Work Text:
𝘛𝘪𝘬. 𝘛𝘪𝘬. 𝘛𝘪𝘬. 𝘛𝘪𝘬.
Bunyi detik jam dinding berdetak dengan keras, seakan melawan riuhnya deras hujan yang mengguyur bumi di luar sana.
1 jam, 2 jam berlalu. Tidak ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Padahal malam semakin larut dan cuaca pun terasa semakin dingin. Lelaki bertubuh jangkung dengan mantelnya yang semula hanya menyampir di kursi, kini ia kenakan sebelum akhirnya beranjak meninggalkan ruangan.
Kageyama Tobio namanya. Sebut nama itu satu kali, dan orang-orang bisa absen deretan lakonnya di film-film terkenal yang bahkan bisa lebih dari berminggu-minggu tak turun layar di bioskop kesayangan. Sebesar itu perannya di dunia akting meskipun belum genap satu dekade pengalamannya.
Bisa dibilang, Kageyama memiliki kisah hidup yang kata orang-orang semulus jalan tol. Meski terlahir dari keluarga yang memiliki latar belakang di industri hiburan, Kageyama berusaha sendiri untuk meraih mimpinya dengan mengikuti audisi kesana-kemari. Mulai dari peran kecil yang hanya diupah makan siang, hingga peran sampingan di film layar lebar yang mengalihkan perhatian. Banyak produser berbondong-bondong langsung menawarinya peran besar, namun Kageyama berusaha rendah hati untuk menerima peran-peran yang masih dalam jangkauan kemampuannya sebagai aktor pemula. Bukan, bukan berarti ia tak mau berkembang. Justru Kageyama ingin menguasai selangkah demi selangkah sembari banyak mempelajari beragam karakter, dan semua tekadnya telah membuktikan bahwa keputusan-keputusan di awal karirnya telah membawanya hingga di titik di mana semua peran yang dilakoninya akan selalu berhasil dan membuat tayangan apapun yang dibintanginya melambung tinggi.
Kiranya, itulah garis besar kisah seorang Kageyama Tobio, aktor layar lebar yang saat ini berada di puncak kesuksesannya. Namun, kata pepatah yang berbunyi semakin tinggi pohon maka semakin kencang angin menerpanya, rupanya tak luput dari kehidupan Kageyama.
Dan itulah alasan mengapa ia terjebak hingga turun hujan di kantor agensinya selepas pertemuan dengan beberapa orang penting di sana. Mari kita kilas balik sebentar.
***
Pukul tiga sore, Kageyama selesai dengan jadwal padatnya sejak pagi buta. Seharusnya ia bisa menganggap itu sebagai kesempatan untuk pulang lebih awal dan segera mengistirahatkan diri di apartemen, namun ia diingatkan oleh manajernya bahwa sore itu mereka memiliki pertemuan penting di kantor agensi terkait proyek barunya. Maka, mau tak mau ia membawa dirinya ke sana meskipun badannya lelah tak terkira.
“Di pertemuan sebelumnya kamu sudah menyetujui proyek ini, sekarang silakan kamu baca terlebih dahulu untuk detailnya sebelum kita diskusikan lebih lanjut.”
Kageyama menerima sebuah map yang berisikan lembaran-lembaran kertas yang tersusun rapi. Beberapa telah ia baca di pertemuan sebelumnya, beberapa baru ia lihat saat itu termasuk rencana detail jadwal syuting yang akan berjalan.
“Kamu sudah mengenal 𝘱𝘢𝘳𝘵𝘯𝘦𝘳mu?”
Kageyama sontak menggeleng. Ia bolak-balikkan lembar berisikan informasi terkait aktor yang akan menjadi lawan mainnya.
Hinata Shoyo.
Tentu ia tahu siapa Hinata Shoyo. Namun, mereka tidak pernah benar-benar bertemu dan berkenalan. Hanya sebatas tahu satu sama lain dan beberapa kebetulan yang mempertemukan mereka di acara-acara besar.
Semua ini karena jalan keduanya yang bertolak belakang. Kageyama lebih banyak berkarir di film layar lebar, sementara Hinata adalah aktor terkenal yang wajahnya wara-wiri di banyak seri drama. Hinata pun secara teknis adalah seniornya karena ia berkecimpung lebih dahulu di dunia entertain, semakin banyak alasan yang membuat Kageyama tidak pernah mengenalnya secara pribadi.
Namun, saat ini, tak ada lagi alasan untuk membuat Kageyama tak mengenal Hinata. Meskipun ini bukan pertama kalinya Kageyama bermain dalam sebuah drama, tetap saja ini adalah perdananya membintangi satu seri penuh dengan genre 𝘣𝘰𝘺𝘴 𝘭𝘰𝘷𝘦. Kageyama pernah berperan sebagai karakter gay di layar lebar, namun untuk berakting dalam durasi yang lebih lama, akan lebih banyak kemistri yang dibutuhkan untuk dibangun dan Kageyama paham akan hal itu.
Satu pesan baru ia dapatkan dari manajernya yang tengah duduk di sebelahnya. “Nomornya Hinata Shoyo. Baiknya kamu duluan yang hubungi.”
Kageyama hampir merengut sebelum manajernya kembali melanjutkan, “kamu nggak mau kan rumornya makin parah?”
Ah, rumor itu lagi. Rumor yang menyebutkan bahwa Kageyama adalah aktor yang memiliki etika yang kurang sehingga kerap kali dicap tidak sopan dan terlalu cuek, bahkan ketika berinteraksi dengan aktor lainnya. Rumor ini selalu naik tiap kali proyek barunya diumumkan, tak jarang kolom komentar dipenuhi dengan ujaran tak menyenangkan. Dengan proyek ini pun, sangat mungkin jika rumor tersebut akan kembali naik. Maka, pembahasan disana tak hanya tentang bagaimana proyek akan berjalan, namun juga beberapa wejangan bagi Kageyama untuk menjaga citra diri agar rumor tersebut tak menjadi penghambat.
Dan sepanjang pertemuan itu berlangsung, pikiran Kageyama terpecah pada seperti apa seharusnya pesan pertama yang dikirimkan untuk lawan mainnya tersebut.
***
Kageyama cukup menyesali bagaimana ia membiarkan manajernya pulang terlebih dahulu karena ia memiliki urusan di luar pekerjaan. Jika tahu akan turun hujan seperti ini, harusnya Kageyama minta diantarkan setidaknya sampai apartemen. Tapi mengingat manajernya juga pasti kelelahan karena mengikuti jadwalnya sejak matahari bahkan belum terbit, Kageyama membiarkannya pulang tanpa mengantarkannya.
Sebetulnya yang menjadi masalah bukan pada manajernya, tetapi sopir pribadinya. Kageyama bisa saja memesan taksi online sejak awal, namun ia memilih untuk memanggil sopir pribadinya dan insiden tak disangka justru terjadi. Kageyama memang jarang memakai mobilnya sehingga ketika hari ini dikeluarkan, mobilnya mendadak mogok karena lama tak pernah ia cek. Tadinya Kageyama berusaha sabar menunggu, namun lelahnya tak dapat dipungkiri hingga ia akhirnya mengirim pesan pada sopirnya untuk tak usah menjemput karena ia akan menaiki taksi. Rentetan kalimat lainnya seperti meminta sopirnya untuk menyampaikan nominal tagihan perbaikan serta permintaan maaf karena membiarkannya membawa mobil ke bengkel sendirian telah dikirimnya hingga satu pesan muncul tepat sebelum ia memasukkan ponselnya pada saku mantel.
(𝗨𝗻𝗸𝗻𝗼𝘄𝗻 𝗡𝘂𝗺𝗯𝗲𝗿)
Selamat malam, Kageyama Tobio? Ini nomor Hinata Shoyo. Tolong disimpan ya, mohon kerjasamanya. Terima kasih!
Kageyama mengernyit. Ia cukup kaget mendapatkan pesan lebih dahulu dari Hinata, padahal ia bermaksud untuk mengiriminya nanti. Ketika ia mengetikkan balasan, sebuah taksi terlihat dari kejauhan. Ia melambaikan tangannya untuk menghentikan taksi tersebut, dan segera memasukkan ponselnya ke saku tanpa tahu apa yang terjadi. Pikirnya ia akan balas pesan Hinata ketika sampai di apartemen.
(𝗨𝗻𝗸𝗻𝗼𝘄𝗻 𝗡𝘂𝗺𝗯𝗲𝗿)
Selamat malam, Kageyama Tobio? Ini nomor Hinata Shoyo. Tolong disimpan ya, mohon kerjasamanya. Terima kasih!
𝗞𝗮𝗴𝗲𝘆𝗮𝗺𝗮 𝗧𝗼𝗯𝗶𝗼
Iya
***
Kening Hinata berkerut melihat pesan balasan yang hanya terdiri dari tiga huruf tersebut. Iya, katanya? Padahal Hinata mencoba seramah mungkin untuk menyapanya terlebih dahulu dan balasan itu yang ia dapatkan.
Hinata tentu pernah mendengar rumor tentang Kageyama yang banyak dibincangkan. Kalau soal mencari informasi tentang lawan mainnya, kemampuan Hinata tidak usah diragukan. Lamanya ia berkecimpung di industri hiburan membuatnya berpikir bahwa apa yang sering diberitakan tentang etika Kageyama hanyalah sebuah kesalahpahaman, 𝘧𝘳𝘢𝘮𝘪𝘯𝘨 yang terbentuk dari beberapa potongan video yang menimbulkan berbagai interpretasi. Namun, melihat bagaimana Kageyama memberikan respons membuat Hinata berpikir kembali. Apakah Kageyama memang seperti apa yang dibicarakan orang-orang?
Ah, harusnya Hinata tidak perlu berpikir jauh hanya karena sebuah balasan. Ini baru permulaan dan Hinata mencoba untuk tidak membuat spekulasi apapun. Meskipun ia rasa Kageyama sedikit mengintimidasi, ia akan tetap mencoba menjadi dirinya sendiri.
𝗛𝗶𝗻𝗮𝘁𝗮 𝗦𝗵𝗼𝘆𝗼
Selamat malam, Kageyama Tobio? Ini nomor Hinata Shoyo. Tolong disimpan ya, mohon kerjasamanya. Terima kasih!
𝗞𝗮𝗴𝗲𝘆𝗮𝗺𝗮 𝗧𝗼𝗯𝗶𝗼
Iya
𝗛𝗶𝗻𝗮𝘁𝗮 𝗦𝗵𝗼𝘆𝗼
Terima kasih, Kageyama! Aku izin panggil kamu kayak gitu biar akrab ya
Pertemuan resmi pertama kita buat proyek ini masih beberapa minggu lagi, kamu mau nggak ketemu di luar jadwal dulu?
Nggak ada paksaan kok, aku cuma pengen mengakrabkan diri sama partnerku
Kalo kamu mau, kasih tau aku ya kira-kira bisanya kapan
Setelah mengirimkan rentetan teks yang panjang, Hinata merebahkan diri. Ia gunakan sebelah lengannya untuk menutup matanya. Helaan nafas terdengar setelahnya. Ia tahu ia tidak boleh asal menuduh, tapi firasatnya, bekerja dengan Kageyama akan menjadi salah satu tantangan yang besar.
Diraihnya kembali ponselnya, mengetikkan nama Kageyama Tobio di mesin pencarian internet.
Sesuai dugaan, cukup banyak berita tidak mengenakkan yang menjadi 𝘩𝘦𝘢𝘥𝘭𝘪𝘯𝘦. Hinata berdecak, orang-orang ini sepertinya kehabisan bahan untuk diberitakan hingga hal-hal kecil yang asalnya dari spekulasi pun seolah menjadi berita besar.
“Aktor Kageyama Tobio Kembali Menjadi Sorotan Usai Acara Penghargaan Karena Dianggap Berperilaku Kurang Sopan.”
Hinata menggulir layar ponselnya, membaca satu persatu komentar yang tertinggal disana. Komentarnya sangat tipikal orang-orang yang mudah termakan potongan video 2-3 detik yang tak menunjukkan keseluruhan kejadian.
Kemudian, satu komentar menarik perhatiannya.
‘Kalo dibandingin sama Hinata Shoyo yang aktor seumurannya, beda jauh banget. Hinata selalu 𝘩𝘶𝘮𝘣𝘭𝘦 ke semua orang, nggak kayak dia yang 𝘣𝘢𝘥 𝘢𝘵𝘵𝘪𝘵𝘶𝘥𝘦.’
Hinata bingung karena dirinya tiba-tiba dibawa. Namun, ternyata komentar itu bukan satu-satunya.
‘Kalian pada tau Hinata Shoyo kan? Padahal Hinata jauh lebih senior dari dia, tapi Hinata lebih sopan dan rendah hati.’
‘Mending stan Hinata Shoyo yang udah jelas orangnya baik aja guys.’
Hinata mengernyit. Ada apa dengan orang-orang ini yang menyebut-nyebut dirinya di berita tentang aktor lain…
Hinata tidak bisa membayangkan bagaimana jika drama mereka nanti sudah dirilis secara resmi. Hinata tiba-tiba merasa tidak enak pada Kageyama karena bahkan pada berita yang tidak menyebutkan Hinata pun, ada orang-orang yang menyebutkan namanya untuk dibandingkan dengan Kageyama.
Secara pengalaman, Hinata memang terhitung sebagai aktor senior karena ia telah menjadi bintang sejak kecil. Drama-drama yang dibintanginya tak terhitung lagi mulai dari pemeran sampingan hingga pemeran utama. Namanya pun akhir-akhir ini selalu naik karena sejak dirinya membintangi serial 𝘣𝘰𝘺𝘴 𝘭𝘰𝘷𝘦, tak ada rating yang mengecewakan. Hinata memiliki banyak penggemar loyal yang selalu mendukung apapun jalan yang dipilihnya, termasuk keputusan besarnya untuk terjun ke dunia BL ini. Penggemarnya selalu bilang mereka mencintai Hinata karena kepribadiannya yang secerah mentari dan kemampuan aktingnya yang luar biasa, sehingga tak ada alasan untuk meninggalkan Hinata hanya karena peran-peran yang dipilihnya karena apapun yang dilakoni Hinata, selalu berhasil mengambil hati mereka.
Mungkin penggemarnya memang benar soal kepribadian Hinata yang baik, karena saat ini, Hinata justru memikirkan bagaimana ia harus mengkomunikasikan isi kepalanya kepada Kageyama.
Ia ingin membantu Kageyama. Bukan semata-mata agar proyek mereka memiliki citra yang baik, namun ia juga ingin Kageyama dipandang tak hanya sebatas kesimpulan asal dari video berdurasi pendek yang beredar di internet.
Hinata merasa yakin bahwa Kageyama tak seperti apa yang dibicarakan orang banyak setelah dirinya menonton beberapa 𝘧𝘢𝘯𝘤𝘢𝘮 Kageyama yang berdurasi lebih lama.
Ia hanya perlu tahu mengapa Kageyama bertindak seperti apa yang beredar di rumornya.
***
Pertemuan tidak resmi yang dijadwalkan terjadi tak lama setelah Kageyama menyetujui pesan yang terakhir dikirimkan oleh Hinata. Keduanya bertemu di tempat yang cukup aman, kafetaria di agensi Hinata di jam makan siang. Hinata meyakinkan Kageyama kalau kafetaria agensinya punya makanan yang enak, dan Kageyama menyetujui karena agensi Hinata pun tak jauh dari apartemennya, bahkan lebih dekat jika dibandingkan dengan agensinya sendiri.
“Maaf, udah nunggu lama?” Kageyama menggeleng begitu Hinata sampai di hadapannya. Hinata sudah menyampaikan pesan sebelumnya bahwa ia kemungkinan terlambat karena ada pertemuan di agensinya yang dijadwalkan selesai saat jam makan siang, namun tahu sendiri kalimat selesai itu tentatif.
Hinata menyodorkan tangannya terlebih dahulu. “Kayaknya kita belum bener-bener kenalan. Aku Hinata Shoyo, seumuran sama kamu jadi nggak perlu formal-formal banget ya. Mau panggil aku Shoyo pun boleh, aku nggak keberatan selagi itu bisa bikin kita lebih akrab.”
Kageyama cukup terkejut dengan betapa santainya Hinata. Kageyama pernah bertemu dengan orang-orang yang memintanya untuk menghilangkan formalitas, tapi di pertemuan pertama? Baru Hinata yang melakukannya.
“Kageyama Tobio. Aku sebenernya nggak kebiasa dipanggil sama namaku, tapi karena kamu bolehin aku manggil kayak gitu, kamu juga boleh.. Panggil Tobio.”
Hinata lantas tertawa di tengah jabatan tangan mereka. Baginya situasi di mana Kageyama berusaha mengimbanginya cukup lucu.
“Gapapa loh kalo kamu gak kebiasa dipanggil Tobio, aku bisa panggil kamu Kageyama kok kalo kamu nyamannya kayak gitu.”
Kageyama menggeleng dengan cepat begitu jabatan tangan mereka diturunkan. “Gapapa, gapapa. Kayaknya aku juga harus biasain diri, lagian ini bakal jadi proyek yang durasinya lama, jadi aku emang harus banyak adaptasi dan salah satunya biar akrab sama kamu. Buat tanda terima kasih juga karena kamu udah undang aku kesini, aku traktir kamu ya hari ini—”
“Kata siapa kamu boleh traktir? Aku yang ngajak, aku yang traktir lah. Lagian kan ini juga di agensiku, biarin aku aja yang urus.” Hinata menolak bahkan sebelum Kageyama menyelesaikan kalimatnya.
Hinata kembali menimpali. “Kamu mau minum apa hari ini? Di sini ada regular coffee, signaturenya, non coffee juga ada. Kamu biasanya minum susu stroberi, kan?”
“Kok tau…”
Hinata terkikik. “Maaf kalo aku buka-bukain profil kamu sebelum kesini. Seenggaknya aku tau 𝘵𝘳𝘪𝘷𝘪𝘢𝘭 𝘵𝘩𝘪𝘯𝘨𝘴 termasuk makanan sama minuman favorit kamu biar aku gak salah pilih tempat. Tapi untungnya di kafetaria ini semuanya ada.”
Lagi-lagi Kageyama dibuat kagum dengan seberapa cekatannya Hinata. Kageyama paham memang pengalamannya tak seberapa jika dibandingkan dengan aktor yang telah berlakon sejak kecil itu.
“Boleh, susu stroberi deh. Makanannya udah tau kan ya?”
Hinata mengangguk dengan senyum lebar sebelum dipanggilnya waitress disana untuk membuat pesanan mereka.
“Tapi ini beneran gapapa kamu yang traktir?”
Kiranya itu pertanyaan ketiga kalinya yang dilontarkan Kageyama. Hinata menjawabnya dengan jujur. “Kamu tuh aslinya emang orang baik ya…”
“Emang kamu denger aku orang jahat?”
Hinata terbahak. Jawaban Kageyama di luar dugaan, tapi ia lekas meminta maaf. “Maaf, aku nggak maksud nyinggung—”
“Ngerti kok, Shoyo. Pasti kamu juga udah baca soal berita aku, jadi nggak heran kalo mungkin kamu sempet mikir yang sama kayak orang-orang, aku nggak kesinggung sama sekali.”
Hinata sempat terdiam beberapa saat sebelum akhirnya buka suara, bersamaan dengan waitress yang meninggalkan meja mereka begitu pesanan keduanya diantarkan. “Kamu percaya gak kalo aku bilang aku nggak mikir kayak mereka?”
Kageyama mengernyit. “Kenapa gitu…? Padahal waktu awal ditawarin proyek ini, aku sempet ragu soalnya lawan mainnya kamu. Aku berkali-kali liat orang bandingin kamu sama aku dan aku nggak marah soal itu karena emang bener, aku cuma takut aku malah bikin image kamu jadi ikutan jelek kalo main sama aku.”
“Jadi, kenapa kamu akhirnya nerima proyek ini?”
“Soalnya kamu udah terima duluan, jadi aku pikir gapapa walau masih sempet ragu dan nggak kebayang bakal gimana. Tapi aku yakin kamu pasti bisa profesional.”
Hinata mengetuk-ngetuk jarinya di meja, ragu untuk melontarkan kalimat balasannya. Tapi karena kepalang memenuhi kepalanya dari berhari-hari lalu, ia akhirnya memberanikan diri. “Kamu keberatan nggak kalo aku nanya-nanya soal rumor kamu itu?”
Kageyama juga sudah memprediksi yang satu ini. “Aku jarang cerita tentang ini karena aku biasanya ngebiarin orang-orang yang kenal sama aku bikin penilaian sendiri, bukan dari spekulasi yang ada. Tapi karena kita bakal kerja bareng lebih lama, kayaknya aku juga perlu cerita ke kamu.”
Hinata mengangguk, menanggapi ucapan Kageyama sebelum menyuapkan sesendok cheesecake. “Nggak perlu ngerasa terbebani ya, cerita yang sanggup kamu ceritain aja. Kalo sekiranya kamu rasa ada bagian yang gak perlu diceritain, jangan dipaksain ya.”
Dengan itu, Kageyama memulai cerita yang dialaminya tahun lalu. Hela nafasnya cukup berat. Bukan hal yang traumatis, tapi cukup membuatnya merasa tidak nyaman saat itu.
“Aku hampir kena 𝘥𝘢𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘤𝘢𝘯𝘥𝘢𝘭.”
Awalan yang bagus untuk membuat Hinata memberi reaksi melongo saat mendengarnya.
“Tahun lalu aku main drama. Bukan pemeran utama, tapi karakterku juga punya 𝘭𝘰𝘷𝘦𝘭𝘪𝘯𝘦nya sendiri. Meskipun gak sebanyak itu, tapi aku tetep harus maksimal sama peranku. Jadi, waktu itu aku sering latihan sama partnerku. Yang tadinya cuma di jadwal resmi, lama-lama tetep ketemu di luar jadwal resmi karena aku juga udah biasa 𝘩𝘢𝘯𝘨𝘰𝘶𝘵 sama siapapun temen kerjaku. Tapi kayaknya karena aku yang suka ngajak duluan atau ga nolak gestur dia, aku mulai disalahpahamin. Kayak misalnya waktu di acara penghargaan, aku sama dia dateng bareng, dan dia minta kita gandengan aku gak nolak karena aku mikir, bukannya wajar juga ya kalo kita dateng di 𝘳𝘦𝘥 𝘤𝘢𝘳𝘱𝘦𝘵 sebagai salah satu pasangan yang mewakili drama kita dengan keadaan gandengan tangan kayak gitu?”
Hinata mengangguk, menyetujui karena hal tersebut memang hal yang umum.
“Tapi dia ngira aku kayak gitu karena suka sama dia. Dia emang udah suka duluan sama aku walau waktu itu aku gak sadar, jadi semua hal yang dia lakuin ke aku tuh emang ngarepin timbal balik yang sama. Dia kira karena aku gak pernah nolak dan bahkan selalu ngajakin dia ketemuan di luar itu tandanya aku juga punya perasaan yang sama. Lebih parahnya lagi, dia sering update di sosmednya momen sama aku, yang kadang tanpa konsen dari aku, makanya hal itu nimbulin banyak dugaan kalo aku pacaran sama dia.”
Kageyama kemudian menutup ceritanya. “Itulah kenapa aku mulai batasin interaksi karena aku takut ada yang salah paham lagi. Sebenernya nggak separah yang ada di internet, aku cuma ngurangin basa-basi yang gak perlu aja dan lebih nempatin diri supaya nggak berlebihan. Soal partnerku itu juga aku udah kasih 𝘤𝘭𝘰𝘴𝘶𝘳𝘦 yang jelas, makanya foto-fotoku yang ada di sosmed dia udah dihapus dan dia udah gak pernah hubungin aku lagi, kalo nggak sengaja ketemu pun cuma sebatas nyapa formalitas aja.”
Sekarang semuanya masuk akal di kepala Hinata. Sudah seharusnya memang dia tidak menaruh tuduhan yang belum pasti sebelum mendengar langsung dari orangnya.
“Oh, sama satu lagi.” Kageyama menambahkan. “Takut kamu salah paham juga karena waktu pertama kamu chat itu aku nggak bermaksud jawab secuek itu. Waktu itu aku mau bales, tapi lagi nunggu taksi dan keburu dateng, jadi aku langsung masukin HP ke saku dan baru sadar ternyata baru ngetik iya doang udah kepencet kirim. Maaf ya kalo itu nimbulin kesan jelek…”
Hinata tersenyum. “Gapapa, dengan kamu mau ketemu aku disini dan ngejelasin semuanya aja udah nunjukkin kalo kamu emang gak bermaksud jelek. Tenang aja, Tobio. Aku gak akan langsung ambil kesimpulan dan nuduh orang cuma karena satu balesan doang kok!”
Kageyama menghela nafas lega. Entah kenapa, Hinata membuatnya merasa cukup nyaman untuk menceritakan segala beban yang selama ini ia pikul sendirian. Mungkin karena kepribadian Hinata memang membuatnya yakin bahwa orang di depannya ini memang tak memiliki maksud apapun.
“Tapi kamu ngerasa keganggu nggak sama rumor-rumor yang ada?”
“Jujur itu emang cukup ngeganggu sih, kayaknya nggak ada yang gak keganggu kalo pergerakan sekecil apapun bisa jadi berita besar, mana beritanya juga negatif. Tapi aku masih belum yakin gimana harus nguranginnya karena aku sendiri masih belum bisa sepenuhnya yakin sama orang lain.”
“Kamu bisa yakin nggak sama aku?”
Pertanyaan langsung dari Hinata membuat Kageyama berpikir untuk beberapa saat.
“Aku sebenernya mau bantu kamu, Tobio. Nggak cuma buat naikin 𝘳𝘢𝘵𝘪𝘯𝘨 drama kita waktu tayang nanti, tapi karena aku sejak awal udah yakin kalo kamu nggak kayak apa yang diberitain di internet. Mungkin bisa pelan-pelan bikin nama kamu jadi lebih baik lagi karena kamu bilang juga kamu pengen tapi masih bingung gimana caranya kan?”
“Caranya gimana emangnya…?”
“Kamu lakuin aja apa yang biasanya kamu lakuin ke lawan main kamu dulu. Maksudnya, kalo sama aku, kamu gak perlu nahan diri, Tobio. Terutama hal-hal yang depan kamera atau di tempat yang punya potensi buat ketangkep kamera. Meskipun kesannya kayak 𝘧𝘢𝘬𝘦, tapi seenggaknya kamu lakuin itu ke aku. Nggak perlu takut kena skandal juga, kan aku emang partner kerja kamu. Anggep aja ini bagian dari 𝘧𝘢𝘯𝘴𝘦𝘳𝘷𝘪𝘤𝘦 juga.”
Sebelum Kageyama sempat menanggapi, Hinata menambahkan untuk klarifikasi. “Aku nggak ada maksud apa-apa, kamu nggak perlu skeptis sama aku ya. Anggep ini 𝘸𝘪𝘯-𝘸𝘪𝘯 𝘴𝘰𝘭𝘶𝘵𝘪𝘰𝘯 buat proyek kita. Aku juga ngerasa nggak enak karena bahkan dari sebelum kita kerja bareng, orang-orang suka tiba-tiba nyeret nama aku buat dibandingin sama kamu. Aku pengen bantu buktiin kalo mereka nggak perlu bandingin aku sama kamu karena kita sama, Tobio.”
Kageyama tahu Hinata memang orang yang rendah hati berdasarkan testimoni orang-orang yang pernah bekerja dengannya, tapi Kageyama tidak tahu Hinata sesupel ini, bahkan menawarkan bantuan yang tak pernah Kageyama bayangkan di pertemuan pertama mereka.
“Boleh kalo gitu, aku setuju. Aku percaya kok kamu nggak ada maksud gimana-gimana, aku udah tau kamu seprofesional apa kalo kerja. Tapi kamu juga jangan ngerasa terbebani atau harus kasih timbal balik untuk apapun yang bakal aku lakuin buat kamu nantinya, karena aku juga nggak akan nyoba buat pura-pura, aku cuma bakal lebih bebas aja sama kamu dan balik ke diri aku yang kayak biasanya.”
Hinata tersenyum lebar. “𝘋𝘦𝘢𝘭. Jangan sungkan sama aku ya, Tobio! Aku nggak gigit kok, jadi jangan takut apapun selama itu sama aku, oke?”
Kageyama sontak tertawa mendengar kalimat yang dilontarkan Hinata. Suasananya terasa lebih mencair sekarang. “Kita kan 𝘮𝘦𝘦𝘵𝘪𝘯𝘨 sama tim produksi seminggu lagi, habis itu kamu ada jadwal nggak?”
Hinata membuka ponselnya, mengecek kalender untuk melihat jadwal yang telah disusun rapi oleh manajernya. “Aku baru 𝘧𝘳𝘦𝘦 tiga hari setelah itu, hari Sabtu. Kenapa emangnya?”
Kageyama ikut membuka kalender di ponselnya, “Sabtu ya? Oh, sama aku juga kosong hari Sabtu. Cuma ada jadwal pagi di agensi, harusnya sih nggak lama. Sebenernya aku mau ngajakin kamu ketemu lagi sih, yang nggak formal-formal amat maksudnya. Kamu suka main game nggak?”
“Suka banget! Yuk, mau main game bareng?” Hinata tiba-tiba semangat mendengar kata game.
“Aku punya set game di apartemenku, jarang dipake soalnya paling juga aku main sendiri atau berdua sama manajer kalo lagi kosong. Kalo kamu gak keberatan, mau main game bareng di apartku? Atau kalo nggak mau, kita bisa ke arcade.”
“Nggak apa-apa, kita main game yang ada di apart kamu aja. Sayang kalo gak dipake. Kabarin aja ya kamu selesai jadwal jam berapa, biar aku bisa sesuaiin. Kalo selesai di waktu makan siang, nanti aku bawa makanan buat dimakan bareng.”
“Mau aku jemput nggak?”
Hinata menggeleng cepat. “Nggak usah, kalo kamu ke apartku dulu nanti malah muter-muter. Kamu kirimin aja lokasinya ya, aku kesana nanti.”
“Oke, nanti aku kirimin lokasinya. Kalo jadi bawa makan, gak usah banyak-banyak, takut gak abis soalnya aku lagi diet.”
Hinata terbahak dan meninju kecil lengan Tobio. “Gak usah diet-diet, kamu kan olahraganya juga rajin. Udah pokoknya nanti kita 𝘤𝘩𝘦𝘢𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘺 aja.”
Kageyama ikut tertawa sebelum terhenti ketika melihat ke arah jendela. Langit mulai gelap dan gerimis turun perlahan.
“Kayaknya aku harus pulang sekarang deh. Nggak enak nyetir pas hujan.”
Hinata ikut melihat ke arah jendela. Benar, cuaca akhir-akhir ini memang tidak mendukung aktivitas lama-lama di luar karena hujan tidak bisa diprediksi kapan turunnya.
“Ya udah, yuk, aku juga kayaknya pulang sekarang. Sebelum jalanan keburu macet.”
Keduanya berdiri dari kursi. Sebelum benar-benar pergi, Hinata menyampaikan kalimat finalnya sebagai konklusi dari pembahasan mereka hari itu. “Tobio, inget, jangan sungkan sama aku, oke? Kalo kamu perlu apa-apa juga kamu boleh chat aku kapanpun, telfon juga gapapa sih asal nggak di tengah jadwal. Kalo mau main game online bareng juga boleh. Apapun itu, kamu bebas bilang ke aku.”
Kageyama tersenyum, membalas dengan singkat namun cukup untuk menjawab semuanya sambil mengacungkan satu jempolnya, “Aman.”
***
Hari Sabtu yang direncanakan itu akhirnya tiba. Jadwal Kageyama di agensi ternyata tidak memakan waktu lama, jadi ia segera pulang ke apartemennya untuk sedikit beres-beres dan menyiapkan set game untuk ia mainkan bersama Hinata. Begitu ia selesai merapikannya, ia mendapat pesan kalau Hinata sudah dekat.
Sembari menunggu, Kageyama membuka sosial medianya. Kolom komentar dari unggahan terakhirnya ramai dibanjiri komentar, lebih banyak dari biasanya karena efek dari berita proyek mereka yang telah resmi dirilis saat pertemuan dengan tim produksi beberapa hari lalu. Tone komentarnya variatif, mulai dari yang positif hingga negatif.
Dan seperti dugaan, kebanyakan komentar negatif yang datang karena mengetahui lawan mainnya adalah Hinata. Kageyama sudah menduga akan seperti apa kalimat-kalimat yang mereka lontarkan.
‘Gila, kok bisa sih mainnya sama Hinata?? Gak cocok banget’
‘Aku rela Hinata main BL sama siapa aja, tapi sama Kageyama? BIG NO!’
‘Ini sutradaranya mikirin apaan sih nyatuin mereka berdua. Udah Kageyama kamu fokus main film aja, gausah segala main BL’
‘Kasian banget Hinata, takutnya dia jadi korbannya Kageyama juga’
Dan rentetan komentar negatif lainnya yang membuat Kageyama menghela nafas kasar. Ia sudah terbiasa membaca kalimat-kalimat kasar dan tidak menyenangkan tentang dirinya, tapi karena kali ini lebih banyak membawa nama Hinata, ia semakin merasa tidak enak. Kageyama hanya takut proyek mereka menjadi satu-satunya proyek Hinata yang kurang sukses hanya karena Hinata berakting dengan dirinya.
Kegiatannya terhenti karena mendengar suara dari pintunya. Ah, pasti Hinata. Dilihat dari kamera intercom memang Hinata dan entah apa saja yang ia bawa sampai tangannya penuh.
“Hai! Kenapa muka kamu gitu?” tanya Hinata begitu pintu terbuka.
“Hah?”
“Alis kamu tuh nyatu.”
Hinata tertawa melihat Kageyama yang berusaha menormalkan ekspresinya. Kageyama tidak sadar ia masih membawa wajah mengkerutnya setelah membaca komentar-komentar di sosial medianya tadi.
Setelah dipersilakan masuk, Hinata menaruh kantong yang dibawanya ke atas meja makan. Ponsel Kageyama masih tertinggal disana, layarnya terbuka dengan komentar-komentar yang terpampang jelas. Hinata tidak bermaksud melihat, tapi memang Kageyama kalau bermain ponsel tingkah kecerahan layarnya setinggi itu…?
“Lagi bacain komen jelek ya?” tanya Hinata sambil menata makanan di meja.
Kageyama yang menyadari kemudian mengambil ponselnya, segera menguncinya. Hinata melanjutkan dengan kalimat isengnya, “pantes muka kamu ngerut banget. Kirain gak seneng aku dateng.”
Kageyama dengan panik menjawab, “nggak gitu. Tadi gak sadar aja.”
Hinata lagi-lagi tertawa. “Iya tau kok. Santai aja kenapa sih, tegang banget kayak yang lagi diospek gitu. Mending kamu ambil nih makanannya, kita main sambil makan atau mau makan aja dulu?”
Kageyama menarik kursi di hadapannya, duduk disana setelah membantu Hinata menata makanan. “Makan dulu aja, aku harus fokus kalo main game gak bisa multitasking.”
“Ooo, ambis banget, belum juga mulai.” Hinata meledeknya lagi.
“Aku nggak cupu.” Kageyama mengangkat bahunya.
“Aku juga nggak?? Yaudah kita liat nanti siapa yang lebih jago.” Hinata tidak mau kalah.
“Jangan nangis ya kalo kalah?”
Hinata mengernyit. “Kamu liat aku umur berapa sih emangnya?”
Kageyama mengangkat tangannya, menunjukkan lima jari dengan ekspresi meledek dan membuat Hinata kesal. Ia akhiri dengan tawa kecil sebelum mengambil satu potong ayam dengan sumpit. “Makasih buat makanannya 𝘣𝘺 𝘵𝘩𝘦 𝘸𝘢𝘺, kamu bener-bener bikin aku gagal diet buat hari ini.”
“Kan udah aku bilang hari ini 𝘤𝘩𝘦𝘢𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘺, besok juga kamu bisa olahraga lagi. 𝘎𝘺𝘮 𝘳𝘢𝘵.” Hinata balik meledek sambil mengambil makanan bagiannya.
“Dih si tau banget tuh soal aku.”
“Internet 𝘦𝘹𝘪𝘴𝘵 bro, jangan kayak orang purba deh.”
Obrolan mereka siang itu mengalir dengan lancar seolah keduanya telah mengenal satu sama lain jauh sebelum ini. Pun ketika bermain game, tak ada yang mau mengalah. Baik Hinata maupun Kageyama menemukan rasa senang karena hobi mereka yang sama, bahkan permainan itu berlangsung lama karena jika salah satunya kalah, mereka akan terus mengulangnya hingga menang.
Hinata benar, Kageyama memiliki ambisi dan kompetitif. Hinata merasa dirinya sudah cukup mahir bermain game, tapi Kageyama jauh lebih handal. Kageyama bilang ia diperkenalkan pada game sejak umurnya balita, entah benar atau tidak karena di titik ini, Hinata hanya merasa Kageyama mau menyombongkan diri. Tapi di balik semua itu, Hinata menemukan sisi lain pada Kageyama yang selama ini ditutupi imagenya di depan kamera. Hinata bergumam dalam hati kalau Kageyama yang seperti ini mirip dengan anak-anak yang tidak pernah mau mengalah, tapi sebenarnya ia melakukannya hanya karena ia senang bermain dan senang dengan perasaan menang. Maka, di beberapa waktu, Hinata membiarkan Kageyama selalu menang atas dirinya karena melihat Kageyama dengan sorakan dan selebrasi yang menyebalkannya membuat Hinata ikut tertawa.
Setidaknya, satu hal Hinata coret dari 𝘵𝘰-𝘥𝘰-𝘭𝘪𝘴𝘵nya. Mendistraksi Kageyama dari komentar-komentar tak mengenakkan tentang dirinya.
***
“Pelan-pelan makannya, Bio. Kamu kayak orang belum makan dari SD.”
Hari itu Hinata dan Kageyama menyelesaikan syuting kelima mereka untuk proyek dramanya. Sejauh ini, keduanya bekerjasama dengan baik. Minim hambatan, bahkan tak banyak adegan yang harus direkam ulang. Tim produksi selalu memuji kemistri keduanya yang baik. Maka, hari itu keduanya melakukan perayaan kecil-kecilan sepulang syuting dengan makan malam bersama.
“Laper banget. Tadi di set nggak sempet banyak makan.” Kageyama berujar dengan mulut penuh sementara Hinata berdecak dan mengulurkan tisu sebagai isyarat agar Kageyama membersihkan sekitar mulutnya yang menyisakan remah makanan.
“Kenapa sih kamu kalo lagi makan keliatan kasian banget.” Hinata berujar setelah memasukkan satu suapan, melihat Kageyama yang sejak tadi mengunyah tanpa henti.
“Jadi sebenernya kamu suka ngajakin aku makan karena aku keliatan kasian ya?” Kageyama membalas setelah menelan suapan besarnya.
Hinata tertawa, ia menggeleng. “Kamu kalo gak aku ajakin makan kayaknya bakalan alesan diet mulu. Padahal 𝘳𝘰𝘭𝘦 kamu juga gak perlu bikin badan kamu kecil. Mau ngalahin model ya?”
Kageyama mengangkat bahu. “Kan aku emang model juga.”
“Oke deh Mr. Super Star, Super Actor, Super Model.” Hinata meledek, dan Kageyama kurang lebih sudah terbiasa dengan hal itu.
Keduanya makan sambil membincangkan banyak hal. Kata Kageyama, Hinata bukan tipikal orang yang tenang saat makan, begitu pula dirinya. Ia menemukan fakta ini setelah menghabiskan banyak waktu dengan Hinata, yang mana sebagian besar adalah makan bersama. Hinata suka makan, dan Kageyama bukan orang yang bisa menolak makanan. Maka Kageyama menobatkan hari bersama Hinata sebagai hari dimana ia merelakan dietnya, karena pada akhirnya, Hinata juga setuju untuk diajak olahraga bersama Kageyama sebagai bentuk tanggung jawabnya.
“Hari ini aku yang bayar. Kamu gak boleh protes.” Kageyama segera mengeluarkan kartunya begitu mereka selesai makan dan menghampiri kasir untuk membayar.
Hinata menilik tagihan di sana. “Iya iya. Kamu makan banyak banget, beneran kayak belum makan sepuluh tahun.”
Kageyama mendecak. “Emang siapa coba yang bikin aku jadi makan sebanyak ini. Biasa juga aku makan gak ada seperempatnya dari ini.”
“Bagus dong! Lagian kamu makan sebanyak ini gak setiap hari. Pola makan kamu masih kejaga.” Hinata meninju kecil bahu Kageyama yang tak terasa apa-apa baginya.
“Yaudah sekarang temenin aku jalan buat nurunin makanannya. Kamu gapapa kan pulang malem?”
Hinata mengernyit diberi pertanyaan seperti itu. “Apa sih emang kamu kira aku anak kecil atau apa?!”
Kageyama membalas dengan ledekan lainnya seperti singgungan soal tinggi badan mereka karena fakta bahwa Hinata lebih kecil darinya dan selalu menyebut bahwa anak SMP masih lebih tinggi daripada Hinata.
Niat keduanya untuk berjalan-jalan sekadar menghirup udara malam dan alibi menurunkan makanan harus pupus karena begitu pintu restoran dibuka, hujan turun dengan deras.
“Yaaah hujan…” Hinata menengadahkan tangannya, merasakan rintik hujan berlomba-lomba membasahinya.
“Tiba-tiba deres gini lagi. Nggak bisa kemana-mana deh kita.” Kageyama mengomentari, ikut mewadahi air hujan dengan telapak tangannya.
“Mau masuk ke dalem lagi nggak nungguin hujannya reda?” tanya Hinata.
Keduanya tak punya opsi lain, pun tak mungkin menerobos hujan jadi mereka memutuskan untuk kembali ke dalam restoran. Masing-masing memesan minuman sebagai formalitas.
“Kalo kayak gini biasanya hujannya awet.” Hinata mengaduk-aduk minumannya sembari melihat ke arah jendela yang mulai buram terkena air hujan.
“Jangan ngomong gitu. Nanti malah kejadian beneran lagi.”
“Ya aku juga gak mau! Ini cuma diliat dari tipe hujannya aja, biasanya yang deres gini nggak bakal sebentar.”
Kageyama tertawa. “Mulai deh cosplay jadi BMKG-nya.”
Agenda menunggu-hujan-reda mereka ternyata tak berlangsung sebentar. Benar kata Hinata, karena setelah satu jam, setelah Kageyama mengecek bahwa jadwal restoran itu akan tutup setengah jam lagi, hujannya tak ada tanda-tanda untuk berhenti.
“Kayaknya kita harus pulang sekarang deh, Sho.” Kageyama melihat sekitarnya yang sudah mulai sepi. Tak banyak pengunjung yang tersisa disana.
“Tapi kamu kan gak nyaman nyetir kalo hujan. Aku juga hari ini gak bawa mobil karena bareng kamu.”
Kageyama mengeluarkan kunci mobilnya dan menyerahkannya pada Hinata, diikuti senyumannya yang lebar. “Aku gak bilang aku yang nyetir. Kamu aja. Hehe.”
Hinata melotot. “Yang bener aja?? Aku ikut ke apart kamu gitu?”
“Enggak, enggak. Kamu anterin aku ke apart, mobilnya kamu bawa pulang gapapa. Jadi besok kamu jemput aku, gimana?”
“Ah ribet banget, Tobio.”
“Terus kamu mau nunggu disini sampe kapan, Sho? Kata kamu ini hujannya awet dan beneran gak berhenti-berhenti. Keburu kemaleman. Nanti kamu dikunciin sama restonya. Mau?”
Kageyama benar dan Hinata tidak punya argumen penolakan. “Ini kita mau hujan-hujanan ke parkirannya?”
Restoran ini ada di dalam sebuah jalan yang tak memungkinkan untuk parkir, jadi Kageyama memarkirkan mobilnya di luar area yang mengharuskan jalan kaki sekitar tiga menit untuk sampai kesana. Tiga menit yang cukup untuk membuat mereka basah kuyup di tengah hujan sederas ini.
“Tunggu disini.”
Kageyama berlari keluar, entah kemana karena Hinata belum sempat bertanya. Tak lama Kageyama kembali dengan sebuah payung di tangan, lengkap dengan plastik pembungkusnya. Ia tak masuk, hanya melambai dari arah pintu mengisyaratkan Hinata untuk pergi.
“Jadi kamu beli payung dulu?” Hinata bertanya saat keduanya akhirnya berjalan di bawah satu payung yang dipegangi Kageyama.
“Iya, deket kok disana ada minimarket. Tapi aku ngerasa ada yang ngeliatin deh, Sho. Emang aku gampang dikenalin ya?”
Hinata menilik Kageyama yang memakai pakaian serba hitam, lengkap dengan topi dan masker, sama halnya dengan dirinya.
“Fans tuh meskipun kamu udah setertutup ini juga ada aja bagian yang bisa mereka kenalin. Tapi kamu cuma merasa diliatin aja kan, bukan gimana-gimana?”
Kageyama mengangguk menyetujui. Ia juga melihat ke arah sekitar dan tak ada siapapun disana, tak ada yang mengikuti. Perasaan itu hanya hadir saat dirinya di minimarket tadi.
Keduanya akhirnya sampai di parkiran, dan sesuai kesepakatan, Hinata yang menyetir. Pernah satu kali Hinata bertanya kenapa Kageyama tidak bisa menyetir saat hujan, Kageyama menjawab bahwa ia bukan tidak bisa, tetapi tidak nyaman. Selain tidak nyaman karena pandangannya yang memburam karena hujan, tapi perasaan was-was juga selalu timbul. Kageyama bilang ia pernah hampir menabrak saat menyetir di tengah hujan, meskipun tidak ada kecelakaan yang benar-benar terjadi, ia jadi merasa cemas setelahnya. Maka sebisa mungkin ia menghindari menyetir ketika hujan deras.
“Ngantuk deh, Sho.”
“Tidur aja Yang Mulia, nanti dibangunin kalo udah sampe.”
Kageyama terkikik dengan panggilan asal yang dilontarkan Hinata. Ia kemudian merebahkan diri di kursi penumpang.
Sebelum benar-benar memejamkan mata, Kageyama menggumam. “Makasih, Shoyo.”
Hinata membalas dengan sebuah usapan di kepalanya, mengantarkan Kageyama menuju mimpi di mana ia tak perlu cemas menyebrangi hujan yang deras.
***
“Shoyoo, hari ini ada jadwal nggak?”
Kageyama menyelipkan ponselnya di antara telinga dan bahu, sementara tangannya sibuk membereskan barang-barangnya. Hari itu, ia selesai dengan jadwal 𝘱𝘩𝘰𝘵𝘰𝘴𝘩𝘰𝘰𝘵 majalahnya dan berencana mengajak Hinata pergi makan es krim. Inisiatifnya sendiri karena melihat unggahan Hinata di sosial medianya yang mengatakan ia ingin es krim karena sudah lama tidak memakannya. Akhir-akhir ini, Kageyama bertingkah seperti 𝘧𝘢𝘯𝘣𝘢𝘴𝘦 yang tidak pernah tertinggal cuitan apapun dari idolanya.
Hinata di seberang sana menyalakan pengeras suara, ponselnya diletakkan sembarang di tempat yang dirasa aman sementara dirinya sibuk memutar-mutar shower.
“Aku harusnya ada jadwal, dua jam lagi udah harus berangkat tapi kayaknya showerku rusak deeh. Dari tadi airnya nggak keluar, gak ngerti kenapa.”
“Kamu di apart kan itu?”
“Iyaa ini lagi di apart, kenapa emangnya?”
“Aku kesana ya, tunggu bentar. Jangan diapa-apain takut makin rusak, kamu diem aja dulu.”
Begitu Hinata mempersilakan, Kageyama segera beranjak. Meminta izin manajernya untuk menyetir sendiri dan berpisah karena ia berniat menuju apartemen Hinata. Sebelum benar-benar pergi, Kageyama sempatkan membeli es krim di kedai terdekat untuk ia bawakan kepada Hinata.
Seperti apa kata Kageyama, Hinata menurut untuk tidak banyak mengotak-atik showernya. Ia sibuk mempersiapkan hal-hal lain ketika terdengar ketukan di pintunya.
“Mana yang rusak?” Kageyama segera melepas mantelnya begitu ia masuk, menaruh es krim yang dibawanya di kulkas kemudian mengikuti Hinata ke arah kamar mandi.
“Kamu bisa benerin emangnya?” tanya Hinata skeptis.
Kageyama menggulung lengan kemejanya sebelum fokus dengan shower di hadapannya, “punyaku pernah rusak juga terus aku benerin sendiri, ternyata bisa. Kali aja yang ini juga bisa.”
“Ya udah tolong ya, Bio. Aku mau siapin yang lain dulu.” Hinata menepuk lengan Kageyama sebelum pergi meninggalkannya.
Rasanya belum ada 10 menit sejak Hinata pergi, tiba-tiba terdengar teriakan dari arah kamar mandinya.
“SHOYOOOO!”
Hinata berjengit dan segera lari hanya untuk menemukan showernya yang sudah menyala dan Kageyama yang basah kuyup di bawahnya.
“KAMU NGAPAIN BASAH-BASAHAN GITU, AWAS, BI.”
“Kayaknya aku terlalu fokus benerinnya terus gak sadar udah berdiri di bawahnya, jadi pas nyala, yaudah deh, kena semua…”
“Kamu tuh…”
Hinata menghentikan omelannya dan lebih memilih mengambilkan handuk serta sepasang pakaian untuk Kageyama.
“Ganti baju kamu, basah semua gitu. Ini baju aku yang paling gede, gak tau bakal muat apa enggak di kamu, coba aja.”
Kageyama terkikik melihat motifnya. “Jeruk banget nih?”
“Gak ada lagi! Udah, gak usah protes!” Hinata kembali keluar dari kamar mandi dan menutup pintunya untuk membiarkan Kageyama mengganti bajunya.
Begitu pintu kamar mandi terbuka, gantian Hinata yang terbahak.
“Gak usah ketawa. Baju kamu kecil di aku, mana kayak anak-anak lagi…”
Hinata terpingkal melihat bagaimana piyamanya yang jadi terlihat kecil di badan Kageyama yang tinggi, serta motif jeruk yang menambah faktor kelucuannya.
“HAHAHAH SUMPAH LUCU BANGET, BIO. KAMU KAYAK ANAK TK.”
“Ini kan baju kamu, berarti kamu yang anak TK! Udah ah, sana mandi, nanti kamu telat.” Kageyama mendorong Hinata ke arah kamar mandi, yang bahkan meskipun Hinata sudah masuk ke dalamnya, tawanya masih terdengar.
“DIEM, SHOYO. UDAH KAMU MANDI AJA GAK USAH KETAWA.”
Dan Hinata semakin terbahak mendengarnya.
Butuh waktu sekiranya 20 menit hingga Hinata keluar dari kamar mandi dan menemukan Kageyama yang sibuk menatap jendela.
“Hujan, Sho. Kamu nyetir sendiri?” tanyanya.
“Hah seriusan hujan??” Hinata ikut melongok ke arah jendela di dekatnya.
“Ngapain aku boong. Dari pas aku jalan ke sini juga sebenernya lumayan mendung, tapi ini baru turun hujannya.”
“Tadinya aku mau nyetir sendiri, tapi aku telfon manajerku dulu deh.”
Hinata kemudian menghilang di balik pintu kamarnya, bersamaan dengan terdengarnya suara ia mengobrol yang diyakini Kageyama pasti manajernya. Kageyama menyimpulkan bahwa Hinata meminta manajernya untuk menjemputnya.
“Sho aku kayaknya gak mungkin pulang sekarang deh…” ujar Kageyama begitu melihat Hinata keluar dari kamarnya dan sudah rapi, siap untuk pergi. Kageyama juga berencana akan pulang bersamaan dengan perginya Hinata, tapi hujan yang turun dengan deras menahannya.
“Iya, jangan pulang sekarang lagi deres banget. Kalo misalnya kamu nunggu sendirian di sini gapapa nggak? Sampe hujannya reda atau sekiranya kamu udah sanggup buat nyetir. Aku nggak bisa nemenin dan belum tau kapan bakal selesainya.”
“Seriusan aku boleh nunggu disini?”
“Seriusan lah, emang kamu mau nunggu dimana lagi?”
Kageyama meringis, ucapan Hinata ada benarnya. “Kamu percaya kan sama aku?”
Hinata menatapnya jengah. “Gampang. Kalo barang aku ada yang ilang, berarti kamu malingnya.”
Kali ini Kageyama tertawa dengan kencang. “Gimana kalo aku maling shower kamu?”
“Udah ah, gausah aneh-aneh! Diem aja di situ anteng. Nonton TV kek apa kek, makan juga boleh, liat aja di kulkas ada apa, asal jangan gerogotin sofa.”
“Sho?? Aku kayak rayap kah di mata kamu?” Kageyama menatap Hinata dengan tatapan mendramatisir.
“Bawel. Aku pergi sekarang ya, manajerku udah di parkiran. Password pintunya liat di bookmark yang ada di buku di laci kedua deket TV, halaman tiga puluh.”
“Astaga ribetnya.”
“Ini biar rumahku gak kemalingan sama orang yang mencurigakan kayak kamu.”
“Jahat banget, kamu sebenernya percaya gak sih sama aku, Sho?”
Hinata melempar bantal sofa ke arahnya. “Sumpah kamu cerewet banget hari ini. Udah ya, aku pergi. Jagain rumahku baik-baik, awas kalo lecet kamu yang tanggung jawab.”
Setelah berkali-kali melempar isyarat seperti ‘jangan aneh-aneh’ ‘jangan maling’ dan sejenisnya, Hinata baru benar-benar pergi, menyisakan hening di sana.
Ini bukan kali pertama Kageyama berada di apartemen milik Hinata. Bahkan setelah lebih dari 6 bulan mereka saling kenal, tak terhitung berapa kali Kageyama mengunjungi tempat ini. Namun, ini pertama kalinya Kageyama ditinggal sendirian di sana dan dalam waktu yang sepertinya akan cukup lama mengingat hujan yang baru turun. Kageyama memutuskan untuk merebahkan dirinya di sofa dan menyalakan televisi dengan asal, berniat mengusir kebosanan yang berujung dengan kantuk yang hadir dan membuatnya terlelap tanpa sadar.
Hinata pulang hampir tengah malam, 6 jam setelah ia meninggalkan Kageyama sendirian di apartemennya. Pikirnya Kageyama sudah pulang karena hujan telah reda sejak pukul 7, namun keningnya mengernyit ketika menemukan sepatu Kageyama masih ada di raknya.
“Tobioo?” Hinata memanggilnya sembari melepaskan sepatu dan menyimpan barang bawaan. Tak ada jawaban, tapi terdengar suara dari televisi sehingga Hinata kemudian menghampirinya.
Dilihatnya Kageyama terlelap. Sebelah tangannya menutup wajahnya, sementara tangan satunya terkulai dengan remot televisi yang jatuh. Hinata hampir kembali tertawa memperhatikan motif jeruk di piyamanya yang terlalu kecil bagi Kageyama.
Ia coba goyangkan bahu Kageyama pelan. “Bio, Tobiooo.”
Tak ada respon, hanya gumaman singkat. Kali ini Hinata menggoyangkannya lebih kencang. “Tobio, bangun! Udah tengah malem. Kamu nggak pulang?”
Kageyama menurunkan tangannya, kemudian perlahan membuka mata, menguceknya beberapa kali. “Jam berapa sekarang?”
“Jam dua belas. Kamu tidur dari kapan? Hujannya udah reda dari lama.”
Kageyama mendudukkan dirinya, berusaha mengumpulkan nyawanya yang entah masih dimana karena tertidur cukup lama. “Kayaknya gak lama abis kamu berangkat, aku ketiduran…”
Hinata meninju kecil bahunya, membuat Kageyama sedikit terperanjat dan kesadarannya terkumpul dengan cepat. “Mana TVnya gak mati lagi, nambah-nambahin tagihan listrik aku aja. Bulan depan tagihannya kamu yang bayar ya?” ujarnya bercanda.
“Yaudah, kasih aja nanti tagihannya ke aku.”
“BIO AKU BERCANDA??”
“Aku juga bercanda sih, males amat bayarin tagihan listrik kamu.”
Kali ini Kageyama benar-benar dipukul dengan bantal sofa.
“Tapi aku boleh nginep gak Sho malem ini? Aku males nyetir sekarang, besok pagi aja pulangnya. Jadwalku juga adanya siang kok.” Kageyama bertanya sembari berjalan ke arah kulkas, mengambil es krim yang dibawanya tadi sore.
Hinata kembali dari kamarnya dengan baju yang telah diganti, sama-sama mengenakan piyama yang mengundang tawa dari Kageyama.
“Pffft. Piyama kamu emang semuanya buah-buahan gini ya?” Kageyama menelisik dari atas sampai bawah, memperhatikan piyama Hinata yang motifnya mirip dengannya, namun kali ini adalah buah stroberi.
“Gak usah ketawa! Ini kado dari fans. Makanya yang kamu pake juga kegedean soalnya itu salah ukuran. Yang ini baru bener.”
Hinata mengikuti Kageyama untuk duduk di sofa, membuka kotak es krim yang cukup untuk dimakan berdua.
Tak ada penolakan soal permintaan Kageyama untuk menginap. Meskipun ini pertama kalinya, tapi Hinata tidak pernah menolak kehadiran Kageyama di apartemennya, bahkan Hinata telah terbiasa dengan keberadaan selain dirinya di sini.
“Kamu 𝘴𝘵𝘢𝘭𝘬𝘪𝘯𝘨 akun X aku lagi ya?” tanya Hinata saat keduanya sibuk menyuap es krim.
“Lah kan aku admin 𝘧𝘢𝘯𝘣𝘢𝘴𝘦 kamu.”
“Mulaaai ngaku-ngaku.”
Kageyama tertawa. Candaan tentang Kageyama yang menjadi admin 𝘧𝘢𝘯𝘣𝘢𝘴𝘦 Hinata bukan datang dari dirinya sendiri, namun justru julukan yang diberikan oleh penggemar. Alasannya karena setiap kali Hinata menyebutkan ia ingin pergi ke suatu tempat atau ingin makan sesuatu, tak lama setelahnya Hinata membuat unggahan, menyebutkan bahwa ia telah pergi atau makan bersama dengan Kageyama. Para penggemar menyebutkan Kageyama terlalu update tentang banyak hal dari Hinata, bahkan selalu lebih cepat dari 𝘧𝘢𝘯𝘣𝘢𝘴𝘦 termasuk bagaimana Kageyama selalu mengabulkan Hinata tak lama setelah Hinata menyebutkan keinginannya, sejak saat itulah Kageyama diberi julukan admin 𝘧𝘢𝘯𝘣𝘢𝘴𝘦 Hinata.
Sejujurnya, hal itu sama sekali tak pernah terpikirkan oleh keduanya mengingat Kageyama pernah melalui hal yang cukup berat di awal, bahkan ia pernah berpikiran bahwa dirinya tak akan pernah diterima di kalangan penggemar Hinata. Namun, karena Kageyama selalu berusaha untuk lebih terbuka dengan Hinata, menghabiskan banyak waktu dengannya dan Hinata yang juga membantu Kageyama dengan tak pernah membatasi apapun yang ingin Kageyama lakukan untuknya, perlahan Kageyama mendapatkan banyak sorotan yang positif.
Mulanya saat keduanya terjebak di restoran ketika hujan beberapa bulan lalu. Di tengah momen keduanya masih berusaha untuk saling mengenal, ternyata ada yang memperhatikan bagaimana Kageyama berlari menuju minimarket terdekat untuk membeli payung yang kemudian ia gunakan berdua dengan Hinata saat berjalan menuju parkiran. Kejadian itu membawanya pada titik balik imagenya yang saat itu banyak dihujani komentar-komentar negatif. Namun, berkat momen itu, banyak yang mulai menjuluki Kageyama sebagai aktor yang memiliki 𝘢𝘤𝘵 𝘰𝘧 𝘴𝘦𝘳𝘷𝘪𝘤𝘦 yang diidam-idamkan oleh kebanyakan orang. Perilakunya pada Hinata menuai banyak pujian karena Kageyama dianggap sangat perhatian, bahkan ke hal-hal sekecil menemani Hinata makan makanan yang sedang diinginkannya.
Dan hal itu tetap berlangsung meskipun tanpa kamera yang menyoroti mereka, tanpa situasi yang dibuat-buat dan tanpa paksaan dari siapapun. Semuanya berubah menjadi sebuah kebiasaan yang terbentuk dengan perlahan di antara keduanya, termasuk momen saat ini.
“Enak nggak?” tanya Kageyama, memperhatikan Hinata yang lahap memakan es krimnya.
“Enaak. Kamu beli dimana? Kayaknya aku baru tau ada 𝘣𝘳𝘢𝘯𝘥 ini.” Hinata memutar-mutar kotak es krim yang dipegangnya, melihat merek yang tertera di sana.
“Nggak jauh dari tempat 𝘱𝘩𝘰𝘵𝘰𝘴𝘩𝘰𝘰𝘵ku tadi, manajerku bilang katanya ada kedai es krim yang nyediain opsi 𝘵𝘢𝘬𝘦𝘢𝘸𝘢𝘺 yang porsinya sebesar ini, makanya aku beli deh. Aku mikirnya kalo kamu nggak akan abisin, biar aku aja. Tapi liat siapa yang katanya lagi diet, makannya malah paling banyak.”
Hinata mengangkat bahu, tidak peduli dengan ledekan Kageyama. “𝘊𝘩𝘦𝘢𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘺 𝘦𝘹𝘪𝘴𝘵, tau.”
“𝘊𝘩𝘦𝘢𝘵𝘪𝘯𝘨 teruus kayaknya kamu banyakan 𝘤𝘩𝘦𝘢𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘺nya daripada diet benerannya.”
“Bawel ah. Aku mau posting ini deh. Kamu pegangin dong.” Hinata menyerahkan kembali kotak es krimnya pada Kageyama sementara ia sibuk mengambil foto.
“Jangan sebut nama aku ya, lagi males jadi 𝘩𝘦𝘢𝘥𝘭𝘪𝘯𝘦 berita di 𝘧𝘢𝘯𝘣𝘢𝘴𝘦 kamu.” ujar Kageyama yang menimbulkan tawa dari Hinata.
“Kenapa siih kan kamu adminnya, gapapa dong. Lagian biar orang-orang tau kalo Kageyama Tobio ini beneran 𝘬𝘪𝘯𝘨 𝘰𝘧 𝘢𝘤𝘵 𝘰𝘧 𝘴𝘦𝘳𝘷𝘪𝘤𝘦.”
“Dih, kamu nih emang suka banget ya liatin komentar orang-orang soal aku. Update banget kayaknya sama sebutan-sebutan kayak gitu.”
“Iyalaaah! Sejak awal aja aku kan emang nyari tau soal kamu, makanya jadi tau—”
Hinata menghentikan ucapannya. Ia hampir menyebutkan kejadian kurang menyenangkan yang pernah Kageyama alami, yang membuat dirinya merasa harus membantu Kageyama saat itu.
“Gapapa, Sho. Aku udah gapapa kok. Lagian udah lewat dan udah mendingan kan sekarang?”
“Tetep aja… aku gak mau kamu nginget-nginget omongan-omongan jelek itu.”
Kageyama tersenyum. Ia mengusak rambut Hinata. “Tenang ajaa, lagian aku udah belajar buat nggak ambil hati omongan-omongan kayak gitu. Justru karena itu juga kita jadi sedeket ini kan sekarang?”
Hinata mengangguk. “Aku gak nyangka kita jadi sedeket ini dan aku jadi tau kalo kamu lebih nyebelin dari sejak pertama ketemu.”
“Aku? Nyebelin? Coba kamu ngaca deh, liat siapa yang setiap hari ngeledekin aku.” Kageyama mencubit pipi Hinata, menariknya hingga Hinata mengaduh dan berulang kali menyebutkan kata ampun.
“Iyaa iya! Iya kita sama-sama nyebelinnya, udah, ampun, sakit pipiku melar!” Hinata segera mengusap pipinya begitu Kageyama melepaskan cubitannya.
“Tapi Sho, kamu pernah ngerasa aku manfaatin kamu nggak? Pernah ngira aku baik sama kamu karena aku mau perbaikin imageku?”
Hinata mendecak. Pembahasan ini lagi. Keduanya pernah membicarakannya beberapa waktu lalu karena ada yang mengatakan bahwa Kageyama hanya memanfaatkan Hinata untuk memperbaiki imagenya, dan Hinata akan selalu menyangkalnya. “Sejak awal aku udah bilang kalo aku percaya sama kamu, Tobio. Sejujurnya aku nggak peduli meskipun kamu baik-baikin aku cuma demi image kamu, yang penting apa yang kamu lakuin nggak ngerugiin aku, kan? Tapi bahkan meskipun nggak ada kamera, nggak ada yang liat, kamu tetep ngelakuin banyak hal buat aku, makanya aku tau kamu selalu tulus buat semua itu.”
Kageyama tidak pernah tidak tertegun dengan segala afirmasi yang Hinata berikan. Banyaknya waktu yang ia habiskan dengan Hinata membuatnya menyadari bahwa apa yang selalu Hinata tunjukkan depan kamera bukan hanya sekadar citranya, namun memang dirinya yang sebenarnya. Hinata yang selalu ceria, Hinata yang penuh dengan energi positif, dan Hinata yang selalu tulus dengan segala perkataan dan perbuatannya. Kageyama menyetujui julukan untuk Hinata yang kerap kali disebut sebagai 𝘴𝘶𝘯𝘴𝘩𝘪𝘯𝘦, karena keberadaannya pun sudah cukup untuk membuat sekitarnya merasa hangat.
“Shoyo.”
“Hmm?”
“Aku selalu ngerasa nyaman kalo deket sama kamu. Kayak yang pernah aku bilang, aku nggak perlu nahan apapun. Aku bisa jadi diriku sendiri tanpa ngerasa takut. Makanya semua yang aku lakuin ke kamu selalu berdasarkan perasaanku sendiri. Bahkan kayaknya aku gak pernah ngerasa senyaman ini sama temen kerjaku sebelumnya. Saking senengnya, aku kadang suka deg-degan kalo deket-deket kamu.”
Hinata yang saat itu tengah menyuap es krimnya sembari mendengarkan Kageyama yang serius tiba-tiba tertawa mendengar kalimat terakhirnya. “Omongan kamu kedengeran kayak orang lagi 𝘤𝘰𝘯𝘧𝘦𝘴𝘴 tau, kamu naksir aku kali tuh.”
“Kalo iya gimana, Sho?”
Kali ini giliran Hinata yang terdiam. Dia seratus persen menghentikan kegiatan memakan es krimnya, menaruh kotaknya di meja kemudian memusatkan atensinya sepenuhnya pada Kageyama yang terlihat begitu serius. Tak ada cengiran usilnya, tak ada raut jahilnya.
Hinata tersenyum, ia raih tangan Kageyama untuk digenggamnya.
“Kita masih punya banyak waktu buat ini. Proyek kita masih panjang, masih banyak hari-hari lain yang bisa kita habisin bareng. Aku masih pengen liat gimana perasaan kita berkembang ke depannya pelan-pelan, tanpa buru-buru. Selama waktu itu, kita kerja keras dulu, ya? Nanti tanya lagi sama aku kalo episode terakhir udah tayang. Oke?”
Dengan itu, Kageyama memiliki tekad baru. Tak hanya bekerja keras untuk membuat proyek seri mereka sukses, namun juga membuat Hinata bisa meyakini perasaannya.
***
“Sumpah kenapa sih waktu itu kamu ketawa, padahal gak ada yang lucu? Jadi take lima kali, kan!”
Setahun telah berlalu sejak pertama kali Kageyama dan Hinata bertemu untuk bekerja sama sebagai pasangan dalam proyek serial 𝘣𝘰𝘺𝘴 𝘭𝘰𝘷𝘦. Saat ini, keduanya tengah berada di apartemen Kageyama, menonton bersama episode terakhir yang sedang ditayangkan. Kageyama menonton dengan serius sementara Hinata akan mengomentari apapun, termasuk momen-momen saat mereka syuting.
“Muka kamu lucu, Sho. Aku nggak bisa nggak ketawa soalnya tiap liat kamu keinget-inget terus waktu kamu nyusruk pas adegan kita naik sepeda itu.”
“Astagaaa aku sebel banget sama itu. Sumpah sakitnya masih kerasa tau gak. Beneran sakit, bukan malu karena jatoh!!”
Kageyama biasanya selalu menjadi aktor yang paling cepat dalam proses syuting karena tak banyak kesalahan yang dilakukan. Namun, saat bersama Hinata, perhatiannya beberapa kali teralihkan. Entah karena baginya ekspresi Hinata terlihat lucu membuatnya tiba-tiba tertawa, ada kejadian tak terduga, atau bahkan hanya karena mengingat hal yang terus berputar di kepalanya seperti momen Hinata tersungkur dari sepeda. Meskipun begitu, Kageyama merasa dirinya paling lepas pada saat-saat itu. Kesalahannya pun masih dalam batas wajar, tak dianggap menghambat pekerjaannya. Jika dulu ia selalu ingin cepat-cepat menyelesaikan semuanya, untuk sekarang, Kageyama justru ingin lebih menikmatinya. Ia senang berada di dekat Hinata hingga ia tak perlu menahan diri. Hinata juga tak pernah menganggap itu hal yang menyebalkan karena Hinata pun sama, ia selalu mengekspresikan seluruh perasaannya pada Kageyama sehingga tak ada yang tersembunyi di rautnya. Kageyama selalu tahu apa yang Hinata rasakan hanya dengan melihatnya, pun sebaliknya.
“Tuh, maksud aku tuh kayak gitu. Muka kamu selalu gitu kalo ngeliat aku! Kayak ada kelap-kelipnya di mata kamu.” Hinata menunjuk adegan di mana Kageyama menatapnya sambil tersenyum. Bahkan di luar akting pun Kageyama selalu menatapnya dengan tatapan yang sama.
“Ya kelap-kelip kan ngeliatin bintang kayak kamu.”
“Geli banget, Tobioo!” Hinata memukulnya dengan bantal sofa sementara Kageyama tertawa.
Perlahan tawa itu menghilang, keduanya kembali hanyut pada tontonan yang hampir menuju akhir. Hinata kali ini diam, tak ada lagi komentar yang ia keluarkan, hanya sesekali suara berisik kunyahan snack dari mulutnya. Sementara itu, Kageyama tengah berdebar sendiri tanpa Hinata sadari.
“Hinata.”
“Hmm? Kenapa kok tumben manggil pake nama belakangku?” Hinata menjawab tanpa mengalihkan pandangannya, masih sibuk dengan adegan yang semakin serius di depannya.
“Aku nggak akan pernah capek buat selalu ada di deket kamu meskipun sampai seratus tahun ke depan.”
Hinata menoleh, alisnya bertaut mendengar ucapan Kageyama yang tiba-tiba.
Kageyama melanjutkan, “Meskipun dunia gak nerima kita, aku mau bikin semesta sendiri yang isinya cuma ada aku sama kamu. Aku mau buat jalan yang gak akan pernah berlubang supaya kamu nggak jatuh dan nggak ngerasain sakit. Aku mau semesta kita bikin kamu selalu ngerasa aman.”
Hening sepersekian detik sebelum akhirnya Hinata bertepuk tangan, bersahutan dengan tawanya. “Kamu masih inget dialognya? Keren banget! Persis lagi sama yang barusan ditayangin.”
“Kamu ngira aku lagi akting?”
“Hah? Bukannya kamu cuma niruin dialog karakter kamu sendiri?”
Kali ini giliran Kageyama yang terkekeh. Ia memutar badannya, menghadap sepenuhnya ke arah Hinata. Ia raih kedua tangan Hinata, memegangnya dengan lembut. “Kamu mau nggak bangun semesta kita berdua bareng aku?”
“Sumpah kamu beneran niruin dialog kamu aja kan?” Hinata kebingungan walau tak dipungkiri debaran jantungnya semakin bertalu-talu.
“Meskipun kalimatnya sama kayak dialog karakterku, tapi aku ngomong ini sebagai Kageyama Tobio ke Hinata Shoyo, bukan sebagai aktor, bukan pemeran drama.”
Hinata lebih dari paham maksudnya. Ia tak melihat keraguan di mata Kageyama. Ingatannya melayang pada ucapannya sendiri berbulan-bulan lalu saat Kageyama pertama kali menyatakan perasaannya. Ia ingat bahwa ia meminta Kageyama untuk kembali menanyakan perasaannya ketika episode terakhir seri mereka ditayangkan, dan Kageyama menepati ucapannya.
Maka, tak ada celah bagi Hinata untuk menolak. Hinata juga tak pernah menyangkal perasaannya sendiri. Ia melihat seberapa keras Kageyama bekerja tak hanya untuk kesuksesan keduanya, namun juga untuk meyakinkan Hinata bahwa dirinya serius dengan perasaannya. Meski sebenarnya tanpa semua usaha itupun Hinata tahu Kageyama tak akan pernah main-main dengan perasaannya, namun, dengan bagaimana Kageyama membuktikan dirinya lewat tindakannya sudah cukup membuat Hinata meyakini bahwa dirinya juga punya keinginan yang sama besarnya dengan Kageyama.
Keinginan untuk terus berada di sisi satu sama lain, menciptakan dunia mereka sendiri yang tanpa cela. “Kalau kamu bangun semestanya, aku mau ambil bagian untuk bangun rumah di mana kamu bisa pulang tanpa rasa takut dan selalu merasa nyaman.”
Hinata tersenyum lebar sebelum mengucapkan kalimat finalnya. Persis seperti dialog perannya yang diucapkan di serinya. “Dan aku mau jadi rumah itu buat kamu.”
Kageyama tahu bahwa Hinata tak sedang berakting. Setiap kalimat yang diucapkannya persis seperti dialog di serinya, namun Kageyama memahami bahwa yang di depannya ini adalah Hinata Shoyo yang sedang berbicara pada dirinya, bukan orang lain, bukan pula karakternya.
Kageyama segera memeluk Hinata dengan erat, membawa lelaki yang lebih kecil itu pada rengkuhannya yang hangat, berulang kali mengucapkan terima kasih dan menyampaikan rasa sayangnya yang begitu besar pada Hinata.
“Bio, kamu inget nggak adegan setelahnya apa?” tanya Hinata.
Kageyama melepaskan pelukannya, ekspresi wajahnya penuh dengan tanda tanya sementara Hinata tersenyum penuh arti. Ditariknya pelan tengkuk Kageyama, mempertemukan belah bibir keduanya dalam ciuman yang lembut.
“Harusnya kamu yang cium aku, tapi kamu lama banget mikirnya!” Hinata protes begitu ia melepaskan ciumannya, namun tak berlangsung lama karena setelahnya, Kageyama menghujani seluruh wajahnya dengan kecupan.
“Tobiooo udaaaah!”
Kageyama baru benar-benar menghentikan ciumannya ketika Hinata mencubit pinggangnya. Namun ia tersenyum lebar, perasaan senang membuncah di dadanya.
Kageyama mencuri beberapa kecupan di bibir Hinata setelahnya. “Makasih udah bikin aku berani buat jadi diriku sendiri, Shoyo.”
Hinata menatapnya lembut, merasakan seberapa besar cinta yang ia miliki untuk Kageyama. Tangannya terulur untuk mengusap kepala Kageyama, gestur yang paling Kageyama senangi karena katanya tangan Hinata punya magis yang membuatnya merasa nyaman. “Makasih karena kamu juga selalu percaya sama aku, Tobio. Ke depannya, apapun yang terjadi, kita jalanin sama-sama, ya?”
Pada kenyataannya, jalan yang mereka tempuh mungkin tak selalu mulus, ada kalanya berlubang dan terkikis hujan. Namun, dengan memiliki satu sama lain, keduanya tahu bahwa mereka akan selalu bisa melewatinya tanpa takut akan terjatuh. Ada tangan yang bisa digenggam, dan ada peluk yang akan selalu menyambut.
Keduanya akan selalu melangkah beriringan tanpa rasa takut.
𝗦𝗘𝗟𝗘𝗦𝗔𝗜.
