika bertanya pada Isagi.
Seragam yang digunakan jelas berbeda dengan gakuran milik Kurona, menggunakan kemeja putih dan rompi di sana. Isagi menggelengkan kepala, dia melempar senyum sembari menggerakkan telunjuk di hadapan Kurona.
Kurona menemukan sesuatu yang aneh dari Isagi namun memilih untuk abai. Tidak seharusnya merasa keberatan jika Isagi duduk di sana, lagipula perpustakaan ini adalah tempat umum.
“Kamu tidak masalah jika aku duduk di sini?” Mata bulat Isagi menatap lurus pada Kurona ketika melemparkan pertanyaan yang terlambat itu.
Menciptakan keributan karena hal sepele adalah sesuatu yang merepotkan, maka Kurona memilih untuk mengangguk singkat dan kembali memfokuskan diri pada buku yang diambilnya untuk menghabiskan waktu.
Pada tempat berlawanan, kini Isagi bertopang dagu dan memperhatikan Kurona tanpa berbicara. Waktu sepi antar mereka terjadi untuk dua puluh menit pertama, Kurona merasa kepalanya berdenyut — sulit untuk menemukan pembelajaran menarik terkait dengan bintang-bintang dan tata surya.
Jelas anak seni liberal tidak akan menemui sesuatu yang berbau astronomi dalam kelas, jadi dia sial karena tidak sengaja mengambil buku bintang dan tata surya yang paling tebal dan sulit untuk dipahami olehnya.
Isagi memperhatikan bagaimana dahi Kurona berkerut setiap membalik halaman buku tebal itu. Bahu yang awalnya tegak perlahan mengendur turun, tentu lelah untuk banyak informasi yang rumit.
“Apakah kamu tertarik dengan bintang-bintang?”
Meskipun tahu bahwa Kurona akan kebingungan untuk menjawab pertanyaan, Isagi tetap melempar ketika halaman buku tidak berganti selama lima menit lamanya. Dia melirik ke arah bagian buku yang menulis mengenai bintang — sesuatu yang tepat sebagai topik pembicaraan keduanya.
“Ya? Maksudku, ya kurasa.”
Dia terdengar ragu saat menjawab. Sejujurnya Kurona tidak mengerti seluruh bagian buku. Dia menyesal karena mengambil secara impulsif dibandingkan mencari sesuatu yang mungkin diketahui seperti buku Republik Pluto.
Mata Isagi berbinar, membuat perasaan Kurona menjadi aneh.
“Itu rasi bintang Crux.”
Tangan Isagi beralih pada salah satu gambar pada halaman buku.
“Kruk?” Kepala Kurona sedikit miring, dia tidak dapat menangkap ucapan Isagi dengan benar. Kepangan rambutnya bergerak mengikuti kepala sebelum bergoyang teratur.
Isagi terkekeh, “Bukan Kruk tapi Crux. C-R-U-X.”
Helaian rambut berwarna merah yang muda itu mulai teracak saat Isagi mengusaknya pelan.
“Hei!”
Kurona bersungut tertahan. Pipi pemuda itu merona merah, malu akan kesalahan ucapnya.
“Mereka sangat kecil bukan?”
Mengangguk secara tidak sadar pada ucapan Isagi, tampaknya Kurona mulai menghilangkan rasa canggung yang sedari tadi menelusupnya.
“Mereka, dipanggil Crux? Bagaimana cara kita membedakannya?”
Jari Kurona kini ikut bermain di atas kertas, mulai menunjuk satu per satu titik berwarna terang pada kertas — ada total enam bintang disana.
“Tidak, tentu saja mereka memiliki nama masing-masing.”
Percakapan mereka berlanjut seperti air yang mengalir.
“Yang ini adalah bintang paling cerah pada rasinya Mimosa, disebut juga Becrux. Pada peta biasanya ditulis dengan lambang β. Kemudian yang berjarak sedikit jauh dan merupakan bintang paling cerah keduapuluh tiga adalah Acrux, ini adalah salah satu bintang yang populer dikalangan non-astronom.”
Kurona berdecak dengan anggukkan, “Benar, aku terkadang mendengar orang berbicara mengenai Acrux. Kupikir itu hanya nama yang sering ada dalam permainan peran, ternyata itu nama bintang.”
Kekehan Isagi terdengar kembali bersama dengan ucapan polos milik Kurona. Matanya masih fokus memerhatikan Kurona yang kini menatap penuh binar pada halaman buku, tidak seperti waktu yang lalu.
Tengah kagum atas bintang yang tercetak disana.
“Ini adalah Gacrux atau Rubídea. Ini merupakan bintang tercerah ketiga, dan dapat dilihat langsung pada langit malam.”
“Apakah bintang itu berwarna kemerahan?”
Isagi mengangguk, “Bagaimana kamu tahu?”
“Rubidea adalah bahasa Portugis, artinya yang kemerahan.”
“Bintang ini akan memasuki tahapan untuk menjadi raksasa merah dan ini menunjukkan bahwa bintang ini akan mulai membakar persediaan heliumnya. Maka dari itu disebut sebagai Rubidea.”
“Kemudian, Pálida dan Intrometida. Secara mata telanjang mereka sedikit tersamarkan karena bintang lain memiliki cahaya yang lebih terang.”
Tenang dan tidak memiliki gelisah dalam melemparkan percakapan, Kurona dapat menyimpulkan bahwa Isagi adalah pembicara yang alami. Cukup baik untuk membuka komunikasi baik pada orang yang dikenal ataupun orang yang asing, tidak sepertinya.
“Apakah kamu tidak pulang?”
Secara acak Kurona bertanya, dia melirik jam dinding yang kini menunjukkan pukul tujuh malam. Mereka telah berada di dalam perpustakaan terlalu lama.
“Tidak, aku akan pulang.” Isagi membalas tanpa memindahkan pandangannya dari wajah Kurona dan buku secara bergantian.
“Rasi bintang selalu membentuk pola tertentu dan itu adalah keunikan yang membuatku tertarik. Bahkan mereka memiliki nama yang beragam di belahan dunia. Bukankah itu keren?”
Tahu bahwa Isagi memiliki ketenangan berlebih, namun Kurona terheran — apakah pemuda dihadapannya begitu mencintai rasi bintang sehingga kedua matanya ikut berbinar.
Tapi tetap, dia tidak keberatan. Ikut merasa tertarik untuk mendengarkan hal-hal lain terkait dengan bintang dari belah bibir Isagi.
“Pada masa lampau rasi bintang digunakan sebagai arah. Contohnya saja Crux, rasi bintang ini memberikan arah selatan. Cukup untuk digunakan para nelayan pergi ke laut lepas ataupun petani untuk mengetahui kapan mereka harus menanam dan memanen.”
“Benar-benar keren.”
Kurona tidak menyembunyikan takjub akan penjelasan milik Isagi. Dia bahkan mulai membayangkan bagaimana bintang dapat bersinar di malam hari, sedikit berharap bahwa dirinya dapat melihat.
“Sayang sekali kita tidak bisa melihatnya di sini.”
Mata itu menatap ke arah langit yang kini jingga, terhalang oleh jendela perpustakaan.
“Aku tidak berpikir begitu.”
Isagi mengulum senyum, ikut mengalihkan pandangannya pada langit sore. Matahari sebentar lagi akan menghilang, digantikan oleh Bulan yang kini telah menempati orbitnya.
“Kenapa?”
“Matahari adalah bintang, kita bisa melihatnya.”
Ada jenaka disana, Isagi tertawa kecil diatas wajah yang penuh akan ekspresi tidak puas milik Kurona.
“Maksudku adalah rasi bintang. Kita tidak bisa melihatnya. Kota ini terlalu cerah, tidak pernah mati sehingga bintang tidak dapat terlihat.”
“Kalau begitu kita padamkan saja seluruh kota.”
Suara itu terdengar tenang saat mengungkap ide yang terlewat acak. Pikiran Isagi seolah tak dapat ditebak oleh Kurona, bahkan dia tidak mengambil peduli pada mata yang menatapnya dengan ketidakpercayaan.
“Kamu gila.”
Tidak lagi membalas ucapan Kurona, Isagi justru menarik tangan yang lebih kecil dan membawanya menuju jendela yang tidak jauh dari tempat mereka duduk.
“Rasi bintang itu selalu terlihat walaupun samar jika kita melihat ke arah langit.”
Pupil Kurona membesar, dia terkejut. Ini bukan seperti rasi bintang terlihat dengan jelas, hanya ada guratan samar pada arah selatan — sedikit titik kemerahan serta titik-titik lain disekitarnya, membentuk bangun bujur sangkar.
Crux.
“Cantik.”
Ini adalah kali pertamanya untuk melihat bintang. Kurona tidak pernah memandangi langit secara benar, selalu berpikir bahwa tidak ada yang dapat dilihat disana. Hanya ada hamparan gelap yang tak berujung serta bulan yang kesepian.
“Kamu bisa melihat bintang pada tempat lapang yang tidak memiliki banyak cahaya, seperti bukit di belakang sekolahmu.”
Isagi terkejut saat Kurona menolehkan kepala, menatap dengan binar semangat setelah perkatannya selesai.
“Benarkah?”
“Ya.”
Bibir Isagi membentuk senyuman saat dia mendapati Kurona mengembalikan tatapannya pada langit yang mulai gelap.
“Mau melihatnya bersama? Klub astronomi sekolah kami akan melakukan pengamatan bintang di akhir pekan.”
“Apakah boleh?” Kurona sedikit ragu dengan ajakan dari Isagi. Dia bukan salah satu anggota dari klub Astronomi, mereka berasal dari sekolah yang berbeda, tidak ada alasan untuknya diizinkan datang pada acara klub.
“Tentu saja, aku adalah ketua klubnya.”
Orang yang aneh. Kurona jelas berpikir bahwa Isagi benar-benar aneh, sewenang-wenangnya terhadap klub, orang yang tidak sopan dan mulai berbicara dengannya. Jelas Isagi menganggap semua pembicaraan mereka adalah hal yang ringan, namun Kurona kembali berpikir bahwa ia menerima pembicaraan juga sama anehnya.
“Aku akan ikut.”
Tidak menatap lawan bicara di sisinya dan fokus pada langit, Isagi dapat mengetahui bahwa Kurona memiliki ketertarikan pada rasi bintang di langit.
Memiliki sedikit pengetahuan yang lebih pada astronomi khususnya rasi bintang membuat Isagi memiliki topik percakapan yang berjalan baik bersama dengan Kurona. Dia masih memberikan jawaban akan pertanyaan yang diajukan oleh pemuda dengan kepangan di rambut dalam perjalanan mereka keluar gedung sekolah.
Dalam benak, Isagi tidak dapat menunggu hari dimana dirinya akan melakukan pengamatan bersama Kurona, pula sebaliknya.
