Work Text:
“Itu akan sulit. Maaf, aku tidak bisa.”
Padahal saat melihat berita, Minho dengar kalau musim panas akan datang lebih awal karena gelombang panas yang menghantam Seoul, sampai-sampai toko bunga yang dilewatinya setiap hari harus menjual dagangan mereka lebih murah setengah harga untuk menutupi kerugian. Tanpa perlu ditebak pun, setengah populasi Seoul juga pasti tengah memutuskan untuk pergi berenang atau berbondong-bondong membuat antrean panjang di depan kedai mie dingin di ujung jalan besok pagi.
Namun malam ini justru turun hujan badai dari kedua pipi Seungmin, yang dapat menenggelamkan dapur sempitnya.
Anyelir kuning yang tergeletak tak berdaya di atas meja makan seakan mengolok-oloknya karena tahu kalau ia akan mematahkan hati sang tuan. Ia bahkan berdelusi dan mendengar mereka berkata: Dasar kejam! Kau bahkan tidak memberinya kesempatan untuk mengeluarkan cincinnya. Setidaknya pikirkan berapa banyak uang yang ia keluarkan untuk barang tidak berguna itu!
Seakan Minho tidak tahu.
Seakan ia tidak melihat Seungmin yang seharusnya sedang makan siang di kantornya, justru berdiri ragu-ragu di depan toko perhiasan yang terkenal membuat cincin pernikahan terbaik di seluruh kota enam blok dari rumahnya, tepat dua hari yang lalu. Atau bagaimana laki-laki itu keluar menenteng kantong kecil di tangannya, sebelum ia masuk ke mobil dan mengambil jalan berbelok kembali ke area perkantorannya.
"Seungmin-ah, dengar.." Suara Minho tercekat. Seungmin yang duduk bersimpuh di lantai sambil menyembunyikan tangisnya dalam pangkuan Minho menggelengkan kepalanya. Jemarinya menggenggam ujung kaos oblong Minho erat-erat. "Tidak, jangan bicara lagi. Kumohon."
"Seungmin-ah, bisakah kau dengarkan Hyung, hm?"
Kedua tangan Minho menangkup pipi Seungmin dengan lembut guna melihat wajahnya. Tapi Seungmin masih tidak bisa berhenti menangis, seperti anak kecil yang balonnya direbut.
"Kau sudah berjanji, Hyung! Kau bilang tidak akan melepaskan genggamanku. Kau sudah berjanji, kau tahu!"
Semburat merah di pipinya mengingatkan Minho saat pertama kali mereka bertemu di tanah lapang belakang rumahnya. Seungmin tersenyum berseri-seri saat ia akhirnya setuju untuk main lempar tangkap dengannya. Seperti mentari yang berkilauan dan menari-nari di kulitnya, Minho tidak pernah tahu bocah itu akan menjadi sumber kehangatan dalam hidupnya.
Kecuali mereka bukan lagi bocah. Tidak ada lagi PR dan bolos kelas matematika, atau balapan lari ke toserba demi es krim gratis, dan juga kunjungan wajib ke pantai setiap liburan musim panas,
Tanpa mereka sadari, masa muda yang mendebarkan itu hilang dalam sekejap mata.
Berhentilah menangis. Seharusnya kau merayakan kebebasanmu.
"Kau tahu kau benci pekerjaanku." Terutama saat aku menulis tentangmu, kalimat terakhirnya hanya sampai di ujung lidah Minho. "Kau pernah bilang tidak akan pernah mengerti bagaimana aku bisa menyempurnakan dunia palsu yang kuciptakan, sedangkan aku hanya tahu caranya membuatmu kesepian."
Minho menghabiskan sepanjang minggu dan masih tidak tahu bagaimana harus menulis si tokoh utama akan mencium kekasihnya. Di pipi! Jadi ia menulis dua ribu kata tentang bagaimana laki-laki malang itu ditolak sebagai gantinya.
What might be "just one more chapter" for Minho, would be the Nth night he found Seungmin sleeping on the sofa with TV still on.
Waiting for someone that's long gone.
Karena itu, lebih dari apapun, Minho tahu ia takkan bisa memperbaiki mereka karena ia bahkan tidak bisa membuat yang palsu dengan benar.
Seperti matahari, Seungmin hanya tau caranya memberi dan memberi tanpa pernah menerima. Dan sekarang ia bagaikan bintang redup yang tinggal menunggu waktunya meledak menuju kematian. Bagaimana bisa Minho punya kepercayaan diri untuk memberikan Seungmin kebahagiaan yang ia dambakan setelah merenggut cahayanya?
"Karena itu, Seungmin-ah, kau harus melepaskanku."
Namun Minho tahu, Seungmin akan berterima kasih padanya.
Karena meskipun kota ini terlalu kecil untuk dua orang yang hanya tau caranya menyakiti satu sama lain. Mungkin dalam lima tahun, mereka akan lupa bagaimana pertengkaran ini bermula, atau bagaimana mereka menghabiskan sepanjang malam saling berdekapan di lantai yang dingin sambil menangis pilu.
Sebagai gantinya mereka akan duduk di kafe yang baru buka di ujung jalan. Saling berhadapan, setelah memastikan perpisahan ini tidak lagi meninggalkan luka.
Seungmin akan membiarkan es di kopinya meleleh, sedangkan Minho menyisakan potongan kedua kuenya tak tersentuh.
Saat Minho bertanya, "Apa kabarmu?"
Seungmin akan menceritakan bagaimana pemuda manis bernama Hwang Hyunjin yang tinggal di lantai bawah apartmentnya, sekaligus pemilik toko bunga tempat ia mendapatkan anyelir kuning yang Minho biarkan mengering di sudut kamarnya, akhirnya mengatakan, "Ya."
