Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 2 of Keluarga Han
Stats:
Published:
2025-12-26
Words:
1,370
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
37
Bookmarks:
1
Hits:
240

Stroberi

Summary:

Yejun ngambek. Dan itu salah siapa? Han Noah

Notes:

Warn: cringe parah🙂

Work Text:

Pagi di apartemen milik keluarga kecil Han seharusnya berjalan seperti biasanya—sunyi yang nyaman, hangat, dengan cahaya matahari menyelinap lewat jendela besar ruang makan. Aroma kayu dari meja makan dan kopi hitam biasanya menjadi penanda bahwa akhir pekan telah resmi dimulai.

Namun pagi ini berbeda.

Ada ketegangan yang menggantung di udara, seperti tangkai mawar yang siap melukai siapa pun yang menyentuhnya. Yejun tidak berteriak. Tidak membanting pintu. Tidak pula melontarkan kata-kata pedas. Tapi justru itulah masalahnya.

Yejun sedang mengamuk dalam diam.

Dia berdiri di dapur dengan punggung tegak, rambut birunya sedikit berantakan, mengenakan sweater tipis yang kebesaran hingga menyamarkan bentuk perut—perut yang masih rata meski kini ada kehidupan kecil yang sedang tumbuh di dalamnya. Tangannya bergerak cekatan, terlalu cekatan untuk seseorang yang seharusnya santai di pagi hari. Bunyi pisau mengenai talenan terdengar sangat keras. Terlalu penuh emosi yang ditekan.

Mood-nya memang sering berubah sejak hamil. Itu fakta. Bahkan Yejun sendiri menyadarinya. Tapi ini bukan sekadar hormon.

Ini kesalahan Noah.

Semalam, Yejun meminta sesuatu yang sangat sederhana. Sangat jelas. Bahkan terlalu jelas untuk diabaikan. Dia masih ingat betul bagaimana dia mengetik pesannya dengan penuh keyakinan, menatap layar ponsel sambil mengelus perutnya.

ES KRIM RASA COKLAT

Dengan huruf kapital. Dipertebal. Digarisbawahi.

Namun apa yang dibawa Noah pulang?

Es krim stroberi.

Stroberi.

Rasa terkutuk itu.

Sejak dokter mengatakan bahwa ukuran bayi mereka kini kira-kira sebesar stroberi, sesuatu di dalam dirinya langsung menolak semua hal yang berhubungan dengan buah itu. Bau, rasa, warna. Semuanya membuat perutnya mual dan emosinya naik tanpa aba-aba.

Yejun tidak mau mengkonsumsi stroberi —apapun bentuknya— karena itu sama saja dia memakan dedek bayi.

Dan Noah—suaminya sendiri—seolah tidak mengingat hal sepenting itu.

Yejun mendiamkannya sejak malam. Tidak ada kecupan sebelum tidur. Tidak ada gumaman pelan di balik selimut. Bahkan punggungnya sengaja membelakangi. Dan kini, pagi datang, membawa keputusan yang sudah dia buat sejak subuh.

Dia mogok.

Tidak ada sarapan untuk Noah. Tidak ada piring tambahan. Tidak ada kopi yang diseduh khusus seperti biasanya. Yejun akan makan sendiri. Untuk dirinya. Untuk bayinya.

Biarkan Noah mengurus dirinya sendiri.

Dari sudut matanya, Yejun melirik meja dapur. Noah duduk di sana, santai, bersandar di kursi, tablet di tangannya. Jarinya bergerak pelan di layar, ekspresinya tenang—terlalu tenang—seperti pagi ini hanyalah pagi biasa.

Tidak ada rasa bersalah. Tidak ada kesadaran. Tidak ada tanda bahwa ada badai sunyi yang sedang terjadi beberapa meter darinya.

Menyebalkan.

Yejun memutar badan, mengambil panci, dan mulai menyiapkan bahan. Pasta Bolognese. Dari tadi dedek bayi terus menuntut itu. Tomat, daging cincang, bawang putih. Aroma mulai memenuhi dapur, hangat dan menggoda.

Ini untuknya. Dan bayinya.

Bukan untuk Noah.

Yejun menyalakan kompor dengan sedikit tenaga lebih dari perlu, seolah api itu bisa mewakili kekesalan yang bergejolak di hatinya. Di belakangnya, Noah masih tenggelam dalam dunianya sendiri, tidak tahu bahwa setiap detik ketidakpeduliannya hanya menambah rasa kesall di hati Yejun.

Dan Yejun, dengan rahang mengeras dan tangan sibuk menumis rempah-rempah, bersumpah dalam hati.

Jika Noah akan memasak sendiri, lalu menggoreng telur sampai gosong, dia tidak akan peduli.

Tapi tentu saja, pagi ini belum selesai menguji kesabaran Yejun. Ada satu hal kecil—sangat kecil—namun terasa amat sangat menyebalkan.

Toples saus bolognese instan itu.

Yejun sudah memutar tutupnya ke kanan, ke kiri, menekannya dengan telapak tangan, bahkan mencoba trik memukul dasar botol ke meja. Tidak bergeming. Otot lengannya menegang, alisnya berkerut, napasnya mulai tidak sabar.

"Kok… keras banget sih," gumamnya kesal.

Bahkan dia mengambil tang. Dia menjepit tutup toples itu dengan kuat, memutar—

Tetap. Tidak. Terbuka.

Astaga.

Yejun menutup mata sesaat. Dadanya naik turun. Dari dalam perutnya, seolah ada dorongan halus namun mendesak. Dedek bayi lapar. Sangat lapar. Dan jelas tidak mau menunggu lebih lama lagi.

Sebenarnya ada solusi paling mudah. Paling cepat. Paling logis.

Yakni meminta suaminya.

Biasanya, setiap kali ada tutup botol bandel, toples keras kepala, atau apapun itu/ Yejun tinggal memanggil, dan Han Noah akan datang sambil tersenyum, membukanya dengan mudah, lalu mencium keningnya seperti pahlawan domestik yang menyebalkan.

Tapi tidak hari ini.

Hari ini Yejun mogok bicara.

Namun masalahnya dedek bayi lapar.

Dia menimbang-nimbang. Menatap toples. Menatap kompor. Menatap perutnya. Berpikir keras—sangat keras—mungkin selama dua puluh detik penuh. Sebuah waktu yang terasa lama saat perut meminta haknya.

Akhirnya, dengan langkah pelan namun tegas, Yejun berbalik menuju meja dapur.

Dia berhenti tepat di depan suaminya.

Wajahnya masam. Bibirnya manyun. Tatapannya kesal.

Noah mendongak dari tabletnya, terkejut sebentar sebelum tersenyum hangat.
"Ada apa, sayang?"

Yejun tidak menjawab. Dia hanya menyodorkan toples saus itu, lurus ke depan dada Noah.

"Buka."

Nada suaranya pendek. Datar. Hampir seperti perintah.

Noah berkedip, lalu menahan senyum. "Buka… apa?"

Yejun melotot.

"Buka," ulangnya, kali ini lebih tajam.

Noah jelas berpura-pura bodoh. Dia mencondongkan tubuh, menatap toples itu seolah benda asing. "Maksudnya… dibuka gimana?"

Urat di pelipis Yejun berdenyut.

"Aku nggak bisa buka," katanya akhirnya, dengan suara tertekan.

Noah langsung mengambil toples itu—dan dengan satu putaran santai, klik. Terbuka.

Mudah. Terlalu mudah.

Namun Noah tidak langsung mengembalikannya.

Yejun menatapnya, matanya melebar, penuh ketidakpercayaan. "Noah!"

"Hm?" Noah tersenyum, masih memegang toples itu. "Jelaskan dulu, kenapa kamu ngambek?"

Itu dia.

Pertanyaan paling menyebalkan di dunia.

Suaminya bahkan tidak tahu?!

Yejun tidak menjawab. Dia hanya berkacak pinggang, berdiri tegak dengan aura kesal yang hampir bisa diraba. Perutnya terasa semakin menuntut, dedek bayi jelas tidak suka dipermainkan.

Noah menahan tawa. "Karena… es krim stroberi?"

Tatapan Yejun berubah tajam seperti belati.

Noah tahu. Dia tahu.

"Aku sudah minta maaf kemarin," lanjut Noah lembut.

"Aku nggak terima maaf kamu," jawab Yejun cepat.

"Kenapa?"

"Karena kamu jahat!"

Noah terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil, menunggu.

"Kamu sudah tahu aku nggak mau makan stroberi," lanjut Yejun, suaranya mulai bergetar tipis karena emosi dan lapar, "karena itu artinya aku memakan dedek bayi yang sekarang seukuran stroberi."

Hening.

Noah menatapnya beberapa detik, lalu ekspresinya melunak sepenuhnya.

Dan Yejun, dengan tangan masih di pinggang dan perut yang lapar,siap mengamuk kapan saja jika kebutuhan dedek bayi tidak segera dipenuhi.

Noah akhirnya menghela napas panjang.

"Maaf," katanya lagi, suaranya lebih rendah, sedikit melas. "Kemarin aku benar-benar capek, sayang."

Dia meletakkan tablet yang sebelumnya ada di pangkuannya ke meja, fokus sepenuhnya pada Yejun. "Di kantor kacau. Banyak urusan numpuk, dan aku sempat dimarahi direktur karena salah satu stafku bikin kesalahan fatal. Aku harus beresin semuanya." Dia tersenyum kecil, lelahnya tampak jelas sekarang. "Jadi… mungkin aku nggak fokus waktu beli es krim."

Kata-kata itu mengenai Yejun tepat di dada.

Matanya langsung berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak. Dia sama sekali tidak tahu. Tidak menyangka. Selama ini dia hanya sibuk dengan rasa kesalnya sendiri, dengan keinginannya, dengan dedek bayi yang terus menuntut perhatian. Yejun tidak sadar bahwa suaminya pulang membawa beban

"No—Noah…" suaranya pecah.

Tanpa berpikir panjang, Yejun melangkah maju dan duduk begitu saja di pangkuan Noah, memeluknya erat seolah takut suaminya akan menghilang. Gerakannya tiba-tiba hingga hampir saja membuat toples saus di tangan Noah terlepas. Untung Noah memiliki refleks yang baik; tangannya bergerak cepat, menyelamatkan toples itu sebelum jatuh.

Noah hanya tertawa kecil, kaget tapi tidak protes, lalu melingkarkan satu tangan ke pinggang Yejun, menopangnya dengan aman.

"Aku minta maaf," bisik Yejun di bahunya, suaranya teredam. "Aku nggak tahu kamu capek. Aku… aku kekanakan."

Pelukannya mengerat, wajahnya disembunyikan di leher Noah. "Aku janji… aku nggak akan kayak gini lagi."

Noah tidak menjawab dengan kata-kata.

Dia hanya mengelus punggung Yejun perlahan, naik turun, gerakan yang sabar dan penuh pengertian. Telapak tangannya hangat dan menenangkan. Dia mencium pelipis Yejun dengan lembut, lalu keningnya, lama—seperti menenangkan dua jiwa sekaligus: Yejun, dan kehidupan kecil yang sedang tumbuh di antara mereka.

"Nggak apa, sayang," gumamnya pelan. "Kamu capek juga. Dedek bayi kita pasti lapar.”

Yejun tertawa kecil di sela isaknya, mengangguk pelan. Pelan-pelan emosinya mereda, digantikan rasa hangat dan aman yang hanya selalu ia temukan di pelukan Noah.

Yejun tidak tahu—dan tidak akan pernah tahu—bahwa alasan Noah barusan tidak sepenuhnya benar.

Bahwa tidak ada direktur yang memarahi. Tidak ada staf dengan kesalahan fatal. Tidak ada drama besar di kantor.

Yang ada hanyalah satu hal sederhana dan sangat manusiawi, yakni Noah lupa.

Lupa jika dia seharusnya membeli es krim rasa coklat, bukan rasa stroberi.

Dan Noah, yang sudah mengerti perubahan mood Yejun yang berubah cepat, hanya tersenyum kecil penuh kemenangan. Kebohongan kecilnya menciptakan pagi hari yang damai, senyuman di wajah Yejun, dan mungkin dedek bayi yang merasa puas karena akan makan dengan tenang.

Series this work belongs to: