Work Text:
Kim Dokja mampu melihat malaikat di ujung sekarat. Anehnya, ia-yang-digadangkan-membawa-maut tidak terlihat seram melainkan punya paras sungguh mententramkan. Kim Dokja jadi tanpa sadar harap agar kematiannya ditunda barang sehari lagi. Entah kenapa batinnya bergejolak atas alasan yang tak mampu dijelaskan oleh diri. Perempuan tersebut meletakkan kurma di balik jerujinya dan Kim Dokja baru sadar bahwa si Malaikat bukanlah penyabut nyawa. Sekujur jiwanya seketika ditanam kembali di dalam raga tanda tidak jadi pergi. Seraya budak-budak Goryeo—yang turut temani Kim Dokja di dalam penjara—mengagung-agungkan si Wanita sebagai ‘dewi’ akhirnya diketahuilah namanya: Yoo Sangah. Rambutnya sepirang stroberi. Lekuk wajahnya semenawan matahari pagi.
Di mana lagi kutemui surga seperti di matamu? Aku mau kehidupan berakhir di balik senyumanmu. Lagi-lagi, tanpa sembilu.
Tatkala melihatmu, aku tahu,
akhirnya penderitaan doaku
menyentuh langit biru.
Orang-orang yang menggadangkan Timur Tengah seharusnya bersyukur raja-raja mereka tidak melihat berlian murni seperti Yoo Sangah terjebak sebagai budak di tanah mereka. Bila iya, tak dapat dipastikan berapa ribu jin lampu ajaib harus mewujudkan harta agar mampu menebusnya. Adil terpias oleh takdir: Kim Dokja merupakan tawanan perang yang sudah belasan tahun terdampar dari satu orang ke lainnya; sementara Yoo Sangah yang sedikit lebih merdeka mampu kadangkala menyedekahkan roti atau gula. Kedekatan mereka, sebab berbahasa sama, menyulam rasa kasih di antara jalinan cerita bersambung ciptaan Yoo Sangah maupun prosa-prosa dari Kim Dokja.
Aku teringin bebas dari belenggu
agar dapat merdeka mengasihimu.
Entah dari perbudakan, atau justru kehidupan: kumau kita setidaknya dapat berpelukan.
Apa yang bakal terjadi jika keseluruhan langit runtuh? Hal tersebut kerap diandai-andaikan oleh Kim Dokja dan Yoo Sangah. Mungkin jeruji yang selama ini batasi mereka akhirnya roboh dan keduanya dapat seleksa bercengkrama. Sebenarnya untuk apa hidup bila tubuh bukanlah milik diri sendiri? Majikan kikir Yoo Sangah, begitu mengetahui jalangnya menemukan kebahagiaan di tengah kenestapaan ciptaannya, langsung kesetanan nan teramat ingin pisahkan mereka. Kepercayaan tentang harapan telah pupus sejak lama, dibangkitkan kembali, lantas akhirnya hal yang sedang mekar-mekarnya tersebut dibakar hangus tanpa sisa.
والآن سنموت بسبب قصة الحب التي التفت حول أرواحنا
أخبرني أي شاب يستطيع النجاة من داء الحبDan kini kami akan mati karena asmara yang telah melilit seluruh jiwa. Katakanlah padaku, kiranya pemuda mana yang bisa bebas dari penyakit cinta? — Nizami Ganjavi
Tiada air mampu menandaskan dahagaku
selain curahan belas kasih darimu.
Bakarlah seluruh nasibku
di antara garis tanganmu.
Dibuang di kedua sisi padang pasir berbeda bukanlah penghakiman terburuk. Yang paling menyayat hati Kim Dokja adalah kenyataan bahwa di seberang sana Yoo Sangah akan kehausan; bibirnya bertambah pecah-pecah; mata tempat tersiratnya keteduhan itu bisa saja perlahan redup. Diputuskannya untuk menjemput Yoo Sangah dari dunia. Tidak ada manusia dengarkan syairnya di sana; tiada manusia dengarkan ceritanya di situ. Maka setiap butir pasir menjelma oasis di malam hari. Tempat di mana Kim Dokja dan Yoo Sangah akhirnya dapat memadu mesra, dalam naungan bintang-bintang, di sela nafas terakhir keduanya.
Syair-syairnya menyekar hingga peradaban Persia diabadikan dalam tajuk dari cinta si Gila. Cerita-ceritanya membabad telinga hinggap di kisah 1001 malam dan keajaibannya. Tiada orang menahu kisah yang mereka indahkan berasal dari dua orang budak yang tak pandai bertutur kata tetapi berbahasa cinta. []
