Work Text:
Jisoo tahu kehadirannya sudah tidak diharapkan lagi di sini, bahkan Seungcheol dengan santainya menganggukkan kepala sesaat setelah ia menyerahkan surat pengunduran diri. Tanpa waktu lama dan pikir panjang CEO-nya itu mengiyakan permintaan Jisoo, sebelum kembali melanjutkan menandatangani dokumen yang harus diperiksa.
Ia tahu Jisoo masih harus melakukan tugasnya. Termasuk menempelkan beberapa penanda kertas berwarna merah jambu untuk menandai beberapa lembar terakhir yang biasanya terlewatkan Seungcheol. Seungcheol tahu Jisoo tidak akan pernah melewatkan tugas-tugasnya.
“Saya mau mengundurkan diri, Pak,” ulang Jisoo, sengaja mengeraskan volume suara beberapa oktaf. Memastikan Seungcheol bisa mendengarnya dengan benar. Tapi yang ia dapatkan malah anggukan kepala ditambah alis kanan Seungcheol yang naik, menatap Jisoo seolah mengatakan ‘terus?’.
Membuat Jisoo kehabisan kata-kata. Masih menatap Seungcheol dengan bibir setengah terbuka.
“Iya? Terus kenapa?”
Memang kehadirannya benar-benar tidak dianggap oleh bosnya yang paling benar itu. Jisoo hanya bisa menghela napas perlahan dan menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir pikirannya untuk lari keluar gedung perkantoran mewah itu sekarang juga. Entah untuk mengejar transportasi umum untuk kembali ke apartemennya dan tidur guna melupakan segalanya.
Tapi buktinya kakinya masih membeku di tempat yang sama. Seolah menunggu perintah Seungcheol untuk pergi.
“Restoran kesukaan keluarga Bapak sudah dipesan untuk dinner di weekend ini, ya, Pak. Sudah ada di jadwal Bapak,” Jisoo malah melaporkan pekerjaannya, bukannya segera pergi dari mimpi buruknya itu.
“Huh? Buat apa?” alis tebal Seungcheol mengerucut. Rasanya Jisoo ingin ambil pisau cukur dan membabatnya habis.
“Anniversary orang tua Bapak,” jawab Jisoo tenang, perlahan meremas buku catatan di tangannya. Akhirnya ia lega sendiri melihat si Leo itu menganggukkan kepalanya.
“Makasih, saya hampir lupa,” balasnya singkat. Jisoo makin ingin mencukur alisnya.
“Kamu reserve-nya nggak pake saya, kan?” tanya Seungcheol lagi.
“Hanya 2 orang untuk orang tua Bapak,” jawab Jisoo, sudah siap diomeli si Leo itu lagi. Tapi ia malah melihat raut wajahnya lega.
“Untung aja, males saya ditanya nikah terus. By the way, kenapa kamu berani keluar dari kantor saya?” tanya Seungcheol, alisnya naik sebelah. Jisoo bersumpah karyawan dari divisi manapun pernah bergosip tentang Seungcheol yang sempurna, semua itu karena mereka belum bertemu versi setan lelaki itu—versi yang setiap hari ditemui Jisoo.
“Saya ada tawaran pekerjaan lain, Pak,” jawab Jisoo, memilih untuk jujur. Alis Seungcheol makin bertaut mendengar jawabannya.
“Di mana?”
“Black Eye Company. Bulan lalu Bapak ketemu CEO-nya juga,” jawab Jisoo. Tanpa diingatkan pun Seungcheol masih ingat orang yang disebut Jisoo itu.
“Udah lah, nggak usah diambil. Kamu di sini aja sampai saya retired,” Seungcheol terkekeh kecil di ujung kalimatnya. Membuat Jisoo menarik napasnya sebelum mengeluarkan jawaban.
“Terima kasih, Pak. Tapi terhitung hari ini hingga 30 hari ke depan sudah masuk one month notice, ya, Pak.”
Seungcheol hanya membalasnya dengan mengangkat satu alisnya, ancaman Jisoo bukan apa-apa untuknya.
***
Itu hal yang dikira Seungcheol. Tapi tetap saja malam harinya ia menemukan dirinya memikirkan tentang Jisoo.
“Terus gue sama siapa, anjing? Kalo Jisoo udah nggak di sini nasib gue gimana, Won?” Seungcheol makin kesal mendengar kekehan Wonwoo dari seberang telepon. Seolah ia bisa membayangkan lelaki berkacamata itu tertawa meledeknya tepat di hadapannya.
“Ya nggak gimana-gimana. Toh, dia sering kasih hint kalo emang dia udah gamau kerja sama lo. Kerjaan yang lo kasih, tuh, nggak manusiawi semua,” jawab Wonwoo. Pikiran Seungcheol makin rungsing rasanya mengobrol dengan sepupu yang katanya selalu mengutamakan logika itu.
“Terus gue sama siapa, anjing?! Siapa nanti yang dampingin gue ke mana-mana?!” teriakan frustasi Seungcheol sudah tidak dapat ditahan, akibatnya ia bisa mendengar balasan Wonwoo dengan kekehannya yang terdengar mengejek.
“Adaaaa itu entar, sekretaris korporat dulu. Soonyoung apa, ya, namanya? Lupa,” ujar Wonwoo menjelaskan. Ia yakin Seungcheol masih merengut dengan kedua alis tebal bertaut.
“Terus, itu si Black Eye, masih dipegang Mingyu-mingyu yang sok cakep itu?” tanya Seungcheol, Wonwoo terkekeh pelan menyadari Seungcheol masih ingin tahu tentang masa depan Jisoo.
“Iya,” dan jawaban singkat Wonwoo bisa meledakkan semuanya. Alis Seungcheol makin rapat bertautan, ia masih ingat bagaimana CEO perusahaan itu memperhatikan Jisoo dari puncak rambutnya hingga ujung sepatu. Seolah mata jelalatannya kurang jelas untuk mengagumi Jisoo dari kejauhan, ia masih ingat bagaimana perusahaan itu tiba-tiba mengirimkan perwakilan untuk membicarakan kerja sama ke depannya. Tepat setelah pertemuan itu.
“Itu cuma spekulasi lo aja. Dia betah kerja sama gue, Won. Mentalnya cuma kurang kuat,” elak Seungcheol, memvalidasi dirinya sendiri. Tapi bibirnya makin manyun mendengar kekehan Wonwoo.
“Yaudah kalo nggak percaya. Dia kerja sama lu juga tinggal sebulan aja, kan?”
Ibu jari Seungcheol bergerak secepat kilat mematikan sambungan telepon.
***
“Halo? Jisoo? Udah jam berapa ini?! Kok, belum sampai kantor?!” baru Jisoo mengangkat telepon dengan nada dering khusus itu, ia sudah disambut dengan teriakan menggelegar Seungcheol. Matanya belum sepenuhnya terbuka, efek dari obat masih memenuhi indra perasanya.
“Hah? Halo, Pak?” balasan Jisoo rasanya membuat emosi Seungcheol makin tinggi.
“Di mana kamu?”
“Di rumah, Pak. Saya sudah izin cuti hari ini, saya lagi sakit. Ada Soonyoung yang mulai handle, Pak,” tanpa Jisoo harus mengonfirmasi, Seungcheol bisa mendengarkan suara bergetar dan batuk di ujung kalimatnya. Tapi tetap saja ekspresi wajah Seungcheol menunjukkan sebaliknya.
“Di rumah?! Kamu nggak sadar kalo hari ini ada monthly meeting?! Menurutmu masa depan perusahaan ini cuma mainan?!” gertak Seungcheol, meskipun bisa mendengar beberapa bersin dari sambungan teleponnya.
“Maaf, Pak. Persiapan meeting sudah siap semua, Pak. Baru saya konfirmasi katanya pempeknya sampai sekitar 10 menit lagi. Soonyoung udah stand by di ruangan, Pak,” jawaban Jisoo membuat Seungcheol mengernyit.
“Pempek?”
“Iya, kesukaan Bapak sudah saya pisahkan juga. Nanti juga ada teh buat konsumsi masih disiapkan,” jawab Jisoo.
“Teh? Masa saya yang ngurusin semuanya?! Kamu ke sini sekarang juga, Jisoo. Masih ada 20 menit sebelum meeting-nya mulai. Saya mau lihat kamu yang becus ngurusinnya.”
Telepon ditutup, Jisoo masih belum menutup mulutnya. Ia sudah mendengarkan titah diktator Seungcheol, ia hanya bisa menghela napas.
Sabar, tinggal sebentar.
***
Jalannya yang sudah sempoyongan seolah tak dihiraukan si Leo sama sekali. Yang masih sibuk menyerocoskan rencana-rencananya dan memberikan catatan tambahan ini-itu pada Jisoo—yang jadi jauh lebih sibuk.
Sesekali diselipkan omelan mengenai efisiensi waktu dan bagaimana itu adalah uang yang terbuang. Jisoo hanya bisa mengiyakan dan menganggukkan kepalanya, tidak ingin Seungcheol mengomel lebih banyak lagi.
“Minggu depan ke Maratua,” Seungcheol menyisirkan jemarinya pada rambut legamnya, segar di wajahnya seolah berbanding terbalik dengan Jisoo yang sudah pucat pasi.
“Sama Soonyoung, kan, Pak?” tanya Jisoo memastikan, tangannya meremas pena di tangannya.
“Ngapain? Sama kamu aja,” jawab Seungcheol enteng, rasanya Jisoo ingin membenturkan kepala ke meja sekarang juga.
“2 minggu lagi saya resign, Pak,” balas Jisoo, si Leo balas menatapnya seolah mempertanyakan Jisoo. Tentu saja ia tahu.
“Ya, terus?” Jisoo mau menangis keras-keras sekarang.
***
Ingatkan Jisoo untuk bawa air putih ke kamar sebelum tidur, berjaga-jaga kalau ia ingin menangis hingga tertidur. Semesta seolah mendukungnya untuk terus menangis—dan kalau bisa dengan lantang tepat depan Seungcheol.
Yang tentu saja masih segar dengan rambut klimis dan dandanan tampannya, meskipun mereka baru saja diberitahu kemungkinan kapal mereka tidak bisa menjemput mereka kembali ke ibu kota.
“Kira-kira kapan kita bisa pulang, ya, Pak?” Seungcheol hanya melirik sekretarisnya yang bertanya dengan suara setengah bergetar itu. Ternyata ia masih bisa merasa panik juga.
“Seminggu lagi, itu juga kalo ombaknya udah aman,” kaki Jisoo rasanya jadi jeli. Tentu saja berbeda dengan Seungcheol, seolah hidupnya yang selalu tertata tanpa ada hambatan di jalannya.
“Kenapa? Santai aja, Soo,” enteng rasanya bagi Seungcheol untuk mengatakannya, tidak dengan Jisoo yang kepalanya berputar cepat. Rasanya ingin menumpahkan teh panas di tangannya tepat ke wajah tampan Seungcheol, untung saja ia masih punya akal sehat.
“Kerjaan Bapak gimana nanti? Kasian Soonyoung, pasti repot,” kasihan saya juga, Pak. Tapi Jisoo belum cukup nyali untuk mengucapkannya keras-keras.
“Beres, tuh, sama aja, ada atau nggak ada saya,” balas Seungcheol mengedikkan bahu tidak peduli. Dengan santainya menyesap teh panas yang barusan diletakkan Jisoo. Padahal si capricorn itu belum mempersilakannya.
“Udah, kamu tenang aja. Kerjaan selama bisa remote, ya tenang aja. Yang penting di sini nggak pontang-panting.”
Tapi ternyata Seungcheol dan Jisoo salah perkiraan, mereka harus pontang-panting juga di sini.
Mulai dari rumah dinas yang agak jauh dari pemukiman warga, hingga bahan-bahan pokok yang lama-kelamaan harus mereka cari sendiri di pasar. Seungcheol tenang-tenang saja, ada Jisoo yang mengurus semuanya untuknya.
Terutama ada Jisoo yang beberapa kali menemukan Seungcheol seolah punya mimpi buruk dalam tidurnya, dan Jisoo jadi satu-satunya orang yang bisa membangunkannya. Terkadang gumaman Seungcheol terdengar hingga ke dapur, tanda untuk Jisoo harus segera menyelesaikan kegiatannya dan membangunkan atasannya.
“It’s okay… gapapa…” bisikan lembut dari bibir Jisoo ditambah dengan elusan lembut di pipi Seungcheol membuatnya perlahan terbangun. Jisoo duduk di sebelahnya, dengan tangan yang masih mengusap pipi Seungcheol perlahan. Senyumannya menyambut Seungcheol yang masih mengerjapkan matanya.
Jisoo masih mengusap pipi yang lebih tua, masih merasakan gemeretakkan gigi Seungcheol. Badan besarnya meringkuk di balik selimut tipis, dahinya dipenuhi keringat sebesar biji jagung. Mata besarnya mengerjap pelan, baru menyadari kehadiran Jisoo di sampingnya.
“Are you okay?” tanya Jisoo lembut, senyumannya masih di sana meskipun ia merasakan Seungcheol menekankan pipinya pada tangannya. Tapi makin merekah melihat Seungcheol menganggukkan kepalanya.
“Ayo, Pak, makan dulu. Saya udah siapin teh panas sama sarapan buat Bapak,” Seungcheol merasa senyuman Jisoo jauh lebih lebar daripada biasanya.
Jisoo selalu menepati perkataannya. Seungcheol disambut dengan wangi teh kesukaannya dan makanan kesukaannya, nasi hangat dengan telur ceplok ditambah dengan tuangan kecap di atasnya. Melengkapi sarapan untuk Seungcheol mengawali hari.
“Mau ke mana?” tanya Seungcheol, siap menghadang Jisoo yang hendak membeli keperluannya di pasar.
“Mau ke pasar, Bapak ada nitip?” pertanyaannya malah dibalas pertanyaan. Cukup untuk membuat alis Seungcheol bertaut.
“Saya ikut.”
***
Seungcheol kira ‘pasar’ yang dimaksud Jisoo tidak akan sejauh ini. Sudah lebih dari 30 menit mereka berjalan kaki tapi belum ada tanda-tanda kehidupan pasar yang dinantikan si Leo. Tapi Jisoo di sampingnya masih berjalan santai dengan sesekali mengecek jam tangan pintar di pergelangannya.
“Kamu ini sekalian latihan lari maraton?” tanya Seungcheol, menahan napas tersengalnya. Dan hal itu cukup membuat si capricorn tertawa menyadari alasan bosnya sejak tadi hanya diam saja hingga suaranya tersengal.
“Emang gini, Pak. Makanya saya nggak pernah ajak-ajak,” balas Jisoo, terlampau santai untuk seseorang yang mengurus Seungcheol dan hidupnya sendiri. Si Leo ingat perkataan Wonwoo kalau jadi sekretaris cukup melelahkan, apalagi jika menjadi sekretaris Seungcheol. Tapi melihatnya terlampau santai begini Seungcheol jadi pikir-pikir lagi.
“Tiap hari kamu jalan sendiri?” tanya Seungcheol, ternyata menghabiskan berjam-jam di pusat kebugaran belum apa-apa. Ia malah makin kesal mendengar kekehan kecil Jisoo.
“Ya nggak tiap hari, kadang ikut warga numpang mobilnya. Kadang juga sekalian belanja banyak, atau nungguin tukang ojek,” jawab Jisoo santai. Membuat Seungcheol ingin menepuk kepalanya sendiri mendengar jawaban enteng lelaki itu.
“Ojek?” tanya Seungcheol, Jisoo sekali lagi terkekeh karena nada terkejutnya.
“Iya, tapi tadi belum dateng pas kita lewat sana.”
Seungcheol ingin pulang sekarang juga.
***
Malam harinya, Seungcheol makin ingin pulang. Kembali ke kasurnya yang empuk, ia hanya bisa rasakan nyeri di kakinya. Tangannya tidak berhenti memijat pergelangan hingga tumitnya sendiri, sesekali meringis kecil. Dalam hatinya merindukan kursi pijat di kamarnya, yang beberapa hari terakhir belum ia jamah.
Ia masih memikirkan itu hingga mendengar ketukan di pintu kamarnya, disusul dengan suara Jisoo memanggilnya.
“Masuk aja, Soo,” balas Seungcheol, kemudian melihat Jisoo mendekatinya dan duduk di tepi tempat tidurnya.
“Sini kakinya, Pak,” kata Jisoo, mengisyaratkan agar Seungcheol mengulurkan kakinya. Permintaannya dituruti dengan ragu-ragu oleh si Leo, yang ujungnya menurut saja. Ia bisa lihat Jisoo meletakkan sebotol minyak kutus-kutus di sampingnya, setelah mengeluarkan beberapa tetes minyak di telapaknya. Perlahan membalurkan minyak beraroma itu di kaki Seungcheol, dengan sesekali memberikan pijatan lembut berusaha meredakan ketegangan otot kaki si Leo.
Aroma minyak kutus-kutus menyebar di antara mereka, keheningan menyelimuti mereka. Seungcheol diam saja sibuk memperhatikan Jisoo yang fokus membalurkan minyak pada kakinya.
“Masih sakit?” suara lembut Jisoo menyadarkan lamunannya. Ia jadi menggelengkan kepalanya canggung.
“Udah mendingan,” jawab Seungcheol, Jisoo tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya.
“Saya mau ambil air buat besok pagi. Mungkin sarapannya agak telat,” pamit Jisoo, Seungcheol menatapnya bingung dengan alis bertaut.
“Ke mana?” pintanya mengulang.
“Ambil air,” ulang Jisoo, tidak memedulikan tatapan aneh Seungcheol padanya.
“Bapak jangan ikut, nanti kakinya malah sakit lagi.”
Seungcheol ingin pergi sekarang juga.
***
Entah sudah berapa kali Seungcheol melirik jam tangan mahal di pergelangan tangannya. Matanya sesekali tertuju pada pintu yang masih tertutup rapat, mengharapkan sesegera mungkin Jisoo muncul di bawah daun pintu dengan senyumannya yang mengganggu.
Tapi hingga kali sebelas Seungcheol mengecek jam tangannya—dan masih berjarak 15 menit dari yang pertama kali, lelaki cantik itu belum muncul juga.
Kaki Seungcheol bergerak tidak nyaman makin cepat. Alisnya bertaut hingga tangannya mengetuk cepat layar ponselnya—sesuatu yang jarang dilakukan sebelumnya. Matanya awas terus melirik pintu yang masih tertutup, jendela di sampingnya menunjukkan langit mendung yang siap tumpah ruah kapan saja.
“Tok! Tok!” mata Seungcheol membulat melihat pintu yang diawasi terayun pelan, dan ada sosok Jisoo di sana. Poni lepeknya menempel di kening, bajunya berantakan dengan beberapa bercak basah. Tapi masih ada senyum di bibirnya, menyapa Seungcheol, yang sudah berdiri di hadapannya.
“Dari mana?”
“Dari ambil air. Kan, tadi saya udah bilang, Pak?” jawab Jisoo, perlahan tangannya meraih daun pintu untuk menutupnya kembali. Seungcheol tenang-tenang saja hingga ia melihat Jisoo meringis kecil dengan cepat merubah posisi tangannya. Ia melihat sekelebat kemerahan dari tangan yang lebih muda.
“Kenapa kamu?” tanya Seungcheol, gerakan lebih cepat dari Jisoo yang hendak menarik tangannya. Ia bisa melihat sobekan lumayan dalam di sana, dan ringisan Jisoo karena ibu jari Seungcheol mengelus kulit tangannya hati-hati.
“Gapapa ini, Pak. Cuma kena tali tadi waktu ambil air, kegesek,” jawab Jisoo, menatap canggung Seungcheol yang seolah tak percaya perkataannya.
“Tadi airnya hampir abis, jadi saya balik lagi,” lanjut Jisoo, rasanya mata bulat Seungcheol memanas. Tanpa ia sadari air mata meluruh dari matanya, membasahi rahang tegasnya.
“Kamu, tuh, kenapa nggak bilang saya? Duduk dulu saya cari P3K,” tangan Seungcheol perlahan mendorong bahu Jisoo untuk duduk di kursi terdekat. Sedangkan kakinya secepat kilat menyusuri rumah sederhana itu. Hanya untuk membuatnya makin panik hingga gagal menemukan obat untuk tangan Jisoo.
Hasilnya ia hanya mengusap sekitarnya dengan tisu untuk membersihkan luka. Menempelkan plester yang diberitahu Jisoo ada di tasnya.
“Gapapa ini, Pak. Cuma lecet biasa aja. Saya pernah waktu cuti tipes Bapak suruh saya dateng, saya tetep dateng,” kata Jisoo enteng, senyuman kecil di bibirnya membuat gerakan Seungcheol terhenti sejenak. Hanya tinggal melepaskan penutup plester dan merapikannya, tapi tangan Seungcheol terhenti di udara.
Perlahan ia jatuh berlutut di depan Jisoo yang duduk di kursi, tangannya masih menggenggam tangan Jisoo yang bahkan belum tertekuk. Membuat Jisoo terbelalak dengan tingkahnya yang seolah tidak sadarkan diri.
“Saya minta maaf, Soo. Maaf nggak pernah ngehargain apapun yang kamu lakuin.”
Mata basah Seungcheol yang terus keluarkan air mata tentu saja membingungkan Jisoo. Mata yang biasanya menatapnya tegas tanpa rasa kasihan sedikitpun, kini berkaca-kaca menatapnya. Dengan air mata yang terus melintasi pipinya.
Remasan lembut tangan Seungcheol di telapaknya menyadarkan lamunannya. Seolah menunjukkan rasa bersalahnya hingga meminta maaf berlutut di hadapannya.
Ini pertama kalinya Jisoo melihat sisi lemah Seungcheol dan ia tidak mengerti harus apa.
***
Semalam suntuk mata Seungcheol gagal terpejam, teringat perkataan Wonwoo 2 minggu lalu dan Jisoo semalam. Masih memikirkan apa yang harus dilakukan untuk menebus segala dosanya selama ini. Tanpa terpejam memikirkan ia harus bisa mengurangi beban yang dipikul bahu kecil Jisoo, yang selama ini dibuat sendiri.
Ia jadi impulsif melangkah ke dapur pukul 5 tepat. Di saat ayam jantan tetangga berkicau untuk yang pertama kali, kompornya sudah menyala dengan tekad membuatkan sarapan untuk Jisoo.
“Bapak repot-repot…” mata teduh Jisoo bahkan sudah menyabit melihat makanan tersaji di hadapannya. Tidak tega melihat Seungcheol yang berkantung mata seolah tidak tidur semalaman—padahal memang iya, ia jadi menyendokkan makanan yang katanya oseng sayur itu ke mulutnya.
“Enak?” tanya Seungcheol antusias. Jisoo tersenyum kecil, menganggukkan kepala dan mengacungkan jempol. Padahal berusaha keras menelan makanan di kerongkongannya.
“Saya udah ambil air tadi, kamu bisa mandi tenang,” kata Seungcheol, dengan senyum lebarnya membuat mata Jisoo membulat.
“Bapak tau tempatnya?!”
“Tau, tadi nanya warga.”
Oseng sayur di kerongkongan Jisoo mendadak tidak terlalu asin lagi, ia bisa makan dengan tenang.
Tapi seharian Jisoo dibuat bingung dengan tingkah Seungcheol yang berubah total. Mendadak ia sibuk sendiri membersihkan rumah, menyuruh Jisoo duduk diam menonton televisi, atau menyelesaikan pekerjaannya sendiri.
Tapi Jisoo menurut saja. Bahkan Seungcheol yang mengetuk pintu kamarnya memberitahukan makan siang sudah siap—karena Seungcheol yang mengusirnya dari dapur. Ia sudah siap dengan kreasi apa yang dibuat si Leo.
Hingga ia pikir kejutan hari ini sudah selesai, tapi semesta seolah berkata lain. Hujan deras menyerbu kediaman sementara mereka, terutama kamar Jisoo yang jadi korbannya.
Kamarnya bocor dan membasahi tempat tidurnya, mau tak mau ia harus tidur di sofa ruang tamu. Bahkan ia sudah siap dengan selimutnya ketika Seungcheol menatapnya dengan alis hampir menyatu.
“Kamu tidur di kamar saya aja. Biar saya yang di sini,” katanya tegas.
“Gapapa, Pak—”
“Nurut.”
Keputusan Seungcheol final. Barang Jisoo dibawa ke kamarnya dan selimutnya dibawa ke sofa. Jadilah Jisoo yang tidur dengan nyaman di kasur berukuran besar ini, sendirian. Ia bisa cium wangi parfum Seungcheol tertinggal di eprai.
Sedangkan suara hantaman air di atap dan petir bersahutan mengganggu tidurnya, pikirannya berkecamuk memikirkan Seungcheol di ruang tamu.
Tidur di kasur ini saja ia tidak nyaman, apalagi di sofa kecil dengan selimut tipis. Belum lagi nyamuk ganas yang rasanya berukuran 3 kali lebih besar dari biasanya.
“Pak…” setengah berbisik Jisoo berusaha membangunkan Seungcheol yang tenang tertidur. Tidak tega meninggalkan bosnya tidur meringkuk di sofa yang lebih pendek dari tinggi badannya, perlahan ia menjulurkan tangannya mengelus pipi Seungcheol. Ia menghela napas lega merasakan si Leo yang menekankan wajahnya di sana, sebelum akhirnya mengerjapkan mata menatap Jisoo yang ada di hadapannya.
“Tidur di kamar aja, Pak. Petirnya berisik,” bisik Jisoo, membuat Seungcheol menautkan alisnya.
“Terus kamu gimana?” Seungcheol malah balas bertanya.
“Nggak apa-apa, Pak. Masih luas kasurnya.”
Dan akhirnya kasur besar itu dipenuhi Seungcheol dan Jisoo. Hujan makin deras, dan petir terdengar bersahutan. Jisoo yang tenggelam dalam pikirannya sendiri terhenyak merasakan lengan Seungcheol menempel pada miliknya.
Sebelum ia menoleh tangannya sudah ditarik si Leo, diletakkan di pipinya hingga mengusap alis tebalnya dengan jemari Jisoo. Sedang tangan kanannya meraih pinggang Jisoo untuk dipeluk erat, seolah tidak ingin melepaskannya.
“Dingin,” alasan Seungcheol dengan mata terpejam, sebelum Jisoo mempertanyakan segalanya dan menarik tangannya.
“I-iya, Pak. Dingin,” balasan yang bodoh, tapi tetap saja jemari Jisoo bergerak sendiri mengelus alis tebal Seungcheol. Meskipun kedua tangannya sudah menarik pinggangnya makin dekat. Hingga tidak ada jarak terlihat di antara mereka.
“Di sini aja, ya? Dingin.”
Jisoo menganggukkan kepalanya canggung, padahal Seungcheol juga tidak bisa melihat itu. Sambil berdoa semoga Seungcheol tidak bisa mendengar detak jantungnya yang berdentum beberapa kali lebih cepat daripada biasanya, meskipun wajah Seungcheol terletak terlalu dekat dengannya.
***
Beberapa hari menuju hari terakhirnya bekerja untuk Seungcheol. Tapi atasannya itu malah memperlakukannya dengan sebaik yang bisa ia kira—terlampau baik malah.
Meskipun dengan masakannya yang seolah ingin Jisoo diare setiap hari, setidaknya ia sudah izinkan Jisoo untuk campur tangan di dapur sesuai keinginannya. Masakan Seungcheol jadi bisa diselamatkan.
Tapi tetap saja apapun yang dilakukan Seungcheol rasanya menjadi beban untuknya. Meskipun ia tinggal mengucapkan terima kasih dan si Leo itu akan tersenyum lebar seolah perusahaannya baru saja dapat persetujuan dengan tawaran bagus.
Seungcheol melakukan apapun untuk Jisoo tanpa tunggu lelaki itu angkat jemarinya. Jadi Jisoo yang diurusi Seungcheol rasanya, bukan sebaliknya seperti biasa.
“Soo, tolong itu ikannya dibalik, ya. Mama saya telepon,” Jisoo menganggukkan kepalanya. Seungcheol mengangkat teleponnya di ruang tamu, ia hanya bisa dengar beberapa kata ‘belum ditanyain’, ‘nanti’, dan beberapa kali mengiyakan cepat-cepat. Jisoo tidak ambil pusing, sebentar lagi tugasnya berakhir bersamaan dengan kembalinya ke kota.
Ikan di penggorengan yang dikelilingi minyak panas jauh lebih menarik untuk diperhatikan daripada mendengarkan percakapan Seungcheol dengan ibunya. Hingga Jisoo tidak sadar lelaki itu sudah berdiri tepat di sampingnya.
“Soo, nikah sama saya, yuk?”
“HAH???” suara Jisoo hampir terdengar seperti teriakan. Kalau bukan refleksnya yang cepat, mungkin spatula panas di tangannya sudah terjun bebas.
“Saya suka sama kamu. Nikah sama saya, ya?”
***
Setelah dikejutkan dengan ‘lamaran’ mendadak dan makan malam ikan goreng yang setengah gosong, Jisoo masih dihadapkan dengan Seungcheol yang menantikan jawabannya. Pintu kamarnya diketuk dan ia merangsek masuk, meskipun Jisoo sudah mengatakan ia mengantuk.
“Saya berpotensi buat jadi suami kamu, nggak?” tanya Seungcheol, mata bulatnya kembali melembut seperti di hari di mana tangan Jisoo terluka—seolah mau menangis. Buat Jisoo salah tingkah sendiri, gelagapan sendiri memikirkan jawaban apa yang akan dilontarkan.
“H-hah?” hanya itu suara yang bisa dikeluarkan dari mulut Jisoo.
“Ada potensi? Buat saya?” ulang Seungcheol. Malah sekarang ia meluruskan pandangan dengan Jisoo dengan berlutut sekali lagi di depan lelaki muda itu. Mata Jisoo yang berputar mencari kebenaran pertanyaan Seungcheol terasa dikunci dengan tatapan tajamnya.
“Hah?!”
Untung saja wajah terkejut Jisoo terlampau lucu di mata Seungcheol. Senyum kecil muncul di bibir tebal si Leo, tertuju tepat pada Jisoo yang masih terkejut.
“Saya maunya sama kamu aja, Soo. Jadi punya saya, ya?”
Jisoo kira Seungcheol serba buru-buru hanya untuk pekerjaannya. Tapi ternyata ia juga buru-buru untuk keinginannya pada Jisoo.
“P-Pak, boleh saya pikir-pikir lagi, nggak, ya?” gelagat Jisoo yang terbata membuat Seungcheol mengernyit.
“Nggak bisa jawab sekarang aja? Minggu depan kita mulai siap-siapin ruangan sama attire.”
Kan.
***
Seungcheol masih menggunakan kekuatannya untuk Jisoo, bahkan hingga sekarang. Dengan menyuruh si capricorn duduk diam tidak melakukan apapun. Membiarkan Seungcheol melakukan semuanya di rumah itu, seolah membuktikan ia juga bisa.
Jisoo hanya melihat Seungcheol dari sofa, dengan ponsel atau buku di tangannya—yang diambilkan Seungcheol juga. Dan sesekali menunjukkan bagaimana caranya yang lebih efektif dalam melakukan pekerjaan rumah.
Ia masih duduk diam hingga pertanyaan terbersit di pikirannya.
“Bapak buru-buru nikah?” tanya Jisoo, seolah pembahasan itu tidak buat jantungnya seperti mau meledak. Tapi jantungnya berdetak kencang melihat si Leo balas menatapnya.
“Iya, Mama udah nyuruh terus. Katanya udah tua,” jawabnya, padahal Jisoo tahu betul orang tuanya sudah menyuruhnya sejak 3 tahun lalu.
“Kenapa saya, Pak?”
Seungcheol menghentikan pekerjaannya, menatap Jisoo seolah ia sudah tahu jawabannya.
“Menurut saya, orang yang punya kamu akan jadi orang paling beruntung sedunia. Kamu mau ngelakuin apapun untuk saya, pasti lebih lagi kalo buat suami, kan? Saya lagi coba peruntungan saya buat jadi orang beruntung itu.”
Jisoo memutuskan kontak mata mereka, perlahan merasakan pipinya memanas. Makin panas mendengar kekehan kecil Seungcheol makin dekat, lelaki itu kembali menghampirinya.
“Apa saya beruntung, Soo?”
Jisoo masih tidak mau menatap Seungcheol yang perlahan meraih tangannya. Ia bisa merasakan elusan lembut di punggung tangannya.
“Saya buatkan perfumery class buat kamu nanti pas kita balik, ya? Kamu resign nggak usah lanjut kerja, sama saya aja, ya?” Mata Jisoo membulat. Tahu dari mana Seungcheol tentang mimpi-mimpinya mengikuti kelas yang selama ini hanya ada di daftar keinginannya itu. Tapi senyuman Seungcheol masih memenuhi kepalanya.
“Mau, ya?” Jisoo menganggukkan kepalanya perlahan. Seolah senyuman Seungcheol menghipnotisnya untuk mengiyakan.
Hal ini berbahaya. Senyuman lebar dan mata teduhnya bisa jadi alasan Jisoo mengiyakan semuanya.
