Actions

Work Header

Kakak

Summary:

Who would’ve thought that Nagoya air could give Yushi *that* much confidence on stage?

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Serangkaian peregangan tubuh ramai timbul di balik panggung, sekitar 7 menit setelah konser usai. Deru suara semangat masih terdengar dari tempat mereka mengejar napas, beberapa kali membuat mereka merasa cukup puas dan lega dengan penampilan mereka malam ini.

 

“Bisa segera ganti baju, ya. 15 menit lagi kita balik ke hotel.” ujar salah satu manager mereka selagi membagikan air mineral.

 

Pun satu persatu dari mereka bergantian untuk berganti pakaian, dari kaos-kaos lucu yang didesain Tim WISH menjadi kaos pribadi yang dibawa mereka masing-masing.

 

Yushi, yang paling lebih dulu selesai, kini telah berada di mobil. Tentunya setelah menyampaikan pesan terima kasih kepada para staf konser. Ponselnya dimainkan, jemarinya bergerak menggulir beranda Instagram pribadi miliknya. Tidak banyak yang ia lewatkan selama konser malam ini. Mungkin hanya satu-dua postingan dari seniornya dan beberapa video challenge baru dari grup-grup yang ia kenal.

 

Mulai bosan dengan aplikasi ini, Yushi beralih ke platform lainnya. X. Atau mungkin Yushi lebih suka menyebutnya Twitter.

 

Layar linimasanya termuat, dan Yushi kira Twitter (yang laju sebarannya amat cepat) bukanlah pilihan yang paling bagus.

 

Yang pertama kali muncul di layar paling atas adalah sebuah cuplikan video konser mereka malam ini. Lebih tepatnya, video <Reel-ationship> yang berfokus pada dirinya dan partnernya saat itu: Riku.

 

Sejenak ia menonton, disambut dengan suara teriak dan jeritan para penggemar mereka, lalu dirinya berjengit dan refleks menutup mata ketika mengingat adegan itu dari perspektifnya. Ah. Dari mana.. keberanian itu berasal.

 

Tetapi ia penasaran dengan tanggapan penggemar lainnya, yang hanya bisa menyaksikan lewat layar dan media sosial. Maka Yushi membuka kolom kutipan. Dan lagi-lagi pilihannya untuk membaca kutipan-kutipan tersebut juga bukanlah pilihan yang lebih baik.

 

Yushi berani banget.

BISA GILA GUE.

Guys get a room please.

Pertama kali ini gue lihat Reel-ationship yang sebegininya– kayak begini normal?

Yushi kenapa terima-terima aja pas Riku tiba-tiba ngedeket.

Tangannya Yushi udah semacem muscle memory gitu langsung ke kepalanya Riku.

Riku kayak kaget gitu wkwk gak nyangka Yushi bakal ngebales wkwk.

Mereka mepet banget sial. Gue yakin mereka pernah ci—

 

“Hai, Yu.”

 

Yushi refleks menoleh ketika suara itu menyapa telinganya berbarengan dengan pintu mobil yang terbuka. Jantungnya serasa nyaris melompat jatuh dan bola matanya membulat terkejut.

 

“Eh, sorry sorry. Gak ngira lo bakal kaget.” ucap Riku sembari naik dan menutup pintu di belakangnya. “Lagi nonton apa?”

 

Pertanyaan itu, saat ini, rasanya lebih buruk dari tuduhan apapun yang pernah dituduhkan padanya. Dan Yushi enggan menjawab.

 

“Ini, video Twitter doang,” jawab Yushi secukupnya. “Yang lain mana? Belum selesai?” dirinya mengalihkan pembicaraan, ponselnya ia matikan dan genggam erat seakan tidak ingin direbut.

 

“Mereka di mobil yang satunya, katanya mau mampir dulu. Kita disuruh duluan. Gapapa, kan?” jawab Riku. Punggungnya disandarkan pada kursi, dengan kepala sedikit menoleh ke arah Yushi.

 

Yushi mengangguk, “Gapapa.”

 

“Katanya Bang Sion, kalau mau titip bilang aja.” Riku menambahkan. Kini ia sudah menatap layar ponselnya, menggulir entah apa yang ada di sana. “Mau gak?” tanyanya.

 

“Enggak usah deh.” dan Riku mengangguk paham, lanjut bermain dengan ponselnya.

 

Hening memenuhi ruang minimal tersebut, dan Yushi seperti sudah lupa dengan apa yang ia saksikan lima menit lalu. Atau mungkin memaksa untuk lupa, karena dirinya tidak sanggup mengingatnya. Dirinya kembali menggulir ponsel dan sesekali membalas pesan teman-temannya di KakaoTalk.

 

Sopir mobil hitam yang ditumpangi mereka berdua ini tidak kunjung tiba. Karena semakin bosan dan mengantuk, Yushi sudah siap untuk menyumpal telinganya dengan earphone dan berencana tidur sebentar sebelum mencapai hotel mereka, hitung-hitung menambah jam tidurnya yang semakin lama makin menipis.

 

Namun memang, manusia hanya bisa berencana.

 

Suara teriakan yang familiar terdengar dari speaker ponsel rekannya. Jeritan itu sama seperti yang ia dengarkan beberapa menit lalu. Gemuruh ramai yang disertai musik lirih, dengan gambar dirinya terduduk di samping Riku—

 

“Lo tadi lucu deh.”

 

Satu kalimat itu berhasil membekukan Yushi. Haha. Lucu, katanya.

 

“Udah liat ini belum, Yu?” Riku menempatkan ponselnya di depan wajah Yushi, memaksanya untuk melihat video itu lagi.

 

Sudah. Sudah. Sudah. Sudah. Sudah. Sudah. Sudah. Sudah.

 

Riku menarik kembali ponselnya, dan Yushi akhirnya bisa mengembuskan napas yang tak sengaja ia tahan. “Mereka seneng banget sama reaksi lo tadi. Kayak out of the blue banget.”

 

Yushi hanya mengeluarkan tawa pelan dan menjawab dengan seruan iya kecil yang ia buat terdengar lelah. Karena sejujurnya, ia berharap Riku berhenti mengajaknya membicarakan video itu. Maka, ia memejamkan mata dan mencoba untuk tidur. Sambil dalam diam mengharapkan Riku untuk berhenti dan tidak membaca kutipan-kutipan…

 

“Wow they really are excited for us.”

 

Apa maksudnya.

 

“Iya sih, Yu. You rarely act like that. Lucu, sumpah.”

 

Riku sedang baca apa.

 

“… Muscle memory?”

 

Oh.

 

Yushi, yang masih berusaha keras untuk tidur, bisa mendengar Riku bergerak dari posisi duduknya. Pikiran positifnya mencoba meyakinkan dirinya bahwa Riku hanya sedang membenarkan posisinya. Tapi firasatnya berkata lain, karena saat ini ia merasa wajahnya akan gosong akibat ditatap lamat-lamat oleh yang lebih tua.

 

Dan yang benar saja.

 

Tepat ketika matanya terbuka, Yushi mendapati Riku sudah sedekat itu— sedekat wajah mereka saat di panggung tadi. Lengkap dengan senyuman manisnya.

 

“Muscle memory,” Riku memiringkan kepalanya penasaran, “or is it your own fantasy, Yu?”

 

Tepat.

 

Pandangan Yushi langsung jatuh tertuju pada bibir Riku, dan secepat kilat berusaha kembali menatap mata yang lebih tua seakan menolak untuk mengaku. Bibirnya mengatup rapat dan ia gigit. Ia tahan.

 

Riku lagi-lagi tersenyum. Senyum jahil.

 

“Gak ada yang ngelarang gak sih, Yu?”

 

Napasnya tercekat dan Yushi kesulitan untuk hidup. Dirinya tidak mungkin kuat untuk menjawab, apalagi untuk berani dan benar-benar melakukan apa yang tersirat. Ia hanya bisa terus-terusan merasakan degupan jantungnya yang semakin keras, yang semakin lama seakan menyuruhnya untuk bertindak. Apapun. Apapun untuk melelehkan otaknya yang tidak keruan berisik ini.

 

Riku, yang masih terhibur dengan tingkah yang lebih muda, juga tidak membuatnya lebih mudah. Tangan kanannya bergerak membelai kepala Yushi. Pelan. Lemah. Yang kemudian turun, mengusap-usap daun telinga Yushi. Membuat laki-laki April itu tertawa geli.

 

“Geli, Kak.”

 

Kak.

 

“Kak?” Riku memastikan. “So that’s my nickname at times like this? Kak, ya?”

 

“Emang Kakak, kan?” jawab Yushi. Ia bisa merasakan tubuhnya meremang ketika Riku semakin asyik memainkan telinganya yang memerah.

 

Riku mengangguk dan tersenyum gemas, “Mhm. Kakak.” Tangan kanannya masih sibuk dengan area telinga Yushi. Sesekali menekan pelan di belakang telinganya, membuat bola mata Yushi tergulung ke belakang, terpejam, dan mengembuskan napas terbata. “Keep calling me that.”

 

“Ah— Kak–“ bibirnya kembali ia tekan tutup, menahan suara nakal lain untuk keluar.

 

“Suka?”

 

Yushi serasa mabuk akan sentuhan-sentuhan jemari Riku. Kepalanya otomatis mengangguk, “Ng– h— geli.” —

 

Pintu kemudi terbuka, memunculkan sosok manager yang akan mengemudikan mobil mereka menuju hotel.

 

Yushi tersentak kaget. Segera meluruskan posisi duduknya dan mendorong Riku pelan untuk menjauh. Jantungnya berdetak kencang, napasnya memburu. Matanya mengedip panik dan bibirnya mengatup rapat, sedikit bergetar.

 

“Maaf sudah lama menunggu. Kita berangkat sekarang, ya.” Yushi mengangguk dan tersenyum kaku, berusaha pura-pura tidak ada yang terjadi.

 

Riku, yang sama terkejutnya, menoleh pada Yushi. Tentunya dengan senyum terhibur ketika melihat Yushi, yang semenit lalu lemah di hadapannya, kini berlagak tenang dengan wajahnya yang memerah.

 

“Muka lo merah.” ucap Riku (puas) ketika pandangan mereka bertemu.

 

“Diem.”

 

“Okay, Kak.”

 

Oh, sungguh. Yushi ingin sekali membungkam Riku agar dirinya diam. Mungkin dengan pukulan, mungkin dengan bibirnya.

 

Entahlah.

Notes:

Hi, readers hereafter! Aku kembali setelah.. sekian lama.. karena aku sempat merasa kehilangan skill nulis aku... But I’m baaaack #Glad2BeBack with another Kulyut Kulyung hihi. Hope you enjoyed it! Merry christmas (eve) and happy new year, Kulyungist <3<3<3