Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Character:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of bapak dan papa kimi
Stats:
Published:
2025-12-24
Words:
712
Chapters:
1/1
Comments:
6
Kudos:
63
Bookmarks:
2
Hits:
517

rasain tuh kata batin kimi

Summary:

intinyadehhhh max dan george setiap kali berduaan setelah 10 tahun cerai

Work Text:

George duduk di sofa ruang tamu mantan suaminya. Jujur saja, dia sama sekali nggak pengin ada di sana—tapi anak satu-satunya dengan penuh paksaan menyuruhnya masuk dan nunggu sebentar katanya, “bentar lagi siap”.

George menarik napas panjang, berusaha menahan emosi. Mana bisa dia nggak kesal? Baru saja pintu dibuka, yang menyambutnya adalah wajah Kimi yang masih setengah hidup, mata sembab, rambut acak-acakan. Ingin rasanya dia ceramah panjang lebar, tapi begitu lihat itu anak, semua niat marah langsung menguap. Lemah. Terlalu sayang.

George melirik jam di pergelangan tangannya. Lima menit. LIMA MENIT. Kimi—anak satu-satunya, kebanggaan hidupnya—meninggalkannya sendirian di rumah mantan suami. Untungnya, mantan suaminya masih tidur. Semoga aja nggak bangun sebelum Kimi kelar siap-siap. George mendengus pelan.

Ini anak ngapain lama banget, sih? Makeup?

Tiba-tiba, secangkir teh mendarat manis di meja depan dia.

George langsung menghela napas.

Hebat. Mantan suaminya sudah bangun.

Dia menatap cangkir itu tanpa niat menyentuhnya, apalagi mengangkat kepala buat lihat siapa yang duduk di sebelahnya.

Duduk sebelahan gini tuh neraka kecil. Ini pasti ulah Kimi. Anak itu butuh diceramahi satu bab penuh nanti.

“Minum dulu. Kimi kayaknya masih lama—baru bangun soalnya. Bajunya aja belum dikemas,” kata mantan suaminya dengan nada super lembut.

George tersenyum tipis. Tipis banget. Palsu.

Kenapa sih dia masih ngobrol?

Dia menyilangkan kaki dan menyandarkan punggung ke sofa.

“Kimi mulai sekolah lagi minggu depan, ya?” tanya Max, terdengar agak khawatir.

George cuma bersenandung kecil. Nada “iya tapi males jawab”.

Max mengangguk, lalu memainkan tali celana pendeknya, jelas lagi mikir keras cari topik. Apa aja asal nggak sunyi.

“Ehm… mau makan dulu?” tawarnya.

George melirik sekilas, lalu menggeleng sambil tetap tersenyum palsu.

Max kembali mengangguk. Ditolak lagi. Udah biasa.

Setelah itu, ruang tamu langsung hening. Hening banget. Sunyi sampai terasa. George menyesal kenapa ninggalin ponsel di mobil. Coba aja ada HP, dia bisa pura-pura sibuk scroll Facebook atau lihat status orang random. Sementara itu, otak Max muter kayak kipas rusak, cari topik obrolan tapi nihil. Dalam hati dia tahu, apa pun yang dia bilang juga bakalan disambut oleh sekadar dengusan atau senyuman palsu. Salah dia sendiri sih.

Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar. Kimi turun dari tangga dengan wajah segar, ceria, tas sudah di pundak. Beda 180 derajat dari versi tadi pagi.

“Haiii,” sapa Kimi riang.

“Cepetan, Kimi,” kata George begitu mata mereka bertemu.

George langsung berdiri dan keluar rumah. Kimi dan Max mengikuti dari belakang.

“Jadi gak pak?” bisik Kimi ke Max.

Max cuma menggeleng pelan.

“Yahhhh….bapak mah payah,” gumam Kimi.

George membuka bagasi mobil. Kimi memasukkan tasnya, lalu duduk di kursi penumpang.

Max membantu menutup bagasi, lalu berdiri di samping pintu pengemudi.

“Makasih ya, George, sudah ngizinin Kimi tinggal seminggu sama aku. Kita senang banget,” kata Max tulus.

George mengangguk. Singkat. Dingin.

You looks hot as always,” tambah Max jujur.

Begitu dengar itu, George langsung menutup pintu mobil dengan niat dan tancap gas pergi.

Dari kejauhan, suara Kimi terdengar teriak, “BYEE BAPAKK!!”

Max tersenyum kecil. Setidaknya, Kimi masih sayang sama dia.

 

 

Di dalam mobil, George mulai ngomel.

“Kimi, papa nggak suka kalau kamu kayak gitu. Jangan dibiasain. Kalau papa bilang berangkat jam delapan, ya JAM DELAPAN semuanya harus siap. Bukan malah baru bangun terus bengong. Kamu ini plek ketiplek bapakmu. Lain kali jangan nginep di sana kalau ujung-ujungnya begini,” keluh George.

“Aku ketiduran lagi, pap. Tadi bangun jam enam kok, terus nggak sengaja tidur lagi. Maafin ya,” kata Kimi sambil menatap George dengan wajah memelas.

“Tapi seru banget seminggu sama bapak. Kita ngapa-ngapain semua barengan. Aku senang,” tambahnya.

George tetap fokus ke jalan.

“Pap nggak mau balikan sama bapak? Dia kelihatan nyesel banget,” kata Kimi hati-hati, kayak bawa bom.

“Hah! Suruh aja dia nyesel seribu tahun juga nggak ngaruh. Selingkuh itu nggak bisa dimaafin, Kimi. Waktu dia selingkuh, dia mikir kamu nggak? Mikir papa yang sendirian ngurus kamu di rumah? Atau sekadar inget kalau dia itu suami orang?” kata George tegas, level final boss.

“Kan semua orang pantas dapat kesempatan kedua…” balas Kimi pelan, masih ngebelain bapaknya walau hatinya agak perih.

“Tapi bukan buat selingkuh. Nanti kamu bakal ngerti sendiri. Sekarang fokus sekolah aja. Urusan orang tua biarin orang tua,” kata George.

Kimi menghela napas pelan. Dia tahu, debat ini nggak bakal menang.

Maaf ya, bapak. Kali ini aku nggak bisa bantu. Kenapa sih dulu harus selingkuh segala.... rasain tuh...

Series this work belongs to: