Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Categories:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 2 of 8059 - 夏の痕
Stats:
Published:
2025-12-23
Words:
3,170
Chapters:
1/1
Kudos:
2
Hits:
15

夏の痕: What We Don’t Postpone

Summary:

Musim panas berlalu terlalu cepat—untuk laga bisbol, untuk jadwal pelatihan, dan untuk hal-hal yang terus dikatakan orang bisa menunggu.

Notes:

Aku mengambil latar universe, "What if" mereka adalah anak sekolah menengah atas. Mereka berada ditingkat kedua, kecuali Hibari dan Ryouhei yang berada ditingkat ketiga mereka.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Musim panas terkadang membuat hari-hari sekolah terasa lebih pendek terutama bagi mereka menikmatinya. Siswa dengan nilai merah akan bertahan di sekolah untuk mengikuti kelas tambahan, siswa lain mengerjakan tugas musim panas di bawah dengung kipas angin, sementara yang lain menautkan hari-hari sepenuhnya pada kegiatan klub masing-masing.

Yamamoto Takeshi berada pada kelompok siswa terakhir. Dia adalah ace klub bisbol Namimori High sejak tahun pertama di menengah pertama. Tidak banyak yang terkejut mengenai prediksi klub minor akan mengundang Yamamoto terkait karier bisbolnya selepas lulus dari Namimori High, selangkah mendekati liga nasional.

Kepribadian pemuda itu ramah, senyum yang mudah dilempar untuk siapa pun, dan sifatnya yang tidak mudah tersinggung menjadi daya tarik kepopuleran Yamamoto — di luar kepiawannya di lapangan.

“Game!”

Suara pelatih terdengar keras di lapangan. Papan skor menunjukkan selisih tipis antara tim kelas satu dan tim kelas tiga.

Latihan bisbol selalu berakhir dengan suara logam yang memantul — bola terakhir terbang melewati pagar, beriringan dengan teriakan pemain kelas satu di klub. Para pemain kelas tiga mendecih, namun pada saat yang sama berlari mengerumuni Yamamoto — sekali lagi, menciptakan homerun dalam pertandingan latihan.

Para pemain kelas satu menyuarakan kekaguman akan Yamamoto, seolah Dewi Fortuna menabur keberuntungan berlimpah setiap kali Yamamoto berada di sisi mereka.

Pertandingan ini membagi pemain kelas dua dalam kelompok kelas satu dan kelas tiga menggunakan sistem undian acak. Tentu mereka bersorak ketika Yammoto bergabung dengan pemain kelas satu, mengundang kekecewaan tim lain karena kehilangan ace mereka meskipun hanya dalam pertandingan latihan.

“Kurasa kamu akan menjadi mosnter di Natsu no Koshien nanti. Kami akan menggantung leher padamu dan keberuntungan besar itu.”

Kapten kelas tiga mengusak kasar kepala Yamamoto, membawa tawa dan semangat yang ditularkan pada seluruh pemain dari klub bisbol. Mereka harus menjaga suasana dan performa untuk menghadapi laga yang akan dimulai dalam hitungan pekan.

Yamamoto tertawa, namun ia sendiri sedikit khawatir dengan ucapan kaptennya.

‘Natsu no Koshien, ya?’

Latihan mereka berakhir ketika matahari tergelincir rendah, memancarkan cahaya jingga yang hangat di atas lapangan. Sekolah terasa lebih sunyi, menyisakan ruang untuk bagian lain kehidupan masa remaja menemukan tempatnya.

Yamamoto mengganti seragam latihannya dengan seragam musim panas yang sedikit kusut. Helaian rambutnya masih basah oleh air, ulah para siswa kelas satu yang tidak sengaja menyiramnya dengan keran air ketika mereka membasuh muka.

Iris cokelat tua Yamamoto bersinar terkena cahaya matahari. Pandangannya berkeliling menyapu sekolah, lapangan menyisakan klub lari, mereka masih berlatih untuk kejuaraan tiga hari lagi.

Desir daun memenuhi telinga setelah semilir angin datang, membawa rasa nyaman yang perlahan mengundang kantuk. Yamamoto menguap beberapa kali, meletakkan tangan di belakang kepala dan mulai berjalan menuju gerbang sekolah.

Langkah pemuda tinggi itu agak oleng, ke kanan kemudian ke kiri secara sembarangan. Jika dilihat dari belakang, ia seperti akan pingsan dan menghantam tanah dengan kasar.

“Jangan sampai kau pingsan atau aku akan kesulitan membawamu, bodoh.”

Suara familiar terdengar dari belakang punggung Yamamoto. Ia tidak perlu berbalik untuk mengetahui siapa pemilik yang berbicara dengan panggilan kasar padanya.

Tubuh Yamamoto bergerak untuk berbalik, menemukan pemuda berkacamata bulat dengan helaian rambut perak yang terkuncir rendah — tampak lebih panjang dari saat pertama mereka bertemu. Warna itu mencolok, entah rambut perak berkilau atas pantulan matahari atau iris hijau cerah, seperti batu giok yang dipamerkan ayahnya beberapa hari lalu.

“Yo, Dera! Kamu menungguku selesai berlatih lagi hari ini ternyata. Aku sangat tersanjung,” ucap Yamamoto diakhiri dengan tawa yang renyah.

Gokudera Hayato, nama pemuda yang berbicara pada Yamamoto, kini memutar bola mata seperti ucapan itu adalah omong kosong. Meski demikian, Yamamoto dapat melihat rona merah pada leher dan cuping telinga Gokudera.

‘Ara…Dia mungkin akan meninggalkanku jika aku menggodanya lagi,’ batin Yamamoto sembari menahan diri untuk tidak tersenyum lebih lebar.

“Aku tidak menunggumu. Juudaime pergi terlebih dahulu dengan si rambut rumput dan Reborn untuk beberapa urusan. Juudaime mengatakan padaku untuk membawamu menyusul.”

Kalimat Gokudera menggantung di udara untuk sesaat, menciptakan hening di antara mereka berdua.

“Jadi?” Yamamoto berbicara dengan nada jenaka.

Sepasang mata miliknya tidak bisa berhenti menatap Gokudera yang kini mengalihkan pandangan pada sepatu dan petak berpasir di bawah kaki mereka.

Gokudera berdecak, “Jadi, aku sama sekali tidak menunggumu, bodoh.”

Tawa Yamamoto pecah. Gokudera selalu berbicara dengan alasan yang berputar-putar — terlalu rumit untuk sesuatu yang sederhana, mengingatkan Yamamoto pada rangkaian rumus pada pelajaran Fisika yang mengerikan dan menjadi favorit Gokudera.

Pemuda yang lebih pendek beberapa senti itu sulit jujur pada niat dan perasaannya sendiri, membuat banyak orang salah paham. Namun bagi Yamamoto, membaca Gokudera semudah membaca dongeng masa kecil.

Ketiga Gokudera melangkah lebih dekat dan berada dalam jangkauan, Yamamoto menarik tangannya, secara alami meletakkan lengan di pinggang Gokudera. Kepala Yamamoto bersandar pada kepala Gokudera, menghirup aroma samar mint dan tembakau yang terbakar.

“Maa… Tentu saja Dera tidak menungguku. Sekarang, ke mana kita harus pergi?”

Yamamoto membawa Gokudera untuk berjalan beriringan dengannya. Mereka tidak membuka suara, menikmati keheningan yang tercipta sembari tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Gokudera menyerah untuk berteriak dan mengumpat ketika Yamamoto menyentuhnya, memeluknya, atau merangkulnya sejak mereka naik ke kelas dua — lagi pula Yamamoto tidak akan berhenti di sana.

“Apa yang kamu lakukan hari ini, Dera? Tidak biasa aku melihatmu menggunakan kacamata selain untuk belajar.”

Yamamoto berbicara saat mengubah posisi tangannya. Dia menautkan jari pada Gokudera, mendorong yang lebih pendek untuk menginjak kedua sepatunya — mulai menggerakan Gokudera untuk bergerak seperti robot mengikut langkah kakinya.

Untuk sesaat Yamamoto meringis, bahkan bobot tubuh pemuda berambut perak itu tergolong ringan hingga ia tidak kesulitan mengangkat kaki dengan Gokudera di atasnya. Ia harus memberi Gokudera lebih banyak sushi ketika mereka pulang nanti.

Gokudera menyandarkan tubuh pada Yamamoto, “Soichi dan Spanner mengirimkan cetak biru penemuan mereka, memintaku untuk melakukan perhitungan terkait dengan beberapa hal lain sementara mereka bekerja di bengkel.”

Yamamoto tahu bahwa Gokudera adalah kelompok yang cerdas, menangani hal teoritis dan taktikal adalah wilayahnya. Selain tangan kanan, dia selalu menjadi orang yang melakukan perhitungan mengenai alat atau probabilitas keberhasilan mereka. Banyak orang yang bergantung pada Gokudera.

“Bukankah itu merepotkan?”

Gokudera menghela napas, kemudian mengangkat bahu ringan.

“Entahlah. Aku mungkin akan tertidur di dalam perpustakaan jika tidak melakukannya. Sensei mengusirku karena mengikuti kelas tambahan bersama Juudaime.”

“Dia berkata bahwa aku mengganggu Juudaime dan Juudaime menyetujuinya.”

Bukan hal yang biasa untuk Gokudera berkeluh kesah. Sejujurnya, membuat pemuda berambut perak itu terlihat lucu di mata Yamamoto.

Hari ini ia tidak membawa sepeda yang berarti mereka akan memiliki banyak pembicaraan panjang dalam jalan mereka menuju Tsuna yang berada di kuil Namimori.

“Bagaimana denganmu? Apakah latihanmu baik-baik saja?”

Gokudera mengalihkan pandangan dari gerbang yang telah mereka lewati, mengadah hingga menatap Yamamoto yang kini menjadi lebih tinggi — ia hampir tenggelam menuju bahu ace bisbol itu.

Yamamoto tersenyum kecil, menyukai bagaimana pembicaraan dari Tsuna beralih kepada dirinya. Kemudian menunduk hingga dahi mereka bersentuhan, Yamamoto membiarkan tetesan air dari rambutnya berjatuhan ke bahu dan wajah Gokudera.

Kini ia mendengar decak kesal Gokudera, begitu mudah untuk membuat badai Vongola itu marah.

“Laga Natsu no Koshien akan datang dalam beberapa pekan, tapi aku tidak yakin dapat berpartisipasi di dalamnya.”

Gokudera mengerutkan dahi ketika mendengar ucapan Yamamoto, merasa aneh. Dia tahu benar bagaimana kecintaan Yamamoto terhadap olahraga dengan tongkat pemukul, bola, dan sarung tangan itu sangat besar.

Tidak berlebihan untuk menyebut bisbol sebagai dunia Yamamoto.

“Apa maksudmu tidak dapat berpartisipasi?”

Sembari menarik tubuh untuk lepas dari genggaman Yamamoto, kini ia berbalik menatap dengan tajam. Pemuda yang lebih tinggi kini mengusap tengkuk, tatapan Gokudera menginginkan penjelasan penuh, tanpa ada yang ditutupi.

“Kau tahu tentang pelatihan musim panasku bersama keluarga lain Varia,’kan?”

Gokudera mengangguk. Ia tahu jadwal musim panas itu — disusun bersama keluarga Cavallone, Giglio Nero, Simon, serta Varia — karena ia sendiri yang menyusunnya dan mengesahkannya dalam rapat terakhir.

Pupil Gokudera membulat, “Jangan bilang?”

Yamamoto mengangguk dengan senyum yang canggung. Mundur secara mendadak dari pelatihan akan menempatkan Vongola pada posisi yang buruk, terlebih Squalo akan berteriak dan mungkin menghancurkan lapangan bisbol saat laga karena amarahnya.

Salahnya tidak memperhatikan dengan benar jadwal yang telah disusun Gokudera dan pertandingan klubnya. Yamamoto tahu bahwa Gokudera berusaha untuk menyusun jadwal sebaik mungkin agar para keluarga dan varia tidak keberatan, begitu juga memprioritaskan Vongola agar tidak harus mengorbankan waktu berharga yang mungkin dimiliki selama musim panas.

“Tidak. Tidak. Jangan berpikir untuk mundur dari laga itu!”

Gokudera berseru, memotong ide bodoh Yamamoto.

“Aku akan melakukan sesuatu dengan jadwalmu. Beritahu aku rentang pertandinganmu dari hari pembukaan hingga penutupannya.”

Langkah kaki Gokudera menjadi lebih cepat, seperti ia sedang berkejaran dengan waktu dan mengabaikan eksistensi Yamamoto yang mengikutinya dari belakang.

Bukan karena jarak menuju apartemen Gokudera atau jadwal pekerjaan paruh waktu yang akan dimulai, melainkan hal lain yang mungkin akan disesali Gokudera jika tidak segera diperbaiki.

Ucapan Yamamoto mengenai dirinya yang mungkin mengundurkan diri dari laga bisbol membuat hati Gokudera mencelos. Dia tidak pernah setuju sepenuhnya dengan Reborn yang mengatakan Yamamoto adalah hitman yang terlahir, sudah cukup banyak yang harus dikorbankan Yamamoto hingga saat ini.

Begitu pula fakta menyakitkan bahwa ayah Yamamoto, Tsuyoshi, yang akhirnya menjadi korban akibat keterlibatan anaknya dengan Vongola. Gokudera setidaknya ingin memastikan Yamamoto telah melakukan semua yang tidak sempat dirasakan sejak sekolah menengah pertama dan tingkat pertama menengah atas. Ia mengingat bagaimana Yamamoto juga mundur dari laga yang sama karena harus pergi ke Sisilia — tidak mau mengulang hal yang sama.

Bisbol selalu menjadi tempat Yamamoto kembali. Namun Vongola dan orang-orang di dalamnya adalah tempat ia berdiri sekarang.

Kepala Gokudera mulai bekerja lebih keras, jadwal pertandingan laga, nama-nama keluarga yang akan mengikut pelatihan, dan nama baik Vongola — jelas ia harus memikirkan semua kemungkinan sebelum berbicara dengan Tsuna.

Pemuda berambut perak itu tahu jika ia mengatakan pada Tsuna sekarang, maka Tsuna akan meminta maaf untuk membatalkan pelatihan musim panas. Juudaimenya lebih memilih untuk membungkuk lebih rendah dan menerima cemooh daripada mengorbankan teman-temannya demi Vongola.

Dan Gokudera tidak menginginkan hal itu. Katakan bahwa dirinya adalah orang yang serakah, namun Gokudera tetap ingin menjaga Tsuna dan Yamamoto agar tidak memiliki kesulitan atau penyesalan di waktu selanjutnya.

Pintu apartemen Gokudera berderit ketika dibuka. Udara di dalam terasa lebih sejuk, aroma kopi dan tembakau tercium samar, bercampur dengan bau tinta dan kertas. Hampir separuh apartemen Gokudera adalah buku, kertas laporan, hingga tiga papan tulis dengan catatan berbeda.

Yamamoto berhenti mendekat, ia diam dan memperhatikan bagaimana Gokudera melempar tasnya, membuka laptop, dan menarik kertas berisi jadwal pelatihan bersama tanpa berbicara.

Jemari Gokudera menari di atas papan ketik sebelum berpindah pada kertas jadwal. Ia mengetik, mencoret, menulis, dan mengulang hal yang sama. Dia begitu fokus dengan kacamata yang membingkai pas di wajah.

Yamamoto tidak ingin mengganggu, memilih berjalan ke arah pantry untuk memanaskan air — Gokudera memerlukan kopi di saat seperti ini.

Juudaime sepertinya aku dan Yamamoto tidak bisa pergi ke sana. Maafkan aku, Juudaime.”

“Aku sedang membuat penyesuaian jadwal pelatihan, bisakah aku memberikan opsi untuk mengadakan rapat dengan keluarga lain dan Varia dalam waktu dekat.”

“Tidak, bukan masalah besar. Aku akan menjelaskannya nanti. Sampai jumpa Juudaime.”

Panggilan itu tertutup bersama dengan aroma kopi yang menyeruak. Yamamoto meletakkan gelas kopi di atas meja kaca.

Gokudera menghela napas pelan, lalu kembali fokus menatap layar. Jarinya bergerak membuka folder, kalender digital, dan terakhir membuka catatan dalam bukunya yang penuh dengan note serta berbagai warna.

Yamamoto bersandar pada sofa beberapa detik sebelum bergerak ke belakang tubuh Gokudera. Ia memeluk Gokudera dari belakang, menarik punggung yang tegang itu untuk bersandar.

Kemudian meletakkan dagunya pada bahu Gokudera, Yamamoto meringis saat layar Gokudera terbelah menjadi beberapa jendela dengan tulisan rumit dan padat.

Rasa bersalah menyusup ke dalam dadanya. Dia menunduk dan menyembunyikan diri pada ceruk leher Gokudera.

“Dera, sudahlah.” suara Yamamoto rendah ketika berbicara.

Gokudera tidak menoleh, “tidak. Diamlah dulu, Takeshi.”

Yamamoto menutup mulutnya. Ia mengamati garis bahu Gokudera yang sedikit menegang, alis yang berkerut setiap satu jadwal bertabrakan dengan jadwal lain. Setiap ketikan terdengar keras dan memenuhi apartemennya yang sempit.

Ini terasa lucu. Yamamoto selalu menjadi orang yang diandalkan entah di lapangan bisbol atau dalam misi mereka. Namun di sini, ia seperti menjadi anak kecil yang berdiri di tepian, menunggu orang dewasa yang adalah Gokudera untuk membersihkan kekacauan.

“Tidak apa-apa Dera, aku masih bisa mengikutinya tahun depan.”

Yamamoto mengeluarkan suara lagi saat Gokudera memperbaiki posisi kacamata yang melorot.

Gokudera menghela napas kasar. Selalu mengatakan sesuatu yang serupa. Pemuda itu paham bahwa Yamamoto memiliki kepribadian yang tenang, mirip dengan air atau hujan.

Hujan yang turun perlahan, mencoba meredakan panas, menenangkan tanah yang retak, dan membasuh udara yang sesak. Hujan yang selalu datang dengan niat baik.

Namun, hujan tidak pernah cukup kuat untuk menghentikan badai.

“Tidak apa-apa?”

Yamamoto dapat membayangkan ekspresi Gokudera dari suaranya yang bergetar. Gokudera selalu kesal dengan kepribadiannya. Kesal dengan Yamamoto yang selalu mengalah akan sesuatu yang seharusnya dimilikinya. Kesal karena Yamamoto berbicara dengan begitu ringan seolah semua akan datang kembali padanya nanti.

Kesal karena hujan selalu rela jatuh lebih dulu.

Yamamoto tahu — di balik suara keras dan makian Gokudera — badai itu sebenarnya marah pada dirinya sendiri. Kemudian, ia meletakkan laptopnya di atas meja sebelum membalik tubuh hingga mereka saling berhadapan.

“Jangan berbicara seolah-olah kamu sedang menukar jadwal latihan biasa, Takeshi.”

Akhirnya suara Gokudera terdengar untuk menjawab, datar dan menyiratkan kelelahan. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapannya, “Kamu, aku, dan kita semua tidak tahu apa yang akan terjadi tahun depan.”

Yamamoto mengencangkan pelukannya tanpa sadar. Ia tahu apa yang dimaksud Gokudera — tentang Sisilia, tentang laga yang terlewat, tentang hal-hal yang selalu bisa ditunda demi sesuatu yang disebut lebih penting.

Tentang ayahnya.

“Kau selalu bilang ‘tidak apa-apa’, ‘aku bisa nanti’, ‘aku tidak masalah’,” lanjut Gokudera, suaranya sedikit lebih rendah bahkan bergetar — jelas menahan emosinya untuk tidak meledak.

“Tapi kau lupa satu hal.”

Ia mengangkat tangan, menekan ringan pergelangan Yamamoto yang melingkar di bahunya.

“Bodoh! Kami ingin kau ada di sana. Bukan sebagai ace bisbol, bukan sebagai hitman yang terlahir, tetapi sebagai dirimu sendiri.”

“Aku takut, Dera,” akunya pelan. “Jika aku memilih bisbol, aku mengecewakan kalian. Tapi jika aku memilih Vongola…”

Suara Yamamoto menggantung di udara sebelum ia menenggelamkan diri pada bahu Gokudera, menyembunyikan wajah di sana untuk tidak menatap penjaga badai itu.

“Maka kurasa aku akan membenci diriku sendiri nanti.”

Tangan Gokudera bergerak menepuk ringan pada punggung Yamamoto. Ia membiarkan keheningan kembali menelusup di dalam apartemen itu. Suara pejalan kaki di luar, anak-anak dari kamar sebelah yang berteriak saat orang tua mereka pulang dengan kue di tangannya, dan gonggongan anjing menjadi pengisi yang menggantikan suara keduanya.

Setelah Yamamoto mengendurkan pelukan pada Gokudera, pemuda berambut perak itu menarik diri.

“Tatap aku bodoh.”

Gokudera berbicara kasar untuk mendapat tatapan Yamamoto yang kini menundukkan pandangan pada tubuh mereka. Jarak mereka terpisah beberapa senti, cukup dekat hingga saat Yamamoto menatap Gokudera, ia bisa melihat pantulan bayangan pada kacamata Gokudera.

“Berhenti membual dan berbicara dengan nada kesedihan itu. Aku melakukan ini tidak untuk membuatmu memilih dan mengorbankan sesuatu. Sudah cukup banyak penyesalan yang bersarang dihatiku selama ini, Takeshi.”

“Aku, Juudaime, dan semua orang tidak keberatan untuk mencari penyelesaian masalah ini. Kita adalah keluarga, kau ingat?”

Sekali lagi Gokudera menyatukan dahi mereka sembari tersenyum tipis. Jemarinya mengusap wajah Yamamoto yang terlihat seperti hendak menangis di matanya.

Di mata Yamamoto, Gokudera selalu terlihat seperti badai yang mengamuk. Pusaran angin yang tahu kemana harus bergerak, suara yang keras, dan kehadirannya yang tidak pernah terabaikan.

Gokudera adalah badai yang selalu datang lebih dulu ketika langit mulai menggelap — menghadapi kekacauan sebelum orang lain sempat menyadarinya.

Rambut peraknya yang terikat rendah bergerak setiap kali ia menghela napas, beberapa helai lolos dan menempel di pelipisnya. Yamamoto beralih menyentuh tangan yang kini menangkup wajahnya, jemari kasar dengan beberapa luka itu lentik — seolah tercipta indah untuk hal-hal lain yang tidak berhubungan dengan kegiatan mengerikan.

Tubuhnya kurus, bahunya sempit, terlalu ringan untuk seseorang yang memikul begitu banyak. Dan Gokudera membawa dunia di pundaknya, tanpa pernah meminta siapa pun untuk ikut menahan.

Ia menyadari sesuatu yang membuat dadanya terasa nyeri, badai itu selalu bergerak demi orang lain. Untuk Tsuna. Untuk Vongola. Untuk masa depan yang bahkan belum tentu memberi balasan setimpal.

Dan untuknya.

“Hayato, hei. Tatap mataku, kumohon?”

Yamamoto menatap lurus pada pupil Gokudera yang bergerak gelisah.

“Aku akan melakukan keduanya untukmu.” ucapnya seraya mengusap pipi Gokudera. Tangan itu bergerak melepas kacamata yang bertengger, meletakkannya di dekat laptop yang masih menyala.

Kini Yamamoto dapat melihat Gokudera yang menatapnya sayu, senyum samar mereka. Itu adalah sesuatu yang jarang, tidak sempurna, namun cukup untuk membuat Yamamoto berlutut — menyerahkan segalanya untuk Gokudera, untuk melindungi senyum itu.

Jika bisbol adalah tempat Yamamoto kembali, maka Gokudera adalah alasan ia ingin tetap tinggal.

Lalu, dengan keberanian yang canggung, Yamamoto mencondongkan tubuhnya. Gerakannya lambat, seolah memberi Gokudera cukup waktu untuk menarik diri — atau tetap tinggal.

Namun badai itu tidak pergi.

Bibir mereka bertemu dalam kecupan singkat, ringan, dan hampir ragu.

“Ini,” bisik Yamamoto pelan, suaranya nyaris tenggelam di antara napas mereka, “untuk semua kata-kata yang kamu ucapkan.”

Ia bergeser sedikit, mengecup pipi Gokudera — sekali, lalu sekali lagi, seperti menandai sesuatu yang tak pernah ia ucapkan dengan lantang.

“Untuk semua hal yang kamu kerjakan.”

Kecupan itu berpindah ke batang hidung, lalu ke kelopak mata Gokudera yang terpejam perlahan, seolah akhirnya membiarkan dirinya berhenti waspada.

“Untuk semua waktu tidurmu yang hilang,” lanjutnya, lebih lirih kini, “untukku… dan untuk semua orang.”

Dan terakhir, Yamamoto menempelkan bibirnya di dahi Gokudera. Lebih lama dari sebelumnya.

Lebih tenang.

Seperti hujan yang akhirnya berani menetap, bukan hanya lewat.

“Ini untukmu,” ucapnya dengan napas bergetar, “karena aku memilihmu — dalam hidup yang terus berjalan ini.”

Dahi mereka masih menempel ketika Yamamoto menarik tubuhnya.

Gokudera tidak mengatakan apapun. Namun jemarinya bergerak, ragu, lalu mencengkeram ringan ujung seragam Yamamoto — sebuah sentuhan kecil, hampir tak berarti, tetpai cukup untuk membuat Yamamoto lebih tenang.

Pemuda berambut perak itu menghela napas pelan.

“Bodoh, bisbol idiot,” gumamnya lirih.

amamoto tersenyum kecil, lalu membiarkan jarak tercipta kembali di antara mereka — cukup jauh untuk berpikir, cukup dekat untuk tetap merasa aman.

Gokudera memutar dirinya dari posisi canggung, menyandarkan tubuh pada Yamamoto sebelum kembali meraih kacamata dan laptop yang masih menyala. Layar itu menampilkan jadwal dan banyak jendela rumit.

Ia menunjuk layar.
 “Jika kita menggeser pelatihan tiga hari, memadatkan simulasi dengan Cavallone, dan meminta Varia bergeser satu pekan — ”

“ — Squalo akan mengamuk,” potong Yamamoto.

“Dia selalu mengamuk,” sahut Gokudera cepat. “Itu bukan hal yang baru.”

“Tsuna akan merasa bersalah dan kesulitan,” kata Yamamoto pelan.

Juudaime akan bertahan,” balas Gokudera tanpa ragu. “Aku akan lebih dulu membantunya agar tidak kesulitan. Seperti biasa. Dan aku akan memastikan dia tidak melakukannya sendirian.”

“Kalau gagal?” tanya Yamamoto dengan suara yang mengecil.

Dia kembali meletakkan kepala pada bahu Gokudera, sekali lagi menyembunyikan diri pada ceruk leher pemuda itu.

Gokudera mendengus.
 “Kalau gagal, kita perbaiki lagi.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara yang lebih tenang — pasti. Tangannya bergerak menepuk kepala Yamamoto.

Juudaime pasti akan berpikir hal yang sama denganku.”

Gokudera meraih cangkir kopi yang sudah dingin, jejak uap menghilang bersama bau samar yang masuk dari hidungnya — cukup menenangkan.

Ia menyesap sebelum mendorong pelan cangkir itu ke arah Yamamoto.

“Jangan sampai kamu tertidur dan membuatku bekerja sendiri, Takeshi.”

Yamamoto tersenyum saat menaikkan pandangan. Salah satu tangannya melepaskan pegangan dari pinggang Gokudera, meraih cangkir kopi dan menyesapnya sedikit pada sisi yang sama di mana Gokudera menyesapnya.

Rasa pahit yang dingin itu menetap di lidahnya, menyadarkan Yamamoto bahwa tidak semua hal harus manis untuk menjadi cukup.

Ia menurunkan cangkir itu kembali ke meja, tidak berkata apa pun.

Di apartemen kecil itu, di antara jadwal yang berantakan dan musim panas yang terlalu cepat berlalu, mereka duduk berdampingan — membiarkan badai dan hujan akhirnya bergerak ke arah yang sama.

Notes:

Aku suka berpikir bahwa Yamamoto mencoba memanggil Gokudera dengan sebutan "Dera" dalam keseharian, dan memanggilnya "Hayato" ketika mereka sedang dalam pembicaraan dari hati ke hati.

Sedangkan Gokudera mulai memanggil Yamamoto dengan "Takeshi" setelah lebih dekat di masa menengah atas dan sering berkunjung ke takesushi

Series this work belongs to: