Chapter Text
Suasana pagi itu terasa dingin. Dingin yang menenangkan, yang membuat badan terasa enggan untuk bergerak.
Kamar tidur masih gelap hampir sepenuhnya, hanya sedikit cahaya dari luar yang menyelinap lewat celah tirai yang bergoyang pelan dihembus angin. Cahaya tipis itu jatuh samar di tepi kasur, tidak cukup untuk menerangi ruangan, hanya memberi garis lembut pada sprei putih.
Karmen masih terlelap di dalam selimut, memeluk guling seperti belum rela melepaskannya. Ia mulai terbangun ketika suara gaduh dari dapur terdengar samar. Dahinya mengernyit. Kelopak matanya berat. Tubuhnya masih ingin tetap tidur. Tangan Karmen sempat meraba sisi kasur sebelahnya. Kosong. Hangatnya pun sudah hilang.
Suara langkah kaki muncul di koridor. Pintu kamar terbuka sedikit, lalu terbuka penuh. Saklar ditekan. Klik. Cahaya lampu langsung mengisi ruangan.
"Terang banget, sayang…" Karmen menggerutu sambil meringkuk. Wajahnya ditenggelamkan ke bantal.
Alya tersenyum kecil di bingkai pintu, sambil menahan tawa. Ia melangkah masuk, mendekat ke ranjang lalu duduk di tepi kasur. Tangannya mengusap pundak Karmen pelan, lembut seperti membangunkan anak kecil.
"Maaf ya. Kan kamu yang minta dibangunin pagi. Katanya ada meeting jam sembilan." suaranya tenang, hangat.
Karmen mengangkat kepala sedikit. Mata terbuka sebelah, suara serak. "What were you doing in the kitchen?"
"Masak nasi goreng kesukaan kamu." jawab Alya. Lalu ia mencondongkan tubuh, mulutnya dekat telinga Karmen. "Buruan bangun. Nanti keburu aku abisin."
Senyum muncul di wajah Alya sebelum ia berdiri. Saat melangkah pergi, tangannya menepuk bokong istrinya sekali, iseng. Karmen terkekeh spontan, lalu menguap panjang sambil meregangkan tubuhnya sebelum akhirnya mulai beranjak bangun dari kasur.
Karmen berjalan menuju ruang makan, pakaian kantornya terlihat rapi, dandanannya sederhana. Ketika berjalan di koridor, aroma nasi goreng langsung menyapa hidungnya. Alya sudah duduk lebih dulu, makan sambil scrolling layar ponselnya pelan.
Di meja, semangkuk nasi goreng masih mengepul.
"Hmm, smells so good. Did you put sambel terasi in it?" tanya Karmen sambil mengambil piring dari rak.
Alya menggeleng, meneguk air. "We're all out of sambel. Jadi tadi aku pake bumbu instan. Semoga masih seenak biasanya, ya."
Karmen mendekat, tersenyum. "Apapun yang kamu masak pasti enak di lidah aku." Ia menunduk mencium kepala Alya sebentar, lalu mengambil centong dan menyendok nasi goreng ke piringnya.
Alya memutarkan mata, tapi senyum kecilnya tetap muncul.
Karmen duduk di seberangnya. Kursi sedikit berderit ketika ia menariknya.
Sambil mengetik di ponselnya, Alya bertanya tanpa mengangkat kepala, "Men, kamu jadinya kapan ambil cuti?" Baru setelah itu ia menatap Karmen.
Karmen mengunyah dulu, menelan, lalu berkata, "I was thinking pertengahan bulan depan? Acara Daniel akhir Agustus, kan? Kita gak mungkin cuma seminggu di Jakarta. Daniel pasti butuh bantuan kita juga."
Alya mengangguk pelan. "Iya. Aku cuma mau pastiin aja. Kan harus kasih notice ke klinik juga. Kasian klienku kalo aku mendadak ngilang."
Karmen tertawa kecil sambil menyendok nasi di piringnya. Ia lanjut menjawab, "Ya, paling pertengahan bulan, lah." ujar Karmen. "Two to three weeks in Jakarta should be fine."
"Oke. Gak ada fitting baju buat keluarga, kan?"
Karmen menggeleng. "Enggak. Daniel males nyeragamin keluarga. 'Pake apa aja, yang penting senada', katanya." Karmen tertawa kecil, mengingat ekspresi Daniel ketika bilang itu.
Alya menatap Karmen sambil menggeleng kecil, senyumnya muncul.
"Gak adek, gak kakak, sama aja kalian. Gak mau ribet. Padahal acara nikahan sendiri."
Karmen mengangkat bahu santai, senyum tipisnya bertahan. "Ya gimana. Emang gak suka yang ribet-ribet."
Alya tertawa pelan, kembali menyendok makanannya.
Percakapan pagi hari mengalir santai. Mereka lanjut makan sambil membahas hal ringan. Rumah terasa tenang. Hanya sesekali terdengar suara mobil lewat di jalan depan rumah dan alunan lagu pelan dari radio ruang tengah.
Cahaya pagi mengisi ruang makan dan ruang tengah. Sinar matahari masuk melewati jendela, memantulkan cahaya hangat di dinding putih gading. Furnitur kayu memberi kesan nyaman. Sofa krem menghadap televisi, di sekitarnya ada tanaman indoor yang membuat ruangan terasa segar.
Beberapa foto keluarga terpajang di dinding. Ada foto dengan teman-teman semasa SMA, foto jaman mereka pacaran, foto pre-wedding, dan juga foto pernikahan bersama keluarga dan sahabat.
Di rak TV, hiasan kecil tertata rapi. Tanaman mini di pot putih. Pen holder warna kayu berisi alat tulis serta sebuah bendera kecil bergaris warna oranye gelap hingga merah jambu tua. Dan satu bingkai yang selalu membuat Alya tersenyum setiap kali melihatnya. Foto pertama mereka sebagai keluarga. Karmen menggendong bayi mungil itu. Alya bersandar di pundaknya di samping. Keduanya tersenyum ke arah sang bayi, wajahnya penuh haru.
Keheningan pagi itu terpecah oleh teriakan kecil dari kamar ujung koridor.
"Ibuuuuuuuuu!" Suaranya serak, masih terpendam dari balik pintu.
Karmen dan Alya spontan mendongak, saling pandang lalu tertawa.
Karmen memiringkan kepalanya sedikit ke arah koridor. "Someone's calling you."
Alya tersenyum kecil sebelum berdiri sambil mengembus napas pendek, membetulkan sedikit rambut yang jatuh di bahunya, lalu berjalan menyusuri koridor.
Karmen kembali ke piringnya. Ia mengambil satu suap, lalu menaruh sendok dan meraih ponselnya. Jempolnya bergerak cepat di layar, tubuhnya sedikit menunduk ke meja.
Tak lama, jejak kaki Alya terdengar kembali. Karmen menoleh. Alya muncul sambil menggendong Noah, satu lengan menyangga punggung kecil itu, satu lagi menopang bawah tubuhnya. Noah memeluk leher Alya setengah sadar. Rambut ikalnya yang sedikit gondrong berantakan, kulit sawo matangnya terlihat kontras dengan piyamanya yang bermotif mobil berwarna merah, matanya yang bulat masih sayu karena kantuk.
Alya menempelkan bibir ke kepala Noah sebentar, lalu mengayun tubuh kecil itu. "Tuh, Mama's awake. Coba bilang, good morning, Mama."
Noah mengusap matanya dua kali dengan kepalan tangannya. Lalu melongok ke arah meja makan.
"Good morning, Mama," gumamnya. R nya masih cadel.
Karmen langsung meletakkan ponsel. Senyumnya naik begitu saja.
"Good morning, handsome."
Noah merentangkan tangan ke arah Karmen. Alya menggeser posisi Noah di pinggulnya, lalu memiringkan tubuh anak itu ke arah Karmen. Karmen menyambutnya dan menarik Noah naik ke pangkuannya. Noah duduk stabil, tangannya sempat melingkar di leher Karmen sebentar sebelum ia bersandar nyaman di dada Mamanya.
Karmen mencolek hidungnya. "Ini ya, tersangka yang bikin Mama tidur kemaleman."
Noah tertawa manja. Tangannya naik ke pipi Karmen, menepuknya pelan dengan jari-jari mungilnya.
Alya duduk di kursi samping Karmen, ikut tersenyum melihat interaksi kecil itu. Ia menyibak rambut Noah yang menutupi mata, wajahnya terlihat geli.
"Emang kamu disuruh ngapain sih sampe baru masuk kamar jam satu?" tanya Alya.
Karmen memutar sedikit badannya agar Noah bisa bersandar lebih nyaman.
"He asked me to read him a bedtime story like… five times."
Alya mendongak, alisnya terangkat sebelah. "Was it the one with the superhero cats?"
Karmen mengangguk sambil mengusap punggung Noah pelan.
"Yup. His favorite. Setiap aku tutup bukunya, dia langsung kayak… 'Mama, lagi'." Ia menirukan ekspresi memelas Noah, lengkap dengan bibir manyun. Noah menatap Karmen pelan, lalu menyender lagi sambil menguap.
Alya tertawa pendek, tangannya masih mengelus lembut rambut ikal Noah.
"Alesan aja itu. Dia cuma mau ditemenin kamu."
Karmen mengayun badannya sedikit di kursi. Gerakannya membuat Noah ikut bergoyang. Karmen lalu menunduk, menghirup lembut rambut Noah.
"Eh, iya." Karmen menoleh. "Kamu bisa ngedrop dia di daycare nggak? Aku gak sempet, Al."
Alya meraih gelas airnya, memutarnya kecil sebelum minum. "Bisa kok. I don't have any appointments until eleven. Jadi aku bisa ngedropnya."
Karmen menatap Noah lagi.
"Noah, Ibu is taking you to daycare today, okay? Mama has to go to work soon."
Noah mengangkat wajahnya.
"Mama buy Noah ice cream?"
Alya menaikkan alis, sebelum akhirnya alisnya mengerut ke bawah, bingung. "Hah? Kenapa tiba-tiba es krim?"
Karmen menepuk dahinya dengan telapak tangan. "Astaga." nadanya lelah. Ia menoleh ke Alya, "Semalem aku negosiasi sama dia. Aku bilang kalo tidurnya cepet, besoknya dibeliin es krim."
Alya bersandar ke kursi, menyilangkan tangan. "Duh, kebiasaan kamu, Men. Negosiasinya selalu pake es krim."
"Masih mending daripada aku janjiin mainan," ucap Karmen.
Noah langsung menegakkan badan. Matanya melebar sedikit mendengar kaya di ujung kalimat itu.
"I want mainan." ujarnya sambil tersenyum lebar, matanya berbinar.
Karmen menutup mata sejenak, bibirnya telipat.
Alya menatapnya datar, tapi sambil menahan tawa. "Kan. Tuh. Tanggung jawab, ya."
Karmen menunduk, mencium kepala Noah. Ia memeluknya erat sambil tertawa kecil.
"I forgot how big you are now."
Setelah itu Karmen melepas pelukannya perlahan. Kedua tangannya naik menangkup pipi Noah. Anak itu mendongak, matanya mengedip menatap wajah Mamanya.
"Kamu udah ngerti ya kalo Mama sama Ibu ajak ngobrol?"
Noah mengangguk sambil tersenyum. Lekukan senyumnya sangat mirip dengan Alya di mata Karmen.
Alya terkekeh, meraih tangan Noah dan mencium punggungnya.
"Nanti kalo minta mainan tanya Mama lagi ya. Ibu nonton aja dari jauh."
Karmen mengerutkan hidungnya, pura-pura jengkel. Tawa yang ditahan akhirnya terlepas di meja makan itu. Noah kemudian menyandarkan kepalanya lagi ke dada Karmen. Karmen memeluknya lebih erat, mengusap punggung kecil itu naik turun dengan lembut.
Terbang selama delapan belas jam dengan transit dua jam bersama anak dua hampir tiga tahun jelas bukan hal mudah.
Walaupun Noah bukan bayi lagi, persiapannya tetap banyak. Mainan kecil dan makanan ringan dimasukkan ke tas, baju ganti dilipat rapi, headphone diletakkan di dalam ransel. Semua ditata rapi oleh Alya.
Ini juga pertama kalinya mereka mengajak Noah terbang sejauh itu. Penerbangan antar benua. Berjam-jam di udara. Tanggung jawab besar. Dan Karmen, sejak beberapa hari terakhir, sudah gelisah sendiri.
Malam itu kamar utama terasa sibuk. Koper besar dibiarkan terbuka di lantai, pakaian menumpuk di sekelilingnya. Dua koper cabin berdiri di dekat lemari. Noah mondar-mandir di antara barang-barang itu, lalu memanjat salah satu koper cabin sambil mendorong tubuhnya ke depan.
Alya menoleh cepat. "Jangan dinaikin kayak gitu, sayang. You're gonna fall and hurt yourself." Suaranya lembut, tapi tetap tegas.
Noah turun pelan-pelan, menggumam kecil sebelum beralih ke mobil-mobilan di lantai.
Alya kembali fokus pada ransel dinosaurus milik Noah. Ia memasukkan mainan satu per satu, memastikan semuanya muat. Sesekali ia menggoyang ransel untuk mengecek beratnya.
Karmen duduk bersila di lantai dekat koper besar. Ia mengambil tumpukan baju Noah dari sisi kasur, lalu melipatnya satu per satu. Tangannya rapi dan telaten. Sesekali Karmen menepuk-nepuk baju kecil itu, memastikan tidak ada lipatan yang aneh. Tapi ekspresinya tampak sedang berpikir keras. Pipinya menggembung, wajahnya penuh keraguan.
"Apa kita gak usah dateng, Al? Aku takut Noah rewel pas terbang." ucapnya. Suaranya kecil, seperti tidak yakin.
Alya menoleh cepat, alisnya langsung naik.
"Men, jangan bercanda deh. Adek kamu mau nikah masa kita gak dateng?"
Karmen diam sejenak. Bibirnya maju sedikit, seperti anak kecil yang protes tapi tidak punya argumen kuat.
Alya melanjutkan, kini sambil menutup resleting ransel Noah. "Kalo rewel ya wajar. Emang lagi umurnya. Kita tinggal gantian jagain." Ia menoleh ke Karmen dan tersenyum tipis. "Dulu kita bisa kok bawa dia terbang empat jam ke Chicago."
"Ya itu dulu dia masih bayi," jawab Karmen cepat. "Kasih botol susu juga tidur. Lah sekarang?" Karmen meletakkan tangan di pinggang. "Kalo dia lari-larian di pesawat gimana?"
Alya tertawa, "Yaudah, kamu yang kejar."
Karmen menghela napas panjang, menatap Alya dengan mata besar dan dramatis, membuat Alya tertawa lagi. Noah tiba-tiba muncul menabrak kaki Karmen sambil membawa mobil-mobilannya.
Karmen menatap anaknya lalu kembali menatap Alya. "Hmm, kan. Masih di rumah aja udah kayak gini…"
Alya hanya mengangkat bahu sambil tersenyum. "Makanya nanti kita gantian. Jangan sampe gak dateng lah, Men."
Karmen akhirnya ikut tersenyum kecil. "Ya… ya, oke."
Ia menghela napas lagi, lalu kembali melipat baju Noah dengan lebih pasrah.
Sejak bayi, Noah selalu menunjukan rasa ingin tahu yang besar. Banyak hal yang membuatnya berhenti dan menatap. Rasa ingin tahunya itu ia dapatkan dari Mamanya. Sampai sekarang pun masih sama.
Begitu mereka melangkah masuk ke bandara yang ramai, Noah langsung sibuk memperhatikan semua yang ada di sekelilingnya. Troli berderak. Orang-orang menarik koper besar. Ada anak-anak lain berlari sambil memegang mainan. Bahkan ada calon penumpang yang membawa hewan peliharaan. Setiap hal baru membuat kepala Noah sedikit miring. Alisnya naik. Matanya membesar.
Ketika Karmen dan Alya sibuk menimbang koper bagasi, Noah berdiri di samping Alya. Tatapannya terpaku pada sebuah troli yang membawa kandang berisi kucing berbulu putih. Noah maju setengah langkah, ingin mendekat. Alya langsung mempererat genggaman tangannya sebelum Noah sempat bergerak lebih jauh. Karmen masih mengangkat koper ke conveyor belt, tidak memperhatikan apa yang terjadi.
Selesai urusan bagasi, Karmen mengambil alih ransel Noah dari bahu Alya. Ketika Alya menyerahkannya, botol minum yang terselip di sisi tas terjatuh ke lantai. Alya membungkuk cepat untuk mengambil botol itu. Gerakan itu hanya butuh sepersekian detik. Dan dalam detik itu, Noah sudah lepas berlari menuju kandang kucing yang dari tadi membuatnya penasaran.
"Noah!" jerit Karmen spontan. Suaranya bergema di antara keramaian, mengundang tatapan dari orang sekitar.
Mereka langsung mengejarnya. Kaki Noah kecil namun gerakannya begitu cepat. Untung saja, Karmen berhasil menangkap Noah tepat sebelum tangan kecilnya menyentuh pintu kandang. Langkah Alya berhenti di sisi mereka, napasnya sedikit terengah.
Pemilik kucing sempat terkejut melihat adegan itu. Karmen cepat meminta maaf, menggendong Noah agar tidak lari lagi.
"I'm so sorry. Our son was really curious to see what's inside this carrier. He really adores cats."
Pemiliknya hanya tersenyum ramah. "No worries. A lot of kids have tried running up to us today."
Ia justru membiarkan Noah mendekat ke kandangnya agar bisa melihat kucing di dalam lebih jelas. Noah mengulurkan jari dengan hati-hati. Ketika kucing itu menjilat jarinya, Noah tertawa kecil sambil menutup mulutnya. Karmen dan Alya saling tersenyum.
Setelah berpamitan dengan kucing dan pemiliknya, Karmen menurunkan Noah dari gendongannya. Ia berjongkok, memastikan wajahnya sejajar dengan Noah. Tangan Karmen memegang kedua lengan Noah, cukup untuk menahan, tidak menekan.
"Buddy, you can't run off from us like that, okay? Bahaya banget, Nak. This place is so crowded. What if you get lost?"
Noah langsung menunduk. Bibir bawahnya maju, sudutnya melengkung ke bawah. "I'm sorry, Mama."
Ekspresi Karmen melunak. Ia menarik napas panjang, lalu menarik Noah ke pelukannya. Tangannya mengusap punggung Noah, lembut. Ia mencium puncak kepala anaknya sebelum melepas pelukan.
Karmen menangkup pipi Noah dengan kedua tangan. "Jangan diulang lagi, ya?" suaranya lebih pelan.
Noah mengangguk cepat. Karmen tersenyum kecil sambil mengusap pipinya dengan ibu jari. Lalu ia berdiri dan meraih tangan Noah.
Ia menatap Alya, wajahnya lelah. Alya menepuk ringan bahu Karmen, senyumnya lembut. Karmen hanya menghela napas kecil sambil memegang tangan Noah lebih dekat ke sisinya, memastikan putranya tetap aman.
Kekhawatiran Karmen tentang perjalanan panjang membawa anak mereka ternyata bukan tanpa alasan. Jarak yang harus ditempuh dari benua Amerika Utara ke Asia Tenggara memakan waktu belasan jam di udara, waktu yang terasa sangat panjang untuk siapa pun, apalagi bagi anak seusia Noah. Pengalaman mereka membawa Noah traveling juga masih terbatas. Ada terlalu banyak hal yang bisa terjadi di udara dan semua ketidakpastian itu sempat membuat Karmen sedikit cemas.
Untungnya, dengan miles yang telah dikumpulkan dari perjalanan kerja selama bertahun-tahun, mereka bisa upgrade kursi menjadi business class. Noah bisa selonjoran dengan bebas di kursinya sambil memeluk boneka dinosaurusnya.
Namun satu jam pertama penerbangan tetap terasa chaos.
Begitu pesawat lepas landas, Noah langsung menangis keras. Wajahnya memerah, kedua tangannya menutup telinga sambil merengek, "Mama, Ibu… hurts."
Karmen dan Alya langsung saling menoleh, panik. Karmen buru-buru meraih ransel Noah, mengeluarkan mainan dan buku favoritnya. Tidak ada yang membuatnya berhenti menangis.
Begitu tanda sabuk pengaman dimatikan, Alya segera mengangkat Noah dari kursinya. Noah langsung menempel di bahunya, menangis tersengguk-sengguk. Alya mengelus rambut Noah, menepuk punggungnya sambil mengayun pelan.
"Sshh… sshh… it's okay, sayang… anak pinter." suaranya lembut, hampir tak terdengar di antara suara kabin yang gemuruh.
Keringat mulai muncul di pelipis Noah. Air matanya mengalir tanpa henti, membasahi baju Alya. Alya mengusap pelipis dan pipinya cepat namun halus, memastikan wajahnya tetap bersih sambil memeluknya lebih erat.
"I know, sakit ya, Nak…" ucap Alya, nadanya khawatir. "Sebentar ya… bentar lagi hilang kok sakitnya."
Noah merapatkan wajahnya ke bahu Alya, tangisnya masih tersendat-sendat tapi mulai melemah lelah.
Karmen pindah ke kursi Noah, memegang buku kesukaan Noah. Ia meraih tangan kecil anaknya. "Hey, buddy… Mama bacain buku mau, ya?" ujarnya putus asa. Noah menggeleng keras, masih menangis.
Noah mencengkram keras sweater Alya, jari-jarinya sampai memerah. Tatapan Karmen tertuju ke situ. Ia menghela pelan, lalu menoleh ke Alya.
Alya sempat mengangkat pandangan. Mata mereka bertemu sebentar. Alya lanjut mengayun Noah di pangkuan, pelukannya lebih erat. Suara Noah mulai terdengar serak dari tangisannya. Karmen dan Alya saling menatap lelah, bingung harus apa.
Akhirnya Karmen meraih ransel Noah yang tergeletak di samping kakinya. Dibukanya resleting perlahan agar tidak membuat Noah semakin kaget. Tangannya mengacak isi ransel sebentar, mencari sesuatu yang bisa membantu.
Lalu ia menemukannya. Sebungkus gummy bear.
Karmen mengangkat bungkus itu sedikit, memperlihatkannya ke Alya. Alya mengangguk kecil, memberi izin.
Karmen menggeser duduknya lebih dekat. Lalu menyodorkan bungkus permen itu di depan Noah.
Noah terhenti. Suaranya mengecil. Tangisnya belum hilang, tapi matanya langsung fokus ke bungkus permen itu. Sesuatu di ekspresinya berubah. Bibirnya masih bergetar, tapi tangannya bergerak sedikit, mengarah ke Karmen.
"Noah mau? Mama bukain, ya," ujar Karmen pelan.
Noah mengangguk sambil terisak.
Dengan cepat Karmen membuka bungkusnya, mengambil satu gummy bear, lalu menyodorkannya ke mulut Noah dengan hati-hati. Noah menerimanya. Isaknya mereda sedikit demi sedikit.
Alya dan Karmen sama-sama mengembus napas lega, hampir bersamaan. Bahu mereka sama-sama mengendur. Alya masih memeluk Noah, mengusap punggungnya halus.
Setelah huru-hara itu, perjalanan terasa lebih tenang. Noah kembali duduk di kursinya. Kakinya selonjoran, tumitnya sesekali menepuk ujung kursi. Layar di hadapannya menyala, menampilkan deretan pilihan kartun.
Alya mengeluarkan headphone dari ransel Noah dan memasangkannya ke kepala anak itu. Ukurannya masih sedikit kebesaran, Noah harus menggeser bantalan telinganya beberapa kali sampai terasa pas. Setelah itu, matanya langsung terpaku ke layar, berkedip pelan mengikuti pergerakan gambar.
Karmen berjongkok di samping kursinya, satu lutut menempel di karpet kabin. Ia memegang remote layar, mencondongkan tubuh agar sejajar dengan pandangan Noah.
"Yang itu," ucap Noah dengan suara kecil. Telunjuknya terangkat, menunjuk poster Bluey di layar.
Karmen menekan tombolnya. Layar langsung berganti. Cahaya biru muda memantul di wajah Noah. Senyumnya melebar, bahunya bergerak kecil mengikuti lagu pembuka yang sudah dihafal.
Karmen berdiri, berniat kembali ke kursinya. Baru setengah langkah, Noah menoleh cepat. Headphone diturunkan setengah, satu tangannya meraih lengan Karmen.
"Mama, sit," katanya sambil menepuk-nepuk bagian kursi di sampingnya.
Karmen berhenti. Ia menatap tangan kecil yang menepuk kursi itu, lalu menoleh ke Alya. Alisnya terangkat sedikit. Alya hanya membalas dengan senyum kecil.
Karmen menunduk lagi. "Noah mau duduk sama Mama?"
Noah mengangguk cepat, tanpa ragu.
Karmen terkekeh pelan. Ia mengangkat Noah, lalu duduk di kursinya, memangku anak itu di pangkuannya. Noah tersenyum girang, kedua tangannya bertepuk sekali sebelum kembali meraih headphone.
Karmen membantu memasangkan kembali headphone ke kepala Noah. Begitu layar kembali menarik perhatiannya, Noah langsung fokus. Tawanya pecah setiap kali adegan lucu muncul. Ia menutup mulut dengan telapak tangan, bahunya terangkat-angkat menahan cekikikan.
Karmen dan Alya saling pandang, lalu ikut tersenyum melihat tingkahnya.
Noah tiba-tiba menunjuk layar, lalu menoleh ke Alya. "Itu Ibu?" tanyanya ketika karakter ibu Bluey muncul.
Alya mendekat sedikit, mengikuti arah tunjukannya. "Iya. Itu Ibunya Bluey."
Noah mengangguk, lalu menoleh lagi. Jarinya berpindah, menepuk punggung tangan Alya yang terletak di sekat kursi. "Ini Ibu Noah."
Alya tersenyum, jemarinya mencubit pelan pipi Noah. "Betul, Noah."
Karmen memiringkan badan sedikit, wajahnya mendekat. "Kalo Mamanya Noah yang mana?"
Noah ikut memiringkan badan, berpura-pura berpikir. Dahinya berkerut sebentar. Lalu ia mengangkat tangan dan menunjuk Karmen, jarinya menekan tipis di dada Mamanya.
"Yang ini."
Karmen tertawa kecil. Tangannya langsung melingkari tubuh Noah, menariknya ke pelukan. Ia mengecup puncak kepala Noah, hidungnya menyentuh rambut ikal beraroma apel segar.
"I love you, Noahku," ucapnya pelan.
Noah bersandar di dadanya, matanya kembali ke layar, senyumnya masih tertinggal.
Tak lama kemudian, suara troli makanan terdengar dari kejauhan. Rodanya bergerak pelan menyusuri lorong pesawat, disertai sapaan pramugari yang rendah dan teratur.
Noah masih duduk di pangkuan Karmen. Tubuhnya condong ke depan, perhatian terbelah antara layar di hadapannya dan pramugari yang semakin mendekat. Headphone yang tadi menempel rapi kini sudah melorot ke lehernya tanpa ia sadari.
Begitu pramugari berhenti di barisan mereka, Noah langsung duduk lebih tegak. Tangannya terletak manis di pangkuannya, matanya mengikuti setiap gerakan ketika tray ditarik keluar dari konsol samping kursi.
Karmen menggeser duduknya sedikit, membantu menurunkan tray dengan satu tangan. Pramugari membentangkan kain putih tipis di atas meja, lalu mulai menyusun makanan Noah, kids meal berisi pasta fusilli bolognese, sepotong roti bun, sebungkus kecil keripik, pudding sebagai dessert, dan sekotak jus apel.
Alis Noah terangkat. Matanya bergerak cepat mengikuti piring demi piring yang diletakkan di depannya. Pramugari menangkap ekspresi itu dan tersenyum lebar.
"Would you like your meal to be served on your seat or do you prefer it here?" tanyanya pada Karmen.
Karmen melirik kursinya sendiri, lalu menunduk melihat Noah yang masih bertengger nyaman di pangkuannya. Ia menghela napas kecil sambil tersenyum.
"I think I'm stuck like this for now. So here is fine, thanks."
Pramugari terkekeh pelan dan mengangguk. Ia lalu membantu menyiapkan makanan Karmen di tray yang sama, menggeser sedikit posisi makanan Noah agar semuanya muat.
Begitu piring Karmen diletakkan, mata Noah langsung melebar. Pandangannya tertuju pada potongan salmon berwarna keemasan yang tersaji rapi di atas piring bersama brussels sprout dan mashed potato.
Pramugari melambaikan tangan kecil ke arah Noah sebelum melanjutkan dorongannya ke barisan berikutnya.
Alya menoleh, menatap meja tray sebelah yang kini penuh.
"Kamu mau gantian, Men? Aku bisa suapin Noah dulu," ujarnya.
Karmen menggeleng pelan. "It's okay. Noah udah bisa makan sendiri juga." Ia menunduk sedikit ke arah anaknya. "Iya kan?"
Noah tidak menjawab. Matanya masih terpaku pada piring Karmen.
Alya memiringkan kepala, lalu menoleh ke Karmen. Mereka saling bertukar pandang sebentar sebelum sama-sama tersenyum.
"You okay, buddy?" Karmen mengelus pelan kepala Noah. "Mau cobain salmon Mama?"
Noah mengangguk cepat.
Karmen memotong sedikit salmon dengan garpunya, meniupnya sebentar, lalu menyodorkannya perlahan. Noah membuka mulut, matanya mengikuti ujung garpu. Saat suapan masuk, ia mengunyah pelan. Wajahnya netral, lalu alisnya terangkat. Tubuhnya bergoyang kecil di pangkuan Karmen.
Alya tertawa kecil. "Is that good?"
Noah mengangguk, matanya terpejam sesaat. "Yummy! I love salmon," gumamnya dengan mulut masih penuh.
Karmen tertawa pelan. "Yaudah, mau makan punya Mama aja?"
Noah mengangguk lagi, lalu meraih garpu di tangan Karmen dengan kedua tangannya, mencoba memotong salmon sendiri.
"Kamu mau berdua sama aku, Men?" tanya Alya sambil menggeser piringnya sedikit.
"Gak usah, gapapa, Al. Aku makan pastanya Noah aja. Salmonnya juga paling gak habis sama dia." Karmen menunjuk sekilas ke piringnya sendiri.
"Yakin? Ini banyak porsinya."
"Iya gapapa, sayang. Kamu dari tadi kan udah kelaperan juga."
Alya mengangguk. "Yaudah. Tapi kalo kamu mau, ambil aja, ya."
Karmen tersenyum, meraih tangan Alya sebentar, mengelusnya pelan sebelum kembali memperhatikan Noah.
Di sela obrolan kedua orang tuanya, Noah menegakkan tubuhnya. Kepalanya mendongak, matanya mengintip ke tray Alya di kursi sebelah.
"Ibu, what's that?" tanyanya sambil menunjuk ke nasi lemak di piring Alya.
"This?" Alya menoleh ke piringnya. "Ini namanya nasi lemak. It's rice cooked in coconut milk, with ayam goreng and spicy prawns. Noah mau coba?" Ia berhenti sebentar. "It's a bit spicy though."
Noah mengangguk. Rambut ikalnya ikut bergerak.
Alya menyendok sedikit nasi dengan potongan kecil ayam goreng, lalu mendekatkannya perlahan. Noah sudah membuka mulut lebar. Saat makanan masuk, ia langsung mengunyah dengan serius.
Karmen dan Alya memperhatikannya, menunggu reaksi dari anak mereka.
"What do you think?" tanya Alya, sendok masih terangkat.
Noah menelan, lalu menghembuskan napas cepat lewat mulutnya. "Hah, hah! Spicy!" katanya sambil meraih kotak jus apel. Ia langsung menyeruputnya.
Karmen dan Alya tertawa bersamaan. Karmen menyibak rambut Noah dari dahinya.
"Kan Ibu udah bilang pedas," ujarnya.
Noah melepas sedotan, menatap mereka sambil mengatur napas. "But I like it." Lalu kembali minum.
Karmen menoleh ke Alya, senyum lebarnya tak tertahan. "Lah, suka dia, Al."
Alya menggeleng pelan sambil tertawa. "Unik banget anak ini."
Mereka bergantian menjaga Noah sepanjang penerbangan. Ketika ia mulai gelisah dan tak betah duduk terlalu lama, Karmen mengajaknya berdiri dan berjalan menyusuri lorong pesawat. Noah menggenggam tangan Karmen erat, langkahnya pendek tapi cepat, menarik Mamanya yang berjalan di belakang. Kepalanya terus bergerak ke kanan dan kiri, matanya menyapu deretan kursi, layar-layar yang menyala, dan penumpang yang sedang tidur atau membaca.
Sesekali Noah berhenti ketika melihat anak kecil lain di barisan kursi. Ia berdiri diam, menatap, lalu menyapa dengan gumaman Bahasa Indonesia. Anak di hadapannya menatap bingung, tak paham apa yang diucapkan.
Mereka lanjut berjalan hingga ke bagian galley di belakang. Para pramugari langsung menyambut kehadirannya. Beberapa tersenyum lebar, salah satunya berjongkok agar sejajar dengan tinggi Noah.
"Hi, what's your name?" tanyanya.
"Noah," jawab Noah sambil tersenyum, lalu mengangkat boneka triceratops hijau di tangannya. "This is Spike."
Pramugari di depannya terkesiap kecil, mengikuti semangat Noah. "Woah! That's so cool!" katanya. "Are you and Spike traveling with your mommy and daddy?"
Noah langsung menggeleng. Ia memeluk Spike ke dadanya.
"No. With Mama and Ibu," gumamnya.
Alis pramugari terangkat, lalu ia menoleh ke Karmen. Karmen tersenyum kecil.
"We're traveling together with his other mom," ujarnya. "We're visiting our hometown in Jakarta, right, bud?" Tangannya mengelus pelan kepala Noah.
Noah mengangguk cepat, senyumnya melebar.
"Ah, how fun," kata pramugari itu dengan senyum. "I'm sure you, Spike, and your moms will have a great time in Jakarta." Ia mencolek hidung Noah dengan gerakan ringan sebelum berdiri kembali.
Perjalanan kembali ke kursi terasa lebih lambat, langkah Noah terlihat sedikit goyah. Kursi di business class sudah dibentang seperti kasur kecil, lengkap dengan selimut. Ketika mereka sampai, Alya menyambut dari kursinya.
"Abis jumpa fans, Ibu," ujar Karmen sambil membantu Noah naik ke kursinya. "Semua orang disapa sama dia. Sampe ke tempat pramugari di belakang."
Alya tertawa kecil. Ia mencondongkan tubuh, menyibak rambut Noah dari dahinya. "Did you have fun saying hi to everybody?"
Noah mengangguk pelan. Bahunya turun. Kelopak matanya mulai berat. Alya sempat menoleh ke Karmen, matanya memberi isyarat singkat ke arah Noah.
Karmen berjongkok, menarik selimut hingga menutup dada Noah. Tangannya menepuk punggung Noah pelan. Namun tubuh kecil itu masih bergerak. Kakinya menendang ringan, lututnya naik turun. Ia merengek kecil tanpa membuka mata sepenuhnya. Karmen menghentikan tepukan.
"Kenapa, sayang?" tanyanya sambil mengelus kepala Noah. "You wanna sleep with Mama?"
Noah duduk setengah badan, menggeleng. Tangannya terangkat, menunjuk Alya. "Mau Ibu."
Karmen menoleh. Alya sudah tersenyum, mengangguk pelan. Karmen membantu mengangkat Noah dari kursi, lalu mengoperkannya perlahan. Alya menyambut dengan kedua tangan, menarik anaknya ke dalam pelukan. Begitu tubuhnya bersandar, Noah langsung luluh dalam rangkulan ibunya.
Alya mengelus rambut Noah dengan gerakan halus, menunduk menatap wajahnya. Napas Noah mulai teratur.
Karmen duduk di kursi Noah. Dagunya bertumpu di sekat antara dua kursi, matanya tak lepas dari mereka.
"Dari tadi sama Mama terus," ujarnya pelan. "Noah kangen sama Ibu, ya?"
Noah mengangguk kecil, kepalanya menempel di dada Alya.
"Sama, Nak," lanjut Karmen, senyumnya mengarah ke Alya. "Mama juga kangen sama Ibu. Nanti gantian, ya."
Alya mendecak pelan, menahan tawa. "Apa sih."
Karmen terkekeh, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Alya terus mengayun Noah dengan gerakan stabil, tangannya menepuk pelan punggung kecil itu. Tak lama kemudian, napas Noah terdengar lebih dalam. Matanya telah terpejam. Noah akhirnya terlelap tidur di pelukan Alya.
Setelah Noah tertidur, Karmen dan Alya ikut memejamkan mata. Kursi yang lebar memungkinkan mereka bersandar nyaman di tempat masing-masing. Alya berbaring sambil memeluk Noah di kursi berbentuk ranjang kecil itu. Sesekali ia membuka mata, memastikan Noah masih lelap.
Saat Noah terbangun lagi, ia tidak rewel atau menangis tanpa sebab. Ia hanya duduk tenang, menatap layar di depannya atau memperhatikan sekeliling. Jika mulai bosan, Alya menyetelkan film favoritnya di layar kursi. Karmen membacakan buku bergambar dengan suara pelan. Sesekali Noah memainkan boneka dinosaurusnya, membuat suara kecil yang hanya ia sendiri yang paham artinya.
Dengan Noah yang relatif nurut hari itu, belasan jam di udara berlalu tanpa mereka sadari. Sampai akhirnya pesawat mendarat di Singapura untuk transit selama dua jam.
Noah tertidur lagi saat pesawat menyentuh landasan. Karmen menggendongnya keluar, satu tangan menopang tubuh Noah, satu lagi menahan ransel dan menarik koper kabin. Kepala Noah terkulai nyaman di bahu Karmen, pipinya menekan kain jaket, bibirnya terbuka sedikit mengikuti napasnya yang teratur.
Alya berjalan di samping mereka, tersenyum memperhatikan detail wajah anak mereka. Ia sesekali merapikan rambut Noah yang jatuh menutupi keningnya, jari-jarinya bergerak hati-hati.
Noah baru terbangun ketika mereka sudah duduk di food court bandara. Bukan karena suara piring dan garpu yang saling beradu, juga bukan karena riuh percakapan orang-orang di sekitar, melainkan karena aroma mie goreng yang mengepul hangat dari piring di depan Karmen.
Kelopak mata Noah terbuka perlahan. Ia mengendus kecil, lalu mengangkat kepalanya. Tubuhnya bergerak duduk tegak di pangkuan Karmen, tangannya mengusap mata dengan punggung tangan, wajahnya masih setengah bingung.
Alya tertawa pelan sambil menunjuk ke arah mangkuk.
"Tuh. Apa aku bilang," ujarnya. "Cium bau mie goreng langsung bangun."
Karmen mengelus rambut Noah sambil terkekeh. "Emang anak kita."
Setelah makan, mereka berjalan kembali menuju gate. Langkah mereka tak terburu-buru. Di area gate, mereka duduk sebentar menunggu panggilan boarding. Noah memanjat ke pangkuan Alya tanpa diminta, tubuhnya menyandar penuh. Tangannya meraih sweater Alya dan menggenggamnya, kebiasaan yang selalu ia lakukan ketika lelah.
Tak lama kemudian, antrian boarding dibuka. Penumpang dengan anak kecil dipersilakan masuk lebih dulu. Karmen langsung membantu membawa tas Alya.
"Udah, gapapa, Men. Aku bisa kok," ujar Alya, sedikit menggeser tasnya. "Bawaan kamu udah kebanyakan."
Karmen sudah menjepit paspor dan boarding pass di antara bibirnya. "Aman," gumamnya.
Ransel Noah tersampir di bahu kanan, tas Alya di bahu kiri. Tangan kanan menarik koper kabin, tangan kiri memegang paspor, boarding pass, dan secangkir kopi.
Saat melangkah maju, paspor terselip lepas dari tangannya. Ia reflek ingin menangkap, tapi cangkir kopi di tangan justru ikut terlepas. Isinya tumpah ke celananya dan lantai.
Mereka sama-sama terkejut. Alya mundur satu langkah menghindari cipratan.
Karmen menoleh ke Alya. Alya menatapnya datar.
"Kan," ucap Alya singkat.
Wajah Karmen langsung memerah. Untungnya, seorang petugas kebersihan segera mendekat dan membantu membersihkan tumpahan. Karmen berkali-kali meminta maaf, merasa tak enak. Petugas itu hanya tersenyum dan mengangguk, membereskan lantai dengan cekatan.
Karmen mengelap celananya dengan sapu tangan, meski nodanya masih terlihat samar.
"Udah," ujar Alya pelan. "Nanti aku cuciin pas sampai rumah Papa Mama."
Karmen menatapnya, masih tampak menyesal. "Sorry, ya…"
Alya tersenyum, membenarkan posisi Noah di pelukannya. Tangannya mengusap lengan Karmen.
"Gapapa, sayang. Yuk. Nanti ditinggal pesawat."
Mereka kembali ke antrean dan masuk ke pesawat.
Begitu duduk dan pesawat bersiap lepas landas, Noah meringkuk di kursinya. Beberapa menit kemudian, dengan suara serak khas anak mengantuk, ia mengulurkan kedua tangannya ke arah Karmen.
"Noah mau Mama."
Karmen mengangkatnya ke pangkuan begitu pesawat stabil di udara, memeluk Noah dalam sekejap. Tak butuh waktu lama, Noah tertidur lagi. Kepalanya bersandar di dada Karmen, napasnya stabil, mulut dan matanya sedikit terbuka.
Tak lama kemudian, Karmen ikut tertidur. Kursinya disandarkan sedikit, tak sepenuhnya. Kepala bersandar ke sandaran, tubuhnya tetap memeluk Noah dengan posisi yang aman dan nyaman.
Alya menoleh ke arah mereka dari kursinya. Pemandangan itu membuatnya berhenti sejenak. Dua orang yang paling ia cintai tertidur tenang, tak sadar betapa miripnya mereka jika dilihat dari samping.
Alya menahan tawa, menggeleng kecil. Lalu, dengan gerakan pelan agar tak membangunkan keduanya, ia mengambil ponsel dan mengabadikan momen itu dalam satu jepretan.
Mereka tiba di Bandara Soekarno–Hatta di sore hari menuju malam. Cahaya jingga dari langit menyelinap masuk melalui dinding kaca, memantul di lantai bandara yang mengilap. Lalu lalang penumpang melewati mereka, membawa koper dan troli, namun suasana di sekitar keluarga kecil itu terasa nyaman.
Noah sudah bangun sepenuhnya. Ia berjalan di tengah sambil menggenggam tangan Mama dan Ibunya. Setiap beberapa langkah, ia mengayunkan kedua tangan itu tinggi ke depan. Ia juga bernyanyi pelan, lagunya tak begitu jelas, hanya gumaman riang khas anak kecil.
Karmen menunduk sedikit, tersenyum melihat tingkah Noah yang penuh energi. "Are you excited to meet everyone?" suaranya cerah.
"Yeah!" Noah menjawab sambil hampir melompat kecil. Suaranya melengking.
Alya menoleh, rambutnya jatuh sedikit ke bahu. "Who are you most excited to see, baby?"
Noah menghentikan ayunannya untuk berpikir. Keningnya berkerut sebentar. Lalu ia mengangkat wajah.
"Mas Sakti… Satya… Kakak Wuby… and baby Awuna!" katanya panjang, satu napas, bangga karena ingat semuanya.
Karmen tersenyum tanpa sadar. Mengenali tiap nama yang keluar dari mulut Noah. Anak-anak dari sahabat-sahabat mereka, beberapa yang tumbuh hampir bersamaan dengan Noah, meski dipisahkan jarak.
"Terus yang lain? Abang Enzo, Kak Elena, Gema, Gepa, Nema?" tanya Karmen, nada goda.
Noah mengangguk cepat. "Excited." Lalu ia menambahkan dengan semangat. "Uncle Dan too! And Pak Echa and Bu Eva! Excited to meet everyone!"
Ia kembali melompat kecil. Kedua tangannya terangkat karena tangannya masih dalam genggaman Mama dan Ibu.
Karmen dan Alya saling melirik sebentar, sama-sama tersenyum melihat energi Noah yang tak ada habisnya. Mereka terus berjalan menuju area pengambilan bagasi sambil mengikuti langkah kecil anak mereka yang bersemangat.
Suasana di luar bandara jauh lebih ramai dari bagian dalam. Mobil berlalu lalang. Suara roda koper bergesekan dengan lantai. Ada yang saling berpelukan setelah lama tidak bertemu. Ada yang berdiri memegang ponsel sambil menunggu jemputan. Beberapa penumpang sibuk memesan taksi dari aplikasi, wajah mereka sesekali menoleh ke luar mencari plat nomor yang sesuai.
Karmen mendorong troli berisi koper dan tas, kedua tangannya menahan beban sambil sesekali menoleh memastikan tumpukan tidak bergeser. Alya berjalan di sampingnya, menggenggam tangan Noah. Langkah Noah kecil dan cepat, seperti sulit menahan rasa antusiasnya.
Di depan pintu kedatangan, Daniel dan Ezra sudah berdiri menunggu. Daniel sudah terlihat dari kejauhan, tingginya yang kini melebihi kedua kakaknya membuatnya mudah dilihat meski kerumunan begitu padat. Ia melambai tangan tinggi ketika melihat Karmen dan Alya, senyumnya lebar memenuhi wajah.
Noah melihat mereka lebih dulu. Matanya langsung berbinar, tubuhnya seperti memantul kecil sebelum akhirnya ia melepaskan tangan Alya dan berlari sekuat tenaga.
"Uncle Dan! Pak Echa!" teriak Noah sambil mengangkat kedua tangannya ke depan.
Daniel langsung jongkok. Kedua tangannya membuka lebar dan ia menangkap Noah dalam pelukan. Noah terangkat dari lantai, kakinya terayun sedikit di udara.
"Hey, handsome! Look how big you've gotten!" Daniel menatap wajah Noah yang masih merah karena berlari.
"Makin ganteng aja nih, anaknya Pak Echa," tambah Ezra sambil mencium tangan Noah lalu mengacak rambut ikalnya.
Noah tertawa kecil, pipinya makin merah, tangannya memegang kerah baju Daniel seperti malu-malu tapi senang.
"Ini gak ada yang mau bantuin gue gitu ya?" seru Karmen begitu ia akhirnya mencapai mereka dengan troli hampir setinggi badannya.
Ezra langsung tertawa dan menghampiri. Ia merangkul Karmen dan memeluknya erat. Karmen membalas pelukan itu sambil menepuk sisi tubuh kakaknya.
"Apa kabar, Men?" tanya Ezra ketika melepas pelukan. "How was the flight?"
"Oh, wow. Pengalaman luar biasa terbang belasan jam sama anak di bawah tiga tahun," jawab Karmen sambil mengangkat alis, senyumnya penuh lelah tapi lucu.
Ezra mengangguk sambil cekikikan. Lalu ia beralih memeluk Alya. Alya membalas pelukan itu sambil menepuk punggung Ezra pelan.
"Hai Kak, how are you?" tanya Alya.
"Good, good," jawab Ezra. Ia menarik napas kecil sambil memijat tengkuknya. "Lagi mumet aja. Satu anak bentar lagi masuk SMA, satu lagi masuk SMP."
Karmen menatapnya seakan tak percaya. "Demi apa? Emang mereka udah segede itu? Perasaan kemarin masih bayi."
"Ya, Noah aja udah bisa ngomong sekarang, Kak," celetuk Daniel sambil mencubit pipi Noah pelan.
Setelah berbincang ringan mereka bergerak menuju area parkir. Daniel tetap menggendong Noah dengan satu lengannya sambil mengajak Noah ngobrol. Ezra mengambil alih troli koper. Karmen dan Alya berjalan sedikit di belakang, tangan mereka saling bertaut. Karmen sempat menoleh ke Alya, tersenyum kecil tanpa alasan tertentu selain rasa hangat melihat keluarganya lengkap lagi. Alya membalas senyum itu, jari-jarinya mengerat di tangan Karmen.
Perjalanan dari bandara ke rumah orang tua Karmen memakan waktu sekitar satu jam lebih sedikit. Daniel menyetir, tangan kirinya sesekali mengetuk setir mengikuti musik pelan di radio. Ezra duduk di kursi penumpang depan dengan Noah di pangkuannya. Noah duduk bersandar santai, kedua kakinya menendang-nendang udara ringan.
Di kursi tengah, Alya menggeserkan tubuhnya mendekati Karmen. Ia melingkarkan tangannya di lengan Karmen, kepalanya bersandar di bahunya. Karmen menggeser lengannya sedikit, memberi ruang agar Alya bisa bersandar lebih nyaman. Mereka sama-sama menatap keluar jendela. Lampu-lampu Jakarta di malam hari bergeser perlahan mengikuti laju mobil. Alya menghembus napas kecil, tubuhnya melemas di sisi Karmen. Karmen menatap sebentar ke arah Alya, lalu kembali menatap kota, senyumnya samar, tenang.
Selama perjalanan, Noah tak berhenti berceloteh. Ia menunjuk gedung-gedung tinggi yang memantulkan cahaya matahari sore. Ia mendongak setiap kali melihat pesawat melintas di langit. Ketika mobil-mobil di sekitar mulai saling membunyikan klakson, Noah menutup telinganya sebentar sambil menggerutu kecil.
"Too loud…"
Ezra tertawa dan merangkul Noah dari belakang. Daniel menoleh cepag sambil tersenyum.
Komentar-komentar Noah terus mengisi kabin mobil. Terkadang ia menunjuk sesuatu tanpa konteks. Terkadang ia bertanya hal-hal yang membuat Daniel dan Ezra saling pandang sambil tertawa pendek.
Begitu tiba di rumah orang tua Karmen, Daniel langsung turun dan membuka bagasi. Ia mengangkat koper besar, menyeretnya ke arah teras. Ezra membantu menurunkan ransel dan tas tangan sambil menggendong Noah.
Karmen keluar duluan lalu menahan pintu agar Alya bisa menyusul. Alya turun pelan dari mobil, tangannya langsung memegang sisi perutnya untuk menjaga keseimbangan. Langkahnya sedikit goyah.
Karmen cekatan mendekat. Ia menunduk sedikit agar bisa melihat wajah istrinya dari dekat.
"You okay?" tanyanya pelan.
Alya menghembus napas kecil, mengangguk sambil memaksakan senyum tipis. "Yeah… just… capek."
Karmen mengusap pundaknya lembut, ibu jarinya bergerak pelan.
Daniel yang sedang menyeret koper ke teras melirik mereka. Wajahnya langsung berubah khawatir. Ia berhenti dan berjalan kembali beberapa langkah.
"Kak Alya kenapa?" tanyanya, suaranya rendah tapi panik jelas terdengar.
Alya mengangkat satu tangan, memberi isyarat bahwa semuanya baik-baik saja. "Gapapa, Niel. Carsick aja kayaknya."
Daniel langsung mengangkat alisnya. "Oh no, aku bawa mobilnya kecepetan ya?"
Alya tertawa kecil, menepuk pundaknya. "Enggak kok. It's fine. Mungkin cuma kecapean abis seharian penuh di pesawat."
Daniel menghela napas lega sambil menunduk sebentar, lalu tersenyum lagi sebelum lanjut berjalan ke teras.
Karmen tetap berdiri dekat Alya, tangannya belum lepas dari punggung Alya. Ia mencondongkan diri sedikit, suaranya rendah hanya untuk Alya.
"Masuk dulu, yuk. Biar bisa istirahat juga."
Alya mengangguk pelan, dan mereka berjalan masuk bersama, sementara Noah sudah bersama Ezra dan Daniel di teras.
Begitu pintu utama dibuka, suasana langsung ramai. Keluarga Karmen sudah berkumpul di ruang tengah, menyambut dengan wajah-wajah penuh senyum.
Ayah Karmen langsung mendekat dan mengangkat Noah ke dalam pelukan. "Cucunya Gepa! Datang juga akhirnya," serunya dengan suara lantang, wajahnya sumringah.
Noah tertawa kecil, tangannya menepuk-nepuk bahu kakeknya.
Walaupun ini pertama kalinya Noah datang ke Indonesia dan bertemu langsung dengan beberapa anggota keluarga, ia terlihat cepat menyesuaikan diri. Sejak kecil, Noah memang mudah bergaul. Sikapnya terbuka, ekspresinya ceria, membuat orang-orang cepat merasa dekat dengannya.
Ibu Karmen menyusul mendekat, mencondongkan badan dan mencium pipi Noah.
"Ya ampun, cucuku udah besar banget," ucapnya sambil mengelus rambut Noah.
Eva, istri Ezra, ikut menghampiri bersama anak mereka, Enzo dan Elena. Begitu Noah diturunkan oleh kakeknya, ia langsung heboh menghampiri kakak-kakak sepupunya. Tawa Noah memenuhi ruangan. Orang-orang dewasa hanya bisa tersenyum melihat pemandangan itu.
Satu per satu anggota keluarga lalu bergantian menyapa Karmen dan Alya, memeluk mereka erat.
"Apa kabar, Nak? Capek ya pasti terbang seharian," ujar Ayah Karmen ketika memeluk Alya. Tangannya mengusap lembut pundak menantunya.
Alya tertawa kecil. "Bukan capek lagi, Pa. Badan rasanya udah remuk."
"Noah di pesawat gimana? Rewel gak?" tanya Eva sambil melirik ke arah Noah yang berjalan menuju Karmen.
"Awalnya doang," jawab Karmen. Ia meletakkan tangannya di bahu Noah. "Kupingnya sempet sakit, aku sama Alya sampe bengong mikir harus gimana. But he handled it like a champ. Abis itu malah banyak tidur. Mama sama Ibu jadi bisa istirahat juga, ya?" Karmen mengacak pelan rambut Noah sambil tersenyum.
Noah mendongak ke arah Karmen dan membalas senyumnya.
"Wah, kalo sepanjang jalan udah tidur, bisa-bisa malam ini malah melek," celetuk Ezra.
"Kalo gitu tinggal oper ke Uncle Dan," sambung Alya, menoleh ke Daniel dengan senyum usil. "Katanya udah siap babysitting, kan."
Tawa kecil langsung menyebar di ruangan.
Ibu Karmen lalu menepuk tangan pelan. "Nah, sekarang mau ganti baju dulu atau makan dulu?"
"Ganti baju dulu, Ma," jawab Karmen. "Celanaku ketumpahan kopi di bandara."
Ia menunjuk noda samar di kain celananya.
Ibu Karmen menggeleng sambil tertawa kecil, merangkul anaknya dari samping.
"Ya Tuhan. Kebiasaan kamu. Tumpahin minuman, tumpahin makanan."
"Emang, Ma," timpal Alya cepat. "Aku sampe hafal cara bersihin noda di berbagai macam kain gara-gara dia."
Karmen nyengir, menutup wajahnya sebentar. "Iya, iya. Salah aku."
Ibu Karmen menepuk bahunya pelan. "Ya sudah. Kalian bersih-bersih dulu. Mama panasin lagi makanannya. Ada sambal roa kesukaan kamu."
Karmen langsung tersenyum lebar. "Duh, best banget emang Bu Natalia Wiratama."
Begitu melangkah masuk ke kamar lamanya, Karmen langsung dihantam gelombang memori dari masa mudanya. Ruangan itu terasa berbeda, tapi juga sama. Warna catnya kini putih kecoklatan, lebih tenang, lebih dewasa. Poster-poster film dan band yang dulu menempel di dinding sudah diganti dengan foto-foto berbingkai. Namun posisi tempat tidur, meja belajar, dan sofa kecil di sudut ruangan masih seperti yang ia ingat.
Karmen berdiri sejenak, matanya menyusuri setiap sudut. Ingatannya melayang ke masa SMA. Rebahan di kasur berdua dengan Alya, buku-buku terbuka di lantai dekat sofa. Belajar sambil tertawa. Bermain board games bersama Daniel yang suaranya masih cempreng, selalu ribut sendiri kalau kalah. Potongan-potongan itu muncul satu per satu di ingatannya.
Noah, di sisi lain, langsung menyerbu masuk dengan semangat. Pandangannya berhenti di sofa yang dipenuhi mainan.
"So many toys!" serunya, lalu berlari ke arah sana tanpa ragu.
Karmen dan Alya menyusul masuk, masing-masing menarik koper. Alya melirik Noah yang sudah sibuk membongkar mainan, lalu menggeleng kecil sambil tersenyum.
"Kalo begini, kayaknya beneran gak tidur malem ini," katanya.
Karmen terkekeh pelan. Pandangannya kembali berkeliling ruangan, lebih lambat kali ini. Alya memperhatikannya.
"You okay?" tanya Alya, suaranya rendah.
Karmen menoleh, tersenyum tipis.
"Yeah… just," ia menghela napas kecil. "Udah lama banget gak masuk kamar ini."
Alya melangkah mendekat. Tangannya melingkar di pinggang Karmen, kepalanya bersandar di dada Karmen. Telapak tangannya mengusap punggung Karmen dengan gerakan pelan. Karmen merespons dengan memeluknya balik, dagunya turun sedikit.
"Karmen yang dulu kayaknya bakal pingsan kalo tau dua puluh tahun kemudian bakal bawa kamu sama anak kita balik ke kamar ini," ucapnya lirih.
Alya mendongak, senyum masih menggantung di wajahnya. Karmen menunduk tersenyum dan memberi kecupan singkat di bibirnya.
"Thank you for being here," kata Karmen, suaranya hangat.
Alya tertawa kecil. Tangannya berpindah ke lengan Karmen, mengusapnya ringan.
"Mulai, mellow-nya," katanya sambil tersenyum jahil. Ia melepas pelukan, lalu menunjuk celana Karmen.
"Ganti baju dulu gih. Biar celananya bisa dicuci."
Karmen terkekeh. "Iyaaa, istriku."
Tak lama setelah bersih-bersih dan berganti pakaian, mereka bertiga turun kembali ke ruang makan. Meja sudah penuh oleh masakan rumahan, beberapa masih mengepul tipis, aromanya bercampur antara nasi hangat, tumisan, dan sambal yang baru diangkat. Menu-menu sederhana yang selama ini hanya muncul di percakapan atau kerinduan kecil di antara mereka berdua.
Noah berjalan lebih dulu, langkahnya ringan. Ia berhenti di tengah ruangan, lalu berputar sedikit, memperlihatkan piyama Paw Patrol yang dipakainya dengan senyum lebar, seolah sedang memamerkan kostum. Mereka yang telah duduk di ruang makan langsung tertawa dan bertepuk tangan.
"Cool PJs, dude! Nanti Uncle Dan pinjem ya," celetuk Daniel dari ujung meja.
Noah mengangguk mantap. "Boleh."
Ketika Karmen hendak menarik kursi di sebelahnya, Noah sudah lebih dulu menggeleng. Tangannya menunjuk ke seberang meja, ke arah Enzo dan Elena.
Tawa kecil menyebar lagi di meja. Karmen dan Alya tersenyum. Noah melangkah sendiri ke kursi pilihannya, dibantu Enzo yang menarikkan kursi agar ia bisa naik dengan mudah.
Piring mulai dioper dari tangan ke tangan. Sendok dan centong saling bersentuhan, bunyinya berbaur dengan percakapan yang mulai bertumpuk. Alya condong sedikit ke arah Eva dan Ibu Karmen, bercerita tentang daycare, jam tidur, dan kebiasaan Noah yang suka meminta Karmen membaca buku di malam hari.
Di sisi lain meja, Karmen berbincang dengan Ayahnya, Ezra, dan Daniel. Topiknya meloncat-loncat, soal kerjaan, soal lalu lintas Jakarta yang semakin padat, soal persiapan pernikahan Daniel. Karmen lebih banyak mendengarkan, tertawa pendek di sela-sela cerita, tangannya sibuk menyendok nasi di piring.
Sementara itu, Noah tenggelam dalam dunianya sendiri. Ia bercerita panjang lebar kepada Enzo dan Elena, tangannya bergerak cepat, suaranya naik turun. Ceritanya sulit diikuti, tapi Enzo mengangguk serius, Elena sesekali menyela dengan pertanyaan kecil. Noah tertawa keras, puas karena didengarkan.
Karmen sempat melirik ke arah itu. Pandangannya tertahan beberapa detik lebih lama. Tangannya berhenti di atas meja sebelum akhirnya kembali bergerak.
Alya juga menoleh, hampir bersamaan. Ia menangkap momen yang sama. Noah yang duduk terlalu dekat ke tepi kursi, kaki-kakinya berayun. Cara ia bicara tanpa jeda. Cara kedua sepupunya menanggapinya.
Mereka saling menatap. Senyum kecil di wajah masing-masing. Tangan Karmen bergerak pelan di bawah meja, mengelus pelan paha Alya sekilas sebelum kembali ke posisinya.
Daniel menangkap pandangan itu. Ia tak langsung bicara. Hanya menatap kakak dan kakak iparnya beberapa detik lebih lama, senyum muncul perlahan di wajahnya.
"It's good to have you guys here again," ucapnya.
Karmen menoleh, lalu tersenyum.
"Iya," katanya singkat. "It's good to be home."
