Actions

Work Header

Yang Tidak Disadari

Summary:

Dan Jeno merasakan sesuatu menarik pelatuk, dan melepaskannya.

Tidak di ruangan.

Tidak di udara.

Tapi di cara ia memperhatikan.

Donghyuck terlihat… terang.

(Seterang apa?)

‘Apa? Terang? Siapa yang bilang terang?’

 

*Atau, Jeno tiba-tiba mendengar suara lain di kepalanya.

Notes:

1. As stated on the tag, it's an experimental writing.
2. Tulisan dalam Tanda Petik itu ucapan dalam hati Jeno
3. Tulisan dalam Tanda Kurung itu ucapan... gak tahu ya ucapan siapa *menggaruk jidat*
4. It's a weird fanfiction
5. Selamat bingung membaca :D

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Malam itu tidak terasa istimewa.

Sekumpulan mahasiswa yang pusing dengan tugas sedang duduk melingkar di taman kecil dekat toserba kampus—lampu jalan kekuningan, rumput yang sudah lama tidak benar-benar dirawat, dan suara motor sesekali lewat memecah obrolan. Minuman kaleng berderet seadanya. Tidak ada rencana besar, tidak ada perayaan. Hanya malam yang kebetulan luang.

Seseorang menunjuk ke langit lebih dulu.

“Eh—lihat!”

Bintang jatuh melintas cepat, menjadi goresan cahaya di kanvas hitam. Mereka ribut sejenak, saling teriak soal permintaan apa yang sempat diucapkan, tertawa karena sebagian besar jelas terlambat dipanjatkan.

Jeno mengangkat bahu. Ia bilang sesuatu yang tidak terlalu serius. Permintaan setengah bercanda, setengah malas. Yang lain menyusul dengan versi masing-masing—uang, nilai, dan hal-hal kecil yang mudah dilupakan.

Namun satu orang di antara mereka—yang tidak seperti karakteristiknya—Donghyuck  tidak ikut bersuara.

Ia mendongak, matanya mengikuti langit yang sudah kembali gelap. Wajahnya tenang, tapi tangannya menggenggam kaleng minumannya lebih erat dari sebelumnya.

Langit tidak menjawab.

Dan seperti kebanyakan malam lain, semuanya berlanjut seolah tidak ada apa-apa yang terjadi.

 


 

 

Siang itu berjalan seperti siang-siang lain yang tidak memiliki ambisi apa pun untuk diingat.

Kelas Statistika Bisnis baru saja selesai. Kursi-kursi berderit saat didorong, tas disampirkan malas-malasan, dan lorong kampus dipenuhi suara obrolan yang saling tindih. Udara terasa hangat oleh matahari yang masuk dari jendela tinggi, memantul di lantai keramik yang mulai kusam.

Jeno keluar kelas berdampingan dengan Donghyuck. Bahu mereka bersentuhan sebentar, lalu menjauh lagi—tidak disengaja, tidak juga dihindari. Kebiasaan kecil yang tidak pernah mereka bicarakan, tapi selalu terjadi.

Donghyuck sedang bercerita. Tentang dosen pengganti yang masuk ke kelas salah. Tentang slide presentasi yang typo-nya terlalu fatal untuk dibiarkan. Tentang tugas kelompok yang diberikan bertubi-tubi. Tangannya bergerak bebas saat berbicara, suaranya hidup diantara debu kecil yang bertebar.

Jeno mendengarkan sambil mengangguk. Sesekali tertawa pendek. Ia tahu bagian mana yang akan diakhiri Donghyuck dengan tohokan komedi, bahkan sebelum itu keluar.

Semuanya terasa normal.

Aman.

Terlalu familiar untuk dicurigai.

Jeno berpikir bahwa ia menyukai hidupnya yang seperti ini.

(Benarkah? Sudah seperti bagian akhir cerita.)

“Jeno—”

Ia menghentikan langkahnya.

Donghyuck menoleh ke Jeno yang mematung. “Kenapa?”

Jeno mengerjap. “Apa?”

“Kamu tiba-tiba berhenti. Bengong lagi.”

Tidak. Dia tidak bengong.

Ia baru saja mendengar—

Jeno menggeleng pelan dan menyusul langkah Donghyuck. Mereka menuruni tangga, berhenti di depan mesin penjual minuman otomatis yang lampunya berkedap-kedip tidak konsisten. Donghyuck mengeluh saat koinnya nyangkut, memukul sisi kanan mesin dengan telapak tangan.

Jeno memperhatikan tangan itu. Jari-jari yang lentik. Kuku pendek. Bekas tinta pulpen samar di sisi ibu jari. Hal-hal kecil yang ia tidak tahu sejak kapan menghafalnya.

Kaleng minuman jatuh dengan suara logam tumpul. Donghyuck tertawa kecil.

Dan untuk sesaat—

(Untuk sesaat apa?)

Jeno mengerutkan kening. Ia menoleh ke depan. Lalu, dengan cepat ke samping dan ke belakangnya.

Tidak ada apa-apa. Lorong tempat mereka berdiri tetap lorong yang sama. Lampu neon tetap terlalu putih. Poster acara kampus bulan lalu tetap setengah mengelupas di sudut dinding. Tidak ada cahaya tambahan. Tidak ada kilau. Tidak ada—

(Tapi, Donghyuck terlihat berbeda ya?.)

Donghyuck menyodorkan kaleng. “Mau?”

“Hyuck,” Ucap Jeno saat menerima minuman itu dengan bingung dan waspada.

“Hm?”

“Kamu dengar sesuatu gak barusan?”

Donghyuck mengernyit. “Selain mesin ini bunyinya kayak mau pensiun?”

Jeno membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia menggeleng. “Enggak. Gak jadi.”

Ia meneguk soda itu. Rasanya terlalu manis, sedikit asam.

Namun perasaan ditatap itu tidak pergi.

Mereka berjalan lagi. Kali ini Jeno melangkah lebih pelan, sadar betul pada gerakannya sendiri—cara sepatunya menyentuh lantai, cara tasnya bergeser di bahu. Seperti sedang diuji. Seperti ada sesuatu yang memperhatikannya dan mencatat.

Ia berhenti lagi.

Ia menoleh.

Tatapannya tepat. Fokus. Langsung ke arah yang tidak seharusnya ia lihat.

(Kalau ada kamera, inilah momen ketika ia akan menatap lurus ke lensa.)

‘Apa?’

Donghyuck sudah berjalan dua langkah di depan dan menoleh lagi, jelas bingung. “Jeno, kamu kenapa sih?”

Jeno menatap Donghyuck, lalu kembali ke ruang kosong itu—seolah membandingkan dua hal yang tidak seharusnya dibandingkan.

‘Tidak. Ini aneh.’

“Ada apa?” Donghyuck mendekat, suaranya lebih rendah.

Jeno menarik napas. “Hyuck… kalau aku bilang aku ngerasa kayak lagi—”

(Kayak lagi apa?.)

Donghyuck menunggu. Sabar, seperti biasa.

“—lagi dilihatin.”

(Dia pasti gak percaya.)

Donghyuck auto menengok ke sekeliling mereka, ke samping kanan-kiri persis seperti yang Jeno lakukan tadi sebelum dia berhenti dan tertawa kecil. “Kamu capek kali. Abis ini kita ngopi. Kamu tadi kesiangan kan?”

Benar. Mungkin ia lelah, efek bergadang mengejar batas waktu kirim tugas.

(Tapi, kamu cepat sekali percaya dengan Donghyuck.)

Saat mereka berjalan lagi, Jeno tahu satu hal dengan keyakinan yang membuat perutnya terasa bergumul, adalah perasaan samar bahwa kehadiran suara aneh itu, tidak berniat pergi dalam waktu dekat.

 

-

 

Jeno berharap keanehan itu berhenti setelah kopi.

Ia benar-benar berharap begitu.

Kafe kecil di lantai dasar fakultas hampir kosong siang itu. Musik diputar terlalu pelan untuk disebut mengganggu, tapi cukup keras untuk ditangkap liriknya oleh Jeno. Donghyuck duduk di seberangnya, menekuk beberapa lapis tisu yang tersedia sambil menunggu pesanannya datang.

Jeno menatap meja. Serat kayu palsu. Bekas goresan tipis. Coretan spidol yang tidak pernah benar-benar dibersihkan.

Hal-hal nyata. Terlihat. Bisa disentuh.

(Fokus.)

Donghyuck mendongak. “Kamu kenapa dari tadi bengong terus?”

“Enggak kenapa-kenapa ,” jawab Jeno cepat. Terlalu cepat.

Donghyuck menyipitkan mata, jelas tidak sepenuhnya percaya, tapi tidak memaksa. Ia bersandar di kursi, memainkan ponselnya, dan mulai berceloteh lagi tentang tugas kelompok minggu depan—siapa yang tidak responsif di grup, siapa yang sok rajin tapi tidak pernah muncul.

Jeno mengangguk di waktu yang tepat. Semuanya berjalan normal. Ia hampir mulai tenang. Donghyuck tertawa kecil di tengah ceritanya. Bukan tawa besar, hanya hembusan pendek yang keluar begitu saja.

Dan Jeno merasakan sesuatu menarik pelatuk, dan melepaskannya.

Tidak di ruangan.

Tidak di udara.

Tapi di cara ia memperhatikan.

Donghyuck terlihat… terang.

(Seterang apa?)

‘Apa? Terang? Siapa yang bilang terang?’

Jeno berkedip cepat. Ia mencondongkan badan sedikit, seolah perubahan sudut pandang bisa memperbaiki apa pun yang sedang terjadi di kepalanya. Tidak ada cahaya tambahan. Tidak ada kilau absurd. Lampu kafe tetap sama. Wajah Donghyuck tetap wajah Donghyuck.

Namun—

Jeno menelan ludah.

Ia sadar pada cara Donghyuck mengkerutkan alis saat bingung. Pada jeda setengah detik sebelum ia tersenyum. Pada kebiasaan mengucapkan nama Jeno dengan nada manja di ujungnya.

(Kamu bahkan suka cara dia memanggil namamu.)

Jeno menghembuskan napasnya dalam, dan kasar.

Pesanan datang. Dua cangkir kopi diletakkan di meja. Donghyuck mengucapkan terima kasih, lalu menambahkan gula tanpa menakar. Jeno membuka mulut untuk mengingatkan, lalu menutupnya lagi.

(Kamu sudah tahu dia tidak pernah dengar soal takaran.)

“Kenapa kamu ngeliatin aku kayak gitu?” tanya Donghyuck, sambil mengaduk kopinya.

Jeno tersentak. “Aku enggak—” Ia berhenti.

Ia memang sedang memperhatikan.

“Masih capek?” Donghyuck menebak. “Atau laper?”

“Dua-duanya,” Jeno memilih jawaban aman.

Donghyuck tertawa. “Pantes.”

(Ini adalah bagian dimana seharusnya kamu mulai sadar.)

Jeno mengeratkan genggaman pada cangkirnya.

‘Tidak ada seharusnya’

Ia meneguk kopi terlalu cepat dan meringis saat panasnya menyentuh lidah. Donghyuck terkekeh, menggeser kotak tisu ke arahnya agar Jeno bisa membersihkan beberapa tetes yang tidak sengaja keluar dan menempel di sekitar janggut tipisnya.

Gerakan kecil. Kebiasaan. Sudah ribuan kali terjadi.

Namun sekarang—

(Kamu selalu begini sama dia.)

Jeno mengangkat wajahnya perlahan. Ia memindai ruangan. Meja kosong. Jendela. Barista yang sibuk di sudut. Tidak ada yang tampak aneh.

Jeno berdiri tiba-tiba, kursinya berderit nyaring membuat Donghyuck terkejut. “Mau kemana?”

“Mau ke toilet.”

(Apakah kamu mau kabur?)

Ia berjalan cepat menyusuri lorong sempit menuju kamar mandi, menutup pintu di belakangnya dan bersandar sebentar, menatap pantulan dirinya di cermin. Wajah yang sama. Mata yang sama. Tidak ada tanda-tanda ia kehilangan akal sehat.

(Sebenarnya, kamu baik-baik saja.)

“Berhenti,” gumam Jeno pelan. Pantulannya menggerakkan bibir dengan kalimat yang sama.

(Aku tidak melakukan apa-apa.)

“Kamu berisik,” kata Jeno, suaranya lebih tegas sekarang. “Banyak ngomong.”

(Aku hanya menyebutkan apa yang kamu lihat.)

“Tidak,” bantah Jeno. “Kamu menambah-nambahkan.”

Hening sejenak. Bahkan suara mesin air di kamar mandi terdengar lebih jelas.

(Itu namanya deskripsi secara detail.)

Jeno mendengus pendek. Ia mencipratkan air wastafel ke muka, membiarkan dingin menyentuh kulitnya, berharap sensasi fisik bisa mengusir suara itu. Saat ia menutup keran dan mengangkat wajah lagi—

(Kamu akan kembali ke meja itu.)

Jeno menatap cermin tajam. “Iya. Karena temanku nunggu.”

(Dan karena kamu juga ingin, Jeno)

Jeno tidak menjawab.

Saat kembali ke bangkunya, Donghyuck sudah sibuk menyendok kue kecil yang entah dari mana datangnya. “Kamu lama,” katanya ringan. “Aku hampir abisin ini sendirian.”

Jeno duduk, menarik napas pelan. “Hyuck.”

“Hm?”

“Kalau aku tiba-tiba jadi aneh—”

 “Kamu selalu aneh.” Donghyuck memotong, masih fokus ke kuenya.

Jeno tersenyum tipis tanpa sadar.

(Itu benar.)

Ia berhenti tersenyum.

Donghyuck mendongak, menatapnya dengan ekspresi yang melunak, nyaris tidak sadar sedang diperhatikan dengan cara yang berbeda.

“Serius,” katanya. “Kamu gak apa-apa?”

Jeno mengangguk. “Gak apa-apa.”

Dan kali ini, ia tidak yakin itu bohong. Ketika Donghyuck meneruskan lagi curhatannya atas tugas yang tidak kunjung kelar walaupun sudah memakan waktu tidurnya, Jeno menunggu.

Jeno menunggu suara itu untuk kembali dan menyelipkan komentar lainnya. Namun suara itu tidak mengatakan apa-apa lagi.

Seolah suara itu juga menunggu balik Jeno. Dan berharap agar Jeno mulai mendengarkan tanpa membantah.

 


 

 

Jeno memutuskan untuk tidak mendengarkan.

Keputusan itu datang pagi-pagi sekali, sebelum kelas dimulai, saat ia duduk di bangku kayu depan gedung fakultas dengan gelas kertas kopi yang masih terlalu panas. Donghyuck belum datang. Kampus masih setengah mengantuk. Ini waktu yang tepat untuk berpikir jernih.

(Atau menghindar.)

Jeno menyesap kopi dan sengaja tidak menanggapi suara itu.

Ia menatap orang-orang yang lalu-lalang—mahasiswa dengan earphone, dosen yang berjalan cepat, petugas kebersihan yang mendorong gerobak. Hal-hal biasa. Hal-hal yang tidak berhubungan dengan Donghyuck.

(Kamu sengaja.)

‘Iya.’

Hening. Jeno mengangkat alis. Ia menunggu dialog lanjutan yang biasanya datang tanpa diundang. Tidak ada. Hanya bunyi langkah kaki dan angin pagi yang membawa bau tanah basah.

Menarik.

Donghyuck muncul beberapa menit kemudian, membawa dua roti dari minimarket seberang. Ia duduk di samping Jeno tanpa basa-basi, menyodorkan salah satunya.

Jeno dengan reflex, menerimanya. “Makasih.”

Mereka makan diam-diam. Nyaman. Tidak canggung.

(Ini bagian yang selalu kamu lewatkan.)

Jeno berhenti mengunyah.

‘Aku tidak melewatkan apa-apa.’

Ia sengaja menoleh ke arah lain. Menggigit roti lebih besar dari yang perlu. Mengalihkan perhatian. Donghyuck bersandar, menatap halaman gedung. “Nanti sore kita ke perpustakaan, ya? Aku mau nyicil tugas.”

“Sendiri aja,” jawab Jeno dengan sedikit cepat.

Donghyuck menoleh. “Hah?”

“Aku—” Jeno menghela napas. “Aku mau ke gym.”

Itu bohong. Atau setidaknya setengah bohong. Gym memang ada di rencananya. Hanya tidak sekarang.  Donghyuck mengangguk, tidak mempersoalkan. “Oh. Oke.”

(Lihat.)

‘Apa?’

(Kamu menghindar.)

Jeno menggenggam bungkus rotinya kencang tanpa sadar sampai plastiknya berkerut. Donghyuck sudah berdiri lebih dulu, melambaikan tangan singkat sebelum masuk ke gedung, meninggalkan Jeno sendirian di bangku itu.

Beberapa detik berlalu sebelum Jeno akhirnya bergerak, menatap halaman kosong di depannya sambil menunggu kabut pikirian di kepalanya mereda. Namun alih-alih hilang, ia justru mulai menangkap satu pola yang membuat dadanya terasa sedikit tidak nyaman. Suara itu tidak muncul sembarangan—tidak saat ia memikirkan kelas, tidak ketika ia mengerjakan tugas, dan tidak juga ketika perhatiannya tertuju pada orang lain. Ia selalu muncul bersamaan dengan keberadaan Donghyuck, atau justru pada saat Donghyuck tidak ada, namun seharusnya muncul di waktu-waktu ketika kehadirannya terasa paling wajar.

(Kamu baru sadar.)

Jeno berdiri, memasukkan sisa rotinya ke tas dengan asal. ‘Jangan sok tahu.’

(Aku tidak sok.)

‘Ini hidupku.’

(Dan aku hanya menceritakannya.)

Jeno menggeleng. ‘Kalau gitu, ceritain yang lain.’

(Seperti apa.)

‘Selain dia.’

Sunyi.

Lebih lama kali ini.

(Aku bisa.)

“Tapi?”

(Tapi itu bukan bagian yang penting.)

Jeno tertawa kecil. Tanpa humor. ‘Penting buat siapa?’

Tidak ada jawaban.

Di kelas, Jeno memilih duduk agak ke belakang, sementara Donghyuck sudah lebih dulu menempati bangku depan bersama temannya yang lain. Jarak itu terasa aman—setidaknya itulah yang Jeno harapkan ketika ia membuka buku dan mulai mencatat dengan rapi. Ia mengikuti penjelasan dosen, memaksa fokus pada slide yang berganti pelan.

(Selamat, atas keberhasilan menghindarnya.)

‘Terima kasih.’

(Tapi kamu tidak akan berhenti memperhatikan.)

Jeno menekan ujung pulpennya terlalu keras hingga tintanya sedikit melebar.

Donghyuck menoleh sesekali. Mencari. Tidak menemukan, karena Jeno sengaja menundukan kepalanya lebih dalam. Mengangkat bahu dan kembali ke catatannya.

Perasaan aneh Jeno datang lagi. Ruang kosong besar yang lantainya mulai retak.

(Ini baru permulaan.)

‘Diam.’

Begitu kelas selesai, Jeno menutup bukunya lebih cepat dari biasanya dan berdiri sebelum Donghyuck sempat mendekatinya. Ia keluar, memilih belok ke lorong kanan, menuruni tangga, lalu masuk ke gedung sebelah tanpa melihat ke belakang.

(Kamu pikir jarak dapat menyelesaikan sesuatu.)

‘Aku pikir aku butuh.’

Jeno berhenti di depan papan pengumuman. Membaca selebaran yang kertasnya sudah sedikit menguning, meski ia tidak tertarik dengan isinya. Ia berpindah dari satu selebaran ke selebaran lain, namun yang muncul justru kesadaran paling menyebalkan.

Ia tahu apa yang Donghyuck akan lakukan sekarang, tahu rute pulangnya, tahu kebiasaan kecil yang tidak pernah mereka bicarakan. Pengetahuan yang dulu terasa netral, kini menekan dada dengan cara yang membuatnya seperti tenggelam.

(Karena sekarang kamu melihatnya.)

“Lihat apa sih?,” Jeno membantah. “Aku selalu tahu.”

(Kamu tahu. Tapi kamu tidak menyebutnya apa-apa.)

Ia memejamkan mata sebentar.

Jeno berjalan cepat ke luar kampus, membiarkan matahari siang menyilaukan penglihatannya. Ia mengeluarkan ponsel, membuka kolom chat-nya dengan Donghyuck, lalu menutupnya lagi.

(Kamu mau nanya sesuatu.)

‘Aku tidak.’

(Kamu mau memastikan.)

Ia memasukkan ponselnya kembali ke saku.

 

-

 

Sore itu, tanpa banyak wacana, Jeno benar-benar pergi ke gym. Ia naik ke treadmill dan mulai berlari, awalnya dengan ritme biasa, lalu sedikit lebih cepat, lalu lebih lama dari yang ia rencanakan. Keringat mulai turun dari pelipisnya, kausnya menempel di punggung. Ia membiarkan tubuhnya bekerja sampai pikirannya ikut lelah, sampai yang tersisa hanya detak jantung dan tarikan napas yang teratur. Di antara suara mesin dan langkah kakinya sendiri, gangguan itu nyaris tidak terdengar.

Nyaris.

(Kamu tidak bisa lari selamanya.)

Jeno memperlambat langkahnya, menurunkan kecepatan treadmill hingga akhirnya berhenti. Ia membungkuk, bertumpu pada lutut, napasnya berat. “Aku tahu,” gumamnya pelan, lebih ditujukan pada dirinya sendiri daripada siapa pun.

(Lalu kenapa kamu menolak?)

Ia tidak langsung menjawab. Jeno berdiri lebih tegak, lalu berhenti sepenuhnya. Ia menarik napas panjang, menutup mata sejenak, mencoba menyusun kata-kata yang bahkan di kepalanya sendiri terasa sulit.

“Karena kalau aku mengakui—” Ia terdiam, kalimat itu menggantung.

(Karena kalau kamu mengakui, kamu tidak akan seperti biasa lagi.)

Jeno menutup mata lebih lama kali ini. Bukan lagi biasa. Bukan lagi tanpa risiko. Saat ia membukanya kembali, dadanya terasa sesak—ada rasa takut di sana, jelas, tapi juga sesuatu yang tidak mau ia lepaskan begitu saja. Ia tidak tahu bagaimana semua ini seharusnya berjalan, tidak tahu ke mana arahnya. Namun satu hal yang mulai terasa sulit disangkal: apa pun yang sedang terjadi padanya tidak datang dari luar. Suara itu tidak menaruh apa-apa di kepalanya; ia hanya menunjuk, terlalu tepat, pada pola yang selama ini Jeno sengaja tidak ia lihat.

(Kamu tidak harus bertindak sekarang.)

Jeno meraih handuk dari pegangan treadmill di sampingnya dan mengusap wajah, mengeringkan keringat yang menetes ke leher. “Aku tahu,” katanya pelan.

(Tapi kamu akan.)

Kali ini, Jeno tidak membantah. Keheningan yang tertinggal setelahnya tidak terasa seperti ancaman. Lebih seperti penundaan yang ia tahu tidak akan bertahan selamanya.

 


 

 

Pagi itu terasa terlalu tenang. Langit mendung tanpa hujan. Kampus berjalan seperti biasa, tapi dengan tingkah kecil yang terasa sengaja—seolah semua orang bergerak sedikit lebih lambat, memberi ruang bagi sesuatu yang akan terjadi.

(Kamu sadar.)

‘Iya.’

Jeno menarik resleting jaketnya lebih keras dari yang diperlukan. Ia sudah terbiasa dengan suara itu sekarang—kehadirannya yang menunggu di balik deskripsi, siap menyelipkan makna ke hal-hal sepele.

Namun hari ini, rasanya berbeda.

(Hari ini penting.)

Jeno memperhatikan sekitarnya. Lorong masih ramai. Ada tawa dari ujung koridor, suara sepatu beradu lantai, aroma jajanan pinggir jalan dari tangga sebelah. Tidak ada tanda-tanda dunia akan runtuh.

“Penting gimana?” gumamnya pelan.

Tidak ada jawaban langsung.

Itu justru yang membuat Jeno tambah waspada.

Donghyuck muncul dari arah berlawanan, membawa map plastik transparan yang sudah lecek di sudut-sudutnya. Senyumnya muncul otomatis saat melihat Jeno—refleks yang sudah terlalu lama terjadi untuk dipertanyakan.

“Eh,” sapa Donghyuck. “Mau jalan ke kelas sekarang?”

Jeno mengangguk. “Iya.”

Mereka berjalan berdampingan. Langkahnya sinkron, seperti biasa. Terlalu biasa.

(Perhatikan jaraknya.)

‘Jarak apa.’

(Kalian tidak sedekat kemarin.)

Jeno melirik sekilas. Bahu mereka memang tidak bersentuhan hari ini. Hanya beberapa sentimeter. Masih dalam batas wajar. Masih aman.

(Ini bagian di mana kamu sadar ada yang berubah.)

Jeno berhenti mendadak. Donghyuck ikut berhenti, hampir menabraknya. “Kenapa lagi?”

Jeno menoleh. Menatap wajah Donghyuck dengan serius yang tidak biasa.

‘Tidak. Tidak ada yang berubah.’

“Hyuck,” kata Jeno. “Kita telat.”

Donghyuck mengerjap, lalu tertawa kecil. “Ya, makanya ayo terusin jalannya.”

Mereka berjalan lagi, tapi sesuatu terasa janggal. Bukan di antara mereka—melainkan di kepala Jeno.

(Ini titik di mana nanti kamu seharusnya salah paham.)

Jeno menelan ludah.

(Atau pergi tanpa menjelaskan.)

Ia membuka pintu kelas dan langsung masuk tanpa menunggu Donghyuck. Ia memilih bangku di tengah, menarik kursi pelan agar tidak berisik, lalu mengeluarkan buku dari tas. Halaman dibuka sembarang—ia bahkan tidak benar-benar membaca judul babnya. Donghyuck duduk dua baris di depan, punggungnya lurus, map-nya diletakkan rapi di meja. Ia tidak menoleh.

(Lihat.)

‘Aku lihat.’

(Dan kamu tidak melakukan apa-apa.)

“Karena tidak ada apa-apa,” bisik Jeno, nyaris tenggelam oleh suara kursi yang digeser dan langkah mahasiswa lain.

Dosen masuk. Kelas dimulai. Slide berganti. Suara spidol menyentuh papan tulis.

(Kamu merasa diabaikan.)

‘Tidak.’

(Kamu mulai mempertanyakan.)

‘Aku enggak.’

Namun tubuhnya mengkhianati bantahan itu. Jeno sadar ia lebih sering menatap punggung Donghyuck daripada catatan di bukunya. Ia mencatat kata yang sama dua kali. Menghapusnya. Menulis ulang.

Ini konyol.

Kenapa Jeno merasa seperti ini.

Ini hanya kelas hari Kamis.

(Setiap cerita punya momentum.)

Jeno menutup bukunya.

Saat kelas selesai, mahasiswa berhamburan keluar. Donghyuck berdiri, merapikan mapnya, lalu berhenti sejenak—seperti ingin menoleh, tapi ragu.

(Sekarang.)

‘Tidak.’

Jeno tidak bergerak, membiarkan Donghyuck akhirnya pergi tanpa berkata apa-apa.

(Kamu seharusnya mengejarnya.)

‘Kenapa?’

(Karena kalau tidak, jarak ini akan tumbuh.)

Jeno bangkit dan keluar kelas dengan langkah pelan, satu per satu, lalu berhenti di dekat pintu kelas. Ia berdiri di sana, membiarkan arus orang lewat, sementara sesuatu di kepalanya mencoba menyusun sebab-akibat yang terlalu rapi.

“Berhenti,” katanya, jelas kali ini.

Langkah orang-orang tidak berhenti. Dunia tetap bergerak.

(Ini penting.)

‘Tidak.’

(Jeno—)

‘Kamu mau aku sakit hati.’

Diam.

Lebih panjang dari biasanya.

(Aku mau ceritanya berjalan.)

“Dengan caramu.”

(Dengan cara yang masuk akal.)

Jeno menghela napas pendek, nyaris tertawa. “Masuk akal buat siapa?”

(…)

(…)

(Cerita butuh konflik.)

“Aku gak butuh konflik,” balas Jeno tegas. “Manusia hanya butuh kejujuran  Dan aku belum siap.”

Ia melangkah menjauh dari ruang itu, menuju ke tangga darurat yang jarang dipakai mahasiswa disini. Udara di sana lebih dingin, lebih sunyi. Ia duduk di anak tangga, menatap dinding abu-abu yang penuh bekas sepatu.

(Kamu menghindar lagi.)

“Biarin.”

Detik berlalu. Tidak ada komentar. Tidak ada metafora. Tidak ada dorongan.

Jeno menunggu.

(Ini bukan bagian yang akan aku tulis.)

Jeno tersenyum kecil. “Bagus.”

Ia menyandarkan kepala ke dinding, menutup mata. Untuk pertama kalinya sejak suara lain di kepalanya dimulai, keheningan terasa… melegakan.

Ia tahu apa yang ia rasakan sekarang. Ia tahu pada siapa. Dan ia tahu satu hal lain yang tidak kalah penting: ia tidak mau perasaannya lahir dari konflik yang dipaksakan. Ia tidak mau menyadari cinta karena kehilangan yang dibuat-buat. Ia ingin sampai di sana dengan perbuatannya sendiri.

Beberapa menit kemudian, langkah kaki terdengar dari tangga di atasnya.

“Jeno?”

Ia membuka mata mendapati Donghyuck disana, menatap dengan ekspresi bingung yang polos. “Aku kira kamu pulang duluan.”

Jeno duduk tegak. “Enggak. Cuma… butuh istirahat.”

“Di sini?” Donghyuck turun satu anak tangga, lalu duduk di sampingnya tanpa bertanya lebih jauh. Jarak mereka dekat lagi. Seperti semula. Seperti biasanya.

(Ini tidak sesuai.)

Jeno melirik ke samping. Donghyuck menatap lurus ke depan. “Kamu aneh hari ini.”

“Cuma hari ini?”

Donghyuck tersenyum. “Ya… kalau mau lebih jujur sih…”

Mereka duduk diam. Tidak ada salah paham. Tidak ada pengakuan besar. Tidak ada jarak dramatis.

Hanya dua orang yang berbagi ruang sempit di tangga darurat terbengkalai.

“Kamu mau pulang bareng?” tanya Donghyuck akhirnya.

Jeno meliriknya dari sudut mata. “Biasanya juga bareng.”

“Iya, maksudku… sekarang.”

Jeno berpikir sebentar. “Iya.”

“Oke.” Sesederhana itu.

‘Lihat’

(Apa.)

‘Tidak ada yang harus dirusak.’

(Oke, tapi ini belum selesai.)

Jeno menghela napas kecil. Ia berdiri lebih dulu, mengibaskan belakang celananya.

Donghyuck ikut berdiri, menyampirkan ranselnya ke bahu.

Mereka berjalan keluar gedung berdampingan. Matahari sore menyelinap di antara bangunan. Langkah mereka kembali selaras.

 


 

 

Tidak ada perubahan besar setelah itu. Tidak ada jarak yang tiba-tiba melebar, tidak ada kesalahpahaman yang perlu dibongkar pelan-pelan. Dunia tetap berjalan seperti biasa, seolah keputusan Jeno untuk duduk di tangga darurat dan menolak mengikuti dorongan di kepalanya tidak meninggalkan bekas apa pun. Dan justru itulah yang membuatnya sulit. Segalanya kembali terasa normal—terlalu normal.

Jeno dan Donghyuck masih berangkat bersama kalau jadwal mereka cocok. Mereka masih duduk bersebelahan di kelas, masih saling menyodorkan catatan atau saling bisik soal dosen yang terlalu cepat mengganti slide. Pesan-pesan tetap berdatangan: link video aneh yang tidak penting, foto kucing yang entah sejak kapan jadi langganan muncul di taman fakultas, keluhan soal tugas yang tidak pernah benar-benar selesai.

Jika dilihat dari luar, tidak ada yang berubah.

Namun Jeno tahu ia mulai menghitung.

Bukan hari.

Bukan tanggal.

Melainkan momen.

(Kamu mulai bersiap?)

‘Iya.’

Suara lain di kepalanya terdengar… santai. Tidak lagi mendorong. Tidak lagi menyusun konflik. Seolah mengamati dari kejauhan, menunggu Jeno tersandung oleh rencananya sendiri.

Jeno membiarkannya.

Ia mulai menyimpan kalimat-kalimat di kepalanya, tidak utuh, tidak juga rapi. Potongan-potongan yang muncul lalu menghilang: nanti, kalau suasananya pas, kalau tidak terburu-buru, kalau tidak ada orang. Ia sendiri tidak yakin seperti apa bentuk “pas” yang ia tunggu, tapi ada keyakinan kecil bahwa ia akan mengenalinya saat tiba.

(Kamu optimis.)

‘Aku realistis.’

(Itu dua hal yang sering tertukar oleh para karakter.)

Jeno tidak menanggapi itu.

 

-

 

Suatu sore mereka duduk di perpustakaan, berhadapan di meja panjang dekat jendela. Laptop terbuka di depan masing-masing. Donghyuck mengerjakan tugasnya dengan serius yang sesekali terpecah karena kebiasaan menggigit ujung pulpen, lalu berhenti untuk mengetuk-ngetukkan pulpen itu ke meja. Jeno mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi—bukan karena ia tidak mengerti materi di buku depannya, melainkan karena perhatiannya terus tertarik ke arah yang sama.

Donghyuck menghela napas panjang dan bersandar di kursinya. “Aku benci bagian ini.”

“Bagian mana?”

“Yang pertanyaannya pendek, tapi penjelasannya habisin sepuluh lembar sendiri.”

Jeno terkekeh. “Kamu selalu bilang begitu.”

“Iya, dan selalu ngeselin setiap muncul.”

(Ini momen yang tenang.)

Jeno melirik jam di layar. Masih sore. Tidak ada yang mengejar mereka.

(Kamu bisa.)

‘Belum.’

Jeno sadar, suara itu sudah lelah bersantai di bangku panjanganya, dan memutuskan untuk mendorongnya kembali.

Jeno kembali menatap layar laptop, memaksa fokus. Tangannya mengetik lebih cepat, seolah ketekunan bisa menunda hal lain yang berputar di kepalanya.

 

-

 

Beberapa hari kemudian, mereka makan malam di warung langganan dekat kos Jeno. Tempatnya tidak berubah—meja plastik yang sedikit lengket, kipas angin di sudut ruangan yang berputar malas, dan suara wajan dari dapur yang kadang lebih keras dari obrolan pelanggan. Donghyuck memesan menu yang sama seperti biasanya. Jeno hampir ikut menyebutkan pesanannya sebelum Donghyuck membuka mulut, lalu buru-buru menahan diri

(Kamu tahu pesanan dia?)

‘Tahu.’

(Dan katamu itu bukan sesuatu yang penting.)

Jeno menatap pinggir gelasnya sebentar sebelum berkata. “Kamu ingat pertama kali kita makan di sini?”

Donghyuck mengangkat kepala. “Yang kamu salah ambil pesanan orang?”

“Kayanya ingatanmu salah.”

Donghyuck menyeringai. “Ingatan aku benar. Kamu panik dan hampir bayarin makanan yang gak kamu pesan.”

Jeno mendengus. “Oke, mungkin.”

Mereka tertawa. Ringan. Mudah.

(Harus di akui, Ini hangat untuk dilihat.)

‘Aku tahu.’

(Dan kamu ingin menjaganya.)

Ia memang ingin menjaga ini. Justru karena itu, ia ingin waktu yang tepat—bukan untuk membuat sesuatu menjadi besar, hanya supaya tidak mengganggu apa yang sudah terasa cocok. Ia tidak ingin mengganggu sesuatu yang sudah berjalan dengan baik.

Di luar, angin malam menusuk tanpa peringatan. Mereka berjalan pulang, bahu sesekali bersentuhan sebelum menjauh lagi. Tidak ada musik. Tidak ada gemerisik daun. Hanya langkah kaki dan lampu jalan yang menyala satu per satu.

Jeno hampir berhenti. Hampir membuka mulut.

(Sekarang.)

‘Tidak.’

Ia menghela napas, melanjutkan langkah sedangkan Donghyuck menguap sambil mengusap matanya—tidak sadar dengan dilema yang bergejolak dipikiran sahabatnya.

“Besok kamu ada kelas pagi?” tanya Donghyuck.

“Iya.”

“Ah, kasihan.”

Jeno tertawa kecil. “Kan kita satu kelas.”

“Makanya aku kasihan ke diri sendiri juga.”

Mereka berpisah di persimpangan kecil. Donghyuck melambaikan tangan singkat sebelum berbalik.

Jeno berdiri lebih lama dari yang diperlukan, menatap punggung itu menjauh.

(Kamu akan menunggu lebih lama kalau begini.)

‘Aku tidak keberatan.’

Suara itu terdiam sejenak.

(Kamu pikir ada momen yang sempurna?.)

Jeno memasukkan tangan ke saku jaket. “Gak harus sempurna. Tapi yang pas.”

(“Pas” jarang datang dengan pengumuman.)

Ia mengangkat bahu kecil, meski tidak yakin pada siapa. “Aku sabar.”

(Kamu selalu bilang begitu.)

 

-

 

Hari-hari berikutnya berjalan begitu saja. Tidak ada kejadian besar yang menuntut perhatian, tidak ada dorongan dramatis yang memaksa Jeno bergerak lebih cepat dari yang ia mau. Ia mulai merasa nyaman dengan rencananya—atau mungkin dengan ketiadaan rencana yang lama-lama terasa seperti rencana.

Pagi diisi kelas, siang tugas, sore pesan singkat yang datang dan pergi tanpa tekanan. Jeno tidak menyadari bahwa ia sudah berdiri terlalu dekat dengan tepi; bahwa semua yang ia tunggu sebenarnya tidak membutuhkan panggung, tidak membutuhkan waktu yang “pas”, dan tidak membutuhkan kesiapan panjang yang ia bayangkan. Yang dibutuhkan hanya satu kalimat sederhana yang terus ia simpan.

Dan sementara Jeno mengira cerita ini berjalan pelan bersamanya, ia tidak sadar bahwa arah itu sudah sedikit bergeser.

‘Kamu terlalu berlebihan’

(Kamu tidak akan melihatnya datang.)

‘Benarkah?’

Jeno menutup pintu kamarnya dengan perasaan ringan. Ia menaruh tas di kursi, melepas jaket, lalu merebahkan diri di kasur tanpa menyalakan lampu. Cahaya dari luar menyelinap lewat celah tirai, cukup untuk membuatnya bisa melihat retakan kecil di langit-langit yang sudah ia hafal. Ponselnya tergeletak di samping bantal. Tidak ada pesan baru. Tidak ada yang mendesak.

Jeno tersenyum kecil dan menghela napas panjang.

“Kalau begitu, besok,” gumamnya pelan.

 


 

 

Jeno bangun pagi itu dengan langit yang terlalu cerah. Udara sudah terasa panas lebih awal dari biasanya. Kampus ramai sejak pagi, dan ia berjalan berdampingan dengan Donghyuck seperti biasa—langkah mereka otomatis menyatu, bahu sesekali bersentuhan, obrolan ringan mengisi jarak. Donghyuck mengeluh soal presentasi kelompoknya tanpa henti.

“Aku bersumpah, kalau dia bilang ‘aku sibuk’ satu kali lagi, aku bakal—”

“—tetap ngerjain sendiri,” potong Jeno.

Donghyuck mendesah dan mengusak kasar kepalanya. “Iya. Itu masalahnya.”

Jeno tertawa kecil, suaranya keluar tanpa dipikirkan.

Mereka berhenti di depan mesin penjual minuman otomatis. Donghyuck membungkuk sedikit untuk melihat pilihan minuman, mengerutkan kening seperti itu keputusan hidup-mati.

“Kamu mau apa?” tanyanya.

“Yang sama kayak kamu.”

Donghyuck menoleh. “Kamu yakin?”

“Iya.”

(Kamu jarang ragu soal itu.)

‘Karena ini sepele.’

Donghyuck menekan tombol, mengambil dua kaleng, lalu menyodorkan salah satunya. Jeno menerimanya; jari mereka bersentuhan sebentar—cukup lama untuk disadari, terlalu singkat untuk dibicarakan. Tidak ada apa-apa yang menyertainya. Hanya sentuhan kecil yang berhenti begitu saja.

Mereka duduk di bangku dekat taman kecil, membuka kaleng masing-masing. Suara desis hasil karbonasi terdengar serempak. Donghyuck meneguk duluan. “Eh, nanti sore kamu ada kegiatan lain?”

“Harusnya.”

“Temenin aku beli alat tulis, please? Aku males sendiri.”

Jeno mengangguk tanpa pikir panjang. “Iya.”

(Jawabanmu cepat.)

‘Karena itu pertanyaan gampang.’

Donghyuck tersenyum—lengkungan kecil di sudut bibir yang Jeno kenal sebagai terima kasih tanpa kata. Mereka duduk diam sebentar, menikmati minuman masing-masing. Angin bergerak pelan. Daun jatuh ringan. Tidak ada yang terburu-buru.

“Hyuck,” katanya, tanpa menoleh.

“Hm?”

Jeno menatap lurus ke depan.

“Aku kayaknya suka kamu.”

Nada suaranya datar. Terlalu datar untuk sesuatu yang seharusnya besar. Dan hening yang canggung membuntuti penyataan Jeno.

Donghyuck berhenti melanjutkan minumnya. Kaleng di tangannya tertahan di udara.

“…hah?”

Jeno baru menoleh sekarang. Dan di titik itu—terlambat untuk berpura-pura—ia menyadari apa yang baru saja ia katakan.

‘Oh.’

(Kamu akhirnya bilang.)

‘Iya.’

(Begitu saja?)

‘Mau gimana lagi?’

Donghyuck menatapnya. Lama. Wajahnya kosong sebentar, seperti komputer pentium dua yang sedang memproses terlalu banyak informasi sekaligus.

“Kamu… bercanda, kan?” tanyanya akhirnya, pelan.

Jeno menggeleng. “Enggak.”

Nada suaranya tetap sama. Tenang. Hampir santai. Seolah ia sedang membicarakan cuaca, bukan perasaan yang ia pikir akan ia jaga sampai menemukan momen yang tepat.

“Maaf,” tambahnya refleks. “Aku enggak—aku enggak rencanain ini.”

Donghyuck tertawa gugup. Pendek. Tidak yakin. “Keliatan.”

Jeno menghela napas, menunduk sebentar, lalu mengangkat bahu kecil. “Aku tadinya mau nunggu lebih lama dari ini. Tapi kayaknya… mau dikeluarin aja. Biar lega.”

Ia tidak melihat ke arah Donghyuck saat berkata itu. Dia malah menatap tangannya sendiri, jemarinya sedikit gemetar di atas kaleng minuman. Donghyuck menyandarkan punggung ke bangku, melihat langit sebentar, lalu kembali menatap Jeno. Matanya tidak panik. Tidak marah. Lebih ke terkejut dengan cara yang tidak meledak-ledak.

“Kamu tahu,” katanya hati-hati, “Kamu ini lagi menyatakan perasaan, kan?”

“Iya.”

“Dan kamu bilangnya enteng, sambil minum soda.”

Jeno tersenyum miring. “Aku juga nyesel soal momennya.”

Donghyuck menggeleng, tapi ada senyum yang tidak bisa ia sembunyikan sekarang. “Gila.”

Hening datang lagi, tapi kali ini tidak canggung—sunyi yang berisik oleh hal-hal yang belum diberi nama. Donghyuck akhirnya bicara lagi. “Sejak kapan?”

Jeno berpikir sejenak. Jujur.

“Aku enggak tahu persis. Tapi aku baru sadar belakangan ini.”

Donghyuck mengangguk pelan. Ia menatap kaleng minumannya, memutar-mutar dengan jari. “Aku pikir kamu bakal—”

“—menunggu momen besar?” sela Jeno.

Donghyuck mendengus. “Enggak. Aku pikir kamu akan nyangkal soal itu.”

“Maaf,” ulang Jeno, kali ini dengan senyum kecil. “Aku ternyata enggak jago bohong.”

Donghyuck menatapnya lagi. Lebih lama sekarang. Tatapannya melembut.

“Jeno,” katanya pelan. “Aku juga suka sama kamu.”

Kali ini Jeno yang membeku. Dia kurang memperhitungkan kalau akan ada balasannya untuk adegan ini. 

‘Oh.’

Donghyuck melanjutkan cepat, seolah takut kehilangan momentum. “Udah lama. Aku cuma—ya, aku kira kamu enggak akan pernah lihat.”

Jeno tertawa kecil. Ada sesuatu yang longgar di dadanya, seperti simpul yang akhirnya tertarik lepas. “Maaf,” katanya lagi, hampir refleks.

Donghyuck tertawa, lebih lepas sekarang, “Berhenti minta maaf.”

Mereka saling menatap. Senyum tercetak, walau dengan getar di bibir keduanya.

Dan dunia terasa mengecil. Hanya mereka. Duduk di bangku taman. Dengan pengakuan yang sudah terlanjur keluar dan tidak perlu ditarik kembali.

Donghyuck menggeser duduknya sedikit lebih dekat. “Jadi…” katanya pelan. “Sekarang gimana?”

Jeno mengangkat bahu. “Kita… lanjut beli alat tulis?”

Donghyuck tergelak. “Kamu serius?”

“Serius,” jawab Jeno, ikut tertawa. “Abis itu kita makan di kedai seberangnya, aku laper juga.”

Donghyuck berdiri lebih dulu, lalu mengulurkan tangan. “Ayo, pacarku yang aneh.”

“Pacar?”

“Mulai hari ini, kita jadian!” Ucap Donghyuck dengan percaya diri tinggi yang dibuat-buat sambil menunjuk Jeno—seperti super hero di televisi yang mengucapkan slogan khususnya—lalu sedetik kemudian langsung menutupi mukanya sendiri dengan pekikan kecil, “Malu banget.”

Jeno hanya tertawa akan tingkah laku sahabat—bukan—kini pacarnya itu. Merasa gemas.

Lalu Donghyuck mengulurkan tangannya kembali, berusaha bersikap normal walaupun wajahnya semerah kepiting rebus.  Jeno menatap tangan itu sesaat. Ia tahu genggaman itu akan terasa biasa—sudah ribuan kali ia ditarik Donghyuck berdiri atau menarik tanpa perlu berpikir. Jadi ia meraihnya tanpa ragu.

Masalahnya, ia berdiri terlalu cepat. Tumitnya tersangkut di ujung bangku, membuat langkahnya goyah. Tubuhnya terdorong ke depan, jarak di antara mereka menyempit sebelum ia sempat menyesuaikan diri. Donghyuck refleks menangkap lengannya, satu tangan lain menahan pinggangnya agar tidak jatuh.

Mereka berhenti terlalu dekat.

Jeno baru sadar betapa dekatnya mereka saat ia tidak punya ruang untuk mundur tanpa menyenggol dada Donghyuck. Ia bisa mencium bau parfum khas yang samar, merasakan napas Donghyuck yang hangat di pipinya.

Mata mereka bertemu.

(Oh, Ini—)

Jeno menelan ludah.

(Tunggu.)

Ia tidak menunggu.

Ia mencondongkan kepala sedikit dan mencium Donghyuck—cepat, canggung, terlalu gegabah. Bibir mereka bertemu akibat reaksi tubuh yang mendahului pikiran.

Donghyuck tertegun sepersekian detik, sebelum mencairkan diri dan membuka mulutnya sedikit untuk memperdalam tautan mereka. Mencari lebih banyak, tangannya yang semula menahan lengan Jeno itu berpindah, mencengkeram kain jaketnya, seolah memastikan Jeno tidak menjauh. Memastikan jika ini nyata.

 (Ini bagus sekali.)

‘Bisa nggak kamu tinggalin kami sebentar?’

 (Tapi mereka juga sangat suka baca bagian ini.)

‘Mereka siapa?’.

Jeno menarik diri lebih dulu. Bukan karena ingin berhenti—tapi hanya dilanda kebingungan. Donghyuck mengira itu jeda, masih menahan jarak, matanya setengah terpejam, senyum kecil sudah siap muncul.

Dan senyum itu—ringan, sedikit bodoh, sepenuhnya Donghyuck—membuat kepala Jeno kosong seketika.

Kebingungan itu hilang begitu saja.

Donghyuck mengecupnya sekali lagi sebelum membuka mata dengan benar begitu dirasa Jeno tidak kembali menyatukan wajah mereka.

“Kenapa?” tanyanya pelan, masih tersenyum.

“Gak apa-apa,” kata Jeno menggeleng cepat . “Aku cuma… kaget.”

Donghyuck tertawa kecil. “Kamu yang mulai.”

Jeno mengangguk, lalu meraih tangan Donghyuck lagi. Kali ini ia yang menarik lebih dulu, memastikan jarak itu tetap ada—cukup dekat, cukup nyaman.

Langkah pertama mereka tetap terasa biasa. Sama seperti jutaan langkah mereka bersama sebelumnya. Tidak ada kilau cahaya. Tidak ada musik latar. Tidak ada dunia yang berubah bentuk.

Dan justru karena itu, semuanya terasa tepat.

(Ini bukan adegan yang aku tulis. Tapi lumayan lah.)

Jeno berhenti sebentar, menoleh ke samping, lalu tersenyum kecil.

‘Bagus.’

 

-

 

Beberapa hari berlalu dengan ritme yang sama seperti sebelumnya. Tidak ada gestur besar, tidak ada pengakuan yang ditarik-tarik, dan tidak ada perubahan mendadak yang menuntut penyesuaian. Namun ada hal-hal kecil yang kini hadir, dan tanpa sadar Jeno mulai mensyukurinya.

Ada momen ketika Donghyuck tertidur di bahunya di perpustakaan dengan napasnya yang teratur dan kepalanya sedikit lebih berat dari yang Jeno kira.

Ada momen ketika mereka berdebat soal film apa yang mau ditonton setelah tugas selesai, berdua saja di kamar, saling bersandar, berpelukan tanpa benar-benar memperhatikan waktu.

Dan ada juga momen, ketika Jeno hampir berkata aku sayang kamu saat Donghyuck menyuapi sarapan yang mereka bagi dua—namun memilih diam, dan ternyata itu tidak mengganggu apa pun.

Semuanya terasa nyaman.

Aman.

Terlalu familiar untuk dicurigai.

Jeno berpikir bahwa ia menyukai hidupnya yang seperti ini.

Suatu malam, Jeno berbaring di kasur kosnya dan menatap langit-langit yang retaknya tidak pernah berubah. Ponselnya menyala; balasan terakhir dari Donghyuck muncul di layar—satu stiker konyol tanpa konteks. Jeno tersenyum dan mulai mengetik sesuatu. Ia berhenti sejenak. Keraguan menyapanya sebentar, tepat sebelum menekan kirim.

Tapi, ada sesuatu yang melintas—bukan bayangan, bukan kata-kata, lebih seperti gema jauh dari sesuatu yang dulu sering hadir.

Dorongan kecil yang terasa hampir sopan.

Jeno akhirnya menekan kirim dengan perasaan konklusif.

Ponselnya bergetar kembali, hampir satu menit kemudian.

 

>Donghyuck: aku juga sayang kamu. banget!!

 

Jeno tertawa kecil, menutup layar ponselnya, lalu memejamkan mata.

Tidak ada yang menjelaskan apa yang ia rasakan di hatinya sekarang. Tidak ada yang perlu menyusunnya menjadi kalimat indah.

 

Dan ia tidak membutuhkannya, terucap ulang di kepalanya dengan suara lain.

 

 

 


 

.

.

.

 

.

.

.

 

.

.

.

 

.

.

.

 

.

.

.

 

.

.

.

 

.

.

.

 

 

(Aku berhenti ada ketika ia tidak lagi mendengarkan.

 

Bukan karena aku kehabisan kata.

Bukan karena ceritanya selesai secara teknis.

 

Melainkan karena tidak ada lagi ruang untuk disela.

 

Malam bintang jatuh itu kembali terlintas—lampu jalan kekuningan, penuh suara tawa yang diselingi doa serius, dan langit yang tidak menjanjikan apa pun. Mereka semua mengucapkan permintaan dengan cara masing-masing, seolah semesta mencatat daftar belanja.

 

Tidak semua permintaan membutuhkan jawaban yang terlihat.

 

Donghyuck tidak meminta balasan.

Ia tidak meminta pengakuan yang dramatis.

Ia hanya berharap—dengan cara yang bahkan ia sendiri mungkin tidak sadari sepenuhnya—agar seseorang melihatnya tanpa perlu dipaksa menjalankan bencana.

 

Dan keinginan seperti itu tidak mengubah dunia.

 

Ia hanya menggeser sudut pandang.

 

Aku tidak membuat Jeno jatuh cinta.

Aku tidak menanamkan perasaan yang belum ada.

 

Aku hanya berdiri di sampingnya sebentar, menyebutkan hal-hal kecil yang selalu ia lewatkan. Memberi nama pada kebiasaan. Memberi jeda pada rutinitas.

 

Ia kesal.

Ia membantah.

Ia menolak mengikuti arah yang terlalu rapi.

 

Dan di situlah aku tahu:

Ia tidak lagi membutuhkanku.

 

Cerita yang baik bukan yang paling patuh pada alur.

Melainkan yang tahu kapan harus berhenti merangkai kata.

 

Sekarang mereka berjalan tanpa penjelasan tambahan. Tertawa tanpa catatan kaki. Bertengkar kecil tanpa simbolisme yang harus diurai.

 

Tidak ada lagi aku di antara langkah mereka.

Tidak ada suara yang menamai cahaya, atau keheningan, atau rasa yang tumbuh perlahan.

 

Dan itu tidak terasa seperti kegagalan.

 

Beberapa cerita tidak berakhir karena ditulis sampai kalimat terakhir.

Mereka berakhir karena tokohnya memilih sendiri

dan tidak lagi menoleh untuk memastikan

apakah masih ada yang mengawasi?

 

Aku menutup tulisan ini dengan keyakinan yang sederhana:

 

Tidak semua kisah cinta membutuhkan narator.

 

Sebagian hanya perlu dua orang

 

yang akhirnya…

 

saling melihat.)

 


 

Notes:

6. Jadi ini hasil dari gak minum KSK nya efem (gak endorse) selama tiga hari.
7. Maaf ya kalimat dalam kurung itu harusnya kaya meta(?) gitu deh, cuma kebawa tulisan jadi kek sok puitis gitu.