Work Text:
Oikawa melompati kubangan kecil yang mulai terbentuk di jalan. Hujan turun dengan derasnya, mengetuk-ngetuk atap bangunan dan dedaunan dan halte dan aspal, menciptakan irama berantakan di telinganya.
Ia menghempaskan diri di bangku yang kosong. Air makin tiada ampun menghujani kota tersebut, seolah membuat tirai penghalang bagi Oikawa. Ia menghela nafas kencang-kencang.
Hari itu, Oikawa seharusnya pergi mengunjungi Iwa-chan yang sedang sakit demam. Ibunya menitipkan makanan untuk Iwaizumi sekeluarga. Siapa sangka hujan turun begitu derasnya dan terpaksa menahan perjalanannya hari itu?
Ah, ibunya sendiri sudah memberi wanti-wanti sebelum ia berangkat. Bawa payungmu! Oikawa menggaruk belakang telinganya dengan kesal. Kau tidak tahu hujan bisa datang kapan saja meskipun di tengah musim panas seperti ini!
Ia menyandarkan kepalanya pada tiang penyangga halte. Bayang-bayang payung baru itu muncul di kepalanya, dan bayangan tentang bagaimana ia akan memamerkan payung tersebut sirna. Mungkin Iwa-chan tidak akan peduli tentang payung tersebut, namun ibunya pasti akan memujinya.
Namun kini ia terjebak di bawah hujan deras dengan pakaian dan rambut setengah basah setelah upaya menyedihkannya berlari menuju rumah sahabatnya.
Di tengah-tengah mengasihani dirinya, seorang lelaki sepantaran dirinya berjalan mendekat. Di bawah payung yang ia gunakan, wajahnya terlihat cerah, seolah tak acuh dengan langit kelabu dan cipratan air yang menggenangi langkahnya. Oikawa mengerutkan dahi. Seandainya ia membawa payung.
“Sedang menunggu bus, ya?”
Oikawa terlepas dari lamunannya. Ia mengedip beberapa kali, sama sekali tidak menangkap pertanyaan yang nampak ditujukan kepadanya. “Eh?”
Pertanyaan tersebut terulang, “Sedang menunggu bus, ya?”
Oikawa berharap rambut kelabu lelaki ini tidak begitu mendistraksi. Kombinasi yang tercipta dengan mata coklatnya yang indah sama sekali tidak menolong juga.
“... Nggak,” Oikawa menjawab asal-asalan, “Rumah temanku ke arah sana.”
Mata Oikawa sedikit memicing. Ia tidak pernah melihat orang ini sebelumnya. Ia yakin bahwa ia bukan murid sekolahnya—yang mana dapat ia cepat kenali kalau memang benar. Ia mengenakan kombinasi pakaian yang tidak ia kenali—yang mana membuatnya lebih frustasi. Kenapa orang seindah ini tidak pernah kelihatan sebelumnya?
“Lalu, kenapa diam di sini?”
Ahhh, berisik!
Oikawa mengangkat bahu. “Aku nggak bawa payung.”
Lelaki berambut kelabu tersebut menoleh ke kanan-kiri. “Mau pakai punyaku?”
“Hah?”
“Aku punya payung cadangan.”
Oikawa berusaha memahami sikap orang aneh ini. “Terus kamu basah-basahan?”
Lalu orang ini tertawa. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Oikawa terkejut mendengar tawa seseorang. Bahkan ketika tertawa, lelaki ini terdengar indah.
“Aku bilang, aku punya satu lagi,” ia menunjuk ke arah tas yang ia bawa, “Kamu boleh pinjam yang ini.”
“Lalu-” Oikawa memotong perkataannya sendiri ketika lelaki tersebut menyodorkan payungnya. “Lalu gimana aku balikinnya?”
Si rambut kelabu berpikir sejenak. “Di dekat sini ada stasiun,” ia menunjuk ke arah stasiun kereta yang ada di area tersebut, “Bilang aja kamu nemu payung ini, lalu aku bisa ambil dari sana.”
Orang ini bodoh, ya?
“Oh, baiklah.”
Dia ini bodoh, ya?
Lalu lelaki tersebut tersenyum, dan Oikawa sekali lagi terpana. Tidak mungkin lelaki ini nyata.
“Sudah, kan? Kamu bisa pergi sekarang.” Oikawa sempat berpikir bahwa orang ini sangat kurang ajar sudah mengusirnya seperti itu—meski secara tidak langsung—namun lelaki ini ada benarnya. Iwa-chan sudah menunggunya sedari tadi. “Aku masih menunggu bus.”
“Ah—eh, oke,” Oikawa bergumam canggung, “Terima kasih banyak atas bantuannya,” ia membungkuk sopan, “Aku berhutang budi padamu.”
Lelaki tersebut melambaikan tangannya. Di sepanjang jalan menuju rumah Iwaizumi, tawa renyahnya masih terngiang di kepala Oikawa.
Ibu Iwaizumi menyapanya dengan nada sedikit khawatir. Ia bilang Oikawa melamun dan nampak tidak enak badan. Oikawa hanya bisa menyangkalnya sopan.
Terdapat beberapa jalan yang Oikawa bisa gunakan untuk pergi ke kediaman keluarga Iwaizumi.
Ada satu jalan yang melewati konbini, atau Oikawa bisa memilih untuk menyebrangi taman kecil di dekat rumahnya. Hari itu, Oikawa memilih jalan melewati konbini yang di pintu depannya berkerumun murid-murid SMA, dan berhenti di depan pemberhentian bus. Ia memandangi sekelilingnya, lalu duduk sejenak.
Bulan silih berganti, namun ia belum berhasil bertemu dengan lelaki itu lagi. Aneh, ia berulang kali berpikir, dengan fitur yang begitu mencolok, seharusnya ia tidak sesulit itu ditemui. Di tengah-tengah kerumunan besar, rambut kelabunya pasti akan sangat mudah ditemukan—ditambah dengan suara khasnya, Oikawa tidak akan kesulitan mengenalinya.
Hujan kian jarang berkunjung ke kota ini. Payung yang ia pinjam pun sudah ia kembalikan ke tempat pengembalian barang hilang di stasiun sesuai kesepakatan mereka. Setelah dipikir-pikir, mengapa lelaki tersebut enggan sekali bertemu lagi dengannya? Mereka bahkan tidak saling bertukar nama. Apakah lelaki itu menyembunyikan rasa tidak suka di balik senyum ramahnya?
Suara kerincing bel sepeda terdengar dari kejauhan, dan tidak lama seorang laki-laki yang membonceng seorang perempuan di sepedanya lewat di hadapannya. Ia bukanlah orang yang Oikawa cari, dan hal tersebut melegakan hatinya.
Mungkin lain kali.
Mungkin ia tidak mengakuinya, tetapi Oikawa selalu merasa bahwa ada kesenduan tersendiri setiap kali hujan turun. Ada rasa rindu dan harap yang tak pernah ia bisa jelaskan kepada orang lain. Awan kelabu gelap dan angin yang membawa udara dingin selalu mengingatkannya pada seseorang yang tidak pernah bisa meninggalkan pikirannya.
Tahun silih berganti. Oikawa masih belum bisa melihat senyum khas lelaki itu lagi.
Ia mengetuk-ngetuk ujung payungnya ke lantai bangunan dan menguap. Hari itu, latihan ditiadakan karena sedang diadakan perawatan tahunan area stadium mereka. Oikawa berencana untuk pulang bersama Iwaizumi untuk mengambil barang dari ibunya untuk dibawa pulang.
“Hei,” Oikawa tidak perlu menengok untuk melihat siapa yang baru saja memanggilnya, “Ayo, pulang.”
Oikawa membuka payungnya, diikuti dengan Iwaizumi yang sudah berdiri di sisinya.
“Ibu ngajak lo mampir makan dulu, sekalian nunggu hujan reda.”
“Oh?” alis Oikawa terangkat, “Masak khusus buat gue?”
Iwaizumi memukul sisi perutnya. “Nggak usah geer,” katanya tajam.
Oikawa hanya mendengus tanpa melanjutkan percakapan. Setengah perjalanan pulang mereka dilalui dalam diam, hingga Iwaizumi akhirnya berujar, “Lo kalau hujan suka tiba-tiba sendu,” ia berkomentar, “Diem aja. Kayak beda orang.”
Genangan air berkecipak di bawah langkah kaki mereka. Oikawa tidak langsung menjawab. “... Masa?”
“Ya,” jawaban Iwaizumi pendek, “Lo suka bengong, tatapan lo jauh juga—apalagi kalau kita lagi di luar.”
Oikawa tidak terlalu mengindahkan perkataan temannya. Ia tetap terfokus ke jalan di hadapannya; konbini yang selalu ramai dengan murid-murid yang baru pulang sekolah, halte bus—
“Kayak lagi nunggu atau nyari sesuatu.”
Isi kepala Oikawa seolah membeku sesaat, begitu pula dengan detak jantungnya. Ia melirik cepat ke arah Iwaizumi yang sudah melirik lebih dulu ke arahnya, dan dengan cepat mengalihkan tatapannya.
“Maksudnya, kalo emang lo ada sentimen sendiri sama hujan, gue bisa paham—”
“Nggak ada apa-apa,” Oikawa buru-buru menukas.
“... Karena sepupu gue suka bilang kalau hujan emang bikin suasana lebih sendu,” Iwaizumi melanjutkan kalimatnya dengan lebih hati-hati. “Kenapa lo cepet banget ngelak?”
“Hah?” Ia berusaha pura-pura tidak mengerti, tetapi genggaman tangannya pada gagang payung mengencang. “Biasa aja, tuh.”
“Bohong.”
“Gue nggak ngerti lo ngomong apa.”
“Atau lo lagi jatuh cinta?”
Oikawa tidak menyangka akan mendengar kata itu sebelumnya. Cinta. Ia tidak asing dengan kata itu—jika harus jujur, mungkin ia terlalu sering mendengarnya. Surat-surat penggemar yang ia terima pada hari valentine, semua merupakan pengakuan perasaan yang begitu intens dari lubuk hati pengirimnya. Ia tidak pernah terlalu memikirkan itu semua, karena ia tidak pernah merasakan hal yang sama. Namun kini sahabatnya sendiri menodongnya dengan kata tersebut—dan hal itu terasa seperti sebuah tuduhan.
Mana mungkin Oikawa mencintai orang yang tidak pernah ia kenal? Mereka bahkan tidak memiliki obrolan yang berarti. Ya ampun, bahkan durasi percakapan mereka tidak melebihi lima belas menit!
Yang lebih penting, lelaki misterius itu bukanlah tipenya. Mungkin. Jika harus jujur, Oikawa tidak pernah tertarik dengan siapapun secara romantis, mungkin karena ia terlalu asyik bermain voli.
“Hah?”
Ia terus berpikir. Iwaizumi ada benarnya; mengapa ia selalu mendamba untuk bertemu orang ini lagi? Apakah sekedar keinginan untuk membalas budi bisa menjelaskan semuanya? Apakah ada kemungkinan orang ini sudah lebih dulu mengenali Oikawa sebelum mereka bertemu? Lagipula, kebetulan macam apa yang membuat seseorang membawa dua payung dalam satu waktu?
Kedua lelaki tersebut berhenti di depan sebuah rumah berpagar hitam. Mereka saling menatap sama tajamnya dalam diam untuk beberapa saat. Pada akhirnya, Iwaizumi mengalah dan menghela nafas. “Apapun yang lo lagi lewatin, seharusnya nggak ada salahnya dengan cerita ke gue,” ujarnya, “Sekarang, kita makan dulu.”
Yang Oikawa yakini adalah ia merasa frustasi karena kegagalannya bertemu dengan lelaki yang mencuri perhatiannya saat ia masih kecil. Lelaki dengan senyum cerah di bawah guyuran hujan, lelaki yang rela membantunya tanpa mengenalnya. Lelaki yang bahkan tidak meluangkan waktu untuk berkenalan dengannya.
Yah, mungkin hal ini ada hubungannya dengan ketertarikan romantis. Bukan cinta, tapi Oikawa harus mengakui bahwa ia sangat tertarik dengan lelaki misterius ini.
Oikawa tersenyum lebar mendengar kata makan, dan sekali lagi mengubur perasaannya dalam-dalam.
Hari itu, langit kelabu kembali mengingatkannya dengan lelaki berambut abu-abu lembut.
“Karasuno?”
“Ya. Apa kau keberatan?”
Oikawa berkacak pinggang. “Tidak juga,” jawabnya santai, “Erm, saya hanya nggak pernah dengar aja.”
“Yah, pelatih baru mereka menghubungi kita dan meminta untuk berlatih dengan tim mereka,” ujar pelatih Irihata, “Kalau kau menolak, saya bisa sampaikan ke mereka.”
Ia menggeleng kepala. “Tidak masalah,” jawabnya, “Tidak apa-apa. Kita bisa lihat siapa mereka nanti saat latihan berlangsung.”
“Eh,” tanpa ia sadari, seseorang melongokkan kepala di belakangnya, “Itu sekolahnya Kageyama?”
Oikawa menyeringai, “Benar juga,” ujarnya, “Yah, jadi sudah pasti latihan ini nggak bakal membosankan, ya.”
Yang Oikawa kira adalah ia akan melihat adik kelasnya semasa SMP, dan melihat seberapa banyak ia telah tumbuh. Mungkin ia telah mengadaptasi gaya bermain yang berbeda di tim baru, mungkin tidak. Mungkin Kageyama akan tetap selalu menjadi raja yang egois.
Yang tidak ia sangka adalah melihat lelaki berambut kelabu muda yang mengenakan jaket tim voli Karasuno. Matanya masih seindah yang ia ingat, dan di sisi matanya ada tahi lalat yang membuatnya terlihat manis.
Ya Tuhan.
Ia harus mencubit lengannya untuk meyakinkan dirinya bahwa itulah lelaki yang ia cari selama ini.
Tidak mungkin ada orang lain yang memiliki fitur khas semacam itu. Mata jernihnya, suaranya yang tenang dan terdengar seolah ia sedang tersenyum. Mengapa ia ada di sini? Kenapa ia hanya muncul sekarang?
Oikawa ingin sekali berkata persetan dan melanjutkan permainan seolah tidak ada yang terjadi, namun jantungnya yang berdetak berkali-kali lebih kencang dari biasanya seolah mengkhianatinya. Inilah orang yang selalu ada di pikirannya, orang yang selalu ia cari di bawah guyuran hujan deras.
Oikawa mendengar namanya disebut. Sugawara. Sugawara, ia mengulang nama tersebut di benaknya. Setelah bertahun-tahun, ia akhirnya dapat menyebut namanya. Hilang sudah semua rasa penasaran tersebut, dan kini ada beban di dadanya yang turut terangkat. Mungkin, dengan ini Oikawa akan tahu apakah yang ia rasakan adalah cinta.
Ia membasahi bibirnya dengan percaya diri, dan melempar servis pertamanya.
“Sugawara-san?”
Nama itu terasa lebih ringan untuk disebut dibanding yang ia kira. Oikawa ingin terus mengucapkannya.
Sugawara menoleh ke arahnya, beberapa temannya melihatnya dengan tatapan penasaran. Tanpa disadari, ia telah mencuri perhatian semua orang. Ia akan meminta maaf setelah ini. Namun, untuk sekarang…
Mata Sugawara sedikit melebar, seolah ia tiba-tiba mendapat ilham. Sisi bibirnya terangkat, membentuk seulas senyum usil.
“Boleh bicara sebentar?” Oikawa meringis dalam hati melihat bagaimana ekspresi lawan mainnya hari itu seketika berubah tertarik. Ia sungguh-sungguh harus minta maaf setelah ini. “Erm, gue janji nggak akan lebih dari lima belas menit.”
“Ya, boleh,” mata Sugawara berkilat, “Kalian duluan aja. Gue nyusul.”
Oikawa membawanya ke belakang gym. Setelah sekian tahun lamanya, mereka berbicara lagi. Oikawa memulainya dengan, “Kita nggak pernah kenalan.”
“Yah, yang gue pikirin dulu cuma lo keliatan kayak kucing kecebur,” Sugawara terkekeh. Oikawa ingin sekali membungkamnya. “Jadi… Oikawa-san, ya?”
Oikawa mencibir. “Nggak perlu terlalu sopan begitu.”
“Lo pun begitu.”
“Gue masih punya sopan santun di hadapan orang banyak.”
Tawa Sugawara meledak. Entah sudah berapa lama Oikawa mendambakan hal ini untuk terjadi di hadapannya. “Baiklah, Oikawa,” ucap Sugawara usai tawanya mereda, “Payung gue kan udah lo balikin, kenapa masih nyariin gue?”
“Gue…” Oikawa hampir menggigit lidahnya. Ia ingin jujur. Gue nggak pernah bisa ngelupain lo dan wajah indah lo. Ia ingin berbohong. Gue nggak nyangka kita ketemu lagi di sini. Lo mirip seseorang yang pernah gue lihat dulu. Ia terus memutar otak. Gue selalu menunggu saat ini terjadi. Gue mau tahu apa isi kepala lo. Apa yang lo pikir tentang gue? Apa cuma gue yang bodoh selalu kepikiran tentang lo dan yang sebaliknya nggak terjadi? “Gue pikir kejadian ini lucu banget.”
“Apanya?” Sugawara menyilangkan lengan di dadanya. “Ketemu orang yang minjemin lo payung bertahun-tahun lalu?”
“Ya…” kalimatnya terhenti di tenggorokannya. “Yah, emang menurut lo nggak lucu?”
“Sedikit,” jawab Sugawara, “Maksudnya, siapa sangka? Gue baru pulang dari rumah sepupu gue waktu itu. Gue nggak sengaja bawa payung dia pulang, dan malah ketemu lo di jalan.”
Sugawara terlihat seperti belum menyelesaikan ceritanya, dan Oikawa membiarkannya lanjut berbicara. “Lalu beberapa tahun kemudian, gue ketemu lo lagi sebagai musuh.”
Oikawa mendengus.
“Gitu aja?” ada sedikit kekecewaan dalam pertanyaan Sugawara, “Nggak seru. Gue kira o mau menyatakan cinta.”
“Hah?” kini alis Oikawa mengerut bingung, “Kok jadi cinta?”
“Dengan lo nyamperin gue secara pribadi kayak gitu, seolah-olah lo mau bilang kalau kita terikat takdir karena kita bisa ketemu lagi di sini,” Sugawara menyerocos, “Gue sangka lo jatuh cinta pada pandangan pertama atau apa. Mungkin lo juga mau bilang gue orang terganteng yang lo pernah lihat dan nggak pernah ada siapa-siapa yang pernah menarik mata lo—”
“Wah, wah, kalau tahu orang baik yang nolongin gue waktu itu ternyata sesombong gitu, tahu gitu gue nggak usah ajak ngobrol baik-baik, ya!” Oikawa memotong kalimatnya dengan sewot, “Ternyata benar kata orang-orang, jangan nilai orang dari sampulnya!”
“Jadi, maksud lo gue ganteng, kan?”
Oikawa tidak bisa berbohong meskipun ia mau. “Ya, Sugawara.” Tidak ada keraguan di suaranya, namun ia dapat merasakan bagaimana wajahnya sedikit memanas.
“Suga aja,” si lelaki berambut abu-abu ini akhirnya berhenti mengusilinya, “Kalau lo beneran mau temenin sama gue, nggak usah terlalu formal begitu.”
Oikawa tertawa kecil. Kali ini ia bersungguh-sungguh.
“Gitu aja, kan? Lo cuma mau kenalan sama gue?” Suga membenarkan posisi tasnya, seolah bersiap-siap pergi, “Urusan kita selesai, kan?”
Oikawa ingin sekali bilang tidak, jangan pergi dulu. Ia tidak ingin urusan mereka selesai di situ. Masih banyak hal yang mereka bisa bicarakan. Mungkin mereka bisa membuat janji bertemu lagi—
“Harusnya…” kalimatnya menggantung di udara, seolah menunggu diselesaikan oleh lawan bicaranya, “Kecuali lo masih mau berurusan sama gue.”
Ekspresi Suga berubah. Alisnya terangkat, lalu mengerut. Lalu membuka sebelum mengerucut. Bola matanya bergerak-gerak ke kanan dan ke kiri, berusaha mencari jawaban untuk membalas omong kosong Oikawa. Kemudian ia menyerah dan menghela nafas.
“Pulanglah,” Oikawa berujar dengan nada sedikit angkuh, “Kita bakal ketemu lagi di kejuaraan musim semi, kan?”
Mata Suga berkilat nakal. “Kalau lo sudi.”
Suga memutar badan dan berjalan menjauh sebelum berhenti lagi. “Kalau lupa bawa payung lagi, bisa cari gue juga, kok,” katanya tanpa menoleh, “Nggak harus pas kejuaraan.”
Oikawa merasakan wajahnya memanas. Ia bergegas menghampiri lelaki berambut kelabu tersebut dan meraih lengannya.
“Minggu depan,” katanya dengan nafas sedikit terengah, “Kalau nggak harus pas kejuaraan, bisa minggu depan, kan?”
Ada kerlip di mata Suga yang terasa familiar. Tatapannya terlihat senang, seperti seseorang yang berhasil mendapatkan sesuatu yang didambakan. Oikawa mengenal betul tatapan tersebut; ia sering melihatnya di mata penggemarnya setiap kali ia memberi perhatian kepada mereka—sekecil apapun. Yang berbeda kali ini adalah desir di dadanya; seolah ia turut menang.
Mulut Suga sedikit terbuka, namun tidak ada kata-kata yang keluar. Terburu-buru, ia merogoh kedua saku jaket dan kemudian tasnya. Nihil—ekspresi wajahnya meredup saat ia gagal menemukan hal yang ia cari. Namun ia mengambil ponselnya dan dengan sama terburu-burunya, ia mengetik sesuatu di ponselnya.
Suga menyodorkan ponselnya, “Masukin kontak lo di sini,” ujarnya cepat, “Nanti gue hubungin lo lagi. Buruan, gue ditungguin. Ayo!”
